Anda di halaman 1dari 2

Adat Suku Tana Toraja

Written by DEDI TIRA PALINGGI on January 12, 2010 – 9:36 am

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan,
Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian
dataran Luwu dan Sulawesi Barat.
Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang
Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti
“Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To
Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain
bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang
orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata
Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan
Tana Toraja.
Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’allo arti
harfiahnya adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh
satu etnis (Etnis Toraja).
Upacara adat
Di wilayah Kab. Tana Toraja terdapat dua upacara adat yang amat terkenal , yaitu
upacara adat Rambu Solo’ (upacara untuk pemakaman) dengan acara Sapu Randanan, dan
Tombi Saratu’, serta Ma’nene’, dan upacara adat Rambu Tuka (upacara pernikahan).
Upacara-upacara adat tersebut di atas baik Rambu Tuka’ maupun Rambu Solo’ diikuti
oleh seni tari dan seni musik khas Toraja yang bermacam-macam ragamnya.
Rambu Solo
Adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang almarhum
membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi.
Tingkatan Upacara Rambu Solo
Upacara Rambu Solo terbagi dalam beberapa tingkatan yang mengacu pada strata sosial
masyarakat Toraja, yakni:
• Dipasang Bongi: Upacara pemakaman yang hanya dilaksanakan dalam satu malam
saja.
• Dipatallung Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama tiga malam dan
dilaksanakan dirumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.
• Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima malam dan
dilaksanakan disekitar rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.
• Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang
pada setiap harinya dilakukan pemotongan hewan.
Upacara tertinggi
Biasanya upacara tertinggi dilaksanakan dua kali dengan rentang waktu sekurang kurangnya
setahun, upacara yang pertama disebut Aluk Pia biasanya dalam pelaksanaannya bertempat
disekitar Tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan Upacara kedua yakni upacara
Rante biasanya dilaksanakan disebuah lapangan khusus karena upacara yang menjadi
puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani,
seperti : Ma’tundan, Ma’balun (membungkus jenazah), Ma’roto (membubuhkan ornamen
dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma’Parokko Alang (menurunkan jenazah
kelumbung untuk disemayamkan), dan yang terkahir Ma’Palao (yakni mengusung jenazah
ketempat peristirahatan yang terakhir).
Upacara Adat Rambu Tuka
Upacara adat Rambu Tuka’ adalah acara yang berhungan dengan acara syukuran misalnya
acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau
yang selesai direnovasi; menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat
ikatan kekeluargaan di Tana Toraja sangat kuat semua Upacara tersebut dikenal dengan
nama Ma’Bua’, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.
Untuk upacara adat Rambu Tuka’ diikuti oleh seni tari : Pa’ Gellu, Pa’ Boneballa, Gellu
Tungga’, Ondo Samalele, Pa’Dao Bulan, Pa’Burake, Memanna, Maluya, Pa’Tirra’,
Panimbong dan lain-lain. Untuk seni musik yaitu Pa’pompang, pa’Barrung, Pa’pelle’. Musik
dan seni tari yang ditampilkan pada upacara Rambu Solo’ tidak boleh (tabu) ditampilkan
pada upacara Rambu Tuka’.