Anda di halaman 1dari 26

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pendahuluan
Nanoteknologi mempunyai peran penting dalam program penemuan obat dan
sistem penghantaran obat. Nanosuspensi sebagai bagian dari nanoteknologi dapat
diberikan dengan berbagai rute pemberian obat seperti intravena, oral, parenteral, okular,
topikal dan pulmonar. Bioavailabilitas obat oral yang rendah dapat disebabkan oleh
rendahnya kelarutan, permeabilitas dan stabilitas obat dalam saluran pencernaan.
Penurunan

ukuran

partikel

pada

sediaan

nanosuspensi

memecahkan

masalah

bioavailabilitas rendah yang disebabkan oleh rendahnya kelarutan, permeabilitas dan


stabilitas obat (Arunkumar, et al., 2009).
Sediaan nanopartikel merupakan terobosan untuk mengoptimalisasi sistem
penghantaran obat. Dengan pengolahan obat ke skala nano, maka obat-obat yang sukar
larut akan lebih bioavailable dan lebih aman. Penurunan ukuran partikel dalam rentang
sub-mikron menunjukan peningkatan yang signifikan pada laju dissolusi sehingga
bioavailabilitas obat juga meningkat. Selain perbaikan kelarutan, obat-obatan yang
berbasis

nanoteknologi

memiliki

kelebihan

dibandingkan

obat-obatan

lainnya.

Nanosuspensi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan disolusi obat yang
mempunyai kelarutan rendah dalam air. Nanosuspensi mengandung dispersi koloid
submikron dari partikel aktif obat dalam fase cair yang distabilkan oleh surfaktan
(Chingunpituk, 2007). Teknologi ini telah membantu memecahkan masalah yang
berkaitan dengan penghantaran obat yang sulit larut dalam air dan obat yang sulit larut
dalam air dan lipid. Untuk saat ini, teknologi ini masih merupakan teknologi yang terbaik
karena teknologi ini sederhana dan mempunyai keuntungan yang lebih jika dibandingkan
dengan teknologi lain.
2.2 Definisi Nanosuspensi
Nanosuspensi adalah dispersi koloidal partikel obat ukuran nano yang distabilkan
oleh surfaktan (Lakhsmi, et al., 2010). Secara definisi, nanosuspensi adalah sebuah
sistem dua fase yang terdiri dari partikel obat murni yang didispersikan di dalam media
1

cair dimana diameter dari partikel tersuspensi ukurannya lebih kecil dari 1m yang
distabilkan oleh surfaktan. Dalam 10 tahun terakhir ini telah dikembangkan pendekatan
lain untuk meningkatkan kelarutan dan kecepatan pelarutan senyawa aktif farmasi, yaitu
dengan mereduksi ukuran partikel senyawa aktif farmasi sampai ke ukuran yang ada
dalam rentang nanometer atau submikron. Penurunan ukuran partikel tersebut berarti
peningkatan luas permukaan, peningkatan kecepatan pelarutan dan dapat pula
meningkatkan kelarutan senyawa aktif farmasi tersebut dalam air. Beberapa senyawa
aktif farmasi dapat ditingkatkan bioavailabilitasnya setelah mereduksi ukuran partikelnya
menjadi ukuran nanometer. Danazol yang merupakan senyawa aktif dengan sifat
kelarutan yang sangat rendah dapat ditingkatkan bioavailibilitasnya menjadi 85% setelah
pemberian nanopartikel danazol secara oral kepada anjing percobaan (Mauludin, et al.,
2010).
2.3 Sifat sifat yang diinginkan dalam sediaan
Terdapat banyak pertimbangan dalam pengembangan dan pembuatan suatu
suspensi farmasi yang baik. Di samping sediaan khasiat terapeutik, stabilitas kimia dari
komponen komponen formulasi, kelanggengan sediaan dan bentuk estetik dari sediaan.
Sifat-sifat yang diinginkan dalam semua sediaan farmasi dan sifat-sifat lain yang lebih
spesifik untuk sediaan suspensi farmasi :
1. Suatu suspensi farmasi yang dibuat dengan tepat mengendap secara lambat dan harus
rata lagi bila dikocok.
2. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari suspenoid
tetap agak konstan untuk yang lama pada penyimpanan.
3. Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen.
Sifat-sifat ini dapat dicapai dengan mempertimbangkan beberapa karakterisik unik dari
nanosuspensi dan mikrosuspensi. Karakteristik-karakteristik penting tersebut adalah :
1. Distribusi ukuran partikel
Merupakan parameter karakteristik yang paling penting. Karakteristik ini mengatur
properti fisikokimia seperti solubilitas saturasi, kecepatan disolusi, stabilitas fisik dan
bioavailabilitas. Telah dibuktikan bahwa perubahan pada ukuran partikel akan
mengubah solubilitas saturasi dan kecepatan disolusi.
2. Muatan partikel
2

Mengatur stabilitas fisik. Zeta potensial juga merupakan cara pengukuran tidak
langsung dari ketebalan lapisan difusi sehingga bisa digunakan untuk memprediksi
stabilitas jangka panjang.
3. Morfologi kristal
Partikel terdispersi dapat mengalami perubahan struktur kristal, menjadi bentuk amorf
atau bentuk polimorf karena adanya homogenisasi bertekanan tinggi. Adanya
peningkatan pada jumlah fraksi obat bentuk amorf akan menginduksi solubilitas
saturasi yang lebih tinggi.
4. Kecepatan disolusi dan Solubilitas saturasi
Solubilitas saturasi adalah jumlah partikel senyawa yang terlarut di dalam larutan
sampai larutan tersebut jenuh. Reduksi ukuran akan mengakibatkan peningkatan pada
tekanan disolusi. Peningkatan pada solubilitas akan terjadi pada reduksi ukuran
partikel yang reletif kecil karena adanya perubahan pada tegangan permukaan yang
akan meningkatkan solubilitas saturasi.
2.4 Aspek Formulasi
Formulasi pada nano dan mikrosuspensi pada dasarnya sama dengan sediaan
suspensi lainnya, yaitu terdiri dari zat aktif (bahan terdisper), eksipien utama
(pensuspensi), dan eksipien pendukung. Ada pun pertimbangan-pertimbangan yang
harus diperhatikan dalam membuat formulasi dari nanosuspensi, antara lain:
a. Penstabil

Fungsi utama dari penstabil adalah untuk membasahkan secara menyeluruh


partikel obat dan untuk menghindari terjadinya ostwalds ripening dan
agglomerasi dari nanosuspensi sehingga didapat formulasi yang stabil secara fisik
dengan menyediakan pembatas atau barrier sterik atau ionik. Ostwal ripening
adalah fenomena fase polidispersi emulsi dimana droplet-droplet yang lebih besar
akan terbentuk dari droplet yang kecil. Penstabil yang telah digunakan sejauh ini
antara lain poloksomer, polisorbat, selulosa, povidone dan lesitin.
b. Pelarut Organik

Pelarut organik digunakan pada formulasi nanosuspensi jika emulsi atau


mikroemulsi digunakan sebagai cetakan atau template. Pelarut yang digunakan
adalah pelarut yang bercampur dengan air antara lain metanol, etanol,
isopropanol. Selain itu dapat juga digunakan pelarut yang bercampur sebagian
3

dengan air seperti etil asetat, etil fromat, butil lakatat, triasetin, dan propilen
karbonat. Pelarut-pelarut diatas kurang berbahaya dan dapat diterima secara
farmasetika dibandingkan dengan pelarut konvensional yang berbahaya seperti
diklorometana.
c. Zat Tambahan Lain

Nanosuapensi dapat mengandung zat tambahan lain, seperti pendapar, garamgaram, poliol, dan osmogen tergantung pada rute pemberian obatnya maupun
karakteristik obat itu sendiri.
2.5 Metode Pembuatan Nanosuspensi
Terdapat dua metode pembuatan nanosuspensi yaitu teknologi bawah ke atas
(bottom up technology) dan teknologi atas ke bawah (top down technology). Pada metode
bottom up technology, obat dilarutkan pada suatu pelarut, sehingga obat terdispersi dalam
pelarut kemudian ditambahkan pelarut lain sehingga pelarut akan menguap dan
menyebabkan pengendapan partikel halus obat (bentuk fines). Bottom up technology
terdiri dari metode pengendapan (precipitation). Sedangkan top down technology
merupakan suatu proses disintegrasi dari partikel besar menjadi nanopartikel. Yang
termasuk dalam top down technology adalah metode homogenisasi tekanan tinggi (highpressure homogenization), metode milling (milling methods), metode difusi emulsi
(emulsion diffusion method), metode pelelehan emulsi (melt emulsification method) dan
metode cairan superkritikal (supercritical fluid method).

Gambar 1. Perbandingan Bottom up technology dan Top down technology

2.5.1. Bottom up technology


A.

Precipitation Method
Metode presipitasi adalah metode yang umum digunakan pada pembuatan

nanosuspensi untuk obat yang kelarutannya buruk. Dalam metode ini, obat dilarutkan
dalam pelarut dan kemudian dicampur dengan pelarut lain dimana obat sukar larut di
dalamnya kemudian digunakan surfaktan untuk meningkatkan kelarutan. Penambahan
larutan secara cepat ke dalam pelarut (umumnya air) menyebabkan penjenuhan obat
secara cepat di dalam larutan, dan pembentukan bentuk amorf atau kristal. Metode ini
melibatkan pembentukan inti kristal dan pertumbuhan kristal yang bergantung pada suhu.
Nukleasi tingkat tinggi dan laju pertumbuhan kristal yang rendah merupakan syarat
utama terbentuknya suspensi stabil dengan ukuran partikel kecil.
2.5.2. Top down technology
a.

High-pressure Homogenization
Teknik ini terdiri dari 3 langkah. Langkah pertama adalah serbuk obat

didispersikan ke dalam larutan penstabil menjadi bentuk presuspension. Setelah itu


larutan presuspensi ini dihomogenkan dengan homogenizer bertekanan rendah lalu
dihomogenkan kembali dengan homogenizer bertekanan tinggi selama 10 sampai 20
siklus sampai diperoleh nanosuspensi dengan ukuran yang diinginkan.
1.

Homogenization in Aqueous Media (Dissocubes)


Teknologi ini dikembangkan oleh Muller pada tahun 1999. Instrumen ini dapat

dioperasikan pada tekanan yang bervariasi 100 sampai 1500 bar (2800 sampai 21 300
psi) dan hingga 2000 bar dengan kapasitas volume 40 ml (untuk skala laboratorium).
Untuk persiapan nanosuspensi, penting untuk menyiapkan larutan presuspensi dari obat
di dalam larutan surfaktan dengan menggunakan pengadukan kecepatan tinggi (highspeed stirrer). Menurut Hukum Bernoulli, volume aliran dari cairan di dalam suatu
sistem tertutup harus konstan. Terjadinya penurunan ukuran partikel merupakan akibat
5

dari adanya peningkatan tekanan. Terjadi peningkatan tekanan dinamis dan penurunan
tekanan statis di bawah titik didih air pada suhu kamar. Oleh karena itu, air mulai
mendidih pada suhu kamar dan membentuk gelembung-gelembung udara. Gelembung
udara hilang saat suspensi meninggalkan celah dan tekanan kembali normal. Tumbukan
partikel pada kecepatan tinggi menyebabkan obat pecah. Banyaknya siklus homogenisasi
tergantung pada kekerasan obat dan ukuran partikel yang diinginkan. Ukuran nanokristal
obat yang terbentuk terutama tergantung pada beberapa faktor seperti suhu, jumlah siklus
homogenisasi, dan kepadatan daya homogenizer dan tekanan homogenisasi. Berbagai
nanosuspensi dari obat seperti Amfoterisin B, Ordinon, Thiomerasol, fenofibrate,
Melarsoprol,

Buparvaquone,

Prednisolone,

Carbamazepine,

Omeprazole

dan

Deksametason dipersiapkan menggunakan metode ini.

Gambar 2. Mekanisme Kerja Homogenizer


2.

Homogenization in Nonaqueous Media (Nanopure)


Metode ini merupakan proses homogenisasi deep-freeze dimana suspensi obat

dalam medium berair yang dihomogenisasi pada 0 C atau kadang-kadang di bawah titik
beku.
3.

Microprecipitation High-pressure homogenization (Nanoedge)

Nanoedge merupakan kombinasi dari teknik mikropresipitasi dan homogenisasi


bertekanan tinggi. Teknik ini memiliki keuntungan untuk mendapatkan ukuran partikel
yang lebih kecil dan stabilitas yang lebih besar dalam waktu singkat. Dalam teknik ini
suspensi diendapkan selanjutnya dihomogenkan untuk mendapatkan ukuran partikel yang
lebih kecil dan untuk menghindari pertumbuhan kristal. Pengendapan dilakukan dalam
air menggunakan pelarut yang tidak bercampur dengan air, seperti metanol, etanol, dan
isopropanol. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan pelarut melalui proses
penguapan diikuti dengan proses homogenisasi bertekanan tinggi.
4.

Nanojet technology
Teknologi nanojet disebut juga dengan teknologi berlawanan arus. Pada teknik

ini, suatu suspensi dilewatkan pada dua atau lebih arus yang berlawanan arah dengan
tekanan tinggi lalu dibuat menjadi koloid, akibat dari adanya gaya geser yang tinggi
selama proses yang menghasilkan penurunan ukuran partikel.
b.

Milling methods

1.

Media milling
Pada metode ini nanosuspensi dibuat dengan menggunakan media penggiling

media dengan geseran tinggi (high-shear media mills) atau pearl mills. Media penggiling
terdiri atas bejana penggiling, batang penggiling dan bejana resirkulasi. Media penggiling
dibingkai oleh kaca, zirkonium oksida atau polistiren resin dengan cross-linked tinggi.
Bejana penggiling diisi oleh media penggiling, air, obat dan penstabil, kemudian media
penggiling media diputar dengan kecepatan geser yang tinggi.
Proses penggilingan dilakukan pada temperatur yang dikontrol. Energi dan gaya geser
yang tinggi dihasilkan akibat tumbukan media penggiling dengan obat yang menyediakan
energi untuk memecahkan obat mikropartikel menjadi partikel ukuran nano. Profil
distribusi yang tidak beragam dan diameter rata-rata kurang dari 200 dan membutuhkan
waktu 30 sampai 60 menit. Prosedur media penggilingan dapat memproses kristal obat
dengan ukuran mikro dan non-mikro dengan baik.
Pengaruh impaksi antara media penggilingan dan obat-obatan memberikan energi
penting untuk proses disintegrasi sistem mikropartikulat menjadi nanopartikel. Dalam
7

proses ini milling chamber berisi obat, stabilizer, dan air atau buffer yang cocok, yang
diputar pada laju geser yang sangat tinggi untuk menghasilkan suspensi. Residu yang
tertinggal dalam produk menjadi masalah utama dari metode ini.
2.

Dry cogrinding
Nanosuspensi

dapat dibuat dengan metode dry milling. Pembentukan

nanosuspensi yang stabil dari obat yang sukar larut dengan polimer larut dan kopolimer
setelah didispersikan di dalam medium cair. Pembentukan partikel koloid dari beberapa
obat yang sukar larut dalam air seperti nifedipin, griseofulvin, dan glibenklamid dengan
menggunakan sodium dodecyl sulfate dan polyvinylpyrrolidone sebagai stabilisator.

Gambar 3. Dry cogrinding


c.

Emulsion Diffusion Method


Selain digunakan sebagai alat penghantaran obat, emulsi juga dapat digunakan

sebagai cetakan untuk membuat nanosuspensi. Penggunaan emulsi sebagai cetakan dapat
diterapkan pada obat-obat yang larut baik dalam pelarut organik menguap atau pelarut
yang bercampur sebagian dengan air. Pelarut tersebut dapat digunakan sebagai fase
terdispersi dari emulsi. Suatu pelarut organik atau campuran pelarut tersebut diisi dengan
obat yang terdispersikan pada fase air yang mengandung surfaktan yang cocok lalu
dengan pengadukan untuk membentuk emulsi. Emulsi yang didapat selanjutnya
8

dihomogenisasi

dengan

penghomogenisasi

tekanan

tinggi.

Setelah

dilakukan

homogenisasi, emulsi diencerkan dengan air, lalu dihomogenisasi dengan homogenizer


untuk menghilangkan pelarut organik dan mengkonversi droplet atau tetesan menjadi
partikel padat. Oleh karena satu partikel dibentuk pada setiap droplet emulsi, maka
memungkinkan untuk mengontrol ukuran partikel pada nanosuspensi dengan mengontrol
ukuran emulsi.Dengan mengoptimalkan komposisi surfaktan dapat meningkatkan
pengambilan fase organik dan pada akhirnya pengisian obat dalam emulsi. Biasanya
metanol, etanol, etil asetat, kloroform digunakan sebagai pelarut organik. Namun, bahaya
lingkungan dan keamanan manusia yang berkaitan dengan residu pelarut telah membatasi
penggunaannya pada proses pembuatan rutin. Nanosuspensi dari ibuprofen, diclofenac,
acyclovir dibuat dengan metode ini. . Selain itu, mikroemulsi juga dapat digunakan
sebagai cetakan yang dapat menghasilkan nanosuspensi. Mikroemulsi adalah dispersi
termodinamika stabil dan isotropis jernih dari dua cairan yang tidak bercampur seperti
minyak dan air distabilkan oleh film antarmuka surfaktan dan co-surfaktan. Obat ini
dapat dimasukkan ke dalam fase internal atau pre-formed mikroemulsi yang dapat jenuh
dengan obat dengan pencampuran yang baik. Dengan pengencer yang cocok dari
mikroemulsi dapat menghasilkan nanosuspensi obat. Contoh nanosuspensi obat yang
dibuat dari teknik ini adalah nanosuspension griseofulvin yang disiapkan oleh teknik
mikroemulsi menggunakan air, laktat butil, lecithin, dan garam natrium dari
taurodeoxycholate.
d.

Melt Emulsification Method


Pada metode ini obat didispersikan pada larutan air dari penstabil dan dipanaskan

diatas titik lebur obat lalu dihomogenisasi sehingga membentuk emulsi. Selama proses
ini, penahan sampel dilapisi dengan pita pemanas yang dipasang dengan pengontrol suhu
dan suhu emulsi dijaga diatas titik lebur obat. Emulsi kemudian didinginkan baik secara
perlahan-lahan ke suhu ruangan maupun pada bak es. Keuntungan utama teknik ini
dibandingkan dengan metode difusi pelarut adalah tidak digubakan pelarut organik
selama proses pembuatan.Nanosuspensi ibuprofen yang dibuat dengan metode
emulsifikasi lebur menunjukka laju disolusi yang lebih besar daripada nanosuspensi
ibuprofen yang dibuat dengan metode difusi pelarut emulsi.

e.

Supercritical Fluid Method


Pelarut organik yang biasanya digunakan pada pembuatan dengan metode

konvensional seperti ekstraksi-evaporasi, difusi pelarut dan pemisahan fase organik


berbahaya untuk lingkungan dan sistem fisiologik tubuh. Untuk mengatasi masalah yang
terjadi pada metode konvensional, teknologi cairan superkritik telah diperiksa untuk
pembuatan mikro dan nanoparikel yang dapat dibiodegradasi, karena cairan superkritik
ramah lingkungan. Teknik yang paling umum menggunakan cairan superkritik adalah
antipelarut superkritik (supercritical anti-solvent/SAS), presipitasi dengan proses
antipelarut terkompresi (presipitation with compressed anti-solvent process/PCS) dan
ekspansi cepat dari larutan superkritik (rapid expansion of supercritical solution /RSS).
Proses SAS menggunakan pelarut cair seperti metanol yang bercampur sempurna dengan
cairan superkritik (CO2 superkritik) yang digunakan untuk melarutkan zat yang akan
dibuat ukuran mikro pada kondisi proses, karena zat tidak larut pada cairan superkritik,
ekstrak pelarut cair oleh cairan superkritik membuat presipitasi dengan sendirinya dari
zat, sehingga menghasilkan pembentukan nanopartikel. Nanosuspensi griseofulvin dibuat
dengan metode SAS.RESS berbeda dengan SAS dalam zat yang akan dilarutkan dalam
cairan superkritik (seperti metanol superkritik) kemudian larutan secara cepat diekspansi
melalui nozzle kecil kedalam daerah tekanan rendah, sehingga kekuatan pelarut cairan
superkritik menurun drastis dan zat kemudian berpresipitasi. Metode ini digunakan untuk
produksi polimer nanopartikel. Obat dalam larutan diatomisasi ke dalam bejana yang di
dalamnya terdapat CO2 terkompresi dalam metode PCA. Larutan akan sangat terjenuhkan
saat pelarut dipindahkan sehingga terpresipitasi sebagai kristal sangat kecil (fine crystal).
2.6 Evaluasi Nanosuspensi
Evaluasi nanosuspensi dilakukan sebagaimana evaluasi suspensi seperti penampilan, bau,
warna, penetapan kadar, cemaran dan lain-lain. Selain parameter tersebut nanosuspensi
harus dievaluasi in vitro dan in vivo.
1.

Evaluasi In Vitro
a.
Ukuran Partikel dan Distribusi Ukuran
Ukuran partikel dan distribusi ukuran menentukan sifat fisikokimia dari suatu
formulasi, seperti kelarutan, kecepatan disolusi, stabilitas fisik, dll. Distribusi ukuran
10

partikel dapat ditentukan dengan Spektroskopi Korelasi Foton (PCS), Difraksi Laser
(LD), dan Coulter Counter Multisizer. Metode PCS dapat mengukur partikel dengan
rentang ukuran 3 nm - 3 m sedangkan metode LD dapat mengukur partikel dengan
rentang ukuran 0,05 - 80 m. Coulter Counter Multisizer memberikan ukuran absolut
dari partikel, berbeda dengan PCS dan LD, yang hanya memberikan ukuran distribusi
relatif. Untuk penggunaan IV, partikel harus kurang dari 5 m karena ukuran terkecil
pembuluh darah adalah 5 - 6 m sehingga jika ukuran lebih besar dari rentang tersebut
dapat menghambat aliran darah dan membentuk emboli.
1.
Spektroskopi Korelasi Foton (PCS)
Spektroskopi korelasi foton (PCS) dapat digunakan untuk penentuan rata-rata diameter
partikel nanosuspensi secara cepat dan akurat. Selain itu, PCS dapat digunakan untuk
menentukan lebar distribusi ukuran partikel (Polydispersity Index, PI). PI merupakan
parameter penting yang mengatur stabilitas fisik nanosuspensi. PI nanosuspensi harus
serendah mungkin untuk stabilitas jangka panjang dari nanosuspensi. Jika nilai PI
berkisar 0,1 - 0,25 berarti distribusi ukuran cukup sempit sedangkan jika nilai PI lebih
besar dari 0,5 berarti distribusi sangat luas.

Gambar 4. Seperangkat Alat Spektroskopi Korelasi Foton (PCS)


2.
Coulter Counter Multisizer
Coulter counter adalah alat yang peka terhadap keberadaan arus listrik. Alat ini dapat
mengukur perubahan muatan yang berlawanan akibat pengaruh elektrolit. Cara kerja
alat ini: sediaan suspensi dialirkan melalui lubang kecil berbentuk ring yang dilengkapi
dengan elektroda. Partikel akan lewat melalui aperture/bagian ujung pembuka setiap
waktunya. Kisaran ukuran partikel yang diuji berkisar 0,2 - 300 m. Setiap partikel
yang lewat melalui elektroda akan menghasilkan tegangan listrik yang sebanding
11

dengan volume partikel. Hasil dari tegangan yang dihasilkan akan dianalisis lalu
dihitung. Instrumen ini sangat berguna untuk menentukan distribusi ukuran partikel dari
partikel hidrofobik seperti steroid dan beberapa antibiotik. Akan tetapi coulter counter
ini tidak bisa digunakan untuk menentukan stabilitas fisik dan sifat dari partikel yang
teragregasi.
3.

Muatan Partikel (Potensial Zeta)


Potensial Zeta adalah perbedaan potensial antara permukaan lapisan ion-ion yang

terikat kuat pada permukaan zat padat dan bagian electroneutral dari larutan. Potensial
zeta merupakan indikasi dari stabilitas suspensi. Bila potensial zeta relatif tinggi yaitu
lebih dari 25 mV, maka gaya tolak-menolak antar dua partikel melebihi gaya tarikmenarik (gaya London), oleh karena itu partikel-partikel terdispersi dan disebut
terdeflokulasi (deffloculated). Sebaliknya bila potensial zeta rendah dibawah 25 mV,
maka gaya tarik-menarik antar partikel melebihi gaya tolak-menolak sehingga partikelpartikel bergabung dan disebut terflokulasi (flocculated).
4.

Kecepatan Disolusi dan Kelarutan


Sediaan nanosuspensi dapat meningkatkan kecepatan disolusi dan kelarutan.

Untuk evaluasinya, kedua parameter tersebut harus diuji dalam berbagai larutan fisiologis
yang berbeda. Penilaian kelarutan dan kecepatan disolusi ini dapat membantu dalam
menentukan perilaku in vitro dari formulasi yang dibuat. Sebuah studi yg dilakukan oleh
Bohm dkk melaporkan bahwa dengan penurunan ukuran partikel dengan kisaran
nanometer dapat meningkatkan tekanan dan kecepatan disolusi. Hal ini terjadi karena
adanya perubahan tegangan permukaan.
5.

Kondisi dan Bentuk Kristal


Untuk mengamati perubahan polimorfik karena dampak homogenisasi tekanan

tinggi dalam struktur kristal obat, dapat digunakan teknik seperti X-ray diffraction
analysis yang dikombinasi dengan differential scanning calorimetry atau differential
thermal analysis. Nanosuspensi dapat mengalami perubahan dalam struktur kristal, yang
mungkin menjadi bentuk amorf atau bentuk polimorfik lainnya karena homogenisasi
tekanan tinggi.
6. Uji Kestabilan
12

Stabilitas formulasi nanosuspensi dievaluasi dengan menentukan perubahan


ukuran partikel pada penyimpangan 2-8 C. Setiap perubahan diamati menggunakan
Malyern Guru Sizer 2000 pada interval waktu tertentu. Uji kestabilan ini dapat diuji
dengan menggunakan uji sebagai berikut :
a.

Cylindrical graduate
Cyliindrical graduate (100-1000 ml) sangat berguna untuk menentukan stabilitas

fisik dari suspensi secara sederhana dan murah. Sebagai contoh dapat digunakan untuk
menentukan laju pengendapan dari suspensi terflokulasi dan non-flokulasi dengan
membuat pengukuran periodok dari tinggi endapan tanpa mengganggu sistem. Tingstad
mengindikasikan bahwa suspensi yang terflokulasi yang menempati 90% dari total tinggi
sediaan suspensi dan tidak lebih dari 90 % adalah sediaan yang memuaskan.seperti
halnya standar untuk membuat suspensi parenteral dimana sistem dengan sedimentasi 3060% dari total suspensi sering tidak diharapkan karena diupayakan sistem nanosuspensi
koloidal pada sediaan parenteral.
Volumetric cylindrical graduate juga digunakan untuk menentukan harga F atau
rasio flokulasi, sebuah nilai yang digambarkan oleh Hainse dan Martin serta Hiestand.
Harga F adalah rasio volume asal sediaaan suspensi pada waktu tertentu, digunakan untuk
mengukur derajat relatif flokulasi dan stabilitas fisik dari susupensi. Kehati-hatian harus
diterapkan dalam penggunaan alat Cylindrical graduate karena penurunan ukuran
diameter dari wadah kecil dapat mengahsilkan wall effect yang sering mempengaruhi
laju dan tinggi sedimentasi dari partikel terflokulasi akibat adanya gaya yang bekerja
antara dinding container yang inert pada alat dengan partikel tersuspensi yang dapat
mengganggu kejadian flokulasi yang sebenarnya.
b.

Viskometer Brookfield dengan Helipath


Helipath yang digunakan dengan viskometer brookfield adalah bagian yang

berguna pada alat pengukur reologi untuk mengukur sifat dan struktur sediaan suspensi.
Penjelasan mengenai alat tersebut dijelaskan oleh Tingstad. Alat ini terdiri dari spindel
yang dapat berputar berbentuk T yang tidak merusak material suspensi ketika berputar.
Hasil yang terbaca pada viskometer mengukur tahanan cairan untuk mengalir. Buat
rheogram pada interval waktu yang berbeda pada kondisi standart sampel yang dibuat
memberikan penjelasan dari sifat alir suspensi dan stab ilitas fisiknya. Teknik ini lebih
13

berguna untuk suspensi dengan viskositas yang tinggi yang mengembangkan shear stress
yang cocok untuk pengukuran. Instrumen ini juga sangat baik untuk karakterisasi sistem
yang terflokulasi
c.

Aging Test
Memposisikan sediaan suspensi pada uji temperatur siklik yaitu pengulangan

kondisi dingin dan hangat atau dipaparkan pada temperatur tinggi (>40 C) dalam
penyimpanan waktu singkatuntuk menguji stabilitas fisik yang dipertimbangkan. Nilai
atau hasil dari prosedur aging test ini dapat menimbulkan pertanyaan hasil karena
pemaparan suspensi dalam penyimpanan pada suhu tinggi menyebabkan sejumlah bahan
obat menjadi larutan secara signifikan dan pendinginan menyebabkan sejumlah besar
obat dalam bentuk terlarut kembali menjadi partikel solid. Banyak suspensi yang
mengandung surfaktan dan koloid pelindung untuk mencegah pertumbuhan partikel atau
kristal. Terbentuknya kristal pada saat pengujian mungkin dapat dibatasi. Kegunaan dari
aging test mempunyai suatu manfaat. Jika suspensiyang diberikan dapat tahan terhadap
suhu ekstrim, berarti dapat diasumsikan bahwa sediaan tersebut mempunyai stabilitas
fisik yang baikselamampenyimpanan jangka panjang pada temperatur ruang, yang berarti
selama pengujian tidak terbentuk kristal suspensi yang tidak larut. Jika dalam pengujian
terbentuk kristal suspensi yang tidak larut dengan mudah berarti sediaan suspensi tersebut
tidak stabil secar fisik dan penyimpanan.
2.7
a.

Aplikasi Sediaan Nanosuspensi


Penghantaran Obat secara Oral
Penggunaan teknologi nanopartikel pada sediaan suspensi dapat meningkatkan

kelarutan obat dalam cairan biologis tubuh serta meningkatkan bioavailabilitas. Hal ini
disebabkan nanopartikel menempel pada mukosa, meningkatkan kelarutan jenuh
sehingga terjadi peningkatan gradien konsentrasi antara lumen saluran gastrointestinal
dan darah serta meningkatkan laju disolusi obat. Nanosuspensi yang aqueous dapat
digunakan secara langsung dalam sediaan cair ataupun sediaan padat seperti tablet atau
kapsul gelatin keras dengan pellet. Pemberian obat nanopartikel naproksen secara oral
menghasilkan daerah dibawah kurva (Area Under Curve/AUC) sebesar 97,5 mg-h/l, bila
dibandingkan dengan suspensi naproksen dengan nilai AUC sebesar 44,7mg-h/l dan 32,7
14

mg-h/l untuk tablet anaprox. Pemberian secara oral inhibritor gonadotropin, Danazol,
memiliki bioavailabilitas absolut sebesar 82,3% dibandingkan dispersi konvensional
(Dancrine) yang memiliki bioavailabilitas 5,2%.
b.

Penghantaran Obat secara Parenteral


Pada suspensi parenteral ukuran partikel harus dibawah 5m untuk menghindari

timbulnya pengeblokan pada kapiler pembuluh darah. Untuk meningkatkan kelarutan


partikel dapat dilakukan penggunaan kosolven, pembentukan garam, pembentukan misel,
penggunaan siklodekstrin dan penggunaan liposom. Namun, ada keterbatasan dalam
metode tersebut yaitu dalam hal kapasitas pelarutan dan penerimaan sediaan parenteral
serta kurang stabil dan mahalnya produksi liposom. Nanosuspensi untuk obat parenteral
memberikan beberapa kelebihan antara lain pemberian obat yang sukar larut dalam air
tanpa menggunakan kosolven yang bersifat toksik, meningkatkan efek terapeutik obat
yang tersedia secara hayati dibandingkan dengan formulasi oral konvensional dan
menargetkan obat pada makrofag dan mikroorganisme patogen yang terdapat makrofag.
Penggunaan nanosuspensi untuk obat injeksi tarazepide dapat mengatasi keterbatasan
dalam hal pelarutan obat secara konvensional dengan menggunakan surfaktan atau
siklodekstrin untuk meningkatkan bioavailabilitas.
c.

Penghantaran Obat secara Pulmonar


Penggunaan nanosuspensi dapat memberikan pendekatan baru untuk obat yang

sukar larut dalam sekresi pulmonal. Nanosuspensi yang bersifat aqueousdapat dinebulasi
dengan nebulizer mekanis atau ultrasonik. Ukuran partikel yang kecil menghasilkan
ukuran partikel yang seragam yang terdistribusi merata di paru-paru untuk setiap droplet
aerosol. Selain itu, ukuran nanopartikel dapat mempercepat difusi dan disolusi pada loka
aksi obat. Adanya peningkatan adhesivitas partikel obat pada permukaan mukosa dapat
meningkatkan masa kerja obat. Oleh karena itu, waktu onset akan lebih cepat diikuti
dengan pelepasan terkendali dari zat aktif obat. Nanosuspensi umumnya mengandung
fraksi yang kecil dari nanopartikulat sehingga mencegah adanya deposisi yang tidak
diinginkan dari partikel pada mulut dan faring sehingga dapat meminimalkan timbulnya
efek samping secara lokal maupun sistemik. Contoh sediaan obat yaitu budenoside yang
dinebulisasi dengan nebulizer ultrasonik.
d.

Penghantaran Obat secara Okular


15

Teknologi nanosuspensi untuk sediaan okular dapat meningkatkan kelarutannnya


pada cairan lakrimal. Nanosuspensi dapat meningkatkan kelarutan jenuh dari obat dan
dapat digunakan untuk menghantarkan obat yang bersifat hidrofobik dan dan
meningkatkan waktu kontak dengan cul-de-sac sehingga dapat digunakan untuk sedia
sustained release. Hal tersebut dapat meningkatkan efektivitas dalam pengobatan dan
menghindari tonisitas yang besar dari obat yang larut air. Penggunaan nanosuspensi
cloricromen dengan Eudragit akan meningkatkan kelarutaannya pada cairan aqueous
humour.
e.

Targeted Drug Delivery


Nanosuspensi dapat digunakan untuk targeted drug delivery

dengan

menginkorporasikan obat ke dalam sistem mononuklear fagositik. Nanosuspensi dapat


digunakan dalam penghantaran obat pada target karena sifat permukaan dan perilaku
secara in vivo dengan mengubah stabilisasi milleu. Kelebihan dari nanosuspensi untuk
tergeted drug delivery antara lain fleksibilitas, mudah untuk diproduksi dalam skala
besar. Penggunaan nanosuspensi untuk targeted drug delivery dapat dilakukan dengan
penyalutan permukaan untuk target aktif maupun pasif loka aksi obat. Selain itu, dapat
juga digunakan untuk antimikroba, obat jamur atau obat leishmania pada makrofag
apabila mikroba patogen berada pada intraselular.
f.

Mukoadhesi Nanopartikel
Nanopartikel yang diberikan secara oral dapat berdifusi dalam media cairan dan

secara cepat memasuki permukaan mukosa. Nanopartikel dapat meningkatkan waktu


kontak dengan saluran cerna karena ukuran partikelnya yang kecil. Untuk lebih
meningkatkan waktu kontak, nanosuspensi dapat diformulasikan dengan hidrogel yang
tersusun atas polimer mukoadhesif seperti beberapa jenis karbopol atau kitosan.
Perlekatan nanopartikel pada mukosatidak hanya meningkatkan bioavailabilitas, tetapi
juga menargetkan pada parasit yang terdapat pada saluran cerna.
g.

Sediaan Topikal
Obat nanopartikel dapat digunakan untuk sediaan krim dan salep yang tidak

mengandung air sebab nanopartikel dapat meningkatkan kelarutan jenuh serta


mingkatkan difusi obat ke dalam kulit

16

2.8 Kemasan
Pada sediaan farmasi kemasan merupakan hal penting untuk melindungi kelengkapan
suatu produk. Penentuan kemasan dimulai dengan penentuan sifat fisika dan kimia
produk, keperluan melindungi, dan tuntutan pemasaran. Bahan yang terpilih sebagai
kemasan harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Harus melindungi preparat dari keadaan lingkungan


Tidak boleh bereaksi dengan produk
Tidak boleh memberikan rasa atau bau kepada produk
Tidak toksik
Disetujui oleh lembaga pengawasan obat
Harus memenuhi tuntutan tahan banting
Dapat menyesuaikan dengan keadaan perawatan kemasan

Kemasan dibagi menjadi tiga jenis antara lain :


a. Kemasan primer
Kemasan primer merupakan kemasan yang secara langsung membungkus sediaan dan
berpengaruh langsung terhadap kestabilan obat.
Contoh : botol, via, ampul, pot
a. Kemasan sekunder
Kemasan sekunder merupakan kemasan yang melindungi produk yang telah dikemas
dalam sediaan primer. Kemasan ini secara tidak langsung mempengaruhi kestabilan obat.
Contoh : kotak karton
b. Kemasan tersier
Kemasan tersier merupakan kemasan yang digunakan untuk distribusi sediaan dalam
skala besar.
Contoh : kotak kardus
Sediaan nanosuspensi dikemas dalam wadah bermulut lebar dan memiliki celah udara
dibawah cairan untuk mempermudah pengocokan dan penuangan. Kebanyakan sediaan
suspensi disimpan dalam wadah yang tertutup rapat untuk melindungi dari pembekuan
serta panas dan cahaya yang berlebihan. Sebab apabila dibekukan maka akan sukar untuk
didispersikan kembali dan apabila terpapar cahaya yang berlebihan dapat menyebabkan
degradasi produk. Sebelum digunakan penting bahwa suspensi harus dikocok dengan
baik sebelum digunakan untuk menjamin distribusi partikel padat yang merata dalam
pembawa dengan dosis yang tepat dan seragam. Selain itu sediaan nanosuspensi
17

umumnya dikemas dalam botol dan disesuaikan dengan viskositasnya. Hal tersebut
mempengaruhi kemudahan dalam penggunaan nanosuspensi.
Bahan-bahan yang Digunakan dalam Sediaan Nanosuspensi
a. Kaca
Kaca merupakan bahan yang umumnya digunakan dalam kemasan sediaan farmasi
karena kelebihan-kelebihan tertentu. Kelebihan yang dimiliki oleh kaca sebagai kemasan
sediaan farmasi antara lain:

Ekonomis
Tersedia dalam berbagai ukuran dan bentuk
Inert, impermeabel
Kuat dan rapat
Kualitas tidak menurun oleh waktu
Sistem penutupan yang baik
Dapat dipakai kembali

Adapun beberapa kekurangan dalam penggunaan kaca sebagai kemasan antara lain:
Mudah pecah
Berat
Jenis-jenis kaca yang digunakan untuk sediaan farmasi antara lain:
Tipe
Tipe I

Tipe II

Komposisi
Kaca borosilikat

Sifat
Inert, dapat diisi

Kegunaan
Sediaan parenteral asam

dengan asam kuat

dan netral, dan basa

Kaca natrium

dan basa kuat


Resisten terhadap

Sediaan parenteral asam

karbonat yang

bahan kimia

dan netral, dan basa

diolah
Tipe III

yang sesuai

Kaca natrium

Tahan terhadap

Cairan anhidrat dan

karbonat biasa

bahan kimia yang

sediaan parenteral jika

sedang atau lebih

sesuai

dari sedang
18

Tipe IV

Kaca natrium

Resistensi terhadap

Sediaan non-parenteral

karbonat untuk

bahan kimia rendah

untuk pemakaian oral

penggunaan umum

atau topikal

Kemasan yang terbuat dari kaca umumnya terdapat dalam berbagai warna, antara lain
cokelat (amber), biru, hijau zamrud, dan bening. Kaca yang berwarna merah atau cokelat
efektif dalam melindungi sediaan farmasi seperti nanosuspensi dari cahaya dengan
screening paparan sinar ultraviolet. Kemasan kaca untuk nanosuspensi umumnya
digunakan untuk sediaan oral.
a. Plastik
Bahan lain yang digunakan untuk sediaan nanosuspensi yang lain yaitu plastik. Plastik
memiliki beberapa keuntungan antara lain:
Mudah dibentuk
Ringan
Tidak mudah pecah
Tingkat keamanan yang tinggi
Beberapa kekurangan dalam penggunaan plastik sebagai kemasan antara lain:

Mudah terbakar
Umumnya tersusun atas polimer-polimer yang rentan untuk melepaskan monomer

yang berbahaya
Tidak ramah lingkungan

Plastik untuk kemasan produk farmasi dibuat dari polimer seperti polietilen, polipropilen,
polivinil klorida, polietilentereftalat.

Polietilen
Polietilen memiliki kerapatan tinggi dan banyak digunakan untuk wadah dalam
industri farmasi. Bahan ini merupakan penghalang yang baik terhadap lembap,
namun relatif buruk terhadap oksigen dan gas lainnya. Kebanyakan pelarut tidak
merusak polietilen dan tidak dipengaruhi oleh asam dan alkali kuat.
Penggunaannya untuk bentuk sediaan oral kering yang tidak akan direkonstitusi

menjadi bentuk larutan.


Polipropilen
19

Polipropilen tidak retak karena tekanan dalam keadaan apapun dan tahan terhadap
hampir semua jenis bahan kimia, termasuk asam kuat, alkali kuat, kebanyakan
bahan organik, namun tidak tahan terhadap pelarut beraroma tajam dan
mengandung halogen karena dapat melunakan polipropilen. Digunakan untuk

pengemasan sediaan padat yang kering atau sediaan cair oral.


Polivinil klorida
Polivinil klorida (PVC) memiliki resistensi yang baik terhadap oksigen dan
memiliki kekakuan yang lebih besar. Polivinil klorida penghalang yang baik
terhadap minyak, alkohol yang mudah dan tidak mudah menguap, pearut
hidrokarbon, serta bau dan rasa namun memiliki resistensi yang buruk terhadap

benturan.
Polietilenftalat
Polietilenftalat (PET) memiiki resistensi yang baik terhadap benturan dan
penghalang gas serta aroma yang baik. Digunakan untuk kosmetik dan cairan
pencuci mulut.
Kemasan yang terbuat dari plastik untuk sediaan nanosuspensi umumnya

digunakan untuk sediaan optalmik berupa botol plastik untuk tetes mata. Penggunaan
plastik untuk sediaan nanosuspensi optalmik menguntungkan sebab plastik bersifat
ringan sehingga mudah dalam pengaplikasiannya serta tidak mudah pecah.
Selain kemasan, perlu diperhatikan pula penutup kemasan. Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam pemilihan tutup kemasan antara lain:

Kompatibilitas
Penampilan
Segelnya terjamin
Ekonomis

Setiap kemasan obat harus disetujui terlebih dahulu sebelum dipasarkan. Peraturan
Federal Drug Administration (FDA) menyatakan bahwa wadah, penutup, dan komponen
lain dari kemasan harus sesuai pemakaian, tidak boleh beraksi, aditif atau mengabsorbsi
sedemikian jauh hingga mempengaruhi identitas, kekuatan, mutu, atau kemurnian obat.
Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu label pada kemasan adalah label. Label memuat
informasi yang penting mengenai sediaan obat. Label atau penandaan untuk sediaan obat
20

ini diatur oleh Permenkes No.1010 tahun 2008 yaitu Penandaan adalah keterangan
yang lengkap mengenai khasiat, keamanan, cara penggunaannya serta informasi lain
yang dianggap perlu yang dicantumkan pada etiket, brosur dan kemasan primer dan
sekunder yang disertakan pada obat. Aspek penting yang harus dicantumkan pada label
dan penandaan kemasan, yaitu:
1. Nama Dagang
2. Nama Generik
3. Bentuk Sediaan
4. Tanda Khusus Obat (Lingkar biru, hijau, merah)
5. Komposisi
6. Indikasi
7. Kontraindikasi
8. Efek Samping
9. Interaksi Obat
10. Cara Kerja Obat
11. Aturan Pakai
12. Peringatan
13. Nomor Batch
14. Nomor Registrasi
15. Nama dan Alamat Industri Farmasi
16. Tanggal Produksi dan Kadaluarsa
Untuk sediaan suspensi, perlu ditambahkan label khusus berupa: Kocok
Dahulu, Jangan dimasukan ke dalam lemari pembeku, dan Lindungi dari cahaya
matahari. Untuk penyimpanan sediaan obat yang telah jadi, sebaiknya disimpan pada
tempat yang sejuk, namun tidak dibekukan, suhu dijaga antara 20-25 oC, hindari terkena
sinar matahari langsung (meskipun obatnya tidak sensitif terhadap sinar UV).
Nomor registrasi penting diperlukan untuk setiap sediaan obat. Setiap sediaan
obat memiliki nomor registrasi yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Berikut
merupakan cara penomoran nomor registrasi sediaan obat menurut PERMENKES RI
NO.920/MENKES/PER/X/1995,

tentang

pendaftaran

obat

jadi

impor:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Keterangan :
Kotak no 1 membedakan nama obat jadi
D : Nama Dagang
G : Nama Generik
21

Kotak No 2 menggolongkan golongan obat


N : Golongan obat narkotik
P : Golongan obat Psikotropika
T : Golongan obat Bebas terbatas
B : Golongan obat bebas
K : Golongan obat keras
Kotak nomor 3 membedakan jenis produksi
I : Obat jadi Impor
E : Obat jadi untuk keperluan ekspor
L : Obat jadi produksi dalam negeri/lokal
X : Obat jadi untuk keperluan khusus
Kotak nomor 4 dan 5 membedakan periode pendaftaran obat jadi
72 : Obat jadi yang telah di setujui pendaftarannya pada priode 1972-1974, dan
seterusnya.
Kotak nomor 6,7 dan 8 menujukkan nomor urut pabrik.
Kotak no 9,10, dan 11 menunjukkan nomor urut obat jadi yang disetujui untuk masingmasing pabrik.
Kotak no 12 dan 13 menunjukkan kekuatan sediaan obat jadi. Macam sediaan yang ada
yaitu :
Kode beberapa bentuk sediaan diatur sebagai berikut :
01 : Kapsul

04 : Kaplet

09 : Kaplet salut selaput 10 : Tablet

08 : Kapsul drage
11 : Tablet effervescent

12 : Tablet hisap

15 : Tablet salut enterik 16 : Tablet drage

17 : Tablet salut selaput

18 : Tablet vagina

25 : Serbuk tabur

27 : Salep mata

28 : Salep kulit

29 : Krim

30 : Salep biasa

32 : Emulsi

33 : Suspensi

34 : Elixir

35 : Potio

36 : Obat tetes

37 : Sirup

38 : Sirup kering

41 : Lotio

42 : Cairan steril

43 : Injeksi

44 : Serbuk injeksi

46 : Tetes mata

47 : Tetes hidung

48 : Tetes telinga

49 : Infus

51 : Plester

62 : Inhaler
22

Kotak nomor 14 menunjukkan kekuatan sediaan obat jadi


A : Menunjukkan kekuatan obat yang pertama di setujui
B : Menunjukkan kekuatan obat yang kedua di setujui
C : Menunjukkan kekuatan obat yang ketiga di setujui
Kotak nomor 15 menunjukkan kemasan yang berbeda untuk tiap nama, kekuatan dan
bentuk sediaan obat jadi.
1 : Menunjukkan kemasan yang pertama
2 : Menunjukkan beda kemasan yang pertama
3 : Menunjukkan beda kemasan.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Nanosuspensi merupakan teknologi terbaru dalam pembuatan sediaan farmasi

suspensi. Inovasi dari teknologi ini adalah dengan memperkecil ukuran partikel
terdispersi.

Dengan mengecilnya

ukuran

partikel

terdispersi,

akan

membantu
23

memecahkan masalah dimana obat sulit larut dalam larutan dan bioavailabilitas tidak
baik. Teknologi juga ini telah membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan
penghantaran obat yang sulit larut dalam air dan obat yang sulit larut dalam air dan lipid.
Formulasi pada nanosuspensi kurang lebih sama dengan suspensi yaitu zat aktif (bahan
terdisper), eksipien utama (pensuspensi), dan eksipien pendukung. Pada metide
pembuatannya, terdapat dua metode pembuatan nanosuspensi yaitu teknologi bawah ke
atas (bottom up technology) dan teknologi atas ke bawah (top down technology). Pada
metode bottom up technology, obat dilarutkan pada suatu pelarut (solvent), yang
kemudian ditambahkan pada non-solvent yang akan menyebabkan presipitasi partikel
obat yang sangat kecil (fine).
Keuntungan metode ini adalah penggunaan peralatan yang sederhana dan hemat
biaya, juga kelarutan jenuh yang lebih tinggi daripada metode pembuatan lain. Akan
tetapi metode ini tidak dapat digunakan untuk obat yang sukar larut pada media air dan
non-air. Top down technology meliputi penggilingan media (media milling),
homogenisasi tekanan tinggi (high pressure homogenization), metode difusi emulsi, dan
metode cairan superkritik (supercritical fluid). Metode-metode ini lebih disukai
dibanding metode presipitasi.
Evaluasi nanosuspensi dilakukan sebagaimana evaluasi suspensi seperti
penampilan, bau warna, penetapan kadar, cemaran, dll. Selain parameter tersebut
nanosuspensi harus dievaluasi ukuran partikel, potensial zeta, bentuk kristal, disolusi dan
studi in vivo.
1.

2.
3.

Evaluasi In-Vitro
i. Ukuran partikel dan distribusi ukuran
ii. Muatan partikel (Zeta Potential)
iii. Kecepatan disolusi dan kelarutan
iv. Kondisi dan bentuk kristal
Evaluasi In-Vivo
Evaluasi nanosuspensi untuk permukaan yang sudah dimodifikasi
i. Hidrofilisitas permukaan
ii. Sifat adhesi
iii.
Interaksi dengan protein tubuh
Sediaan obat yang telah diproduksi memiliki masa waktu yang terbatas dan tidak

dapat disimpan lama. Penggunaan kemasan yang tidak tepat dapat mendegradasi tablet
24

dan akan mengurangi masa waktu sediaan obat. Sebaliknya penggunaan kemasan yang
tepat dapat memperpanjang masa waktu sediaan obat.
Beberapa

aplikasi

teknologi

sediaan

nanosuspensi

diantaranya

unruk

penghantaran obat secara oral, parenteral, pulmonar, okular, target drug delivery,
mukoadesif nanopartikel dan sediaan topical.
Dalam sediaan suspensi, perlu ditambahkan label khusus berupa: Kocok
Dahulu, Jangan dimasukan ke dalam lemari pembeku, Lindungi dari cahaya
matahari, dan lainnya.
Untuk penyimpanan sediaan obat yang telah jadi, sebaiknya disimpan pada
tempat yang sejuk, tetapi jangan dibekukan, cukup pada suhu 20-25 oC, hindari terkena
sinar matahari langsung (meskipun obatnya tidak sensitif terhadap UV).
3.2 Saran
Nanopartikel merupakan sebuah teknologi baru dalam pembuatan sediaan
suspensi. Teknologi ini sangat berguna dalam membantu membuat sediaan bagi senyawasenyawa atau zat aktif obat yang sukar larut. Sebaiknya teknologi ini dipelajari secara
mendalam dan dilakukan penelitian lebih lanjut sehingga kegunaannya dapat
dimaksimalkan.

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, Howard C., Allen, Loyd V., Popovich, Nicholas G. 1999. Pharmaceutical Dosage
Form and Drug Delivery Systems. USA: Lippincott Williams and Wilkins
Aulton, Michael E. 1988. The Sciensce of Dosage Form Design. London:Churchill
Livingstone
Bernhard HL, Muller BRH. Lab-scale Production Unit Design for Nanosuspensions of
Sparingly Soluble Cytotoxic Drugs, Pharm Sci Tech Today, 1999; 2(8): 336339.
Christianawati, Ester et al. 2012. Types of Packaging Materials in Pharmaceutical Products.
Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.
D, Joshita. Buku Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. 2009. Depok : Jurusan Farmasi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.
25

Kumar, Giddam Ahwini.,Lakshmi, Prasanna. 2010. Nano-Suspension Technology: A Review.


India: International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Science.
Lachman, Leon; Lieberman, Herbert A.; Kanig, Joseph L. 1976. The Theory and Practice of
Industrial Pharmacy Second Edition.Philadelphia: Lea &Febiger
Laura Bond, Stephanie Allen, Martyn C Davies, Clive Roberts, Arif P Shivji, Saul JB
Tendler, Phillip M Williams, Jianxin Zhang. Differential Scanning Calorimetry
and Scanning Thermal Microscopy Analysis of Pharmaceutical Materials.
Int.J.Pharm., 2002;243:7182.
Lieberman, Herbert A., Rieger, Martin M., Banker, Gilbert S. 1988. Pharmaceutical Dosage
Forms : Disperse Systems, Volume 1, 1st Edition. New York : Marcel Dekker.
Muller BW, Muller RH. Particle Size Analysis of Latex Suspensions and Microemulsions by
Photon Correlation Specroscopy, J.Pharm.Sci., 1984; 73: 915-918.
Muller RH, Jacobs C, Kayser O. Nanosuspensions as Particulate Drug Formulations in
Therapy Rationale for Development and What We Can Expect for the Future. Ad.
Drug Del.Rev., 2001;47:3-19.
R.H.Muller, B.H.L.Bohm and .J.Grau. Nanosuspensions : a formulation approach for poorly
soluble and poorly bioavailable drugs. In D.Wise (Ed) Handbook of
pharmaceutical controlled release technology.2000; 345-357.
Sigfridsson, Kalle et al. 2011. A Formulation Comparasion between Micro- and
Nanosuspensions: The Importance of Particle Size for Absorption of a Model
Compoind, Following Repeated Oral Administration to Rats During Early
Development. In Drug Development and Indusrial Pharmacy, 2011,37(2): 185192. USA: Informa Healthcare USA Inc.

26

Anda mungkin juga menyukai