Anda di halaman 1dari 19

STATUS OBSTETRI

IDENTITAS
Nama Pasien

: Ny. N

Usia

: 20 Tahun

Suku

: Jawa

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Status

: Menikah

Nama suami

: Tn.Y

Umur

: 28 Tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Gg. Jambu No. 27 Sekupang

Tanggal MRS

: 9 Maret 2012

Pukul

: 04.30 WIB

HPHT

: 26 Oktober 2011

Taksiran Persalinan : 2 Agustus 2012


Lama hamil

: 18 -19 minggu

Riwayat Periksa Kehamilan Sebelumnya : tidak pernah, baik ke dokter maupun ke bidan.

ANAMNESA
Keluhan Utama :
Keluar darah dari kemaluan sejak 2 hari yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang :


1

Os mengeluh keluar darah dari kemaluan 2 hari SMRS berupa flek-flek kecoklatan
yang semakin lama semakin banyak. Os mengganti pembalut 2x sehari, riwayat keluar
gelembung seperti mata ikan +. Pasien mengaku sedang hamil 5 bulan dan sudah pernah
mengecek PP tes pada bulan november dan hasilnya positif. Pasien mengatakan sering mual
dan muntah > 10 x/hari, perutnya cepat membesar lebih dari usia kehamilannya. Namun kini
menurut pasien ia tidak merasakan gerakan janinnya. Riwayat berdegup kencang (-), keringat
dingin(-),sesak napas(-).

Riwayat Penyakit Dahulu:


Os belum pernah menderita penyakit ini sebelumnya. Riwayat penyakit darah
tinggi,penyakit kencing manis dan asma disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Os mengatakan tidak ada keluarganya yang menderita penyakit serupa yang
dideritanya.

Riwayat Alergi obat:


Os mengatakan tidak ada alergi obat

Riwayat Haid:
Menarche

: 16 Tahun

Lama haid

: 3 Hari

Siklus haid

: 28 Hari, teratur

Disertai rasa sakit

: Tidak

Riwayat Perkawinan:
2

Os menikah satu kali dengan suaminya suda 1 tahun yang lalu.

Riwayat obstetri :
Ini kehamilan pertama os.

Riwayat Operasi:
Os belum pernah mengalami operasi sebelumnya.

Riwayat Keluarga berencana:


Pasien mengaku belum pernah menggunakan alat kontrasepsi sebelumnya.

PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS PRESENT
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan Darah

: 120/ 80 mmHg

Nadi

: 80 x/ menit

Respirasi

: 20 x/ menit

Suhu

: 36,5 C

Berat badan

: 50 kg

Tinggi badan

: 160cm

Gizi

: Cukup
3

Turgor

: Baik, tidak ada kelainan kulit

B. STATUS GENERALIS
Kepala

: Normochepali
Mata

: Konjungtiva tidak anemis, Sklera Tidak ikterik

Muka

: Cloasma gravidarum (+)

Hidung

: Tidak ada deviasi septum, konka tidak hiperemis, secret(-),


tidak ada polip

mulut

: Bibir tidak sianosis,mukosa bibir tidak hiperemis, tonsil dextra


sinistra simetris, faring tidak hiperemis

Leher

: KGB tak teraba membesar


JVP 5+2 cm H2O, tiroid tidak teraba membesar

Thorak

: Diameter latero lateral antero posterior 2:1

Mamae

: Simetris, hiperpigmentasi areola mamae +

Inspeksi

: Bentuk dada normal, pergerakan nafas kanan kiri simetris

Palpasi

: Fremitus taktil simetris kanan kiri

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler pada seluruh lapang paru, wheezing (-)


ronki (-)

JANTUNG
Inspeksi

Iktus kordis tidak terlihat


4

Palpasi

Iktus kordis tidak teraba

Perkusi

Batas atas

: Sela Iga II Linea Parasternal Kiri

Batas kanan : Sela Iga V Linea Parasternal Kanan


Batas kiri
Auskultasi

: Sela Iga VI Linea Midklavikula Kiri

BJ I - II reguler, murmur (-), gallop (-)

ABDOMEN
Inspeksi

Cembung(+), striae gravidarum(+), hiperpigmentasi di linea


alba(+), tidak tampak gerakan janin.

Palpasi

: Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba, Ballotement (-)

Perkusi

: Timpani,shifting dulness (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

GENITALIA EXTERNA
Kelamin

: Lihat di status obstetri

EKSTREMITAS
Tidak tampak edema
Anogenital

: Perdarahan (+), tampak gelembung darah keluar dari vagina


300 cc

C. STATUS OBSTETRI
Inspeksi :
5

1. Kepala/ Muka

: Chloasma gravidarum (+)

2. Thorax

: Hiperpigmentasi areola dan papilla mamae (+)

3. Abdomen

: Cembung(+), striae gravidarum(+), hiperpigmentasi di linea


alba(+), tidak tampak gerakan janin.

Palpasi :
1. Tinggi Fundus Uteri

Pertengahan pusat-proc.xyoideus (25 cm)

2. Lingkar Perut

85 cm

3. Gerak Janin

(-)

4. His

(-)

5. Letak janin

(-)

Auskultasi :
Tidak terdengar bunyi jantung janin

Pemeriksaan Inspekulo :
Inspeksi

: Fluxus ( + )

Pemeriksaan dalam :
Vulva /vagina
Portio :

: Tidak ada kelainan


Konsistensi

: Livide

Ostium

: Tertutup

Nyeri Goyang :

(-)

Laserasi

(-)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Darah Lengkap
6

Hb

: 10,8 gr/dl

Hematokrit

: 21 %

Leukosit

: 10.500/ mm3

Trombosit

: 334.000 ribu

CT

: 10 menit

BT

: 3 menit

Kimia Darah
Ureum

: 12 mg%

Creatinin

: 0,4 mg%

SGOT

: 21 g/L

SGPT

: 13 g/L

Urin:
-

Warna Urin

: Kuning

BJ

: 1.005

Protein

: +1

Nitrit

: (-)

Glukosa

: (-)

Keton

: (-)

PH

: 7

Bilirubin

: (-)

USG

: Honey comb appearance, Gambaran janin (-)

Imunologi& serologi :
Tes kehamilan (9 november 2011)

: Positif

(titer Hcg = 120800 Miu/ml)


7

T3

= 3,8 nmol/L ( n=0,58- 1,59)

T4

= 18,0 u g/L (n=5,10-14,10)

TSH

= <0,05 ml U/L

DIAGNOSIS BANDING

Abortus iminens, Abortus insipiens

DIAGNOSIS KERJA
MOLAHIDATIDOSA

PENATALAKSANAAN
1. Perbaikan KU
2. IVFD RL gtt xx/ mnt
3. Persiapkan darah
4. Kuretase :

Dilakukan pada 11 Maret 2012 pukul 04.00 WIB dengan darah 3 kolf
infuse 2 jalur, premedikasi ketorolac, lidocain, sulfas atropine, diazepam.

5. Therapi

Cefadroxil 3x, Metil Ergometrin 3x1, B complex 3x1

PROGNOSIS :
Quo ad vitam

: Dubia ad bonam

Quo ad fungtionam

: Dubia ad bonam
TEORI

Definisi

Mola berasal dari bahasa latin yang berarti massa dan hidatidosa berasal dari kata
Hydats yang berarti tetesan air.
Mola hidatidosa adalah kehamilan yang berkembang tidak wajar ( konsepsi yang patologis)
dimana tidak ditemukan

janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan

hidropik. Dalam hal demikian disebut Mola Hidatidosa atau Complete mole sedangkan bila
disertai janin atau bagian janin disebut sebagai Mola Parsialis atau Partial mole.

Etiologi dan faktor resiko


Penyebab dari mola belum sepenuhnya diketahui dengan pasti tetapi ada beberapa
faktor yang bisa menyebabkan terjadinya mola
1) Faktor ovum yang memang sudah patologik, tetapi terlambat untuk dikeluarkan
2) Imunoselektif dari trofoblas
3) Keadaan sosioekonomi yang rendah
4) Malnutrisi, defisiensi protein, asam folat, karoten, vitamin, lemak hewani
5) Paritas tinggi
6) Umur, resiko tinggi kehamilan dibawah 20 atau diatas 40 tahun
7) Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas
8) Suku bangsa ( ras ) dan faktor geografi yang belum jelas

Patogenesis
Ada beberapa teori yang dapat menerangkan patogenesis penyakit ini
a .Teori missed abortion.
Kematian mudigah pada usia kehamilan 3-5 minggu saat dimana seharusnya sirkulasi
fetomaternal terbentuk menyebabkan gangguan peredaran darah. Sekresi dari sel-sel yang
mengalami hiperplasia dan menghasilkan substansi-substansi yang berasal dari sirkulasi ibu
diakumulasikan ke dalam stroma villi sehingga terjadi kista villi yang kecil-kecil. Cairan
yang terdapat dalam kista tersebut menyerupai cairan ascites atau edema tetapi kaya akan
HCG.

b. Teori neoplasma dari park


Teori ini mengemukakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas, yang
mempunyai fungsi yang abnormal pula, dimana terjadi resorpsi cairan yang berlebihan ke
dalam vili sehingga timbul gelembung. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan
kematian mudigah. Sebagian dari vili berubah menjadi gelembung-gelembung yang berisi
cairan jernih. Biasanya tidak ada janin, hanya pada mola parsial kadang-kadang ditemukan
janin. Gelembung-gelembung ini sebesar butir kacang hijau sampai sebesar buah anggur.
Gelembung ini dapat mengisi seluruh kavum uterus.

Histopatologi
Pada mola komplit didapatkan gambaran histologi berupa pembengkakan stroma vili,
avaskular vili, proliferasi trofoblas sedangkan pada mola parsial bisa didapatkan stroma vili
yang mengalami pembengkakan maupun stroma vili yang berukuran normal, fibrosis stroma
vili-vili kecil dan invaginasi trofoblas ke dalam stroma vili

Patofisiologi
Pada Mola Hidatidosa atau Complete mole tidak ada jaringan fetus/janin. 90%
merupakan kromosom 46,XX dan 10% merupakan kromosom 46, XY. Semua kromosom
berasal dari paternal. Sebuah enukliasi telur dibuahi oleh sperma haploid (yang kemudian
berduplikasi menjadi masing-masing kromosom), atau sel telur dibuahi oleh dua sperma.
Pada mola hidatidosa, vili korion menyerupai anggur dan hiperplasia trofoblastik muncul.
Pada Mola parsialis atau Partial mole jaringan fetus/janin dapat ditemukan. Eritrosit
dan pembuluh darah janin pada vili dapat ditemukan. Komplemen kromosom nya 69,XXX
atau 69 XXY. Kromosom tersebut merupakan hasil dari pembuahan sel telur haploid dan
duplikasi dari kromosom haploid paternal. Seperti pada Complete mole, jaringan hiperplasia
trofoblastik dan vili korion yang lunak pun muncul pada mola ini

Klasifikasi
10

Mola hidatidosa merupakan spektrum jinak yang ditandai adanya kelainan proliferasi
trofoblas. Mola hidatidosa memiliki ciri histologis berupa kelainan vili korionik dengan
berbagai derajat proliferasi trofoblastik dan edema dari stroma vilosa. Penyakit ini dapat
dibagi menjadi mola hidatidosa komplet dan parsial.
Mola hidatidosa komplet
Mola hidatidosa komplet lebih sering daripada mola hidatidosa parsial. Resiko untuk
berkembang menjadi tumor trofoblas dari mola sekitara 20 %. Mola hidatidosa merupakan
hasil konsepsi tanpa adanya embrio. Ditandai dengan gambaran seperti sekelompok buah
anggur. Villi khorialis yang berkembang menjadi massa vesikel yang jernih, vesikel tersebut
tumbuh besar dan mengisi seluruh cavum uteri .Vesikel tersebut terdiri dari berbagai ukuran
yang hampir tidak terlihat sampai beberapa centimeter diameternya.
Struktur histologis nya bersifat

degenerasi hidropik dan edema/pembengkakan stroma villi

tidak adanya pembuluh darah pada villi yang edema

proliferasi dari epitel tropoblas mencapai beberapa tingkatan/derajat beragam

tidak adanya fetus atau amnion


Berbagai penelitian sitogenetik terhadap kehamilan mola komplit, menemukan

komposisi kromosom yang paling sering 46, XX, dengan kromosom sepenuhnya berasal dari
ayah. Ovum dibuahi oleh sebuah sperma haploid yang kemudian mengadakan duplikasi
kromosomnya sendiri setelah meiosis. Kromosom ovum bisa tidak terlihat atau tampak tidak
aktif. Tetapi semua mola hidatidosa komplit tidak begitu khas dan kadang-kadang pola
kromosom pada mola komplit bisa 46, XY. Dalam keadaan ini, dua sperma membuahi satu
ovum yang tidak mengandung kromosom. Variasi lain juga pernah dikemukakan yaitu 45,X.
Resiko neoplasia trofoblastik yang terjadi pada mola komplit kurang lebih sebesar 20%.
Mola hidatidosa parsial
Kalau perubahan hidatidosa bersifat fokal dan belum begitu jauh dan masih terdapat
janin dan sedikitnya kantong amnion keadaan ini disebut sebagai mola parsialis. Pada
sebagian villi yang biasanya avaskuler terjadi pembengkakan hidatidosa yang berjalan lambat
sementara villi yang lainnya yang vaskuler dengan sirkulasi darah fetus plasenta yang
berfungsi tidak mengalami perubahan .
11

Hiperplasia tropoblastik yang terjadi lebih bersifat fokal daripada generalisata,


kariotipe secara khas triploid yang bisa 69,xxy atau 69,xyy dengan satu komplemen maternal
tapi biasanya dengan dua komplemen haploid paternal. Janin secara khas menunjukan
stigmata triploid yang mencakup malformasi kongenital multipel dan retardasi pertumbuhan.
Resiko terjadinya koriokarasinoma sangatlah kecil
Tabel karakteristik mola hidatidosa komplet dan parsialis

Kariotipe

Mola hidatidosa komplet

Mola hidatidosa parsial

Diploid(46,XX atau 46,XY)

Triploid (69,XXX atau 69,


XXY)

Patologi
Fetus

Tidak ada

kadang-kadang ada

Amnion, sel darah merah Tidak ada

kadang-kadang ada

janin
Edema villa

Difus

Bervariasi, fokal

Proliferasi trofoblastik

Bervariasi, ringan sampai Bervariasi,

fokal,

ringan

berat

sampai sedang

Diagnosis

Kehamilan mola

Missed Abortion

Ukuran uterus

50% lebih besar u/ umur Kecil u/ umur kehamilan

Gambaran klinis

kehamilan
Kista theca-lutein

25-30%

Jarang

Komplikasi

Sering terjadi

Jarang

Penyakit post mola

20%

< 5-10%

-Hcg

meningkat (> 50.000)

Meningkat sedikit (<50.000

Diagnosis

Gejala Klinik
12

Perdarahan vaginal
Perdarahan vaginal merupakan gejala yang mencolok dan dapat bervariasi mulai
spotting sampai perdarahan yang banyak. Biasanya terjadi pada trisemester pertama dan
merupakan gejala yang paling banyak muncul pada lebih dari 90% pasien mola. Tiga
perempat pasien mengalami gejala ini sebelum usia kehamilan 3 bulan. Hanya sepertiga
pasien yang mengalami perdarahan hebat. (2) Sebagai akibat dari perdarahan tersebut, gejala
anemia agak sering dijumpai lebih jauh. Kadang-kadang terdapat perdarahan tersembunyi
yang cukup banyak di dalam uterus. Pembesaran uterus yang tumbuh sering lebih besar dan
lebih cepat daripada kehamilan normal, hal ini ditemukan pada setengah kasus pasien mola.
Adapula kasus-kasus yang uterusnya lebih kecil atau sama dengan besarnya kehamilan
normal walaupun jaringan belum dikeluarkan.
Hiperemesis gravidarum
Pasien biasanya mengeluh mual muntah hebat. Hal ini akibat dari proliferasi trofoblas
yang berlebihan dan akibatnya memproduksi terus menerus HCG yang menyebabkan
peningkatan HCG, hiperemesis gravidarum tampak pada 15 -25 % pasien mola hidatidosa.
Walaupun hal ini sulit untuk dibedakan dengan kehamilan biasa. 10% pasien mola dengan
mual dan muntah cukup berat sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan
Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan tropoblastik yang berlebihan, volume vesikuler
vilii yang besar rasa tidak enak pada uterus akibat regangan miometrium yang berlebihan.
Pada sebagian besar pasien ditemukan tanda ini tetapi pada sepertiga pasien uterus ditemukan
lebih kecil dari yang diharapkan.
Aktifitas janin
Meskipun uterus cukup besar untuk mencapai simfisis secara khas tidak ditemukan
aktifitas janin sekalipun dideteksi dengan instrumen yang paling sensitif tidak teraba bagian
janin dan tidak teraba gerakan janin.

Pre-eklamsia
13

Tanda tanda pre-eklamsia selama trisemester pertama atau awal trisemester kedua
muncul pada 10-12%.(2) Pada trisemester kedua sekitar 27 % pasien mola hidatidosa komplit
berlanjut dengan toksemia yang dicirikan oleh tekanan darah > 140 /90 proteinuria > 300
mg/dl dan edema generalisata dengan hiperrefleksi. Pasien dengan konvulsi jarang.
Hipertiroid
Kadar tiroksin plasma pada wanita dengan kehamilan mola sering meningkat (10%),
namun gejala hipertiroid jarang muncul. Terjadinya tirotoksikosis pada mola hidatidosa
berhubungan erat dengan besarnya uterus. Makin besar uterus makin besar kemungkinan
terjadi tirotoksikosis. Oleh karena kasus mola dengan uterus besar masih banyak ditemukan,
maka dianjurkan agar pada setiap kasus mola hidatidosa dicari tanda-tanda tirotoksikosis
secara aktif dan memerlukan evakuasi segera karena gejala-gejala ini akan menghilang
dengan menghilangnya mola.
Mola yang disertai tirotoksikosis mempunyai prognosis yang lebih buruk, baik dari
segi kematian maupun kemungkinan terjadinya keganasan. Biasanya penderita meninggal
karena krisis tiroid. Peningkatan tiroksin plasma mungkin karena efek dari estrogen seperti
yang dijumpai pada kehamilan normal. Serum bebas tiroksin yang meningkat sebagai akibat
thyrotropin like effect dari Chorionic Gonadotropin Hormon. Terdapat korelasi antara kadar
hCG dan fungsi endogen tiroid tapi hanya kadar hCG yang melebihi 100.000 iu/L yang
bersifat tirotoksis. Sekitar 7 % mola hidatidosa komplit datang dengan keluhan seperti
hipertensi, takikardi, tremor, hiperhidrosis, gelisah emosi labil dan warm skin
Kista teka lutein
Diameter kista ovarium lebih dari 6 cm dan menyertai pembesaran ovarium. Kista ini
biasanya tidak dapat dipalpasi dengan manual tetapi diidentifikasi dengan USG pasien dapat
memberikan tekanan dan nyeri pada pelvik karena peningkatan ukuran ovarium dapat
menyebabkan torsi ovarium. Kista ini terjadi akibat respon

HCG yang sangat meningkat

dan secara spontan mengalami penurunan (regresi) setelah mola dievakuasi, rangsangan
elemen lutein yang berlebih oleh hormon korionik gonadotropin dalam jumlah besar yang
disekresi oleh trofoblas yang berproliferasi.
Kista teka lutein multipel yang menyebabkan pembesaran satu atau kedua ovarium
terjadi pada 15-30% penderita mola. Umumnya kista ini menghilang setelah jaringan mola
dikeluarkan tetapi ada juga kasus dimana kista lutein baru ditemukan pada saat follow up.
14

Kasus mola dengan kista lutein mempunyai resiko 4 kali lebih besar untuk mendapatkan
degenerasi keganasan di kemudian hari. Pada setengah jumlah kasus, kedua ovarium
membesar dan involusi dari kista terjadi setelah beberapa minggu, biasanya seiring dengan
penurunan kadar HCG. Tindakan bedah hanya dilakukan bila ada ruptur dan perdarahan
atau pembesaran ovarium tadi mengalami infeksi.
Embolisasi
Sejumlah trofoblas dengan atau tanpa stroma vili keluar dari uterus ke vena pada saat
evakuasi. Sebetulnya pada setiap kehamilan selalu ada migrasi sel trofoblas ke peredaran
darah kemudian ke paru tanpa memberi gejala apapun. Tetapi pada kasus mola kadangkadang sel trofoblas ini sedemikian banyak sehingga dapat menimbulkan emboli paru akut
yang dapat menyebabkan kematian. Jumlah dan volume akan menentukan gejala dan tanda
dari emboli paru akut bahkan akibat yang fatal, walaupun kefatalan jarang terjadi.
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
a. inspeksi
muka dan kadang kadang badan kelihatan pucat kekuning-kunigan yang
disebut sebagai mola face
gelembung mola yang keluar
b. palpasi
uterus lembek dan membesar tidak sesuai kehamilan
adanya fenomena harmonika kalau darah dan gelembung mola keluar maka tinggi
fundus uteri akan turun lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru.
Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen yang gerak janin
c. auskultasi
Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin (pada mola hidatidosa parsial
mungkin dapat didengar DJJ)
Terdengar bising dan bunyi khas
d. pemeriksaan dalam

15

Pastikan besarnya rahim, rahim terasa lembek, tidak ada bagian-bagian janin,
terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina, serta
evaluasi keadaan serviks.

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Pengukuran kadar -hCG tidak lagi digunakan untuk menegakkan diagnosis mola
karena sudah digantikan oleh USG. Pemeriksaan serial diperlukan untuk mendeteksi penyakit
PTG yang persisten setelah pengeluaran mola.
Yang harus diperhatikan di sini adalah hormon -hCG, karena karakteristik yang
terpenting dari penyakit ini adalah kemampuannya dalam memproduksi hormon -hCG,
sehingga jumlah hormon ini lebih meningkat bila dibandingkan dengan kehamilan normal
pada usia kehamilan tersebut. Hormon ini dapat dideteksi di urin maupun dalam serum
penderita. Namun pemeriksaan yang dilakukan pada serum terpengaruh oleh lebih sedikit
variabel daripada yang di urin. Terdapat tiga jenis pemeriksaan -hCG, yaitu :

-hCG kualitatif serum, yang dapat mendeteksi kadar hCG > 5 10 mIU/ml

-hCG kualitatif urin, yang dapat mendeteksi kadar hCG > 25-50 mIU/ml

-hCG kuantitatif urin, yang dapat mendeteksi kadar hCG > 5-2 juta mIU/ml
Hasilnya harus dibandingkan dengan kadar -hCG serum kehamilan normal pada usia

kehamilan yang sama. Bila kadar -hCG kuantitatif >100.000 mIU/L mengindikasikan
pertumbuhan ukuran yang berlebihan dari trofoblastik dan meningkatkan kecurigaan adanya
kehamilan mola namun kadang-kadang kehamilan mola dapat memiliki nilai hCG normal.
Biasanya tes -hCG normal setelah 8 minggu post evakuasi mola.
Bila jauh lebih tinggi dari rentangan kadar normal pada tingkat kehamilan tersebut,
suatu persangkaan diagnosa mola hidatidosa dibuat. Kadar hormon -hCG sangat tinggi
dalam serum, 100 hari atau lebih setelah menstruasi terakhir. Pemantauan secara hati-hati dari
16

kadar -hCG, penting untuk diagnosis, penatalaksanaan dan tindak lanjut pada semua kasus
penyakit trofoblastik. Jumlah hormon -hCG yang ditemukan pada serum atau urin
berhubungan dengan jumlah sel-sel tumor yang ada.

USG
Pada kehamilan mola, bentuk karakteristik yang ada berupa gambaran seperti badai
salju tanpa disertai kantong gestasi atau janin. Pemeriksaan USG sebaiknya dilakukan pada
setiap pasien yang pernah mengalami perdarahan pada trisemester awal kehamilan dan
memiliki ukuran uterus yang lebih besar daripada usia kehamilannya.
USG dapat menjadi pemeriksaan yang spesifik untuk membedakan antara kehamilan
normal dengan mola hidatidosa. Namun harus diingat bahwa beberapa struktur lainnya dapat
memperlihatkan gambaran yang serupa dengan mola hidatidosa termasuk myoma uteri
dengan kehamilan ini dan kehamilan janin > 1. Pada kehamilan trimester I gambaran mola
hidatidosa tidak spesifik sehingga seringkali sulit dibedakan dari kehamilan anembrionik,
missed abortion, abortus incomplitus atau mioma uteri. Pada kehamilan trimester II gambaran
mola hidatidosa umumnya lebih spesifik, kavum uteri berisi massa ekogenik bercampur
bagian-bagian anekhoik vesikuler berdiameter antara 5-10 mm. Gambaran tersebut dapat
dibayangkan seperti gambaran sarang tawon (honey comb) atau badai salju (snow storm).
Pada 20-50% kasus dijumpai adanya massa kistik multilokuler di daerah adneksa.
Massa tersebut berasal dari kista teka lutein. Kista ini tidak dapat tidak dapat diketahui
keberadaannya jika hanya dengan pemeriksaan palpasi bimanual. USG dapat mendeteksi
adanya kista teka lutein oleh karena itu untuk mengetahui ada tidaknya kista teka lutein
dipergunakan USG.
Foto thorax
Pada kehamilan 3-4 bulan, tidak ditemukan adanya gambaran tulang-tulang janin.
Organ-organ janin mulai dibentuk pada usia kehamilan 8 minggu dan selesai pada usia
kehamilan 12 minggu. Oleh karena itu pada kehamilan normal seharusnya dapat terlihat
gambaran tulang-tulang janin pada foto rontgen. Selain itu juga untuk melihat kemungkinan
adanya metastase.
17

T3dan T4
Untuk membuktikan gejala tirotoksikosis.

H. Diagnosis banding
1. Abortus
2. Kehamilan ganda
3. Kehamilan dengan mioma
4. Hidramnion

PEMBAHASAN
Penegakan diagnosis pasien berdasarkan anamnesis,pemeriksaan fisik,pemeriksaam
obstetric& pemeriksaan penunjang. Berdasarkan hasil anamnesis diperoleh adanya
amenorea,perdarahan pervaginam yang disertai keluarnya jaringan menyerupai buah anggur,
perut yang membesar lebih dari usia kehamilannya.Ibu itu juga tidak merasakan gerakan
janin sejak awal usia kehamilannya.
Hasil Ini sesuai dengan teori dimana dikatakan

bahwa tanda & gejala mola

hidatidosa ialah amenore,perdarahan pervaginam,& tidak ditemukan tanda kehamilan pasti


seperti ballotment& detak jantung anak.Perdarahan pervaginam sering terjadi sebagai
komplikasi dari mola hidatidosa yang terlambat didiagnosis, dimana telah terjadi ekspulsif
jaringan menyerupai buah anggur secara spontan.Keluarnya gelembung mola merupakan
diagnosis yang paling tepat.Namun bila kita menunggu sampai selubung mola keluar
biasanya sudah terlambat.
Pada pemeriksaan fisik diperoleh tinggi fundus uterinya pertengahan proc-xypoideus
(25

cm-24

minggu).Didapatkan

juga

abdomen

cembung

dan

straia

gravidarum,hiperpigmantasi pada linea alba serta tidak terdengar suara janin. Pemeriksaan
penunjang yang dilakukan sebelum evakuasi mola ialah pemeriksaan laboratorium darah
lengkap,tes funsi tiroid,serum HCG,tipe golongan darah,USG.Pada kasus ini, hasil
pemeriksaan darah diperoleh bahwa kadar Hb asien adalah 10,8 mg/dl hasil pemeriksaan ini
akibat perdarahan pervaginam.Disamping itu dilakukan pula pemeriksaan urin yang
18

menunjukan hasil positif (+1), hal ini menunjukan tingginya kadar HCG dalam urin yang
dihasilkan secara berlebih oleh sel sinsitiotrofoblast.
Pemeriksaan HCG urine tidak dapat membedakan apakah produksinya normal
seperti

pada kehamilan normal/akibat mola hidatidosa.Untuk itu harus dilakukan

pemeriksaan HCG serum untuk memperkuat diagnosis &mengetahui apakah mola


hidatidosa beresiko tinggi/rendah, hal ini sangat menentukan penatalaksanaan maupun
prognosis pasien, dimana kadar yang lebih dari 100.000 mIU/ml biasanya diakibatkan oleh
molahidatidosa .Sedangkan pada kehamilan normal kadarnya <60.000mIU/ml & Pada pasien
ini didapatkan kadar HCGserum 120.800 mIU/ml.
Pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan adalah rontgen thorak & emeriksaan
USG. Pemeriksaan foto thorak bermanfaat untuk mengetahui adanya metastasis
paru.Pemeriksaan USG dilakukan maka dapat terlihat gambaran molahidatidosa yang khas
berupa badai salju/honey comb appearance.
Pemeriksaan penunjang yang harusnya dilakuakan setelah dilakukan kuretase ialah
pemeriksaan histopatologi , yaitu akan tampak villi yang edema dengan sel tropoblast yang
tidak begitu berploriferasi sedangkan ditempat lain masih tampak villi normal.

19