Anda di halaman 1dari 3

REFORMASI BIROKRASI GUSDURIAN (RBG)

Dadan Sidqul Anwar


Alumni dari School of Public Policy, The University of Birmingham
Peneliti pada Lembaga Administrasi Negara
Email: dadan_sa@yahoo.com
No. Telp. 081511055016

Gus Dur memang fenomenal. Beliau adalah tokoh nasional yang dianggap penuh
dengan paradoks. Dipuji sekaligus dicerca. Dibanggakan sekaligus dilecehkan. Dinaikkan
sekaligus diturunkan. Tapi, perilaku apapun yang ditujukan orang kepada dirinya tidaklah
mengurangi pengabdian tiada henti terhadap bangsa ini, dengan atau tanpa kekuasaan.
Bahkan, jangankan perlakuan manusia, perlakuan Tuhan-pun dengan pembatasan kondisi
fisiknya tidak membatasi ruang gerak pengabdiannya. Itulah yang mengharumkan dan
memuliakan namanya saat kepergiannya kepada Sang Khalik. Tidak hanya umat Islam,
umat agama lainnya pun memberi penghormatan bahkan do’a dengan caranya masing-
masing.
Salah satu keharuman nama beliau tercermin dalam pengakuan masyarakat
terhadap peranannya membangun demokrasi dan pluralisme. Di tengah bangsa ini
terancam dengan bahaya perpecahan ras, suku dan agama, beliau rajut persatuan NKRI
dengan spirit pluralisme. Tidak tanggung-tanggung, bahkan Presiden SBY memberi gelar
khusus sebagai Bapak Pluralisme Indonesia. Di luar itu, sebenarnya masih ada semerbak
harum peran almarhum yang tidak bisa dianggap sebelah mata dan dapat menjadi
pelajaran berharga bagi pemerintahan saat ini yang sedang membangun reformasi
birokrasi yaitu reformasi birokrasi ala Gus Dur atau kita sebut saja Reformasi Birokrasi
Gusdurian (RBG). Melalui RBG ini sebenarnya banyak inisiatif yang membuat berbagai
pihak terutama para aparatur pemerintahan diuntungkan tetapi banyak pihak yang justru
kurang memberikan apresiasi terhadap inisiator dan eksekutor RBG ini yaitu Guru kita
Gus Dur.

Artifak RBG
Kepemimpinan Gus Dur sebagai presiden memang hanya sebentar, tidak genap
satu periode karena “dijatuhkan di tengah jalan” melalui persekongkolan politik elit pada
masa itu. Tetapi, dalam waktu yang cukup singkat tersebut ada beberapa gebrakan
reformasi birokrasi (RBG) yang cukup signifikan dan dapat dirasakan sampai saat ini
dimana salah satunya adalah RBG di bidang peningkatan kesejahteraan PNS.
Dalam berbagai literatur reformasi birokrasi yang banyak diajarkan di School of
Public Policy di berbagai perguruan tinggi baik di dalam maupun luar negeri biasanya
salah satu yang sering diajarkan adalah reformasi birokrasi melalui peningkatan
kesejahteraan (remunerasi) dan pengurangan jumlah PNS (public servants).
Berkurangnya jumlah PNS diharapkan dapat menghemat biaya untuk belanja pegawai
dan hasil penghematan tersebut digunakan untuk dana peningkatan kesejahteraan
pegawai. Atas dasar rasa kemanusiaan, biasanya dalam praktek di Indonesia,
pengurangan jumlah pegawai tidak dilakukan. Sedangkan untuk peningkatan
kesejahteraan biasanya dilakukan tetapi dengan peningkatan yang relatif kecil, di bawah
1 persen. Peningkatan yang relatif kecil tersebut biasanya diumumkan sebagai “kabar
gembira” bagi para PNS. Salah satu alasan tidak dilakukannya peningkatan kesejahteraan
secara signifikan adalah keterbatasan anggaran serta dikhawatirkan akan terjadi dampak
inflatoir yang tidak terkendali (harga-harga meningkat tajam).
Namun demikian, dalam RBG, kesejahteraan PNS saat itu dianggap terlalu rendah.
Bayangkan, pada tahun 1999, gaji PNS Golongan IIIa (sarjana) sekitar Rp. 300.000.
Sementara biaya hidup khususnya di kota-kota besar relatif mahal. Oleh karena itu, dalam
RBG, kesejahteraan dianggap sangat penting dan diasumsikan bahwa meningkatnya
kesejahteraan PNS secara tidak langsung dapat meningkatkan daya beli masyarakat yang
pada gilirannya dapat menggerakkan perekonomian melalui kekuatan konsumsi
masyarakat.
Berbeda dengan kebijakan masa rejim lainnya, melalui RBG, kesejahteraan PNS
dinaikkan secara berlipat. Bayangkan, dari kesejahteraan PNS yang setingkat Rp.
300.000 ditingkatkan secara signifikan menjadi sekitar Rp. 1000.000 (meningkat 3 x
lipat). Dalam sejarah birokrasi di Indonesia dari zaman Suharto sampai saat ini baru dan
mungkin hanya terjadi pada masa RBG ini.
Uniknya, kenaikan tersebut tidak terlepas dari masukan unsur masyarakat yang
sangat dihormatinya yaitu para kiyai yang oleh Gus Dur dijadikan sebagai referensi
utama RBG. Menurut, cerita yang dapat dipercaya, saat itu Gus Dur bertanya atau minta
saran dari kiyai yang dihormatinya tentang apa yang harus dilakukan Gus Dur sebagai
Presiden saat itu untuk memperbaiki keadaan PNS. Jawaban dari Kyiai tersebut adalah
perlunya meningkatkan kesejahteraan PNS. Masukan tersebut dijadikan dasar kebijakan
RBG peingkatan kesejahteraan PNS. Dengan cepatnya pengambilan keputusan tersebut
menunjukkan bahwa tidak perlu penelitian dan simulasi yang relative lama untuk
memenuhi hajat orang banyak atau melalui RBG, making most people better off.
Adapun terkait dengan kekhawatiran masyarakat pada umumnya akan terjadinya
dampak inflatoir yang luar biasa akibat kenaikan tersebut diresolusi dengan cantik dan
mulus melalui seni advokasi kebijakan RBG. Dalam kesejahteraan ala RBG, kenaikan
gaji yang signifikan dikategorikan sebagai kenaikan tunjangan untuk mengimbangi
kemahalan dan meningkatkan daya beli masyarakat. Yang penting, dalam kebijakan ini,
PNS yang kesejahteraannya terbatas dapat terdongkrak tanpa menyebabkan gangguan
ekonomi (economic shock). SEtelah kesejahteraan (take home pay) PNS meningkat
dengan mulus tanpa goncangan maka tahap selanjutnya adalah melembagakan kenaikan
tersebut ke dalam gaji pokok PNS. Yang meningkat pada saat itu, tidak hanya PNS
secara umum tetapi juga para pejabat struktural khususnya pejabat setingkat eselon 1
(setara dirjen) dan 2 (setara direktur) dari yang tadinya tunjangan jabatan structural
sekitar 1,5 juta menjadi sekitar 4 juta.
Katanya dan mungkin hanya Gus Dur yang tahu, agenda RBG selanjutnya
sebenarnya adalah peningkatan kesejahteraan PNS lagi secara umum. Tapi suratan takdir
mengharuskan Gus Dur dilengserkan sebelum waktunya. Jangan-jangan, dana dari
Brunei yang diterima Gis Dur dari Brunei dan diributkan oleh para elit pada masa itu juga
sebenarnya untuk kesejahteraan masyarakat. Seperti celotehnya Gus Dur “terima kasih”
mengandung makna ketika terima sesuatu maka kasihkan kepada yang berhak. Tapi
semuanya jadi terhenti karena penghentian secara politik jabatan Gus Dur sebagai
Presiden. Apakah para elit tersebut dapat berbuat lebih baik, nyatanya sampai sekarang
belum kelihatan gebrakan dan hasilnya.

Langkah Ke Depan
Di awal tahun baru 2010 ini, mari kita buka lembaran baru untuk kebaikan
bersama. Saat ini, kesejahteraan masyarakat secara umum termasuk PNS masih relatif
rendah. Bahkan ada PNS yang untuk menghidupi keluarganya harus berhutang kemana-
mana dan akhirnya gajinya menjadi 0 (nihil). Sebelum tahun 2010 sebenarnya sudah ada
langkah reformasi birokrasi yang dinisiasi dan dilakukan di Departemen Keuangan.
Melalui reformasi ini, kesejahteraan pegawai dan pejabat di lembaga tersebut meningkat
secara tajam sehingga bagi pegawai dan pejabat di instansi tersebut sebenarnya sudah
tidak perlu untuk mencari ”sampingan” untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari
sehingga mereka dapat berkonsentrasi dalam berkinerja memberikan pelayanan terbaik
untuk masyarakat. Langkah reformatif selanjutnya, dilakukan di beberapa lembaga
termasuk BPK dan Sekretariat Negara. Untuk selanjutnya akan dilakukan hal serupa di
beberapa lembaga lainnya termasuk lembaga-lembaga dalam paguyuban Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara. Namun, tampaknya langkah reformasi tersebut masih
dilakukan secara terbatas di beberapa lembaga dengan proses yang tidak semudah ketika
diberlakukan di Departemen Keuangan.
Untuk para PNS di banyak lembaga lainnya tampaknya masih harus bersabar.
Tapi, Presiden SBY sudah memberikan secercah harapan dengan menjadikan reformasi
birokrasi sebagai salah satu agenda prioritas nasional. Untuk kemantapan dalam
realisasinya tampaknya harus belajar dari RBG (Reformasi Birokrasi Gusdurian) antara
lain dalam hal peduli terhadap masukan masyarakat dan nasib PNS secara umum, berani
bertindak untuk kemaslahatan bersama dan dipadukan dengan seni advokasi kebijakan
yang tidak menimbulkan kegoncangan ekonomi. Mampukah? Wallahu A’lam.