Anda di halaman 1dari 23

Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK)

Nilasari Wulandari
102011367
e-mail: nilasariwulandari@ymail.com
Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
1.1 Pendahuluan
Berat badan merupakan salah satu indikator kesehatan bayi baru lahir. Rata-rata berat
bayi normal (usia gestasi 37-42 minggu) adalah 3200 gram. Secara umum, bayi berat lahir
rendah (BBLR) <2500gram dan bayi berat berlebih 3800 gram lebih besar risikonya untuk
mengalami masalah. Selain itu, masalah gestasi juga merupakan indikator kesejahteraan bayi
baru lahir, karena semakin cukup umur kehamilan dan berat badan bayi, semakin baik
kesejahteraan bayi.1
Bayi kurang bulan (BKB) adalah bayi yang dilahirkan dengan masa gestasi kurang dari
37 minggu atau kurang dari 259 hari. Bayi yang baru lahir memiliki tantangan fisiologis ketika
banyak beradaptasi dengan lingkungan ekstrauterin. Neonatus yang hampir aterm (usia
kehamilan

34-36

ketidaksepurnaan

minggu)
dalam

menyebabkan

makan,

masalah

ketidakstabilan

suhu,

prematuritas
dan

yang

penyakit

mencakup

kuning

yang

berkepanjangan.
1.2. Tujuan
Makalah ini ditulis untuk melengkapi tugas PBL serta untuk mengetahui mengenai
neonatus dengan berat badan lahir rendah, sesuai masa kehamilan (BBLR-SMK) disertai
dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang yang harus digunakan, etiologi,
epidomologi, patofisiologi, diagnosis differential, penatalaksanaan, prognosis pada neonatus.
2.1. Anamnesis
Anamnesis pada pasien neonatus dilakukan secara allo anamnesis, yaitu anamnesis
untuk memperoleh data subjektif pasien, di mana informasi yang dicatat mencakup identitas
dan keluhan yang diperoleh dari hasil wawancara dari keluarga, seperti orang tua dan dari

tenaga kesehatan. Anamnesis harus dilakukan secara teliti, teratur, dan lengkap karena sebagian
besar data yang diperlukan diperoleh dari anamnesis untuk menegakkan diagnosis. Untuk bayi
prematur, hal-hal yang perlu ditanyakan dalam anamnesis yaitu:2
1. Identitas Pasien meliputi nama bayi, usia gestasi, jenis kelamin, tanggal lahir
2. Identitas Orang Tua pasien meliputi nama, usia, alamat, pekerjaan
3. Riwayat kelahiran
i. Tempat dan tanggal lahir
ii. Ditolong oleh siapa
iii.
Cara kelahiran
iv. Kehamilan ganda
v. Keadaan segera setelah lahir, pasca lahir, dan hari-hari pertama kehidupan
vi. Berat badan dan panjang badan lahir
4. Riwayat kehamilan ibu
kesehatan ibu saat kehamilan, pernah sakit atau tidak, konsumsi obat-obatan, atau
tetanus toxoid, terkena radiasi, atau infeksi virus pada trimester pertama. Riwayat
penyakit yg pernah diderita oleh ibu hamil yang mungkin ada hubungan dengan
penyakit sekarang pada anak. Contoh penyakit yang perlu ditanyakan adalah hipertensi,
kencing manis, penyakit jantung dan banyak lagi
5. Riwayat keluarga
Perlu diketahui dengan akurat untuk memperoleh gambaran keadaan sosial-ekonomibudaya dan kesehatan keluarga pasien. Pelbagai jenis penyakit bawaan dan keturunan
yang juga mempunyai latar belakang sosial budaya atau kecenderungan familial di
anamnesis pada ibu tersebut.
2.2. Pemeriksaan Fisik pada Neonatus
Pemeriksaan bayi perlu dilakukan dalam keadaan telanjang di bawah lampu yang terang
yang berfungsi juga sebagai pemanas untuk mencegah kehilangan panas. Tangan serta alat
yang digunakan untuk pemeriksaan harus bersih dan hangat. Pemeriksaan fisik pada BBL
dilakukan paling kurang tiga kali, yaitu: 1) pada saat lahir, 2) pemeriksaan yang dilakukan
dalam 24 jam di ruang perawatan, dan 3) pemeriksaan pada waktu pulang.2
Pemeriksaan pertama pada BBL harus dilakukan di kamar bersalin, tujuannya adalah:
(1) menilai gangguan adaptasi BBL dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterin yang
memerlukan resusitasi, (2) untuk menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu
tindakan segera (misalnya atresia ani, atresia esophagus), trauma lahir, (3) menentukan apakah

BBL tersebut dapat dirawat bersama ibu (rawat gabung) atau di tempat perawatan khusus untuk
diawasi, atau di ruang intensif, atau segera dioperasi.2
Bayi tidak boleh dipulangkan sebelum diperiksa kembali pada pemeriksaan terakhir.
Hal ini disebabkan oleh adanya kelainan pada BBL yang belum menghilang saat dipulangkan
(hematoma sefal, ginekomastia, ikterus), atau mungkin pula adanya bising yang hilang timbul
pada masa BBL, atau bayi menderita penyakit yang didapat di rumah sakit seperti aspirasi
pneumonia, infeksi nosokomial, dan lain-lain.
2.2.1. APGAR
Skor Apgar merupakan pemeriksaan awal yang penting untuk bayi segera setelah
kelahirannya meliputi 5 variabel (pernafasan, frek. Jantung, warna, tonus otot & iritabilitas
reflek). Pemeriksaan ini terdiri atas lima komponen untuk menggolongkan pemulihan status
neurologi neonatus dari proses kelahirannya dan kemampuan adaptasinya yang segera
terhadap kehidupan ekstrauteri. Penilian dilakukan pada 1 menit kelahiran yaitu untuk
memberi kesempatan pd bayi untuk memulai perubahan, menit ke-5 dan menit ke-10.3,4
Tabel.1 APGAR Score5

2.2.2. Pemeriksaan Ballard Score


Sistem penilaian ini dikembangkan oleh Dr. Jeanne L Ballard, MD untuk
menentukan usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian neuromuskular dan fisik.
Penilaian neuromuskular meliputi postur, square window, arm recoil, sudut popliteal,
scarf sign dan heel to ear maneuver. Penilaian fisik yang diamati adalah kulit, lanugo,
permukaan plantar, payudara, mata/telinga, dan genitalia.5
2.2.2.1. Penilaian Maturitas Neuromuskular
a. Postur
Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi saat istirahat dan adanya
tahanan saat otot diregangkan (Gambar II.3). Pada bayi prematur tonus pasif
ekstensor tidak mendapat perlawanan, sedangkan pada bayi yang mendekati matur
menunjukkan perlawanan tonus fleksi pasif yang progresif. Untuk mengamati
postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa menunggu sampai bayi menjadi
tenang pada posisi nyamannya. Jika bayi ditemukan terlentang, dapat dilakukan
manipulasi ringan dari ekstremitas dengan memfleksikan jika ekstensi atau
sebaliknya. Hal ini akan memungkinkan bayi menemukan posisi dasar
kenyamanannya. Fleksi panggul tanpa abduksi memberikan gambaran seperti posisi
kaki kodok.5,6

G
ambar II.3. Postur Bayi

b. Square

Window

Fleksibilitas
pergelangan

tangan

dan tahanan terhadap peregangan ekstensor memberikan hasil sudut fleksi pada

pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari- jari bayi dan menekan punggung
tangan dekat dengan jari-jari dengan lembut. Hasil sudut antara telapak tangan dan
lengan bawah bayi dari preterm hingga posterm diperkirakan berturut-turut > 90 ,
90 , 60 , 45 , 30 , d an 0 (Gambar II.4).5,6

c. Arm Recoil

Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps dengan
mengukur sudut mundur singkat setelah sendi siku difleksi dan ekstensikan. Arm
recoil dilakukan dengan cara evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan
bayi, fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan
kedua lengan dan lepaskan.Amati reaksi bayi saat lengan dilepaskan.(GambarII.5).5-7

d. Popliteal Angle
Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut dengan
menguji resistensi ekstremitas bawah terhadap ekstensi. Dengan bayi berbaring
telentang, dan tanpa popok, paha ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut
tertekuk penuh. Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa memegang kaki satu
sisi dengan lembut dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan
tangan yang lain. Jangan memberikan tekanan pada paha belakang, karena hal ini
dapat mengganggu interpretasi. Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti
terhadap ekstensi. Ukur sudut yang terbentuk antara paha dan betis di daerah
popliteal. Perlu diingat bahwa pemeriksa harus menunggu sampai bayi berhenti
menendang secara aktif sebelum melakukan ekstensi kaki. Posisi Frank Breech
pralahir akan mengganggu manuver ini untuk 24 hingga 48 jam pertama usia
karena bayi mengalami kelelahan flekso berkepanjangan intrauterine. Tes harus
diulang setelah pemulihan telah terjadi (Gambar II.6).5-7

Gambar II.6. Popliteal Angle


e. Scarf Sign

Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi berbaring
telentang, pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah tubuh dan mendorong
tangan bayi melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari tangan sisi
lain pemeriksa diletakkan pada siku bayi. Siku mungkin perlu diangkat melewati

badan, namun kedua bahu harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala
tetap lurus dan amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan dengan angka pada
lembar kerja, yakni, penuh pada tingkat leher (-1); garis aksila kontralateral (0);
kontralateral baris puting (1); prosesus xyphoid (2); garis puting ipsilateral (3); garis
aksila ipsilateral (4). (Gambar II.7).5-7

f. Heel to Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul dengan

memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior fleksor pinggul.
Dengan posisi bayi terlentang lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk,
tarik sedekat mungkin dengan kepala tanpa memaksa, pertahankan panggul pada
permukaan meja periksa dan amati jarak antara kaki dan kepala serta tingkat ekstensi
lutut ( bandingkan dengan angka pada lembar kerja). Penguji mencatat lokasi dimana
resistensi signifikan dirasakan. Hasil dicatat sebagai resistensi tumit ketika berada
pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); puting baris (2); daerah pusar (3);
dan lipatan femoralis (4) (Gambar II.8).5,6

5
G
ambar II.8. Heel to Ear

2.2.2.2 Penilaian Maturitas Fisik


a. Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya
bersamaan dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu vernix
caseosa. Oleh karena itu kulit menebal, mengering dan menjadi keriput dan / atau
mengelupas dan dapat timbul ruam selama pematangan janin.
perkembangan lapisan

epidermis

dengan

stratum

corneumnya,

Sebelum

kulit agak

transparan dan lengket ke jari pemeriksa. Pada usia perkembangan selanjutnya kulit
menjadi lebih halus, menebal dan menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang
menghilang menjelang akhir kehamilan. pada keadaan matur dan pos matur, janin.
b. Lanugo
Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Lanugo mulai tumbuh
pada usia gestasi 24 hingga 25 minggu dan biasanya sangat banyak, terutama di bahu
dan punggung atas ketika memasuki minggu ke 28.Lanugo mulai menipis dimulai
dari punggung bagian bawah. Pada punggung bayi matur biasanya sudah tidak
ditutupi lanugo. Pada melakukan skoring pemeriksa hendaknya menilai pada daerah
yang mewakili jumlah relatif lanugo bayi yakni pada daerah atas dan bawah
dari punggung bayi 5,6
c. Permukaan Plantar
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior. Bayi dari ras

selain kulit putih mempunyai sedikit garis telapak kaki. Di sisi lain pada bayi kulit
hitam dilaporkan terdapat percepatan maturitas neuromuskular sehingga timbulnya
garis pada telapak kaki tidak mengalami penurunan. Namun demikian penialaian
dengan menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis tertentu.
Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi tersebut berdasarkan permukaan
plantar maka dipakai ukuran panjang dari ujung jari hingga tumit. Untuk jarak
kurang dari 40 mm diberikan skor -2, untuk jarak antara 40 hingga 50 mm diberikan
skor -1. Hasil pemeriksaan disesuaikan dengan skor di tabel.
d. Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat stimulasi
esterogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi yang diterima janin.
Pemeriksa menilai ukuran areola dan menilai ada atau tidaknya bintik-bintik akibat
pertumbuhan papila Montgomery. Kemudian dilakukan palpasi jaringan mammae di
bawah areola dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam
millimeter.
e. Mata/Telinga
Daun

telinga

pada

fetus

mengalami

penambahan

kartilago

seiring

perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas palpasi


ketebalan kartilago kemudian pemeriksa melipat daun telinga ke arah wajah
kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan kembalinya daun telinga
ketika dilepaskan ke posisi semulanya. Pada bayi prematur daun telinga biasanya
akan tetap terlipat ketika dilepaskan.5,6
Pemeriksaan

mata

perkembangan palpebra.

pada

intinya

menilai

kematangan

Pemeriksa berusaha membuka dan

berdasarkan
memisahkan

palpebra superior dan inferior dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Pada
bayi extremely premature palpebara akan menempel erat satu sama lain (Gambar
II.13). Dengan bertambahnya maturitas palpebra kemudian bisa dipisahkan
walaupun hanya satu sisi dan meningggalkan sisi lainnya tetap pada posisinya.
f. Genital (Pria)
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang

lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni
pada sekitar minggu ke 32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis
inguinalis bagian atas atau bawah pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan.
Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi lebih tebal dan membentuk rugae .5,6
g. Genital (wanita)
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus
o

diposisikan telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45 dari garis horisontal.
Abduksi yang berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih
menonjol sedangkan aduksi menyebabkan keduanya tertutupi oleh labia major.
Tabel. 2 . Interpretasi Ballard Score

2.2.3. Mecari kelaian congenital


a. Mulut
Perhatikan apakah terdapat labio-gnato-palatoskisis, harus perhatikan juga
apakah terdapat hipersalivasi yang mungkin disebabkan oleh adanya atresia
esophagus (khusunya pada bayi yang kecil untuk masa kehamilan, arteri umbilikalis
hanya satu, polihidramnion, atau hipersalivasi).
Perhatikan juga hipoplasia otot depressor anguli oris, pada keadaan ini terlihat
asimetris wajah apabila bayi menangis, sudut mulut dan mandibula akan tertarik ke
bawah dan garis nasolabialis akan kurang tampak pada daerah yang sehat. Pada 20%
keadaan seperti ini dapat ditemukan kelainan congenital berupa kelainan
kardiovaskular dan dislokasi panggul kongenital.
b. Hidung
Posisi dan bentuk. Posisi menyimpang dari garis tengah atau tulang hidung yang
mendatar atau bengkok dapat mengindikasikan sindrom kongenital.
c. Kelainan pada garis tengah berupa spina bifida, meningomielokel, sinus pilonidalis,
ambigus genitalia, eksomfalos, dan lain-lain.
d. Anus
Perhatikan adanya anus imperforatus dengan memasukkan thermometer ke dalam
anus.
e. Pemeriksaan genitalia
Berfungsi untuk mengetahui keadaan labium minor yang tertutup oleh labia
mayor, lubang uretra dan lubang vagina seharusnya terpisah, namun apabila
ditemukan satu lubang maka didapatkan terjadinya kelainan dan apabila ada sekret
pada lubang vagina, hal tersebut karena pengaruh hormon.
2.2.4. Pemeriksaan di ruang rawat
Pemeriksaan harus dilakukan dalam waktu 24 jam, untuk mendeteksi kelainan
yang mungkin terabaikan pada pemeriksaan di kamar bersalin. Pemeriksaan ini meliputi:7

a. Pemeriksaan Berat Badan, Panjang badan, lingkar kepala


b. Aktivitas fisik
keaktifan BBL dinilai dengan melihat posisi dan gerakan tungkai dan lengan. Pada
BBL cukup bulan yang sehat, ekstremitas berada dalam keadaan fleksi, dengan
gerakan tungkai serta lengan aktif dan simetris. Bila ada asimetris pikirkan
terdapatnya kelumpuhan atau patah tulang.
c. Tangisan bayi
Tangisan bayi dapat memberi keterangan tentang keadaan bayi. Tangisan
melengking ditemukan pada bayi dengan kelainan neurologis, sedangkan tangisan
yang lemah atau merintih terdapat pada bayi dengan kesulitan pernapasan.
d. Wajah BBL
kelainan yang khas, misalnya sindrom Down, sindrom Pierre-Robin, sindrom de
Lange, dan sebagainya.
e. Keadaan gizi,
dinilai dari berat dan tinggi badan, disesuaikan dengan masa kehamilan, tebal
lapisan subkutis serta kerutan pada kulit.
f. Pemeriksaan suhu
Pada BBL diukur pada aksila. Suhu normal BBL adalah antara 36,5-37,5 oC. Suhu
meninggi dapat ditemukan pada dehidrasi, gangguan serebral, infeksi, atau
kenaikan suhu lingkungan. Apabila ekstremitas dingin dan tubuh panas
kemungkinan besar disebabkan oleh sepsis, perlu diingat bahwa infeksi/sepsi pada
BBL dapat saja tidak disertai dengan kenaikan suhu tubuh, bahkan sering terjadi
hipotermi.
g. Paru
Penilaian keadaan paru dengan observasi tidak kalah penting dari auskultasi dan
palpasi. Selain melihat warna kulit bayi, amati frekuensi napas dan tanda lain
distres pernapasan seperti retraksi dan merintih. Frekuensi napas yang normal pada
BBL adalah 40-60 kali per menit. Semua BBL bernapas dengan diafragma,
sehingga pada waktu inspirasi bagian dada tertarik ke dalam dan pada saar yang
sama perut bayi membuncit.
h. Kardiovaskular
Denyut nadi bervariasi dari 90 kali/menit saat bayi tidur sampai 180 kali/menit
selama aktivitas. Denyut jantung bayi premature yang tenang berkisar antara 140150 kali/menit. Nadi di kaki dan tangan harus diperiksa pada waktu lahir dan saat

dipulangkan. Sekitar 60% dari BBL normal memiliki bising sistolik pada usia 2
jam, tetapi persentase ini berkurang sampai 1% pada pemeriksaan rutin bayi.
Selain itu perlu diperhatikan juga pada BBL apakah mengalami ikterus atau tidak,
karena hampir selalu BBL mengalami ikterus. Pemeriksaan derajat kuning (ikterus) pada
BBL secara klinis, sederhana, dan mudah adalah dengan penilaian menurut Kramer.
Caranya dengan jari telunjuk ditekankan pada tempat-tempat yang tulangnya menonjol
seperti tulang hidung, dada, lutut, dan lain-lain. Tempat yang ditekan akan tampak pucat
atau kuning. Penilaian kadar bilirubin pada masing-masing tempat tersebut disesuaikan
dengan tabel yang telah diperkirakan kadar bilirubinnya.
Tabel 3. Derajat Ikterus pada Neonatus Menurut Kramer
Zona

Bagian tubuh yang kuning

Rata-rata serum
bilirubin indirek

1
2
3
4
5

Kepala dan leher


Pusat-leher
Pusat-paha
Lengan + tungkai
Tangan + kaki

(mol/L)
100
150
200
250
> 250

2.3. Pemeriksaan Penunjang


2.3.1.Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menyingkirkan differential
diagnosis yang ada antara lain:3,8
a. Bilirubin indirect dan direct
b. Darah lengkap, terutama leukosit,untuk mengetahui apakah anak terkena infeksi atau
tidak.
c. Coombs test
Coombs test langsung yang dilakukan pada eritrosit neonates biasanya memberikan
hasil positif tetapi hasil coombs yang negative tidak menyingkirkan adanya penyakit
hemolitik isoimun, dan adanya sferosit pada pulasan darah, yang kadang-kadang
memberi kesan adanya sferositosis herediter (jika didapatkan inkompabilitas ABO).
d. Cek rhesus, misalnya ibu dengan Rh-negatif dengan suami yang Rh-positif, sebaiknya
dilakukan pemantauan berkala antibodi yang terbentuk dalam darah ibu.

2.4 Klasifikasi
2.4.1.Berdasarkan Berat Badan :8
-

Low Birth Weight (LBW) dimana berat badannya 1500 - <2500 g


Very Low Birth Weight (VLBW) dimana berat badaan bayi baru lahir 1000g - <1500g

Extremely Low Birth Weight (ELBW) dimana berat badan bayi baru lahir <1000g

2.4.2. Berdasarkan umur kehamilan :8


-

Bayi prematur murni


Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan
untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa

kehamilan (NKB-SMK)
Dismaturitas Kecil dibanding masa kehamilan (KMK)
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi
itu. Terbagi atas :
i.
Bayi kurang bulan ialah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu
ii.
Bayi cukup bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai 42
minggu.
iii.

Bayi lebih bulan ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih.

2.5. Diagnosis Kerja


Dari hasil pemeriksaan dan penilianpada grafik Lubchenco pada bayi lahir dengan usia
gestasi 34 minggu dan berat badan lahir 2000gram maka dapat diagnosis Neonatus Kurang bulan
sesuai masa kehamilan. Namun , berat badan <2500 gram tergolong Berat Badan Lahir Rendah
dan pada pengamatan awal segera setelah lahir APGAR Score, bayi menangis kuat (nilai 2), aktif
(nilai 2), denyut jantung 140 kali/menit (nilai 2), refleks bersin positif (nilai 2), dengan
ekstremitas sedikit biru (nilai 1), maka jumlah nilai APGAR adalah 9, berarti nilainya baik.
Namun setelah 48 jam bayi tampak kuning dari kepala hingga dada, dari hasil pemeriksaan ini
dapat disimpulkan sementara bayi tersebut Neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan
(NKB-SMK) dengan BBLR dan ikterus fisiologis.

Grafik 1. Lubchenco
2.6. Manifestasi klinis
2.6.1 Tanda-tanda bayi kurang bulan , antara lain:9

Berat badan < 2500 gram


Panjang badan < atau sama dengan 45 cm
Lingkaran kepala < 30 cm
Masa gestasi < 37 minggu
Kepala relative lebih besar dari badan, kulit tipis, tranparens, lanugo banyak
Ubun-ubun dan sutura lebar.
Genitalia immature
Tulang rawan dan daun telinga belum cukup, elastisitas rendah.
Pergerakan kurang, lemah
Bayi lebih banyak tidur
Tangis lemah, nafas belum teratur
Kulit mengkilat dan licin

2.6.2.Ikterus fisiologis neonatus

Warna kuning biasanya akibat di dalam kulit terjadi akumulasi pigmen bilirubin
yang larut lemak, tidak terkonjugasi, non polar (bereaksi indirek) yang dibentuk dari
hemoglobin oleh kerja heme oksigenase, biliverdin reduktase, dan agen pereduksi
nonenzimatik dalam sel retikuloendotelial.10
Pada masa transisi setelah lahir, hepar belum berfungsi secara optimal, sehingga
proses glukoronidasi bilirubin tidak terjadi secara maksimal. Keadaan ini akan
menyebabkan dominasi bilirubin tak terkonjugasi di dalam darah. Pada kebanyakan bayi
baru lahir, hiperbilirubinemia tak terkonjugasi merupakan fenomenal transisional yang
normal. Ikterus secara klinis akan mulai tampak pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin
darah 5-7 mg/dL. Dalam keadaan normal, kadar bilirubin indirek dalam serum tali pusat
adalah sebesar 1-3 mg/dl dan akan meningkat dengan kecepatan kurang dari 5 mg/dl/24
jam; dengan demikian ikterus baru terlihat pada hari ke 2-3, biasanya mencapai
puncaknya antara hari ke 2-4, dengan kadar 5-6 mg/dl untuk selanjutnya menurun sampai
kadarnya lebih rendah dari 2 mg/dl pada hari ke 5-7 kehidupan. Ikterus akibat perubahan
ini dinamakan ikterus fisiologis dan diduga sebagai akibat konsentrasi hemoglobin
yang tinggi saat lahir dan menurun dengan cepat selama beberapa hari pertama
kehidupan, umur sel darah merah pada bayi baru lahir lebih pendek dibandingkan sel
darah merah orang dewasa, imaturitas enzim- enzim hati mengganggu konjugasi dan
ekskresi bilirubin.1,10
2.7. Etiologi
Penyebab terjadinya kelahiran prematur biasanya tidak diketahui. Faktor resiko yang
mungkin berperan dalam terjadinya persalinan prematur adalah:
Kehamilan usia muda (usia ibu kurang dari 18 tahun)
Berat Badan Ibu rendah
Pendarahan antepartum
Penyakit sistemik akut
Kelahiran prematur di induksi
Riwayat persaliann prematur sebelumnya
Status nutrisi yang kurang
Hipertensi, preeklamsia, anemia
Merokok, obat-obatan
Diabetes mellitus
Penyakit jantung.
2.8. Epidemiologi

Angka Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) masih cukup tinggi, terutama di negara dengan
sosio-ekonomi rendah. Data statistik menunjukkan sekitar 90 kasus BBLR terjadi di negara
berkembang. Di negara berkembang, angka kematian BBLR 35 kali lebih tinggi dibandingkan
bayi dengan berat badan lahir diatas 2500 gram. Prematuritas merupakan penyebab utama
kematian bayi baru lahir (bayi dalam 4 minggu pertama kehidupan).
Di negara maju, angka kejadian kelahiran bayi prematur adalah sekitar 6-7%. Di negara
yang sedang berkembang, angka kelahiran ini lebih kurang 3 kali lipat. Di Indonesia, kejadian
bayi prematur belum dapat dikemukakan, tetapi angka kejadian BBLR di Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo pada tahun 1986 adalah 24%. Angka kematian perinatal di rumah sakit yang
sama adalah 70% dan 73% dari seluruh kematian disebabkan oleh BBLR.
2.9. Tatalaksana
2.9.1. Medika mentosa
Stabilisasi di ruang bersalin dengan pernapasan yang cepat dan manajemen termal
sangat penting untuk hasil segera dan jangka panjang bayi prematur, bayi khususnya yang
sangat prematur. American Academy of Pediatrics telah menetapkan pedoman untuk
tingkat perawatan neonatal. Prinsip manajemen pernapasan adalah sebagai berikut:9
Pertahankan volume paru-paru yang memadai atau volume paru-paru yang
optimal. Pada bayi dengan gangguan pernapasan, voleume paru dapat
dipertahankan dengan permberian dini continuous positive airway pressure
(CPAP) yang diberikan melalui hidung, dengan masker (Neopuff), atau dengan

menggunakan tabung endotrakeal bila ventilasi dan / atau surfaktan diberikan.


Hindari hyperoxia dan hipoksia dengan segera melampirkan oxymeter pulse dan
menjaga saturasi oksigen (SaO2) antara 86% sampai 93% dengan menggunakan

blender oksigen.
Mencegah barotrauma atau volutrauma dengan menggunakan ventilator yang
memungkinkan pengukuran volume tidal berakhir dan dengan menjaganya agar

tetap 4-7 ml / kg.


Pemeliharaan lingkungan termal dengan mempertahankan suhu normal dengan
konsumsi oksigen yang minimal untuk metabolisme.Neonatus kehilangan panas
dengan 4 cara, sebagai berikut:
Evaporasi (penguapan) adalah energi yang dikonsumsi oleh cairan karena
mengkonversi dari cairan ke gas. Hal ini terutama di ruang bersalin.
Pengeringan bayi merupakan prioritas utama dalam pencegahan

hipotermia akibat evaporasi. Langkah ini dapat diabaikan jika langkah-

langkah resusitasi lainnya sedang berlangsung.


Konduksi adalah transfer langsung panas dari tubuh ke permukaan padat

yang menyentuh tubuh (misalnya, menempatkan bayi pada tempat dingin).


Konveksi adalah hilangnya panas akibat perbedaan suhu kulit dan udara.
Radiasiadalah hilangnya panas melalui gelombang elektromagnetik dari

kulit ke permukaan sekitar.


Perawatan kulit
premature mempunyai kulit yang immature, kurangnya stratum korneum,
kurangnya perlekatan antara lapisan kulit peningkatan fiksasi air dan oedema. Ini
dapat menyebabkan mudahnya terjadi kerusakan pada kulit, peningkatan absorpsi
material (obatan) melalui kulit serta peningkatan infeksi melalui jalan kulit.
National Association of Neonatal Perawat (Nann) dan Asosiasi Kesehatan
Wanita, Kebidanan dan Perawat Bayi (AWHONN) berdasarkan pada penelitian
klinis dan laboratorium, menyarankan:
Mandi: Gunakan air sabun saja dan tidak untuk bayi yang beratnya kurang
dari 1000 g.

Kurangi frekuensi menggunakan pembersih. Hanya

menggunakan netral-pH pembersih.


Bahan perekat: Minimalkan penggunaannya. Gunakan perekat pita sutra
dibandingkan perekat dengan sifat perekat yang kuat (Elastoplast). Gunakan

elektroda hidrogel. Hindari pelarut atau agen ikatan.


Kehilangan air transepidermal: Tempatkan bayi yang lahir pada usia

kehamilan 30 minggu pada lingkungan dengan kelembaban tinggi (> 70%).


Solusio topikal: Tinjau setiap bahan solusio topikal yang ditempatkan pada
kulit bayi prematur.

2.9.2. Non-medika mentosa


2.9.1. gizi premature
Bayi prematur yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 34 minggu
memiliki koordinasi yang buruk dari mengisap dan refleks menelan dan
penurunan motilitas usus. Gizi dalam beberapa hari pertama setelah melahirkan
sering diberikan secara intravena. Bahkan bayi prematur relatif sehat mungkin
tidak mencapai nutrisi enteral penuh sampai seminggu atau lebih setelah lahir.
a. Bayi diletakkan pada sisi kanan untuk membantu mengosongkan lambung
atau dala posisi setengah duduk di pangkuan perawat atau dengan
meninggikan kepala dan bahu

b. Sebelum susu diberikan, untuk mencegah perut kembung, bayi diberi minum
sedikit-sedikit dengan perlahan-lahan dan hati-hati
c.

Sesudah minum bayi didudukkan atau diletakkan diatas pundak selama 10-15
menit untuk mengeluarkan udara di lambung dan kemudian di tidurkan pada
sisi kanan atau tidur dalam posisi tengkurap

d.

Bila bayi biru atau mengalami kesukaran bernafas pada waktu minum, kepala
bayi harus segera di rendahkan 30, cairan di mulut dan di faring di hisap.

e. Jika tersedia, kolostrum adalah makanan awal yang lebih disukai. Kolostrum
mengandung protein yang dapat dicerna, antibodi (imunoglobulin sekretorik A
[IgA]), faktor pertumbuhan, dan komponen lain yang meningkatkan
pertumbuhan vili usus dan mempengaruhi kolonisasi usus.9

2.9.1.Perawatan metode kanguru


Suatu cara agar BBLR terpenuhi kebutuhan khusus mereka terutama
dalam mempertahankan kehangatan suhu tubuh. Perawatan metode Kanguru
memiliki 4 komponen:

Posisi
Kontak kulit dengan kulit antara bagian depan tubuh bayi dengan dada dan
perut ibu, bayi diletakan di antara ke dua payudara ibu secara tegak lurus,
kepala bayi sedikit tengadah menoleh kekanan/kiri dan posisi ini
dipertahankan dengan sehelai kain yang mengelilingi tubuh ibu dan diikat. Ibu
merupakan sumber panas bagi bayi. Kontak kulit dengan kulit seluasluasnya
dimulai segera setelah lahir dan berlanjut siang dan malam. Bayi hanya
memakai topi untuk menjaga kepala tetap hangat dan bayi menggunakan
popok yang dilapisi plastik atau pembalut wanita sehingga bayi mendapatkan
sumber panas secara terus menerus melalui konduksi dan radiasi. PMK boleh
dilakukan secara bergantian dengan anggota keluarga lainnya seperti ayah,

tante atau nenek.


Nutrisi

Pelaksanan PMK akan mempromosikan pemberian ASI eksklusif, karena


ibu menjadi lebih cepat tanggap bila bayi ingin menyusui, sehingga pemberian
ASI akan lebih sering dan lama. ASI eksklusif adalah pemberian minum
hanya ASI sampai bayi berumur 6 bulan. Bayi menetek segera setelah lahir
dan sesuai kebutuhan 25 (sebaiknya setiap 2 jam). Kain penggendong bayi
yang mengeliling ibu dan bayi dilonggarkan pada saat meneteki, berikan

informasi untuk membantu ibu bagaimana meneteki bayi.


Memberikan dukungan terhadap ibu dan bayi
Walaupun kebutuhan ibu atau bayi terpenuhi dengan tidak memisahkan
mereka. Ibu membutuhkan banyak dukungan dari suami dan keluarga yang
lain untuk menjaga kontak yang terus-menerus ini. Di fasilitas kesehatan
petugas akan membantu. Di rumah keluarga akan membantu.

Pemulangan dan Monitoring


Bayi dapat dipulangkan lebih cepat (berat < 2000 gram) dari rumah sakit
yang merawatnya dengan catatan ada fasilitas kesehatan yang dapat
memantau tumbuh-kembang dan dapat merujuk ke fasilitas yang lebih
lengkap bila bayi menunjukkan tanda bahaya.

2.10. Prognosis
Setelah usia gestasi 30 minggu, sebagian besar bayi preamtur di negara maju dapat
bertahan hidup tanpa gangguan neorologik.

Daftar Pustaka

1. Sylviati M D. Klasifikasi bayi menurut berat lahir dan masa gestasi. Dalam: Kosim MS,
Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku ajar neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI, 2010.h.11-25.

2. Suradi R. Pemeriksaan fisis pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R,
Sarosa GI, Usman A. Buku ajar neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2010.h.71-86.
3. Kosim MS, Yunanto A, Dewi R,dkk. Buku ajar neonatologi. Jakarta : Badan
Penerbit IDAI 2010.h.11-185.

4. Bahan Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 3. Jakarta:Infomedika. 2007 ; h.1044-64


5. Lissauer T, fanaroff A. At a glance neonatology. Jakarta: Erlangga Medical Series; 2009.h.
46-137.
6. David H. Dasar-dasar pediatri. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2008.h.44-73.
7. Kliegman RM. Janin dan bayi neonatus. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM.
Nelson: ilmu kesehatan anak volume 1. Edisi ke-15.Jakarta: EGC, 2000.h.535-41, 561
8. Scwartz MW. Pedoman klinis pediatri. Jakarta: EGC; 2005.h.382-3.
9. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI.
Manajemen bayi berat lahir rendah (BBLR) untuk bidan desa : buku acuan. Jakarta:
Kementrian kesehatan RI; 2009. h. 1-25.
10. Susi N, Syamsi R M, Sikumbang T M N, Hartanto H, Vera, Bani A. Buku ajar pediatri
Rudolph. Edisi 20, Vol 2. Jakarta: EGC; 2007.h.1249-50, 1313-37, 1320-1.
11.