Anda di halaman 1dari 36

Amirr Sjariifuddin

n
Dari Wikkipedia Indo
onesia, ensikklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Amir Sja
arifuddin

Amir Sjjarifuddin (Medan, Sumatera


S U
Utara, 27 April 1907 - Solo, Jawaa Tengah, 19
Desemb ber 1948) adalah
a seoorang tokoh
h Indonesiaa, mantan menteri
m dan perdana
menteri pada awal berdirinyaa negara In
ndonesia. Ayahnya,
A D
Djamin gela
ar Baginda
Soripada (1885-19 949), seora
ang jaksa di
d Medan. Ibunya, Basunu Sireg gar (1890-
1931), dari
d keluarg ga Batak yang telah membaur
m d
dengan maasyarakat Melayu-Isla
M am
di Deli. Ayahnya
A keturunan
k k
keluarga ke
epala adat dari Pasarr Matanggo or di Padan
ng
Lawas Tapanuli.
T

Dafftar isi
[semb
bunyikan]

1 Pendidikkan

2 Perjuang
gan

3 Jabatan

4 Peristiwa
a Madiun

5 Pranala luar

[sunting
g] Pendiidikan
Amir meenikmati pe
endidikan di
d ELS atauu sekolah dasar
d Belanda di Meddan pada
tahun 19
914 hinggaa selesai Agustus
A 192
21. Atas un
ndangan sa audara sep
pupunya,
T.S.G. Mulia
M yang baru saja diangkat sebagai
s ang
ggota Volkksraad dan belajar di kota
Leiden sejak 1911, Amir pun berangkat ke Leiden. Tak lama setelah kedatangannya
dalam kurun waktu 1926-1927 dia menjadi anggota pengurus perhimpunan siswa
Gymnasium di Haarlem, selama masa itu pula Amir aktif terlibat dalam diskusi-
diskusi kelompok kristen misalnya dalam CSV-op Java yang menjadi cikal bakal
GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia). Ia tinggal di rumah guru pemeluk
Kristen Calvinis, Dirk Smink, dan di sini juga Mulia menumpang.
Namun pada September 1927, sesudah lulus ujian tingkat kedua, Amir kembali ke
kampung halaman karena masalah keluarga, walaupun teman-teman dekatnya
mendesak agar menyelesaikan pendidikannya di Leiden. Kemudian Amir masuk
Sekolah Hukum di Batavia, menumpang di rumah Mulia (sepupunya) yang telah
menjabat sebagai direktur sekolah pendidikan guru di Jatinegara. Kemudian Amir
pindah ke asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106, ia ditampung oleh
senior satu sekolahnya, Mr. Muhammad Yamin.

[sunting] Perjuangan
Menjelang invasi Jepang ke Hindia Belanda, Amir berusaha—menyetujui dan
menjalankan garis Komunis Internasional agar kaum kiri menggalang aliansi dengan
kekuatan kapitalis untuk menghancurkan Fasisme. Barangkali ini mempunyai
hubungan dengan pekerjaan politik Musso dengan kedatangannya ke Hindia
Belanda dalam tahun 1936.
Ia kemudian dihubungi oleh anggota-anggota kabinet Gubernur Jenderal,
menggalang semua kekuatan anti-fasis untuk bekerja bersama dinas rahasia
Belanda dalam menghadapi serbuan Jepang. Rencana itu tidak banyak mendapat
sambutan. Rekan-rekannya sesama aktivis masih belum pulih kepercayaan
terhadapnya akibat polemik di awal tahun 1940-an, serta tidak paham akan
strateginya melawan Jepang. Mereka ingin menempuh taktik lain yaitu,
berkolaborasi dengan Jepang dengan harapan Jepang akan memberi kemerdekaan
kepada Hindia Belanda setelah kolonialis Belanda dikalahkan. Dalam hal ini garis
Amir yang terbukti benar.
Pada bulan Januari 1943 ia tertangkap oleh fasis Jepang, di tengah gelombang-
gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini dapat ditafsirkan
sebagai terbongkarnya jaringan suatu organisasi anti fasisme Jepang yang sedikit
banyak mempunyai hubungan dengan Amir. Terutama dari sisa-sisa kelompok
inilah Amir, kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para
pembantunya yang terdekat. Namun demikian identifikasi penting kejadian
Surabaya itu, dari sedikit yang kita ketahui melalui sidang-sidang pengadilan
mereka tahun 1944, hukuman terberat dijatuhkan pada bekas para pemimpin
Gerindo dan Partindo Surabaya.
Sebuah dokumen NEFIS (Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service),
instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, tertanggal 9 Juni 1947 menulis tentang
Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak
mengenal kata takut". Belanda mungkin tahu bahwa penghargaan berbau mitos
terhadapnya di kalangan Pesindo berasal dari cerita para tahanan sesamanya.
Bagaimana ia menghadapi siksaan fisik dan moral yang dijatuhkan Jepang.
Diceritakan, misalnya, bagaimana ia tertawa ketika para penyiksa menggantungnya
dengan kaki di atas.
Dalam Persetujuan Renville tanggungjawab yang berat ini terletak dipundak kaum
Komunis, khususnya Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia.
Kabinet Amir Sjarifuddin mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan
samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi
dan Nasionalis.

[sunting] Jabatan
Menteri pada Kabinet Presidensial, Kabinet Sjahrir I,
Kabinet Sjahrir II, Kabinet Sjahrir III
Perdana Menteri: 3 Juli 1947 – 29 Januari 1948,
membentuk Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet
Amir Sjarifuddin II
[sunting] Peristiwa Madiun
Setelah Peristiwa Madiun 1948, pemerintahan Hatta menuduh PKI berupaya
membentuk negara komunis di Madiun dan menyatakan perang terhadap mereka.
Amir Sjarifuddin, sebagai salah seorang tokoh PKI, yang pada saat peristiwa
Madiun meletus sedang berada di Yogyakarta dalam rangka kongres Serikat Buruh
Kereta Api (SBKA) turut ditangkap beserta beberapa kawannya.
19 Desember 1948, sekitar tengah malam, di dekat desa Ngalihan, kepala Amir
Sjarifuddin ditembak dengan pistol oleh seorang letnan Polisi Militer, sebuah satuan
khusus dalam Angkatan Bersenjata Indonesia. Sebelum itu beberapa orang
penduduk desa setempat diperintahkan menggali sebuah lubang kubur besar. Dari
rombongan sebelas orang yang diangkut dengan truk dari penjara di Solo, Amir
orang pertama yang dieksekusi malam itu. Beberapa hari sebelumnya, ia dan
beberapa orang lainnya, secara diam-diam telah dipindahkan ke rumah penjara ini
dari tempat penahanan mereka di Benteng Yogyakarta

[sunting] Pranala luar


Sekilas tentang Amir Sjarifuddin
Amir Sjarifuddin Antara Negara dan Revolusi

Didahului oleh: Perdana Menteri Indonesia Digantikan oleh:


Sutan Sjahrir 1947–1948 Mohammad Hatta

Pengembaraan Intelektual Amir, Medan Keteguhan dan Kecerdasan Politik


MASA hidup Amir Sjarifuddin terentang sepanjang paruh pertama abad ke-20. Usia itu habis
diserap oleh penemuan, keyakinan, dan kegagalan akan harapan-harapan besar dari jamannya. Itu
terungkap dalam kata-kata "kemerdekaan nasional", "kedaulatan rakyat", dan "sosialisme".
Seperti juga di negeri-negeri bergolak lain pada massa itu, di Indonesia pun semua itu
dipadatkan dalam sepatah kata saja: "revolusi".
Amir, sebagaimana pemuda seangkatan lainnya, disadarkan tentang arti kata "revolusi" dan
janji-janjinya. Pertama melalui apa yang dipelajari dari guru Belanda mereka tentang Revolusi Prancis,
ketika masih belajar di sekolah menengah dan sekolah tinggi hukum. Memang, ia lebih banyak berkiblat
kepada Revolusi Prancis, dan bukan revolusi-revolusi Amerika atau Rusia.
Bagi Amir "Prinsip Harapan" (meminjam kata-kata Ernst Bloch) untuk Indonesia pertama-tama
memperoleh bentuknya pada manifestasi tiga slogan: "satu nusa, satu bangsa, satu bahasa". Rangkaian
konsep ini didasarkan pada gagasan akademis Belanda tentang Taal-, Land- en Volkerakunde sebagai
keseluruhan, dan diambil oleh para mahasiswa yang menamakan diri bangsa Indonesia di tahun 1928—
yang menurutnya seperti Yacobin, sebuah kelompok yang berperan dalam revolusi Prancis. Tetapi
"Prinsip Harapan" itu juga berfungsi lain. Sebagai sarana memasuki Indonesia yang baru dirumuskan,
yang sepertinya sudah ada, bisa dimengerti dan diterima oleh semua. Prinsip ini juga membentuk suatu
labirin yang kabur dan goyah walaupun telah diberi contoh-contoh untuk meneranginya.
Sepanjang 1928-1948, Amir telah mengabdi pada kebenaran-kebenaran politik yang diyakininya.
Dan untuk itu ia pun harus menempuh masa perjuangan yang penuh pergulatan, kekerasan,
pengkhianatan, persatuan, serta keberpihakan. Namun dalam percaturan masa ini Amir merupakan
salah satu pilar penyangga dengan pemikiran-pemikirannya yang cerdas dan lugas, serta berani dalam
bertindak mengisi ruang kepemimpinan yang kosong—karena kegagalan gerakan radikal sebelumnya.
Moderasi melanda hampir seluruh oposisi, sehingga dirinya mampu menerobos sebagai bagian dari
empat serangkai Indonesia setelah Revolusi Nasional ‘45 dikobarkan yaitu Soekarno, Hatta, Syahrir, dan
terakhir dia sendiri.
Amir Sjarifuddin lahir 27 April 1907 di Medan. Ayahnya Djamin gelar Baginda Soripada (1885-
1949), seorang jaksa di Medan. Ibunya Basunu Siregar (1890-1931) dari keluarga Batak yang telah
membaur dengan masyarakat Melayu-Islam di Deli. Ayahnya keturunan keluarga kepala adat dari Pasar
Matanggor di Padang Lawas Tapanuli. Berkat koneksi, Soripada dapat diangkat menjadi asisten
hoofddjaksa di Medan. Namun karena memukul seorang tahanan dipenjara Sibolga, ia dipecat dari
jabatannya pada bulan April 1925 dan akhirnya dijatuhi hukuman penjara tiga setengah tahun, ditambah
lima tahun tidak boleh bekerja sebagai pegawai negeri. Hukuman itu kemudian diperingan, dan terakhir
dia menjadi seorang jurutulis pemerintah daerah di Tarutung.
Sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, yang meninggal secara tragis dengan
menggantung diri di dapur rumahnya dengan alasan yang tidak diketahui. Amir sendiri adalah pribadi
berbeda dari Sukarno, Hatta, dan Sjahrir. Amir tidak banyak menulis. Hanya beberapa karangan pendek
pernah ditulisnya di sana-sini, tidak meninggalkan autobiografi, kumpulan pidato atau pun catatan-
catatan.
Amir menikmati pendidikan di ELS atau sekolah dasar Belanda di Medan pada tahun 1914
hingga selesai Agustus 1921. Atas undangan saudara sepupunya, Mulia yang baru saja diangkat sebagai
anggota Volksraad dan belajar di kota Leiden sejak 1911, Amir datang di Leiden. Tak lama setelah
kedatangannya dalam kurun waktu 1926-1927 dia menjadi anggota pengurus perhimpunan siswa
Gymnasium di Haarlem. Ia tinggal di rumah guru pemeluk Kristen Calvijn, Dirk Smink, dan di sini juga
Mulia menumpang. Namun pada September 1927, sesudah lulus ujian tingkat kedua, Amir kembali ke
kampung halaman karena masalah keluarga, walaupun teman-teman dekatnya mendesak agar
menyelesaikan pendidikannya di Leiden. Kemudian Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia,
menumpang di rumah Mulia (sepupunya) yang telah menjabat sebagai direktur sekolah pendidikan
guru di Jatinegara. Kemudian Amir pindah ke asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106, ia
ditampung oleh senior satu sekolahnya, Mr. Muhammad Yamin.

Militan Anti Fasis Ditengah Ditengah Sorak Sorai Efuria Kebangkitan Asia

Menjelang invasi Jepang ke Hindia Belanda, Amir berusaha—menyetujui dan menjalankan garis
Komunis Internasional agar kaum kiri menggalang aliansi dengan kekuatan kapitalis untuk
menghancurkan Fasisme. Barangkali ini mempunyai hubungan dengan pekerjaan politik Musso dengan
kedatangannya ke Hindia Belanda dalam tahun 1936. Ia kemudian dihubungi oleh anggota-anggota
kabinet Gubernur Jenderal, menggalang semua kekuatan anti-fasis untuk bekerja bersama dinas rahasia
Belanda dalam menghadapi serbuan Jepang. Rencana itu tidak banyak mendapat sambutan. Rekan-
rekannya sesama aktivis masih belum pulih kepercayaan terhadapnya akibat polemik di awal tahun 40-
an, serta tidak paham akan strateginya melawan Jepang. Mereka ingin menempuh taktik lain yaitu,
berkolaborasi dengan Jepang dengan harapan Jepang akan memberi kemerdekaan kepada Hindia
Belanda setelah kolonialis Belanda dikalahkan. Dalam hal ini garis Amir yang terbukti benar.
Pada bulan Januari 1943 ia tertangkap oleh fasis Jepang, di tengah gelombang-gelombang
penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini dapat ditafsirkan sebagai terbongkarnya jaringan
suatu organisasi anti fasisme Jepang yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan Amir. Terutama
dari sisa-sisa hidup kelompok inilah Amir, kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para
pembantunya yang terdekat. Namun demikian identifikasi penting kejadian Surabaya itu, dari sedikit
yang kita ketahui melalui sidang-sidang pengadilan mereka tahun 1944, hukuman terberat dijatuhkan
pada bekas para pemimpin Gerindo dan Partindo Surabaya. Sebuah dokumen NEFIS (Netherlands
Expeditionary Forces Intelligence Service), jawatan rahasia yang dipimpin Van Mook, tertanggal 9 Juni 1947
menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal
kata takut". Belanda mungkin tahu bahwa penghargaan berbau mitos terhadapnya di kalangan Pesindo
berasal dari cerita para tahanan sesamanya. Bagaimana ia menghadapi siksaan fisik dan moral yang
dijatuhkan Jepang. Diceritakan, misalnya, bagaimana ia tertawa ketika para penyiksa menggantungnya
dengan kaki di atas.
Banyak kesan muncul tentang pribadi Amir dari kawan-kawannya, juga musuhnya.
Soedjatmoko mendeskripsikan pribadi Amir sepanjang pengetahuannya tentang Amir sebagai "orang
yang tinggi pengetahuannya, dengan kehangatan dan pesona pribadi yang luar biasa". Orang-orang
yang pernah mengunjungi Amir di rumahnya yang sederhana di Menteng Pulo, teringat pada
sambutannya yang langsung dan lugas. Kawan-kawan sekolahnya dari Gymnasium, Haarlem, juga
mengenangnya sebagai seorang yang sangat senang bergaul. Membaca Hatta dan Sjahrir orang akan
diberi kesan yang sama sekali berbeda. Seorang ambisius yang mentah, tidak berwatak, tidak
berkeyakinan, yang gampang berganti pikiran seperti berganti baju. Seorang yang berangasan dan
sewenang-wenang.

Kontra Revolusi 1948 Memahkotai Karakter Lembek Revolusi Nasional ‘45

Pasca kegagalan pemberontakan 1926—yang memunculkan reaksi keras rejim kolonial Hindia
Belanda (berupa penangkapan, pembuangan, dan pembunuhan terhadap ribuan kaum kiri), kaum
komunis kembali coba membangun organisasi secara ilegal, yang dipimpin oleh Musso. Kesalahan
dalam membaca situasi obyektif menyebabkan mereka tetap berada dibawah tanah ketika revolusi
nasional pecah—dimana berbagai spektrum politik lain telah muncul secara terbuka dihadapan massa
rakyat pada saat itu, dan mengambil kepemimpinan politik. Disamping itu terpecahnya konsentrasi
kader-kader komunis ke berbagai organisasi yang mereka bentuk waktu itu (PKI, PBI, dan Partai
Sosialis), mengakibatkan kelemahan tersendiri bagi organisasi secara keseluruhan.
Persetujuan Renville adalah puncak kesalahan reaksioner, yang membawa Indonesia pada tepi
jurang kolonialisme. Tanggungjawab yang berat ini terletak dipundak kaum Komunis, khususnya Amir
sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia. Kesalahan besar selanjutnya ialah kabinet Amir
Sjarifuddin mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan
atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis. Kaum Komunis pada waktu itu
melupakan satu hal pokok yang pernah dikatakan oleh Lenin: "Soal pokok dari setiap revolusi adalah
soal kekuasaan negara". Dengan bubarnya kabinet Amir Sjarifuddin, maka terbukalah jalan bagi elemen
borjuasi komprador untuk memegang pimpinan pemerintahan, dan dengan demikian juga kepimpinan
Revolusi Nasional. Sedangkan kaum Komunis mengisolasi dirinya dalam oposisi.
Dapat dikatakan, bahwa saat itulah revolusi nasional benar-benar berada dalam bahaya, yang
makin lama makin membesar. Revolusi nasional makin lama makin jelas terperosok kedalam jurang
kapitalisasi (penyerahan) kepada imperialisme Belanda cs, akibat politik kompromis yang sangat
reaksioner dari elemen borjuasi Indonesia pemegang pimpinan pemerintahan. Politik kompromis ini
makin menguntungkan imperialisme Belanda dan makin membesarkan bahaya bagi Indonesia.
Sesudah kaum Komunis tidak berada di pemerintahan, dan kemudian mulai giat bekerja
dikalangan rakyat, mereka mulai menyadari kesalahan dan kekurangan-kekurangan yang telah mereka
buat. Antara lain kelemahan organisasi Partai serta organisasi massa, terutama dikalangan kaum buruh
dan tani. Mereka mulai insaf, bahwa terutama harus diusahakan penyelesaian soal agraria secepatnya,
karena memang sangat kurang mendapat perhatian mereka, padahal masaalah tani adalah masaalah
yang penting bagi Revolusi Nasional Indonesia.
Juga mulai diinsafi, bahwa dengan tidak adanya sokongan, terutama dari rakyat pekerja (buruh,
tani-pekerja, dan pekerja lainnya) yang terorganisasi rapi, tidaklah mungkin mewujudkan hegemoni klas
buruh dalam revolusi nasional kita ini. Tidak mungkin pula membentuk suatu pemerintahan kerakyatan
yang kuat dan berdiri tegak. Oleh karenanya mereka kemudian berusaha dengan segiat-giatnya
mengorganisasikan massa rakyat pekerja, agar dalam waktu yang pendek dapat menyusun organisasi
yang rapi di berbagai sektor rakyat, yang berkewajiban sebagai tulang-punggung revolusi nasional kita.
Kemudian PKI menetapkan bahwa organisasi ini, dalam susunan yang baru, harus dengan tegas
membatalkan persetujuan Linggarjati dan Renville, karena dalam prakteknya telah menjadi sumber dari
segala keruwetan diantara pimpinan-pimpinan dan rakyat. Dengan dibatalkannya persetujuan
Linggarjati dan Renville berarti Republik Indonesia merdeka sepenuhnya, dan rakyat tidak terikat lagi
oleh persetujuan-persetujuan yang mengikat dan memperbudak. Hapusnya persetujuan Linggarjati dan
Renville berarti juga, kekuasaan Belanda di Indonesia adalah pelanggaran kedaulatan, dan oleh karena
itu tentara Belanda harus segera diusir. Hapusnya persetudjuan Linggadjati dan Renville menghilangkan
segala kebimbangan dikalangan beberapa partai untuk memperluas dan meneguhkan hubungan
republik dengan negeri-negeri lain. Dengan demikian republik juga mendapat kesempatan untuk
menerobos blokade Belanda yang mengisolasi republik dari negeri-negeri luar dalam lapangan ekonomi
dan politik.
Penolakan tersebut bukan karena Belanda terbukti tidak setia dan telah menginjak-injak
persetujuan. Namun lebih karena alasan prinsipil, bahwa persetujuan-persetujuan itu mewujudkan
negara yang pada hakekatnya adalah negara jajahan. Sebab itulah PKI akhirnya mengeluarkan slogan:
"Merdeka se-penuh-penuhnya".
Penolakan persetujuan Linggadjati dan Renville berarti juga otokritik yang keras dikalangan PKI.
Dan pengakuan salah ini kemudian coba untuk disampaikan pula kepada Rakyat-banyak. Dalam tulisan
“Jalan Barunya” untuk mengkritik hal tersebut, Musso dengan jelas mengatakan:

“Kita saat ini sudah seharusnya menggabungkan diri dengan gerakan-gerakan anti-
imperialis di Asia, di Eropa dan di Amerika, terutama sekali dengan Rakjat negeri
Belanda jang progresif, jang sebagian besar dari mereka dipimpin oleh CPN. Partai ini
walaupun sudah membuat kesalahan-kesalahan, adalah satu-satunja Partai klas buruh di
negeri Belanda jang sungguh-sungguh membantu gerakan kemerdekaan kita pada waktu
sebelum dan sesudah peperangan dunia kedua. CPN adalah djuga mendjadi sekutu kita
jang semestinja, dan perhubungan kita dengan CPN harus lebih dikokohkan lagi. Lain
daripada itu PKI harus terus-menerus mendesak CPN supaja benar² meninggalkan
politik jang bersembojan: "Unie-verband" jang djahat itu, dan menggantinya dengan
politik "INDONESIA MERDEKA SEPENUH-PENUHNYA". Tujuan PKI ialah
mendirikan Republik Indonesia berdasarkan Demokrasi Rakyat, yang meliputi seluruh
daerah Indonesia dan bebas dari pengaruh imperialisme serta anjing penjaganya yaitu
Negara”.

Jelas dan tegas dirumuskan dalam resolusi "Jalan Baru untuk Republik Indonesia" musuh yang
utama adalah imperialisme Belanda yang harus diusir dari wilayah Indonesia dan menegakkan
kedaulatan rakyat Indonesia. Kaum komunis yang dituduh membikin sovyet di Madiun dan
mengkhianati republik, justru menyatu dengan kekuatan rakyat yang teguh melawan Belanda.
Tapi bagi Hatta, dkk. musuhnya ialah PKI dan kekuatan progresif, bukan Imperialisme Belanda.
Pembunuhan dan penyingkiran kekuatan komunis dan kekuatan progresif—melalui program
rasionalisasi—telah melemahkan kekuatan republik yang memperjuangan kemerdekaan 100%, dan
mengambil jalan kompromi dengan imperialis/kolonialis Belanda. Penyelesaian kompromi ini terwujud
dalam hasil Konferensi Meja Bundar, dan pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai penjajahan
model baru. Indonesia tidak hanya masih terikat secara politik, ekonomi, dan militer pada Belanda, tapi
Belanda membuat problem kolonial yang baru: menolak untuk menyerahkan Irian Barat!

Akhir hidup Amir Sjariffudin

Menghantar para juru runding ke Konferensi Meja Bundar, pemerintahan Hatta perlu
memastikan bahwa perlawanan terhadap hasil dari konferensi—yang merugikan republik—harus
dicegah. Untuk itu program rasionalisasi terhadap angkatan bersenjata perlu diajukan, yang dilanjutkan
dengan titipan program Red Drive Proposals dari A.S, untuk memusnahkan kaum kiri/progresif.
Provokasi diintensifkan untuk memancing reaksi dari kaum kiri, sampai puncaknya, pemerintahan Hatta
menuduh PKI berupaya membentuk sovyet di Madiun dan menyatakan perang terhadap mereka. Amir
Sjarifuddin, sebagai salah seorang tokoh PKI, yang saat itu peristiwa Madiun meletus sedang berada di
Jogjakarta dalam rangka kongres SBKA turut ditangkap beserta beberapa kawannya.
19 Desember 1948, sekitar tengah malam, di dekat desa Ngalihan, kepala Amir Sjarifuddin
ditembak dengan pistol oleh seorang letnan Polisi Militer, sebuah satuan khusus dalam angkatan
bersenjata Indonesia. Sebelum itu beberapa orang penduduk desa setempat diperintahkan menggali
sebuah lubang kubur besar. Dari rombongan sebelas orang yang diangkut dengan truk dari penjara di
Solo, Amir orang pertama yang dieksekusi malam itu. Beberapa hari sebelumnya, ia dan beberapa orang
lainnya, secara diam-diam telah dipindahkan ke rumah penjara ini dari tempat penahanan mereka di
Benteng Yogyakarta.

Pengantar Penerbit
Saat buku ini terbit, baik tokoh yang dibicarakan maupun pengarangnya, telah meninggal. Amir
Sjarifuddin meninggal tahun 1948, menyusul Peristiwa Madiun yang melibat dirinya. Ia
meninggal dalam arus revolusi yang bergerak begitu cepat, melebihi kemampuan tiap-tiap orang
untuk menangkap apalagi mengarahkannya. Seperti ditulis Abu Hanifah ketika menutup
tulisannya tentang tokoh ini dalam majalah Prisma, "Revolusi memakan anaknya sendiri".

Jejak langkah Amir Sjarifuddin sudah berulangkali berusaha ditulis orang, tapi selalu saja terasa
kekurangannya di sana-sini. Menulis tentang tokoh kontroversial seperti Amir memang bukan
barang mudah. Mengambil satu aspek saja dari dirinya berarti melupakan aspek lain. Melihatnya
sebagai seorang Kristen yang taat saja, dan menelusuri seluruh perjalanannya dari perspektif ini,
akan membuat kita kedodoran memahami sikap politiknya yang radikal sebagai "anak revolusi".
Di pihak lain, melihatnya hanya sebagai politisi radikal, pemimpin Partai Sosialis (dengan segala
kekeliruan dan kekacauan tentang paham dan partai ini di zaman sekarang), juga tidak akan
membuahkan apa-apa. Apalagi mengingat perjalanan politiknya tidak hanya dituntun oleh
pikiran, tapi lebih oleh pergolakan dalam masyarakat sezaman.

Mungkin paling baik jika kita menempatkannya kembali dalam zamannya; membiarkan dirinya
tampil melalui pikiran dan tindakannya dalam sejarah.

Jacques Leclerc, meninggal bulan April 1995, setelah mengidap kanker ganas dalam tubuhnya
selama bertahun-tahun. Ia juga sosok kontroversial dalam bidangnya, seorang penulis yang tidak
kenal lelah dalam memahami proses revolusi yang rumit dan berliku.

Jacques mengerahkan banyak tenaganya untuk meneliti dan menulis tentang kurun yang sulit dan
penuh perdebatan, yakni revolusi Indonesia. Ia menjadi kontroversial karena cara pikir dan
tradisi yang dibawanya tidak lazim dalam studi tentang Indonesia. la gemar membandingkan
kehidupan politik di tahun 1940-an dengan kisah-kisah revolusi Prancis yang sangat akrab
baginya, dan menyumbangkan tradisi penulisan sejarah Prancis yang kaya dalam wilayah studi
ini.

Sejak tahun 1970-an is mulai menulis tentang gerakan rakyat tahun 1940-an, dan di situlah ia
menyelami kehidupan Amir Sjarifuddin. Sepagi 1982 ia sudah menulis biografi Amir
Sjarifuddin, dan sejak itu terus membuat penelitian tentang pemikiran dan perjalanan hidup
tokoh ini. Tulisan di hadapan ini lebih sebuah renungan tentang Amir ketimbang tulisan ilmiah
yang menyajikan fakta dan interpretasi dalam langgam yang ketat. Mungkin sekali bukan yang
terbaik, tapi di sinilah ia mengerahkan pengetahuan dan kepiawaiannya dalam menulis, untuk
mengambil kesimpulan yang cerdas tentang seorang manusia, lingkungan dan zamannya.

Januari 1996

TANGGAL 19 Desember 1948, sekitar tengah malam, di dekat desa Ngalihan, Amir Sjarifuddin
ditembak dengan pistol pada kepalanya oleh seorang letnan Polisi Militer, sebuah satuan khusus
dalam Angkatan Bersenjata Indonesia. Sebelum itu beberapa orang penduduk desa setempat
diperintahkan menggali sebuah lubang kubur besar. Dari rombongan sebelas orang yang
diangkut dengan truk dari penjara di Solo, Amir orang pertama yang dieksekusi malam itu.
Beberapa hari sebelumnya ia, dan beberapa orang lainnya lagi, secara diam-diam telah
dipindahkan ke rumah penjara ini dari tempat penahanan mereka di Benteng Yogyakarta.

Pada malam itu juga Polisi Militer berkeliling ke rumah-rumah penjara besar, yang masih bisa
mereka datangi, khususnya di Magelang dan Purworejo, untuk meneruskan rencana eksekusi-
eksekusi mereka. Perintah pembantaian itu turun langsung dari mantan kepala satuan khusus
tersebut, Kolonel Gatot Subroto, yang pada 17 September 1948 telah diangkat sebagai Gubernur
Militer Surakarta. Barangkali Gatot takut, bahwa para tahanan akan memanfaatkan keadaan
untuk melarikan diri, seperti yang memang telah terjadi di rumah penjara di Yogyakarta. Seperti
diketahui, pasukan payung Belanda telah diterjunkan di Yogyakarta pada pagi hari sebelumnya,
dan segera menduduki daerah ini.

Kalangan dekat dengan para korban eksekusi mengatakan, bahwa tanpa jaminan atasannya Gatot
tidak akan mungkin berani mengambil prakarsa sendiri, membunuh tokoh seperti Amir, seorang
mantan perdana menteri dan juga menteri pertahanan selama lebih dua tahun. Oleh karena itu
tuduhan lalu mereka lempar kepada perdana menteri pengganti Amir saat itu, yaitu Mohammad
Hatta. Desas-desus juga beredar, yaitu tentang sidang kabinet terakhir sebelum Yogyakarta
diserang Belanda, yang disusul dengan peristiwa penangkapan Sukarno, Hatta dan beberapa
tokoh negara lainnya. Konon pada sidang kabinet tersebut juga dibicarakan nasib Amir dan
tawanan-tawanan sesama lainnya, yang pada saat itu masih ada di Yogyakarta; dan bahwa
Sukarno menentang keras dijatuhkannya hukuman mati secara sumir. Karena itulah, di luar
pengetahuan Sukarno, mereka itu diserahkan kepada Gatot. Barangkali ini merupakan sebuah
rekonstruksi, sengaja untuk membebankan seluruh tanggungjawab atas apa yang terjadi pada
pundak Hatta sendiri. Notulen sidang kabinet itu, seandainya pernah ada, sampai sekarang tidak
pernah ditemukan. Tetapi bagaimanapun juga, jika pembicaraan tentang nasib mereka itu
memang pernah terjadi di dalam sidang tersebut, kiranya tidak akan termasuk sebagai bahan
yang boleh disiarkan.

Ketika Gatot meninggal mendadak tahun 1962, sekali lagi terdengar kabar burung tentang apa
penyebabnya. Sejak malam di bulan Desember 1948 itu, ia terus-menerus hidup dalam bayangan
rasa takut terhadap pembalasan. Sementara orang bahkan mengatakan: bayangan rasa sesal yang
mendalam. Tetapi semuanya patut kiranya diragukan.

Gatot telah diangkat sebagai dewa pelindung dari sistem, yang telah disusun sejak Oktober 1965,
di bawah pimpinan Jenderal Suharto. Pada bas-relief untuk memperingati kemenangan ABRI
atas kaum komunis, yang merupakan bagian sentral dari sebuah monumen simbolis yang
dibangun di Lubang Buaya pada awal tahun 70-an, Gatot dan Suharto digambarkan sebagai
tokoh-tokoh yang sejajar dan dalam pose yang sama pula. Di tengah-tengah kemelut politik ini
sebelas makam di Ngalihan, yang dalam bulan November 1950 telah digali oleh keluarga
masing-masing, dan yang setelah diautopsi dimakamkan kembali, semuanya hilang tanpa bekas.
Bahkan ketika majalah Prisma pada hari ulang tahun Amir Sjarifuddin ke-75, dalam bulan
November 1982, menerbitkan ringkasan biografinya yang ditulis dengan sangat berhati-hati itu,
Menteri Penerangan mengancam pembreidelan majalah tersebut. Disertasi Pendeta Frederiek
Djara Wellem, di bawah bimbingan Pendeta Belanda Th. van den End, tentang pemikiran
keagamaan Amir, Amir Sjarifoeddin, Pergumulan Imannya Dalam Perjuangan Kemerdekaan,
yang telah berhasil terbit oleh penerbit Kristen Sinar Harapan tahun 1984, terpaksa harus
dihancurkan ketika izin peredarannya ditolak pemerintah. "Saya ingin melihat sejauh mana yang
bisa kita lakukan", kata penerbit W.B. Sidjabat tentang naskah tesis itu setahun sebelumnya.
"Kita ingin tahu, apakah sekarang sudah mungkin berbicara secara terbuka tentang Amir
Sjarifuddin".

Tesis Wellem yang mencerminkan pandangan sementara orang Kristen Indonesia, yang secara
kebetulan mengenal Amir ini, melukiskan Amir sebagai semacam rasul. Justru karena cintanya
kepada manusia, Amir menjadi terseret oleh godaan untuk menandatangani perjanjian dengan
setan komunis, yang akhirnya ternyata harus ditebus dengan nyawanya. Dengan sangat
emosional tesis itu bermaksud memulihkan nama tokoh yang dilaknat ini. Kiranya para pejabat
yang telah menjatuhkan larangan terhadap buku itu tidak mungkin mengetahui lebih selain dari
judulnya saja. Tetapi usaha untuk mengusir setan dari tokoh yang oleh Negara telah dinyatakan
kerasukan, dan kemudian menjadikannya semacam Faustus politik ini, sudah merupakan langkah
awal tindak subversi, jika Negara yang dimaksud di sini ialah negara yang dibayangkan Gatot
dan Suharto.

II

MASA hidup Amir Sjarifuddin terentang sepanjang paruh pertama abad ke-20. Usia itu habis
diserap oleh penemuan dan kegagalan harapan-harapan besar dari jamannya, seperti yang
terungkap dalam kata-kata "kemerdekaan nasional", "kedaulatan rakyat", dan "sosialisme".
Seperti juga di mana-mana, di Indonesia pun, bagi barang siapa yang ambil bagian di dalamnya,
semua kata-kata itu dipadatkan dalam sepatah kata saja: "revolusi".

Amir, seperti beberapa pemuda Indonesia lain yang seangkatan dan sepergaulan dengannya,
disadarkan tentang arti kata "revolusi" dan janji-janjinya, pertama-tama melalui apa yang
dipelajarinya dari guru-guru Belanda mereka tentang Revolusi Prancis, ketika masih belajar di
sekolah menengah dan sekolah tinggi hukum. Memang lebih banyak kepada Revolusi Prancis
inilah, dan bukan revolusi-revolusi Amerika atau Rusia, ia selalu memalingkan pandangannya.

Bagi Amir "Prinsip Harapan" (meminjam kata-kata kunci Ernst Bloch) untuk Indonesia pertama-
tama memperoleh bentuknya pada manifestasi tiga gabungannya: "satu nusa, satu bangsa, satu
bahasa". Rangkaian konsep-konsep ini didasarkan pada gagasan akademis Belanda tentang Taal-
, Land- en Volkerakunde sebagai keseluruhan, dan diambil oleh para mahasiswa yang
menamakan diri sebagai bangsa Indonesia, serta mengubahnya menjadi tuntutan Yakobin dalam
tahun 1928. Tetapi "Prinsip Harapan" itu juga berfungsi lain. Sebagai sarana memasuki
Indonesia yang baru saja dirumuskan, yang sepertinya sudah ada, bisa dimengerti dan diterima
oleh semua, prinsip ini juga membentuk suatu labirin yang kabur dan goyah walaupun telah
diberi contoh-contoh untuk meneranginya.

Sepanjang duapuluh tahun, 1928-1948, Amir telah membaktikan separuh umurnya kepada
politik. Dan untuk itu ia pun harus menempuh sepanjang labirin, untuk menemukan jalan ke luar
daripadanya. Namun tidak jarang harus menemui jalan buntu.
Bagi Amir labirin itu berbentuk permainan enam orang tokoh, yang satu sama lain saling
berhadapan dalam pasang-pasangan yang selalu berubah-ubah. Ada pemain-pemain utama, yaitu
Sukarno dan Hatta sebagai pimpinan golongan "partai nasional" (inilah yang dimaksud sebagai
"Prinsip Harapan"), yang tertambat pada perjuangan tak terdamaikan untuk menguasai kendali.
Sifat permusuhan persekutuan itu mengabadikan mereka dengan sebutan "dwitunggal", sebagai
suatu monumen sejarah yang tak bisa diganggu-gugat, simbol persatuan Indonesia yang tak
terpisahkan, sejak mereka bersama menandatangani naskah proklamasi kemerdekaan tanggal 17
Agustus 1945.

Selanjutnya ada persekutuan-persekutuan yang masing-masing tersusun dengan pemain-pemain


mudanya, yaitu Hatta dengan Sjahrir; dan, walaupun dengan cara yang kurang jelas benar,
Sukarno dengan Amir. Ada lagi pasangan antara dua sesama pemain muda saja, yaitu Amir dan
Sjahrir. Mereka ini hanya dihubungkan sebagai pasangan untuk para pemain utama, ketika empat
pemimpin itu—ibarat empat pilar penyangga dunia—tampil sebagai lambang negara Indonesia
antara November 1945 sampai Juni 1947. Tetapi terjadi juga formasi berbalikan: pemain muda
yang kuat berpasangan dengan pemain tua yang lemah, yaitu Sjahrir sebagai perdana menteri dan
Hatta sebagai wakil presiden. Dalam hal ini Amir sebenarnya sudah menjadi semacam 'kartu
mati'. Hatta dan Sjahrir praktis tak terpisahkan lagi sejak mereka pertama kali bertemu, dan
mereka pun pernah tinggal bersama selama di pengasingan dari tahun 1934 sampai 1942. Tetapi
Amir, bintang Partindo (Partai Indonesia) yang tengah marak itu, dijebloskan ke penjara ketika
Sukarno, pimpinan partainya, dibuang ke pulau pengasingan seperti halnya juga Hatta dan
Sjahrir. Terpisah dengannya sejak tahun 1933, Amir baru bertemu kembali dalam tahun 1942,
dan itu pun hanya selama beberapa minggu. Jika pasangan dua tokoh muda Amir-Sjahrir ini
selama bulan-bulan terakhir tahun 1945 oleh sementara sejarawan ditonjolkan, namun tidak
dengan kata-kata yang digunakan pasangan tokoh-tokoh yang tua: kata-kata rujukan pada
sosialisme menggantikan nasionalisme (inilah salah satu cara bicara tentang arti Perang Dunia II
dari sudut sang pemenang), walaupun tetap di dalam acuan yang ditempa para tokoh tua itu.
Partai Rakyat Sosialis yang diumumkan berdirinya oleh Sjahrir dalam bulan November 1945 itu
(walaupan hanya hidup di atas kertas, tetapi ini masalah lain lagi), dapat disepadankan dengan
Nationale Volkspartij (Partai Rakyat Nasional) bentukan Hatta di Negeri Belanda lima belas
tahun sebelumnya, sesudah Partai Nasional Indonesia didirikan Sukarno di Indonesia. Dari
Sukarno ke Amir dan Partai Sosialis Indonesia, urutan hubungannya pun sama: "sosialisme"
menggantikan "nasionalisme". Kata "revolusioner" yang, dalam rapat-rapat pendahuluan bulan
Oktober 1945, disarankan agar dicantumkan pada nama partai sosialis (partai masa depan dari
generasi akan datang), ternyata tidak tercantum. Walaupun hal ini tidak disebabkan oleh
ketakutan terhadap akibat yang bisa timbul dari sepatah kata itu.

Lalu ada pula pasangan Kanan-Kiri, yang biasa dipakai untuk mengenali kandungan gerakan
kebangsaan, untuk pengganti pasangan Kolot-Modern. Ini justru timbul dalam tahun-tahun 1936-
1940, ketika Amir telah bebas dari penjara dalam bulan Juni 1935, dan dipandang sebagai sisa
hidup dan saksi dari jaman kepahlawanan. Strategi heroisme, yaitu strategi yang dinamakan
"nonkoperasi" dengan pemerintah kolonial, telah mengalami kegagalan. Oposisi radikal terhadap
pemerintah menjadi lumpuh, oleh karenanya terlalu lemah untuk berhadapan dengan represi
yang keras. Dalam debat tentang strategi jangka panjang untuk mengusir Belanda (karena "kaum
loyalis" juga menginginkan kekuasaan), masalah nonkoperasi dan koperasi lalu tersisih (menurut
istilah saat itu koperasi ialah "loyalitas"). Masalah beralih pada usaha mencari cara-cara aksi
yang lain, sehingga karenanya cita-cita sosial dari aksi-aksi politik menjadi jelas, dan bentuk-
bentuk identifikasi baru pun ditemukan. Golongan yang menempuh jalan nonkoperasi
menamakan diri mereka sebagai "Kiri", dan menyebut golongan "loyalis" sebagai "Kanan".
Kaum Kiri baru ini diidentifikasi pada pribadi Amir, dan berdasar ini juga tahun-tahun 1936-
1940 merupakan "tahun-tahun Amir". Tetapi juga kaum Kanan mempunyai tokoh simbolnya,
yang baik oleh para pejabat Belanda maupun sementara tokoh Kiri sebagai lawan berdebat, yaitu
Thamrin. Pada akhir tahun '30-an gerakan anti-kolonialisme yang luas beraneka macam, seperti
yang pada tahun 1939 tergabung dalam GAPI atau Gabungan Partai-Partai Politik Indonesia itu,
mempunyai dua kepala: Amir dan Thamrin. Ini sungguh keterlaluan. Ternyata kedua-duanya
memang digeser, masing-masing ditarik oleh partainya dari sekretariat GAPI. Namun sebenarnya
ini hanya suatu krisis baru dalam gerakan, yang diakibatkan oleh invasi Jerman atas Negeri
Belanda. Krisis ini berakibat tragis. Oleh alasan-alasan yang sama sekah tidak jelas, Amir
menarik diri atau minggir dari percaturan. Langkah ini dilakukannya sesudah terjadi polemik
yang panjang dan ramai dengan Thamrin, yang berlangsung melalui seorang wartawan (yaitu
Tabrani, pemimpin redaksi Pemandangan, yang ingin membuat perhitungan pribadi dengan
Thamrin). Thamrin, yang dicurigai melakukan hubungan gelap dengan Jepang itu, dalam bulan
Januari 1941 meninggal oleh serangan jantung pada umur 47 tahun, yaitu sesudah rumahnya
digerebek dan digeledah oleh polisi Belanda.

Kemudian ada tokoh keenam, yaitu Musso. Beberapa bulan sesudah disingkirkan Sukarno, Amir
diberi tanggungjawab (atau, tergantung bagaimana orang melihatnya, dibiarkan mengambil
tanggungjawab sendiri), untuk atas nama Indonesia menandatangani perundingan gencatan
senjata Renville yang sangat buruk itu. Ini terjadi bulan Januari 1948. Beberapa bulan sesudah
itu Amir menyatakan dirinya sebagai anggota Partai Komunis Indonesia, yang menurut sejarah
resmi partai ini telah "dibangun kembali" oleh Musso dalam tahun 1935.

Dalam bulan Agustus 1948, setelah bertahun-tahun dalam pengasingannya di Moskow, Musso
kembali ke Indonesia. Segera sesudah tiba ia berusaha menempatkan dirinya sebagai pengasuh
citarasa politik bangsa Indonesia. Dengan demikian pernyataan keanggotaan Amir pada Partai
Komunis yang retroaktif, pada periode kritis pencarian strategi yang menjelaskan tentang
sambutan terhadap kedatangan Musso saat itu, juga harus diartikan bahwa yang disebut "tahun-
tahun Amir" sebenarnya adalah "tahun-tahun Musso". Artinya, bahwa sejak 1935 Amir tidak lagi
sebagai anak-buah Sukarno, melainkan anak-buah Musso. Tetapi justru Hatta yang melempar ide
pasangan Musso-Amir ke tengah gelanggang, sebagai alternatif pasangan Sukarno-Hatta. Yaitu
pada tanggal 20 September 1948, ketika ia mengumumkan pernyataan seperti yang diucapkan
Sukarno sehari sebelumnya, bahwa sebuah republik soviet baru saja diproklamasikan di Madiun.
"Malahan kabarnya, saya tidak tahu benar dan tidaknya, bahwa Musso akan menjadi presiden
republik serobotannya ini, dan Amir menjadi perdana menterinya."1) Sukarno mengecam kup
golongan Musso itu, tetapi tanpa menyebut-nyebut nama Amir. Secara fungsional memang
Musso yang sama dengannya. Sedangkan Amir adalah masalah Hatta. Dan bukankah Hatta juga
yang telah mengambil alih dua jabatan Amir, sebagai perdana menteri dan menteri pertahanan?

Empat tokoh yang memimpin negara Indonesia selama bulan-bulan pertama, yaitu Sukarno-
Hatta-Sjahrir-Amir, menurut urutan kehormatan institusional, naik-turun kursi perdana menteri
beriring-iringan seperti angka-angka sebuah arloji otomatis. Satu demi satu mereka turun, angka-
angka masing pun berkurang. Akhirnya formasi segi-empat itu hancur, dengan Sukarno dan
Hatta saja tersisa. Angkatan muda lenyap. Dan bersama itu, untuk jangka waktu yang lama, juga
impian mereka tentang sosialisme, serta harapan mereka tentang kehidupan politik Indonesia
sebagai bagian dari sejarah dunia Kiri.

Generasi muda tampil bersama-sama mengecam kekuasaan berlebihan, yang diberi oleh Undang
Undang Dasar 18 Agustus 1945 pada presiden Republik, yang sekaligus juga perdana menteri.
Tentu saja pendirian itu mendapat tumpuannya yang kuat pada Wakil Presiden. Maka sudah
dalam bulan November 1945, pemerintah Sukarno diganti pemerintah yang dipimpin Sjahrir.
Mungkin sekali justru hubungannya dengan wakil presiden inilah yang telah memudahkan
pengangkatan baginya. Sejak itu dewan menteri bertanggung jawab kepada suatu majelis yang
diangkat dari wakil-wakil berbagai organisasi, dan yang sifat perwakilannya tidak diketahui.
Orang hanya mengharap bahwa kelak, pada suatu ketika, majelis ini dapat diganti suatu badan
perwakilan rakyat hasil pemilihan umum.

Amir yang mengganti Sjahrir memimpin pemerintahan selama enam bulan hanyalah merupakan
suatu parentesis. Sekalipun masa enam bulan ini merupakan bulan-bulan perang dan perundingan
gencatan senjata. Situasinya eksplosif, dan terasa sedang mencari-cari kambing hitam. Seketika
Amir telah dikorbankan, demi dirinya Hatta merestorasi sistem presidentil (yang dahulu ia
sendiri membantu menghapusnya itu), dengan dukungan mereka yang selalu melawan
pemerintah apa pun sejak November 1945. Dialah pemenang besar dalam permainan ini. Dan
seperti Sukarno yang telah meninggalkan Amir, Hatta pun dapat berjalan sendiri tanpa Sjahrir,
yang memang tidak lagi tampil di dalam pemerintahan.

Dari Empat Serangkai itu Amir yang paling lemah. Satu-satunya kekuatan padanya hanyalah
karena ia pernah dipenjara dan dijatuhi hukuman mati oleh Jepang. Kecuali itu sebagai menteri
ia bisa dipakai sebagai jaminan pemerintah (tetapi yang sekaligus menimbulkan rasa tidak enak),
yang risau ingin memperlihatkan kedekatannya pada Sekutu yang pada 29 September 1945 telah
mendarat. Amir ialah jaminan, bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945
bukanlah tanda-mata perpisahan dari Jepang. Secara eksplisit Amir tidak pernah mengatakan,
bahwa nyawanya telah disambung berkat campur-tangan Sukarno atau Sukarno dan Hatta,
sebagai pemimpin-pemimpin pemerintah Indonesia saat di bawah Jepang itu. Tetapi ketika
masalah ini diangkat oleh pers, ia juga tidak membantahnya. Dengan demikian Amir telah ikut
membantu menyebar citra Sukarno dan Hatta sebagai pelindung-pelindung gerakan bawah tanah,
yang untuk saat itu diperlukan dan bahkan sangat penting. Namun demikian, walaupun
sementara itu Amir sudah diangkat sebagai menteri, ia baru dibebaskan dari penjara pada tanggal
1 Oktober, enam minggu sesudah proklamasi kemerdekaan; karena Sekutu sudah mendarat,
maka menjadi sangat penting tokoh Amir ditampilkan. Hal ini menimbulkan beberapa tanda
tanya: sejauh mana sesungguhnya pengetahuan Sukarno dan Hatta tentang nasib Amir selama
masa pendudukan Jepang; dan selanjutnya juga tentang kapasitas mereka mengintervensi
penguasa Jepang di dalam masalah ini. Selain itu, sekali percaturan politik telah beralih dari
masalah perlawanan terhadap Jepang, dan kisah tentang gerakan bawah tanah itu pun sudah tidak
terlalu diperlukan lagi, maka tanpa malu-malu Sjahrir berbicara sarkastis tentang kegiatan anti-
Jepang Amir (misalnya jika kita baca bagian terakhir Out of Exile). Lebih dari itu Sjahrir bahkan
melukiskan Amir tidak lebih sebagai seorang kacung Belanda belaka. Jelas, juga Sjahrir pribadi
mempunyai citra "pejuang bawah tanah" yang hendak dibelanya. Karena masing-masing orang
angkatan tua harus mempunyai "tokoh pejuang"-nya sendiri-sendiri, jika Amir untuk Sukarno,
maka Sjahrir untuk Hatta. Tetapi karena citra "pahlawan" pada dirinya itu agak kabur, tentu saja
Sjahrir hanya akan berhasil membelanya dengan jalan mendiskreditkan citra tokoh-tokoh lain
yang lebih jelas gambarannya.

III

BERBEDA dengan Sukarno, Hatta dan Sjahrir, yang ditahan jauh dari Jakarta karena exorbitante
rechten Gubernur Jenderal, Amir tidak pernah diasingkan. Tetapi gelombang-gelombang
penahanan besar-besaran, yang membawa banyak korban pada gerakan kebangsaan dalam tahun
1933-1934, juga menyeret dirinya. Saat itu ia sebagai salah seorang di antara aktivis mahasiswa
yang sangat dikenali polisi, dan juga sebagai salah seorang pembantu terdekat Sukarno di dalam
Partindo. Oditur Jenderal sebenarnya sudah menyusun tuntutan untuk "menginternir"
(pengasingan di dalam negeri), ketika ia pada tahun 1933 dijatuhi hukuman 18 bulan penjara
karena pelanggaran undang-undang pers. Tetapi hukuman penjara itu menyebabkan keputusan
internir tersebut menjadi tertunda. la dipenjarakan di rumah penjara politik pusat Sukamiskin di
dekat Bandung, semacam "Bastille" Indonesia., tempat segala macam tokoh menarik dapat
dijumpainya. Namun sesudah Amir dibebaskan, Oditur Jenderal segera mengambil langkah
untuk membuangnya jauh-jauh. Maka pengasingannya ke Digul kembali diperbincangkan.
Setelah berunding dengan Dewan Hindia Belanda, Gubernur Jenderal menolak tuntutan
mahkamah pengadilan, dan memutuskan pembebasan bersyarat untuk Amir. Tampaknya sedikit
pun tidak ada jaminan pada Amir untuk memenuhi syarat tersebut. Namun Schepper dan Mulia,
yang memohonkan pengampunan bagi pembebasannya kepada Gubernur jenderal, menjamin
Amir akan bertingkah-laku baik. Orang tersebut pertama ialah bekas guru Amir di Sekolah
Hukum, dan pejabat tinggi di departemen kehakiman; dan yang kedua ialah saudara sepupu
Amir, dan anggota Volksraad. Kedua mereka terutama mempunyai pengaruh besar di kalangan
misi Kristen.

Tidak lama sesudah itu diduga Amir berusaha menjalin hubungan dengan Musso, tetapi waktu
tidak memungkinkan hal itu. Musso tidak hendak mengambil resiko, apalagi Amir. Di samping
itu, kawan-kawan yang mengatur pertemuannya dengan Musso mempunyai banyak alasan untuk
mencurigainya sebagai perangkap; atau menduga-duga, bahwa pembebasannya itu disebabkan
oleh karena Amir telah menyeberang ke pihak sana.

Masalah yang dihadapi Amir dalam bulan-bulan terakhir tahun 1935 tersebut, juga dirasakan
oleh siapa saja yang dari sudut tinjauan politik mempunyai pandangan yang sama. Yaitu bahwa
perjalanan gerakan sepanjang tahun-tahun sebelum 1935 mereka pandang sebagai telah
membentur tembok represi. Oleh karenanya masalah yang mereka hadapi ialah bagaimana
mencari jalan baru untuk maju, baik secara praktis maupun secara intelektual. Strategi
konfrontasi yang ditempuh Partindo ternyata telah menghancurkan kehidupan partai itu sendiri,
sehingga sarana politik pokok ini perlu dibangun kembali dengan dan demi strategi yang lain.
Selama bulan-bulan yang serba tak menentu dan menggelisahkan ini banyak dibicarakan orang
tentang "partai baru" dan tentang "reorientasi". Amir sajalah yang, dari kalangan kelompoknya,
memprakarsai adanya sebuah harian baru Kebangoenan, yang hanya bisa terbit berkat bantuan
kelompok Cina Siang Po. Redaktur kelompok ini ialah penyair dan dramawan Sanusi Pane, yang
dalam awal tahun 1937 menerbitkan serangkaian karangan berjudul "Herorientatie".
Dari pergolakan pikiran-pikiran itu lahirlah putusan untuk membentuk partai baru Gerindo,
Gerakan Rakyat Indonesia. "Gerindo bukan hanya partainya Amir dan Yamin saja", berkata
suatu ketika Asmara Hadi, salah seorang muda pimpinan partai ini. la menjadi jengkel terhadap
kesan "kaum reduksionis" (sekali lagi memandang suatu kelompok sebagai terdiri dua orang
saja!), yang suaranya bergema di dalam tubuh Gerindo. Bagaimanapun memang segera ternyata,
bahwa partai itu bukanlah milik Yamin. la belakangan memasuki Gerindo karena hatinya yang
masih tertambat pada Partindo, dan kemudian segera pula meninggalkannya untuk kembali
kepada partainya sendiri itu. Ketika berdirinya Gerindo diumumkan Amir masih tinggal di
Sukabumi bekerja di sebuah kantor pengacara, yang dalam bulan Agustus 1938, tak lama
sesudah kongres partai yang pertama ditinggalkannya, untuk kembali ke Jakarta. Di sini ia pun
mendapat pekerjaan di kantor pengacara yang dipimpin oleh Lie Tjiong Tie. Tokoh ini baru saja
terpilih sebagai wakil golongan Cina untuk dewan kota Jakarta, guna menghadapi gembong-
gembong, yang sampai saat itu tak terlawan, dari Perserikatan Cina di bawah pimpinan H.H.
Kan, seorang anggota terkemuka Volksraad. Ini merupakan pertanda datangnya kemungkinan-
kemungkinan baru yang sangat penting. Sambil memimpin partai Amir mencurahkan
perhatiannya terutama pada masalah-masalah komunikasi dan pendidikan politik, bahasa, pers
dan kantor berita, sekolah dan pendidikan civik. Sebenarnya sudah sejak awal karir politiknya
bidang kegiatan tersebut selalu ditekuninya, terutama bidang pers, penerbitan dan pendidikan.
Walau secara simbolik ia ikut mengusahakan penerbitan beberapa majalah; dan tidak selalu
majalah yang terang-terangan politik. Beberapa di antara majalah penerbitannya itu, misalnya
Poedjangga Baroe, cukup menjadi terkenal walaupun bertiras kecil saja. Dalam konteks
pencarian bentuk-bentuk baru komunikasi itulah, ia mulai memikirkan tentang kampanye
pemilihan, dan di atas prinsip-prinsip ini pulalah Gerindo mengarahkan pandangannya ke depan.

Orisinalitas strategi fundamental partai baru ini terletak pada dua hal. Pertama pada analisisnya
mengenai perkembangan hubungan-hubungan internasional dan sistem-sistem politik global, dan
kedua pada idenya bahwa krisis ekonomi kolonial yang di Indonesia ditandai dengan runtuhnya
perkebunan-perkebunan, dapat mengakibatkan terjadinya krisis bagi politik kolonial. Dan krisis
politik kolonial ini akan menimbulkan persoalan tentang pemilikan tanah-tanah jajahan oleh
negara-negara kolonial. Strategi ini menegaskan tentang kemungkinan dilakukannya dialog
antara Belanda dan Indonesia tentang masalah demokrasi, dan tentang hubungan komplementer
antara pembelaan demokrasi di Negeri Belanda menghadapi fasisme yang sedang bangkit di
Eropa, dengan memasukkan prinsip-prinsip demokrasi di Indonesia, khususnya tentang "hak-hak
manusia dan warga negara" seperti yang dalam bentuknya yang klasik dinyatakan oleh Revolusi
Prancis. Strategi partai menegaskan, bahwa Indonesia merupakan sasaran ekspansi Jepang,
seperti halnya Belanda sasaran Jerman; dan bahwa pertahanan bersama melawan ambisi-ambisi
negara-negara Poros di semua bidang, menuntut dilaksanakannya prinsip-prinsip demokrasi di
segala bidang, baik politik, ekonomi, sosial maupun kebudayaan. Khusus untuk Indonesia hal ini
menuntut terbentuknya dewan-dewan yang dipilih dan berlakunya prinsip pemilihan umum.
Tidak ada masalah jalan tengah, dalam arti berusaha mencari kompromi yang bisa diterima
kedua belah pihak, yang berdasar atas ketakutan terhadap perebutan kekuasaan. Strategi ini
berdasarkan teori mengenai analisis terhadap krisis hubungan internasional (Amir menulis
banyak karangan tentang ini), dan mengenai hubungan antara negeri jajahan dan negara penjajah
yang merupakan bagian integral daripadanya. Tetapi strategi ini pun dapat dipandang sebagai
sekedar langkah taktis belaka, suatu sikap mundur untuk mengurangi tuntutan kemerdekaan.
Maka karenanya lalu dapat dituduh sebagai meninggalkan prinsip-prinsip para pendiri
pergerakan, bertekuk-lutut di depan kesulitan perjuangan anti kolonialisme, dan de facto
memang melakukan kerjasama dengan kaum penjajah. Tuduhan pokok terhadap Amir sebagai
"intel Belanda" oleh lawan-lawannya dari segala pihak, kaum ultra-nasionalis ataupun bukan,
sedikit banyak bersumber dari penafsiran mereka yang demikian itu.

Strategi front persatuan untuk membela dan mengembangkan hak-hak dan prinsip-prinsip
demokratis itu mengingatkan pada apa yang ketika itu diajukan dengan nama "Front Rakyat"
oleh kaum kiri, khususnya oleh partai-partai yang dekat dengan Komunis Internasional. Strategi
ini terjadi khususnya di Eropa, tetapi juga di seluruh bagian dunia lainnya. Perkataan Belanda
"Volksfront" (front rakyat) muncul dalam penerbitan-penerbitan Gerindo, dan tetap tertera dalam
kosakata politik bangsa Indonesia selama satu dasawarsa, yang diberi arti menurut pandangan
masing-masing partai tentangnya. Konon untuk membuktikan dirinya sebagai komunis sejak
lama itu, konon Amir dalam tahun 1948 pernah mengatakan bahwa inspirasi garis politik
Gerindo ditariknya dari analisis Komunisme Internasional. Memang Perhimpunan Indonesia di
Negeri Belanda pun sejak tahun 1936 selalu berbicara tentang strategi demikian. Dan ketika
dalam tahun 1936 itu juga Dr. Sutomo berkunjung ke Eropa, Perhimpunan Indonesia
mengajukan usul kerjasama dengan Parindra yang didirikan setahun sebelumnya oleh Dr.
Sutomo tersebut. Bagaimanapun juga strategi yang ditempuh dan dikembangkan oleh Gerindo
dilaksanakan juga oleh kaum aktivis, yang pada umumnya termasuk golongan kiri (seperti
mereka sendiri menyatakannya). Dari sudut intelektualitas mereka berbeda-beda, tetapi
semuanya mempunyai kebutuhan yang sama untuk memulai lagi dari awal. Front Rakyat sebagai
bentuk resam persatuan nasional, baik jika kita berbicara tentang Gerindo maupun tentang suatu
aliansi dengan Gerindo terlibat, merupakan suatu pihak yang mendapat solidaritas demokrasi
dari gerakan internasional.

Pemerintah kolonial dan Negeri Belanda tidak sedikit pun mengacuhkan Gerindo. Satu-satunya
mitra bicara yang diacuhkannya ialah Parindra, walaupun apa yang dinamakan pemimpin-
pemimpin tradisional itu tidak mempunyai wibawa di kota-kota. Pada pemilihan dewan kotapraja
tahun 1938, "pribumi" yang berhak ambil bagian (sekitar 2% penduduk kota-kota bersangkutan)
sebagian besar diwakili oleh orang Parindra. Pemerintah tidak mau memperluas jumlah pemilih
pribumi, karena hal ini akan membuka kesempatan bagi Gerindo untuk mengajukan calon-
calonnya. Juga pemerintah tidak bersedia memberi kursi pada Gerindo di dalam Volksraad,
dengan jalan menunjuk salah seorang dari pimpinan mereka, seperti yang lazim berlaku bagi
organisasi-organisasi yang dipandangnya sebagai "loyal". Terbentuknya badan-badan
perwakilan, khususnya Parlemen sejati untuk menggantikan Volksraad yang ada, menjadi
tuntutan pokok dari komite penghubung di mana Gerindo duduk di dalamnya, seperti yang
dilakukan oleh komite pusat pendukung petisi Sutardjo (1936) dan GAPI, Gabungan Politik
Indonesia (1939).

Sesungguhnya antara Parindra dan Gerindo, sebagai elemen-elemen pokok dalam setiap
kesatuan nasional itu, pada dasarnya saling bertentangan terutama dalam sepak-terjang
ketimbang prinsip. Pertentangan itu bertolak dari analisis mereka tentang situasi internasional,
dan dalam pemahaman mereka yang bertolak belakang dalam hal konflik Sino-Jepang. Walhasil
pendirian mereka dalam hal kedudukan orang-orang yang oleh hukum Belanda digolongkan
sebagai "bangsa Timur Asing" (dalam hal ini Cina) di tengah masyarakat dan lembaga-lembaga
Indonesia juga saling bertentangan. Bagi Parindra hanyalah mereka yang oleh Belanda
digolongkan sebagai "pribumi" itulah yang Indonesia sejati. Baik ke dalam maupun ke luar
Parindra berpandangan anti Cina. Karena itu pula Parindra mendapat cap sebagai pro-Jepang,
dan dalam pada itu penerbitan-penerbitan mereka pun umumnya memperlihatkan sikap yang
sama sekali tidak kritis terhadap fasisme, termasuk fasisme Eropa. Dari sudut ini barangkali
Gerindo lebih mewakili perasaan umum di kalangan kaum nasionalis Indonesia saat itu.

Bagaimanapun juga Amir, yang sebagai ahli hukum dan jurnalis bekerja bersama-sama orang
Cina rekan-rekannya, mempunyai konsep tentang kewarganegaraan Indonesia atas dasar tempat
kediaman dan bukan darah, seperti sudah dikemukakan juga oleh Tjipto Mangunkusumo dan
sementara tokoh lainnya. Konsep kewarganegaraan yang demikian ini diajukan dalam kongres
ke-2 Gerindo tahun 1939. Apakah konflik ini, yang diperburuk oleh wakil-wakil Gerindo dan
Parindra dalam sekretariat GAPI yaitu Amir dan Thamrin, yang mengakibatkan terjadinya krisis
antara kedua partai bersangkutan? Sehingga pimpinan mereka masing-masing berusaha
mengatasinya dengan mengganti Amir dengan Gani dan Thamrin dengan Sukardjo? Ataukah
semata-mata karena pertentangan antara kedua tokoh itu, sehingga masing-masing saling caci-
mencaci?

Sudah dalam bulan Juli 1940 suasana di Jakarta menjadi terasa sangat tegang. Ketika itu Negeri
Belanda sudah diduduki Jerman, dan pemerintahnya pun sudah mengungsi ke London. Konflik
antara Amir dan Thamrin terjadi untuk pertama kali pada waktu menghadapi pemilihan dewan
kota praja yang direncanakan tanggal 12 Juni. Dalam awal bulan Mei Gerindo mengusulkan
Amir sebagai calon bersama GAPI, dan semua partai menerimanya kecuali Parindra (Partai
Indonesia Raya). Karena pemilihan ini untuk dewan kota praja Jakarta, maka yang menentang
Amir sebagai calon bersama GAPI itu pun pimpinan Parindra Jakarta, yaitu Thamrin. Amir
tampil sebagai calon koalisi berhadapan dengan calon Parindra, dan mendapat sepertiga jumlah
suara. Perolehan suara yang kecil ini, sekitar seribu suara, merupakan pertanda yang tidak baik.
Apakah benar karena Thamrin berusaha menghalangi terpilihnya Amir, yang dipandangnya
dapat menjadi saingan berbahaya baginya di dalam dewan? Komunike Gerindo tentang
penarikan Amir dari pengurus GAPI menyebut usul Amir, tentang langkah yang harus diambil
berkaitan dengan didudukinya Belanda oleh Jerman, tetapi usul itu ditolak GAPI. Bagaimana isi
setepatnya usul itu tidak dijelaskan. Tetapi apakah memang demikian? Dalam bulan Juni hanya
Parindra yang menolak mendukung pencalonan Amir dalam pemilihan dewan kota. Tetapi
kemudian perhatikanlah, pada pemilihan untuk pimpinan baru Gerindo, baik Amir sebagai ketua
lama maupun Wikana dan bahkan sesudah penghitungan kembali suara ternyata juga Adam
Malik, termasuk tokoh-tokoh yang tidak lagi dicalonkan. (Wikana dan Adam Malik, kedua-
duanya anggota pimpinan partai). Pemilihan ini dilakukan melalui surat menyurat, oleh karena
adanya pelarangan hak berkumpul berkenaan dengan dilakukannya keadaan darurat. Menurut
komunike yang ditandatangani Gani dan agak membingungkan Gerindo, hal itu terjadi atas
permintaan mereka yang bersangkutan sendiri. Dalam bulan Juni Amir dan Wikana diinterogasi
lama oleh polisi politik, untuk menyidik pamflet-pamflet komunis yang mereka dapati di daerah
Bandung. Isi pamflet itu sendiri tidak diumumkan. Apakah Amir dan Wikana sudah masuk
dalam jaringan perjuangan bawah-tanah? (Gerindo memang merupakan partai pelarian aktivis-
aktivis dari semua partai yang terlarang). Apakah karena inilah mereka sendiri memutuskan, atau
atas permintaan jaringan tersebut, menarik diri dari kehidupan umum agar tidak menarik
perhatian polisi? Kepada orang-orang yang dekat dengannya Amir mengatakan, dalam interogasi
itu ia diperingatkan pada syarat-syarat pembebasannya lima tahun yang lalu, dan diancam bisa
segera dibuang ke Digul atau karena pimpinan harian Gerindo mulai menjadi panik, di tengah-
tengah "keadaan darurat" dan menghadapi pada satu pihak konflik dengan Parindra dan pada lain
pihak pemeriksaan polisi, yang kedua-duanya terpusat pada diri Amir? Pendamping Gani waktu
itu ialah Sartono, tokoh yang sesudah Sukarno dipenjara dalam tahun 1929 telah membubarkan
PNI.

Namun kenyataan yang terjadi ialah, bahwa Amir yang sampai bulan Juni 1940 masih ketua
Gerindo, dalam bulan Juli tidak lebih selain sebagai anggota biasa. Dalam bulan September ia
meninggalkan pekerjaan sebagai pengacara dan memasuki lapangan pemerintahan. Dalam
hubungan ini Amir sama sekah bukan saja sekedar seorang militan angkatan lama, tetapi juga
salah satu dari sebagian besar calon-calon pimpinan pemerintahan sipil Indonesia merdeka kelak.
la bekerja pada bagian ekspor Departemen Perekonomian yang dikepalai H.J. van Mook, yang
pengangkatannya pada jabatan ini mendapat sambutan hangat dari Sanusi Pane di dalam
Kebangoenan (ia menyebutnya sebagai "seorang merah"). Dalam tahun 1945 kelak H.J. van
Mook kembali ke Jakarta, sebagai Letnan Gubernur Jenderal untuk berusaha membangun
kembali kekuasaan Belanda. Bahwa ia menduduki jabatan demikian, dan dipimpin atasan yang
demikian pula, menjadi bukti tambahan tentang keterlibatan Amir yang ultranasionalis itu
dengan kolonialisme. Dalam tahun 1940 Amir menjelaskan, bahwa dalam asas-asas Gerindo
tidak ada sepatah kata pun yang melarangnya bekerja sebagai pegawai negeri. Pekerjaan dalam
bidang ekspor justru akan memberi kesempatan baginya, untuk memperdalam pengetahuannya
tentang perekonomian kolonial dan hubungan-hubungan perekonomian internasional.

Tetapi sesungguhnya menarik diri dari kehidupan politik tidak mungkin. Kalangan diskusi
Kristen mengundangnya hadir pada pembahasan-pembahasan yang tidak selalu tentang teologi.
Amir seorang ahli dalam pembentukan dan pengorganisasian partai. Gerindo tampaknya tidak
lagi menghendaki dirinya, bahkan juga sesudah keadaan darurat perang dicabut. Partai cabang
Jakarta usul, agar dia dan Wikana duduk lagi dalam komite eksekutif partai, tetapi usul ini tidak
diterima kongres bulan Oktober 1941. Beberapa hari kemudian ia mengikuti konperensi tahunan
Perhimpunan Misi, yang antara lain membahas masalah pembentukan Partai Kristen Indonesia.
Tidak diketahui, apakah kehadirannya pada konperensi ini berkaitan dengan kekalahannya di
dalam Gerindo. Tampaknya Amir tidak melihat adanya kebutuhan mendesak untuk mendirikan
partai Kristen, kecuali seandainya ada partai Islam yang kuat, dan yang akan mengancam
kebebasan beragama. Berita-berita sangat singkat dalam pers berbahasa Belanda seperti menabur
sekam pada bara api. Polemik berkecamuk sepanjang satu bulan penuh, memenuhi seluruh
halamanhalaman pada kebanyakan harian-harian berbahasa Indonesia. Dalam pada itu golongan
Islam menolak pendapat, bahwa adanya partai Islam akan membahayakan bagi kebebasan
beragama. Sedangkan dari kalangan kaum sekuler tidak seorang pun mengerti, mengapa urusan
mempertahankan kemerdekaan beragama harus dilakukan oleh partai-partai agama, dan terutama
tidak dapat diterima bahwa pandangan demikian dari seorang seperti Amir. Ketika Gani
mengundangnya untuk menjelaskan masalah tersebut pada pimpinan Gerindo, Amir menyatakan
bahwa ia semata-mata menyumbangkan pendapatnya dalam suatu pertukaran pikiran tanpa
mengaitkan dirinya dengan sesuatu kedudukan apa pun. Maka Gerindo pun menyatakan,
masalahnya telah selesai. Tetapi perdebatan itu masih terus berbekas sampai tahun 1945. Sejak
berdirinya Masyumi memandang Amir sebagai salah seorang musuhnya yang paling jahat.
Kenyataan asal-usul pribadinya yang dari keluarga Islam justru memperburuk persoalan.
Hanya beberapa bulan sesudah perselisihan itu Amir berusaha, setelah dihubungi oleh anggota-
anggota kabinet Gubernur Jenderal, menggalang semua kekuatan anti-fasis untuk bekerja
bersama dinas rahasia Belanda dalam menghadapi serbuan Jepang. Rencana itu tidak banyak
mendapat sambutan. Sesama aktivis rekan-rekannya masih belum pulih kepercayaan mereka
terhadapnya, yang sudah hilang sejak tahun 1940 itu.

Selama paroh kedua tahun 1942 Amir, mewakili organisasi-organisasi Kristen, menyusun
pranata-pranata peralihan yang dipaksakan oleh Jepang. Pada bulan Januari 1943 ia tertangkap,
di tengah gelombang-gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini dapat
ditafsirkan sebagai terbongkarnya jaringan suatu kelompok terorganisasi, yang sedikit banyak
mempunyai hubungan dengan Amir. Terutama dari sisa-sisa hidup kelompok inilah Amir, kelak
ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat. Tetapi
barangkali kelompok ini baru terbentuk belakangan, sesudah mereka di dalam penjara. Namun
demikian identifikasi penting kejadian Surabaya itu, dari sedikit yang kita ketahui melalui
sidang-sidang pengadilan mereka tahun 1944, hukuman terberat dijatuhkan pada bekas para
pemimpin Gerindo dan Partindo Surabaya. Hal ini barangkali dapat diartikan, bahwa penerimaan
mereka terhadap gagasan front anti-fasis dan terhadap pembentukan persekutuan dengan Belanda
anti-poros, mempunyai hubungan dengan pekerjaan politik Musso dalam tahun 1936.

IV

PERISTIWA Madiun yang membersihkan FDR (Front Demokrasi Rakyat) pada akhir 1948, dan
Peristiwa 3 Juli 1946 yang memusnahkan Persatuan Perjuangan, bagaimanapun juga terjadi
menurut pola yang sama. Seperti dikatakan, jika sejarah berulang maka cenderung menjadi
dagelan. Tetapi dalam hal ini bukan menjadi dagelan, melainkan suatu malapetaka dengan ribuan
korban yang luasnya sama sekali berbeda. Pemerintahan tandingan yang buru-buru disusun di
Madiun, barangkali bisa dipandang juga sebagai salah satu "Komune" dalam sejarah revolusi-
revolusi abad ke-20, yang sedikit-banyak mengingatkan kita pada Komune Paris tahun 1871.
Dalam banyak hal Hatta mengingatkan kita pada Thiers. Perebutan meriam-meriam Garda
Nasional di Paris tahun 1871, di bawah tatapan rasa puas orang-orang Prusia, serupa dengan
dilucutinya pasukan rakyat Pesindo tahun 1948, demi ketenteraman hati Amerika. Tetapi
semuanya itu hanyalah sekedar analogi-analogi.

"Peristiwa" tahun 1946 seperti halnya "peristiwa" tahun 1948. Yaitu terjadi sebagai akibat
pemerintah menolak mentoleransi terhadap setiap oposisi, yang berusaha berbicara kepada
rakyat secara langsung. Kaum oposisi lalu bertindak menurut kepentingan sendiri, dan bukannya
berunding dalam ruang tertutup bersama pemerintah. Pada setiap kesempatan pemerintah
menegaskan, bahwa pengakuan internasional terhadap Indonesia merupakan pertaruhan. Artinya,
pengakuan itu hanya akan diperoleh jika pemerintah dapat membuktikan adanya dukungan luas,
yang berupa kemampuannya menguasai situasi di dalam negeri. Dalam pada itu perlu
dikemukakan bahwa pemilihan umum, sebagai bukti keabsahan yang diterima Konstitusi satu-
satunya, hanya dapat berlangsung dalam suasana dalam negeri yang damai dan aman. Belanda
selalu berbicara tentang "rust en orde". Itulah alasan tetap suatu "pemerintah yang kuat", yang
saling diperolok-olokkan oleh kedua belah pihak. Pemerintah mengatakan posisinya dibikin
lemah oleh cara-cara oposisi, dan oposisi mengatakan bahwa politik pemerintah yang mencontoh
Belanda itu suatu pertanda kelemahan. Pemerintah mengatakan konsolidasi kekuasaan,
sedangkan oposisi mengatakan mempercepat jalannya Revolusi. Akibatnya ialah konfrontasi.

Dalam bulan Maret 1946 Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin dan Menteri Dalam Negeri
Sudarsono, kedua-duanya tokoh penting Partai Sosialis, menemukan alasan bersama bahwa ide
"masa genting" untuk memungkinkan penahanan Tan Malaka itu sama sekali tidak sah. Tan
Malaka, kalau bukan pemimpin Persatuan Perjuangan yang sebenarnya setidak-tidaknya secara
intelektual, adalah tokoh penentang politik berunding dengan Belanda. Walaupun merupakan
suatu masalah penting namun barangkali tidak pernah diketahui, mengapa pada 19 September
1948 Sukarno memutuskan untuk mengubah kejadian-kejadian yang terjadi di Madiun tersebut
menjadi suatu perang saudara, yaitu dengan menyatakannya sebagai proklamasi berdirinya
sebuah Republik Soviet di sana. Padahal proklamasi seperti itu tidak seorang pun pernah
mendengarnya, begitu juga tidak seorang pun berminat membuktikan kebenaran kabar yang
diucapkannya itu.

Terlebih-lebih lagi, dalam dua kejadian tersebut, pemerintah pun telah memutuskan untuk
menampakkan kemampuannya menguasai keadaan. Oleh karena kejadian-kejadian ini
berlangsung di bawah pengawasan pengamat-pengamat yang sangat kuat, yang dukungan
mereka sangat diperlukan, yaitu Inggris untuk kejadian tahun 1946 dan Amerika untuk kejadian
tahun 1948. Bahwa drama kecil tahun 1946 itu telah menjadi drama besar tahun 1948, barangkali
bisa diterangkan dengan perbedaan besarnya taruhan untuk dua kejadian itu masing-masing.

Perpindahan alat-alat pemerintah yang penting ke Yogyakarta pada tahun 1946, sementara
Sjahrir tetap berada di Jakarta, menyebabkan peranan Amir sebagai Menteri Pertahanan menjadi
lebih menonjol, dan praktis menjadi tokoh kedua pemerintah secara tidak resmi. Oleh karenanya
dialah juga dan bukan Perdana Menteri, Menteri Dalam Negeri atau Menteri Kehakiman, yang
dipandang sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap penahanan Tan Malaka dan kawan-
kawannya. Maka ketika ia harus mundur dalam tahun 1948, orang-orang yang telah
meragukannya itu pun, segera melihat datangnya saat pembalasan.

Persaingan antara pemerintah dengan Persatuan Perjuangan (yang semula juga disebut sebagai
"Volksfront", suatu referensi sejarah yang diikuti juga oleh kaum sosialis) tidak banyak
bersumber pada analisis yang bertentangan (menurut wacana Persatuan Perjuangan, dengan
meminjam kata-kata Lenin, tidak ada "analisis kongkret tentang situasi kongkret"), melainkan
lebih banyak pada rumusan-rumusan yang berbeda mengenai revolusi, demokrasi, negara, dan
Indonesia. Sehingga pemerintah, seperti yang pernah diperbuat Hatta tahun 1945 sesudah
terjadinya berbagai peristiwa, tergerak untuk menjawab slogan-slogan mereka: revolusi bukanlah
sekedar konflik bersenjata, demokrasi bukanlah pembagian kekuasaan terus-menerus. Berbicara
tentang perjuangan diplomasi Amir, dalam bulan November 1945 mengatakan, bahwa Indonesia
harus menempuhnya jika ingin kemerdekaannya diakui pihak Belanda. Bagi para pendukung
"perjuangan" kesempatan menjadi terbuka untuk membantah kata-kata yang diucapkan Amir
tersebut. Walaupun merupakan kata-kata biasa di dalam bahasa militan saat itu, bagi lalu
digunakan untuk mempertentangkan kata "perjuangan", menurut artinya yang positif, dengan
kata "diplomasi", menurut artinya yang negatif. Dengan demikian kata "perjuangan" lalu
mendapat arti absolut, yang dengan cara apa pun tidak dapat dirinci-rinci.
Dalam gayanya sendiri represi juga merupakan persoalan semantik, oleh karena pasal 28 Undang
Undang Dasar berbicara tentang kemerdekaan berserikat, kemerdekaan berkumpul, dan
kemerdekaan mengeluarkan pikiran. Benar bahwa komunike Jaksa Agung Kasman
Singodimedjo 16 Januari 1946 telah memberikan penjelasannya tentang macam-macam
kemerdekaan itu. Komunike itu memperingatkan para pembacanya, dalam melaksanakan
kemerdekaan tersebut, tidak mengabaikan akibat- akibat yang terkandung di dalamnya. Di atas
segala-galanya keamanan dan ketertiban itulah yang harus diutamakan.

Amir yang, sesuai dengan wewenangnya, dalam bulan April 1946 dibebani tugas sulit untuk
meredakan ketegangan yang memuncak di Sumatra, tentang penahanan-penahanan yang terjadi
di Jawa dalam bulan sebelumnya menerangkan di Medan sebagai berikut. "Marilah kita jadikan
sebagai semboyan bersama: Bagaimanapun pemerintah itu, selama masih pemerintah kita, harus
kita taati dan kita dukung seratus persen". Kata-kata ini diucapkan seorang Amir yang sama,
yang dua bulan kemudian mengucapkan pidatonya di depan para utusan Kongres Pemuda ke-2 di
Yogyakarta. Di situ ia menyerukan agar para pemuda meneruskan revolusi yang telah mereka
mulai, dan tidak membiarkannya jatuh ke tangan para calo-calo politik dan koruptor yang
berjiwa dari jaman lain. Pemerintah memerlukan semangat para pemuda... Salah satu resolusi
Kongres dirumuskan berdasarkan kata-kata tersebut: "Tugas para pemuda ialah memperbarui
semua kekuatan, agar mereka dapat bertindak sesuai dengan tuntutan Revolusi. Dalam masa
sekarang ini sikap yang korektif-konstruktif merupakan sikap yang paling sesuai dengan
semangat pemuda. Korektif berarti berani mengubah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan
kenyataan. Konstruktif oleh karena kita perlu membangun dan menempatkan kekuatan-kekuatan
yang menegakkan dan mempertahankan Negara".

Yang sukar ialah bagaimana menemukan cara yang bisa mempertemukan antara Negara dan
Revolusi, antara stabilitas dan perubahan, dan antara yang lama dan yang baru. Ide tentang
"sikap korektif-konstruktif" agaknya dirumuskan untuk menentang sikap kaum oposisi yang
destruktif. Masalahnya ialah, bahwa dengan mengirim pasukan untuk melawan "PKI-Musso"
dalam bulan September 1948, seperti dikatakannya sendiri, Sukarno menggunakan kata-kata
"tindakan korektif" melawan kaum pengacau yang mengancam ketertiban umum dan keamanan
nasional. Sementara itu mereka yang dikecamnya, antara lain termasuk Amir dan Suripno,
membela diri dengan mengatakan justru mereka telah melakukan "tindakan korektif demi
menyelamatkan kemerdekaan tanah air. "Koreksi" itu tidak secara "konstruktif". Sistem dan
kritiknya satu sama lain saling berlawanan.

Justru di Kementerian Pertahananlah, dalam usaha menyusun tentara rakyat nasional, Amir jelas
dapat menilai lebih baik betapa sulitnya mengintegrasikan Revolusi dengan aparatur Negara. la
memang dalam posisi untuk menarik pengalaman Revolusi Prancis, ketika suatu "amalgam"
antara antusiasme pemuda dengan kemampuan militer dari bekas anggota pasukan kerajaan
melebur dalam "levée en masse". Model Tentara Merah yang tidak dikenal umum, pun Amir
telah mengenalnya. Tetapi ia hampir tidak mempunyai kesempatan untuk menggunakannya.
Ketika pada 14 November 1945 ia ditunjuk memangku jabatan Menteri Pertahanan, sebagai
entitas administratif kementerian ini sebenarnya tidak ada. Lagi pula pada 11 November 1945 di
Yogya diselenggarakan konperensi, yaitu di markas besar barisan kelasykaran, untuk memilih
panglima tertinggi dan juga menteri pertahanan. (Pasukan Sukarela yang terdiri dari berbagai
pasukan yang bergabung bersama-sama, di tengah suasana vakum kekuasaan itu, dan
menyatakan diri sebagai tentara pemerintah). Sebagai menteri pertahanan terpilih saat itu ialah
Sultan Yogya, yang berperanan selaku pelindung konperensi tersebut. Amir yang baru diangkat
tiga hari sesudah itu tentu saja berada dalam kedudukan yang sulit. Bagaimanapun golongan
tentara pastilah tidak pernah menerima, jika mereka tidak diberi hak untuk memilih menteri
pertahanan mereka sendiri.

Bagi Amir tentara adalah batu-alang utama. Inilah juga penyebab kekalahannya secara politik
dan militer dalam bulan Juli 1947. Bahkan sesudah kementeriannya pindah ke Yogyakarta pun,
bulan Januari 1946, hubungannya dengan markas besar angkatan perang tetap sulit. Tiba-tiba
golongan tentara menghadapi masalah dalam gabungannya dengan lasykar-lasykar lain, yang
telah tumbuh di dalam keadaan yang berbeda dan tidak mau ikut serta bersikap memusuhi
Kementerian Pertahanan. Pembentukan badan koordinasi kelasykaran, Biro Perjuangan, di
bawah kementerian pertahanan dan bukannya markas besar angkatan perang, ditanggapi oleh
golongan tentara sebagai usaha Menteri Pertahanan untuk membangun pasukan pribadinya. Ide
"tentara masyarakat" yang merupakan ide sentral bagi politik militer, dan yang di dalam sejarah
Prancis dilambangkan melalui pertempuran di Valmy, tidak pernah bisa berkembang menjadi
semangat korps di kalangan tentara Indonesia. Bersamaan dengan perjalanan waktu justru ide
"dwifungsi" yang telah meresapinya, dan mengangkatnya menjadi golongan "supra-masyarakat".
Segala daya-upaya Kementerian Pertahanan untuk memberi jiwa politik pada tentara,
menanamkan ide "kemasyarakatan", membuang paham korporatisme, patronase, faksionalisme
dan, meminjam kata-kata Jenderal A.H. Nasution sendiri, segala macam "vertikalisme" memang
telah selalu dirintangi oleh markas besar angkatan perang. Terbentuknya Staf Pendidikan Tentara
di dalam Kementerian Pertahanan dalam bulan Januari 1946, dengan hebat telah diboikot oleh
berbagai kesatuan tentara. Alasan pemboikotan mereka ialah bahwa pemerintah, dalam hal ini
menteri yang bersangkutan atau pihaknya, hendak berusaha mengindoktrinasi tentara, dan
mengganti fungsi perwira tentara dengan komisaris politik.

Sejak pengangkatan Sjahrir, tuntutan Partai Masyumi yang tak kunjung henti untuk posisi
puncak dalam kekuasaan dan disingkirkannya Amir, berkat bantuan Hatta akhirnya berhasil.
Ketika semuanya itu telah terjadi, angkatan muda di dalam partai ini pun beramai-ramai di depan
kantor-kantor pemerintah menyerukan yel yel "Allahu Akbar, Kabinet Amir bubar". Dan sulit
bagi Amir untuk menempatkan dirinya dalam oposisi. Sejak pemerintah republik yang pertama
terbentuk, ia terus-menerus menjadi menteri. Lebih dari itu dialah juga yang, dalam saat-saat
sulit, telah selalu menegaskan tentang perlunya menyatukan kekuatan di belakang pemerintah.
Pada waktu Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) yang selalu mempunyai hubungan istimewa
dengan Amir, mengorganisasi demonstrasi besar-besaran menentang penyingkiran Amir dari
kedudukannya itu, ia justru membantu Hatta untuk melicinkan jalannya saat peralihan. Bersama
Hatta ia pergi ke Sumatra selama beberapa hari. Di depan rapat pertama FDR (Front Demokrasi
Rakyat) di Solo tanggal 26 Februari 1948, Amir mengritik pemerintah baru lebih banyak dari
wataknya yang otoriter ketimbang dari program politiknya. Satu bulan kemudian, ketika harus
memberi kesaksian di depan pengadilan terhadap para pengatur "komplotan" 3 Juli 1946, Amir
tetap mempertahankan pendiriannya seperti yang telah dikemukakan pada saat peristiwa itu
terjadi. Namun secara pribadi tanpa bimbang ia mengatakan, bahwa masalahnya berkenaan
dengan pemberian jaminan kepada pihak Inggris, yang ketika itu bertindak sebagai juru damai
antara pihak Indonesia dan Belanda. Janganlah kepada Inggris diberi kesempatan untuk
memenangkan pihak Belanda, dengan berdasar pada dalih "bahaya kaum ekstremis". Dengan
kata-kata lain, sedikit banyak merupakan ulangan dari peristiwa bentrokan bersenjata di
Surabaya, yang terjadi dalam bulan-bulan Oktober dan November 1945.

Perubahan pendirian 180 derajat yang dialami Amir itu berkaitan dengan suasana ketegangan
Timur-Barat yang memburuk, dan perkembangan peranan diplomasi Amerika di Indonesia.
Barangkali memburuknya hubungan Timur-Barat tersebut juga merupakan sebab-musabab
jatuhnya pemerintah Amir, yang di dalamnya terdapat unsur-unsur partai komunis itu. Sejak
bulan Oktober 1947 sejumlah lusinan penasihat dan wartawan Barat tiba di Indonesia, bersama-
sama dengan para anggota Komisi Jasa-Jasa Baik PBB, yang menyebarkan seruan pembasmian
kaum komunis, dan sejalan dengan itu mendesak para pengambil wewenang politik di Indonesia
untuk segera mengambil tindakan. Dari bulan April 1948 dan seterusnya kampanye anti FDR
yang luar biasa kasar dilancarkan oleh koran-koran Masyumi dan GRR (Gerakan Rakyat
Revolusioner), suatu organisasi berkecenderungan teroris yang tumbuh dari tubuh Persatuan
Perjuangan. Saat inilah ketika Amir mulai ditetapkan sebagai pengkhianat par excellence, yang
pada masa kanak-kanaknya mengkhianati Islam untuk masuk Kristen agama penjajah, dan yang
dalam masa mudanya meninggalkan nasionalisme untuk bekerjasama dengan Van Mook. Saat
inilah juga ketika Amir, melihat Mao Ze-dong di Cina hampir memperoleh kemenangan dan
Vietnam masih terus dalam perlawanan (yang di Indonesia, setelah perjanjian Fontainebleau,
dikecam luas), mulai berpikir tentang kemungkinan menempuh jalan perjuangan lain. Untuk itu,
is berpikir, kiranya akan lebih baik jika ia pun ikut melibatkan diri di dalam pemerintahan dan
negerinya.

TIDAK seperti Sukarno, Hatta dart Sjahrir, Amir tidak banyak menulis. Hanya beberapa
karangan pendek pernah ditulisnya di sana-sini. Ia tidak meninggali autobiografi, memoar,
renungan, kumpulan pidato, dan catatan-catatan. Pihak keluarganya menyebut-nyebut tentang
adanya sebuah buku harian, yang diduga selamat dari penggrebegan di rumah tinggalnya di
Yogya dalam bulan September 1948, tetapi kemudian buku itu entah di mana. Ia memang
seorang orator yang, agaknya, tidak pernah menyiapkan sebelumnya pidato-pidatonya. Para
wartawan setidak-tidaknya tidak pernah menerima salinan pidato-pidatonya, sehingga masing-
masing berbeda-beda dalam pemberitaannya. la seorang orator besar yang, menurut semua saksi,
bisa disejajarkan dengan Sukarno. Tetapi menurut Surjono, yang bekerja pada bagian pers
Pesindo, sebagai orator Amir tidak mempunyai gaya yang sama seperti Sukarno yang
mendasarkan kiat pidatonya pada irama bahasa dan dampak suaranya. Gaya pidato Amir terletak
pada permainan citra-citra. Jika bicara tentang Surabaya dipakainya kata-kata: kota Kalimas,
kota Tanjung Perak, kota Gang Ringgit, kota kemelaratan. Laporan Belanda tahun 1933
menggambarkan Amir sebagai seorang orator yang sangat brilyan, yang suka membumbui
penalaran-penalarannya dengan humor sarkastis, sehingga karenanya ia menjadi sangat populer.

Pemerintah Belanda menaruh hormat terhadapnya. Barangkali karena citra tokoh muda Kristen
ini menjanjikan sebagai juru khotbah pada kemudian hari, suatu gema kerinduan pada Politik
Etis tentang konvergensi Timur-Barat. Dalam suratnya tertanggal 10 November 1933, Gubernur
Jawa Barat membandingkan antara Yamin dengan Amir. Tentang yang pertama dilukiskannya
sebagai anak-panggung yang hingar-bingar dan demagog, ekstremis di gedung kesenian, pribadi
yang tak berwatak, tak berpengaruh dan tak punya minat, yang bisa ditinggal sendirian tanpa
khawatir. Adapun Amir, seorang ekstremis dengan sepenuh hati, tegas, yakin dan mantap, yang
bagaimanapun juga harus ditahan. Pendapat Gubernur itu agaknya bertolak dari alasan, karena
Amir sebagai redaktur, menolak menyebut nama pengarang anonim sebuah artikel berjudul
"Massa Actie" yang diterbitkannya. Sementara itu, walaupun Yamin sendiri tidak pernah
mengakui, semua orang tahu dialah yang menulisnya. Penolakan Amir itu berakibat pelarangan
baginya untuk menulis dan juga memimpin sebuah penerbitan. Sekali lagi, dalam bulan Juli 1948
lima belas tahun kemudian, barangkali dengan harapan samar-samar untuk menarik Amir
kembali, harian Belanda Nieuwsgier menulis sebuah karangan. Ditulisnya bahwa ia tidak seperti
Sjahrir, yang sudah merasa senang dengan berada di tengah kalangan intelektual dan menyukai
menulis di atas segala-galanya. Tetapi Amir memang seorang pemimpin rakyat yang senang
berbicara di tengah-tengah massa, dan juga tabu bagaimana berbicara dengan mereka itu.

Sebuah dokumen NEFIS (Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service), jawatan


rahasia yang dipimpin Van Mook, tertanggal 9 Juni 1947 menulis tentang Amir, "ia mempunyai
pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut". Belanda mungkin
tahu bahwa kultus terhadapnya di kalangan Pesindo berasal dari cerita para tahanan sesamanya,
bagaimana ia menghadapi siksaan fisik dan moral yang dijatuhkan Jepang terhadapnya.
Diceritakan, misalnya, bagaimana ia tertawa ketika para penyiksa menggantungnya dengan kaki
di atas...

Dalam salah satu dari ceramahnya yang terakhir (Choises and Circumstances, 1988)
Soedjatmoko berbicara tentang Amir: "orang yang tinggi pengetahuannya, dengan kehangatan
dan pesona pribadi yang luar biasa". Para penginjil yang dalam tahun 1941 pernah minta bantuan
kepadanya mengatakan, bahwa mereka memerlukan seseorang yang "berpikir horisontal".
Orang-orang yang pernah mengunjungi Amir di rumahnya di Menteng Pulo, sebuah kawasan di
Jakarta yang sangat sederhana, teringat pada sambutannya yang langsung dan lugas. Sesama
pelajar teman-temannya dari Gymnasium di Haarlem juga mengenangnya sebagai seorang yang
sangat senang bergaul.

Membaca Hatta dan Sjahrir orang akan diberi kesan yang sama sekali berbeda. Seorang ambisius
yang mentah, tidak berwatak, tidak berkeyakinan, yang gampang berganti pikiran seperti
berganti baju. Seorang yang berangasan dan sewenang-wenang. "la. suka memukuh istrinya",
kata Hatta (Bung Hatta Menjawab,1978: 23).

Mereka yang tidak percaya bahwa ia telah diperdayakan oleh setan, karena sedikit banyak dia
sendiri pun setan, akan mengatakan: "Lihat dalam tahun 1927 ia kembali dari Belanda. Padahal
di sana ia bisa belajar hukum, tetapi mengapa ia tidak melakukannya? Ia kembali tahun 1927,
mengapa justru tahun ini? Karena Partai Komunis Indonesia baru saja dipukul hancur, dan ia
mendapat mandat dari Partai Komunis Belanda untuk membangunnya kembali. Partai Komunis
Indonesia yang baru bukanlah partainya Musso, tetapi partainya Amir."

Hanyalah pada medan angan-angan, legenda hitam menjadi sangat dekat pada legenda
keemasan: Amir Sang Pembangun.

oo0oo
Ikhtisar Riwayat Amir Sjarifuddin2)

27 April 1907: Hari bulan lahirnya Amir Sjarifuddin di Medan, menurut catatan yang disimpan
keluarga. Ia anak sulung Djamin gelar Baginda Soripada (lk. 1885-1949) dari marga Harahap,
dengan Basunu (lk. 1890-1931) dari marga Siregar. Dua marga ini termasuk dalam golongan
masyarakat Batak Angkola. Ayah Baginda Soripada, yaitu Ephraim gelar Sutan Gunung Tua (lk.
1840-1916) keturunan keluarga kepala-kepala adat dari Pasar Matanggor di Padang Lawas
Tapanuli. Ia bersekolah di sekolah yang dipimpin seorang penginjil Kristen A. Schreider di
Parausorat antara 1868-1873. Sesudah dipermandikan Ephraim meniti karir sebagai djaksa di
Sipirok dari 1875 sampai 1885. Kemudian menjadi hoofddjaksa di Padang Sidempuan sampai
1907, dan di Sibolga sampai 1909. Sesudah pensiun ia kembali ke Padang Sidempuan, ke rumah
keluarga yang masih ada di sana. Soripada, anaknya yang ke-4, pindah ke Medan. Pada saat
perkawinannya dengan seorang gadis, dari keluarga Batak yang telah membaur dengan
masyarakat Melayu-Islam di Deli, sesuai dengan hukum adat yang berlaku, ia pun memeluk
Islam.

28 Maret 1912: Soripada diangkat menjadi asisten hoofddjaksa di Medan.

1914 (?): Amir masuk sekolah dasar Belanda di Medan (ELS: Euroeeshe Lagere School).

4 Desember 1915: Berkat ayahnya Soripada mendapat kedudukan sebagai hoofddjaksa di


Sibolga, dan di sini Amir masuk sekolah dasar.

Agustus 1921: Atas undangan saudara sepupunya, Mulia, Amir datang di Leiden, yang belajar di
kota ini sejak 1911. Mulia baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad, tak lama sebelum
kedatangan Amir. Ia tinggal di rumah guru pemeluk Kristen Calvijn, Dirk Smink, dan di sini
juga Mulia menumpang.

September 1921: Amir masuk Gymnasium di Leiden.

September 1925: Pindah dari Leiden, masuk Gymnasium di Haarlem.

Maret (?) 1926: Soripada dipecat, karena pada bulan April 1925 memukul seorang tahanan di
penjara Sibolga.

25 Mei 1926: Soripada dijatuhi hukuman penjara 3½ tahun, ditambah 5 tahun tidak boleh bekerja
sebagai pegawai negeri. Hukuman itu kemudian diperingan.

1926-1927: Amir menjadi anggota pengurus perhimpunan siswa Gymnasium di Haarlem.

September 1927: Sesudah lulus ujian tingkat kedua, karena masalah keluarga, Amir kembali ke
kampung halaman, walaupun teman-teman dekatnya mendesak agar meneruskan pendidikannya
di Belanda itu. Ia masuk Sekolah Hukum di Batavia (sekarang Jakarta). Mula-mula menumpang
di rumah Mulia, direktur sekolah pendidikanguru di Jatinegara. Kemudian pindah ke asrama
pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106. Ia ditampung teman sependidikan yang beberapa
tahun lebih tua darinya, Mr. Muhammad Yamin.
Oktober 1928: Sebagai wakil "Pemuda Batak" (Jong Batak) Amir duduk sebagai bendahara
panitia penyelenggara Kongres Pemuda Ke-2 yang berlangsung di Jalan Kramat 106.

1928-1930: Pemimpin Redaksi Indonesia Raja, majalah Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia
(PPPI).

24 Mei 1929: Baginda Soripada diangkat sebagai juru tulis pemerintah daerah Batak di Tarutung.

1929-1930: Amir duduk dalam pengurus Jong Sumatranen Bond (Persatuan Pemuda Sumatera).

1931: Menjadi propagandis Partindo sejak berdirinya partai ini. Ia mulai lebih giat mengikuti
kelompok-kelompok diskusi Kristen.

14 Juni 1931: Ibu Amir meninggal menggantung diri di dapur rumahnya di Tarutung.

15 Juli 1931: Amir menjadi wakil ketua Partindo cabang Jakarta urusan penerbitan.

1931-1933: Amir menggantikan Arnold Mononutu, pendiri universitas rakyat Perguruan Rakyat,
sebagai kepala pendidikan.

Januari 1932: Ikut serta dalam Kongres ke-3 Indonesia Muda di Surabaya.

15-17 Mei 1932: Kongres ke-1 Partindo (Jakarta). Sartono dipilih sebagai ketua, dan Amir
pengurus bagian "sekolah dan pendidikan".

4-19 April 1933: Kongres ke-2 Partindo (Surabaya). Sukarno ketua, Sartono wakil ketua ke-1,
Amir wakil ketua ke-2 dan wakil ketua "komite tetap" (sekretariat politik). Ia penanggung jawab
komisi sekolah dan pendidikan. Ia membantu gerakan perlawanan terhadap peraturan pelarangan
terhadap yang dinamakan "sekolah liar".

30 Maret 1933: Terbit karangan anonim berjudul "Massa Actie" dalam Banteng, majalah
Partindo cabang Jakarta yang di bawah pimpinan Amir. Penulis karangan ini sebenarnya
Muhammad Yamin.

10 Oktober 1933: Penuntut Umum melalui Gubernur Jenderal menuntut hukuman internir bagi
Amir, yaitu pengasingan di dalam negeri.

25 Oktober 1933: Soripada dinaikkan jabatannya di kantor register Balige.

5 Desember 1933: Amir lulus ujian akhir.

7 Desember 1933: Amir dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena kejahatan pers (karangan
"Massa Actie" tersebut di atas). Ia ditahan 6 bulan di penjara Struiswijk (Salemba, Jakarta), dan
1 tahun di Sukamiskin (Bandung). Hukuman penjara ini membatalkan tuntutan hukuman internir
tersebut.
22 Maret 1935: Departemen Kehakiman minta Gubernur Jenderal agar Amir diinternir begitu
bebas dari penjara.

5 Juni 1935: Amir dibebaskan sesudah Dewan Hindia memeriksa berkas perkaranya. Kepadanya
diperingatkan, sewaktu-waktu bisa diinternir jika ternyata ia mengulang melakukan kegiatan
politik.

16 Oktober 1935: Menyimpang dari hukum adat Batak, Amir mengawini gadis sesama marga
bernama Djaenah (1911-1987), di gereja Kristen Gang Kernolong Jakarta. Amir dan Djaenah
(anak dari suami-istri beragama Islam) konon dipermandikan menjelang saat perkawinan
mereka.

Medio 1935-medio 1936: Musso di Surabaya mencari kontak dengan pimpinan Partindo
setempat, mungkin juga dengan sementara tokoh lain termasuk Amir.

9-13 April 1936: Kongres Perguruan Rakyat (Jakarta); Sumanang dipilih sebagai ketua, dan
Amir wakil ketua.

5 Juni 1936: Nomor perdana harian Kebangoenan. Dewan redaksi: Muh. Yamin (pimpinan
umum), Sanusi Pane (ketua redaksi), Liem Koen Hian dan Amir (staf redaksi).

September 1936: Nomor perdana berkala bulanan Ilmoe dan Masjarakat yang memuat karangan
Amir "Pemberontakan di Spanyol dan Hukum Internasional".

24 Mei 1937: Berdirinya Gerindo, A.K. Gani ketua. Amir anggota pimpinan urusan propaganda.

5 Oktober 1937-11 Mei 1939: Amir duduk di komite pusat "Petisi Sutardjo".

3 Desember 1937: Terdaftar sebagai pengacara pada Mahkamah Agung (Hooggerechtshof).


Praktek pengacara di Sukabumi sampai Agustus 1938, kemudian kembali ke Jakarta.

13 Desember 1937: Terbit buletin pertama kantor berita Antara, yang didirikan oleh Sumanang
dan A.M. Sipahutar. Amir sebagai koresponden politik dan konsultan hukum kantor berita ini.

25-28 Juni 1938: Kongres Bahasa Indonesia di Solo. Amir berbicara dengan makalah tentang
"Adaptasi kata-kata asing dan konsep-konsep ke dalam bahasa Indonesia". Ia duduk sebagai
wakil ketua panita kongres urusan pelaksanaan keputusan kongres.

20-24 Juli 1938: Kongres pertama Gerindo (Jakarta). Gani ketua, Amir wakil ketua (sementara
itu ia masih di Sukabumi).

Oktober 1938: Kembali ke Jakarta Amir menjadi ketua komite tetap Partindo.

Oktober 1938: Nomor perdana majalah bulanan politik Toedjoean Rakjat; dewan redaksi: Amir
Sjarifuddin, Asmara Hadi, A.M. Sipahutar, dan Wikana.
November 1938: Amir dan Sanusi Pane menjadi calon Partindo di Volksraad untuk daerah
pemilihan Jakarta. Tetapi tidak seorang pun dari calon partai ini dipilih atau diangkat.

1938-1941: Amir sebagai salah seorang ketua redaksi majalah sastra Poedjangga Baroe, menulis
karangan-karangan tentang politik internasional.

2 April 1939: Amir dicalonkan Partindo untuk pemilihan dewan kotapraja Jakarta tanggal 26
April 1939. Yamin, calon terpilih dari Sumatra Barat untuk Volksraad, menentang pencalonan
Amir.

26 April 1939: Amir mendapat 241 suara (dari 1430); namanya dihapus pada pemilihan babak
ke-2, dan Yamin mendapat 170 suara.

21 Mei 1939: Pembentukan GAPI, Amir duduk di sekretariat.

21 Juli 1939: Yamin mendirikan Parpindo (Partai Persatuan Indonesia).

24-30 Juli 1939: Kongres ke-2 Gerindo (Palembang), Amir dipilih sebagai ketua, Wilopo wakil
ketua komite tetap. Kongres memutuskan, membuka kesempatan semua penduduk Indonesia,
termasuk keturunan Cina, duduk dalam pimpinan partai.

23-25 Desember 1939: Kongres Rakyat Indonesia. Makalah Amir berjudul "Adat dan
pergerakan". Ia menandatangani manifesto kongres sebagai Ketua Gerindo.

10 Mei 1940: Amir diinterogasi sehari penuh oleh intelijen pilitik Belanda (PID; Politieke
Inlichtingen Dienst, Dinas Pengawasan Politik).

12 Juni 1940: Pemilihan dewan kotapraja Jakarta baru. Terjadi perundingan-perundingan untuk
menggagalkan pencalonan Amir oleh GAPI, karena Parindra menolak pencalonannya itu. Amir
mendapat 359 suara, dan calon Parindra 698 suara.

20-27 Juni 1940: Amir ditangkap dan ditahan, sehubungan dengan penyelidikan yang sedang
dilakukan terhadap tersiarnya buletin-buletin Komunis.

28 Juni-20 Juli dan 25-27 Juli 1940: Kampanye menentang Thamrin dilancarkan Moh. Tabrani
di dalam korannya Pemandangan. Thamrin dituduh tidak membantu Amir selama ia di dalam
tahanan.

21 Juli 1940: Gani mengganti Amir sebagai wakil Gerindo dalam sekretariat GAPI.

Agustus 1940: Kongres ke-3 Gerindo yang direncanakan di Semarang diundur, karena
berlakunya SOB (Staat van Oorlog en Beleg; Keadaan Darurat Perang). Dalam daftar calon
anggota komite eksekutif, yang akan dipilih dengan kartu suara melalui pos, tidak tercantum
nama-nama Amir dan Wikana. Edaran partai menyatakan, tidak tercantumnya nama mereka
karena permintaan yang bersangkutan.
September 1940: Amir bekerja di kantor perdagangan luar negeri Departemen Perekonomian,
untuk urusan informasi dan dokumentasi. Di sini ia menerbitkan majalah mingguan Economisch
Weekblad (Berkala Mingguan Ekonomi).

Oktober 1940: Pemungutan suara Gerindo melalui pos memilih Gani sebagai ketua partai dan
Sartono ketua komite tetap.

1940-1941: Amir duduk di dewan redaksi penerbitan Marcel Koch, Kritiek en Opbouw (Kritik
dan Pembangunan).

10-12 Oktober 1941: Kongres ke-3 Gerindo (Jakarta). Kedudukan Gani dan Sartono pada
pimpinan partai dikukuhkan lagi. Tetapi pencalonan Amir dan Wikana, yang diusulkan cabang
Jakarta, untuk duduk di komite partai ditolak.

20-24 Oktober 1941: Konperensi Perhimpunan Misi di Hindia Belanda (NIZB) diadakan di
Karangpandan. Amir bicara tentang perlu dan tidaknya partai Kristen berdiri. Masalah ini
menimbulkan polemik dalam pers. Amir tetap di dalam Gerindo, sesudah ia
mempertanggungjawabkan pendiriannya di depan pengurus.

Desember 1941 (?): Amir menerima tawaran sekretaris kabinet Gubernur Jenderal, P.J. Idenburg,
dan juga C.o. van der Plas untuk menyusun jaringan informasi sekitar invasi Jepang.

Maret-Juni 1942: Amir menyembunyikan diri.

Juli 1942: Amir muncul di Jakarta. Ia mengajar sosiologi, psikologi dan filsafat ketimuran pada
kader-kader muda pergerakan, Angkatan Baru Indonesia, di Jalan Menteng 31 Jakarta.

September 1942: Amir mengetuai panitia pembentukan Persatuan Kaum Kristen.

Desember 1942: Amir menjadi anggota kelompok "7 S" wakil Kristen, atas penunjukan Shimizu
Hitoshi.

30 Januari 1943: Amir ditangkap Kempetai (intelijen politik Jepang).

Januari 1943-Desember 1944: Ditahan di penjara Cipinang Jakarta dan penjara Kalisosok
Surabaya.

29 Februari 1944: Dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Jepang di Jakarta. Hukuman
tidak dilaksanakan (karena intervensi Sukarno dan Hatta?).

17 Desember 1944-1 Oktober 1945: Di dalam penjara Lowok Waru Malang.

4 Desember 1945: Diangkat sebagai menteri penerangan in absentia oleh Sukarno.

2 Oktober 1945: Kembali ke Jakarta. Memangku jabatan sebagai menteri.


17 Oktober 1945: Pembentukan BP-KNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat).
Amir dipilih sebagai wakil ketua (Sjahrir ketua).

24 Oktober 1945: Sebagai menteri, melalui radio, ia membuka Kongres Pemuda di Yogyakarta
10-11 November 1945.

26 Oktober 1945: Rapat umum pemuda "revolusioner" di Yogyakarta dengan maksud


mendirikan partai sosialis. Nama-nama yang dipilih sebagai pimpinan akhirnya ialah Amir,
Sjahrir, dan Hindromartono.

12-13 November 1945: Kongres fraksi Partai Sosialis Indonesia (PARSI) di Yogyakarta memilih
Amir sebagai ketua.

14 November 1945: Pembentukan pemerintah Sjahrir; Amir sebagai menteri penerangan dan
pertahanan.

Desember 1945: Konperensi di Cirebon melebur PARSI dan PARAS (Partai Rakyat Sosialis,
yang didirikan Sjahrir pada 20 November 1945). Partai baru ini dinamakan Partai Sosialis; Amir
salah seorang di antara para pimpinannya.

28 Desember 1945: Mobil Amir dibakar, di luar rumah Sukarno.

1 Januari 1946: Amir diganti Moh. Natsir sebagai menteri penerangan.

4 Januari 1946: Karena Jakarta tidak aman lagi, Amir pindah ke Yogyakarta, untuk memangku
jabatan sebagai menteri pertahanan. Ia bergabung dengan Sukarno, Hatta, dan beberapa
pimpinan pemerintahan lainnya, Sjahrir tetap di Jakarta.

24 Januari 1946: Dibentuk Staf Pendidikan Tentara dalam Kementrian Pertahanan. Timbul
ketidak-senangan pada sementara kalangan perwira panglima, karena memandangnya sebagai
staf pendidikan politik.

17 Maret 1946: Tan Malaka dan Sukarni ditangkap, dengan tuduhan mengganggu ketirtiban
umum, menjelang berlangsungnya kongres Persatuan Perjuangan di Madiun. Dikeluarkan
komunike bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan, "Tindakan dalam Masa
Genting", berkenaan dengan masalah ketertiban umum itu.

10 April 1946: Pidato Amir di Medan, tentang penangkapan bulan Maret tersebut, menekankan
perlunya masyarakat mendukung negara, pemerintah dan tentara sebagai institusi.

25 Mei 1946: Pembentukan Biro Perjuangan, yang memungkinkan Menteri Pertahanan


melakukan kontrol dan koordinasi terhadap berbagai kesatuan lasykar bersenjata. Pimpinan
tentara pemerintah menerima badan baru ini dengan enggan.

9 Juni 1946: Kongres Pemuda Ke-2 di Yogyakarta. Amir memperingatkan pemuda, sebagai
pelopor revolusi, agar tidak sampai dipisahkan revolusi itu.
27 Juni-6 Juli 1946: "Peristiwa 3 Juli". Beberapa pengikut Tan Malaka menculik atau mencoba
menculik sementara menteri dan pejabat tinggi, termasuk Amir dan Sjahrir. Tujuannya untuk
memaksa Sukarno agar menyusun pemerintahan, dengan Persatuan Perjuangan sebagai unsur
pokok. Usaha ini akhirnya mengalami kegagalan.

6-10 September 1946: Kongres Partai Sosialis di Yogyakarta. Kongres memilih tiga tokoh ketua,
yaitu Sjahrir, Oei Gee Hwat, dan Amir.

Maret-Juni 1947: Sesudah Persetujuan Linggajati, krisis di kalangan pimpinan negara dan
pimpinan Partai Sosialis semakin tajam. Masalah penyebabnya ialah, cara bagaimana
menghadapi tuntutan-tuntutan baru dari pihak Belanda.

27 Juni 1947: Pemerintah Sjahrir jatuh.

30 Juni 1947: Sukarno menghendaki terbentuknya pemerintah koalisi, dan menunjuk sebagai
formatur Amir (Sosialis), Gani (PNI), Setiadjit (Partai Buruh), dan Sukiman (Masjumi). Karena
tuntutan-tuntutan Sukiman, akibatnya terbentuk pemerintah tanpa Masjumi.

3 Juli 1947: Dalam kabinet baru ini Amir sebagai Perdana Menteri, dan Menteri Pertahanan;
Gani dan Setiadjit Wakil-Wakil Perdana Menteri. Terjadi perpecahan di kalangan pimpinan
Partai Sosialis. Golongan Sjahrir menolak duduk dalam kabinet. Dibentuk sekretariat darurat
untuk menyelamatkan keutuhan Partai.

21 Juli 1947: "Aksi polisionil" Belanda.

4 Agustus 1947: Seruan gencatan senjata dari PBB.

27 Oktober 1947: Komisi Jasa-Jasa Baik PBB tiba di Jakarta.

11 November 1947: Wakil-wakil Masjumi duduk dalam kabinet.

8 Desember 1947: Perundingan gencatan senjata di atas kapal "Renville". Amir ketua delegasi
Indonesia.

23 Desember 1947: Karena perundingan menghadapi jalan buntu, Amir kembali ke Yogyakarta.

Awal Januari 1948: Tersiar desas-desus kabinet akan segera jatuh.

7 Januari 1948: Delegasi kembali ke Jakarta.

13 Januari 1948: Konperensi semua pimpinan partai politik dan departemen-departemen


pemerintah berlangsung di Yogyakarta.

15 Januari 1948: Menteri-menteri Masjumi mengundurkan diri, diikuti para menteri PNI.

16 Januari 1948: Perdana Menteri memberi laporan pada BP-KNIP.


17 Januari 1948: Konperensi pers Perdana Menteri: "Pengunduran itu hanya untuk sementara.
Saya tidak akan mengangkat menteri baru seorang pun". Penandatanganan naskah gencatan
senjata dengan pihak Belanda di atas kapal "Renville".

22 Januari 1948: Deklarasi menteri-menteri Sayap Kiri/Front Demokrasi Rakyat, yang disiapkan
oleh komite penghubung tetap partai-partai kiri (disiarkan radio sehari kemudian).

Sukarno mengumumkan pengunduran diri pemerintah Amir, dan menunjuk Wakil Presiden Moh.
Hatta membentuk pemerintah baru.

23-29 Januari 1948: Dengar pendapat untuk pembentukan kabinet baru. Hatta menawarkan
memberi tiga kursi kelas dua pada Sayap kiri, antara lain jabatan Menteri Pemuda untuk Amir.
Sayap Kiri menolak tawaran itu.

24 Januari 1948: Gelombang pertama demonstrasi mendukung Amir di Yogyakarta. Kemudian


juga satu kali di Madiun.

4 Februari 1948: Amir hadir pada upacara pelantikan kabinet Hatta.

4-9 Februari 1948: Amir mengikuti Hatta meninjau Sumatra dan Jakarta.

10 Februari 1948: Sidang pertama kabinet Hatta.

26 Februari 1948: Rapat umum pertama FDR (Front Demokrasi Rakyat) di Solo. Rapat
menyerang karakter kabinet presidentil.

21 Maret 1948: Amir memberi kesaksian dalam pengadilan Peristiwa 3 Juli 1946; ia tetap pada
pendirian yang pernah dikemukakannya pada saat peristiwa terjadi.

11 Agustus 1948: Musso di Yogyakarta. Menganjurkan agar partai-partai dalam FDR bersatu di
bawah pimpinan Partai Komunis.

29 Agustus 1948: Pemimpim-pemimpin Partai Sosialis menerima anjuran Musso, dan


mengadakan kongres luar biasa pada 29-30 September 1948.

30 Agustus 1948: Amir menyatakan telah menjadi anggota Partai Komunis sejak partai ini
dibangun kembali Musso tahun 1935. Mengingat pertanggungjawaban masalah perlawanan
dalam peta organisasi PKI sementara setelah dipersatukan.

7 September 1948: Amir meninggalkan Yogyakarta bersama Musso, Harjono (ketua SOBSI;
Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), dan beberapa tokoh lainnya lagi untuk menghadiri
beberapa rapat. Tanggal 7 September di Solo menghadiri kongres serikat buruh gula; taanggal 8
September di Madiun; tanggal 10 dan 11 September di Kediri; tanggal 13 September di
Jombang; tanggal 14 September di Bojonegoro; tanggal 15 September di Cepu; tanggal 17
September di Purwodadi, dan di sini Amir bermalam.
17-18 September 1948 malam: Sumarsono, ketua komite tetap Kongres Pemuda yang bertempat
di Madiun, melucuti semua kesatuan tentara yang dianggapnya mengganggu keamanan umum di
kota; dan Residen Sumadikun yang sedang tidak di tempat digantinya dengan Wakil Walikota
Supardi (FDR).

18-19 September 1948 malam: Amir dan rombongan di Madiun, memenuhi permintaan
pimpinan FDR setempat.

19 September 1948 petang: Pidato Sukarno mengutuk kudeta "PKI-Musso", dan berseru pada
golongan loyalis untuk merebut kembali Madiun.

23 September 1948: Pidato Amir melalui radio Madiun menolak tuduhan kudeta kaum Komunis
di Madiun, dan berusaha meredakan suasana.

30 November 1948: Amir ditangkap batalyon Kemal Idris di Kelambu, Purwodadi, bersama
Harjono dan Suripno (bekas menteri). Kemudian dibawa ke penjara Kudus.

2 Desember 1948: Interviu Amir di penjara Kudus, terbit di Hidup tanggal 18 Desember. Di situ
ia menyangkal tuduhan kudeta yang telah sengaja direncanakannya.

4 Desember 1948: Ditahan di Benteng di Yogyakarta, setelah bersama dua kawannya diarak
keliling kota.

Medio Desember 1948: Diam-diam Amir dibawa ke Solo.

19 Desember 1948: "Aksi polisionil" Belanda ke-2. Yogyakarta diduduki tentara Belanda.

19-20 Desember 1948 malam: Sebelas orang tahanan dieksekusi dengan cepat di Ngalihan dekat
Solo. Mereka yang mati ialah Amir, Suripno, Harjono, Maruto Darusman dan Sardjono,
semuanya anggota pimpinan sementara PKI baru; Oei Gee Hwat dari Badan Harian SOBSI; S.
Karno dari pimpinan Pesindo; Djokosujono, mantan kepala Biro Perjuangan di Kementrian
Pertahanan; serta tiga orang tahanan lainnya, yaitu Katamhadi, D. Mangku, Ronomarsono (kacau
dengan Sumarsono?). Para mantan menteri dalam kabinet Amir dan beberapa teman dekatnya
dieksekusi di berbagai tempat.

Catatan:
1)
Mendayung Antara Dua Karang, hal. 97.

2)
catatan: Ejaan nama-nama diri dan peristilahan lama seperti "hoofddjaksa" berasal dari jamannya, walaupun "oe"
Belanda telah diubah menjadi "u", jika bukan soal kutipan, berasal dari dokumen tertulis.

oo0oo

Kabinet Amir Sjarifuddin I


Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Kabinet Amir Sjarifuddin I bertugas pada periode 3 Juli 1947 - 11 November 1947.

[sunting] Susunan Kabinet


1. Perdana Menteri : Amir Sjarifuddin
2. Wakil Perdana Menteri : AK Gani
3. Wakil Perdana Menteri : Setiadjid
4. Menteri Luar Negeri : Agus Salim
5. Menteri Muda Luar Negeri : Tamsil
6. Menteri Dalam Negeri : Wondoamisono
7. Menteri Muda Dalam Negeri : Abdul Madjid Djojohadiningrat
8. Menteri Pertahanan : Amir Sjarifuddin
9. Menteri Muda Pertahanan : Arudji Kartawinata
10. Menteri Kehakiman : Susanto Tirtoprodjo
11. Menteri Penerangan : Setiadi
12. Menteri Muda Penerangan : Sjahbudin Latif
13. Menteri Keuangan : AA Maramis
14. Menteri Muda Keuangan : Ong Eng Die
15. Menteri Kemakmuran : AK Gani
16. Menteri Muda Kemakmuran I : IJ Kasimo
17. Menteri Muda Kemakmuran II : Adji Darmo Tjokronogoro
18. Menteri Perhubungan : Djuanda
19. Menteri Pekerjaan Umum : Moch. Enoch [1]
20. Menteri Muda Pekerjaan Umum : H. Laoh [1]
21. Menteri Perburuhan : SK Trimurti
22. Menteri Muda Perburuhan : Wilopo
23. Menteri Sosial : Suprodjo
24. Menteri Muda Sosial : Sukoso Wirjosaputro
25. Menteri Pengajaran : Ali Sastroamidjojo
26. Menteri Agama : K. Achmad Asj'ari [2]
27. Menteri Kesehatan : J. Leimena
28. Menteri Muda Kesehatan : Satrio
29. Menteri Negara : Hamengkubuwono IX
30. Menteri Negara : Suja'as
31. Menteri Negara : Wikana
32. Menteri Negara : Siauw Giok Tjhan
33. Menteri Negara : Hindromartono
34. Menteri Negara : Maruto Darusman

[sunting] Catatan
1. ^ a b Moch. Enoch mengundurkan diri pada 11 Agustus 1947 digantikan oleh
H. Laoh. Posisi Menteri Muda Kesehatan dihapus.
2. ^ K. Achmad Asj'ari tidak dapat pindah ke Jakarta dari tempat tinggalnya di
Sumatera sehingga pada 9 Oktober 1947 beliau digantikan oleh Anwaruddin.

Kabinet Amir Sjarifuddin II


Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Kabinet Amir Sjarifuddin II bertugas pada periode 11 November 1947 - 29 Januari
1948.

[sunting] Susunan kabinet


1. Perdana Menteri : Amir Sjarifuddin
2. Wakil Perdana Menteri I : Samsuddin [1]
3. Wakil Perdana Menteri II : Wondoamisono
4. Wakil Perdana Menteri III : Setiadjid
5. Wakil Perdana Menteri IV : AK Gani
6. Menteri Keuangan : AA Maramis
7. Menteri Muda Keuangan : Ong Eng Die
8. Menteri Pertahanan : Amir Sjarifuddin
9. Menteri Muda Pertahanan : Arudji Kartawinata
10. Menteri Luar Negeri : Agus Salim
11. Menteri Muda Luar Negeri : Tamsil
12. Menteri Kehakiman : Susanto Tirtoprodjo
13. Menteri Muda Kehakiman : Kasman Singodimedjo
14. Menteri Penerangan : Sjahbudin Latif
15. Menteri Muda Penerangan : Setiadi
16. Menteri Pengajaran : Ali Sastroamidjojo
17. Menteri Dalam Negeri : Mohammad Roem [1]
18. Menteri Muda Dalam Negeri : Abdul Madjid Djojohadiningrat
19. Menteri Kesehatan : J. Leimena
20. Menteri Muda Kesehatan : Satrio
21. Menteri Sosial : Suprodjo
22. Menteri Muda Sosial : Sukoso Wirjosaputro
23. Menteri Agama : Masjkur
24. Menteri Kemakmuran : AK Gani
25. Menteri Muda Kemakmuran I : IJ Kasimo
26. Menteri Muda Kemakmuran II : Adji Darmo Tjokronogoro
27. Menteri Perburuhan : SK Trimurti
28. Menteri Muda Perburuhan : Wilopo
29. Menteri Perhubungan : Djuanda
30. Menteri Pekerjaan Umum : H. Laoh
31. Menteri Negara : Hamengkubuwono IX
32. Menteri Negara (Urusan Pemuda) : Wikana
33. Menteri Negara (Urusan Pangan) : Suja'as
34. Menteri Negara (Urusan Peranakan) : Siauw Giok Tjhan
35. Menteri Negara (Urusan Kepolisian) : Hindromartono
36. Menteri Negara : Maruto Darusman
37. Menteri Negara : Anwar Tjokroaminoto

[sunting] Catatan
1. ^ a b Samsuddin dan Mohammad Roem
mengundurkan diri pada 22 Januari 1948.