Anda di halaman 1dari 4
Perekat Komunitas Jawa Tengah Senin, 13 Agustus 2007 WACANA Implikasi Pemekaran Wilayah = Oleh Teguh Yuwono MENYIMAK perkembangan politik nasional dan lokal saat ini, isu tentang pemekaran wilayah nampaknya akan terus menjadi wacana politik yang tidak akan pernah pudar. Hal itu karena berkaitan dengan konsen utama masyarakat lokal yang menyangkut berbagai tekanan politik, seperti perasaan dan keinginan untuk mandiri. Akibatnya, isu pemekaran wilayah selama ini lebih banyak merupakan jawaban atas persoalan perasaan ketidakadilan, perasaan tidak diperhatikan, ataupun perasaan- perasaan yang ingin memisahkan diri dari negara kesatuan ini, Bahkan, banyak juga pihak atau daerah yang merasa percaya diri untuk memekarkan wilayah dengan berbagai argumen. Sangat sering terdengar bahwa akumulasi kekecewaan publik banyak dilontarkan oleh para elite politik lokal yang berminat untuk mendirikan pemerintahan daerah yang baru Dalam konteks Jawa Tengah, apa yang diakukan oleh para elite politik lokal, seperti di Banyumas, Brebes, dan Cilacap, seringkali merupakan manifestasi dari berbagai perasaan yang merasa tidak diperhatikan atau tidak mendapatkan tempat yang relevan sebagaimana yang diharapkan oleh mereka. Para pihak yang pro konsep pemekaran sangat sering mengemukakan pendapatnya, bahwa pemekaran menjadi solusi ideal yang paling baik ketika potensi konflik di suatu daerah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan permasalahan konflik itu sendiri Penggabungan Wilayah? Yang sering dilupakan dari konsepsi dan tuntutan akan pemekaran itu adalah konsep penggabungan. Hampir tidak pernah muncul dalam wacana politik lokal bahwa konsep penggabungan wilayah juga merupakan salah satu bagian yang terpenting dari proses politik di tingkat lokal Kalau mau jujur, sebenarnya ada pemerintah daerah di republik ini yang tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menyediakan standar pelayanan publik yang baik kepada masyarakat. Bahkan, daerah-daerah semacam itu lebih banyak bergantung kepada kapasitas kelembagaan (maupun keuangan) yang dimiliki oleh pemerintah pusat. Namun yang terjadi kemudian adalah bukannya isu bagaimana penggabungan wilayah bisa dilakukan, melainkan sebaliknya, justru yang muncul adalah konsen elite politik lokal agar daerah tersebut tetap di-back up oleh pemerintah pusat sehingga fungsi kepemerintahannya bisa tetap berjalan. Mereka berdalih, adalah kewajiban pemerintah pusat untuk tetap menjaga, membangun, menfasilitasi, dan membantu agar pemerintah daerah tersebut mampu berdiri tegak menjalankan fungsinya, sehingga jangan sampai isu penggabungan menjadi sesuatu yang harus ditakukan. Bahkan muncul kesan bahwa penggabungan akan menjadi beban politik yang sangat berat, karena kemudian daerah tersebut akan dinilai sebagai daerah yang tidak becus mengelola kepentingan rakyat daerah, Dengan demikian, secara tidak sengaja, praktik politik lokal saat ini menempatkan seolah-olah penggabungan wilayah menjadi sebuah tabu politik, Oleh karena banyaknya wacana publik yang mengemuka tentang argumen yang mendukung mengenai pemekaran wilayah, tulisan ini hendak menjelaskan sisi implikasi lain, yang bisa dikatakan kurang menguntungkan sebagai efek dari pemekaran wilayah. Ada Pemda yang tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menyediakan standar pelayanan publik yang baik. Bahkan, lebih banyak bergantung kepada kapasitas kelembagaan (maupun keuangan) yang dimiliki oleh pemerintah pusat Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk menghentikan keinginan dan harapan tentang pemekaran wilayah, tetapi lebih merupakan eksplanasi tentang sisi lain yang tidak menguntungkan dari pemekaran wilayah. Itu tentu dimaksudkan agar pemekaran wilayah tidak dilakukan tergesa-gesa, sebagai akibat dari emosional politik. Diperlukan pertimbangan yang matang agar pemekaran wilayah benar-benar menjadi solusi atas berbagai permasalahan, dan bukan malah menjadi bagian dari bertambahnya masalah baru. Instrumen Politik Jika merunut perkembangan politik lokal dari semua wilayah di republik ini, maka akan dapat ditarik suatu simpulan besar bahwa diberikannya legitimasi politik dan legitimasi regulatif atas tuntutan pemekaran wilayah oleh pemerintah pusat sesungguhnya lebih banyak merupakan kompensasi politik ketimbang alasan lain. Kecenderungan nasional menunjukan bahwa daerah-daerah di luar Jawa yang lebih memiliki dinamika konflik politik, lebih diberi kesempatan yang luas oleh pemerintah pusat untuk memekarkan wilayahnya. Konflik etnik berkepanjangan yang kemudian mengarah kepada pemisahan para pihak menjadi perbedaan geografis politis, menjadi instrumen yang paling ampuh akan dilegitimasikannya pemekaran wilayah oleh pemerintah pusat. Efektivitas perjuangan politik para stakeholders lokal di luar Jawa jauh lebih besar dibandingkan dengan yang terjadi di Jawa. Bahkan kalau hal itu tidak diantisipasi dengan baik, dikotomi Jawa dan non-Jawa dalam konteks pemekaran wilayah bisa mengancam stabilitas politik nasional dan lokal negara bangsa ini. Dalam konteks Jawa, tuntutan akan pemekaran wilayah memang tidak akan semudah yang terjadi di luar Jawa, khususnya daerah-daerah yang memang memiliki potensi konflik dan potensi memisahkan diri (karena pertimbangan geografis) tersebut. Jadi, menggunakan instrumen ataupun gertakan politik yang sama (sebagaimana yang terjadi di luar Jawa) nampaknya tidak akan pernah efektif bagi daerah-daerah di wilayah Jawa, Tidak Menguntungkan Di antara sekian banyak argumen yang mendukung pemekaran wilayah, sebenarnya ada sejumiah hal yang kurang menguntungkan untuk dipertimbangkan dalam pemekaran wilayah, Pertama, sudah barang tentu dibutuhkan anggaran yang sangat besar untuk menyediakan infrastruktur baru menyangkut penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baru, Kedua, anggaran yang sangat besar itu dibutuhkan bukan saja untuk penyediaan fisik sarana prasarana, melainkan juga dana agar operasional pemerintahan daerah baru tersebut bisa dijalankan. Ketiga, pengadaan pegawai baru bagi pemerintahan daerah yang baru juga tidak bisa dihindari kebutuhan akan anggarannya Keempat, tidak bisa dimungkiri pada titik akhir bidang penganggaran itu, akhirnya toh akan bergantung kepada pemerintah pusat melalui dana alokasi umum (DAU) ataupun dana alokasi khusus (DAK). Kelima, pemekaran wilayah yang sering dijadikan dalih untuk menyelesaikan konflik, justru menimbulkan konflik baru. Banyak bukti menunjukkan bahwa pemekaran daerah baru menimbulkan konflik kekuasaan yang berkepanjangan sebagai implikasi dari konflik lama yang tidak mudah dan tidak tuntas penyelesaian masalahanya. Keenam, sangat sering terjadi pemekaran wilayah tidak lebih sekadar alat atau instrumen politik yang akan dipakai oleh elite-elite politik untuk perebutan kekuasaan. Ketujuh, sangat sering terjadi, daerah pemekaran baru, khususnya yang secara ekonomi tidak mandiri, akan menjadi pemerintahan daerah baru yang sangat bergantung kepada pemerintah daerah. Artinya, satu daerah yang dimekarkan menjadi dua, kadang-kadang salah satu dari mereka akan menjadi jauh tertinggal ketimbang sebelumnya. Akhirnya, menghadapi konsen dan perhatian tentang isu pemekaran wilayah, maka segala pertimbangan perlu dikaji secara teliti dan mendalam. Tidak kemudian hanya sekadar mengedepankan emotional political pressure sebagai alat menekan pemerintah pusat. Implikasi pemekaran yang sangat luas dan berat (yang seringkali tidak menguntungkan),harus dijadikan sebagai basic consideration untuk menindaklanjuti gagasan pemekaran.(68) = Drs Teguh Yuwono MPol Admin, dosen FISIP, Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang, Alumnus Flinders University, Australia. Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas Budaya | Wacana | Ragam Cybernews | Berita Kemarin Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA