Anda di halaman 1dari 38

PROPOSAL PENELITIAN

PENGETAHUAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA SISWA/I SD X DI


KELURAHAN Y KECAMATAN MEDAN BELAWAN TAHUN 2015

Oleh:
Amanda Rizka
Farid Murfuadz Sitepu
Asyifa Zulinanda E.P Lubis
Muhammad Ivanny Adnani
Mufti Muhammad

100 100 060


100 100 142
100 100 372
100 100 373
100 100 374

Pembimbing :
dr. Rina Amelia, MARS

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


ILMU KEDOKTERAN PENCEGAHAN
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

PENGETAHUAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA SISWA/I SD X DI


KELURAHAN Y KECAMATAN MEDAN BELAWAN TAHUN 2015

KARYA TULIS ILMIAH

Oleh:
Amanda Rizka
Farid Murfuadz Sitepu
Asyifa Zulinanda E.P Lubis
Muhammad Ivanny Adnani
Mufti Muhammad

100 100 060


100 100 142
100 100 372
100 100 373
100 100 374

Pembimbing :
dr. Rina Amelia, MARS
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
ILMU KEDOKTERAN PENCEGAHAN
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

HALAMAN PERSETUJUAN

Hasil Penelitian dengan Judul :


PENGETAHUAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA SISWA/I SD X DI
KELURAHAN Y KECAMATAN MEDAN BELAWAN TAHUN 2015

Yang dipersiapkan oleh:


Amanda Rizka
Farid Murfuadz Sitepu
Asyifa Zulinanda E.P Lubis
Muhammad Ivanny Adnani
Mufti Muhammad

100 100 060


100 100 142
100 100 372
100 100 373
100 100 374

Hasil penelitian ini telah diperiksa dan disetujui untuk


dipresentasikan

Medan,

Februari 2015

Disetujui,
Dosen Pembimbing

(dr. Rina Amelia, MARS)

LEMBAR PENGESAHAN

PENGETAHUAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA SISWA/I SD X DI


KELURAHAN Y KECAMATAN MEDAN BELAWAN TAHUN 2015
Yang dipersiapkan oleh:
Amanda Rizka
Farid Murfuadz Sitepu
Asyifa Zulinanda E.P Lubis
Muhammad Ivanny Adnani
Mufti Muhammad

100 100 060


100 100 142
100 100 372
100 100 373
100 100 374

Medan, Februari 2015


Pembimbing

(dr. Rina Amelia, MARS)

ii

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas
rahmat dan kurnia-Nya, penulisan proposal penelitian Pengetahuan Cuci Tangan Pakai Sabun
pada Siswa/i SD X di Kelurahan Y Kecamatan Medan Belawan Tahun 2015.
Proposal penelitian ini diajukan untuk melengkapi tugas pada Kepaniteraan Klinik
Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran
Komunitas, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.
Meskipun proposal penelitian ini banyak mengalami hambatan, kesulitan dan kendala,
namun karena adanya bimbingan, petunjuk, nasihat dan motivasi dari berbagai pihak,
penulisan makalah ini dapat diselesaikan. Di sini saya mengambil kesempatan untuk
mengucapkan terima kasih kepada pembimbing saya, dr. Rina Amelia, MARS.
Namun demikian, karena keterbatasan pengalaman, pengetahuan, kepustakaan dan
waktu, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk ini, kritik dan saran dari berbagai
pihak sangat diharapkan untuk menyempurnakan proposal penelitian ini.

Medan, Februari 2015

Penulis

iii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iii
DAFTAR ISI................................................................................................... iv
BAB 1
1.1

PENDAHULUAN.................................................................................... 1
Latar Belakang................................................................................. 1

1.2

Rumusan Masalah ........................................................................... 3

1.3

Tujuan Penelitian ............................................................................ 3

1.4

1.3.1. Tujuan Umum........................................................................ 3


1.3.2. Tujuan Khusus....................................................................... 3
Manfaat Penelitian .......................................................................... 3

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 4

2.1. Cuci Tangan Pakai Sabun................................................................ 4


2.1.1. Definisi ................................................................................. 4
2.1.2. Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun ..................................... 4
2.1.3. Teknik Mencuci Tangan Yang Baik dan Benar dan
Penggunan Sabun ................................................................. 5
2.1.4. Manfaat Mencuci Tangan .................................................... 7
2.2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ...................................... 8
2.2.1. Definisi PHBS di Rumah Tangga ........................................ 8
2.2.2. Tujuan PHBS ....................................................................... 9
2.2.3. Sasaran PHBS ...................................................................... 9
2.2.4. Strategi PHBS ...................................................................... 10
2.2.5. Manfaat PHBS ..................................................................... 11
2.3. Konsep Perilaku............................................................................... 12
2.3.1. Klasifikasi Perilaku Kesehatan ........................................... 12
2.4. Sekolah ............................................................................................ 14
2.4.1. Definisi Sekolah.................................................................. 14
2.4.2. Pembagian Sekolah ............................................................. 14
iv

2.4.3. Fungsi Sekolah.................................................................... 16


BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ..... 18

3.1. Kerangka Konsep Penelitian ........................................................... 18


3.2. Definisi Operasional Penelitian ...................................................... 18
BAB 4
4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
4.5.
4.6.

METODE PENELITIAN ............................................................. 20


Desain Penelitian .............................................................................
Waktu dan Lokasi Penelitian ..........................................................
Populasi dan Sampel Penelitian.......................................................
Instrumen Penelitian ........................................................................
Metode Pengumpulan Data .............................................................
Pengelolahan dan Analisis Data ......................................................

20
20
20
21
22
22

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 24


LAMPIRAN ................................................................................................... 25

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan perwujudan riil

paradigma sehat dalam budaya hidup perorangan, keluarga dan masyarakat yang
berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memelihara dan melindungi
kesehatannya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah semua perilaku kesehatan
yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat
menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatankegiatan kesehatan di masyarakat.1
Salah satu indikator dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah Cuci
Tangan Pakai Sabun (CTPS). Tangan merupakan tempat utama dalam masuknya
patogen-patogen yang dapat menyebabkan penyakit infeksi. Sehingga Hasil yang
diharapkan adalah meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya
cuci tangan pakai sabun untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit serta
meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mencuci tangan secara baik dan
benar. 2
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah salah satu tindakan sanitasi
dengan membersihkan tangan dan jari-jemari menggunakan air dan sabun untuk
menjadi bersih. Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu upaya
pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi agen
yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke
orang lain, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung
(menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas).1
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu cara paling efektif untuk
mencegah penyakit diare dan ISPA, keduanya menjadi penyebab utama kematian
anak. Setiap tahun, sebanyak 3,5 juta anak di seluruh dunia meninggal sebelum
mencapai umur lima tahun karena penyakit diare dan ISPA. Mencuci tangan
dengan sabun juga dapat mencegah infeksi kulit, mata, kecacingan, dan flu

burung.3 Sebuah penelitian menemukan bahwa mencuci tangan dengan sabun


secara teratur dan menggunakan masker, sarung tangan, dan pelindung, lebih
efektif untuk menahan penyebaran virus ISPA seperti flu dan SARS. Penelitian ini
menyatakan bahwa mencuci tangan dengan air dan sabun adalah cara yang
sederhana dan efektif untuk menahan virus ISPA, mulai dari virus flu sehari-hari
hingga virus pandemik yang mematikan.4 Penelitian lain menyatakan bahwa
perbandingan bayi yang dirawat oleh perawat yang tidak mencuci tangan dengan
sabun lebih signifikan, lebih sering, dan lebih cepat terkena patogen S. aureus
dibandingan dengan bayi yang dirawat oleh perawat yang mencuci tangan dengan
sabun.5
Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mencuci tangan pakai sabun hingga
kini masih tergolong rendah, indikasinya dapat terlihat dengan tingginya
prevalensi penyakit diare. Survei Departemen Kesehatan pada tahun 2006
menunjukkan rasio penderita diare di Indonesia 423 per 1000 orang dengan
jumlah kasus 10.980, angka kematian 277 (CFR 2,52%). Penyakit diare menjadi
penyebab kematian nomor 2 pada balita, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 untuk
semua umur.6 Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebaiknya dilakukan pada lima
waktu penting, yaitu : (1) sebelum makan; (2) sesudah buang air besar; (3)
sebelum memegang bayi; (4) sesudah menceboki anak; dan (5) sebelum
menyiapkan makanan. (3)

Cuci tangan merupakan hal yang umum bagi

masyarakat, namun memakai sabun bukanlah sesuatu yang jamak. Artinya


dorongan kognitif bahwa sabun bermanfaat untuk membunuh bakteri atau kuman
masih lemah di masyarakat. Kesadaran masyarakat Indonesia untuk cuci tangan
pakai sabun (CTPS) terbukti masih sangat rendah, tercatat rata-rata 12%
masyarakat yang melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS). 7

1.2. Perumusan Masalah


Sesuai dengan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka yang
menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat pengetahuan
siswa/i SD tentang mencuci tangan pakai sabun di SD X, Kelurahan Y,
Kecamatan Medan Belawan Tahun 2015.
1.3.

Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa/i SD tentang mencuci tangan

pakai sabun di SD X, Kelurahan Y, Kecamatan Medan Belawan Tahun 2015.


1.4.

Tujuan khusus
Mengetahui gambaran pengetahuan siswa/i di SD X tentang cuci tangan

pakai sabun, yang mewakili gambaran pengetahuan di kelurahan Y, Kecamatan


Medan Belawan.
1.5. Manfaat Penelitian
1. Sebagai sumbangan pengetahuan dan saran tentang mencuci tangan
memakai sabun di SD X agar dapat disalurkan kepada siswa/i SD X
sehingga diharapkan selalu memperhatikan kebersihan tangan.
2. Sebagai bahan informasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan
tangan dan cara pembersihan tangan yang tepat dan benar di Dinas
Kesehatan

terkait

untuk

megambil

langkah-langkah

kebijakan

selanjutnya dalam rangka meningkatkan kesehatan anak.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Cuci Tangan Pakai Sabun
2.1.1. Definisi
Mencuci tangan adalah perlakuan kepada tangan menggunakan air yang
bertujuan untuk mengurangi flora transien tanpa mempengaruhi flora residen pada
kulit. Penggunaan sabun dan/atau deterjen yang mengandung agen antiseptik
dapat digunakan untuk membantu efektifitas mencuci tangan. Cuci tangan
berguna untuk membuang kotoran dan debu secara mekanis dari kulit kedua belah
tangan dengan memakai sabun dan air. Kesehatan dan kebersihan tangan secara
bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit pada kedua
tangan dan lengan serta mengurangi kontaminasi silang. 8
2.1.2. Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun
Perilaku cuci tangan adalah salah satu bentuk kebersihan diri yang
penting. Mencuci tangan juga dapat diartikan menggosok dengan sabun secara
bersama seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas yang kemudian
dibilas di bawah air yang mengalir.9
Dengan cuci tangan diharapkan akan mencegah penyebaran kuman
patogen melalui tangan. Peran tangan sebagai sarana transmisi kuman patogen
telah disadari sejak tahun 1840-an. Sejak itu banyak penelitian yang memastikan
bahwa dokter yang membersihkan tangannya dari kuman sebelum dan sesudah
memeriksa pasien dapatmengurangi angka infeksi di rumah sakit. Cuci tangan
menggunakan air saja tidaklah cukup untuk melindungi seseorang dari kuman
penyebab penyakit yang merugikan kesehatan. Dari berbagai riset, risiko
penularan penyakit dapat berkurang dengan adanya peningkatan perilaku hidup
bersih dan sehat, perilaku kebersihan, seperti cuci tangan pakai sabun. Perilaku
cuci tangan pakai sabun merupakan intervensi kesehatan yang paling murah dan
efektif dibandingkan dengan intervensi kesehatan dengan cara lain.10

2.1.3. Teknik Mencuci Tangan Yang Baik dan Benar dan Penggunan Sabun
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka mencuci tangan haruslah
dengan air bersih yang mengalir, baik itu melalui kran air atau disiram dengan
gayung, menggunakan sabun yang standar, setelah itu keringkan dengan handuk
bersih atau menggunakan tisu. Untuk penggunaan jenis sabun dapat menggunakan
semua jenis sabun karena semua sabun sebenarnya cukup efektif dalam
membunuh kuman penyebab penyakit. Teknik mencuci tangan yang benar harus
menggunakan sabun dan di bawah air yang mengalir dengan langkah- langkah
sebagai berikut :2
1)

Basahi tangan dengan air di bawah kran atau air mengalir.

2)

Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan, akan lebih baik
jika sabun yang mengandung antiseptik.

3)

Gosokkan pada kedua telapak tangan.

4)

Gosokkan sampai ke ujung jari.

5)

Telapak tangan kanan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya)


dengan jari-jari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan
tangan kiri, gosokkan sela-sela jari tersebut. Hal ini dilakukan pada kedua
tangan.

6)

Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling
mengunci.

7)

Usapkan ibu jari tangan kanan dengan punggung jari lainnya dengan
gerakan saling berputar, lakukan hal yang sama dengan ibu jari tangan kiri.

8)

Gosokkan telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya dengan


gerakan kedepan, kebelakang, berputar. Hal ini dilakukan pada kedua
tangan.

9)

Pegang pergelangan kanan dengan pergelangan kiri dan lakukan gerakan


memutar. Lakukan pula pada tangan kiri.

10)

Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir.

11)

Keringkan tangan dengan menggunakan tissue atau handuk, jika

menggunakan kran, tutup kran dengan tisu.

2.1 Gambar Langkah-langkah Mencuci Tangan


Karena mikroorganisme tumbuh berkembang biak di tempat basah dan di air
yang menggenang, maka apabila menggunakan sabun batangan sediakan sabun
batangan yang berukuran yang kecil dalam tempat sabun yang kering. Hindari
mencuci tangan di waskom yang berisi air walaupun telah ditambahkan bahan
antiseptik, karena mikroorganisme dapat bertahan dan berkembang biak pada
larutan ini. Apabila menggunakan sabun cair jangan menambahkan sabun apabila
terdapat sisa sabun pada tempatnya, penambahan dapat menyebabkan kontaminasi
bakteri pada sabun yang baru dimasukkan. Apabila tidak tersedia air mengalir,
gunakan ember dengan kran yang dapat dimatikan sementara menyabuni kedua
tangan dan buka kembali untuk membilas atau gunakan ember dan kendi/teko.

2.1.4. Manfaat Mencuci Tangan


Cuci tangan dapat mencegah beberapa penyakit. Berikut adalah penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan mencuci tangan memakai sabun:
1)

Diare
Penyakit diare menjadi penyebab kematian kedua yang paling umum

untuk anak-anak balita. Sebuah ulasan yang membahas sekitar 30 penelitian


terkait menemukan bahwa cuci tangan dengan sabun dapat menurunkan angka
kejadian diare hingga 50%. Penyakit diare seringkali diasosiasikan dengan
keadaan air, namun secara akurat sebenarnya harus diperhatikan juga penanganan
kotoran manusia seperti tinja dan air kencing, karena kuman-kuman penyakit
penyebab diare berasal dari kotoran-kotoran ini. Kuman-kuman penyakit ini
membuat manusia sakit ketika mereka masuk mulut melalui tangan yang telah
menyentuh tinja, air minum yang terkontaminasi, makanan mentah, dan peralatan
makan yang tidak dicuci terlebih dahulu atau terkontaminasi. Tingkat keefektifan
mencuci tangan dengan sabun dalam penurunan angka penderita diare dalam
persen menurut tipe inovasi pencegahan adalah: Mencuci tangan dengan sabun
(44%), penggunaan air olahan (39%), sanitasi (32%), pendidikan kesehatan
(28%), penyediaan air (25%), sumber air yang diolah (11%).2
2)

Infeksi saluran pernafasan


Infeksi saluran pernafasan adalah penyebab kematian utama anak-anak

balita. Mencuci tangan dengan sabun mengurangi angka infeksi saluran


pernafasan ini dengan dua langkah : 1) dengan melepaskan patogen-patogen
pernafasan yang terdapat pada tangan dan permukaan telapak tangan, 2) dengan
menghilangkan patogen (kuman penyakit) lainnya (terutama virus entrentic) yang
menjadi penyebab tidak hanya diare namun juga gejala penyakit pernafasan
lainnya. Bukti-bukti telah ditemukan bahwa praktik-praktik menjaga kesehatan
dan kebersihan seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah makan/buang air

besar/kecil dapat mengurangi tingkat infeksi hingga 25%. Penelitian lain di


Pakistan menemukan bahwa mencuci tangan dengan sabun mengurangi infeksi
saluran pernafasan yang berkaitan dengan pnemonia pada anak-anak balita hingga
lebih dari 50 %.11
3)

Infeksi cacing, infeksi mata, dan infeksi kulit


Penelitian juga telah membuktikan bahwa selain diare dan infeksi saluran

pernafasan penggunaan sabun dalam mencuci tangan mengurangi kejadian


penyakit kulit, infeksi mata seperti trakoma, dan cacingan khususnya untuk
ascariasis dan trichuriasis.12
2.2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
2.2.1. Definisi PHBS di Rumah Tangga
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan
yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat
menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam
kegiatan kegiatan kesehatan dan berperanaktif dalam kegiatan kegiatan
kesehatan di masyarakat. Dalam hal ini ada 5 program prioritasyaitu KIA, Gizi,
Kesehatan Lingkungan, Gaya Hidup, Dana Sehat/Asuransi Kesehatan/ JPKM.1
PHBS di sekolah adalah upaya untuk memberdayakan siswa, guru, dan
masyarakat lingkungan sekolah agar tahu, mau dan mampu mempraktekkan
PHBS, dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat. Sekolah adalah
lembaga dengan organisasi yang tersusun rapih dengan segala aktifitasnya
direncanakan dengan sengaja disusun yang disebut kurikulum (Adznan, 2013)
PHBS merupakan salah satu strategi yang dapat ditempuh untuk
menghasilkan kemandirian di bidang kesehatan baik pada masyarakat maupun
pada

keluarga,

artinya

harus

ada

komunikasi

antara

kader

dengan

keluarga/masyarakat untuk memberikan informasi dan melakukan pendidikan


kesehatan.1

2.2.2. Tujuan PHBS


PHBS adalah upaya memberikan pengalaman belajar bagi perorangan,
keluarga, kelompok, dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi,
memberikan informasi dan edukasi guna meningkatkan pengetahuan, sikap dan
perilaku melalui pendekatan advokasi, bina suasana (social support), dan gerakan
masyarakat (empowerment) sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup sehat
dalam rangka menjaga, memelihara, dan meningkatkan kesehatan masyarakat.
Aplikasi paradigma hidup sehat dapat dilihat dalam program Perilaku Hidup
Bersih Sehat.1
Kebijakan pembangunan kesehatan ditekankan pada upaya promotif dan
preventif agar orang yang sehat menjadi lebih sehat dan produktif. Pola hidup
sehat merupakan perwujudan paradigma sehat yang berkaitan dengan perilaku
perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat yang berorientasi sehat dapat
meningkatkan, memelihara, dan melindungi kualitas kesehatan baik fisik, mental,
spiritual maupun sosial.2
Perilaku hidup sehat meliputi perilaku proaktif untuk:2
a. Memelihara dan meningkatkan kesehatan dengan cara olah raga teratur dan
hidup sehat
b. Menghilangkan kebudayaan yang berisiko menimbulkan penyakit
c. Usaha untuk melindungi diri dari ancaman yang menimbulkan penyakit
d. Berpartisipasi aktif daalam gerakan kesehatan masyarakat
2.2.3. Sasaran PHBS
Sasaran PHBS dikembangkan dalam lima tatanan yaitu di rumah atau
tempat tinggal, di tempat kerja, di tempat-tempat umum, institusi pendidikan, dan
di sarana kesehatan. Sedangkan sasaran PHBS di institusi pendidikan adalah
seluruh warga institusi pendidikan yang terbagi dalam:1
a. Sasaran primer

Yaitu sasaran utama dalam institusi pendidikan yang akan dirubah


perilakunya atau murid dan guru yang bermasalah (individu/kelompok dalam
institusi pendidikan yang bermasalah).
b. Sasaran sekunder
Yaitu sasaran yang mempengaruhi individu dalam
institusi pendidikan yang bermasalah misalnya, kepala sekolah, guru, orang
tua murid, kader kesehatan sekolah, tokoh masyarakat, petugas kesehatan dan
lintas sektor terkait.
c. Sasaran tersier
Merupakan sasaran yang diharapkan menjadi pembantu dalam mendukung
pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk tercapainya pelaksanaan PHBS di
institusi pendidikan seperti, kepala desa, lurah, camat, kepala Puskesmas,
Diknas, guru, tokoh masyarakat, dan orang tua murid.
2.2.4. Strategi PHBS
Kebijakan Nasional Promosi kesehatan menetapkan tiga strategi dasar
promosi kesehatan dan PHBS yaitu:1
a. Gerakan Pemberdayaan (Empowerment)
Merupakan proses pemberian informasi secara terus menerus dan
berkesinambungan agar sasaran berubah dari aspek knowledge, attitude, dan
practice. Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan keluarga,
serta kelompok masyarakat.
b. Bina Suasana (Social Support)
Adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu
anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan.
Terdapat tiga pendekatan dalam bina suasana antara lain:
1. Pendekatan individu
2. Pendekatan kelompok

10

3. Pendekatan masyarakat umum


c. Advokasi (Advocacy)
Adalah upaya yang terencana untuk mendapatkan dukungan dari pihakpihak terkait (stakeholders). Pihak-pihak terkait ini dapat berupa tokoh
masyarakat formal yang berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan
penyandang dana pemerintah. Selain itu, tokoh masyarakat informal seperti tokoh
agama, tokoh pengusaha, dan lain sebagainya dapat berperan sebagai penentu
kebijakan tidak tertulis dibidangnya atau sebagai penyandang dana non
pemerintah. Sasaran advokasi terdapat tahapan-tahapan yaitu :
1. Mengetahui adanya masalah
2. Tertarik untuk ikut menyelesaikan masalah
3. Peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan alternatif
pemecahan masalah
4. Sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif
pemecahan masalah
5. Memutuskan tindak lanjut kesepakatan

2.2.5. Manfaat PHBS


Manfaat PHBS di lingkungan sekolah yaitu agar terwujudnya sekolah
yang bersih dan sehat sehingga siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah
terlindungi dari berbagai ancaman penyakit, meningkatkan semangat proses
belajar mengajar yang berdampak pada prestasi belajar siswa, citra sekolah
sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu menarik minat
orang tua dan dapat mengangkat citra dan kinerja pemerintah dibidang
pendidikan, serta menjadi percontohan sekolah sehat bagi daerah lain. Salah satu
indikator PHBS di lingkungan sekolah adalah mencuci tangan dengan air yang
mengalir dan menggunakan sabun.1

11

Perilaku cuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun


mencegah penularan penyakit seperti diare, kolera, disentri, typus, cacingan,
penyakit kulit, hepatitis A, ispa, flu burung, dan lain sebagainya. WHO (World
Health Organization) menyarankan cuci tangan dengan air mengalir dan sabun
karena dapat meluruhkan semua kotoran yang mengandung kuman. Cuci tangan
ini dilakukan pada saat sebelum makan, setelah beraktivitas diluar sekolah, setelah
menyentuh hewan, dan sehabis dari toilet. Usaha pencegahan dan penanggulangan
ini disosialisasikan di lingkungan sekolah untuk melatih hidup sehat sejak usia
dini. Anak sekolah menjadi sasaran yang sangat penting karena diharapkan dapat
menyampaikan informasi kesehatan pada keluarga dan masyarakat.8
2.3. Konsep Perilaku
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat
diamati langsung maupun yang dapat diamati pihak luar. Perilaku merupakan
respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar), oleh
karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme,
kemudian organisme tersebut merespons. 13
Perilaku kesehatan (health behavior) yaitu hal-hal yang berkaitan dengan
tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit,
kebersihan perorangan, dan sebagainya .13
Perilaku kesehatan adalah respon seseorang terhadap stimulus atau objek
yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap sehat sakit, seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan
kesehatan. Pengertian lain dari perilaku kesehatan adalah semua aktivitas
seseorang baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati yang
berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.13

12

2.3.1. Klasifikasi Perilaku Kesehatan


1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance) adalah perilaku atau
usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak
sakit dan usaha untuk penyembuhan bila sakit. Perilaku pemeliharaan
kesehatan terdiri dari 3 aspek:13
1. Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit,
serta pemulihan kesehatan bila telah sembuh dari penyakit.
2. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan
sakit.
3. Perilaku gizi (makanan dan minuman).
2. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan
atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (Heath Seeking Behavior)
adalah upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita dan atau
kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self
treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.13
3. Perilaku kesehatan lingkungan merupakan perilaku bagaimana seseorang
merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya
sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya.13
Selain klasifikasi di atas, terdapat klasifikasi perilaku kesehatan yang lain,
yaitu: 13
a. Perilaku hidup sehat
Merupakan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan
seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini
mencakup antara lain : menu seimbang, olahraga teratur, tidak merokok, tidak
minum-minuman keras dan narkoba, istirahat yang cukup, mengendalikan stres
dan perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan.

13

b. Perilaku sakit
Mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya
terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, dan
pengobatan penyakit.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior)
Perilaku ini mencakup tindakan untuk memperoleh kesembuhan,
mengenal/mengetahui fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan penyakit
yang layak dan mengetahui hak, misalnya hak memperoleh perawatan dan
pelayanan kesehatan.
2.4. Sekolah
2.4.1. Definisi Sekolah
Sekolah menurut Wikipedia adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk
pengajaran siswa/murid dibawah pengawasan guru. Sebagian besar Negara
memiliki system pendidikan formal, yang umumnya wajib.14
2.4.2. Pembagian Sekolah
Menurut status sekolah terbagi dari:
Sekolah negeri, yaitu sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah,
mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan
perguruan tinggi.14
Sekolah dasar (disingkat SD; bahasa Inggris: Elementary School) adalah
jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar
ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Saat ini murid
kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (Ebtanas) yang mempengaruhi
kelulusan siswa. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah
menengah pertama (atau sederajat). Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12
tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun wajib mengikuti
pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah
menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.14

14

Sekolah menengah pertama (disingkat SMP, Bahasa Inggris: junior high


school) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia
setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah menengah pertama ditempuh
dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9. Pada tahun ajaran
1994/1995 hingga 2003/2004, sekolah ini pernah disebut sekolah lanjutan tingkat
pertama (SLTP). Murid kelas 9 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu
Ebtanas) yang memengaruhi kelulusan siswa. Lulusan sekolah menengah pertama
dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas atau sekolah menengah
kejuruan (atau sederajat). Pelajar sekolah menengah pertama umumnya berusia
13-15 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib
mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan
sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.14
Sekolah menengah atas (disingkat SMA; bahasa Inggris: Senior High
School), adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di
Indonesia setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat). Sekolah
menengah atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas
12. Pada tahun kedua (yakni kelas 11), siswa SMA dapat memilih salah satu dari
3 jurusan yang ada, yaitu Sains, Sosial, dan Bahasa. Pada akhir tahun ketiga
(yakni kelas 12), siswa diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas)
yang memengaruhi kelulusan siswa. Lulusan SMA dapat melanjutkan pendidikan
ke perguruan tinggi atau langsung bekerja. (Kementerian Pendidikan Indonesia)
Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan
tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa, sedangkan tenaga
pendidik perguruan tinggi disebut dosen. Menurut jenisnya, perguruan tinggi
dibagi menjadi dua:14

Perguruan tinggi negeri adalah perguruan tinggi yang diselenggarakan


oleh pemerintah.

Perguruan tinggi swasta adalah perguruan tinggi yang diselenggarakan


oleh pihak swasta.
Di Indonesia, perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, institut,

15

politeknik,

sekolah

tinggi,

dan

universitas.

Perguruan

tinggi

dapat

menyelenggarakan pendidikan akademik, profesi, dan vokasi dengan program


pendidikan diploma (D1, D2, D3, D4), sarjana (S1), magister (S2), doktor (S3),
dan spesialis.14
2.4.3. Fungsi Sekolah
Fungsi belajar di sekolah dan di perguruan tinggi:
1. Melatih kemampuan akademis anak
Dengan melatih serta mengasah kemampuan menghafal, menganalisa,
memecahkan masalah, logika, dan lain sebagainya maka diharapkan seseorang
akan memiliki kemampuan akademis yang baik. Orang yang tidak sekolah
biasanya tidak memiliki kemampuan akademis yang baik sehingga dapat
dibedakan dengan orang yang bersekolah. Kehidupan yang ada di masa depan
tidaklah semudah dan seindah saat ini karena dibutuhkan perjuangan dan kerja
keras serta banyak ilmu pengetahuan.14
2. Menggembleng dan memperkuat mental, fisik dan disiplin
Dengan mengharuskan seorang siswa atau mahasiswa datang dan pulang
sesuai dengan aturan yang berlaku maka secara tidak langsung dapat
meningkatkan kedisiplinan seseorang. Dengan begitu padatnya jadwal sekolah
yang memaksa seorang siswa untuk belajar secara terus-menerus akan
menguatkan mental dan fisik seseorang menjadi lebih baik.14
3. Memperkenalkan tanggung jawab
Tanggung jawab seorang anak adalah belajar di mana orangtua atau wali
yang memberi nafkah. Seorang anak yang menjalankan tugas dan kewajibannya
dengan baik dengan bersekolah yang rajin akan membuat bangga orang tua, guru,
saudara, famili, dan lain-lain.14
4. Membangun jiwa sosial dan jaringan pertemanan
Banyaknya teman yang bersekolah bersama akan memperluas hubungan
sosial seorang siswa. Tidak menutup kemungkinan di masa depan akan
membentuk jaringan bisnis dengan sesama teman di mana di antara sesamanya
sudah saling kenal dan percaya. Dengan memiliki teman maka kebutuhan sosial

16

yang merupakan kebutuhan dasar manusia dapat terpenuhi dengan baik.14


5. Sebagai identitas diri
Lulus dari sebuah institusi pendidikan biasanya akan menerima suatu
sertifikat atau ijazah khusus yang mengakui bahwa kita adalah orang yang
terpelajar, memiliki kualitas yang baik dan dapat diandalkan. Jika disandingkan
dengan orang yang tidak berpendidikan dalam suatu lowongan pekerjaan kantor,
maka rata-rata yang terpelajarlah yang akam mendapatkan pekerjaan tersebut.14
6. Sarana mengembangkan diri dan berkreativitas
Seorang siswa dapat mengikuti berbagai program ekstrakurikuler sebagai
pelengkap kegiatan akademis belajar mengajar agar dapat mengembangkan bakat
dan minat dalam diri seseorang. Semakin banyak memiliki keahlian dan daya
kreativitas maka akan semakin baik pula kualitas seseorang. Sekolah dan kuliah
hanyalah sebagai suatu mediator atau perangkat pengembangan diri. Yang
mengubah diri seseorang adalah hanyalah orang itu sendiri.14

17

BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPRASIONAL
3.1. Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka
kerangka konsep dalam penelitian Gambaran Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
Pada Siswa SD X Desa Y Kecamatan Z tahun 2015 dapat digambarkan sebagai
berikut:

Tingkat Pengetahuan Cuci


tangan dengan sabun pada
Siswa X Desa Y
Kecamatan Z

Mencuci tangan dengan air yang


mengalir dan memakai sabun.

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian


3.2. Definisi Oprasional
Sesuai dengan masalah, tujuan, dan model penelitian, maka yang menjadi
variabel dalam penelitian beserta dengan definisi oprasionalnya sebagai berikut:
a) Pengetahuaan Cuci Tangan Pakai Sabun
1. Definisi

: Pengetahuan responden yang merupakan

siswa X mengenai perilaku cuci tangan pakai sabun


2. Alat Ukur

: Kuesioner

3. Cara Ukur

: Wawancara

4. Hasil Pengukuran: Baik atau Kurang


5. Skala Pengukuran: Nominal
b) Prilaku Cuci Tangan Pakai Sabun
Mencuci tangan adalah perlakuan kepada tangan menggunakan
air

yang

bertujuan

untuk

mengurangi

flora

transien

tanpa

mempengaruhi flora residen pada kulit. Penggunaan sabun dan/atau


deterjen yang mengandung agen antiseptik dapat digunakan untuk
membantu efektifitas mencuci tangan.

18

1. Alat Ukur

: Kuesioner

2. Cara Ukur

: Observasi

3. Hasil Pengukuran : Baik atau Kurang


4. Skala Pengukuran : Nominal
Tabel 3.1. Variasi dan Alat Ukur
VARIABEL
Pengetahuan
Hidup

ALAT

CARA

HASIL

SKALA

UKUR

UKUR

UKUR

UKUR

Kuesioner

Wawancara

Baik (>50%)

Ordinal

Bersih

Kurang

dan Sehat

(<50%)

Perilaku Hidup Kuesioner


Bersih
Sehat

dan

Wawancara

Baik (>50%)

Ordinal

Kurang
(<50%)

19

BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, dengan
desain cross-sectional (potong lintang), yaitu dengan melakukan pengamatan
sesaat untuk mengetahui gambaran perilaku hidup bersih dan sehat pada siswasiswi X, di desa Y, kecamatan Z tahun 2015.
4.2. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan selama 6 minggu (dari proposal sampai dengan hasil).
Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2015. Pengambilan data dilakukan saat
pelaksanaan salah satu sekolah dasar di wilayah kerja puskesmas Belawan, yaitu
di

X, desa Y, kecamatan Z. Lokasi dipilih karena merupakan penempatan

kegiatan kepaniteraan klinik senior (KKS) oleh Dinas Kesehatan Kota Medan.
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah siswa-siswi X tahun ajaran 2014/2015.
4.3.2. Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah stratified random
sampling yatu teknik penarikan sampel dengan membagi populasi sasaran di
dalam strata (golongan) menurut karakteristik tertentu yang dianggap penting oleh
peneliti.
Untuk menentukan besar sampel pada penelitian ini, penulis menggunakan
rumus deskriptif kategorikal, yaitu:
Z

= Deviat baku alpa = 1,96

= Harga proporsi di populasi = 0,5


20

= presisi = 0,1

= 1-P = 1-0,5 = 0,5

4.3.3. Kriteria Inklusi dan Ekslusi


4.3.3.1. Kriteria Inklusi
1. Seluruh siswa X, Desa Y, Kecamatan Z
2. Responden bersedia mengikuti penelitian
3. Responden dapat berbahasa Indonesia dengan baik
4.3.3.2. Kriteria Ekslusi
1. Siswa kelas I, II, dan III atau yang dianggap kurang kooperatif
2. Responden tidak bersedia mengikuti penelitian
4.4. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk memperoleh
informasi dari responden adalah dalam bentuk kuesioner (angket). Kuesioner
tersebut dibagikan pada siswa-siswi X .
4.4.1. Pengetahuan Cuci Tamgan Pakai Sabun
Perilaku responden diukur melalui 10 pertanyaan, jika responden
menjawab pilihan Ya akan diberi skor bernilai 1, dan jika responden menjawab
pilihan Tidak akan di beri skor bernilai 0. Dengan demikian diperoleh skor
maksimal 10. Berdasarkan jumlah skor yang telah diperoleh, maka ukuran tingkat
perilaku responden:
a. Baik, apabila skor yang diperoleh responden lebih besar dari 50% dari
skor maksimum, yaitu 6-10

21

b. Kurang, apabila skor yang diperoleh responden lebih kecil dari 50% dari
skor maksimum, yaitu 0-5
4.4.2. Tindakan Cuci Tamgan Pakai Sabun
Tindakan Cuci Tangan Pakai Sabun diukur melalui 10 pertanyaan. Apabila
responden Melakukan akan diberi skor 1, apabila responden

Tidak

Melakukan akan diberi skor 0. Dengan demikian diperoleh skor maksimal 10.
Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh, maka ukuran tingkat perilaku responden
:
a. Baik, apabila skor yang diperoleh responden lebih besar dari 50% dari
skor maksimum, yaitu 6-10
b. Kurang, apabila skor yang diperoleh responden lebih kecil dari 50%
dari skor maksimum, yaitu 0-5
4.5. Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer.
dimana data tersebut didapat langsung dari responden. Pengumpulan data akan
dilakukan dengan metode wawancara dengan menggunakan instrumen kuisioner
dan metode observational dengan cara melihat prilaku cuci tangan pakai sabun
oleh siswa X.
4.6. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu editing, coding,
entry, cleaning data, dan saving. Langkah pertama, editing, dilakukan untuk
memeriksa ketepatan dan kelengkapan data; kedua, coding, data yang telah
terkumpul kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah
dengan komputer; ketiga, entry, data kemudian dimasukkan ke dalam program
komputer; kemudian, cleaning data, dengan melakukan pemeriksaan semua data
yang telah dimasukkan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam
memasukkan data; terakhir, saving, data kemudian disimpan dan siap dianalisa.
Semua data yang telah dikumpulkan, dicatat dan dikelompokkan kemudian diolah
22

menggunakan program Statistic Package for Social Science (SPSS) sesuai dengan
tujuan penelitian.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat.


Jakarta: Depkes RI; 2008.

2. Kemenkes RI. Pedoman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta:


Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2010.

3. Nicholas Midzi, Sekesai Mtapuri-Zinyowera, Munyaradzi P Mapingure,


Noah H Paul, Davison Sangweme, Gibson Hlerema, et al. Knowledge
attitudes and practices of grade three primary school children in relation to
schistosomiasis, soil transmitted, helminthiasis and malaria in Zimbabwe.
BMC Infectious Disease; 2011.

4. Isaa c, Cairncross FS. How often do you wash your hands? A review of
studies of hand-washing practices in the community during and after the
SARS outbreak in 2003. International Journal of Enviromental Health
Research; 2007.

5. Rudrajit Paul, Nilay Kanti Das, Rina Dutta, Bandyopadhyay R. Bacterial


contaminant of hands of doctors. Indian Journal of Dermatology; 2011.

6. Balitbankes. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2008.

7. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan


Republik Indonesia; 2010.

24

8. WHO. WHO guidelines on hand hygiene in health care first global patient
safety challenge. Switzerland: WHO Press; 2009.

9. S, Lahiri SC. Sanitation and hygiene : a situation analysis paper for Lao
PDR. International Journal of Enviromental Health Research; 2003.
10.

FT, Ogunsola. Comparison of four methods of hand washing in

situations inadequate water supply. West African Journal of Medicine;


2008.

11. Maha Talaat, Salma Afifi, Erica Dueger, Nagwa El-Ashry, Anthony
Marfin, Amr Kandeel, et al. Effect of hand hygiene campaigns on
incidence of laboratory confirmed influenza and absenteeism in school
children Cairo, Egypt. Emerging Infectious Disease CDC; 2011.
12. Nicholas Midzi, Sekesai Mtapuri-Zinyowera, Munyaradzi P Mapingure,
Noah H Paul, Davison Sangweme, Gibson Hlerema, et al. Knowledge
attitudes and practices of grade three primary school children in relation to
schistosomiasis, soil transmitted, helminthiasis and malaria in Zimbabwe.
BMC Infectious Disease; 2011.
13. Soekidjo Notoadmojo. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta:
Rineka Cipta; 2007.
14. www.kemdiknas.go.id. Diakses pada 17 Febuari 2015.

25

LAMPIRAN
KUESIONER SISWA
Petunjuk Pengisian

Adik-adik dimohon untuk mengisi identitas diri dan sumber informasi.

Baca dan jawablah pertanyaan yang menurut kamu paling benar

A. Identitas Diri Responden :


1. Nama Siswa

: _______________________________________

2. Alamat Rumah

: _______________________________________
_______________________________________

3. Jenis Kelamin*

: ! Laki - laki

! Perempuan

4. Tempat / Tgl. Lahir

: _______________________________________

5. Umur

: ________________ Tahun

6. Tingkat Sekolah*

: ! SD

7. Kelas

: _______________________________________

! SMP

! SMA

B. Sumber Informasi
1. Apakah kamu pernah diajarkan mencuci tangan*

: ! Ya ! Tidak

2. Jika ya, saat kelas berapa kamu dianjurkan :


Siapa yang mengajari kamu cara mencuci tangan*
!

Petugas kesehatan

Media cetak (Koran, Majalah, dll)

Media Elektronik (Televisi, Radio, dll)

Guru

Keluarga (Orang tua, Kakak, dll)

Lain-lain, sebutkan ..

*Berilah tanda (X) pada salah satu jawaban dari pertanyaan yang ada

26

C. Pengetahuan Mencuci Tangan


Berilah tanda benar/ conteng (!) pada salah satu pilihan yangkamu anggap
benar
Pertanyaan

Ya

Tidak

Mencuci tangan adalah membersihkan tangan dan jari jemari


menggunakan air mengalir dan sabun

Mencuci tangan dengan bersih dapat mencegah penyakit dan


memutus mata rantai kuman

Mengusapkan antiseptic (seperti antis, detol) pada tangan dan jari,


merupaka bagian dari cuci tangan

Sebelum dan sesudah makan diperlukan mencuci tangan pakai


sabun

Mencuci tangan pakai sabun diperlukan setelah kita bermain/


berolahraga

Waktu yang tepat untuk cuci tangan pakai sabun adalah setelah
buang sampah

Mencuci tangan pakai sabun diperlukan setelah menyentuh


hewan/ unggas termasuk hewan pliharaan

27

Apabila tidak mencuci tangan pakai sabun dapat menyebabkan


diare

Selain diare apabila tidak mencuci tangan pakai sabun dapat


menyebabkan infeksi cacing

Setelah mencuci tangan diperlukan mengeringkan tangan dengan


lap kering/ tissue

28

Kode !!
Lembar Observasi Prilaku Cuci Tangan Pakai Sabun

1. Nama Siswa

_______________________________________________
2. Jenis Kelamin

: ! Laki - laki

3. Umur

: ________________ Tahun

4. Tingkat Sekolah

: ! SD

5. Kelas

: _________________________________________

No.
1.

! Perempuan

! SMP

Tindakan

! SMA

Tidak
Dilakukan

Dilakukan

Mencuci tangan menggunakan air mengalir dan


sabun

2.

Sebelum makan mencuci tangan

3.

Sesudah makan mencuci tangan

4.

Setelah bermain/ berolahraga mncuci tangan

5.

Setelah buang air kecil/ pipis mencuci tangan

6.

Setelah buang air besar/ pup/ berak mencuci


tangan

7.

Setelah buang ingus mencuci tangan

8.

Setelah buang sampah mencuci tangan

9.

Setelah buang air kecil/ pipis mencuci tangan

10.

Setelah mencuci tangan mengeringkan tangan


dengan lap kering/ tissue

29

30