Anda di halaman 1dari 13

NEW EMERGING DAN RE-EMERGING DISEASE

DISUSUN OLEH:
Kelompok 3

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE 2015 - 2015

BAB I
PENDAHULUAN
Emerging diseases adalah wabah penyakit menular yang tidak diketahui
sebelumnyaatau penyakit menular baru yang insidennya meningkat signifikan dalam dua
dekade terakhir. Contohnya MERS, hepatitis C, hepatitis B, avian influenza virus, nipah
virus, marburgvirus, lyme, lassa fever, hantavirus pulmonary syndrome, SARS, swine flu.
Re-emerging diseases adalah wabah penyakit menular yang muncul kembali
setelah penurunan yang signifikan dalam insiden di masa lampau. Contohnya diphtheria,
cholera, ebola virus, human plague, B. Anthracis, C. Botulinum toxin, F. Tularensis, Y.
Pestis, variola virus, viral haemorrhagic fever viruses.
Faktor yang bertanggung jawab pada Re-Emerging dan Emerging disease adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Perencanaan Pembangunan Kota yang tidak semestinya,


Ledakan penduduk, kondisi kehidupan yang miskin yang terlalu padat,
Industrialisasi dan urbanisasi,
Kurangnya pelayanan kesehatan,
Meningkatnya perjalanan internasional, globlisasi (gaya hidup),
Perubahan prilaku manusia seperti penggunaan pestisida, penggunaan obat

antimikroba yang bisa menyebabkan resistensi dan penurunan penggunaan vaksin,


7. Meningkatnya kontak dengan binatang,
8. Perubahan lingkungan karena adanya perubahan pola cuaca,
9. Evolusi dari microbial agent seperti variasi genetik, rekombinasi, mutasi dan adaptasi,
10. Hubungan microbial agent dengan hewan perantara (zoonotic encounter)
11. Perpindahan secara massal yang membawa serta wabah penyakit tertentu (travel
disease)
Pada tugas kali ini, kami akan membahas mengenai

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Virus Nipah

1. DEFINISI
Virus Nipah ditemukan pertama kali ketika terjadi wabah penyakit di Kampung Sungai
Nipah, Malaysia pada tahun 1998. Virus ini bersama virus Hendra merupakan bentuk virus
baru yaitu Henipavirus dalam family Paramyxoviridae (Anno 1999). Infeksi virus Nipah
ini di Malaysia dikenal juga dengan sebutan Porcine Respiratory and Ensefalitis
Syndrome (PRES) dan nama umumnya adalah "Barking Sindrom Babi" (BSB).
Nipah (nee-pa) merupakan penyakit virus yang dapat menular pada hewan dan
manusia. Wabah virus Nipah telah dilaporkan di Asia Tenggara (Malaysia, Singapura,
India, dan Bangladesh). OIE and Australian Health Authorities merekomendasikan bahwa
virus Nipah merupakan zoonosis yang sangat serius dengan kasus kematian 40-70%.
EPIDEMIOLOGI
Hingga saat ini, infeksi virus Nipah baru ditemukan di negara Malaysia dan Singapura
Namun, kasus tersebut sudah mulai mereda, bahkan Malaysia dan Singapura sudah dapat
dinyatakan bebas kembali . Beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap terjadinya
suatu kasus penyakit diantaranya adalah terjadinya perubahan ekologi, di mana habitat
hewan dan kelelawar semakin sempit sehingga bermigrasi ke tempat yang banyak
menyediakan makanan.
Ekskresi yang dikeluarkan oleh kelelawar mungkin mengandung agen infeksius
seperti Nipah yang bila terkena hewan lain yang sensitif, seperti babi, akan menimbulkan
wabah seperti yang terjadi di Malaysia . MORSE (1995) mengemukakan beberapa faktor
lain yang ikut berperan dalam kejadian dan penyebaran penyakit diantaranya adalah
adanya perubahan dalam kepadatan penduduk (human demography) dan kebiasaan
manusia, kemajuan dalam teknologi dan industri, mutasi dan adaptasi mikroba, dan
pelanggaran rambu-rambu standar kesehatan masyarakat.

Lokasi wabah virus nipah (merahvirus Hendra; biruvirus Nipah)


2. ETIOLOGI
1.

Agen

Agen virus Nipah adalah dari family Paramyxoviridae. Klasifikasi virus tersebut
menurut Bossart et al (2002) ialah:
Grup
: Grup V ((-) ssRNA)
Ordo
: Mononegavirales
Famili
: Paramyxoviridae
Genus
: Henipavirus
Type spesies : Hendravirus
Spesies
: Nipah virus
2.

Karakteristik Virus
2.2.1 Morfologi Virus Nipah
Spiral yang simetris
Memiliki selubung yang jelas (amplop)
Ukuran diameter 150-200 nm
Panjang 10.000-10.040 nm
Berbentuk bulat dan berfilamen
Bentuknya bervariasi
Ukuran diameter inti kapsid 13-18 nm
2.2.2 Komposisi Genetik
Virus RNA
Umumya bersifat negatif
Panjang nukleotida 15.200-15.900
Beruntai tunggal

2.2.3

Struktur Virus Nipah

Gambar 1 Struktur virus Nipah (Marahimi 2011)

Gambar 2 Virus nipah dibawah mikroskop elektron (Wikipedia.com)

2.2.3

Siklus Hidup

Replikasi virus Nipah sering terjadi pada epitel pernapasan induk semang. Replikasi
virus ini mirip dengan virus lain yang terdapat dalam kelompok Paramyxoviridae
dan secara keseluruhan sangat mirip dengan virus influenza. Replikasi kelompok
virus ini terjadi di sitoplasma. Virus melekat pada permukaan sel inang, amplop ke
membran plasma, dan inti kapsid dilepaskan ke dalam sel. RNA negatif
ditranskripsikan menjadi RNA pembawa dan RNA positif yang digunakan untuk
membuat RNA negatif. Setelah terjadi pertemuan antara kedua virus RNA tersebut
kemudian virus mulai bertunas dari membran sel. Virus ini memiliki kemampuan
seperti sel-sel yang dapat berfusi dan menciptakan sel-sel berinti besar yang disebut
syncytia. Virus dapat shedding dan berpindah ke tubuh inang lainnya melalui feses,
urin, air liur dan batuk

Gambar 3 Siklus replikasi virus Nipah famili Paramyxoviridae

(Moss dan Griffin 2006)

PATOFISIOLOGI

1. Induk Semang Definitif


Inang alami virus Nipah adalah sejenis kelelawar buah dari genus Pteropus. Hewan
ini mendistribusikan virus ke wilayah timur, barat, dan tenggara wilayah Australia,
Indonesia, Malaysia, Filipina dan sebagian wilayah Pulau Pasifik. Kelelawar diketahui
rentan terinfeksi penyakit ini namun tidak menunjukan gejala klinis. Virus Nipah
ditemukan pada banyak spesies kelelawar buah, diantaranya adalah Pteropus hyomelanus,
Pteropus vampyrus, Pteropus giganticus, Pteropus lylei, Cynopterus brchyotis, Eonycteris
spelaea, Hipposideros larvatus dan Scotophilus insectivorous kuhlii. Kelelawar buah dari
genus Pteropus seperti Pteropus vampyrus dan Pteropus hypomelanus di Malaysia dan
Pteropus lylei yang ditemukan di bagian Indochina merupakan induk semang alami virus
Nipah (Chua 2010).
2. Induk Semang perantara

Induk semang antara virus Nipah adalah babi. Babi adalah hewan yang diketahui
secara umum memiliki kemiripan genetik dengan manusia, maka dari itu sering sekali
virus yang menyerang manusia dengan beradaptasi terlebih dahulu di tubuh babi, termasuk
virus Nipah. Babi yang terinfeksi virus Nipah dapat menunjukkan gejala asimptomatis dan
juga simptomatis. Gejala yang simptomatis sering membuat kekhawatiran para peternak.
Penularan virus Nipah dari kelelawar buah ke babi dapat terjadi karena adanya tumpang
tindih antara habitat kelelawar dan peternakan babi di semenanjung Malaysia.
sering bermigrasi. Virus dapat ditemukan didalam urin, feses, dan sisa buah yang
telah dimakan oleh kelelawar tersebut. (CFSPH 2008).Data surveillance menunjukkan
bahwa virus Nipah menyebar dengan cepat diantara babi dalam satu peternakan dan
penularannya melalui kontak dengan sekreta seperti urin, air liur, semen ekskreta dari
hewan yang terinfeksi dan hewan yang menjadi pembawa vrus (carrier).
Hewan lain yang dapat terinfeksi adalah kuda dengan gejala penyakit ensefalitis,
anjing dengan gejala mirip distemper, demam, gangguan pernafasan, dan keluarnya cairan
dari hidung dan mata. Kucing juga bisa terkena infeksi virus Nipah dengan gejala demam,
depresi, dan gangguan pernafasan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penyakit ini dapat
ditransmisikan kepada hamster.
3. Sumber Agen Penyebab
3.3.1 Infeksi
Virus Nipah dapat menyebar akibat ulah manusia, yaitu pada saat terjadinya
kebakaran hutan akibat penebangan liar. Peristiwa ini menyebabkan habitat alami
kelelawar buah atau satwa liar lainnya tergaggu dan sumber makanan menjadi berkurang
sehingga mereka bermigrasi ke tempat lain untuk dapat bertahan hidup (Chua 2003).
Babi dapat terinfeksi akibat kontak atau makanan dari objek atau material yang
terkontaminasi virus Nipah. Virus dapat menyebar diantara babi melalui kontak langsung
ataupun udara pada saat babi yang terinfeksi tersebut batuk. Spesies lainpun dapat
terinfeksi apabila adanya kontak langsung dengan babi yang terinfeksi atau objek yang
terkontaminasi (CFSPH 2008).

Gambar 4 Inang virus nipah (Chua 2003)


3.3.2 Penularan dari Hewan ke Manusia
Virus Nipah tidak hanya menyerang babi tetapi juga dapat menyerang manusia.
Kontak langsung dengan babi yang terinfeksi merupakan cara penularan utama. Kasus
pertama ditemukan dalam wabah besar di Malaysia pada tahun 1999 (Goh et al.
2000). Manusia yang diidentifikasi terinfeksi sebanyak 90% adalah peternak babi atau
pernah kontak dengan babi. Infeksi pada manusia dapat bervariasi dari tidak ada gejala
hingga meninggal. Selama periode epidemik tahun 1998-1999 di Malaysia, 40-50% dari
kasus di manusia mengakibatkan kematian (CFSPH 2008).
Beberapa wabah yang lebih kecil pada manusia terjadi setiap tahun di Bangladesh
dan India Selatan sejak tahun 2001. Tingkat fatalitas lebih dari 200 kasus adalah sekitar
70%. Menurut Luby et al. (2006), kurma mentah yang terkontaminasi oleh air liur, air seni
atau feses kelelawar dianggap sebagai cara penting dalam penularan virus Nipah ke
manusia. Kemunculan kelelawar yang berhubungan dengan infeksi virus ke manusia
diakibatkan hilangnya habitat alami kelelawar. Habitat kelelawar hancur akibat aktivitas
manusia sehingga hewan tersebut stres, lapar, sistem kekebalan tubuh semakin lemah, dan
jumlah virus dalam urin dan air liur kelelawar bertambah.
Pada saat terjadi wabah virus Nipah di Bangladesh virus dapat ditularkan secara
langsung dan tidak langsung dari kelelawar yang terinfeksi ke manusia (Gurley et al.
2007).

Penularan dari Manusia ke Manusia


Pada awal wabah di Malaysia dan Singapura, sebagian besar infeksi pada manusia
berasal dari kontak langsung dengan babi yang sakit atau bagian jaringan yang
terkontaminasi. Penularan dari manusia ke manusia ditemukan di Bangladesh pada tahun
2004 (Gurley et al. 2007). Sumber infeksi yang paling mungkin terjadi pada saat wabah
di Bangladesh dan India adalah melalui konsumsi buah-buahan atau produk buah
(misalnya jus kurma mentah) yang terkontaminasi dengan urin atau air liur dari kelelawar
buah yang terinfeksi (CFSPH 2008).
Setelah kejadian wabah di Bangladesh dan India, virus Nipah menyebar secara
langsung dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan orang terinfeksi
melalui sekresi dan ekskresi. Kasus manusia ke manusia juga telah dilaporkan terjadi pada
penjaga dan pekerja rumah sakit di India pada tahun 2001. Petugas kesehatan
dan pengunjung rumah sakit menjadi terinfeksi setelah kontak langsung dengan pasien
rawat inap yang terinfeksi virus Nipah (Cadha et al. 2006)
3. TANDA DAN GEJALA
1. Menurut APHIS Issues (1999), gejala klinis dari infeksi virus Nipah pada
manusia adalah demam, sakit kepala, cepat lelah, batuk, sakit pada tulang
punggung, muntah-muntah, lemah, radang tenggorokan (susah menelan),
dan penglihatan berkurang. Gejala infeksi virus Nipah pada manusia ini
mirip dengan flu seperti demam dan nyeri otot. Virus Nipah dalam
beberapa kasus juga dapat menyebabkan radang otak yang ditandai dengan
demam, gangguan syaraf, dan sulit bernafas.
2. Manusia yang terinfeksi penyakit ini mempunyai sifat infeksi yang
asimptomatik (gejala tidak terlihat) sampai yang berat yaitu ensefalitis.
Infeksi virus Nipah menyebabkan demam tinggi selama 3-14 hari, sakit
kepala yang sulit diobati dengan obat-obatan golongan analgesik, diare,
gangguan pernafasan, batuk, dan flu. Gejala ensefalitis yang paling utama
yaitu depresi, pusing, inkoordinasi, konvulsi, epilepsi dan koma. Infeksi
virus Nipah umumnya menyerang orang dewasa yang pernah kontak
dengan babi yang terinfeksi. Hal ini berkaitan erat dengan jenis pekerjaan
yaitu sebagai pekerja di peternakan babi atau rumah potong hewan (RPH).
3. Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) terjadi antara
4-45 hari. Penyakit yang disebabkan oleh virus Nipah dapat diketahui
setelah penderita mengalami demam dan sakit kepala terus menerus. Gejala
ini akan berkembang menjadi koma dalam 24-48 jam. Kebanyakan orang
yang bertahan hidup dari ensefalitis akut dapat pulih kembali, namun
sekitar 20% masih mengalami konsekuensi tanda neurologis seperti
kejang persisten dan perubahan kepribadian. Sejumlah kecil orang yang
sembuh akan kambuh kembali dan dapat mengalami ensefalitis kronis.
Neurologis yang tidak berfungsi persisten dapat terjadi lebih dari 15%
dalam jangka waktu yang lama. Tingkat fatalitas kasus pada manusia
diperkirakan mencapai 9-75%, tergantung pada kemampuan virus
menginfeksi.

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1

Virus Nipah merupakan virus yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia,
maka diagnosa infeksi virus Nipah memerlukan penanganan khusus. Diagnosa
penyakit dapat dilakukan berdasarkan epidemiologi penyakit, pengamatan
gejala klinis yang ditimbulkan, pemeriksaan laboratorium yang mencakup
deteksi antibodi yang spesifik, isolasi virus penyebab, deteksi virus antigen dari
sampel yang dicurigai, dan pemeriksaan patologi anatomi.
Berbagai tes untuk virus atau antibodi virus Nipah antara lain serum
neutralization (SN), polymerase chain reaction (PCR), enzyme-linked
immunosorbent assay (ELISA) dan teknik antibody fluorescence. Virus mudah
tumbuh didalam kultur jaringan. Virus Nipah merupakan zoonosis patogen
biosecurity level 4 (BSL 4) dan harus sangat hati-hati dalam penanganan hewan
yang
terinfeksi,
dalam
mengumpulkan
dan
menguji
sampel
(Daniel et al. 2001).

Uji SN merupakan uji yang paling sensitif dan spesifik untuk virus Nipah,
sehingga uji tersebut dijadikan gold standard pengujian virus Nipah. Uji SN
tersebut tidak tepat digunakan untuk melakukan surveillance karena pada uji
SN digunakan virus hidup yang penangannnya mutlak dilakukan di
laboratorium yang memiliki tingkat keamanan sangat tinggi dengan fasilitas
Biosecurity Level (BSL) 4 sehingga biayanya menjadi sangat mahal. Sebagian
besar negara di Wilayah Asia Tenggara tidak memiliki fasilitas yang
memadai untuk
mendiagnosa virus atau cara
mengendalikannya.
Bangladesh, India
dan
Thailand telah
mengembangkan kapasitas
laboratorium untuk tujuan diagnostik dan penelitian.

Uji ELISA dapat digunakan dan diterapkan di laboratorium yang sederhana


karena menggunakan virus yang telah dimatikan sebagai antigen. Uji ELISA
ini merupakan uji pilihan yang paling tepat dalam melakukan pengujian
terhadap infeksi virus Nipah. Balai Besar Penelitian Veteriner (B Balivet) telah
menerapkan uji ELISA terhadap serum babi dari beberapa daerah di Indonesia.
Konfirmasi terhadap infeksi virus Nipah harus dilakukan dengan uji SN yang
saat ini hanya dapat dilakukan di laboratorium Australian Animal Health
Laboratory (AAHL), Australia.
Deteksi antigen dengan menggunakan uji immuno-histokimia dari sampel
organ yang terinfeksi merupakan uji yang sangat memungkinkan dapat
diterapkan di Indonesia. Deteksi antigen dapat pula dilakukan dengan
menggunakan polymerase chain reaction (PCR) atau teknik antibodi
fluorescence (IFAT), namun pemeriksaan ini membutuhkan pengamanan yang
khusus dan dilakukan di laboratorium dengan fasilitas BSL 3 (Sendow dan
Adjid 2005).
Pemeriksaan virus Nipah dapat dilakukan juga dengan kultur sel. Spesimen
darah 10 ml, darah utuh dalam tabung EDTA 10 ml, fiksasi spesimen paru-paru
segar, otak, organ-organ dan jaringan utama.

5. PENATALAKSANAAN

Tidak ada vaksin yang spesifik untuk mencegah infeksi virus Nipah namun vaksin
aktif virus Nipah dan transfer pasif dari antibodi virus ini telah menunjukkan hasil
yang baik pada penelitian dengan menggunakan hamster. Walpita et al. (2011)
dalam penelitiannya, mendeskripsikan vaksin potensial dari virus Nipah (NiV)
yang menyerupai partikel virus (NiV VLPs) dan tersusun oleh tiga protein virus
Nipah yaitu protein G, F dan M. Ekspresi yang dihasilkan dari protein ini
mengoptimalkan kondisi dalam jumlah yang dapat dihitung dari VLPs dengan
banyak vaksin yang diinginkan termasuk beberapa VLPs dari paramyxovirus yang
tidak terdeskripsikan. Vaksin yang dibuat dengan formulasi sub-unit vaksin
rekombinan yang dapat melindungi agen letal virus Nipah berubah pada kucing
(McEachern et al. 2008). Vaksin virus Nipah F dan G dari vektor ALVAC
Canarypox dapat menjadi vaksin untuk babi dan berpotensi untuk manusia.
Strategi utama adalah untuk mencegah virus Nipah pada manusia (Weingartl et al.
2006).

Virus Nipah mudah diinaktifasikan oleh berbagai disinfektan, deterjen, sabun dan
natrium hipoklorit (pemutih). Pembersihan fisik secara rutin dengan penggunaan
disinfektan komersial atau pemutih akan mengendalikan virus di dalam lingkungan
namun belum ada obat yang terbukti efektif dalam mengobati infeksi

Pengobatan awal dapat dilakukan dengan menggunakan obat antiviral yaitu


ribavarin yang dapat mengurangi demam dan gejala lainnya (Chong et al. 2001).
Keefektifan pengobatan ini belum dipastikan dalam meningkatkan kelangsungan
hidup penderita. Pengobatan ini difokuskan pada demam dan gejala syaraf pada
penderita. Bagi pasien yang terinfeksi virus cukup parah disarankan untuk dirawat
di rumah sakit dan bila perlu menggunakan ventilator. Ribavarin diberikan secara
oral atau intravena untuk 140 orang yang terinfeksi oleh virus ini dan asiklovir
diberikan kepada semua pasien selama wabah di Singapura (Bellini et al. 2002.).

PENCEGAHAN
1. Pencegahan merupakan sebagian dari komponen pengendalian. Sejak
ditemukannya virus Nipah di Malaysia dan Singapura kebijakan-kebijakan mulai
dikembangkan untuk membantu membasmi penyakit tersebut. Salah satunya
adalah membasmi penyebaran virus Nipah dengan memilih babi yang berkualitas,
memberikan vaksin pada ternak, mencari informasi lebih lanjut tentang pembawa
utama virus, epidemiologi, dan patogenesis virus. Pencegahan lainnya adalah
dengan tidak melakukan kontak langsung terhadap cairan tubuh dan jaringan
hewan yang terinfeksi. Pencegahan terbaik pada hewan adalah berusaha
menghindari babi yang diduga telah kontak dengan kelelawar buah dan mencegah
hewan lain mendekati babi yang terinfeksi virus tersebut.
2. Pencegahan pada manusia yang terbaik adalah berusaha menghindari kontak
langsung dengan hewan yang dapat ditularkan oleh virus Nipah seperti memakan
daging hewan yang tertular dan tidak memakan buah yang mungkin terkontaminasi
oleh air liur atau urin kelelawar buah penyebab virus Nipah tersebut (CFSPH
2008). Pekerja kesehatan yang menangani pasien terinfeksi virus Nipah juga

diharapkan lebih waspada dengan selalu menggunakan standar keamanan ketika


menangani pasien dan diberi vaksin sebagai antisipasinya
.
3. Pengawasan berulang (surveillance) adalah cara penting deteksi dini untuk
penyakit yang disebabkan oleh virus Nipah. Cara ini telah diimplementasikan di
Malaysia, Thailand, dan Bangladesh. Menurut Iehl et al. (2007), antibodi untuk
henipavirus dapat ditemukan pada kelelawar buah di Madagaskar (Pteropus rufus,
Eidolon dupreanum) dan menurut Hayman et al. (2008), antibodi untuk
henipavirus dapat ditemukan pada kelelawar buah di Ghana (Eidolon helvum). Hal
ini menandakan suatu distribusi geografi yang luas tetapi tidak ditemukan adanya
infeksi pada manusia atau spesies lain di Kamboja, Thailand atau Afrika.
Kesadaran pada infeksi virus ini harus ditingkatkan pada lokasi endemik yang
disebabkan oleh kelelawar buah. Pengawasan pada hewan seperti kuda dan babi
juga penting untuk deteksi dini infeksi virus Nipah.

BAB III
KESIMPULAN

Emerging diseases adalah wabah penyakit menular yang tidak diketahui


sebelumnya atau penyakit menular baru yang insidennya meningkat signifikan dalam dua
dekade terakhir, contohnya Virus Nipah. Virus Nipah adalah penyakit virus yang dapat
menular pada hewan dan manusia ditemukan pertama kali ketika terjadi wabah penyakit di
Kampung Sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1998. Virus ini bersama virus Hendra
merupakan bentuk virus baru yaitu Henipavirus dalam family Paramyxoviridae (Anno
1999). Infeksi virus Nipah ini di Malaysia dikenal juga dengan sebutan Porcine
Respiratory and Ensefalitis Syndrome (PRES) dan nama umumnya adalah "Barking
Sindrom Babi" (BSB).

DAFTAR PUSTAKA
1
2
3
4

Anno. 1999. Outbreak of Hendra-like virus Malaysia and Singapore, 1998-99. Morb. Mort.
Weekly Rep., 48 (13), 265-269.
[APHIS]. Animal and Plant Health Inspection Service.1999. Nipah virus, Malaysia.
Emerging Disease Notice
Australian Wildlife Health Network. 2010. EXOTIC - Nipah Virus FACT SHEET.
Australia
Bellini WJ, Rota PA, and Parashar UD. 2002. Zoonotic paramyxoviruses. Richman, DD,
Whitley, RJ, and Hayden, FG (eds.). Clinical virology 2nd ed. Washington, DC, USA: ASM
Press

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Bossart KN, Wang LF, Flora MN, Chua KB, Lam SK, Eaton BT, Broder CC. 2002.
Membrane fusion tropism and heterotypic functional activities of the
Nipah virus and
Hendra virus envelope glycoproteins. J Virol 76(22):11186-9
[CFSPH]. Center for Food Security and Public Health. 2008 Nipah. [terhubung berkala]
http://www.cfsph.iastate.edu/iseaseInfo/ default.htm. [11 Maret 2012]
Chadha MS, Comer JA, Lowe L, Rota PA, Rollin PE, Bellini WJ, Ksiazek TG, Mishra AC.
2006. Nipah virus-associated encephalitis outbreak, Siliguri, India. Emerg Infect
Dis12:235-40
Chong HT, Kamarulzaman A, Tan CT, Goh KJ, Thayaparan T, Kunjapan SR, Chew NK,
Chua KB, Lam SK. 2001. Treatment of acute Nipah encephalitis with ribavirin. Ann
Neurol. 49:810-3.
Chua KB. 2003 .Nipah virus outbreak in Malaysia. J Clin Vir. 26(3): 265-275
Chua KB. 2010. Epidemiology, surveillance and control of Nipah virus infections in
Malaysia. Malaysian J Pathol 2010; 32(2) : 69 73
Daniels P, Ksiazek T, Eaton BT. 2001. Laboratory diagnosis of Nipah virus and Hendra
infections. Microbes Infect., 3. 2001:289-295.
Goh KJ, Tan CT, Chew NK, Tan PSK, Kamarulzaman A, Sarji SA, Wong KT, Abdullah BJJ,
Chua KB, Lam SK. 2000. Clinical features of Nipah virus encephalitis among pig farmers
in Malaysia. N. Engl. J. Med. ;342, 12291235.
Gurley E, Montgomery JM, Hossain MJ, Bell M, Azad AK, Islam MR. 2007.Persontoperson transmission of Nipah virus in a Bangladeshi community. Emerg Infect Dis. ;
13:1031-7.
Hayman DTS, Suu-Ire R, Breed AC, McEachern JA, Linfa Wang L, Wood JLN,
Cunningham AA. 2008. Evidence of henipavirus infection in West African fruit bats. PLoS
ONE 3 (7): 2739
Iehl C, Razafitrimo G, Razainirina J, Goodman SM, Faure C, Georges-Courbot MC,
Rousset D, Reynes JM, NicoleAndriaholinirina. 2007. Henipavirus and Tioman virus
antibodiesin pteropodid bats, Madagascar. Emerging Infec. Dis 13 (1): 15961.
Luby SP , Rahman M, Hossain MJ, Blum LS, Husain MM, Gurley E, Khan R, Ahmed BN,
Rahman S, Nahar N, Kenah E, Comer JA, Ksiazek TG. 2006. Foodborne transmission of
Nipah virus, Bangladesh. Emerg Infect Dis 12:1888-1894
Marahimi.
2011.
Nipah
Virus:
A
deadly
encephalitis.
[terhubung
berkala] http://www.dr.marahimi.com/2011/11/05/nipah-virus/ [19 Maret 2012]
McEachern JA, Bingham J, Crameri G, Green DJ, Hancock TJ, Middleton D. A
recombinant subunit vaccine formulation protects against lethal Nipah virus challenge in
cats. Vaccine. Volume 26, Issue 31, 23 July 2008:3842-3852.
Moss WJ, Griffin DE. 2006. Global measles elimination. Nat
Rev Microbiol. 4(12):9008.
Nor MNM. 1999. Emergency report on Nipah to the OIE. Disease Information 28: 12(20)
Reynes JM, Counor D, Ong S, Faure C, Seng V, Molia S, Walston J, Georges-Courbot
MC, Deubel V, Sarthou JL. 2005. Nipah virus in Lyles flying foxes. Cambodia.Emerg
Infect Dis 11:1042
Sendow I, Adjid RMA. 2005. Penyakit Nipah Dan Situasinya Di Indonesia. Wartazoa Vol.
15 No. 2.
Walpita P, Barr J, Sherman Ml, Basler CF, Wang L. 2011. Virus-Like Particle-Based Nipah
Virus Vaccine. Plos One
Weingartl et al. 2006. Recombinant Nipah virus vaccines protect pigs against challenge.
Journal of Virology 80, : 7929-38.