Anda di halaman 1dari 2

UTS Etika Bisnis dan Profesi

Nama
NIM
Kelas

: Raditya Shinta
: 125020300111096
: CD

Teori Etika: Teori Prevalensi VS Teori yang Terbaik


Menurut Darmaputera (1997), dalam dunia etika, teleologi bisa diartikan sebagai
pertimbangan moral akan baik buruknya suatu tindakan dilakukan. Teleologi memberikan
penjabaran tentang sesuatu yang benar dan yang salah, tetapi bukan untuk dijadikan hasil
akhir.Teori ini menekankan pada tujuan dan akibat. Menurut teori ini, aspek lain yang
terkandung dalam suatu tindakan akan dinomorduakan karena yang terpenting adalah
tindakan tersebut bertujuan dan berakibat baik. Dengan dasar ini dapat dikatakan bahwa
teleologi lebih bersifat situasional, karena tujuan dan akibat suatu tindakan bisa sangat
tergantung pada situasi khusus tertentu. Sebagai contoh, seseorang yang curang dalam
berdagang dinilai melanggar hukum, namun motif dibalik orang tersebut melakukan hal itu
adalah untuk membantu membiayai uang sekolah saudaranya agar dapat melanjutkan sekolah
ke tingkat yang lebih tinggi. Walaupun tindakan tersebut adalah salah menurut hukum dan
termasuk tindakan yang berdosa menurut agama, tetapi jika itu bertujuan dan berakibat baik,
maka tindakan itu akan dinilai baik menurut perspektif orang itu. Akibatnya tidak sedikit
dampak negatif yang timbul dari penerapan teori ini, salah satunya adalah pemikiran untuk
melakukan segala upaya dalam rangka mencapai tujuan pribadi dan tidak memperhitungkan
dampaknya bagi orang lain. Dengan kata lain, teori ini lah yang menjadi salah satu pemicu
tumbuhnya kapitalisme yang sekarang sedang merajalela. Semua orang berlomba-lomba
untuk mensejahterakan dirinya sendiri dan mengesampingkan kepentingan kelompok.
Begitulah fenomena yang sedang terjadi dalam dunia bisnis saat ini. Penerapan teori etika ini
dalam kegiatan bisnis perusahaan mengakibatkan perusahaan bertindak seperti individu dan
memiliki tujuan yang sengaja dirancang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Tujuan
utama kebanyakan perusahaan swasta dan multinasional adalah memaksimalkan kekayaan
perusahaan. Mereka memprioritaskan hasil akhir yang sudah ditargetkan dengan berbagai
cara, terlepas dari benar salahnya cara yang mereka gunakan. Seperti yang diungkapkan
dalam Nugroho (2012), contoh yang nyata terjadi pada kasus PT Dirgantara Indonesia tahun
1996. Dari kasus tersebut bisa kita simpulkan bahwa budaya organisasi yang terbentuk dapat
mempengaruhi tindakan atau kebijakan para eksekutif maupun karyawannya, dan sayangnya
mereka menghalalkan tindakan yang tidak etis. Pada keadaan seperti itu, kemungkinan untuk
melanggar segala aturan atau regulasi akan lebih besar bahkan lebih parahnya adalah
menyimpang dari nilai dan moral yang ada dalam suatu kelompok masyarakat. Dari
penjelasan ini, saya berpendapat bahwa teori teleologi merupakan teori yang menjadi acuan
perilaku etis sebagian besar masyarakat dunia saat ini.
Terdapat satu teori etika yang bertolak belakang dengan teori teleologi yaitu teori deontologi.
Merujuk pada buku Pengantar Etika Bisnis (Bertens, 1997), teori etika deontologi memiliki
definisi berikut ini:
Deontologi berasal dari kata Yunani deon, yang berarti sesuatu yang harus dilakukan
atau kewajiban yang harus dilakukan sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Sesuatu itu
dianggap baik karena tuntutan norma sosial dan moral, apapun dampaknya dan tidak

tergantung dari apakah ketaatan atas norma itu membawa hasil yang menguntungkan atau
tidak, menyenangkan atau tidak.
Meneruskan definisi diatas, suatu tindakan dianggap bernilai moral karena tindakan itu
dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Dengan kata lain, nilai moral
suatu tindakan bukan dinilai berdasarkan dampak setelahnya yang berupa hasil atau kebaikan
yang akan diperoleh melainkan bergantung pada niat individu yang melakukan tindakan
tersebut. Menurut Makhsin (2007), teori ini terbagi menjadi dua aspek yaitu deontologikal
tindakan dan deontologikal peraturan. Deontologikal tindakan bermakna semua pertimbangan
moral adalah keputusan spesifik dan menitik beratkan apa yang berlaku ataupun tindakan
dalam situasi tertentu. Dengan begitu, individu bebas membuat keputusan moral dan tidak
akan menerima apabila pilihan atau keputusannya dipengaruhi orang lain. Sedangkan
deontologikal peraturan mementingkan kebaikan individu itu dibandingkan kepiawaian yang
sesuai bagi dilakukan individu. Jadi suatu tindakan dianggap bermoral jika dilakukan dengan
kerelaan hati atau tanggungjawab yang dimiliki oleh seseorang. Dengan kata lain, prinsip ini
menekankan bahwa tanggungjawab dilaksanakan karena hal itu merupakan kewajiban yang
dilakukan berdasarkan kerelaan hati.
Kesimpulannya suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai
atau tidak dengan kewajiban. Oleh karena itu, etika deontologi mempertimbangkan baik
buruknya perbuatan pada kewajiban. Dalam agama Islam, seseorang akan dianggap baik atau
mukmin apabila ia melaksanakan kewajiban dari Allah SWT. Substansi dari konsep dan
ajaran tersebut adalah serupa dengan apa yang menjadi fokus dari pendekatan deontologi.
Agama lain pun akan mengatakan hal yang kurang lebih sama, sehingga teori ini dianggap
searah dengan nilai-nilai kepercayaan atau agama. Menurut saya, terdapat tiga hal yang
menjadi karakteristik dalam teori ini. Pertama, suatu tindakan harus dijalankan berdasarkan
kewajiban agar dinilai memiliki nilai moral. Kedua, nilai moral dari tindakan ini tidak
bergantung pada tercapai atau tidaknya tujuan dari tindakan itu melainkan bergantung pada
niat baik yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan itu. Dan ketiga, sejalan
dengan nilai agama, seseorang akan dinilai berdasarkan proses atau usaha yang dijalaninya,
urusan hasil yang didapatnya bukanlah urusan manusia melainkan urusan Tuhan.
Dari penjelasan diatas, teori etika yang paling baik menurut saya adalah teori deontologi,
karena dalam teori ini terdapat unsur-unsur moral serta nilai agama yang berlandaskan
kewajiban dan amanah namun tetap menjaga kebebasan individu atas suatu tindakan (tidak
bersifat mengekang).

Referensi:
Bertens. 1997. Pengantar Etika Bisnis.
Darmaputera. 1987. Etika Sederhana Untuk Semua: Perkenalan Pertama. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
Makhsin, Mardzilah. 2007. Sains Pemikiran dan Etika. Jakarta: PTS Professional
Nugroho, Mahendra Adi. 2012. Konsep Teori dan Tinjauan Kasus Etika Bisnis PT
Dirgantara Indonesia (1960-2007). Jurnal Economia, Volume 8, Nomor 1, April 2012