Anda di halaman 1dari 30

potensiometri

PENGARUH UNSUR Al, Mg, DAN Na


PADA ANALISIS URANIUM SECARA
POTENSIOMETRI
Boybul dan Iis Haryati
Puspa Novadianti S.
1113102000028

Prinsip Dasar
Potensiometri
Potensiometri adalah suatu cara analisis berdasarkan pengukuran
beda potensial sel dari suatusel elektrokimia. Metode potensiometri
digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu ion (ion selective
electrode), pH suatu larutan, dan menentukan titik akhir titrasi.
elektrode pembanding
(refference electrode)
Alat-alat yang
diperlukan dalam
metode potensiometri

elektroda indikator
(indicator electrode )

Alat pengukur
potensial

Jenis-jenis Elektroda

Elektroda
acuan

Elektroda Indikator

Elektroda Acuan
Adalah elektroda yang
potensial standarnya
diketahui, konstan,
mengikuti persamaan
Nernst.
GGL hanya
mencerminkan respons
elektroda indikator
terhadap analit.

Persamaan Nerst
Ecell = Eind Eref + Ej
Persamaan Nernst: E = 0,0591/n log K
Keterangan:
Ecell : Potensial sel
Eind : Potensial elektroda indikator
Eref : Potensial elektroda acuan
Ej : Potensial sambungan cair (liquid
junction potential)

Jenis Elektroda
Acuan
1. Elektroda Calomel
Notasi : HgHg2Cl2 (jenuh), KCl (x M)
x = konsenrasi KCl.
Konsentrasi KCl jenuh lebih mudah
dibuat dan lebih sering digunakan,
tetapi mudah terpengaruh oleh suhu.
Reaksi yang terjadi pada elektroda
Calomel:
Hg2Cl2(s) +2e 2 Hg(l) + 2Cl-(aq)

Jenis Elektroda Acuan


2. Elektroda Ag/AgCl
Notasi :
AgAgCl (jenuh), KCl(jenuh)
Reaksi Redoks: Ag+ + e Ag
AgCl + e Ag + Cl-

Logam perak sebagai elektroda yang


dicelup dalam KCl jenuh dan pasta AgCl.
Potensialnya pada 25oC adalah 0,199 V.

ELEKTRODA INDIKATOR
Elektroda logam
Elektroda jenis pertama
Elektroda jenis kedua
Elektrodda jenis ketiga

Elektroda inert
Elektroda membran
Elektroda kaca

ELEKTRODA JENIS PERTAMA


Pada elektroda ini, ion analit
berpartisipasi
langsung
dengan
logamnya dalam suatu reaksi paruh
yang dapat balik.
Beberapa logam seperti Ag, Hg, Cu
dan Pb dapat bertindak sebagai
elektroda indikator bila bersentuhan
dengan ion mereka.
Contoh:
Ag++ e Ag
E0 = +0,80 V

ELEKTRODA JENIS PERTAMA


Pada
reaksi
sebelumnya,
potensial
sel
berubah-ubah
menurut besarnya aktivitas ion
perak (Ag+). Sesuai dengan
persamaan Nernst:

Karena Ag merupakan padatan,


maka aktivitasnya = 1, sehingga:

ELEKTRODA JENIS KEDUA


Ion-ion dalam larutan tidak bertukar
elektron dengan elektroda logam
secara langsung, melainkan mengatur
konsentrasi ion logam yang bertukar
elektron dengan permukaan logam.
Elektroda
ini
bekerja
sebagai
elektroda referensi tetapi memberikan
respon
ketika
suatu
elektroda
indikator
berubah
nilai
ax-nya
(misalnya KCl jenuh berarti x=Cl).

ELEKTRODA JENIS KEDUA


Misalnya pada elektroda perakperak klorida. Kesetimbangan
reaksi:
AgCl (s) + e
Ag+ + Cl
Eo = + 0,22 V

Elektroda Jenis Ketiga


Elektroda jenis ini dipergunakan
sebagai
elektroda
indikator
dalam
titrasi-titrasi
EDTA
potensiometrik dari 29 ion logam.
Elektrodanya
sendiri
berupa
suatu tetesan atau genangan
kecil raksa dalam suatu cangkir
pada bagian ujung tabung-J
dengan suatu kawat ke sirkuit
luar.

Sejumlah kecil dari selat raksaEDTA, HgY2- ditambahkan ke


larutan yang mengandung Y4-,
setengah reaksi yang terjadi
dalam katode:
HgY2- + 2e Hg(l) + Y4- Eo = +0,21
V
E = 0 ,21 - 0,059/2 log aY4- / a
HgY2-

Elektroda Inert
Elektroda inert merupakan elektroda yang
tidak masuk ke dalam reaksi. Salah satu
contohnya adalah platina.
Elektroda ini bekerja baik sebagai elektroda
indikator untuk pasangan redoks seperti
Fe3+ + e F2+
Fungsi logam Pt adalah untuk
membangkitkan kecenderungan sistem
tersebut dalam mengambil atau melepaskan
elektron, sedangkan logam itu tidak ikut
secara nyata dalam reaksi redoks.

Elektroda Membran
Pada elektroda membran, tidak ada elektron yang
diberikan oleh atau kepada membran tersebut.
Sebagai gantinya, suatu membran membiarkan
ion-ion jenis tertentu menembusnya, namun
melarang ion-ion lain sehingga elektroda ini sering
disebut sebagai elektroda ion selektif (ISE).
Setiap ISE terdiri dari elektroda referensi yang
dicelupkan dalam larutan referensi yang terdapat
materi tidak reaktif seperti kaca atau plastik.
Membran dalam suatu ISE membran dapat berupa
cairan ataupun kristal. Elektroda membran cair
dalam bidang biologi terapan, biasanya elektroda
ion selektif (ISE) etidium (Eth+).

Elektroda Kaca
Elektroda kaca atau elektroda
gelas adalah sensor
potensiometrik yang terbuat dari
selaput kaca dengan komposisi
tertentu. Gelas/kaca ini bertindak
sebagai suatu tempat pertukaran
kation.

Kelebihan Elektroda Kaca


Larutan uji tidak terkontaminasi
Zat-zat yang tidak mudah
teroksidasi & tereduksi tidak
berinteferensi
Elektroda ini bisa dibuat cukup
kecil untuk disisipkan dalam
volume larutan yang sangat kecil.
Tidak ada permukaan katalitis
yang kehilangan aktivitasnya
oleh kontaminasi seperti platina

Keterbatasan Elektroda
Kaca
Pada kondisi pH yang sangat tinggi
(misal NaOH 0,1M dengan pH = 13)
berakibat
spesifisitas untuk H+ hilang
Ketergatungan tegangan pH
berkurang
Potensial menjadi tergantung pada
aNa+

Elektroda yang dipakai


dijurnal
Pada jurnal dipakai kombinasi
elektroda :
1. Elektroda Calomel elektroda
acuan/ electroda reference
2. Elektroda Pt elektroda indikator
(elektroda inert)

Metode Analisis yang


Digunakan
Metode analisis uranium yang dipakai yaitu
metode penentuan uranium secara titrasi
potensiometrik menggunakan fero sulfat
sebagai reduktor dalam medium asam
fosfat, yang selanjutnya dititrasi dengan kalium
bikromat sebagai oksidator dengan
vanadium sebagai katalisator. Metode ini
dikenal sebagai metode Davies-Gray.

Tahap
Reaksi

Cuplikan uranium dalam bentuk ion


UO2+ direduksi menjadi ion U4+
dengan penambahan ion Fe2+ dalam
jumlah berlebihan sebagai reduktor
di dalam medium asam fosfat pekat.
UO2 2+ + 2Fe2+ + 4H+
+ 2H2O

U4+ + 2Fe3+
NH2SO3H

Kelebihan ion Fe2+


dioksidasi secara selektif
oleh asam nitrat dengan
bantuan molibdenum
sebagai katalisator tanpa
mempengaruhi ion U4+.
Mo(VI), katalis
3Fe2+ + NO3 - + 4H+
3Fe3+ +
NO + 2H2O
NH2SO3H
Fe2+ + NO3 - + 2H+

Fe3+ + NO2 + H2O

Tahap
Reaksi

Selanjutnya ion U4+


dioksidasi dengan larutan
standar K2Cr2O7 secara
akurat, yang diikuti oleh
perubahan potensial
larutan hingga melampaui
titik ekivalennya.
Cr2O7 2- + 3 U4+ + 2 H+
UO2 2+ + H2O

Untuk perubahan pada


titik akhir titrasi dan
juga sebagai katalisator,
sebelum titrasi
dilakukan ditambahkan
vanadium.

V(IV), katalis
2 Cr3+ + 3

Dengan bantuan
potensiometer,
perubahan potensial
dapat diikuti secara
elektronik hingga letak
titik ekivalen dapat
dipastikan secara
akurat.

Langkah Kerja Pembuatan Larutan


a. Pembuatan larutan pereaksi
1. Larutan 1,5 M asam amido sulfonat: 146 gram asam amido sulfonat
dilarutkan dalam 1 liter air bebas mineral.
2. Larutan 1,0 M fero sulfat: 280 gram FeSO47H2O dilarutkan dalam
larutan 1,8 M asam sulfat, yaitu 600 ml air bebas mineral ditambah 100
ml asam sulfat pekat 95-97%, lalu ditepatkan dengan air bebas mineral
menjadi 1 liter.
3. Larutan A 4 gram amonium heptamolibdat tetrahidrat: dilarutkan
dalam 400 ml air bebas mineral, ditambah 500 ml asam nitrat pekat,
dan 100 ml asam amido sulfonat 1,5M.
4. Larutan 0,4 g/l vanadium: dalam larutan 4,8 M asam sulfat 2150 ml
air bebas mineral ditambah 125 ml asam sulfat pekat, ditambah 1
ampul titrisol 1 g/l vanadium, kemudian ditepatkan hingga 2,5 liter
dengan air bebas mineral.
5. Larutan 0,027 N kalium bikromat: 1,324 gram kalium bikromat
dilarutkan dalam 1 liter air bebas mineral.

Langkah Kerja Pembuatan Larutan


b. Pembuatan larutan standar U3O8. Serbuk U3O8
ditimbang dengan teliti sebanyak 0,5973 gram.
Serbuk dimasukkan ke dalam beaker 100 ml,
ditambah dengan 15 ml asam nitrat pekat.
Selanjutnya beaker ditutup dengan kaca arloji,
lalu dipanaskan hingga larut sempurna,
didinginkan. Bilas kaca arloji dan dinding beaker
dengan air bebas mineral. Kemudian larutan
dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan
ditepatkan hingga tanda garis dengan asam
nitrat 3 M.

Langkah Kerja Pengukuran


Kadar
A. Pengukuran kadar uranium tanpa pemanasan
Ke dalam masing-masing 7
buah gelas piala
ditambahkan 1 ml larutan
cuplikan (cuplikan standar,
cuplikan contoh uranil nitrat
hasil pelarutan dan cuplikan
simulasi dengan
penambahan unsur
pengotor) menggunakan
pipet.

Dimasukkan 40 ml larutan
vanadium 0,4 g/l, dan
dilakukan titrasi dengan
0,027 N kalium bikromat
sampai titik akhir titrasi
tercapai.

Dimasukkan 10 ml air bebas


mineral, 2 ml asam amido
sulfonat, 16 ml asam fosfat
pekat, dan 2 ml ferro sulfat,
dan panaskan sampai suhu
40 C selama 1 menit
sambil diaduk.

Ditambahkan 4 ml larutan
A, diaduk dengan pengaduk
magnet selama 3 menit.

Langkah Kerja Pengukuran Kadar


B. Pengukuran kadar uranium pemanasan dengan
asam perklorat
Ke dalam masing-masing 7 buah gelas piala ditambahkan 1 ml larutan
cuplikan (cuplikan standar, cuplikan contoh uranil nitrat hasil pelarutan
dan cuplikan simulasi dengan penambahan unsur pengotor) menggunakan
pipet.
Dimasukkan 4 ml asam perklorat, lalu panaskan sampai timbul uap putih.
Pemanasan dilanjutkan sampai sekitar 1 menit, lalu dinginkan.

Ditambahkan 10 ml air bebas mineral, 2 ml asam amido sulfonat, 16 ml


asam fosfat pekat, dan 2 ml fero sulfat, dan panaskan sampai suhu 40 C
selama 1 menit sambil diaduk.

Ditambahkan 4 ml larutan A, dan aduk dengan pengaduk magnet selama


3 menit.

Dimasukkan 40 ml larutan vanadium 0,4 g/l, dan dilakukan titrasi dengan


0,027 N kalium bikromat sampai titik akhir titrasi tercapai.

Langkah Kerja untuk Melihat Pengaruh unsur


Al, Mg, dan Na pada Titrasi Potensiometri

Ke dalam masing-masing 7 buah gelas piala


yang berisi 1 ml larutan standar uranil nitrat
dengan konsentrasi 5,065 g/L, tambahkan
larutan standar Al 1000 ppm.
Kemudian analisis dilakukan sesuai cara kerja
A dan B. Demikian juga untuk pengaruh
konsentrasi 2000 ppm, 4000 ppm, 6000 ppm,
8000 ppm, dan 10 000 ppm, dan untuk
pengaruh unsur Mg, Na dan gabungan Al, Mg
dan Na.