Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme
memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki
kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang
mempunyai tata yang jelas. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang
membentuk corak esensialisme.
Gerakan ensensialisme muncul pada awal tahun 1930,dengan beberapa
orang pelopornya, seperti William C.Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed,
dan Isac L.Kandell. Pada tahun 1938 mereka membentuk suatu lembaga yang
disebut The Esensialist Commite for the Advancement of American Education.
Bagley sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besar pada Teacher
College, Columbia University. Ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah
menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda.
Esensialisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya
dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trendtrend progresif disekolah-sekolah.
Untuk mengangkat filsafat esensialis, Bagley dan rekan-rekannya mendanai jurnal
pendidikan, School and Society.
Esensialisme, yang memilki beberapa kesamaan dengan perennialisme,
berpendapat bahwa kultur kita memilki suatu inti pengetahuan umum yang harus
diberikan disekolah-sekolah kepada para siswa dalam suatu cara yang sistematik
dan berdisiplin. Tidak seperti perennialisme, yang menekankan pada sejumlah
kebenaran-kebenaran eksternal, esensialisme menekankan pada apa yang
mendukung pengetahuan dan keterampilan yang diyakini penting yang harus
diketahui oleh para anggota masyarakat yang produktif.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Esensialisme?
2. Apa saja Ciri-ciri utama Aliran Esensialisme?
3. Apa saja Pandangan Dalam Esensialisme ?
Filsafat Esensialisme

Page 1

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa dapat memahami tentang Esensialisme.
2. Mahasiswa dapat memahami tentang ciri-ciri utama Aliran Esensialisme.
3. Mahasiswa dapat Memahami beberapa pandangan dalam Esensialisme.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aliran Esensialisme dan sejarahnya
Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme
muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan
progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak
pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana terbuka untuk perubahan,
toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.
Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilainilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan
nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Idealisme dan realisme adalah

Filsafat Esensialisme

Page 2

aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai
pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak
melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsepkonsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu,
esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern.
Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme
mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis
dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan
zaman.
Aliran

Filsafat

Esensialisme

adalah

suatu

aliran

filsafat

yang

menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama. Mereka


beranggapan bahwa kebudayaan lama itu telah banyak memperbuat kebaikankebaikan untuk umat manusia. Yang mereka maksud dengan kebudayaan lama itu
adalah yang telah ada semenjak peradaban manusia yang pertama-tama dahulu.
Akan tetapi yang paling mereka pedomani adalah peradaban semenjak zaman
Renaissance, yaitu yang tumbuh dan berkembang disekitar abad 11, 12, 13 dan ke
14 Masehi. Didalam zaman Renaissance itu telah berkembang dengan megahnya
usaha-usaha untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan kesenian serta
kebudayaan purbakala, terutama dizaman Yunani dan Romawi purbakala.
Renaissance itu merupakan reaksi terhadap tradisi dan sebagai puncak timbulnya
individualisme dalam berpikir dan bertindak dalam semua cabang dari aktivitas
manusia. Sumber utama dari kebudayaan itu terletak dalam ajaran para ahli
filsafat, ahli-ahli pengetahuan yang telah mewariskan kepada umat manusia segala
macam ilmu pengetahuan yang telah mampu menembus lipatan qurun dan waktu
dan yang telah banyak menimbulkan kreasi-kreasi bermanfaat sepanjang sejarah
umat manusia.
Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang
memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari gerakan progrevisme terhadap
nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/ sosial. Menurut Esensialisme,
nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui

Filsafat Esensialisme

Page 3

kerja keras dan susah payah selama beratus-ratus tahun, dan didalamnya berakar
gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu.
Bagi aliran ini Education as Cultural Conservation, Pendidikan Sebagai
Pemelihara Kebudayaan. Karena ini maka aliran Esensialisme dianggap para ahli
Conservative Road to Culture yakni aliran ini ingin kembali kekebudayaan
lama, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi
kehidupan manusia. Esensialisme percaya bahwa pendidikan itu harus didasarkan
kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.
Karena itu esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak
pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama sehinga memberikan
kestabilan dan arah yang jelas.
Realisme modern, yang menjadi salah satu eksponen essensialisme, titik
berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik, sedangkan idealisme
modern sebagai eksponen yang lain, pandangan-pandangannya bersifat spiritual.
John Butler mengutarakan ciri dari keduanya yaitu, alam adalah yang pertamatama memiliki kenyataan pada diri sendiri, dan dijadikan pangkal berfilsafat.
Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik. Dan disana terdapat
sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak
semata-mata bersifat mental.
Dengan demikian disini jiwa dapat diumpamakan sebagai cermin yang
menerima gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik, maka anggapan
mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang
menyebelah, berarti bukan hanya dari subyek atau obyek semata-mata, melainkan
pertemuan keduanya. Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita
adalah sama dengan substansi gagasan-gagasan (ide-ide). Dibalik dunia
fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta
adanya kosmos.
Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan
kekuasaan Tuhan. Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan
suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir, dan

Filsafat Esensialisme

Page 4

semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang
menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit, serta segala isinya.
2.2 Ciri-ciri Utama Aliran Esensialisme
Esensialisme yang berkembang pada zaman Renaissance mempunyai
tinjauan yang berbeda dengan progressivisme mengenai pendidikan dan
kebudayaan.

Jika

progressivisme

menganggap

pendidikan

yang

penuh

fleksibelitas, serba terbuka untuk perubahan, tidak ada keterkaitan dengan doktrin
tertentu, toleran dan nilai-nilai dapat berubah dan berkembang, maka aliran
Esensialisme ini memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar
pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya
pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah dan kurang terarah dan tidak
menentu serta kurang stabil. Karenanya pendidikan haruslah diatas pijakan nilai
yang dapat mendatangkan kestabilan dan telah teruji oleh waktu, tahan lama dan
nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan terseleksi
Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah yang berasal dari kebudayaan dan
filsafat yang korelatif, selama empat abad belakangan ini, dengan perhitungan
zaman Renaisans, sebagai pangkal timbulnya pandangan-pandangan Esensialistis
awal. Puncak refleksi dari gagasan ini adalah pada pertengahan kedua abad ke
sembilan belas.
Idealisme dan Realisme adalah aliran-aliran filsafat yang membentuk
corak Esensialisme. Sumbangan yang diberikan oleh masing-masing ini bersifat
eklektik, artinya dua aliran filsafat ini bertemu sebagai pendukung Esensialisme,
tetapi tidak lebur menjadi satu. Berarti, tidak melepaskan sifat-sifat utama masingmasing.
Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama
dengan substansi gagasan-gagasan(ide-ide). Di balik dunia fenomenal ini ada
jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan, yang merupakan pencipta adanya kosmos.
Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan
Tuhan. Dengan menguji menyelidiki ide-ide serta gagasan-gagasannya, manusia
akan dapat mencapai kebenaran, yang sumbernya adalah Tuhan sendiri.

Filsafat Esensialisme

Page 5

Sedangkan, ciri-ciri filsafat pendidikan esensialisme yang disarikan oleh


William C. Bagley adalah sebagai berikut :
1. Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar
awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam
diri siswa.
2. Pengawasan pengarahan, dan bimbingan orang yang dewasa adalah melekat
dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus
pada spsies manusia.
3. Oleh karena kemampuan untuk mendisiplin diri harus menjadi tujuan
pendidikan, maka menegakan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk
mencapai tujuan tersebut.
4. Esensialisme menawarkan sebuah teori yang kokoh, kuat tentang pendidikan,
sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan sebuah
teori yang lemah.
2.3 Pola Dasar Pendidikan Esensialisme
Uraian berikut ini akan memberikan penjelasan tentang pola dasar
pendidikan aliran esensialisme yang didasari oleh pandangan humanisme yang
merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah kepada keduniaan, serba ilmiah
dan materialistik.
Untuk mendapatkan pemahaman pola dasar yang lebih rinci kita harus
mengenal dari referensi pendidikan esensialisme. Imam Barnadib (1985)11)
mengemukakan beberapa tokoh terkemuka yang berperan dalam penyebaran
aliran essensialisme dan sekaligus memberikan pola dasar pemikiran mereka.
1. Desidarius Erasmus, humanis Belanda yang hidup pada akhir abad ke15 dan
permulaan abad ke 16, adalah tokoh pertama yang menolak pandangan hidup
yanag berbijak pada dunia lain. Ia berusaha agar kurikulum di sekolah
bersifat humanistis dan bersifat internasional, sehingga dapat diikuti oleh kaum
tengahan dan aristokrat.
2. Johann Amos Comeniuc (1592-1670), tokoh Reinaissance yang pertama yang
berusaha mensistematiskan proses pengajaran. Ia memiliki pandangan realis

Filsafat Esensialisme

Page 6

yang dogmatis, dan karena dunia ini dinamis dan bertujuan, maka tugas
kewajiban pendidikaan adalah membentuk anak sesuai dengan kehendak
Tuhan.
3. John Lock (1632-1704), tokoh dari inggris dan populer sebagai pemikir
dunia mengatakan bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi
dan kondisi.
4. Johann Henrich Pestalozzi (1746-1827), mempunyai kepercayaan bahwa sifatsifat alam itu tercermin pada manusia, sehingga pada diri manusia terdapat
kemampuan-kemampuan wajarnya. Selain itu ia percaya kepada hal-hal yang
transendental, dan manusia mempunyai hubungan transendental langsung
dengan Tuhan.
5. Johann Frederich Frobel (1782-1852), seorang tokoh transendental pula yang
corak pandangannya bersifat kosmissintetis, dan manusia adalah makhluk
ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini. Oleh karena itu ia tunduk
dan mengikuti ketentuan dari hukum-hukum alam. Terhadap pendidikan ia
memandang anak sebagai makhluk yang berekspresi kreatif, dan tugas
pendidikan adalah memimpin peserta didik kearah kesadaran diri sendiri yang
murni, sesuai fitrah kejadiannya.
6. Johann Fiedrich Herbart (1776-1841), salah seorang murid Immanuel Kant
yang berpandangan kritis. Ia berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah
menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan dari Yang Mutlak, berarti
penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan, dan ini pula yang disebut
pengajaran yang mendidik dalam proses pencapaian pendidikan.
7. Tokoh terakhir dari Amerika Serikat, William T. Harris (1835-1909)-pengikut
Hegel, berusaha menerapkan Idealisme Obyektif pada pendidikan umum.
Menurut dia bahwa tugas pendidikan adalah mengizinkan terbukanya realita
berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan kesatuan spiritual. Keberhasilan
sekolah adalah sebagai lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah turun
temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri setiap orang kepada
masyarakat.

Filsafat Esensialisme

Page 7

2.4 Tokoh-tokoh Aliran Esensialisme


1. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 1831)
Georg Wilhelm Friedrich Hegel.Hegel mengemukakan adanya sintesa
antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang
menggunakan landasan spiritual. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh
mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Hegel mengatakan bahwa tiap
tingkat kelanjutan, yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Hegel
mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan.
Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis
mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Oleh karena Tuhan
adalah sumber dari gerak, maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak.
2. George Santayana
George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme
dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai
dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang
menentukan adanya kualitas tertentu. Walaupun idealisme menjunjung asas
otoriter atau nilai-nilai, namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif
bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri(memilih,melaksanakan)
2.5 Beberapa Pandangan Dalam Esensialisme
Sebagai reaksi dalam tuntutan zaman yang ditandai oleh suasana hidup
yang menjurus kepada keduniaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, yang mulai terasa sejak abad ke15, realisme dan idealisme perlu
menyusun pandangan-pandangan yang modern. Untuk itu perlu disusun
kepercayaan yang dapat menjadi penuntun bagi manusia agar dapat jadi penuntun
bagi manusia agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan keadaan itu.
Kepercayaan yang dimaksud diusahakan tahan lama, kaya akan isinya dan
mempunyai dasar-dasar yang kuat.
Dasar-dasar yang telah diketemukan, yang akhirnya dirangkum menjadi
konsep filsafat pendidikan esensialisme ini, tamapk manifestasinya dalam sejarah
dari zaman Renaisans sampai timbulnya Progresivisme.

Filsafat Esensialisme

Page 8

1. Pandangan Mengenai Realita


Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsepsi
bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur dunia beserta
isinya dengan tiada cela pula, ini berarti bagaimanapun bentuk, sifat, kehendak
dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata tersebut. Dibawah ini
adalah uraian mengenai penjabarannya menurut realisme dan idealisme.
a. Realisme yang mendukung esensialisme disebut realisme obyektif karena
mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tempat manusia
didalamnya. Terutama sekali ada dua golongan ilmu pengetahuan yang
mempengaruhi realisme ini.
Dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap
aspek dari alam fisik ini dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jelas
khusus. Ini berarti bahwa suatu kejadian yang sederhanapun dapat ditafsirkan
menurut hukum alam, seperti misalnya daya tarik bumi.
b. Idealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis
dibandingkan dengan realisme obyektif. Yang dimaksud dengan ini adalah
bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan
meliputi segala sesuatu. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam
semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit, idealisme menetapkan
suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini nyata. Ajaran-ajaran Hegel
memperjelas pandangan tersebut diatas.
2. Pandangan Mengenai Nilai
Nilai, seperti halnya pengetahuan berakar pada dan diperoleh dari sumbersumber obyektif. Sedangkan sifat-sifat nilai tergantung dari pandangan yang
timbul dari realisme dan idealisme. Kedua aliran ini menyangkutkan masalah nilai
dengan semua aspek peri kehidupan manusia yang berarti meliputi pendidikan.
Pandangan dari dua aliran ini, yang mengenai nilai pada umumnya dan nilai
keindahan pada khususnya akan dipaparkan berikut ini.
Untuk hal yang pertama, dapatlah ditunjukan bahwa nilai mempunyai
pembawaan atas dasar komposisi yang ada. Misalnya, kombinasi warna akan

Filsafat Esensialisme

Page 9

menimbulkan kesan baik, bila penempatan dan fungsinya disesuaikan dengan


pembawaan dari komponen-komponen yang ada.
Untuk hal yang kedua, dapatlah diutarakan bahwa sikap, tingkah laku dan
ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk.
3. Pandangan Mengenai Pendidikan
Pandangan mengenai pendidikan yang diutarakan disini bersifat umum,
simplikatif dan selektif, dengan maksud agar semata-mata dapat memberikan
gambaran mengenai bagian-bagian utama dari esensialisme.
Disamping itu karena tidak setiap filsuf idealis dan realis mempunyai
faham esensialistis yang sistematis, maka uraian ini bersifat eklektik.
Esensialisme timbul karena adanya tantangan mengenai perlunya usaha
emansipasi diri sendiri, sebagaimana dijalankan oleh para filsuf pada umumnya
ditinjau dari sudut abad pertengahan. Usaha ini diisi dengan pandanganpandangan yang bersifat menanggapi hidup yang mengarah kepada keduniaan,
ilmiah dan teknologi, yang ciri-cirinya telah ada sejak zaman Renaisans.
Tokoh yang perlu dibicarakan dalam rangka menyingkap sejarah
esensialisme ini adalah William T. Harris (1835-1909). Sebagai tokoh Amerika
Serikat yang dipengaruhi oleh Hegel ini berusaha menerapkan idealisme obyektif
pada pendidikan umum. Menurut Harris, tugas pendidikan adalah mengijinkan
terbukanya realita berdasarkan susunan yang tidak terelakan (pasti) bersendikan
kesatuan spiritual. Sekolah adalah lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah
turun-menurun, dan menjadi penuntun penyesuaian orang kepada masyarakat.
Oleh karena terasaskan adanya saingan dari progresivisme, maka pada
sekitar tahun 1930 timbul organisasi yang bernama Esentialist Comittee for the
Advancement of Education. Dengan timbulnya Komite ini pandangan-pandangan
esensialisme (menurut tafsiran abad xx), mulai diketengahkan dalam dunia
pendidikan.
4. Pandangan Mengenai Pengetahuan
Pada kacamata realisme masalah pengetahuan ini, manusia adalah sasaran
pandangan sebagai makhluk yang padanya berlaku hukum yang mekanistis
evolusionistis. Sedangkan menurut idealisme, pandangan mengenai pengetahuan

Filsafat Esensialisme

Page 10

bersendikan pada pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang adanya


merupakan refleksi dari Tuhan dan yang timbul dari hubungan antara
makrokosmos dan mikrokosmos.
5.Pandangan Mengenai Belajar
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi
individual dengan menitik beratkan pada aku, menurut idealisme, seseorang
belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak
keluar

untuk

memahami

dunia

obyektif.

Dari

mikrokosmos

menuju

kemakrokosmos.
Sebagai contoh, dengan landasan pandangan diatas, dapatlah dikemukakan
pandangan Immanuel Kant (1724-1804). Dijelaskan bahwa segala pengetahuan
yang dicapai oleh manusia lewat indera memerlukan unsur a priori, yang tidak
didahului oleh pengalaman lebih dahulu.
6. Pandangan Mengenai Kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah
berpangkal pada landasan ideal dan organisasi yang kuat. Bersumber atas
pandangan ini, kegiatan-kegiatan pendidikan dilakukan. Pandangan dari dua tokoh
dipaparkan dibawah ini.
Herman Harrell Horne menulis dalam bukunya yang berjudul This New
Education mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan atas
fundamental tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat
yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada
yang serba baik tersebut. Atas dasar ketentuan ini berarti bahwa kegiatan atau
keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen
itu.
Bogoslousky, dalam bukunya The Ideal School, mengutarakan hal-hal
yang lebih jelas dari Horne. Disamping menegaskan supaya kurikulum dapat
terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain,
kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat
bagian, ialah :

Filsafat Esensialisme

Page 11

a. Universum. Pengetahuan yang merupakan latar belakang dari segala manifestasi


hidup manusia, diantaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal-usul
tata surya dan lain-lainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam
kodrat yang diperluas.
b. Sivilisasi. Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat.
Dengan

sivilisasi

manusia

mampu

mengadakan

pengawasan

terhadap

lingkungannya, mengejar kebutuhan, hidup aman dan sejahtera.


c. Kebudayaan. Karya manusia yang mencakup diantaranya filsafat, kesenian,
kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.
d.Kepribadian. Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil
yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal.
Jadi, tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia
didunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan
segala hal yang mampu menggerakan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi
esensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai
ukuran

kenyataan,

kebenaran

dan

kegunaan.

Maka

dalam

sejarah

perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum,


seperti pola idealisme, realisme dan sebagainya. Sehingga peranan sekolah dalam
menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan
kenyataan sosial yang ada dimasyarakat.
7. Pandangan tentang Aliran Esensialisme dari segi ontologi,
Epistemologi dan aksiologi
1. Pandangan secara Ontologi
Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsep bahwa
dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur isinya dengan tiada
ada pula. Pendapat ini berarti bahwa bagaimana bentuk, sifat, kehendak dan citacita manusia haruslah disesuaikan dengan tata alam yang ada. Tujuan umum aliran
esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi
pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu
menggerakkan kehendak manusia.

Filsafat Esensialisme

Page 12

2. Pandangan secara Epistemologi


Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk
mengerti epistemologi esensialisme. Sebab jika manusia mampu menyadari realita
scbagai mikrokosmos dan makrokosmos, maka manusia pasti mengetahui dalam
tingkat atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestiannya.
Berdasarkan kualitas inilah dia memperoduksi secara tepat pengetahuannya dalam
benda-benda, ilmu alam, biologi, sosial, dan agama.
1). Pandangan Kontraversi Jasmaniah dan Rohaniah
Perbedaan idealisme dan realisme adalah karena yang pertama
menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita. Manusia
mengetahui sesuatu hanya di dalam dan melalui ide, rohaniah. Sebaliknya realist
berpendapat bahwa kita hanya mengctahui sesuatu realita di dalam melalui
jasmani.
2). Pendekatan (Approach) ldealisme pada Pengetahuan
Kita hanya mengerti rohani kita sendiri, tetapi pengertian ini memberi
kesadaran untuk mengerti realita yang lain. Sebab kesadaran kita, rasio manusia
adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang Maha Sempurna. Menurut T.H Green,
approach personalisme itu hanya melalui introspeksi. Padahal manusia tidak
mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya
pengamatan. Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara
macam-macam pengamalan.
3). Menurut Teori Koneksionisme
Teori ini menyatakan semua makhluk, termasuk manusia terbentuk
(tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan
antara) stimulus dan respon. Dan manusia dalam hidupnya selalu membentuk tata
jawaban dengan jalan memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus
dan respon.
4). Tipe Epistemologi Realisme
Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme. Di Amerika ada dua tipe
yang utama:
a. Neorealisme

Filsafat Esensialisme

Page 13

Secara psikologi neorealisme lebih erat dengan behaviorisme Baginya


pengetahuan diterima, ditanggap langsung oleh pikirar dunia realita. ltulah
sebabnya neorialisme menafsirkan badan sebagai respon khusus yang berasal dari
luar dengan sedikit atat tanpa adanya proses intelek
b. Cretical Realisme
Aliran ini menyatakan bahwa media antara inetelek dengan realita adalah
seberkas pengindraaan dan pengamatan.
3. Pandangan secara Aksiologi
Pandangan ontologi dan epistemologi sangat mempengaruhi pandangan
aksiologi. Bagi aliran ini, nilai-nilai berasal, tergantung pada pandangunpandangan idealisme dan realisme sebab essensialisme terbina aleh kedua syarat
tersebut.
a. Teori Nilai Menurut Idealisme
Penganut idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum
kosmos, karena itu seseorang dikatakan baik jika banyak interaktif berada di
dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. Menurut idealisme bahwa sikap,
tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas
baik dan buruk.
George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme
dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai
dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang
turut menentukan adanya kualitas tertentu.
b.Teori Nilai Menurut Realisme
Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontologi bahwa
sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan
hidupnya. Dapat dikatakan bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan
keadaan manusia pada umumnya, realisme bersandarkan atas keilumuan dan
lingkungan. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan yang timbul sebagai
akibat adanya saling hubungan antara pembawa-pembawa fisiologis dan
pengaruh-pengaruh dari Iingkungan.

Filsafat Esensialisme

Page 14

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.Esensialisme ini
memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas
dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubahubah, mudah goyah dan kurang terarah dan tidak menentu serta kurang stabil.
Karenanya pendidikan haruslah diatas pijakan nilai yang dapat mendatangkan
kestabilan dan telah teruji oleh waktu, tahan lama dan nilai-nilai yang memiliki
kejelasan dan terseleksi.

Filsafat Esensialisme

Page 15

Aliran

Filsafat

Esensialisme

adalah

suatu

aliran

filsafat

yang

menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama. Mereka


beranggapan bahwa kebudayaan lama itu telah banyak memperbuat kebaikankebaikan untuk umat manusia.
Realisme modern yang menjadi salah satu eksponen esensialisme, titik
berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik; sedangkan idealisme
modern sebagai eksponen yang lain, pandangan-pandangannya bersifat spiritual.
3.2 Saran
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat
banyak kesalahan baik dalam penulisan maupun penyusunannya. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang bisa memperbaiki juga terwujudnya dari filsafat
esensialisme ini.

Filsafat Esensialisme

Page 16