Anda di halaman 1dari 10

keperawatan

Rabu, 28 Maret 2012


KESEHATAN DAN MASALAH SOSIAL DALAM BUDAYA TERTENTU
(MENGENAI BUDAYA IBU KETIKA HAMIL,PERSALINAN HINGGA
PASCA PERSALINAN)
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang banyak membawa
perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan pola hidup maupun tatanan
social termasuk dalam bidang kesehatan yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang
berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang
bermukim dalam suatu tempat tertentu.
Pengaruh social budaya dalam masyarakat memberikan peran penting dalam mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan social budaya dalam masyarakat
merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu
perubahan dalam proses berfikir. Perubahan social dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negative.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya sebagai salah satu
contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat bertahan dengan cara pengobatan
tertentu sesuai dengan tradisi mereka. Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan
dan respons terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang
tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak hanya
mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti tentang proses terjadinya
suatu penyakit dan bagaimana meluruskan keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya
dengan kesehatan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.Apakah pengertian dari kebudayaan itu?

2. Bagaimanakah pengaruh social budaya terhadap pelayanan kesehatan?


1.3 TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui apa saja hubungan antara kesehatan dan masalah social budaya yang ada
di masyarakat Indonesia.
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN KEBUDAYAAN

Kebudayaan adalah sikap hidup yang khas dari sekelompok individu yang dipelajari secara
turun temurun, tetapi sikap hidup ini ada kalanya malah mengundang resiko bagi timbulnya
suatu penyakit. Kebudayaan tidak dibatasi oleh suatu batasan tertentu yang sempit, tetapi
mempunyai struktur-struktur yang luas sesuai dengan perkembangan dari masyarakat itu
sendiri
Kebudayaan yaitu sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem
ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia,sehingga dalam kehidupan sehari-hari
kebudayaan bersifat abstrak.
Kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk
jamak dari (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia.
Definisi dari budaya yaitu suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya.budaya
terbentuk dari unsure yang rumit, termasuk system agama dan politik, adat istiadat,
bahasa,perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni.

2.2 HUBUNGAN ANTARA KEBUDAYAAN DAN KESEHATAN SEBELUM IBU


MELAHIRKAN ( MASA KEHAMILAN)

Di dalam masyarakat sederhana kebiasaan hidup dan adat istiadat dibentuk untuk
mempertahankan hidup diri sendiri dan kelangsungan hidup suku mereka. Berbagai
kebiasaan dikaitkan dengan kehamilan, kelahiran, pemberian makanan bayi yang bertujuan
supaya reproduksi berhasil ibu dan bayi selamat.
Dari sudut pandang modern tidak semua kebiasaan itu baik. Ada beberapa yang kenyataannya
malah merugikan. Contoh pada kebiasaan menyusukan bayi yang lama pada beberapa
masyarakat merupakan contoh yang baik kebiasaan yang bertujuan melindungi bayi. Tetapi
bila air susu ibu sedikit atau pada ibu-ibu lanjut usia, tradisi budaya ini dapat menimbulkan
masalah tersendiri. Dia berusaha menyusukan bayinya dan gagal. Bila mereka tidak
mengetahui nutrisi mana yang dibutuhkan bayi (biasanya demikian) bayi dapat mengalami
malnutrisi dan mudah terserang infeksi.
Permasalahan yang sebenarnya cukup besar pengaruhnya yaitu pada kehamilan tepatnya pada
masalah gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantanganpantangan terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak
berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang
sebenarnya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif terhadap
kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup
tinggi terutama di daerah pedesaan. Dikatakan pula bahwa penyebab utama dari tingginya
angka anemia pada wanita hamil disebabkan karena kurangnya zat gizi yang dibutuhkan
untuk pembentukan darah.
Beberapa kepercayaan yang ada misalnya di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil
pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena
akan menyebabkan perdarahan yang banyak.
Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan
sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah
dilahirkan.
Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting
karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin.
Contoh lain di daerah Subang, ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang
besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan
memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya

hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk
memakan buah-buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga
masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan.
(Wibowo, 1993).
Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak untuk
menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah. Data Survei Kesehatan Rumah
Tangga tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktekpraktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan si ibu.
Penelitian Iskandar dkk (1996) menunjukkan beberapa tindakan/praktek yang membawa
resiko infeksi seperti ngolesi (membasahi vagina dengan rninyak kelapa untuk
memperlancar persalinan), kodok (memasukkan tangan ke dalam vagina dan uterus untuk
rnengeluarkan placenta) atau nyanda (setelah persalinan, ibu duduk dengan posisi
bersandardan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang dapat menyebabkan
perdarahan dan pembengkakan).
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena
beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat membantu
dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai
40 hari.
Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada.
Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional
tertentu rnasih dilakukan. lnteraksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan
penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup.
Secara medis penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan
eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat
dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan. Namun, kefatalan ini
sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga karena ada
faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga. Umumnya, terutama di daerah
pedesaan, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan
persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang seringkali
menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-

gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan
cepat. Tidak jarang pula nasehat-nasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga
mempengaruhi keputusan yang diambil.
Keadaan ini seringkali pula diperberat oleh faktor geografis, dimana jarak rumah si ibu
dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya transportasi, atau oleh
faktor kendala ekonomi dimana ada anggapan bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan
memakan biaya yang mahal. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan,
faktor geografis dan kendala ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga
oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang
terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan.

2.3 HUBUNGAN ANTARA KEBUDAYAAN DAN KESEHATAN KETIKA IBU


PERSALINAN (MELAHIRKAN)

1. Tradisi Masyarakat Jawa Ibu melahirkan


Babaran, mbabar dapat diartikan: sudah selesai, sudah menghasilkan dalam wujud
yang sempurna. Babaran juga menggambarkan selesaianya proses karya batik
tradisional. Istilah babaran juga dipakai untuk seorang ibu yang melahirkan anaknya.
Ubarampe yang dibutuhkan untuk selamatan kelahiran adalah Brokohan. Ada macam
macam ubarampe Brokohan. Pada jaman ini Brokohan basanya terdiri dari :beras,
telur, mie instan kering, gula, teh dan sebagainya. Namun jika dikembalikan kepada
makna yang terkandung dalam selamatan bayi lahir, brokohan cukup dengan empat
macam ubarampe saja yaitu:
1. kelapa, dapat utuh atau cuwilan
2. gula merah atau gula Jawa
3. dawet
4. telor bebek

Makna dari keempat macam ubarampe tersebut adalah:


Kelapa: daging kelapa yang berwarna putih adalah manifestasi dari sukra (bahasa Jawa kuna)

yaitu sperma, benihnya laki-laki, bapak


Gula Jawa: berwarna merah adalah manifestasi dari swanita (bahasa Jawa kuna) yaitu sel
telur, benihnya wanita, ibu.
Dawet : dawet terdiri dari tiga bahan yaitu:
1. santan kelapa, berwarna putih wujud dari sperma, benihnya Bapak.
2. juruh dari gula Jawa yang berwarna merah wujud dari sel telur, benihnya Ibu.
3. cendol dari tepung beras manifestasi dari jentik-jentik kehidupan.
Telor bebek. Ada dua alasan mengapa memakai telor bebek, tidak memakai telor ayam.
Alasan yang pertama: telor bebek kulitnya berwarna biru, untuk menggambarkan langit biru,
alam awang-uwung, kuasa dari atas.
Alasan kedua: biasanya telur bebek dihasilkan dari pembuahan bebek jantan tidak dari endog
lemu atau bertelur karena faktor makanan. Dengan demikian telor bebek kalau diengrami
dapat menetas, artinya bahwa ada roh kehidupan di dalam telor bebek.
Melalui keempat macam ubarampe untuk selamatan bayi lahir tersebut, para leluhur dahulu
ingin menyatakan perasaannya yang dipenuhi rasa sukur karena telah mbabar seorang bayi
dalam proses babaran.
Keempat ubarampe yang dikemas dalam selamatan Brokohan tersebut mampu menjelaskan
bahwa Tuhan telah berkenan mengajak kerjasama kepada Bapak dan Ibu untuk melahirkan
ciptaan baru, mbabar putra.
Melalui proses bersatunya benih bapak (kelapa) dan benihnya Ibu (gula Jawa) yang kemudian
membentuk jentik-jentik kehidupan, (dawet) Tuhan telah meniupkan roh kehidupan (telor
bebek) dan terjadilah kelahiran ciptaan baru (brokohan)
Jika pun dalam perkembangannya selamatan Brokohan untuk mengiring kelahiran bayi
menjadi banyak macam, terutama bahan-bahan mentah, hal tersebut dapat dipahami sebagai
ungkapan rasa syukur yang ingin dibagikan dari keluarga kepada para kerabat dan tetangga..
Namun keempat ubarampe yang terdiri dari kelapa, gula Jawa, dawet dan telor bebek, masih
perlu untuk disertakan dan direnungkan, agar kelahiran manjadi lebih bermakna.empat.
Dalam budaya Jawa, kelahiran seorang anak manusia ke dunia, selain merupakan anugerah
yang sangat besar, juga mempunyai makna tertentu. Oleh karena itu, pada masa mengandung
bayi hingga bayi lahir, masyarakat Jawa mempunyai beberapa uapacara adat untuk
menyambut kelahiran bayi tersebut. Upacara-upacara tersebut antara lain adalah mitoni,
upacara mendhem ari-ari, brokohan, upacara puputan, sepasaran dan selapanan.

Selapanan dilakukan 35 hari setelah kelahiran bayi. Pada hari ke 35 ini, hari lahir si bayi akan
terulang lagi. Misalnya bayi yang lahir hari Rabu Pon (hari weton-nya), maka selapanannya
akan jatuh di Hari Rabu Pon lagi. Pada penanggalan Jawa, yang berjumlah 5 (Wage, Pahing,
Pon, Kliwon, Legi) akan bertemu pada hari 35 dengan hari di penanggalan masehi yang
berjumlah 7 hari. Logikanya, hari ke 35, maka akan bertemu angka dari kelipatan 5 dan 7. Di
luar logika itu, selapanan mempunyai makna yang sangat kuat bagi kehidupan si bayi.
Berulangnya hari weton bayi, pantas untuk dirayakan seperti ulang tahun. Namun selapanan
utamanya dilakukan sebagai wujud syukur atas kelahiran dan kesehatan bayi.
Yang pertama dilakukan dalam rangkaian selapanan, adalah potong rambut atau parasan.
Pemotongan rambut pertama-tama dilakukan oleh ayah dan ibu bayi, kemudian dilanjutkan
oleh sesepuh bayi. Di bagian ini aturannya, rambut bayi dipotong habis. Potong rambut ini
dilakukan untuk mendapatkan rambut bayi yang benar-benar bersih, diyakini rambut bayi asli
adalah bawaan dari lahir, yang masih terkena air ketuban. Alasan lainnya adalah supaya
rambut bayi bisa tumbuh bagus, oleh karena itu rambut bayi paling tidak digunduli sebanyak
3 kali. Namun pada tradisi potong rambut ini, beberapa orang ada yang takut untuk
menggunduli bayinya, maka pemotongan rambut hanya dilakukan seperlunya, tidak digundul,
hanya untuk simbolisasi.
Setelah potong rambut, dilakukan pemotongan kuku bayi. Dalam rangkaian ini, dilakukan
pembacaan doa-doa untuk keselamatan dan kebaikan bayi dan keluarganya. Upacara
pemotongan rambut bayi ini dilakukan setelah waktu salat Maghrib, dan dihadiri oleh
keluarga, kerabat, dan tetangga terdekat, serta pemimpin doa.
Acara selapanan dilakukan dalam suasana yang sesederhana mungkin. Sore harinya, sebelum
pemotongan rambut, masyarakat merayakan selapanan biasanya membuat bancaan yang
dibagikan ke kerabat dan anak-anak kecil di seputaran tempat tinggalnya. Bancaan
mengandung makna agar si bayi bisa membagi kebahagiaan bagi orang di sekitarnya.
Adapun makanan wajib yang ada dalam paket bancaan, yaitu nasi putih dan gudangan, yang
dibagikan di pincuk dari daun pisang. Menurut Mardzuki, seorang ustadz yang kerap
mendoakan acara selapanan, sayuran yang digunakan untuk membuat gudangan, sebaiknya
jumlahnya ganjil, karena dalam menurut keyakinan, angka ganjil merupakan angka
keberuntungan. Gudangan juga dilengkapi dengan potongan telur rebus atau telur pindang,
telur ini melambangkan asal mulanya kehidupan. Selain itu juga beberapa sayuran dianggap
mengandung suatu makna tertentu, seperti kacang panjang, agar bayi panjang umur, serta
bayem, supaya bayi hidupanya bisa tentram.

2. Tradisi Masyarakat Kalimantan Ibu melahirkan


Menjelang persalinan membutuhkan beberapa perlengkapan khusus, demikian pula
bagi Suku Dayak ada beberapa perlengkapan suku dayak menjelang persalinan atau
proses melahirkan yang harus dipersiapkan sedemikian rupa untuk menggelar
beberapa ritual atau upacara adat suku Dayak dalam menjelang dan menyambut
kelahiran seorang bayi.
Kultur budaya suku Dayak Kalimantan Tengah menempatkan kaum wanita pada
derajat yang tinggi. Tak heran, kedudukan wanita dalam masyarakat dayak memang
spesial, kaum perempuan selalu mendapatkan perhatian penuh, terlebih saat proses
menjelang persalinan.
Fase Melahirkan dalam budaya Suku Dayak mengisyaratkan perlunya sejumlah
persiapan termasuk persiapan perlengkapan suku dayak menjelang persalinan. Pada
proses jelang melahirkan bayi atau Awau, sang calon ibu dibaringkan pada sebuah
dipan kecil dengan posisi miring terbuat dari kayu yang disebut Sangguhan dengan
motif ukiran Dayak di masing-masing sisi.
Kemudian saat melahirkan, disiapkan pula Botol Mau sebagai tempat untuk
menungku perut ibu agar darah kotor cepat keluar. Selain sebagai perlengkapan suku
dayak menjelang persalinan Botol Mau ini juga digunakan untuk menyiman air panas.
Selanjutnya, keluarga yang melahirkan juga perlu menyiapkan Kain Bahalai (Jarik
dalam bahasa Jawa) dengan lapisan yang berbeda. Tujuh lapis kain bahalai saat
menyambut bayi laki-laki dan lima lapis kain bahalai untuk bayi dengan jenis kelamin
perempuan. Walaupun sebagai peralatan penunjang, keberadaannya dalam persiapan
prosesi persalinan menurut budaya Suku Dayak mutlak diperlukan.
Pada fase ketika bayi telah lahir, maka tali pusar atau ari-ari bayi dipotong
menggunakan sebuah sembilu. Untuk tahap pertama dan pemotongan terakhir ari-ari
dengan uang ringgit. Kedua perlengkapan suku dayak menjelang persalinan tersebut
disiapkan sejak awal dalam sebuah piring atau Paraten. Sedangkan ari-ari yang
terpotong tadi disimpan di dalam Kusak Tabuni.

Bayi (awau) yang baru lahir dimandikan dalam Kandarah, dan popok bayi yang
digunakan disimpan dalam Saok. Bagi sang ibu setelah melahirkan biasa
menggunakan Stagen (Babat Kuningan) untuk mengikat perut agar mengembalikan

perut ibu ke kondisi semula dengan cepat. Tentunya untuk menjaga tubuh ibu setelah
melahirkan dan juga berfungsi untuk berjaga-jaga dalam kondisi yang tidak terduga
seperti sulitnya bayi keluar, masyarakat Dayak memiliki cara yang khas dan
bernuansa magis, yakni menggunakan buah kelapa yang bertunas untuk kemudian
disentuhkan ke arah selaput bayi. Tujuan perlengkapan suku dayak menjelang
persalinan tersebut adalah agar dapat membuka ruang sehingga bayi dapat keluar
dengan mudah.

3. Tradisi Masyarakat NTT Ibu melahirkan


Proses melahirkandengan di urut oleh seseorang yang diangap ahli,Setelah ada
kelahiran bayi diadakan upacara atau ritual selamatan
Perlakuan masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap ari-ari
1.Tali pusar dipotong menggunakan kulit babmbu.
2. Ditaruh sekitar 3 bulan di atas perapian sampai kering.
3. Selanjutnya di tanam di sertai doa dan alat-tulis.

2.4 HUBUNGAN ANTARA KEBUDAYAAN DAN KESEHATAN KETIKA IBU MULAI


PASCA PERSALINAN
Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada
masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses
pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk
memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap
dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan
oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya
mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula; memasukkan
ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan
darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk
memperkuat tubuh (Iskandar et al., 1996).
BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut:
1. Masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah
dan kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan
ataupun dokter. Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya
pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi
yang mungkin dialami oleh mereka. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya
tingkat pendidikan dan kurangnya informasi.
2. Kelancaran persalinan sangat tergantung faktor mental dan fisik si ibu. Faktor fisik
berkaitan dengan bentuk panggul yang normal dan seimbang dengan besar bayi.
Sedangkan faktor mental berhubungan dengan psikologis ibu, terutama kesiapannya
dalam melahirkan. Bila ia takut dan cemas, bisa saja persalinannya jadi tidak lancar
hingga harus dioperasi. Ibu dengan mental yang siap bisa mengurangi rasa sakit yang
terjadi selama persalinan.
3. Saran
Saran yang kami berikan untuk para pembaca makalah ini, yaitu: setiap aspek sosial
budaya yang melintas atau menjadi dasar bagi pola kehidupan manusia sehari-hari
hendaknya dapat disaring, karena tidak setiap aspek sosial budaya yang masuk adalah
postif.

DAFTAR PUSTAKA

http://mlamisland.blogspot.com
http://wikipedia.com
http://franxiskusgaguknugraha.blogspot.com/2011/01/budaya-daerah-daerah-tentang-ibu.html