Anda di halaman 1dari 49

Preliminary

Report

Pendekatan
ILEA
(Studi Kasus
PT.Tunggul Buana
Perkasa, di
Kalimantan Timur)
INSTITUT HUKUM DAN
SUMBER DAYA ALAM

Mohamad Nasir
Rahmina
Moch. Fadly
Heri Dermanto

Page |2

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa jenis tindak
pidana yang menjadi perhatian utama Pemerintah, yaitu tindak pidana
korupsi, pembalakan liar (illegal logging) dan terorisme serta narkoba.1
Hal ini tidak terlepas dari dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana
tersebut antara lain dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan
bernegara. Upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
tersebut bukan hanya menjadi dominasi aparat penegak hukum tetapi
sudah memerlukan peran aktif semua unsur seperti sektor swasta dan
pemerintah yang lingkupnya bukan hanya domestik tetapi sudah
mengglobal. Kendati berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah baik
sendiri maupun bersama-sama dengan negara lain, namun hasilnya
masih belum memuaskan.
Terkait dengan pembalakan liar (illegal logging), berdasarkan data
dari Departemen Kehutanan tahun 2003 disebutkan bahwa luas hutan
Indonesia yang rusak mencapai 43 juta hektar dari total 120,35 hektar
dengan laju degradasi dalam tiga tahun terakhir mencapai 2,1 hektar
pertahun. Sejumlah laporan bahkan menyebutkan antara 1,6 sampai 2,4
juta hektar hutan Indonesia hilang setiap tahunnya atau sama dengan
luas enam kali lapangan sepak bola setiap menitnya. Pada tahun 2004
Departemen Kehutanan menyatakan bahwa kerusakan hutan di Indonesia
telah mencapai 3,8 juta hektar pertahun dan negara telah kehilangan Rp.
85 Milyar perhari akibat pembalakan liar (illegal logging) .
Dalam konteks Kalimantan Timur, salah satu kasus pembalakan liar
yang mendapat perhatian yang cukup besar dar masyarakat luas adalah
yang melibatkan Mayjen TNI (purn) Gusti Syaifuddin. Mantan Sekjen
Depnakertrans disangka telah melakukan penjarahan kayu di Kecamatan
Segah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Gusti disangka melakukan
penebangan di luar wilayah izin penebangan kayu yang dimilikinya sekitar
2.000 ha. PT Tunggul Buana Perkasa milik tersangka melalui dua
kontraktornya, Arifin dan Darul Hakim, telah melakukan penebangan
sejauh 14 km di luar wilayah tebangan sejak tahun 1999. Maret 2006,

Indonesias National Report on the Implementation and Follow-Up the


2000 Vienna Declaration on Crime and Justice: Meeting the Challenges of the
Twenty-First Century, and Plan of Action at The Eleventh United Nations
Congress on Crime Prevention and Criminal Justice, Bangkok, Thailand, 18-25
April 2005.

Preliminary Report

Page |3

Tim Tastipikor dan tim khusus antipembalakan liar Mabes Polri telah
menyita 6.200 M3 kayu hasil tebangan liar PT Tunggal Buana Perkasa.
Dari penjarahan kayu itu, negara dirugikan sekitar Rp 3,4 miliar.
Dua tersangka lainnya yang jadi kontraktor PT Tunggal Buana Perkasa
Arifin dan Darul Hakim telah ditahan. Mereka kini menjalani pemeriksaan
di Pengadilan Negeri Tarakan. Sementara itu, Gusti Syaifuddin yang pada
awalnya sempat diperiksa di Mapolda Kaltim tiba-tiba lolos dari
pemeriksaan polisi. Dia kemudian menjadi DPO sejak Juni 2004. 2
Lolosnya Gusti Syaifuddin keluar negeri, mengakibatkan empat perwira
Polda Kaltim harus menjalani pemeriksaan pihak Provost Mabes Polri.
Empat orang perwira tinggi dan perwira menengah Polda Kaltim menjalani
pemeriksaan dan keempatnya dipindahkan, yakni Irjen Pol Drs Sitompul
mantan Kapolda Kaltim, mantan Dir Reskrim Polda Kaltim Kombes Pol Drs
Erry Prasetyo, mantan Kapolres Bulungan AKBP Drs Heddy Handoko, dan
mantan Kasat Tipikor Polda Kaltim AKBP Drs Arif Prapto. Ketiga perwira
menengah terakhir, kini menjadi perwira nonjob di Polda Kaltim. 3
Tidak dapat dipungkiri, pendekatan yang dilakukan oleh penegak
hukum dalam penanganan kasus pembalakan liar (illegal logging) selama
ini lebih menitikberatkan pada pelanggaran terhadap Undang-undang No.
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Padahal, pada derajat tertentu,
sebagian besar tindak pidana illegal logging pada dasarnya bermotifkan
ekonomi. Tanpa ada kepentingan ekonomi, tindak pidana tersebut tidak
akan terjadi. Oleh karena itu, menjadi hal yang cukup penting dalam
konteks memupus motivasi seseorang melakukan tindak pidana melalui
pendekatan pelacakan, pembekuan, penyitaan dan perampasan aset hasil
tindak pidana. Seseorang ataupun kejahatan terorganisir
dengan
sendirinya akan menjadi enggan atau tidak memiliki motivasi untuk
melakukan suatu perbuatan pidana apabila hasil perbuatan pidana
tersebut dikejar dan dirampas untuk negara.
Penanganan tindak pidana pembalakan liar (illegal logging) dengan
menggunakan pendekatan di atas menjadi penting
karena
berkembangnya aktifitas pencucian pencucian uang memberikan insentif
atau kemudahan bagi pelaku pencucian uang untuk meningkatkan
kejahatannya (predicate crime) seperti pembalakan liar (illegal logging)
dan berbagai kejahatan lainnya. Kejahatan-kejahatan tersebut dapat

Sinar harapan, 14 November 2006


Bahkan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Gordon Mogot yang selama seminggu
telah memeriksa sejumlah pejabat Polda Kaltim menyatakan: Itu namanya
pengkhianatan terhadap kebijakan Polri untuk memberantas illegal loggin., lihat
Pos Kota, 5 Agustus 2006.
3

Preliminary Report

Page |4

melibatkan atau menghasilkan uang atau aset (proceeds of crime) yang


jumlahnya sangat besar. 4
Berangkat dari pemahaman tersebut, studi ini akan mengkaji
Putusan Pengadilan Negeri Tarakan No.62/Pid.B/2007/PN.TRK terkait
dengan tindak pidana illegal logging yang dilakukan oleh Terdakwa Gusti
Syaifuddin,SH. Bin H.Gusti Amir.
Analisis ini akan memotret kasus
tersebut dengan pendekatan yang berbeda, dengan suatu asumsi dasar
bahwa pada derajat tertentu, sebagian besar tindak pidana illegal logging
bukan merupakan tindak pidana yang berdiri sendiri, tetapi berkelindan
erat dengan tindak pidana perusakan lingkungan, korupsi, bahkan
pencucian uang. Konsep penegakan hukum ini diberi nama Integrated
Law Enforcement Approach (ILEA) atau pendekatan penegakan hukum
terpadu. Pendekatan ILEA penggunaan UU Tipikor dan UU Tindak Pidana
Pencucian Uang (TPPU) untuk memujudkan sasaran tersebut. Lebih jauh,
konsep ILEA pada dasarnya tidak hanya juga berada dalam ranah hukum
pidana, tetapi juga berkenaan dengan penggunaan instrumen hukum
administrasi dan perdata dalam penanganan kasus pembalakan liar.
B. Kasus Posisi
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kehutanan Propinsi
Kalimantan Timur No. 522.21/1743/DK-VII/2004 tanggal 18 Mei 2004
tentang Ijin Pemanfaatan Kayu Tahun 2004/2005, areal yang diijinkan
kepada Gusti Syaifuddin
selaku Direktur Utama PT. Tunggul Buana
Perkasa seluas 2.890 Ha (dua ribu delapan ratus sembilan puluh hektar).
Sementara, pada sisi lain, Gusti Syaifuddin menganjurkan kepada Mr. Hoo
Wui Kiong untuk melaksanakan pemungutan hasil hutan terhadap semua
jenis kayu bernilai komersial bulat pada Areal PT. Tunggul Buana Perkasa
seluas 16.350,00 Ha (enam belas ribu tiga ratus lima puluh hektar) yang
berarti melebihi dari luas yang diijinkan. Demikian pula target produksi
yang ditetapkan dalam SK IPK tahun 2004/2005 tersebut adalah kayu
bulat diameter 40 Cm keatas sebesar 53.747 M (lima puluh tiga ribu
tujuh ratus empat puluh tujuh meter kubik) sedangkan Gusti Syaifuddin
mewajibkan Mr. Hoo Wui Kiong untuk memproduksi kayu bulat dengan
target volume minimal sebesar 7.000 M per bulan sehingga jika jangka
4

International Monetary Fund (IMF) memperkirakan bahwa besarnya


jumlah dana yang dilibatkan dalam kegiatan pencucian uang sekitar 2% sampai
5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Dunia atau menurut angka PDB tahun 1996
tercatat sekitar US$590 milyar sampai US$1,5 triliun. Vito Tanzi, Money
Laundering and the International Finance System, IMF Working Paper No. 96/55
(May 1996), at 3 and 4.

Preliminary Report

Page |5

waktu kerjasama pemungutan hasil hutan tersebut selama 1 (satu) tahun


maka target produksi yang diwajibkan/dianjurkan adalah sebanyak 84.000
M (delapan puluh empat ribu meter kubik), hal ini juga melebihi dari
target produksi yang diijinkan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan yang telah dilakukan oleh
Tim Gabungan yang berdiri dari Aparat Kepolisian Bareskrim Mabes Polri,
Ditreskrim Polda Kaltim dan Polres Bulungan bersama-sama dengan
Sunanto Pengukur Batas Hutan di UPTD Palonologi Kehutanan Tarakan
pada lokasi penebangan yang dilakukan oleh Arifin Bin Ali selaku
karyawan Talumas SDN BHD atau Mr. Ho Wui Kiong yang diwajibkan atau
dianjurkan oleh Gusti Syaifuddin adalah di luar areal IPK PT. Tunggul
Buana Perkasa tahun 2004/2005 No. 522.21/1743/DK-VII/2004 tanggal 18
Mei 2004 dan di luar Areal IPK PT. Tunggul Buana Perkasa Nomor:
522.21/1440/Kpts/DK-VII/2005 tanggal 31 Maret 2005 yang merupakan
Perpanjangan IPK PT. Tunggul Buana Perkasa tahun 2004/2005.
Selain melakukan kerjasama pemungutan hasil hutan dengan Mr.
Ho Wui Kiong Direktur Talumas Sdn Bhd yang pelaksanaannya di lapangan
dilaksanakan oleh Arifin Bin Ali, Gusti Syaifuddin selaku Direktur Utama
PT. Tunggul Buana Perkasa juga melakukan kerjasama operasional
pemungutan hasil hutan dengan H. Darul Hakim Bin Abdul Hakim AB Mas
Purwanata selaku Direktur CV. Sanggam Jaya Abadi yang dituangkan
dalam perjanjian kerjasama Pemungutan Hasil Hutan tanggal 18 Oktober
2005. Adapun jangka waktunya adalah sejak ditanda tanganinya
perjanjian pada tanggal 18 Oktober 2005 sampai dengan tanggal 31
Desember 2006, padahal IPK Nomor: 522.21/1440/Kpts/DK-VII/2005
tanggal 31 Maret 2005 hanya berlaku sampai 23 Maret 2006.
Kontraktor (CV. Sanggam Jaya Abadi/H. Darul Hakim) bertugas
melaksanakan Cleanand Clearing di Lokasi ex RKT I seluas 2.050 Ha
(Wilayah Clean Clearing) dalam 2 tahapan :
1. Tahap I seluas 50 Ha selama 10 hari kalender berturut-turut dalam
bulan Desember 2005 dan Kontraktor wajib menyiapkan lahan
pembibitan kelapa sawit di lahan yang telah dilakukan clean and
clearing ;
2. Tahap II seluas 2000 Ha dimulai pada bulan Februari 2006 sampai
dengan Desember 2006 dan Kontraktor wajib memotong atau
menebang kayu produksi diameter 20-49 cm sejumlah + 20.000 M.
Kontraktor (CV.SJA) juga bertugas melaksanakan Cutting (Desember
2005 Maret 2006) atas kayu diameter 50 cm atau lebih sejumlah +
35.000 M3 di lokasi RKT III. Apabila dijumlahkan target produksi kayu
bulat yang wajib ditebang oleh CV. Sanggam Jaya Abadi/H. Darul Hakim

Preliminary Report

Page |6

dari kegiatan pada tahap II Clean Clearing dan kegiatan Cutting saja
adalah sejumlah 55.000 M dimana
target produksi yang
dianjurkan/diperintahkan oleh Gusti Syaifuddin kepada CV. Sanggam Jaya
Abadi/H. Darul Hakim tersebut sudah melebihi target produksi dalam IPK
Nomor: 522.21/1440/Kpts/DK-VII/2005 tanggal 31 Maret 2005 yang hanya
43.642 M.
Oleh karena masa berlaku Ijin IPK PT. Tunggul Buana Perkasa
berakhir pada tanggal 23 Maret 2006 maka H. Darul Hakim memindahkan
kegiatan penebangan ke Sungai Laung sekitar 12 km yakni tempat/lokasi
yang ditunjukkan Suprapto lewat Umar surveyor CV. Sanggam Jaya
Abadi /H. Darul Hakim atas anjuran dari saksi Suprapto anak buah Gusti
Syaifuddin melalui Umar Surveyornya. Sesuai Hasil Pemeriksaan Areal
Kerja PT. Tunggul Buana Perkasa di Desa Sajau Kecamatan Tanjung Palas
Timur Kabupaten Bulungan yang dilakukan oleh Tim Gabungan yang
terdiri dari Aparat Kepolisian Bareskrim Mabes Polri, Ditreskrim Polda
Kaltim dan Polres Bulungan bersama-sama dengan Sunanto Pengukur
Batas Hutan di UPTD Palonologi Kehutanan Tarakan pada tanggal 08
hingga tanggal 10 Maret 2006 di lokasi penebangan yang dilakukan oleh
H. Darul Hakim Bin Abdul Hakim AB Maspurwanata, dengan menggunakan
alat Global Position System (GPS) merk Garmin Etrex telah mengambil
titik-titik koordinat di lokasi tersebut kemudian data koordinat yang
diambil dari lapangan diploting dengan Peta Kerja Rencana Pemanfaatan
Kayu (RPK) Tahun 2004/2005 pada Areal Perkebunan Kelapa Sawit Pola
PRI-TRANS (KKPA) PT. Tunggul Buana Perkasa Lokasi Desa Sajau
Kecamatan Tanjung Palas Timur Kabupaten Bulungan Propinsi Kalimantan
Timur skala 1 : 50.000, IPK PT. Tunggul Buana Perkasa Nomor :
522.21/1440/Kpts/DK-VII/2005 tanggal 31 Maret 2005 dan Peta Kawasan
Hutan dan Perairan di Wilayah Propinsi Kalimantan Timur (Lampiran SK.
Menhutbun No. 79/Kpts-II/2001 tanggal 15 Maret 2001 skala 1 : 250.000),
telah diperoleh hasil bahwa titik koordinat 02 37 13,7 LU dan 117 36
15,7 BT adalah Tempat Pengumpulan Kayu (TPn) CV. Sanggam Jaya Abadi
atau H. Darul Hakim Bin Abdul Hakim AB Maspurwanata yang sampai saat
pemeriksaan masih ada kayunya dan disekitarnya terdapat bekas-bekas
tebangan dan jalan sarad yang dilakukan oleh CV. Sanggam Jaya Abadi
atau H. Darul Hakim Bin Abdul Hakim AB Maspurwanata. Lokasi ini
terletak di dalam Rencana Areal Perkebunan PT. Tunggul Buana Perkasa.
Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan yang telah dilakukan oleh
Tim Gabungan yang terdiri dari Aparat Kepolisian Bareskrim Mabes Polri,
Ditreskrim Polda Kaltim dan Polres Bulungan bersama-sama dengan
Sunanto, Pengukur Batas Hutan di UPTD Palonologi Kehutanan Tarakan
pada lokasi penebangan yang dilakukan oleh H. Darul Hakim selaku

Preliminary Report

Page |7

Direktur Utama CV. Sanggam Jaya Abadi yang diwajibkan atau dianjurkan
oleh Gusti Syaifuddin tersebut adalah diluar Areal IPK PT. Tunggul Buana
Perkasa Nomor : 522.21/1440/Kpts/DK-VII/2005 tanggal 31 Maret 2005
yang merupakan Perpanjangan IPK PT. Tunggul Buana Perkasa tahun
2004/2005 dimana tempat penebangan yang telah dilakukan atau titik
koordiant di atas berada di luar Lokasi Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) yang
diijinkan kepada PT. Tunggul Buana Perkasa Nomor : 522.21/1440/Kpts/DKVII/2005 tanggal 31 Maret 2005, sementara jarak antara penebangan
yang telah dilakukan dengan lokasi IPK yang diijinkan berjarak 12
kilometer.

Preliminary Report

Page |8

BAB II
INTEGRATED LAW ENFORCEMENT APPROACH (ILEA)
Hukum kehutanan, pada dasarnya, mempunyai dua dimensi, yaitu
1) ketentuan tentang tingkah laku masyarakat, yang bertujuan agar
anggota masyarakat diharapkan, bahkan kalau perlu dipaksakan untuk
memenuhi norma-norma
yang tujuannya memecahkan masalah
kehutanan lingkungan. 2) dimensi yang memberi hak, kewajiban, dan
wewenang
badan-badan
pemerintah
dalam
menyelenggarakan
pengurusan hutan.
Hukum kehutanan, sebagaimana hukum lingkungan, menempati
titik silang antara hukum publik (pidana, administrasi, tata negara, dan
pajak) dan hukum privat. Hukum kehutanan merupakan hukum fungsional
karena bertujuan untuk menanggulangi kerusakan hutan sehingga untuk
fungsi itu ia mepunyai instrumen hukum pidana, adminsitrasi, dan
perdata yang dapat dipergunakan secara selektif atau bila perlu secara
simultan.
Mencermati kasus pembalakan liar yang terjadi di Kalimantan
Timur, maka ada tiga isu hukum (legal issues) yang mengemuka, yaitu
pembalakan liar, pelaku pembalakan liar, dan korban pembalakan liar. Isu
(hukum) pembalakan liar
terkait dengan perbuatan dan karenanya
penyelesaiannya dilakukan berdasarkan hukum administrasi (sanksi
administrasi), sedang isu (hukum) pelaku pembalakan liar berkenaan
dengan pelaku sehingga pola penanganannya adalah dengan
menggunakan instrumen hukum pidana, adapun isu (hukum) korban
pembalakan liar berkelindan erat dengan persoalan kerugian, oleh karena
itu penyelesaiannya adalah dengan menggunakan instrumen hukum
perdata (gugatan ganti kerugian).
A. Penggunaan Instrumen Hukum Administrasi
Penegakan hukum administrasi di bidang kehutanan meliputi dua
hal, yaitu (1) upaya hukum yang ditujukan untuk mncegah dan
menanggulangi pembalakan liar melalui pendayagunaan kewenangan
administrasi sesuai dengan mandat yang diberikan peraturan perundangundangan; (2) court review terhadap putusan tata usaha negara di PTUN5.
Penegakan hukum administrasi di bidang kehutanan memiliki
beberapa manfaat strategis dibandingkan dengan perangkat penegakan
hukum lainnya (perdata & pidana) sebagai berikut:

Mas Ahmad Santosa, Good Governance & Hukum Lingkungan


(Jakarta: ICEL, 2001) hlm. 28
5

Preliminary Report

Page |9

1. Penegakan hukum administrasi di bidang kehutanan dapat


dioptimalkan sebagai perangkat pencegahan (preventif);
2. Penegakan hukum administrasi (yang bersifat pencegahan) dapat lebih
efisien dari sudut pembiayaan dibandingkan penegakan hukum pidana
dan perdata;6 dan
3. Penegakan
hukum
administrasi
lebih
memiliki
kemampuan
mengundang partisipasi masyarakat7.
Penegakan hukum administrasi dalam suatu sistem hukum dan
pemerintahan paling tidak harus meliputi 5 (lima) hal, yaitu:
1. Izin yang didayagunakan sebagai perangkat pengawasan dan
pengendalian;
2. Persyaratan dalam izin dengan menunjuk pada AMDAL, standar baku
mutu lingkungan, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
3. Mekanisme pengawasan penaatan;
4. Keberadaan pejabat pengawas yang memadai, baik dari sisi kualitas
mupun kuantitas; dan
5. Sanksi administrasi8
Berkenaan dengan hukum kehutanan, Pasal 87 ayat (1) Peraturan
Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan
kawasan Hutan disebutkan bahwa sanksi administratif yang dapat
dikenakan terhadap pelanggar berupa:
1. penghentian sementara pelayanan administrasi;
2. penghentian sementara kegiatan di lapangan;
3. denda administratif;
4. pengurangan areal kerja; atau
5. pencabutan izin.
Pada tahun 2007, dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6
Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan
Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, maka Peraturan Pemerintah Nomor 34
Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan
Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan kawasan Hutan tersebut
dinyatakan tidak berlaku lagi. Di dalam Pasal 27 ayat (1) Peraturan
Pembiayaan untuk penegakan hukum administrasi meliputi biaya
pengawasan lapangan yang dilakukan secara rutin dan pengujian laboratorium,
lebih murah dibandingkan dengan upaya pengumpulan bukti, investigasi
lapangan, mempekerjakan saksi ahli untuk membuktikan aspek kausalitas dalam
kasus pidana dan perdata.
7
Partisipasi masyarakat dapat dilakukan mulai dari proses perizinan,
pemantauan penaatan/pengawasan, dan partisipasi dalam mengajukan
keberatan dan meminta pejabat tata usaha negara untuk memberlakukan sanksi
administrasi
8
Mas Ahmad Santosa, op.cit., hlm. 248
6

Preliminary Report

P a g e | 10

Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan


Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008, terdapat
beberapa bentuk sanksi administrasi, yaitu:
1. penghentian sementara pelayanan administrasi;
2. penghentian sementara kegiatan di lapangan;
3. denda;
4. pengurangan jatah produksi; atau
5. pencabutan izin.
Dalam penjelasannya dinyatakan bahwa sanksi administratif tersebut
dijatuhkan oleh pemberi izin sesuai dengan kewenangannya masingmasing, kecuali sanksi administratif berupa denda, dijatuhkan oleh
Menteri. Pengenaan sanksi didasarkan pada bobot pelanggarannya.
Apabila termasuk kategori berat, dikenakan sanksi pencabutan; kategori
ringan, dikenakan sanksi administratif berupa denda; dan kategori lebih
ringan, dikenakan sanksi penghentian kegiatan dan/atau penghentian
pelayanan administrasi.
B. Penggunaan Instrumen Hukum Perdata
Dalam kaitannya dengan persoalan kehutanan, hukum perdata
memberikan kemungkinan untuk mengajukan gugatan ganti kerugian
atas kerusakan hutan terhadap pihak yang menyebabkan timbulnya
kerusakan tersebut, yang biasanya dilakukan melalui gugatan perbuatan
melawan hukum.9 Dengan demikian tujuan penegakan hukum kehutanan
melalui penerapan kaidah-kaidah hukum perdata terutama adalah untuk
lebih memberikan perlindungan hukum terhadap alam lingkungan/hutan
maupun korban yang menderita kerugian sebagai akibat dari perusakan
hutan.
Salah satu titik pertautan antara hukum perdata dan hukum
kehutanan
dalam
penegakannya10
adalah
mengenai
masalah
pertanggungjawaban dalam suatu sengketa yang berkaitan dengan
masalah kehutanan, yaitu pertanggungjawaban akibat suatu perbuatan
9

Selain fungsi tersebut, dalam kaitannya dengan persoalan lingkungan


hidup hukum perdata mempunyai dua fungsi lain, yaitu (1) melalui hukum
perdata dapat dipaksakan ketaatan pada noma-norma hukum lingkungan baik
yang bersifat hukum privat maupun hukum publik, (2) Hukum perdata dapat
memberikan penentuan norma-norma dalam masalah lingkungan hidup. Lihat H.
Bocken, dalam Paulus Efendi Lotulung, Penegakan Hukum Lingkungan Oleh
Hakim Perdata (Bandung: Citra Aditya Bakti: 1993) hlm. 1 - 3
10
Titik pertautan lainnya adalah pertanggungjawaban atas dasar
hubungan kontraktual berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata, yang antara lain
menegaskan bahwa obyek dalam suatu perjanjian harus bebas dari cacat yuridis.

Preliminary Report

P a g e | 11

melawan hukum (onrechtmatige overheidsdaad) berdasarkan Pasal 1365


KUHPerdata.11
Dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
mekanisme penggunaan instrumen hukum perdata dilakukan melalui
gugatan perwakilan (class action) dan hak gugat organisasi bidang
kehutanan (ius standi). Mekanisme gugatan perwakilan (class action)
diatur dalam Pasal 71 ayat (1) dimana disebutkan bahwa masyarakat
berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan terhadap
kerusakan hutan yang merugikan kehidupan masyarakat. Hak tersebut
terbatas pada tuntutan terhadap pengelolaan hutan yang tidak sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun mengenai
isu standi, dalam Pasal 73 dijelaskan bahwa dalam rangka pelaksanaan
tanggung jawab pengelolaan hutan, organisasi bidang kehutanan berhak
mengajukan gugatan perwakilan untuk kepentingan pelestarian fungsi
hutan12.
Selain kedua mekanisme gugatan tersebut, Pasal 72 membuka
kemungkinan bagi instansi Pemerintah atau instansi Pemerintah Daerah
yang bertanggung jawab di bidang kehutanan bertindak untuk
kepentingan masyarakat, jika diketahui bahwa masyarakat menderita
akibat pencemaran dan atau kerusakan hutan sedemikian rupa sehingga
mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Penggunaan instrumen hukum perdata dalam menyelesaikan
sengketa kehutanan menurut ketentuan yang terdapat dalam Pasal 74
ayat (1) dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan
berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. Terkait
dengan penyelesaian sengketa kehutanan di luar pengadilan, menurut
Pasal 75 ayat (2) dimaksudkan untuk mencapai kesepakatan mengenai
pengembalian suatu hak, besarnya ganti rugi, dan atau mengenai bentuk
tindakan tertentu yang harus dilakukan untuk memulihkan fungsi hutan.
Adapun penyelesaian sengketa kehutanan melalui pengadilan
diatur dalam Pasal 76. Penggunaan jalur litigasi ini dimaksudkan untuk
memperoleh putusan mengenai pengembalian suatu hak, besarnya ganti
rugi, dan atau tindakan tertentu yang harus dilakukan oleh pihak yang
kalah dalam sengketa.
Selain putusan untuk melakukan tindakan
Pasal 1365 KUHPerdata berbunyi; Tiap perbuatan melawan hukum,
yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena
salahnya mengakibatkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.
12
Pada Pasal 73 ayat (3) dikemukakan syarat bagi organisasi bidang
kehutanan yang berhak mengajukan gugatan, yaitu a). berbentuk badan hukum,
b). organisasi tersebut dalam anggaran dasarnya dengan tegas menyebutkan
tujuan didirikannya organisasi untuk kepentingan pelestarian fungsi hutan, dan
c). telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya.
11

Preliminary Report

P a g e | 12

tertentu, pengadilan dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas


keterlambatan pelaksanaan tindakan tertentu tersebut setiap hari.
C. Penggunaan Instrumen Hukum Pidana
Dalam tindak pidana lingkungan hidup, termasuk kehutanan,
terdapat dua kategori tentang korban, yaitu korban yang bersifat konkrit
dan korban yang bersifat abstrak. Kategori ini berhubungan erat dengan
konsep tentang kerusakan dan kerugian lingkungan, dimana kerusakan
dan kerugian yang dilakukan dapat mengakibatkan kerusakan dan
kerugian yang nyata (actual harm) dan ancaman kerusakan (threatened
harm). Menurut Muladi (1998: 13-14) yang dilindungi oleh hukum pidana
(lingkungan) bukan hanya alam, flora, dan fauna, tetapi juga masa depan
kemanusiaan (generasi yang akan datang) akibat degradasi lingkungan.
Dalam konteks tindak pidana kehutanan, khususnya pembalakan
liar, maka pada dasarnya, dalam tindak pidana tersebut terbuka
kemungkinan bagi adanya tindak pidana lain seperti perusakan
lingkungan, korupsi, dan pencucian uang.
1. Tindak Pidana Pembalakan Liar sebagai Perusakan Lingkungan
Dalam Pasal 1 angka 14 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) disebutkan bahwa yang
dimaksud dengan perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang
menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik
dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi
lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembalakan liar dapat mengakibatkan deforestasi yang bermuara pada
kerusakan lingkungan. Kerugian akibat kerusakan lingkungan dapat
dihitung dengan menggunakan pedoman yang dikeluarkan Kementerian
Negara Lingkungan Hidup RI (2006). Perhitungan kerugian kerusakan
lingkungan didasarkan pada 3 komponen besar yakni biaya kerugian
ekologis, biaya kerugian ekonomi, dan biaya-biaya pemulihan ekologis.
Berikut ini simulasi perhitungan kerusakan lingkungan per hektar yang
disarikan oleh Wasis (2008):
Kompon
en
Kerugian
Ekologis
(A)

Keterangan
Total Biaya Reservoir
Pengaturan Tata Air
Pengendalian Erosi dan Limpasan
Pembentukan Tanah

Jumlah
(Rupiah)
4.050.000.000
2.281.000.000
6.000.000
500.000

Preliminary Report

P a g e | 13

Pendaur Ulang Unsur Hara


Pengurai Limbah
Pemulihan Biodiversity
Sumberdaya Genetik
Pelepasan Karbon
Total Kerugian Kerusakan Ekologis
Kerugian
Nilai tegakan kayu
160
3300000
Ekonomi
Nilai Pakai Lahan
100
32000000
(B)
Total Kerugian Ekonomi
Biaya
Penyediaan air melalui pembangunan
Pemuliha
reservoir
n Ekologis Pengendalian Limpasan dan erosi
Pembentukan Tanah
(C)
Pendaur Ulang Unsur Hara
Pengurai Limbah
Pemulihan Biodiversity
Sumberdaya Genetik
Pelepasan Karbon
Total Biaya Pemulihan Ekologis
Total Nilai Kerugian Perusakan Lingkungan A+ B
+ C (perhektar)

4.610.000
435.000
2.700.000
410.000
32.310.000
6.377.965.000
528.000.000
3.200.000.000
3.728.000,000
4.050.000.000
6.000.000
500.000
4.610.000
435.000
2.700.000
410.000
32.310.000
4.096.965.000
Rp
14.202.930.00
0

2. Tipologi Tindak Pidana Korupsi di bidang Kehutanan 13


Sedikitnya terdapat tiga tipologi tindak pidana korupsi yang di sektor
kehutanan yaitu:
a. Korupsi yang berkaitan dengan pemberian izin di sektor kehutanan 14.
Pejabat atau penyelenggara negara memberikan rekomendasi,
persetujuan atau izin usaha berbasis hutan atau perubahan status
atau fungsi hutan seperti izin pengusahaan hutan, izin perkebunan dan
pertambangan di kawasan hutan, izin perubahan status dan fungsi
hutan, dan sebagainya, yang umumnya tidak sesuai dengan ketentuan
yang berlaku, dengan meminta atau menerima imbalan tertentu.
Pihak tertentu menjanjikan atau memberikan imbalan tertentu kepada
pejabat atau penyelenggara negara untuk mendapatkan rekomendasi,
Beberapa bagian dari sub bab ini disarikan dari Pedoman Umum
Penanganan Tindak Pidana Korupsi (TPK) di bidang Kehutanan terkait dengan
Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Draft tanggal 1/1/2008
14
Pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini dapat dibaca dalam
Greenomics Indonesia dan ICW, Pola Praktik Korupsi dalam Perizinan Konsesi
Hutan, Kertas Kerja No. 03, Desember 2004.
13

Preliminary Report

P a g e | 14

persetujuan atau izin usaha berbasis hutan atau izin alih fungsi hutan.
Terdapat kerugian negara karena terjadinya deforestasi sebagai akibat
dari pemberian izin yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b. Korupsi yang berkaitan dengan pengawasan terhadap kegiatan usaha
kehutanan.
Pengawasan terhadap kegiatan cruising, penebangan, pengesahan
hasil hutan, penentuan DR dan PSDH, pengangkutan, pengangkutan
antar pulau, dan ekspor hasil hutan, harus diakui rawan korupsi.
Pemilik atau pengelola kegiatan usaha kehutanan, baik yang memiliki
izin resmi atau tidak, kerapkali menjanjikan atau memberikan imbalan
tertentu kepada pejabat atau penyelenggara negara yang
melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan usaha kehutanan.
Pejabat atau penyelenggara negara tidak melaksanakan pengawasan
sesuai ketentuan terhadap kegiatan usaha kehutanan karena
menerima imbalan tertentu. Terdapat kerugian negara terutama
karena penerimaan negara yang seharusnya diterima (DR, PSDH, Pajak
Pertambahan Nilai, Pajak Penghasilan, Pajak Ekspor) menjadi tidak
diterima.
c. Korupsi yang berkaitan dengan pengawasan terhadap kegiatan usaha
kehutanan berskala besar.
Pemilik atau pengelola industri kehutanan berskala besar menjanjikan
atau
memberikan
imbalan
tertentu
kepada
pejabat
atau
penyelenggara negara yang melaksanakan pengawasan terhadap
industri kehutanan berskala besar. Pemilik atau pengelola industri
kehutanan berskala besar mendorong pemasok bahan baku
industrinya melakukan korupsi dalam perolehan izin atau terhadap
pengawasan kegiatan usaha kehutanan (tipologi 1 dan 2).
Pemilik atau pengelola industri kehutanan berskala besar melakukan
praktik bisnis yang tidak sehat (misalnya transfer-pricing, under atau
over-invoicing). Pejabat atau penyelenggara negara menetapkan
kebijakan-kebijakan yang menguntungkan industri skala besar dan
pemasok bahan bakunya karena menerima imbalan tertentu.
3. Tipologi Tindak Pidana Pencucian Uang dengan Tindak Pidana
Korupsi di bidang Kehutanan sebagai Tindak Pidana Pokok
(Predicate Crime)
Dalam pedoman ini jenis modus tindak pidana korupsi di bidang
kehutanan dikategorikan ke dalam tiga kelompok sebagaimana
disebutkan di atas, dimana masing-masing kelompok terdapat beberapa
tipologi tindak pidana pencucian uang yang mungkin terjadi, diantaranya
sebagai berikut:

Preliminary Report

P a g e | 15

a. Tindak Pidana Pencucian Uang dengan tindak pidana pokok korupsi


berkaitan dengan masalah pemberian perizinan di sektor kehutanan.
Tipologi tindak pidana pencucian uang ini merupakan tindak pidana
lanjutan yang dilakukan pelaku atas uang haram, umumnya uang
suap, yang diterima oleh pegawai negara atau penyelenggara negara
berkaitan dengan pemberian rekomendasi, persetujuan atau ijin usaha
berbasis hutan atau perubahan status atau fungsi hutan, yang
umumnya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Potensi jenis tindak pidana korupsi tersebut dapat dilakukan oleh
beberapa pegawai negara atau penyelenggara negara yang
berwenang [PEP] yang terlibat dalam proses pengajuan permohonan
pengusahaan hutan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Menteri kehutanan;
2) Panita Lelang;
3) Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan Produksi, Dephut;
4) Direktur Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam, DepHut;
5) Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Dephut dalam hal
menghitung besarnya rencana investasi dan pelaporan kepada
Sekjen;
6) Sekretaris Jenderal, Dephut;
7) Gubernur, dalam hal pemberian rekomendasi terhadap kelayakan
areal yang dilelang maupun kemampuan pemenang lelang;
8) Walikota, dalam hal pemberian rekomendasi terhadap kelayakan
areal yang dilelang maupun kemampuan pemenang lelang;
9) Bupati, dalam hal pemberian rekomendasi terhadap kelayakan
areal yang dilelang maupun kemampuan pemenang lelang;
10)
Komisi
Penilai,
Departemen
Lingkungan
Hidup
di
Bapedal/Bapedalda/Instansi pengelola lingkungan hidup Propinsi,
Kabupaten/Kota dalam hal memberikan persetujuan atas laporan
AMDAL atau UKL dan UPL yang dipersiapkan peserta lelang;
11)
Kepala Badan Planotologi Kehutanan (Baplan) dalam hal
mempersiapkan peta areal kerja berikut luasnya dan Bahan
Penetapan Tebangan Tahunan (BPTT) untuk IUPHHK.
Dalam tata cara permohonan izin pengusahaan hutan dengan lelang
misalnya, pelaku menerima suap dari peserta yang dimenangkan, atau
melakukan kecurangan dalam proses lelang sehingga penentuan
pemenang lelang tidak dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku atau
menerima gratifikasi dari peserta lelang dengan tujuan memperkaya
diri sendiri. Perbuatan tersebut mengakibatkan timbulnya kerugian
keuangan/perekonomian negara karena biaya besar harus dikeluarkan
oleh pemerintah misalnya biaya yang sangat besar untuk

Preliminary Report

P a g e | 16

menanggulangi kerusakan hutan yang terjadi, pendapatan negara


berkurang karena banyak DH dan PSDH yang tidak dibayarkan, dan
sebagainya.
Adapun indikasi TPPU dalam kasus adalah perbuatan lanjutan yang
dilakukan baik oleh pelaku TPK maupun orang lain atas uang suap atau
imbalan lainnya yang diterima dengan melakukan berbagai transaksi
keuangan,
yaitu
menempatkan,
mentransfer,
membayarkan,
membelanjakan,
menghibahkan,
menyumbangkan,
menitipkan,
membawa ke luar negeri, menukarkan atau perbuatan lain dengan
maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang
atau harta kekayaan haram tersebut sehingga seolah-oleh manjadi
harta kekayaan yang sah.
b. Tindak Pidana Pencucian Uang dengan tindak pidana pokok korupsi di
bidang kehutanan yang berkaitan dengan masalah pengawasan di
sektor kehutanan.
Masalah pengawasan di sektor kehutanan berhubungan dengan proses
pengusahaan hutan setelah izin disetujui yang meliputi penyiapan
lahan, pembenihan atau pembibitan, penanaman, pemeliharaan,
pengamanan, pemanenan atau penebangan, pemasaran hasil hutan
kayu dan pelaporan jumlah volume serta jenis kayu yang ditebang.
Tindak pidana korupsi yang terjadi adalah pemberian janji atau
imbalan tertentu kepada pejabat atau penyelenggara negara yang
melaksanakan pengawasan di sektor kehutanan dengan maksud agar
pejabat atau penyelenggara negara tidak melaksanakan pengawasan
sesuai ketentuan yang berlaku. Adapun pejabat atau penyelenggara
negara yang berpotensi melakukan tindak pidana korupsi jenis tipologi
ini adalah sebagai berikut:
1) Kepala Dinas Provinsi atau Kepada Dinas Kabupaten/Kota,
Departemen
Kehutanan,
dalam
hal
pelaksanaan
survei
penebangan, pemeriksaan Laporan Hasil Cruising (LHC), penilaian
dan pengesahan Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang diajukan
pemegang IUPHHK;
2) Petugas Penerbit Laporan Hasil Penebangan (P2LHP) dalam hal
melakukan pemeriksan kebenaran Laporan Hasil Penebangan (LHP),
pemeriksaan fisik hasil hutan atau hasil hutan yang di-LHP-kan,
pengecekan hasil penebangan/pemanenan/pemungutan hasil
hutan, dan pengesahan LHP;
3) P2SKSHH Kayu Bulat, Dinas Pertanian, dalam hal layanan
permohonan perusahaan di sektor kehutanan atau perorangan
untuk menerbitkan SKSHH , pemeriksaan fisik hasil hutan yang

Preliminary Report

P a g e | 17

dimohonkan untuk diangkut sesuai RKT, pembuatan buku registrasi


penerimaan, persediaan dan penerbitan SKSHH;
4) Kasubdin Bina Produksi Dinas Kehutanan, dalam hal pemeriksaan
laporan atas kayu bulat yang diangkut dengan mencocokkan jenis
kayu/volume/ukuran dari DHH;
5) Kepala Seksi Pungutan dan Iuran Kehutanan, Dinas Kehutanan,
dalam hal pemeriksaan fisik atas Usulan Rencana Kerja Tahunan
Pengusahaan Hutan (URKT-PH);
6) Staf Sub Dinas Program, Sub Dina Produksi dan Sub Dinas Bina
Hutan dan Penyuluhan, Departemen Kehutanan, dalam hal
pemeriksaan hasil pelaksanaan timber cruising;
7) Staf Sub Dinas Bina Program, Departemen Kehutanan, dalam hal
pembuatan konsep pengesahan Rekapitulasi Hasil Cruising RKT dan
Hasil Cruising Pembukaan Wilayah Hutan;
8) Bupati, dalam hal pengesahan dan penandatanganan Rekapitulasi
Hasil Cruising dan Hasil Cruising Pembukaan Wilayah Hutan;
9) Pejabat Penagih DR dan PSDH, Departemen Kehutanan;
10)
Bendahara Penerima DR dan PSDH, Departemen Kehutanan.
Dapat disimpulkan bahwa tindak pidana korupsi yang terjadi dalam
tipologi ini berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi pegawai
negeri dan atau pejabat negara dalam melakukan pengawasan
pengusahaan hutan yang dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan
yang berlaku sehingga menimbulkan kerugian negara. Adapun
indikator tindak pidana pencucian uang adalah berupa perbuatan
lanjutan atas uang suap yang diterima oleh pelaku dengan melakukan
berbagai transaksi keuangan hingga asal-usul uang suap menjauh dan
sulit dideteksi oleh penegak hukum dan akhirnya dapat dinikmati
untuk keperluan pribadi.
c. Tindak Pidana Pencucian Uang yang terjadi tindak pidana pokok
korupsi di bidang kehutanan yang berkaitan dengan masalah kegiatan
usaha kehutanan berskala besar.
Tindak pidana korupsi di tipologi ini bisa berkaitan dengan masalah
perizinan dan pengawasan di sektor kehutanan sebagaimana tipologi 1
dan 2, akan tetapi penyuapan dilakukan oleh perusahaan besar di
sektor kehutanan kepada pejabat Negara atau penyelenggara Negara,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Tipologi ini biasanya lebih rumit prosesnya dan sulit membuktikan
keterlibatan si pemberi suap, yaitu perusahaan industri kehutanan
berskala besar, dengan pelaku pejabat Negara atau penyelenggara
Negara dikarenakan biasanya perusahaan industri tersebut tidak
bersentuhan langsung denan penerima suap. Biasanya, pemilik HPH

Preliminary Report

P a g e | 18

berhubungan langsung dengan pejabat atau penyelenggara Negara


dalam pengusahaan hutan, termasuk perizinan maupun pengawasan
guna mendapatkan IUPHHK untuk kemudian kayu hasil tebangan, baik
yang legal maupun illegal, akan dijual kepada perusahaan industri
berskala besar.
Selain itu, keterlibatan langsung atau tindak langsung industri berskala
besar dalam tipologi ini dalam bentuk pemberian imbalan kepada
pejabat atau penyelenggara Negara agar menetapkan kebijakankebijakan yang menguntungkan industri skala besar dan pemasok
bahan bakunya. Kemudian, indikasi dugaan tindak pidana pencucian
uang dapat ditemukan apabila terdapat perbuatan atau transaksi
keuangan lanjutan atas kayu illegal atau uang hasil penjualan kayu
illegal oleh penerima suap agar asal-usulnya tidak dapat dideteksi oleh
aparat penegak hukum.
Dalam bingkai hukum pidana, pendekatan ILEA terfokus pada
tindak pidana lingkungan, korupsi dan pencucian uang yang sering terjadi
pada kasus-kasus yang melibatkan organisasi kejahatan dan professional
(kerah putih) di dalam pengelolaan sumber daya alam. Pendekatan ILEA
memiliki 5 komponen yaitu:
1. Komponen Pengendalian Internal (Internal Control)
Komponen ini memberikan informasi tentang kondisi sumber daya
alam saat ini dan besarnya jumlah dan nilai exploitasi sumber daya
alam yang telah dilakukan. Untuk sumber daya kehutanan, informasi
ini dirangkum dalam indikator-indikator sebagai berikut:
a. Tingkat deforestasi
b. Jumlah dan nilai produksi kayu
c. Penerimaan negara dari dana reboisasi (DR) dan Provisi Sumber
Daya Hutan (PSDH)
d. Jumlah dan nilai ekspor produk kayu
e. Jumlah perizinan dan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh
izin
2. Komponen Audit
Komponen audit akan memproses informasi yang diperoleh dari
Komponen Pengendalian Intern dan informasi lainnya yang diperoleh
sendiri atau dari pihak lain untuk menentukan hal-hal sebagai berikut:
a. Tingkat deforestasi yang telah terjadi
b. Perubahan fungsi dan kawasan hutan
c. Siapa yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan hutan:
1) Kinerja (keuangan, kehutanan, lingkungan, dan sosial) dari
instansi pemerintah yang bertanggung jawab tehadap
deforestasi dan perubahan fungsi dan kawasan hutan.

Preliminary Report

P a g e | 19

2) Kinerja perusahaan yang bertanggung jawab tehadap


deforestasi dan perubahan fungsi dan kawasan hutan.
3) Kinerja instansi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap
ekspor dan impor produk kayu
4) Kinerja perusahaan yang bertanggung jawab terhadap ekspor
dan inpor produk kayu
d. Perkiraan kerugian negara:
1) Jumlah dan nilai realisasi produksi kayu
2) Jumlah dan nilai kerusakan lingkungan
3) Nilai penerimaan negara
e. Investigasi tindak pidana
1) Tindak pidana korupsi di bidang kehutanan dan lingkungan
hidup
2) Tindak pidana dibidang kehutanan
3) Tindak pidana dibidang lingkungan hidup
4) Tindak pidana pencucian uang
3. Komponen Kepatuhan Penyedia Jasa Keuangan
Komponen PJK akan memproses informasi yang diperoleh dari
Komponen Pengendalian Intern dan Komponen Audit untuk
menentukan hal-hal sebagai berikut:
a. Menerapkan international best practices terhadap transaksi
keuangan perusahaan, organisasi pemerintah, dan individu yang
terlibat dalam proses deforestasi dan perubahan fungsi dan
pengunaan kawasan hutan melalui penerapan:
1) Kebijakan Prinsip Mengenal Nasabah (KYC policies)
2) Customer due diligent
3) Financial due diligent
4) Audit kapatuhan penerapan kebijakan KYC.
b. Membuat profil transaksi keuangan pelanggan khususnya yang
tergolong sebagai Political Exposed Persons (PEP).
c. Menganalisis laporan transaksi tunai
d. Mengidentifikasi red flags untuk transaksi keuangan yang
mencurigakan
e. Melaporkan transaksi keuangan mencurigakan kepada FIU.
Berdasarkan informasi ini, Komponen PJK akan memastikan arus
penyampaian Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM) dari
penyedia jasa keuangan kepada FIU. Komponen ini juga dapat
bekerjasama dengan Komponen Audit untuk meningkatkan kualitas
dan kuantitas hasil evaluasinya.
4. Komponen Akuntabilitas
Komponen ini akan memproses informasi yang diperoleh dari
Komponen Pengendalian Intern untuk melakukan analisis terhadap
laporan keuangan yang diproduksi oleh:

Preliminary Report

P a g e | 20

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Departemen Kehutanan
Kabupaten penghasil kayu
Provinsi penghasil kayu
Perusahaan penghasil kayu
Perusahaan pemakai kayu (industry kayu)
Perusahaan pemakai kawasan hutan (industri kelapa sawit dan
batubara)
Komponen ini akan mendorong dibuatnya penjelasan (disclosure) yang
cukup didalam laporan keuangan organisasi diatas terkait dengan
produksi kayu, penjualan kayu, pengolahan kayu, dan penjualan
produk kayu (kayu gergajian, plywood, dan pulp). Instansi pemerintah
maupun perusahaan yang terlibat dalam proses deforestasi dan
perubahan fungsi dan penggunaan kawasan hutan harus memberikan
informasi yang cukup kepada pembacanya terkait dengan eksploitasi
hutan.
5. Komponen Penegakan Hukum Kejahatan Terorganisir dan Kerah Putih
(Organized and White Collar Crime)
Ujung tombak dari ILEA adalah komponen kelima, Penegakan Hukum
Kejahatan Teroganisir dan Kerah Putih (Komponen Penegakan Hukum).
Komponen ini dipimpin oleh lembaga anti korupsi yang didukung
penuh oleh lembaga anti pencucian uang, yang sering disebut dengan
Financial Inteligent Unit (FIU). Kedua lembaga ini haruslah independen
dan memiliki integritas serta track record yang baik dalam
mengembalikan kekayaan negara.
Dalam konsep ILEA yang sedang dikembangkan saat ini, Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) akan melakukan penegakan hukum
terhadap tindak pidana korupsi sedangkan PPATK akan mengkoordinasi
penegakan hukum terhadap tindak pidana pencucian uang. Lembaga
penegak hukum lainnya seperti Kepolisian dan Kejaksaan Agung dapat
terlibat dalam inisiatif ILEA ini jika mereka memerlukan bantuan dari
sistem ILEA untuk kasus-kasus dibidang sumber daya alam yang
sedang mereka tangani.

Preliminary Report

P a g e | 21

BAB III
PENERAPAN KONSEP ILEA DALAM KASUS PT. TUNGGUL BUANA
PERKASA
Apabila kasus ini dikaji dengan menggunakan pendekatan konsep
ILEA, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:
A. Pengumpulan Data dan Informasi
Penggunaan konsep ILEA dalam penanganan kasus pembalakan liar
membutuhkan adanya data dan informasi awal yang cukup, karena
ketersediaan data dan informasi akan sangat berpengaruh pada upaya
hukum yang akan ditempuh.
Berikut beberapa hal yang perlu
didentifikasi, antara lain:
1. Analisis Spasial
Dalam kasus ini terdapat informasi awal yang seharusnya oleh
Penyidik dapat dijadikan acuan dalam sebagai bahan untuk melakukan
analisis spasial terkait dengan penggunaan konsep ILEA dalam
penanganan kasus tersebut. Adapun informasi yang dapat digunakan
untuk melakukan penelusuran lebih lanjut adalah sebagai berikut:
Pada saat pemeriksaan dari Tim dari Polri, yang didampingi oleh
Sunanto (UPTD Planologi Tarakan) pada sekitar tanggal 8 Maret 2006
sampai dengan 10 Maret 2006 telah ditemukan kayu yang diduga
ditebang Arifin, setelah diukur kurang lebih sebanyak 511 (lima ratus
sebelas) batang atau 2.824 (dua ribu delapan ratus dua puluh empat)
meter kubik. Kayu-kayu yang ditemukan oleh Tim dari Polri tersebut
ada di berbagai tempat dan sesuai pemeriksaan lokasi yaitu :
a. Di sekitar titik b (titik 40) dengan kordinat 02 0 36 30,6 LU / 1170
28 55,9 BT. Kayu-kayu disekitar titik ini berada dalam areal
Perkebunan maupun IPK PT.Tunggul Buana Perkasa ;
b. Disekitar titik D (titik 36) dengan kordinat 02 0 35 32,0 LU / 1170
28 27,6 BT. Kayu-kayu bulat disekitar titik D ini berada di luar
areal Perkebunan maupun IPK PT.Tunggul Buana Perkasa, melainkan
berada pada areal Hutan Produksi Terbatas (HPT) ;
c. Di sekitar titik D1 (titik 37) dengan kordinat 020 36 25,9 LU/1170
28 16,9 BT. Kayu-kayu bulat disekitar titik D1 ini berada di luar
areal Perkebunan maupun IPK PT.Tunggul Buana Perkasa melainkan
berada pada areal Hutan Produksi.
Kayu-kayu bulat sebanyak 511 (lima ratus sebelas) batang yang
berada di titik B, D dan D1 tersebut semuanya tebangan baru yang
dilakukan oleh Arifin sekitar bulan Oktober 2005 sampai dengan
Desember 2005.

Preliminary Report

P a g e | 22

2. Identifikasi Kerugian Negara atau Harta Hasil Kejahatan.


Dalam kaitannya dengan kasus ini, identifikasi terhadap kerugian
negara atau harta hasil kejahatan dapat dilakukan melalui audit
kepatuhan atau kinerja operasional dan keuangan terhadap PT.
Tunggul Buana Perkasa. Tim Audit juga harus melakukan pemeriksaan
terhadap semua instansi yang mengawasi perizinan dan operasional
dari perusahaan ini. Lembaga yang terlibat dalam pengawasan PT.
Tunggul Buana Perkasa dan perizinan IPK adalah Departemen
Kehutanan, Departemen Menteri Transmigrasi dan PPH, Gubernur dan
Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Timur, serta Bupati dan Dinas
Kehutanan Kabupaten Bulungan. Dalam melakukan audit, Komponen
Audit bertujuan untuk menentukan hal-hal sebagai berikut:
a. Bukti luas kawasan hutan yang ditebang di luar konsesi PT. Tunggul
Buana Perkasa;
b. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh penebangan hutan di
luar konsesi PT. Tunggul Buana Perkasa;
c. Jumlah kayu yang diproduksi dari kawasan hutan di luar konsesi PT.
Tunggul Buana Perkasa;
d. Kerugian negara sebagai akibat kehilangan nilai kayu, kerusakan
lingkungan, dan biaya untuk memperbaiki kerusakan lingkungan
tersebut, serta tidak dibayarnya DR dan PSDH.
e. Nama-nama pejabat dan perusahaan yang bertanggung jawab
selama periode penggundulan hutan
Berdasarkan tujuan audit di atas, Komponen audit perlu mencari alatalat bukti pelanggaran di bidang kehutanan sebagai berikut:
a. Foto-foto di lapangan terkait perusakan hutan, baik yang berada di
lokasi konsesi maupun di luar sekitar konsesi. Untuk sample lokasi
bisa dicek di koordinat:
1) 020 36 30,6 LU / 1170 28 55,9 BT
2) 020 35 32,0 LU / 1170 28 27,6 BT
3) 020 36 25,9 LU/1170 28 16,9 BT
b. Kerusakan hutan dan lingkungan hidup pada periode Oktober
Desember 2005
c. Keterangan saksi dan saksi ahli tentang kerusakan hutan dan
lingkungan hidup di kawasan PT. Tunggul Buana Perkasa dan
sekitarnya pada periode Oktober Desember 2005
d. Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan peta konsesi PT. Tunggul Buana
Perkasa periode 2004-2005
e. Produksi kayu dan produk kayu PT. Tunggul Buana Perkasa pada
periode 2004-2005

Preliminary Report

P a g e | 23

f.

Penjualan kayu dan produk kayu PT. Tunggul Buana Perkasa baik
dalam negeri maupun luar negeri pada periode 2000-2006
g. Harga rata-rata kayu dan produk kayu per bulan pada periode
2004-2005
h. Pembayaran DR-PSDH PT. Tunggul Buana Perkasa selama periode
2004-2005
i. Nama-nama pejabat yang memberikan perizinan operasi kepada
PT. Tunggul Buana Perkasa selama periode 2004-2005 termasuk
yang terkait dengan pembayaran DR dan PSDH
j. Aset-aset perusahaan di Jakarta, Kalimantan Timur, dan luar negeri
k. Aset-aset direksi, komisaris, dan pemilik perusahaan baik di dalam
maupun di luar negeri
Kerusakan Hutan dan Lingkungan Hidup
Data awal yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan
hutan dan lingkungan hidup adalah adanya kayu log (bulat) sebanyak
2.073 (dua ribu tujuh puluh tiga) batang yang terdiri dari:
a. Hasil penebangan Talumas Sdn Bhd / Arifin Bin Ali sebanyak 1342
(seribu tiga ratus empat puluh dua) batang atau 6.336,31 M
dimana kayu yang sebanyak 831 (delapan ratus tiga puluh satu)
batang atau 3.512,11 M telah berhasil dijual sedangkan yang
sebanyak 511 (lima ratus sebelas) batang atau 2.824,20 M masih
tersisa dilapangan;
b. Hasil penebangan CV. Sanggam Jaya Abadi / H. Darul Hakim
sebanyak 731 (tujuh ratus tiga puluh satu) batang atau 3.390 M
jenis kelompok Meranti dan Kelompok Rimba Campuran berbagai
ukuran.
Identifikasi terhadap hasil tebangan di atas dapat menentukan tingkat
kerusakan hutan dan lingkungan yang terjadi. Setelah kerusakan dapat
diidentifikasi,
maka
langkah
selanjutnya
adalah
melakukan
penghitungan terhadap nilai kerusakan hutan dan lingkungan yang
terjadi di luar konsesi PT. Tunggul Buana Perkasa dan sekitarnya pada
periode 2004-2005.
Perkiraan Kerugian Negara
Dalam kasus ini, perkiraan kerugian negara sebagai akibat kehilangan
nilai kayu sulit dilakukan karena penyidik tidak dapat mengidentifikasi
dan menentukan jumlah kayu yang ditebang dari dalam dan luar
konsesi PT. Tunggul Buana Perkasa. Meski demikian, perkiraan kerugian
negara dapat dihitung dari kerusakan lingkungan dan biaya perbaikan
kerusakan lingkungan tersebut.

Preliminary Report

P a g e | 24

Apabila kerugian akibat kerusakan lingkungan dihitung dengan


menggunakan pedoman yang dikeluarkan Kementerian Negara
Lingkungan Hidup RI (2006), sebagaimana disampaikan dalam Bab
sebelumnya, dimana perhitungan kerugian kerusakan lingkungan
didasarkan pada 3 komponen besar yakni biaya kerugian ekologis,
biaya kerugian ekonomi, dan biaya biaya pemulihan ekologis, maka
asumsi nilai kerugian negara akibat kerusakan lingkungan adalah
sebagai berikut:
Luas hutan yang rusak
: 120 Ha
Kerusakan lingkungan per hektar
: Rp
14.202.930.000,- x
Total kerugian akibat kerusakan lingkungan
:
Rp.
1.704.351.600.000,(Satu triliun tujuh ratus empat miliar tiga ratus lima puluh satu juta
enam ratus ribu rupiah)

Preliminary Report

P a g e | 25

Adapun kehilangan kayu sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan


oleh kontraktor PT. Tunggul Buana Perkasa dapat ditelusuri dari fakta
dimana
Kontraktor (CV.SJA) juga bertugas melaksanakan Cutting
(Desember 2005 Maret 2006) atas kayu diameter 50 cm atau lebih
sejumlah + 35.000 M3 di lokasi RKT III. Apabila dijumlahkan target
produksi kayu bulat yang wajib ditebang oleh CV. Sanggam Jaya
Abadi/H. Darul Hakim dari kegiatan pada tahap II clean clearing dan
kegiatan cutting saja adalah sejumlah 55.000 M3 dimana target
produksi yang dianjurkan/diperintahkan oleh Gusti Syaifuddin kepada
CV. Sanggam Jaya Abadi/H. Darul Hakim tersebut sudah melebihi
target produksi dalam IPK Nomor: 522.21/1440/Kpts/DK-VII/2005
tanggal 31 Maret 2005 yang hanya 43.642 M3. Adapun selisih kayu
hasil tebangan dengan target produksi adalah 11.358M
Sedangkan nilai kerugian negara akibat kelebihan kayu hasil tebangan
yang melebihi toleransi target sebesar 5% (lima persen) dari total
target volume yang ditentukan dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT)
dinilai berdasarkan denda administratif dan PSDH yang tidak
dibayarkan. Menurut ketentuan Pasal 91 ayat (1) huruf a PP No. 34
Tahun 2002, penebangan yang dilakukan di luar blok tebangan yang
diizinkan dikenakan denda administratif sebesar 10 kali PSDH atau
sebesar Rp 500.000/meter kubik.
Berikut asumsi perhitungan kerugian negara akibat kelebihan kayu
hasil tebangan yang melebihi toleransi target sebesar 5% (lima
persen) dari total target volume yang ditentukan dalam Rencana Kerja
Tahunan (RKT):
Jenis
Denda
Administratif
PSDH
Nilai kerugian
negara

Hasil
Tebangan
11.358

Kerugian Per
M
Rp. 500.000,-

11.358

Rp. 50.000,-

Nilai
Rp
5.679.000.000
Rp
567.900.000
Rp
6.246.900.000

Berdasarkan estimasi di atas, maka total keseluruhan kerugian negara


dari hilangnya hutan akibat penebangan yang dilakukan oleh PT.
Tunggul Buana Perkasa di luar blok tebangan yang diizinkan adalah
sebagai berikut:
a. Kerusakan Lingkungan
Rp. 1.704.351.600.000,b. Nilai kayu
Rp.
6.246.900.000,Preliminary Report

P a g e | 26

Total kerugian

Rp. 1.710.598.500.000,-

(Satu triliun tujuh ratus sepuluh miliar lima ratus sembilan puluh
delapan juta lima ratus ribu rupiah)

Preliminary Report

P a g e | 27

3. Identifikasi Siapa yang Bertanggungjawab


Setelah mengetahui besarnya kerusakan hutan dan besarnya kerugian
negara dari kerusakan hutan tersebut, maka langkah selanjutnya
adalah mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab dalam proses
pembalakan liar di areal PT. Tunggul Buana Perkasa. Berdasarkan
ketentuan yang terdapat dalam Pasal 32 Undang-undang No. 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan maka sebagai pemegang izin, PT. Tunggul
Buana Perkasa berkewajiban untuk menjaga, memelihara, dan
melestarikan hutan tempat usahanya. Penebangan kayu yang melebihi
melebihi target produksi dalam IPK Nomor: 522.21/1440/Kpts/DKVII/2005 tanggal 31 Maret 2005 serta penebangan kayu di luar area
konsesi harus dipertanggungjawabkan secara hukum.
Dalam hukum pidana, yang dimintai pertanggungjawaban pidana
adalah pelaku tindak pidana. Sedang yang dimaksud dengan pelaku
adalah:
a. Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang
turut serta melakukan perbuatan;
b. Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan
menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan,
ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan,
sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya
melakukan perbuatan.
Selain itu, di dalam Pasal 56 KUHP ditegaskan bahwa seseorang dapat
dipidana sebagai pembantu kejahatan apabila:
a. mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan
dilakukan;
b. mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau
keterangan untuk melakukan kejahatan.
Dengan menggunakan pendekatan ini, maka yang bertanggungjawab
adalah penerima manfaat utama dari pelanggaran yang dilakukan oleh
PT. TBP.
Penyelidikan kepada siapa yang bertanggungjawab
seharusnya
tidak
hanya
berhenti
dengan
menuntut
pertanggungjawaban Gusti Syaefuddin selaku Direktur Utama PT. TBP,
Arifin Bin Ali selaku Pelaksana Lapangan Talumas SDN BHD dan H.
Darul Hakim Bin Abdul Hakim AB Mas Purwanata selaku Direktur CV.
Sanggam Jaya Abadi, tetapi juga melakukan pemeriksaan terhadap
pemilik, direksi dan komisaris yang diuntungkan atas pelanggaran atau
kejahatan tersebut. Keuntungan yang diperoleh dipastikan tidak hanya
mengalir untuk kepentingan PT. TBP, Talumas SDN BHD (Perusahaan
asal Malaysia) dan CV. Sanggam Jaya Abadi, tetapi sebagian besar

Preliminary Report

P a g e | 28

mengalir kepada pemilik, direksi, komisaris atau penerima manfaat


utama (main beneficiary).
Investigasi yang dilakukan oleh penegak hukum perlu difokuskan
kepada pencarian penerima manfaat utama sekaligus penentu
kebijakan di lingkungan ketiga badan hukum tersebut. Termasuk di
dalamnya
adalah
pejabat
pemerintahan
yang
mempunyai
tanggungjawab untuk mengawasi pelaksanaan izin PT. TBP tetapi tidak
melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai mestinya.

Preliminary Report

P a g e | 29

4.

Identifikasi Transaksi Mencurigakan


Dalam kasus ini, proses transfer yang diidentifikasi mencurigakan, bisa
dilihat melalui prose berikut ini: Pembeli (terdakwa) harus terlebih
dahulu membayar uang panjar sebesar Rp. 400.000.000,- (empat ratus
juta rupiah), kemudian uang muka Rp. 400.000.000,- telah dibayar
oleh pembeli (saksi Arifin Kosasih) pada tanggal 02 Agustus 2005
ditransfer ke dalam Rekening saksi Hadi Budiono Nomor 157 295 85 di
Bank Danamon Cabang Tarakan Melalui Bank BII Super Mall Surabaya,
kemudian oleh saksi Hadi Budiono pada tanggal 02 Agustus 2005 itu
pula telah ditransfer ke Rekening Terdakwa Nomor 084 20 88141 di
Bank BCA Cabang Wisma Asia Jakarta, kemudian pembayaranpembayaran selanjutnya (empat kali) juga dikirim oleh saksi Arifin
Kosasih melalui Rekening Hadi Budiono Nomor 157 295 85 di Bank
Danamon Cabang Tarakan sehingga pembayaran sebanyak 5 (lima)
kali dari bulan Agustus 2005 hingga Desember 2005 seluruhnya
sejumlah Rp. 1.191.466.250,- (satu milyar seratus sembilan puluh satu
juta empat ratus enam puluh enam ribu dua ratus lima puluh rupiah),
sedangkan sisa pelunasannya sebesar Rp. 1.700.000.000,- (satu milyar
tujuh ratus juta rupiah) pada tanggal 07 Desember 2005 ditransfer
langsung oleh saksi Arifin Kosasih ke Rekening Terdakwa 372 125 8899
di Bank BCA Cabang Kedoya Jakarta. Selanjutnya kayu bulat hasil
tebangan sebanyak 831 (delapan ratus tiga puluh satu) batang atau
3.512,11 M3 (tiga ribu lima ratus dua belas koma sebelas meter kubik)
tersebut oleh Arifin Kosasih dijual lagi kepada Mr. Woo Suk Hwan
General PT. Korindo Abadi yang diwakili oleh Jang Pyeong Yang
berdasarkan surat perjanjian jual beli tanggal 23 September 2005
seharga Rp. 4.187.824.126,- (empat milyar seratus delapan puluh
tujuh juta delapan ratus dua puluh empat ribu seratus dua puluh enam
rupiah) yang pembayarannya ditransfer melalui Bank BNI Cabang
Tanjung Pinang pada tanggal 06 Desember 2005 15.
Kemudian oleh Media massa, saat itu diberitakan adanya tranfer uang
senilai Rp. 9 milyar ke beberapa pejabat yang berwenang atas
keamanan dan turut bertanggungjawab atas penebangan yang terjadi.
Media memberitakan tertanggal 11 April ada proses transfer senilai 3
milyar melalui Bank Pemerintah di Jl. Sudirman dan 5 milyar rupiah
melalui Bank Pemerintah di Tarakan Kaltim, sedangkan sisanya

Kutipan Putusan PN Tarakan an Terdakwa Gusti Syaifuddin, putusan No


62/Pid.B/2007/PN.TRK
15

Preliminary Report

P a g e | 30

sebanyak 1 milyar rupiah ditransfer melalui Bank Pemerintah pada


tanggal 12 Mei 200616
Melihat proses transaksi diatas, dengan merujuk rekomendasi ke 15
Financial Action Task Force (FATF) yang menyatakan bahwa if financial
institution suspect that fund stem from a criminal activity, they should
be required to report promptly their suspicious to the competent
authorities. yakni Penyedia Jasa Keuangan (PJK) memberi perhatian
pada transaksi transaksi keuangan yang latar belakangnya
diidentifikasikan tidak benar, dengan melaporkan transaksi tersebut
kepada Pejabat yang berwenang, sebagai tambahan Undang Undang
No 15 Tahun 2002 Jo 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian
Uang (UUTPPU) mengadopsi Rekomendasi ke 15 FATF tersebut.
Sifat kriminalitas dari money laundering dikaitkan dengan latar
belakang dari perolehan sejumlah uang yang sifatnya tidak jelas dan
kotor atau haram yang dikemudian disamarkan dan atau
disembunyikan dengan cara cara tertentu, melalui 3 proses yakni
Proses Placement, Layering dan Integration. Untuk kasus PT. TBP ini
berindikasi menggunakan proses layering yakni; melakukan kegiatan
pelapisan dengan cara memecah dana hasil kejahatannya dalam
rangka menghilangkan jejak asal uang tersebut, hingga seperti uang
halal, umumnya dilakukan dengan cara transfer ke beberapa rekening
dalam negeri maupun asing, termasuk over booking17, i dan lainnya.
Salah satu faktor yang membuat sulitnya mengidentifikasi tranfer
tranfer yang mencurigakan dalam JPK, khusus mengenai bank, diikat
dengan aturan kerahasiaan bank yang ketat, masalah kerahasiaan
hubungan pengacara dan kliennya dan nasabah dengan Banknya.
Dalam kasus ini, JPK harusnya menerapkan haknya untuk melaporkan
transaksi keuangan yang terjadi di wilayah tugasnya kepada pihak
yang berwenang, dan membuka akses bagi penyidik untuk
mengidentifikasi nomor rekening siapa saja menerima tranfer dari
Tersangka. Rangkaian identifikasi dan penyelidikan dilakukan bersama
komponen komponen pendukung selain JPK, juga komponen Komponen
Pengendalian Intern dan Komponen Audit. Hal ini dilakukan untuk
memperlancar penyelidikan dan mendapat dukung dalam menganalisa
data, dokumen dan proses transaksi yang terjadi.
JPK juga melakukan pelaporan dengan dasar Peraturan Bank Indonesia
No. 3/10/2001 Tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah tanggal
Media Indonesia.com, tanggal 15 November 2006, Polisi akan periksa
Mayjen Gusti Terkait Dugaan Suap.
17
I Ketut Sudiharsa, Tindak Pidana Pencucian Uang di Bidang Kehutanan,
Makalah, 22 February 2008
16

Preliminary Report

P a g e | 31

18 Juni 2001 dan perubahannya tanggal 13 Desember 2001., yang


menyatakan bahwa bank wajib menerapkan prinsip mengenal
nasabah dan melaporkan transaksi keuangan mencurigakan serta
transaksi tunai. Prinsip mengenal nasabah adalah prinsip yang
diterapkan oleh Bank untuk mengenal nasabah, memantau kegiatan
transaksi nasabah termasuk pelaporan transaksi yang mencurigakan,
juga untuk mencegah dipergunakannya ban sebagai sarana pencucian
uang oleh nasabah bank.
Misalnya, transaksi yang terjadi menunjukan nilai barang diatas dari
hasil penilaian Pengendalian Intern mengenai RK dan hasil dari Audit.
Juga bisa diidentifikasi dengan proses proses transfer keuangan
melalui beberapa bank di beberapa daerah di Seluruh Indonesia.
Transaksi transaksi keuangan oleh PT. TBP untuk dapat diidentifikasi
mencurigakan ditinjau melalui:
a. Pengeluaran untuk pengurusan Izin Usaha, Izin Perpanjangan
usaha, izin pemanfaatan dan Izin Operasional, termasuk RKT (yang
melaporkan jumlah potensi tebangan tegak per blok) dan
dibandingkan dengan Laporan Hasil Produksi (LHP)
b. Pengeluaran untuk proses pemotretan dan pemetaan kawasan
untuk memastikan batas kawasan konsesi dan batas operasional
penebangan dilakukan.
c. Pengeluaran untuk pemasukan alat alat berat ke dalam hutan dan
biaya pemeliharaannya.
d. Pengeluaran untuk Pemasaran dan Pengiriman
e. Transaksi penarikan, penyetoran dan transfer dengan jumlah besar
f. Transaksi keuangan ke Para Pejabat yang terkait dengan PT. TBP
Dengan melakukan transaksi transaksi tersebut, PT. TBP wajib
dikenakan Audit dan pemeriksaan oleh Lembaga Pemeriksa, seperti
PPATK, berdasarkan UU No. 15 Tahun 2002 PPATK memiliki
kewenangan untuk itu, selain itu juga berfungsi sebagai unit intelejen
keuangan, yang memiliki keahlian khusus dalam hal menerima dan
memproses informasi keuangan dari JPK. Pada dasarnya PPATK sama
dengan Financial Inteligent Unit/ FIU, yakn istilah yang digunakan oleh
FATF.
Fungsi yang dimiliki oleh FIU antara lain: Fungsi repository yakni,
sebagai pusat informasi money laundering, tidak hanya menerima tapi
juga mengontrol informasi; fungsi analisis yakni memberi nilai tambah
pada informasi tersebut yang kinerjanya tergantung pada sumber
informasi yang dapat diakses FIU, dalam prosesnya FIU memiliki
kewenangan untuk memutuskan apakah informasi tersebut bisa
ditindaklanjuti menjadi investigasi/penyidikan; fungsi clearing house.

Preliminary Report

P a g e | 32

Dalam kapasitas ini FIU memfasilitasi pertukaran informasi tentang


transaksi keuangan yang tidak lazim atau yang mencurigakan 18
5. Penelusuran & Pembekuan Hasil Harta Kejahatan
Kawasan yang menjadi lokasi penebangan dan pembalakan liar ini
merupakan Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK) atau Areal
Pengunaan Lain, yang ditunjukan melalui Surat Keputusan Menteri
Kehutanan tanggal 15-03-2001 Nomor : 79/Kpts-III/2001 tentang
Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan di wilayah Propinsi Kaltim
14.651.553 HA, bahwa areal perkebunan PT. Tunggul Buana Perkasa
merupakan areal Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK)/Areal
Penggunaan lain (APL). Yang dapat artinya, daerah pun memiliki
kewenangan untuk turut mengawasi apa yang terjadi di kawasannya
karena daerah lah yang berwenang menerbitkan izin, terutama bagi
aparat Penegak Hukum daerah, dapat bekerja berdasarkan KUHP yang
telah mengatur yurisdiksi dari hukum pidana, yaitu: asas teritorial,
asas universal dan asas nasionalitas aktif dan pasif, seperti yang
tercantum dalam Pasal 2 hingga Pasal 9 KUHP.
Dalam hal penelusuran dan pembekuan harta dari kasus ini dapat
dilakukan berdasarkan menurut Pasal 31 Konvensi Anti Korupsi yang
menyatakan tentang Pembekuan, Perampasan dan Penyitaan, namun
dalam pelaksanaannya ada beberapa isu yang menghambat
pelaksanaan klausul ini, yakni:
a. Adanya kesan tersangka sudah memiliki kekayaan sebelum tindak
pidana korupsi dilakukan
b. Adanya kesan lambatnya pejabat publik dalam melakukan
penyitaan harta tersangka pelaku tindak pidana korupsi
c. Terkait dengan pasal 31 (8) yaitu pembuktian terbalik terhadap
harta yang dimiliki dapat dibekukan kecuali yang bersangkutan
dapat membuktikan (Asset Recovery).
d. Belum adanya aturan/mekanisme pelaporan harta kekayaan yang
baku19
Sehingga dalam pelaksanaannya sulit untuk dilakukan oleh PPTAK
karena hanya memiliki peran menelusuri harta hasil kejahatan dan
hasilnya menghasilkan rekomendasi kepada pihak Penegak Hukum
untuk membekukan hasil kejahatan. Penegak hukum yang dimaksud,
salah satunya bisa di dasarkan pada Pasal 12 huruf h UU No. 30 tahun
2002 yang menyatakan bahwa KPK mempunyai kewenangan
menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi
Guy Stensen, Money Laundering An New International Law Erforcement
Model, (Cambrigde: University Press, 2000, Hal. 184
19
Notulen Hasil Diskusi WG III-KPK, Gap UNCAC 5 Desember 2006
18

Preliminary Report

P a g e | 33

perdagangan dan perjanjian lainnya; atau pencabutan sementara


perizinan, lisensi serta konsensi yang dilakukan atau dimiliki tersangka
atau terdakwa yangberdasarkan bukti awalada hubungannya
dengan korupsi. Di dalam Pasal 18 ayat (1) huruf d UU No. 31
Tahun 1999, dikemukakan bahwa terdakwa dapat dijatuhi pidana
tambahan berupa pencabutan seluruh atau sebagian hak tertentu
atau penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu yang
telah atau dapat diberikan oleh pemerintah kepada terpidana.
Kemudian, terkait dengan JPK yang dianggap sebagai salah aspek
yang mengetahui transaksi keuangan yang mencurigakan dan dalam
proses selanjutnya dengan penelusuran dan pembekuan harta, pihak
JPK wajib untuk terlibat. Meski telah diatur ketentuan ketentuan
mengenai kerahasiaan bank dalam beberapa Undang-Undang, seperti
dalam Pasal 40 juncto Pasal 42 UU No. 10 tahun 1998 tentang
Perbankan; Pasal 12 ayat (1) huruf c UU No. 30 Tahun 2002 tentang
Komisi Pemberantasan Korupsi; Pasal 29 UU No. 31 Tahun 1999
tentang Tindak Pidana Korupsi; namun disisi lain ketentuan dalam
peraturan peraturan tersebut hanya mengenai kerahasian bank saja,
lalu bagaimana dengan lembaga keuangan lainnya seperti yang
ditunjukan pada Pasal 12 huruf c UU No. 30 tahun 2002 menyatakan
bahwa lembaga keuangan lainnya; sehingga tindakan
pemblokiran seperti yang dicantumkan dalam pasal 12 huruf d UU No.
30 tahun 2002 dapat dilakukan oleh JPK.
Dengan demikian proses penelusuran dan pembekuan harta dalam
kasus PT. TBP melalui pendekatan ILEA dilakukan atas dasar bahwa
tindak pidana korupsi merupakan predicate crime atau kejahatan asal
dari tindak pidana Pencucian uang dan tindak pidana pencucian uang
merupakan proceed of crime (Pasal 2 ayat 1 huruf a UUTPPU).
B. Penegakan Hukum
Dengan menggunakan pendekatan ILEA, maka penegakan hukum
kasus yang ada seharusnya tidak dilihat dari perspektif pidana semata,
yang didasarkan pada Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan dan KUHP, tetapi juga seharusnya dibingkai dalam perspektif
yang lebih luas, karena sebagaimana diuraikan dalam Bab sebelumnya,
bahwa dalam pembalakan liar terdapat 3 (tiga) isu hukum, yakni
perbuatan pembalakan liar, pelaku pembalakan liar, dan akibat atau
korban pembalakan liar. Oleh karena itu, penanganannya pun juga harus
terpadu, yakni dengan menggunakan instrumen hukum administrasi,
perdata, dan pidana.

Preliminary Report

P a g e | 34

1. Penggunaan Instrumen Hukum Administratif


Penggunaan instrumen hukum administrasi di bidang kehutanan
bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi pembalakan liar
melalui pendayagunaan kewenangan administrasi sesuai dengan
mandat yang diberikan peraturan perundang-undangan. Dalam
kaitannya dengan kasus PT. TBP, berdasarkan kajian yang dilakukan,
maka instrumen sanksi administratif yang dapat dikenakan adalah
sebagai berikut:
Berkenaan dengan hukum kehutanan, Pasal 87 ayat (1) Peraturan
Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan
kawasan Hutan disebutkan bahwa sanksi administratif yang dapat
dikenakan terhadap pelanggar berupa:
a. Penghentian sementara kegiatan di lapangan
Pengenaan sanksi ini dapat dikenakan karena Terdakwa selaku
Direktur PT.Tunggul Buana Perkasa tidak melaksanakan kewajiban
dengan baik yaitu tidak menempatkan dan menunjuk tenaga teknis
yang professional yang bisa mengerti Peta IPK PT.Tunggul Buana
Perkasa sebagaimana yang diamanatkan Peraturan Pemerintah 34
Tahun 2002 Pasal 47 ayat 1 huruf g, yakni mempekerjakan tenaga
profesional bidang kehutanan dan tenaga lain yang memenuhi
persyaratan sesuai kebutuhan. Sedangkan Suprapto yang ditunjuk
selaku pengawas, penunjuk lokasi tebang menyerahkan Peta IPK dan
menunjukan areal / tempat lokasi yang harus ditebang oleh
Kontraktor adalah orang yang tidak bisa membaca Peta lokasi IPK
PT.Tunggul Buana Perkasa.
Menurut Pasal 89 Peraturan Pemerintah 34 Tahun 2002, pemegang
izin yang tidak memiliki tenaga profesional di bidang kehutanan dan
atau tenaga lain sesuai kebutuhan dikenakan sanksi administratif
berupa penghentian sementara kegiatan di lapangan.
b. denda administratif;

Preliminary Report

P a g e | 35

Berdasarkan penjelasan sebelumnya bahwa terdapat fakta dimana


Kontraktor (CV.SJA) juga bertugas melaksanakan Cutting (Desember
2005 Maret 2006) atas kayu diameter 50 cm atau lebih sejumlah
+ 35.000 M3 di lokasi RKT III. Apabila dijumlahkan target produksi
kayu bulat yang wajib ditebang oleh CV. Sanggam Jaya Abadi/H.
Darul Hakim dari kegiatan pada tahap II clean clearing dan kegiatan
cutting saja adalah sejumlah 55.000 M3 dimana target produksi
yang dianjurkan/diperintahkan oleh Gusti Syaifuddin kepada CV.
Sanggam Jaya Abadi/H. Darul Hakim tersebut sudah melebihi target
produksi dalam IPK Nomor: 522.21/1440/Kpts/DK-VII/2005 tanggal 31
Maret 2005 yang hanya 43.642 M3. Adapun selisih kayu hasil
tebangan dengan target produksi adalah 11.358M
Dari uraian tersebut, maka PT. BTP telah melanggar ketentuan yang
terdapat dalam Pasal 91 ayat (1) huruf a PP No. 34 Tahun 2002,
dimana terdapat kelebihan kayu hasil tebangan yang melebihi
toleransi target sebesar 5% (lima persen) dari total target volume
yang ditentukan dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT). Berdasarkan
ketentuan yang ditegaskan dalam Pasal tersebut, maka PT. TBP
dikenakan denda administratif sebesar 10 kali PSDH atau sebesar Rp
500.000/meter kubik.
c. pencabutan izin.
Berdasarkan Kepmenhut No. SK.382/Menhut-II/2004 tentang Izin
Pemanfaatan Kayu, dalam pasal 19 mengatur dengan jelas bahwa
pemegang IPK dilarang melakukan penebangan diluar areal / blok
kerja yang telah ditentukan. Dan sesuai ketentuan pasal 26 ayat 2
Keputusan Menteri tersebut telah menyebutkan antara lain bahwa
pemegang IPK dikenakan sanksi berdasarkan Undang-Undang No.41
Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Dalam hal Putusan PN Tarakan telah memiliki kekuatan hukum tetap,
maka terhadap PT. TBP dapat kenakan sanksi pencabutan izin sesuai
dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 93 ayat (1) huruf f UU
No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.
2. Penggunaan Instrumen Hukum Perdata
Sebagaimana diungkapkan dalam Bab sebelumnya, bahwa salah satu
titik pertautan antara hukum perdata dan hukum kehutanan dalam
penegakannya adalah mengenai masalah pertanggungjawaban dalam
suatu sengketa yang berkaitan dengan masalah kehutanan, yaitu
pertanggungjawaban akibat suatu perbuatan melawan hukum
(onrechtmatige overheidsdaad) berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata.

Preliminary Report

P a g e | 36

Dengan demikian,
penggunaan instrumen hukum perdata dalam
kasus ini bertitik tolak dari perbuatan melawan hukum.
Menurut Pasal 1365 KUHPerdata, maka yang dimaksud dengan
perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang melawan hukum
yang dilakukan oleh seseorang yang karena salahnya telah
menimbulkan kerugian bagi orang lain. Pertanggungan jawab dari segi
hukum perdata atas dasar perbuatan melawan hukum dalam sengketa
yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup, termasuk
kehutanan yang menimbulkan kerugian, pada prinsipnya juga
medasarkan pada kaidah atau norma-norma yang berlaku pada
umumnya dalam suatu gugatan perbuatan melawan hukum
(onrechtmatige daad). Sekalipun demikian, ada beberapa segi-segi
khusus
yang
berlaku
dalam
soal
pertanggungan
jawab
(aansprakelijkheid) yang menyangkut kerugian lingkungan hidup, hal
mana dapat ditemukan dalam perkembangan yurisprudensi di
Belanda.20
Berangkat dari pengertian yang terkandung dalam Pasal 1365
KUHPerdata, maka suatu perbuatan melawan hukum haruslah
mengandung unsur-unsur ; 1). adanya suatu perbuatan, 2). perbuatan
tersebut melawan hukum, 3). adanya kesalahan dari pihak pelaku, 4).
adanya kerugian bagi korban, dan 5). adanya hubungan kausal antara
perbuatan dan kerugian.21
Apabila kasus PT. TBP didekati dari perspektif ini, maka diperoleh
analisis sebagai berikut :
a. Adanya suatu perbuatan.
Suatu perbuatan melawan hukum diawali oleh suatu perbuatan dari
si pelakunya. Umumnya diterima anggapan bahwa dengan
perbuatan di sini dimaksudkan, baik berbuat sesuatu (dalam arti
aktif) maupun tidak berbuat sesuatu (dalam arti pasif), misalnya
tidak berbuat sesuatu, padahal dia mempunyai kewajiban hukum
untuk membuatnya, kewajiban mana timbul dari hukum yang
berlaku (karena ada juga kewajiban yang timbul dari suatu
kontrak). Karena itu, terhadap perbuatan melawan hukum, tidak
ada unsur persetujuan atau kata sepakat dan tidak ada juga unsur
causa yang diperbolehkan sebagaimana yang terdapat dalam
kontrak.
Dalam kasus PT. TBP, unsur ini terlihat dari adanya perbuatan
pembalakan liar, baik itu yang dilakukan di dalam kawasan konsesi
Paulus Efendi Lotulung, op.cit., hlm
Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum (pendekatan kontemporer),
(Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002) hlm. 10
20
21

Preliminary Report

P a g e | 37

dimana hasil tebangan melebihi target produksi yang ditetapkan


dalam IPK Nomor: 522.21/1440/Kpts/DK-VII/2005 tanggal 31 Maret
2005maupun di luar kawasan konsesi.
b. Perbuatan tersebut melawan hukum.
Perbuatan yang dilakukan tersebut melawan hukum. Sejak tahun
1919, unsur melawan hukum ini diartikan dalam arti yang seluasluasnya, yakni meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Perbuatan yang melanggar undang-undang yang berlaku.
2) Yang melanggar hak orang lain yang dijamin oleh hukum, atau
3) Perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan (goede
zeden), atau
4) Perbuatan yang bertentangan dengan sikap yang baik dalam
bermasyarakat untuk memperhatikan kepentingan orang lain
(indruist tegen de zoergvuldigheid, welke in het maatschappelijk
verkeer betaamt ten aanzien van anders persoon of goed).
Unsur kedua dari perbuatan melawan hukum ini secara jelas
karena perbuatan yang dilakukan oleh PT. TBP melanggar
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan,
antara lain UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan PP No. 34
Tahun 2002.
c. Adanya kesalahan dari pihak pelaku.
Agar dapat dikenakan Pasal 1365 tentang Perbuatan Melawan
Hukum tersebut, undang-undang dan yurisprudensi mensyaratkan
agar pada pelaku haruslah mengandung unsur kesalahan
(schuldelement) dalam melaksanakan perbuatan tersebut. Karena
Pasal 1365 KUH Perdata mensyaratkan adanya unsur kesalahan
(schuld) dalam suatu perbuatan melawan hukum, maka perlu
diketahui bagaimanakah cakupan dari unsur kesalahan tersebut.
Suatu tindakan dianggap oleh hukum mengandung unsur kesalahan
sehingga dapat dimintakan tanggungjawabnya secara hukum jika
memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
1) Ada unsur kesengajaan, atau
2) Ada unsur kelalaian (neglience, culpa), dan
3) Tidak
ada
alasan
pembenar
atau
alasan
pemaaf
(rechtvaardigingsgrond), seperti keadaan overmacht, membela
diri, tidak waras, dan lain-lain.
4) Adanya kerugian bagi korban.
Adanya kerugian (schade) bagi korban juga merupakan syarat
agar gugatan berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata dapat
dipergunakan. Berbeda dengan kerugian karena wanprestasi
yang hanya mengenal kerugian materil, maka kerugian karena

Preliminary Report

P a g e | 38

perbuatan melawan hukum di samping kerugian materil,


yurisprudensi juga mengakui konsep kerugian immateril, yang
juga akan dinilai dengan uang.
Apabila mencermati kasus PT. TBP, jelas terlihat bahwa unsur ketiga
ini terpenuhi. Adanya kesengajaan untuk melakukan clean
clearing dan kegiatan cutting yang melebihi target dan
penebangan kayu yang dilakukan di luar wilayah konsesi sehingga
menimbulkan kerugian bagi negara dan lingkungan hidup. Dalam
Bab sebelumnya disampaikan bahwa kerugian yang timbul akibat
perbuatan PT. TPB sebesar Rp. 1.997.496.600.000,- (Satu triliun
sembilan ratus sembilan puluh tujuh miliar empat ratus sembilan
puluh enam juta enam ratus ribu rupiah)
d.
Adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian.
Uraian mengenai unsur pertama sampai dengan keempat
menunjukan bahwa apa yang dilakukan oleh PT. TBP mempunyai
hubungan kausalitas dengan kerugian yang terjadi.
Pertanyaan selanjutnya adalah siapakah yang dapat menggugat PT.
TBP?
Terkait dengan mekanisme gugatan, dalam hukum acara
perdata, dimungkinkan adanya gugatan yang dilakukan oleh orang
perorang, gugatan perwakilan (class action) dan hak gugat organisasi
bidang kehutanan (ius standi). Dalam konteks kasus ini, menurut
hemat kami, gugatan terhadap PT. TBP dapat diajukan oleh lembaga
swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kehutanan. Agar dapat
mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi hutan,
suatu lembaga swadaya masyarakat harus memenuhi 3 (tiga) syarat,
yaitu:
a. berbentuk badan hukum;
b. organisasi tersebut dalam anggaran dasarnya dengan tegas
menyebutkan tujuan didirikannya organisasi untuk kepentingan
pelestarian fungsi hutan; dan
c. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya
Sebelum gugatan diajukan, terbuka pilihan untuk menyelesaikan
sengketa melalui jalur non litigasi. Penyelesaian sengketa kehutanan
di luar pengadilan, menurut Pasal 75 ayat (2) dimaksudkan untuk
mencapai kesepakatan mengenai pengembalian suatu hak, besarnya
ganti rugi, dan atau mengenai bentuk tindakan tertentu yang harus
dilakukan untuk memulihkan fungsi hutan.
Dalam hal penyelesaian sengketa kehutanan melalui jalur non litigasi
ini tidak tidak tercapai kesepakatan antara para pihak yang
bersengketa, maka pihak yang berkepentingan dapat mengajukan
gugatan ke pengadilan. Penggunaan jalur litigasi ini dimaksudkan

Preliminary Report

P a g e | 39

untuk memperoleh putusan mengenai pengembalian suatu hak,


besarnya ganti rugi, dan atau tindakan tertentu yang harus dilakukan
oleh pihak yang kalah dalam sengketa. Selain putusan untuk
melakukan tindakan tertentu, pengadilan dapat menetapkan
pembayaran uang paksa atas keterlambatan pelaksanaan tindakan
tertentu tersebut setiap hari.
3. Penggunaan Instrumen Hukum Pidana
Penggunaan instrumen pidana dalam studi kasus ini pada dasarnya
tidak hanya pada kejahatan kehutanan, melainkan pada aspek korupsi,
pencucian uang dan perusakan lingkungan.
a. Tindak pidana pembalakan liar sebagai tindak pidana korupsi.
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kehutanan Propinsi
Kalimantan Timur No. 522.21/1743/DK-VII/2004 tanggal 18 Mei 2004
tentang Ijin Pemanfaatan Kayu Tahun 2004/2005 , areal yang diijinkan
kepada PT.TBP seluas 2.890 Ha (dua ribu delapan ratus sembilan puluh
hektar) sementara PT.TBP menganjurkan kepada Mr. Hoo Wui Kiong
untuk melaksanakan pemungutan hasil hutan terhadap semua jenis
kayu bernilai komersial bulat pada Areal PT. TBP seluas 16.350,00 Ha
(enam belas ribu tiga ratus lima puluh hektar) yang berarti melebihi
dari luas yang diijinkan. Demikian pula target produksi yang ditetapkan
dalam SK IPK tahun 2004/2005 tersebut adalah kayu bulat diameter 40
Cm keatas sebesar 53.747 M3 (lima puluh tiga ribu tujuh ratus empat
puluh tujuh meter kubik) sedangkan PT.TBP mewajibkan Mr. Hoo Wui
Kiong untuk memproduksi kayu bulat dengan target volume minimal
sebesar 7.000 M3 per bulan sehingga jika jangka waktu kerjasama
pemungutan hasil hutan tersebut selama 1 (satu) tahun maka target
produksi yang diwajibkan/dianjur-kan adalah sebanyak 84.000 M3
(delapan puluh empat ribu meter kubik), hal ini juga melebihi dari
target produksi yang diijinkan. Bahwa dengan mempercayakan kepada
Mr. Ho Wui Kiong untuk melaksanakan pemungutan hasil hutan yang
melebihi luas areal dan melebihi target produksi daripada yang
diijinkan maka menunjukkan adanya niat, maksud atau kehendak dari
terdakwa untuk melakukan penebangan kayu bulat hingga diluar areal
IPK yang dimilikinya22.
Berdasarkan uraian diatas, terdakwa juga dapat dikenai ketentuan
pasal 2 UU No. 31 tahun 1999 jo UU No. 20 tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi , dalam ketentuan Pasal
tersebut yang dapat dipertanggungjawabkan adalah setiap orang yang
Kutipan Putusan Hukum Gusti Syaifuddin, putusan No
62/Pid.B/2007/PN.TRK Pengadilan Negeri Tarakan.
22

Preliminary Report

P a g e | 40

mengandung pengertian termasuk juga didalamnya adalah korporasi.


Selanjutnya melalui Pasal 3 yang menyatakan bahwa setiap orang
yang menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang
ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan
keuangan Negara.
Ketentuan mengenai tindak pidana korupsi yang dapat dikenakan
adalah Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 tahun 2001 tentang
pemberantasan tindak pidana korupsi yang menyatakan bahwa:
Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang
dapat merugikan keuangan negara atau perekonornian negara,
dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara
paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (duapuluh) tahun
dan denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Dalam hal
tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.

Preliminary Report

P a g e | 41

Analisis unsur-unsur pidana:


1) Setiap orang
Fakta perbuatan yang dilakukan dan kejadian yang ditemukan ialah
bahwa tindak pidana dilakukan oleh Direktur Utama PT. TBP dan
Pihak yang menjadi rekanan PT. TBP yakni Direktur CV. SJA, serta
pelaksana lapangan yang dibuktikan dengan surat kerjasama tahun
2004.
2) Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
Realitas yang ada menunjukan bahwa antara 2004-2005 telah
memperkaya diri sendiri dan rekanan kerjasama dari hasil
penebangan hutan di wilayah hutan diluar ketentuan izin dan
daluarsa izin, sehingga mengakibatkan kerugian Negara sekitar 3,2
milyar; yang dibuktikan melalui keterangan saksi ahli, keterangan
saksi dan slip transfer antar bank
3) Melawan hukum
Dapat dibuktikan melalui hasil pengukuran GPS oleh Tim terpadu
yakni: 023538,5 LU dan 1172842,0 BT adalah Camp PT. Putra
Bulungan Sakti yang terletak diluar Areal Perkebunan maupun
Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) atas nama PT. Tunggul Buana
Perkasa atau sekitar Kilometer 10 dari titik ikatan, Lokasi
Penebangan ini berada di dalam Kawasan Hutan Produksi Terbatas
(HPT)
4) Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara
Sebagaimana
telah
dipaparkan
sebelumnya
bahwa
total
keseluruhan kerugian negara dari hilangnya hutan akibat
penebangan yang dilakukan oleh PT. Tunggul Buana Perkasa di luar
blok tebangan yang diizinkan sebesar Rp. 1.710.598.500.000,-(Satu
triliun tujuh ratus sepuluh miliar lima ratus sembilan puluh delapan
juta lima ratus ribu rupiah)
b. Tindak pidana pembalakan liar sebagai tindak pidana perusakan
lingkungan
Gusti Syaifuddin, SH selaku Direktur Utama PT. TBP bertindak untuk
dan atas nama PT. TBP, baik bertindak sendiri atau bersama-sama
dengan ARIFIN selaku Pelaksana Lapangan Talumas SDN BHD dan H.
Darul Hakim selaku Direktur CV. SJA sejak bulan Agustus 2004 sampai
dengan 10 Maret 2006 atau diantara rentang tahun 2004 - 2006, Di
Lokasi kawasan Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi dan Areal
Penggunaan Lain untuk keperluan pembangunan hutan tanaman
sekitar areal Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) Tahun 2004/2005 atas nama
PT. Tunggul Buana Perkasa milik Gusti Syaifuddin yang terletak di

Preliminary Report

P a g e | 42

wilayah Desa Sajau Kecamatan Tanjung Palas Timur Kabupaten


Bulungan telah melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta
melakukan beberapa perbuatan meskipun masing-masing merupakan
kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa
sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut yaitu
menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan berupa
kayu log (bulat) seluruhnya sebanyak 2.073 (dua ribu tujuh puluh tiga)
batang yang terdiri dari hasil penebangan Talumas Sdn Bhd sebanyak
1342 (seribu tiga ratus empat puluh dua) batang atau 6.336,31 M3
dimana kayu yang sebanyak 831 (delapan ratus tiga puluh satu)
batang atau 3.512,11 M3 telah berhasil dijual sedangkan yang
sebanyak 511 (lima ratus sebelas) batang atau 2.824,20 M3 masih
tersisa di lapangan dan hasil penebangan CV. SJA sebanyak 731 (tujuh
ratus tiga puluh satu) batang atau 3.390 M3 jenis kelompok Meranti
dan Kelompok Rimba Campuran berbagai ukuran di dalam hutan tanpa
memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang.
Dalam Pasal 41 ayat (1) UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UUPLH), yang dinyatakan bahwa Barangsiapa
yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan
yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
Analisis unsur-unsur pidana:
1. Barangsiapa
Setiap orang yang dimaksud dalam unsur ini adalah Direktur Utama
PT. TBP, Direktur Utama CV. SJA dan Talumas SDN, yang dapat
dibuktikan melalui IPK, Surat kerjasama operasional dan keterangan
keterangan dari Saksi
2. Secara melawan hukum
PT. TBP tidak memiliki izin perpanjangan IPK lagi dan penggunaan
alat alat berat serta melakukan penebangan kayu sejauh 12 Km di
luar areal yang dapat dibuktikan dengan keterangan saksi,
keterangan saksi ahli dan dokumen laporan Tim Gabungan
3. Dengan sengaja melakukan perbuatan
PT. TBP mengetahui bahwa izin yang dimiliki untuk IPK telah habis
masa berlaku namun tetap membiarkan staff lapangannya terus
bekerja dengan menambah biaya operasional dan mengajak pihak
lain untuk melakukan kerjasama serta memasukan alat alat berat
ke dalam kawasan hutan diluar konsesinya.
4. Mengakibatkan pencemaran dan/atau pengrusakan lingkungan
hidup

Preliminary Report

P a g e | 43

Fakta yang ada menunjukan bahwa titik koordinat 02 37 18,4 LU


dan 117 37 39,4 BT serta 02 37 38,9 LU dan 117 37 36,5 BT
adalah Tempat Pengumpulan Kayu (TPn) CV. Sanggam Jaya Abadi
rekanan PT. TBP, dimana lokasi ini terletak di Luar Rencana Areal
Perkebunan PT. TBP dan juga di luar Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK)
yang diijinkan kepada PT. TBP No. 522.21/1440/Kpts/DK-VII/2005
tanggal 31 Maret 2005 berlaku sampai dengan 23 maret 2006,
sementara jarak antara penebangan yang telah dilakukan dengan
lokasi IPK yang diijinkan berjarak 14 kilometer yaitu terletak antara
02 39 13,28 LU dan 117 24 41, 5 BT sampai dengan 117 29
52,6 BT, artinya kerusakan kawasan hutan yang ditimbulkan oleh
kegiatan tersebut seluas 120.000 M.
Apabila kerugian akibat kerusakan lingkungan dihitung dengan
menggunakan pedoman yang dikeluarkan Kementerian Negara
Lingkungan Hidup RI (2006), sebagaimana disampaikan dalam Bab
sebelumnya, dimana perhitungan kerugian kerusakan lingkungan
didasarkan pada 3 komponen besar yakni biaya kerugian ekologis,
biaya kerugian ekonomi, dan biaya biaya pemulihan ekologis, maka
asumsi nilai kerugian negara akibat kerusakan lingkungan adalah
Rp. 1.704.351.600.000,- (Satu triliun tujuh ratus empat miliar tiga
ratus lima puluh satu juta enam ratus ribu rupiah)
c. Tindak Pidana Pembalakan Liar sebagai Tindak Pidana Pencucian Uang
Pasal 3 ayat (1) UU No. 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU
No. 25 Tahun 2003: mencantumkan bahwa Setiap orang yang dengan
sengaja menempatkan, mentransfer, membayar atau membelanjakan,
menghibahkan atau menyumbangkan, menitipkan, membawa keluar
negeri, menukarkan atau perbuatan lainnya, harta kekayaan yang
diketahui atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana (ke
dalam penyedia jasa keuangan), atas nama sendiri atau atas nama
pihak lain dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan
asal usul harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp.
1.00.000.000,- dan paling banyak Rp. 15.000.000.000,Didalam UU No. 15 Tahun 2002 jo UU No.25 Tahun 2003, yang
dimaksud dengan tindakan atas Harta Kekayaan dalam pasal 3 ayat 1
diatas adalah:
1) Menempatkan harta kekayaan ke dalam Penyedia Jasa Keuangan
(PJK)
2) Mentransfer harta kekayaan dari satu PJK ke PJK yang lain

Preliminary Report

P a g e | 44

3)
4)
5)
6)
7)
8)

Membayarkan atau membelanjakan harta kekayaan


Menghibahkan atau menyumbangkan harta kekayaan
Menitipkan harta kekayaan
Membawa keluar negeri harta kekayaan
Menukarkan harta kekayaan
Menukarkan atau perbuatan lainnya atas harta kekayaan dengan
mata uang atau surat berharga

Analisis unsur-unsur pidana:


1) Setiap orang
Setiap orang dalam kasus PT. TBP yang melibatkan pengusaha dari
Malayasia, dapat diartikan sebagai setiap orang yang terlibat dalam
kasus ini tanpa memandang kewarganegaraan seseorang karena
dalam konteks money loundering adalah masalah global. Pasal 2
KUHP menyebutkan bahwa aturan pidana dalam perundang
undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan
perbuatan pidana di dalam Indonesia. PT. TBP melakukan transfer
dari beberapa bank ke beberapa nomor rekening dari berbagai
daerah.

Preliminary Report

P a g e | 45

2) Dengan sengaja
Pihak PT. TBP melakukan dengan sengaja proses tranfers untuk
pembayaran fee dan pembayaran biaya operasional kepada PT. SJ
dan Talumas sdn. Maka proses dengan sengaja untuk kasus ini
dipahami bahwa orang yang melakukan TPPU harus dibuktikan
sifatnya sengaja, apakah sebagai bentuk kesengajaan sebagai
kehendak, atau perbuatannya itu memang dikehendaki, ataukah
hanya karena bentuk pengetahuan .
3) Menempatkan, mentransfer, membayar atau membelanjakan,
menghibahkan atau menyumbangkan, menitipkan, membawa
keluar negeri, menukarkan atau perbuatan lainnya
Terdakwa melalui atau yang diwakili oleh Hadi Budiono dengan
Surat Perjanjian Jual Beli Kayu Bulat No. 006/TRD/VII/2005 tanggal
27 Juli 2005 telah dijual kepada saksi Arifin Kosasih Direktur Utama
PT. MEI Surabaya seharga Rp. 2.891.466.250,- . Pembeli membayar
uang panjar sebesar Rp. 400.000.000,- pada tanggal 02 Agustus
2005 ditransfer ke dalam Rekening Hadi Budiono Nomor 157 295 85
di Bank Danamon Cabang Tarakan melalui Bank BII Super Mall
Surabaya, kemudian oleh Hadi Budiono pada tanggal 02 Agustus
2005 itu pula telah ditransfer ke Rekening Terdakwa Nomor 084 20
88141 di Bank BCA Cabang Wisma Asia Jakarta, kemudian
pembayaran-pembayaran selanjutnya sebanyak 4 kali melalui
Rekening Hadi Budiono Nomor 157 295 85 di Bank Danamon
Cabang Tarakan sehingga pembayaran sebanyak 5 kali dari bulan
Agustus 2005 hingga Desember 2005 seluruhnya sejumlah Rp.
1.191.466.250,- sedangkan sisa pelunasannya sebesar Rp.
1.700.000.000,- (satu milyar tujuh ratus juta rupiah) pada tanggal
07 Desember 2005 ditransfer langsung oleh Arifin Kosasih ke
Rekening Terdakwa 372 125 8899 di Bank BCA Cabang Kedoya
Jakarta
4) Yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana
PT. TBP mengetahui bahwa izin yang dimiliki untuk IPK telah habis
masa berlaku namun tetap membiarkan staff lapangannya terus
bekerja dengan menambah biaya operasional dan mengajak pihak
lain untuk melakukan kerjasama serta memasukan alat alat berat
ke dalam kawasan hutan diluar konsesinya.
5) Baik atas nama sendiri atau atas nama pihak lain
Terdakwa Diretur PT. TBP menggunakan nama sendiri atau orang
lain untuk menjual kayu yang diperoleh dari penebangan diluar
lokasi yang tercantum dalam izin, menempatkan hasil penjualan

Preliminary Report

P a g e | 46

kayu ke dalam rekening salah satu Staff PT. TBP kemudian


ditransfer kembali ke rekening atas namanya sendiri.
6) Dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal
usul harta kekayaan
Terdakwa Direktur PT. TBP tidak melaporkan darimana sumber
kekayaan perusahaan maupun kekayaannya sendiri kepada
penyedia jasa keuangan. Mereka juga tidak memberitahukan
kepada penyedia jasa keuangan bahwa sumber kekayaan mereka
berasal dari penggundulan hutan di kawasan HPH dan disekitarnya.

Preliminary Report

P a g e | 47

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Dalam kasus pembalakan liar, pada dasarnya, terdapat tiga isu hukum
(legal issues) yang mengemuka, yaitu pembalakan liar, pelaku
pembalakan liar, dan korban pembalakan liar.
Isu (hukum)
pembalakan liar
terkait dengan perbuatan dan karenanya
penyelesaiannya dilakukan berdasarkan hukum administrasi (sanksi
administrasi), sedang isu (hukum) pelaku pembalakan liar berkenaan
dengan pelaku sehingga pola penanganannya adalah dengan
menggunakan instrumen hukum pidana, adapun isu (hukum) korban
pembalakan liar berkelindan erat dengan persoalan kerugian, oleh
karena itu penyelesaiannya adalah dengan menggunakan instrumen
hukum perdata (gugatan ganti kerugian);
2. Kerugian negara akibat perbuatan PT. TBP dan rekanan tidak hanya
berupa kayu dan nilai jualnya, tetapi juga termasuk luasan kawasan
hutan, dan segala kekayaan hayati dan lingkungan diluar konsesi yang
rusak akibat penebangan liar. Dengan demikian, maka penerapan
konsep ILEA dalam kasus PT. TBP tidak hanya didasarkan pada
instrumen hukum pidana, tetapi juga mendayagunakan instrumen
hukum administrasi dan perdata;
3. Berkenaan dengan penggunaan instrumen hukum pidana, penanganan
kasus PT. TBP dengan konsep ILEA akan memperkuat analisis untuk
mendukung aparat penegak hukum dalam proses penyidikan dan
penuntutan dengan tujuan menghentikan percepatan hilangnya hutan,
degradasi lingkungan, pemberantasan korupsi dan pengembalian
harta negara;
4. Penggunaan konsep ILEA membutuhkan data dan informasi awal yang
terkait dengan:
a. Data spasial;
b. Identifikasi kerusakan lingkungan
c. Identifikasi perkiraaan kerugian negara atau Nilai hasil kejahatan
d. Identifikasi siapa yang bertanggung jawab
e. Identifikasi transaksi keuangan mencurigakan
f. Identifikasi harta hasil kejahatan
B. Saran

Preliminary Report

P a g e | 48

Hasil pengumpulan data dan


informasi mengenai penegakan
hukum, penegakan kasus Illegal logging 2 Kabupaten di Propinsi
Kalimantan Timur antara rentang tahun 2006-2008 menunjukan bahwa
kasus kasus yang ditangani dan diadili adalah kasus yang tersangkanya
adalah masyarakat, hanya sedikit yang dari perusahaan, kasus PT. TBP ini
salah satunya dengan penjatuhan hukuman ringan, antara 1 6 tahun.
Berdasarkan hal tersebut, Tim ILEA Kaltim menyarankan:
1. Pendekatan ILEA dalam menganalisa kasus Illegal Longging diharapkan
terus dikembangkan dengan tipe kasus lainnya seperti, kasus Ilegal
Logging; di Kawasan TN; Oleh perusahaan Pulp Paper, Pembukaan
lahan oleh kegiatan pertambangan
2. Pendekatan ILEA juga dapat diggunakan dalam penyidikan,
penyelidikan dan penuntutan kasus kejahatan kehutanan lainnya
seperti kebakaran Hutan dan Lahan akibat pembukaan lahan dari
Perusahaan Perkebunan.
3. Aparat penegak hukum terutama Kepolisian dan Kejaksaan, memberi
ruang bagi ILEA untuk memperkuat tuntutan dan bagi Pengadilan
dapat membantu untuk menentukan beratnya hukuman pidana
kejahatan kehuatan sebagai efek penjera.
4. Bagi Aktifis LSM, Pemerhati Lingkungan, Akademisi, penggunaan
pendekatan ILEA diharapkan sebagai bahan advokasi, memperdalam
pemahaman hukum, baik hukum KUHP, UU Kehutanan, UU TPPU, UU
TPK, UU Anti Korupsi dan UULH secara lebih komprehensif.

Preliminary Report

P a g e | 49

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Notulen Hasil Diskusi WG III-KPK, Gap UNCAC 5 Desember 2006
Fuady, Munir, Perbuatan Melawan Hukum (pendekatan
kontemporer), (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002)
Greenomics Indonesia dan ICW, Pola Praktik Korupsi dalam Perizinan
Konsesi Hutan, Kertas Kerja No. 03, Desember 2004.
Indonesias National Report on the Implementation and Follow-Up the
2000 Vienna Declaration on Crime and Justice: Meeting the
Challenges of the Twenty-First Century, and Plan of Action at The
Eleventh United Nations Congress on Crime Prevention and
Criminal Justice, Bangkok, Thailand, 18-25 April 2005.
Lotulung, Paulus Efendi, Penegakan Hukum Lingkungan Oleh Hakim
Perdata (Bandung: Citra Aditya Bakti: 1993)
Media Indonesia.com, tanggal 15 November 2006,
Pos Kota, 5 Agustus 2006.
Santosa, Mas Ahmad, Good Governance & Hukum Lingkungan
(Jakarta: ICEL, 2001)
Sinar harapan, 14 November 2006
Stensen, Guy, Money Laundering An New International
Erforcement Model, (Cambrigde: University Press, 2000)

Law

Sudiharsa, I Ketut, Tindak Pidana Pencucian Uang di Bidang Kehutanan,


Makalah, 22 February 2008
Tanzi, Vito, Money Laundering and the International Finance System, IMF
Working Paper No. 96/55 (May 1996)
Pedoman Umum Penanganan Tindak Pidana Korupsi (TPK) di bidang
Kehutanan terkait dengan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU),
Draft tanggal 1/1/2008
Kutipan Putusan PN Tarakan an Terdakwa Gusti Syaifuddin, putusan No
62/Pid.B/2007/PN.TRK

Preliminary Report