Anda di halaman 1dari 25

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

BAB I

KASUS

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Alamat
Pekerjaan
Agama
Status Perkawinan
Tanggal Masuk RS
No. Rekam Medik

: Tn. W
: Laki-laki
: 22 tahun
: Kab. Tulang Bawang, Lampung
: Wiraswasta
: Islam
: Belum Kawin
: 19 November 2013
:-

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan Pasien, pada tanggal 19
November 2013, pukul 11.00 WIB di Poliklinik Mata, RSAL Mintohardjo,
Jakarta.
A. Keluhan Utama
Mata kiri merah sejak 1 minggu yang lalu.
B. Keluhan Tambahan
Mata kiri terasa nyeri, belekan dan merasa sakit saat terkena cahaya.
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang berobat ke Poliklinik Mata RSAL Mintohardjo dengan
keluhan mata merah pada mata sebelah kiri. Pasien menceritakan
bahwa penyakit yang dideritanya sudah terjadi sejak 1 tahun yang lalu.
Pasien menceritakan bahwa mata kirinya saat itu tiba-tiba merah
setelah naik motor, pasien lalu memberikan tetes mata yang dijual di
warung dan sempat mengalami perbaikan walau hanya sementara.
Sejak saat itu, mata kirinya sering tiba-tiba merah. Pasien menyangkal
adanya rasa gatal pada mata kirinya apabila sedang kambuh. Pasien
hanya menceritakan bahwa apabila mata kirinya sedang merah, tidak
lama kemudian akan mengeluarkan kotoran (belekan) dan terasa nyeri.

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Nyeri semakin memberat apabila pasien berada di tempat yang terang.


Pasien menyangkal pernah berobat ke dokter, dirinya hanya
menggunakan tetes mata yang dijual di warung untuk mengurangi
keluhan mata merahnya.
Sejak satu minggu belakangan ini, pasien mengatakan mata kirinya
kembali memerah, nyeri yang dirasakan juga semakin memberat, nyeri
tersebut bertambah berat lagi apabila pasien sedang berada di tempat
yang terang. Pasien juga mengatakan bahwa pada bagian bawah kiri
mata kirinya muncul semacam selaput berwarna keputihan. Pasien
mengatakan bahwa tidak ada masalah dalam pengelihatannya, hanya
merasa tidak nyaman dengan penampilan mata kirinya yang sering
memerah dan terdapat selaput tersebut. Selama satu minggu ini, pasien
belum pernah berobat ke dokter dan tidak menggunakan tetes mata
seperti yang biasa pasien lakukan. Pasien juga menyangkal adanya
riwayat trauma pada mata kirinya.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menyangkal adanya riwayat trauma pada mata kirinya, pasien
juga menyangkal pernah melakukan tindakan operasi pada mata
kirinya. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit asthma maupun alergi.
E. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang mengalami
penyakit yang sama dengan dirinya, pasien juga mengatakan bahwa
tidak ada riwayat penyakit alergi dan asthma dalam keluarga.
F. Riwayat Kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan merokok, tetapi tidak minum-minuman
keras.
III.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis

Keadaan umum

: Baik
2

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Kesan sakit
: Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda Vital
:
o Tekanan Darah
: 120/80 mmHg
o Nadi
: 72x/menit
o Suhu
: 37 C
o Pernafasan
: 20 x/menit
Mata
: Lihat status oftalmologis
THT
o Telinga: Normotia, sekret (-/-), serumen (-/-)
o Hidung
: Septum deviasi (-), sekret (-/-), konka

hiperemis (-/-)
o Tenggorokan: Tonsil T1-T1 tenang, faring hiperemis (-)
Mulut
: Oral higine baik
Gigi
: Caries dentis (-)
Thoraks
:
o Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
o Paru : Suara napas vesikuler, rh (-/-), wh (-/-)
Abdomen
: Datar, supel, nyeri tekan (-),

bising usus (+)


Ekstremitas

: Akral hangat dan tidak terdapat

oedem
Status Oftalmikus
OD
6/30 dengan S 1.75

Visus

6/20

OS
dengan

S-1.50

visus 6/6

visus 6/7,5 dengan PH

Ortoforia
Bergerak ke segala arah
Ptosis (-) lagoftalmos (-)

tetap
Ortoforia
Bergerak ke segala arah
Ptosis (-) lagoftalmos (-)

Kedudukan bola mata


Pergerakan bola mata
Palpebra superior

blefaritis (-) hordeolum

blefaritis (-) hordeolum

(-)

(-)

kalazion

(-)

kalazion

(-)

ektropion (-) entropion

ektropion (-) entropion

(-) oedem (-) trikiasis (-)

(-) oedem (-) trikiasis (-)

hematoma (-)
Ptosis (-) lagoftalmos (-)
blefaritis (-) hordeolum

Palpebra inferior

hematoma (-)
Ptosis (-) lagoftalmos (-)
blefaritis (-) hordeolum

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

(-)

kalazion

(-)

(-)

kalazion

(-)

ektropion (-) entropion

ektropion (-) entropion

(-) oedem (-) trikiasis (-)

(-) oedem (-) trikiasis (-)

hematoma (-)
Injeksi (-) pterigium (-)

hematoma (-)
Injeksi (+) pterigium (-)

Konjungtiva

subkonjungtiva bleeding

subkonjungtiva bleeding

(-) pinguekula (-) folikel

(-) pinguekula (-) folikel

(-) papil (-), sekret (-)

(-) papil (-), sekret (-)

serous
Jernih, arkus senilis (-)
sikatrik (-) ulkus (-)
neovaskular (-) perforasi

serous
Jernih, arkus senilis (-)
sikatrik (-) ulkus (+)

Kornea

arah jam 5
neovaskular

(-) benda asing (-)

(+)

perforasi (-) benda asing


Dalam,

hifema

COA

(-)
Dalam,

hifema

(-)hipopion (-) flare (-)


Coklat, kripti(-) sinekia

Iris

(-)hipopion (-) flare (-)


Coklat, kripti(-) sinekia

(-), shadow test (-)


Tepi reguler, bulat,

Pupil

(-), shadow test (-)


Tepi reguler, bulat,

Lensa
Vitreus
Funduskopi

RCL(+)RCTL (+),
Jernih
Jernih
Papil bentuk bulat,

RCL(+)RCTL (+),
Jernih
Jernih
Papil bentuk bulat,
merah, berbatas tegas,

merah, berbatas tegas,

C/D ratio 3:10, A:V =

C/D ratio 3:10, A:V =

2:3, refleks macula (+),

2:3, refleks macula (+),

kontur pembuluh darah

kontur pembuluh darah

retina baik
8/7,5
Sama dengan pemeriksa

retina baik
8/7,5
Sama dengan pemeriksa

TIO
Uji konfrontasi

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Gambar 1. Ulkus Kornea Marginalis pada pasien Tn. W

Gambar 2. Ulkus Kornea Marginalis pada pasien Tn. W dengan pemeriksaan Slit lamp

IV.

RESUME
Pasien, seorang laki-laki berusia 22 tahun, datang ke Poliklinik Mata RSAL
Mintohardjo dengan keluhan mata kiri merah sejak satu minggu yang lalu.
Mata merah disertai dengan perasaan nyeri terutama saat berada di tempat
terang. Keluhan ini telah berlangsung selama satu tahun terakhir, namun
semakin memberat sejak 1 minggu belakangan ini dan hanya terjadi pada mata
kiri saja, pasien mengatakan belum pernah berobat ke dokter dan hanya
menggunakan obat tetes mata yang dijual bebas di warung. Selain itu, sejak
satu minggu belakangan ini, muncul selaput keruh pada bagian bawah kiri

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

mata kiri (arah jam 5) yang membuat pasien merasa tidak nyaman. Dari hasil
pemeriksaan status oftalmologis mata kiri, didapatkan visus 6/20 dengan S1.50 visus 6/7,5 dengan PH tetap, injeksi silier (+), kornea jernih, ulkus (+)
arah jam 5, neovaskularisasi (+).
V.

VI.

VII.

DIAGNOSIS KERJA
Ulkus Kornea Marginalis Orbicularis Sinistra
DIAGNOSIS BANDING
Konjungtivitis
Keratitis herpes marginal
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Test Fluoresein
o Untuk melihat adanya defek pada kornea
Pewarnaan Gram dan KOH
o Untuk menentukan mikroorganisme penyebab ulkus
Kultur
o Dapat dilakukan apabila dirasa perlu untuk mengisolasi
mikroorganisme penyebab ulkus.

VIII.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada pasien ini yaitu diberikan:
Medikamentosa
Tetes mata antibiotic topical:
o Lefofloxacin 5 mg. 1 tetes/hari
Salep mata antibiotic:
o Gentamycin 3 x 3 mg/hari
Bila terasa sangat nyeri, dapat diberikan siklopegik:
o Atropine 1% 1-2 tetes/kp
Non-Medikamentosa
Edukasi pasien untuk menjaga kebersihan mata, apabila terasa gatal
atau nyeri dapat dilakukan pengompresan dengan air hangat.
Karena penyakit pasien sering kambuh, maka pasien disarankan untuk
kontrol dalam jangka waktu tertentu hingga dinyatakan sembuh oleh
dokter.

IX.

PROGNOSIS

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Prognosis penyakit pada pasien ini bergantung pada etiologinya. Menurut


beberapa literature, apabila tidak terjadi komplikasi, maka prognosisnya baik.

BAB II

ANALISA KASUS

Pasien seorang laki-laki berusia 22 tahun datang ke Poliklinik Mata RSAL


Mintohardjo dengan keluhan mata kiri merah sejak 1 minggu yang lalu. Pasien
menceritakan bahwa keluhan mata kiri merah ini sudah berlangsung sejak 1 tahun
yang lalu dan sering hilang timbul. Pasien juga mengeluh mata kirinua nyeri terutama
saat berada di tempat terang. Pasien mengatakan bahwa pengelihatannya tidak
terganggu. Dari anamnesis awal ini, kita dapat mengetahui bahwa perjalanan penyakit
pada pasien termasuk kronis dengan eksaserbasi akut dan termasuk dalam keadaan
mata merah dengan visus normal. Hipotesis awal untuk pasien ini adalah
konjungtivitis akut, tukak kornea dan keratitis.

Keluhan mata merah dan adanya nyeri saat berada di tempat terang (fotofobi)
mengindikasikan bahwa keadaan merah pada mata pasien disebabkan oleh adanya
injeksi siliar. Pada keratitis dan ulkus kornea, dapat terjadi pelebaran arteri siliaris
anterior yang kemudian akan memberikan gambaran injeksi siliar pada mata. Injeksi

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

silier memberikan gambaran khas pada mata dimana terjadi pelebaran pembuluh
darah yang tampak di limbus dan semakin berkurang kearah sentral

Keluhan nyeri pada mata juga merupakan gejala yang khas ditemukan pada uveitis
anterior, glaukoma akut, maupun endoftalmitis. Keluhan nyeri pada mata dapat
disebabkan karena suatu proses inflamasi atau gangguan pada kornea dan juga dapat
disebabkan karena peningkatan tekanan intraokuler.
Keluhan silau pada mata atau fotofobia dapat disebabkan karena spasmus siliar dan
kelainan kornea bukan karena sensitif terhadap cahaya. Fotofobia merupakan gejala
yang sering terdapat pada uveitis anterior dan keratitis.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, compos mentis dan
tanda vital dalam batas normal. Pada status oftalmologis mata kiri didapatkan visus
6/21 dengan S-1.50 visus 6/7,5 dengan PH tetap, injeksi silier (+), kornea jernih,
ulkus (+) arah jam 5, neovaskularisasi (+). Visus 6/20 dengan S-1.50 visus 6/7,5
dengan PH tetap mengindikasikan adanya suatu kelainan anatomis sehingga visus
tidak maju dengan pemeriksaan pinhole. Adanya gambaran ulkus pada bagian perifer
mengindikasikan adanya suatu kemungkinan reaksi toksik, alergi, autoimmune, dan
infeksi yang biasanya disebabkan oleh adanya kuman S. aureus, H. influenza atau M.
lacunata. Gambaran ulkus ini terjadi karena adana kolagenase yang dibentuk oleh sel
epitel baru dan sel radang. Adanya neovaskularisasi mengindikasikan adanya suatu
proses peradangan aktif pada bagian yang terkena.

Diagnosis ulkus korena marginalis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik, yaitu


adanya injeksi siliar, terdapatnya gambaran ulkus dan neovaskularisasi pada mata,
serta adanya keluhan fotofobia.
8

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Pemeriksaan penunjang pada pasien tidak dilakukan. Namun, jika kita akan
melakukan pemeriksaan penunjang, maka dapat dilakukan pemeriksaan test fluoresin,
pewarnaan Gram dan KOH, serta kultur untuk menentukan penyebab dari keadaan
ini.

Penatalaksanaan pada pasien adalah dengan pemberian antibiotic topical berupa tetes
mata lefovloxacin dan salep mata gentamycin. Menurut beberapa literature,
pengobatan dengan antibiotic dapat disertakan dengan steroid local setelah
kemungkinan infeksi virus semisal herpes simplex disingkirkan. Pemberian steroid
sebaiknya dalam waktu yang singkat disertai pemberian vitamin B dan C dosis tinggi.
Selain itu, apabila pasien merasa nyeri, dapat diberikan obat-obatan siklopegik yang
berfungsi sebagai analgetik selain fungsi midriasis dan fungsi agen siklopegia.

Prognosis pada pasien adalah bonam. Prognosis penyakit ulkus kornea tergantung
etiologinya. Menurut beberapa literature, apabila tidak terjadi komplikasi, maka
prognosisnya baik.

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
I.

ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA


Kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan kristal
sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung
melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa ratarata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya
sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan
yang berbeda beda, yaitu lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel
konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan
lapisan endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea.

Gambar 1. Kornea

Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam, yaitu:


10

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Lapisan Epitel
Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang
saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel
gepeng.
Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong
kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi
sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan
sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden;
ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang
merupakan barrier.
Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya.
Bila terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren. Epitel berasal
dari ectoderm permukaan.
Membran Bowman
Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan
kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari
bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.
Jaringan Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang sejajar satu
dengan yang lainnya, Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur
sedang dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya
kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang
sampai 15 bulan.Keratosit merupakan sel stroma kornea yang
merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga
keratosit membentuk

bahan dasar

dan serat kolagen dalam

perkembangan embrio atau sesudah trauma.


Membran Descement
Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma
kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.
Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup,
11

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

mempunyai tebal 40 m.
Endotel
Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40
mm. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom
dan zonula okluden.

Gambar 2. Potongan Melintang Kornea

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar
longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid,
masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan
selubung Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan didaerah
limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam
waktu 3 bulan.
Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem
12

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema


kornea.
Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh - pembuluh darah limbus, humour
aquous, dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian
besar dari atmosfer. Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya
seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya.

II.

ULKUS KORNEA
a. Definisi
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin
banyak ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel
epitel baru dan sel radang.
b. Epidemiologi
Menurut Suharjo dan Fatah Widodo, penelitian di RS Sardjito,
Yogyakarta, terhadap 57 kasus ulkus kornea dengan tingkat keparahan
ringan (43,9%), sedang (31,6%), dan berat (24,7%). Faktor
predisposisi terbanyak adalah trauma (68,4%). Gambaran mikroskopik
dan kultur dari hasil scraping didapatkan basil gram (26,8%), coccus
gram (16,7%), jamur (13,6%), coccus gram + (7,8%), basil gram +
(3%), dan yang tidak terdeteksi (33,4%). Komplikasi yang terjadi
perforasi 6 kasus, desmetocel 2 kasus, dan endopthalmitis 1 kasus.
Keberhasilan terapi yang dinilai dari visus didapatkan visus baik >
6/18 (21,1%), visus rendah <6/18 (17,5%), buta < 3/60 (33,3%), dan
tidak terdeteksi 16 (28,1%)
c. Patofisiologi
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui
cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena
13

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh
darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari
kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera
mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh
karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan
gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah
pupil.
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan
tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung
banyak vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel
lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai
makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang
terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya
baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit
polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat,
yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batasbatas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi
kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea
Kornea mempunyai banyak serabut saraf, maka kebanyakan lesi pada
kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit
dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan
palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai
sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat
menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf
kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan
timbulnya dilatasi pada pembuluh iris.
d. Etiologi

14

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

i. Infeksi
Infeksi Bakteri: P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan
spesies Moraxella merupakan penyebab paling sering. Hampir
semua ulkus berbentuk sentral. Gejala klinis yang khas tidak
dijumpai, hanya sekret yang keluar bersifat mukopurulen yang
bersifat khas menunjukkan infeksi P aeruginosa.
Infeksi Jamur : Disebabkan oleh Candida, Fusarium,
Aspergilus, Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides.
Infeksi Virus : Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup
sering dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikelvesikel

kecil

dilapisan

epitel

yang

bila

pecah

akan

menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk


disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi
virus lainnya varicella-zoster, variola, vacinia (jarang).
Acanthamoeba: Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas
yang terdapat didalam air yang tercemar yang mengandung
bakteri dan materi organik. Infeksi kornea oleh acanthamoeba
adalah komplikasi yang semakin dikenal pada pengguna lensa
kontak lunak, khususnya bila memakai larutan garam buatan
sendiri. Infeksi juga biasanya ditemukan pada bukan pemakai
lensa kontak yang terpapar air atau tanah yang tercemar.
ii. Noninfeksi
Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH.
Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan
anorganik, organik dan organik anhidrat. Bila bahan asam
mengenai mata maka akan terjadi pengendapan protein
permukaan sehingga bila konsentrasinya tidak tinggi maka
tidak bersifat destruktif. Biasanya kerusakan hanya bersifat
superfisial saja. Pada bahan alkali antara lain amonia, cairan

15

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

pembersih yang mengandung kalium/natrium hidroksida dan


kalium karbonat akan terjadi penghancuran kolagen kornea.
Radiasi atau suhu
Dapat terjadi pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari
yang akan merusak epitel kornea.
Defisiensi vitamin A
Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena
kekurangan vitamin A dari makanan atau gangguan absorbsi di
saluran cerna dan ganggun pemanfaatan oleh tubuh.
Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma,
Pajanan (exposure)
Neurotropik
Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas)
Granulomatosa wagener
Rheumathoid arthritis
e. Klasifikasi
Ulkus kornea dibagi atas :
o Ulkus kornea sentral
Ulkus sentral biasanya merupakan ulkus infeksi akibat
kerusakan pada epitel. Lesi terletak disentral, jauh dari limbus
vascular. Hipopion biasanya menyertai ulkus (tidak selalu).
Hipopion adalah pengumpulan sel-sel radang yang tampak
sebagai lapis pucat dibawah kamera anterior dan khas untuk
ulkus kornea bakteri dan fungi. Meskipun hipopion itu steril
pada ulkus kornea bakteri, kecuali terjadi robekan pada
membrane descement, pada ulkus fungi lesi ini mungkin
mengandung unsur fungus. Etiologi ulkus kornea sentral
biasanya

bakteri

(pseudomonas,

pneumokok,

moraxela

liquefaciens, streptokok beta hemolitik, klebsiella pneumoni,


e.coli, proteus), virus (herpes simpleks, herpes zoster), jamur
(kandida

albican,

fusarium

solani,

species

nokardia,

sefalosforium dan aspergillus), acanthamoeba.


16

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Ulkus Serpens Akut


Ulkus serpens atau ulkus serpenginosa akut menjalar
dengan bentuk khusus seperti binatang melata pada
kornea yang kebanyakan disebabkan oleh kuman
pneumokokkus. Penyakit ini biasa didapatkan pada
petani, buruh tambang, orang-orang dengan hygiene
buruk, orang jompo, penderita glaucoma, pecandu
alkohol dan obat bius. Biasanya ulkus ini didahului oleh
trauma yang merusak epitel kornea dan akibat cacat
kornea maka mudah terjadi invasi ke dalam kornea.

Ulkus kornea pseudomonas aerugenosa


Infeksi pseudomonas merupakan infeksi yang paling
sering terjadi dan paling berat dari infeksi kuman
patogen gram negatif pada kornea. Kuman ini
mengeluarkan

endotoksin

dan

sejumlah

enzik

ekstraseluler.Lesi ulkus yang disebkan pseudomonas


aerugenosa mulai di daerah central kornea. Ulkus
central ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam
kornea.

Keratomikosis
Keratomikosis adalah suatu infeksi kornea oleh jamur.
Biasanya dimulai dengan rudapaksa pada kornea oleh
ranting pohon, daun, dan bagian tumbuh-tumbuhan.
Pada masa sekarang infeksi jamur bertambah dengan
pesat

dan

dianggap

sebagai

akibat

sampingan

17

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

pemakaian antibiotik dan kortikosteroid yang tidak


tepat.Pasien akan merasa sakit hebat pada mata dan
silau. Ulkus terlihat menonjol di tengah kornea dan
bercabang-cabang dengan endothelium plaque. Pada
kornea terdapat lesi gambaran satelit dan lipatan
descement disertai hipopion.

Ulkus ateromatosis
Ulkus ateromatosis adalah ulkus yang terjadi pada
jaringan parut kornea. Jaringan parut kornea atau
sikatrik pada kornea sangat rentan terhadap serangan
infeksi. Ulkus ateromatosis berkembang secara cepat
kesegala arah. Pada ulkus ateromatosis sering terjadi
perforasi dan diikuti panoftalmitis. Ulkus ateromatosis
biasanya terjadi pada orang yang telah menderita
leukoma sebelumnya. Oleh karena itu kornea menjadi
lemah dan tidak sensitif lagi, inilah yang nanti rentan
menjadi infeksi. Keratoplasty merupakan tindakan yang
tepat

bila

mata

dan

pengelihatan

masih

dapat

diselamatkan.
Kertitis Herpes Simpleks
Keratitis adalah ulkus kornea paling umum dan
penyebab kebutaan kornea paling umum di Amerika.
Bentuk keratitis epitelialnya merupakan kelainan mata
yang sebanding dengan herpes labialis, yang memiliki
ciri-ciri imunologik dan patologik yang samainfeksi
okular Herpes Simplex Virus (HSV) pada pejamu
imunokompeten biasanya sembuh sendiri, pada pejamu
18

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

yang lemah imun, termasuk pasien yang diobati dengan


kortikosteroid topikal, perjalannannya dapat kronik dan
merusak.

o Ulkus kornea perifer


Ulkus perifer merupakan peradangan kornea bagian perifer
berbentuk khas yang biasanya terdapat daerah jernih antara
limbus kornea dengan tempat kelainannya. Diduga dasar
kelainannya adalah suatu reaksi hipersensitifitas terhadap
eksotoksin bakteri. Ulkus yang terutama terdapat pada bagian
perifer kornea, biasanya terjadi akibat alergi, toksik, infeksi dan
penyakit kolagen vascular. Biasanya bersifat rekuren, dengan
kemungkinan

terdapatnya

Streptococcus

pneumoniae,

Hemophillus aegepty, Moraxella lacunata dan Esrichia. Ulkus


kornea perifer antara lain berupa:
Ulkus dan infiltrate marginal
Ulkus marginal merupakan peradangan kornea bagian
perifer berbentuk khas yang biasanya terdapat daerah
jernih antara limbus kornea dengan tempat kelainannya.
Sumbu memenjang daerah peradangan biasanya sejajar
dengan limbus kornea. Diduga dasar kelainanya adalah
suatu reaksi hipersensitivitas terhadap eksotoksin
stafilokokkus.

Penyakit

infeksi

lokal

dapat

menyebabkan keratitis kataral atau keratitis marginal


ini. Keratitis marginal kataral biasanya pada pasien
setengah umur dengan adanya blefarokonjungtivitis.

19

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Ulkus yang terdapat terutama dibagian perifer kornea,


yang biasanya terjadi akibat alergi, toksik, infeksi, dan
penyakit kolagen vaskuler. Ulkus marginal merupakan
ulkus kornea yang didapatkan pada orang tua yang
sering dihubungkan dengan reumatik dan debilitas.
Hampir 50% kelainan ini berhubungan dengan infeksi

stafilokokkus.
Ulkus Mooren
Ulkus Mooren adalah suatu ulkus menahun superfisial
yang dimulai dari tepi kornea dengan bagian tepinya
bergaung dan berjalan progresif tanpa kecenderungan
perforasi. Lambat laun ulkus ini mengenai seluruh
kornea. Penyebab ulkus Mooren sampai sekarang belum
diketahui. Banyak teori yang diajukan dan diduga
penyebabnya

hipersensitivitas

terhadap

protein

tuberkulosis, virus, autoimun, dan alergi terhadap toksin


ankilostoma.
f. Manifestasi Klinis
i. Gejala Subyektif
1. Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
2. Sekret mukopurulen
3. Merasa ada benda asing di mata
4. Pandangan kabur
5. Mata berair
6. Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
7. Fotofobia
8. Nyeri
ii. Gejala Obyektif
1. Injeksi siliar
2. Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya
infiltrate
3. Hipopion
g. Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik
20

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

dan pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan


pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit
kornea. Sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing,
abrasi. Adanya riwayat penyakit kornea yang sebelumnya, misalnya
keratitis akibat infeksi virus herpes simplek yang sering kambuh.
Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh
pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi
penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga
mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik, seperti:
diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus.
Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti :
o
o
o
o
o
o
o
o

Ketajaman penglihatan
Tes refraksi
Tes air mata
Pemeriksaan slit-lamp
Keratometri (pengukuran kornea)
Respon reflek pupil
Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.
Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa
atau KOH).Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea
dengan spatula kimura dari dasar dan tepi ulkus dengan
biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram atau Giemsa.
Lebih baik lagi dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai
dengan periodic acid Schiff. Selanjutnya dilakukan kultur

dengan agar sabouraud atau agar ekstrak maltosa.


h. Penatalaksanaan
Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh
spesialis mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea.

21

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Pengobatan pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat


tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur,
sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. Pasien
dirawat bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat
sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik.
Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan.
Lesi kornea sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis harus diobati dengan baik.
Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain
harus segera dihilangkan.
Infeksi pada mata harus diberikan :
o Sulfas atropine sebagai salap atau larutan:Kebanyakan dipakai
sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu.Efek kerja
sulfas atropine :
Sedatif, menghilangkan rasa sakit.
Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.
Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor
pupil:Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak
mempunyai daya akomodsi sehingga mata dalan
keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor
pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang
telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan
sinekia posterior yang baru
o Skopolamin sebagai midriatika.
o Analgetik:Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan
tetes pantokain, atau tetrakain tetapi jangan sering-sering.

22

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

o Antibiotik: Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya


atau yang berspektrum luas diberikan sebagai salap, tetes atau
injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus sebaiknya tidak
diberikan

salap

mata

karena

dapat

memperlambat

penyembuhan dan juga dapat menimbulkan erosi kornea


kembali.
o Anti jamur:Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh
terbatasnya preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis
keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi :
Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya :
topikal amphotericin B 1, 2, 5 mg / ml, Thiomerosal 10

mg / ml, Natamycin > 10 mg / ml, golongan Imidazol.


Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal,

Natamicin, Imidazol
Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol
Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa,

berbagai jenis anti biotic


o Anti Viral
Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik
diberikan streroid lokal untuk mengurangi gejala,
sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi
sekunder analgetik bila terdapat indikasi.Untuk herpes
simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA,
o

interferon inducer.
Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan
diatas tidak berhasil. Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut
yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea yang
menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi
beberapa kriteria yaitu :

23

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas

penderita
Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.
Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.
i. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering timbul berupa:
o Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat
o Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan
panopthalmitis
o Prolaps iris
o Sikatrik kornea
o Katarak
o Glaukoma sekunder
j. Prognosis
Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat
lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya,
dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus kornea yang luas
memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea
bersifat avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya
mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya
menjadi lebih buruk. Penyembuhan yang lama mungkin juga
dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila tidak
ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika,
maka dapat menimbulkan resistensi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kaiser, PK. Friedman, NJ. Pineda II, R. The Massachusetts Eye and Ear
Infirmary Illustrated Manual of Ophtalmology. Philadelphia: Saunders. 2004.

24

Kasus: Ulkus Kornea Marginalis

Pg. 153-55.
2. Langston, DP. Manual of Occular Diagnosis and Therapy. 5 th Ed. Philadelphia:
Lippincot Williams & Wilkins. 2002. Pg 82-7.
3. Liesegang, TJ. Deutsch, TA. Grand MG. Basic and Clinical Science Course.
External Disease and Cornea. Section 8. San Fransisco: The Foundation of the
American Academy of Ophtalmology. 2001. Pg. 215-7.
4. Biswell R. Kornea. Dalam: Eva, PR. Whitcher, JP. Vaughn & Asbury.
Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC. 2009. Hal. 135-8.
5. IlyasS.AnatomidanFisiologiMata.Dalam:IlyasS.IlmuPenyakitmata
Edisiketiga.Jakarta:BalaiPenerbitFKUI;2008.H.l13.

25