Anda di halaman 1dari 6

Budidaya Tanaman Jahe

Zingiberis Rhizoma
Nama Lain
Nama Tanaman Asal
Keluarga
Zat berkhasiat
Kegunaan
Pemerian
Cara Panen
Jenis jenis

: Jahe
: Zingiber officinnale (Roscoe)
: Zingiberaceae
: Minyak atsiri yg mgd zingeron,zingiberol, borneol,kamfer,
sineol,felandren, damar, pati, oleo resin
: Karminativa, stimulansia, diaforetika
: Bau aromatic, rasa pedas.
: Dapat dipanen pada saat 9-12 bulan.
: ada 3 jenis yaitu :
a.
Jahe putih besar
b.
Jahe putih kecil
c.
Jahe merah

Budidaya Tanaman Jahe


Jahe digolongkan ke dalam suku temu-temuan atau Zingibereceae bersama dengan temulawak,
kunyit, temu hitam, kencur, lengkuas dan lain-lain. Sama seperti temu-temuan lainnya, jahe juga
lazim digunakan sebagai herba obat dan bahan bumbu makanan. Jahe mengandung komponen
senyawa yang bertanggungjawab atas sensasi panas dan juga aroma khas saat rimpangnya
dimemarkan. Jahe tak hanya berfungsi sebagai bumbu dan bahan obat, di beberapa wilayah
tertentu, jahe bahkan digunakan sebagai pestisida organik yang ampuh mengusir hama. Jahe
memang memiliki beragam khasiat, sebagai tanaman obat, jahe berfungsi untuk karminatif
(peluruh kentut), anti-muntah, pereda masuk angin, melebarkan pembuluh darah, anti-rematik
dan masih banyak lagi lainnya.

Persiapan Awal
Sebelum membudidayakan jahe, Anda tentu harus memahami beberapa hal sebagai persyaratan
tumbuh optimal jahe. Syarat tersebut antara lain iklim.
Jahe membutuhkan curah hujan yang tergolong tinggi, berkisar di angka 2.500 hingga
4.000 mm per tahunnya.
Penyinaran matahari dibutuhkan tanaman jahe mulai dari umur 2,5 sampai 7 bulan.
Oleh sebab itu, media tanam sebaiknya tidak di titik teduh.
Tanah yang cocok untuk jahe yakni subur, gembur dan banyak mengandung unsur hara.
Lebih optimal lagi jika tanah lempung berpasir dan laterik.
Sebaiknya tanam jahe di tanah dengan tingkat keasaman 4,3 sampai 7,4.

Jahe menyukai wilayah tropis dan subtropis, dengan demikian Indonesia sangat baik
untuk menjadi sentra budidaya tanaman jahe.

Langkah selanjutnya dalam proses persiapan awal budidaya tanaman jahe adalah menyiapkan
bibit. Untuk memenuhi syarat mutu genetik, bibit haruslah memiliki kualitas fisiologik yang
berarti progress pertumbuhannya jauh lebih tinggi dan memiliki tampilan fisik yang baik. Untuk
mendapatkan bibit terbaik, beberapa tips berikut akan membantu:
Jangan pernah membeli bibit langsung dari pasar. Jauh lebih baik jika Anda
memperoleh bibit jahe langsung dari kebun.
Pilihlah bakal bibit dari tanaman jahe yang sudah berusia 9 sampai 10 bulan. Usia
tersebut meripakan usia terbaik.
Pilihlah tanaman dengan rimpang yang sempurna dalam arti tidak terdapat luka juga
lecet.
Penyemaian Bibit
Setelah mendapatkan bibit bermutu baik, selanjutnya adalah proses penyemaian bibit.
Agar tumbuh jahe serentak, bibit terlebih dahulu harus disemaikan sampai tumbuh
kecambah.
Penyemaian bisa dilakukan di bendengan maupun peti kayu. Jika menggunakan peti
kayu, maka pertama, rimpang jahe yang dijadikan bibit harus dijemur tetapi tidak sampai
kering.
Setelah itu, rimpang tersebut disimpan selama 1 sampai 2 bulan. Setelah masa
penyimpanan selesai, rimpang biasanya akan ditumbuhi tunas antara 1 sampai 3 per
rimpang.
Pisahkan masing-masing tunas tersebut dengan cara dipatahkan. Setelah terpisahkan,
masing-masing tunas kemudian dijemur selama setengah sampai satu hari.
Selanjutnya, siapkan larutan fungisida dan zat timbuh dalam satu wadah. Tunas yang
telah dijemur kemudian dimasukkan ke dalam karung dengan pori-pori besar dan
dicelupkan ke dalam larutan fungisida dan zat tumbuh. Diamkan selama 1 menit.
Proses selanjutnya adalah memasukkan tunas yang telah direndam larutan tumbuh ke
dalam peti kayu.
Susun tunas dengan sekam padi, pastikan dasar peti kayu adalah tunas dan kemudian
tutup dengan sekam padi dan masukkan lagi tunas kemudian tutup lagi dengan sekam
tadi.
Pastikan lapisan paling atas peti kayu adalah sekam padi.
Masa penyimpanan tunas dalam peti kayu kira-kira 2 sampai 4 minggu.

Setelah mencapai mas tersebut, bibit sudah bisa disemai dan siap ditanam pada lahan
sebenarnya.

Penyemaian di Bedengan/kebon
Jika Anda memilih cara penyemaian dengan bedengan
langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat rumah penyemaian dengan
ukuran 10 x 8 meter.
Rasio ukuran tersebut untuk menyemai 1 ton bibit jahe.
Sebelum memasukkan bibit, pastikan rumah tersebut telah dibuat bedengan dengan
menggunakan tumpukan jerami. Ketebalan jerami mencapai 10 cm.
Rimpang yang menjadi bibit kemudian disusun dalam bedengan kemudian ditutup
jerami, kemudian disusun lagi lapisan selanjutnya dengan bibit jahe dan ditutup jerami
lagi, begitu selanjutnya sampai didapatkan 4 susun bibit jahe dan jerami.
Setiap hari, tumpukan bibit dan jerami ini disemprot dengan larutan fungisida dan zat
tumbuh.

Masa penyemaian
di bedengan biasanya memakan waktu 2 minggu.
Setelah itu Anda bisa membuka bedengan dan memilih bibit berkualitas untuk
selanjutnya ditanam.
Masing-masing rimpang bibit bisanya ditumbuhi 3 sampai 4 tunas.
Pisahkan tunas tersebut dan bibit siap ditanam.
Sebelum dipindahkan ke lahan sebenarnya, bibit jahe harus disortir.
Pastikan bibit bebas dari penyakit. Selanjutnya masukkan dalam karung dan diclupkan
lagi ke dalam larutan fungisida.
Diamkan selama 8 jam. Setelah itu bibit kemudian dijemur selama 2 sampai 4 jam.
Setelah semuanya rampung, bibit sudah siap dipindahkan.

Proses Penanaman, Pemeliharaan Dan Panen

Sebelum menanam bibit jahe, pastikan lahan tanam sudah siap untuk digunakan. Akan
jauh lebih optimal lagi jika tanah tersebot diolah menjadi bedengan-bedengan untuk
menghindari kondisi air tanah yang kurang baik.
Selanjutnya, pada bedengan tersebut dibuat lubang tanam dengan kedalaman 3 sampai 7
cm. Setelah semuanya siap, tanamlah bibit pada lubang tersebut dengan cara direbahkan.
Masa penanaman terbaik adalah di awal musim penghujan agar pasoka air untuk jahe
yang baru ditaman jauh lebih besar.
Pada usia 2 sampai 3 minggu, petani harus mengamati jahe.
Jika ada bibit yang tidak tumbuh atau mati, harus segera dilakukan proses penyulaman,
yakni mengganti dengan bibit baru.
Pada usia 3 sampai 6 minggu, proses penyiangan sudah bisa dilakukan. Namun hal ini
juga bergantung pada kondisi gulma di sekitar jahe.
Setelah berusia 6 sampai 7 bulan, tidak lagi diperlukan proses penyiangan sebab di umur
tersebut, tanaman jahe sudah memiliki rimpang yang kuat dan besar.

Langkah pemeliharaan
adalah dengan pembumbunan. Tanah tempat jahe ditanam harus senantiasa gembur jadi
petani sebaiknya mencangkul tipis-tipis tanah sekitar tanaman.
Langkah ini juga bisa untuk menutup rimpang jahe yang kadang-kadang muncul di atas
permukaan tanah.
Langkah selanjutnya dalah pemupukan. Sebaiknya gunakan pupuk organik karena jahe
termasuk herba obat. Cara mengaplikasikan pupuk dengan ditebar atau dicampur dengan
tanah.
Jahe sebenarnya tidak memerlukan air yang banyak, terlebih jika air hujan mencukupi
terutama di masa awal penanaman.
Adapun langkah penyiraman dilakukan dalam kadar tertentu tergantung kondisi tanah.
Yang pasti, tanah harus gembur.

Masa panen

Setelah semua proses selesai, petani tinggal menunggu masa panen. Langkah pemanenan
tergantung pada peruntukan jahe.
Untuk jahe bumbu, sudah bisa dipanen di usia 4 bulan.
Jika budidaya tanaman jahe ditujukan untuk industri pabrikan, sebaiknya dipanen di usia
10 sampai 12 bulan.
Cara memanen harus hati-hati, tanah dibongkar menggunakan alat seperti garpu atau
cangkul.
Pastikan alat Anda tidak mengenai rimpang jahe.
Setelah dipanen, jahe disimpan di tempat terbuka yang tidak lembab.
Jangan ditumpuk, lebih baik jika disebar.

BUDIDAYA DAN TIPS TANAM JAHE

(Zingiber officinnale (Roscoe))

Oleh :
Iknewati Mega Rosita
Nim 13.024
AKAFARMA

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


PUTRA INDONESIA MALANG
Jl. Barito No.5 Malang