Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan sel
menggunakan glukosa akibat kurangnya produksi atau tidak adekuatnya insulin dari sel Beta
pankreas. Diabetes Melitus disebut juga The Great Imitator karena penyakit ini dapat mengenai
semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. (1,6)
Umum diketahui bahwa penderita diabetes rata-rata mempunyai gangguan kesehatan gigi. Hal
ini diperkuat dengan studi penelitian di Amerika Serikat yang menyatakan penderita kerusakan gigi
kronis bisa menjadi pengidap penyakit diabetes mellitus tipe 2. Pada kerusakan gigi yang parah,
bakteri dapat masuk ke aliran darah dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Sel sistem
kekebalan tubuh yang rusak melepaskan sejenis protein yang disebut cytokines. Cytokines inilah
penyebab kerusakan sel pankreas penghasil insulin, hormon yang memicu diabetes
Penemuan peneliti AS ini diumumkan saat simposium National Institute of Dental and
Craniofacial Research di Maryland. Dr. Anthony Iacopino, ahli gigi di Marquette University School of
Density, Wisconsin mengatakan bahwa di dalam pankreas, sel yang bertanggung jawab sebagai
penghasil insulin dirusak oleh kandungan cytokines yang tinggi. Jika ini terjadi sekali saja, maka
seseorang berpeluang menderita diabetes tipe 2, walaupun orang itu sebelumnya dalam keadaan
sehat. (2)
Selain itu berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan para ahli dari Kuwait (Journal of
Periodontology) pada November 2005 dilaporkan bahwa satu dari lima orang penderita penyakit
gusi (ginggiva) mengalami diabetes tipe 2. Sementara itu dokter gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi
(FKG) Universitas Indonesia, drg Zaura Rini Matram menambahkan, dalam pertemuan tahunan
"American Association for the Advancement of Science" pada 1999 diungkapkan bahwa sakit gigi
dan gusi dapat mengakibatkan penderita diabetes semakin parah, sebab penyakit itu telah memicu
tidak terkontrolnya kadar gula darah.(3)
Pada penderita diabetes copotnya gigi sulit dicegah, gusi akan mudah bengkak dan
berdarah (4), mulut mudah berbau (4,5), baunya khas seperti bau aseton(5), serta gigi gampang goyah
dan tanggal. Selain itu, terlalu lama mengonsumsi obat diabetes yang tidak terkontrol juga
mengakibatkan jaringan gusi membesar.(4)
Juru bicara British Dental Association (BDA) mengatakan bahwa segala yang terjadi pada
tubuh manusia selalu bisa dihubungkan dengan penyakit gangguan gigi. Maka bukan tak mungkin
bahwa diabetes hanya salah satu gangguan kesehatan yang ada hubungannya dengan penyakit
gigi. Ia juga menyarankan agar setiap orang membiasakan menggosok gigi dua kali sehari dengan
pasta gigi flouride serta mengunjungi dokter gigi secara reguler.(2)

II.

DIABETES MELITUS
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2003, diabetes melitus merupakan suatu
kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan
kerusakan jangka panjang, dan disfungsi beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf,

jantung, dan pembuluh darah, yang menimbulkan berbagai macam komplikasi, antara lain
aterosklerosis, neuropati, gagal ginjal, dan retinopati. Sedikitnya setengah dari populasi penderita
diabetes lanjut usia tidak mengetahui kalau mereka menderita diabetes karena hal itu dianggap
merupakan perubahan fisiologis yang berhubungan dengan pertambahan usia. (6)
Diabetes merupakan penyakit metabolisme yang rumit yang ditandai dengan hipofungsi atau
ketiadaan fungsi pulau-pulau Langerhan pankreas, dengan akibat peningkatan kadar glukosa darah
dan ekskresi gula melalui urin.(7) Ada dua tipe diabetes Mellitus :
1.

Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM/Tipe I)

2.

Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM/Tipe II).(6,7)


Pada Diabetes melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Pasien
diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan predisposisi untuk kerusakan
autoimun sel beta pankreas. Respon autoimun dipacu oleh aktivitas limfosit, antibodi terhadap sel
pulau langerhans dan terhadap insulin itu sendiri. Pada diabetes melitus tipe 2 jumlah insulin
normal, tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang sehingga
glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah menjadi meningkat.(6)
Tabel 1. Karakteristik diabetes melitus tipe I dan tipe II

DM TIPE I
Mudah terjadi ketoasidosis
Pengobatan harus dengan insulin

DM TIPE II
Sukar terjadi ketoasidosis
Pengobatan tidak harus dengan
insulin
Onset lambat
Gemuk atau tidak gemuk
Biasanya terjadi pada umur > 45
tahun
Tidak berhubungan dengan HLA

Onset akut

Biasanya kurus

Biasanya terjadi pada umur yang


masih

muda
Berhubungan dengan HLA-DR3

dan DR4
Didapatkan antibodi sel islet
Tidak ada antibodi sel islet
10%nya ada riwayat diabetes pada keluarga 30%nya ada riwayat diabetes pada
30-50 % kembar identik terkena
keluarga
100% kembar identik terkena

Sumber : Priyanto, Diabetes Melitus Pada Lanjut Usia, Kepaniteraan Gerontologi Medik Fakultas
Kedokteran Universitas Trumanagara Sasana Tresna Werda Yayasan Karya Bakti RIA
Pembangunan. PERKENI, Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2, 2002
Kriteria diagnostik diabetes mellitus dan gangguan toleransi glukosa menurut WHO 1985:
a.

Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) 200mg/ dl, atau

b.

Kadar glukosa darah puasa

c.

Kadar glukosa plasma 200 mg / dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram

(plasma vena) 126 mg/dl, atau

pada TTGO
Menurut Kane et al (1989), diagnosis pasti DM pada lanjut usia ditegakkan kalau didapatkan kadar
glukosa darah puasa lebih dari 140 mg/dl. Apabila kadar glukosa puasa kurang dari 140 mg/dl dan
terdapat gejala atau keluhan diabetes seperti di atas perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan Tes
Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Apabila TTGO abnormal pada dua kali pemeriksaan dalam waktu
berbeda diagnosis DM dapat ditegakkan.(6)
Tabel 2. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis
DM
Kadar glukosa (mg/dl )

Bukan DM

Belum pasti
DM
DM
Sewaktu
Plasma Vena
< 110
110 199
200
Darah Kapiler
< 90
90 199
200
Puasa
Plasma Vena
< 110
110 125
126
Darah Kapiler
< 90
90 109
110
Sumber : Priyanto, Diabetes Melitus Pada Lanjut Usia, Kepaniteraan Gerontologi Medik Fakultas
Kedokteran Universitas Trumanagara Sasana Tresna Werda Yayasan Karya Bakti RIA
Pembangunan. PERKENI, Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2, 2002
Diabetes bukan suatu penyakit yang dapat diobati, pengobatan yang dilakukan mempunyai 4
tujuan :
Untuk menormalkan tingkat kadar glukosa darah
Untuk mencegah komplikasi akut dan mengurangi gejala
Untuk memelihara berat badan ideal
Untuk mencegah dan mengurangi komplikasi kronis
Dokter gigi harus familiar dengan obat-obatan yang digunakan pada penderita diabeteas; daftar obat
diabetes yang secara umum digunakan adalah : agen hipoglikemik oral meliputi sulfonil urea
(meningkatkan sekresi insulin, biguanides (mengurangi produksi glukosa hati), penghambat alfaglukosidase ( memperlambat absorpsi glukosa) dan thiazolidinediones (meningkatkan sensitivitas
insulin). Insulin bisa digunakan dalam formula short-acting (1 1,5 jam), regular acting ( 4 6
jam), intermediate acting ( 8 12 jam) dan long acting (24 36 jam). (8)

III.

PREVALENSI DAN INSIDEN DIABETES


Pada tahun 1999, Pusat Statistik Kesehatan National melaporkan lebih dari 10 juta orang
Amerika yang hidup dengan diabetes (tersebar antara orang kulit putih, hitam,Hispanic dan ras
lainnya). Pada tahun 1997, diperkirakan 124 juta orang didunia hidup dengan diabetes. Pada tahun
2010 jumlah orang dengan diabetes di dunia diperkirakan sebanyak 221 juta dan di beberapa
bagian tertentu di dunia (seperti Asia dan Africa) peningkatan penderita diabetes akan meningkat
menjadi 2 atau 3 kali lipat.(8)

Di Indonesia saat ini Penyakit Diabetes Mellitus (DM) belum menempati skala prioritas utama
dalam pelayanan kesehatan. Prevalensi DM di Indonesia sebesar 1,5 2,3 % pada penduduk usia >
dari 15 tahun meningkat menjadi 5,6 % pada tahun 1993. Di Jakarta Prevalensi DM meningkat ari
1,7 % pada tahun 1982 menjadi 5,7 % pada tahun 1993. DM dapat menyerang warga segala
lapisan umur dan sosial ekonomi, sebagian besar DM adalah tipe 2 yang terjadi lebih dari 90%
biasanya pada usia 40 tahun ke atas.(9)

IV.
1.

GEJALA DAN TANDA DI MULUT PADA PENDERITA DIABETES


Gingivitis dan Periodontitis
Periodontitis merupakan salah satu penyakit terpenting jaringan penyangga gigi yang paling luas
penyebarannya dalam masyarakat. Penyakit pada jaringan periodontal yang bersifat khronis
dapat menyebabkan kerusakan pada serabut periodontal. Penyakit periotodontal yang berlanjut
dapat menyebabkan hilangnya jaringan penyangga gigi, yang dapat menyebabkan gigi goyah.
Keadaan adanya Diabetes Melitus merupakan suatu tanda meningkatnya kerentanan terhadap
infeksi, dimana DM merupakan faktor predisposisi penting terhadap timbulnya infeksi. Di dalam
mulut DM dapat meningkatkan jumlah bakteri sehingga menyebabkan adanya kelainan jaringan
periodontal. Pada penderita DM tipe 2 dengan hiperlipidemi dijumpai adanya inflamasi gingival yang
parah dan hilangnya perlekatan pada jaringan periodontal. Berkembangnya penyakit periodontal
dengan DM mengakibatkan kerusakan pada jaringan periodontal lebih parah sehingga gigi menjadi
goyah dan akhirnya lepas.(9) Gusi membengkak sehingga gigi tampak keluar ( modot).(6)
Pada penderita diabetes copotnya gigi sulit dicegah, gusi akan mudah bengkak dan berdarah (4),
mulut mudah berbau (4,5), baunya khas seperti bau aseton(5), serta gigi gampang goyah dan tanggal.
Selain itu, terlalu lama mengonsumsi obat diabetes yang tidak terkontrol juga mengakibatkan
jaringan gusi membesar.(4)
Beberapa penelitian mengkonfirmasikan bahwa DM dapat menyebabkan kegoyahan yang didahului
adanya penyakit pada jaringan periodontal. Overview dari bukti penelitian tentang hal ini telah
dipublikasikan pada tahun 1994, dimana diteliti 1426 orang berusia antara 25-74 tahun secara cross
sectional, menemukan bahwa DM merupakan penyakit sistemik yang berhubungan dengan
kegoyahan gigi dengan OR: 2,32, 95% CI: 1,70 4,60. Dari data cross sectional, pada penelitian 72
orang penderita DM kasus baru dan 82 orang penderita DM kasus lama, serta 77 orang sebagai
kontrol yang berusia 40--49 tahun, dengan matching umur dan jenis kelamin, diketahui bahwa
penyakit periodontal (periodontitis) lebih banyak pada penderita DM dibandingkan dengan kontrol,
dan pada penderita DM kasus lama lebih banyak daripada kasus baru.Pada penelitian cross
sectional dan longitudinal, diketahui bahwa pada penderita DM yang tidak terkontrol dalam waktu
lama dapat menyebabkan terjadinya penyakit periodontal yang lebih parah dan hilangnya gigi
dibandingkan dengan DM yang terkontrol dan yang tidak menderita DM. (9)
Dalam sebuah penelitian prevalensi penyakit periodontal 9,8% pada 263 pasien dengan diabetes
tipe 1 dibandingkan dengan 1,7 % orang tanpa diabetes. Sebuah penelitian kecil yang
menghubungkan pasien dengan diabetes tipe 2 dengan penyakit periodontal, memperlihatkan
bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 tiga kali lebih mudah mendapatkan penyakit peridontal

dibandingkan dengan orang tanpa diabetes. Sebuah penelitian lain menaksirkan ketika orang
dengan diabetes merokok, maka mereka mempunyai kemungkinan 20 kali lebih besar untuk
mengalami periodontitis dengan kehilangan tulang pendukung dibanding dengan mereka yang
tanpa diabetes.(11)
Ada beberapa hipotesa mengenai keterlibatan DM sebagai faktor etiologi penyakit gingiva dan
periodontal :
a.

Terjadinya penebalan membran basal


Pada penderita diabetes melitus membran basal kapiler gingiva mengalami penebalan sehingga
lumen kapiler menyempit. Menyempitnya lumen ini menyebabkan terganggunya difusi oksigen,
pembuangan limbah metabolisme, migrasi leukosit polimorfonukleus, dan difusi faktor-faktor serum
termasuk antibodi.

b.

Perubahan biokimia
Level cyclic adenosine monophospate (cAMP) yang efeknya mengurangi inflamasi pada penderita
diabetes melitus menurun; hal mana diduga menjadi salah satu sebab lebih parahnya inflamasi
gingiva pada penderita diabetes melitus

c.

Perubahan Mikrobiologis
Peningkatan level glukosa dalam cairan sulkular dapat mempengaruhi lingkungan subgingival, yang
dapat menginduksi perubahan kualitatif pada bakteri yang pada akhirnya mempengaruhi perubahan
periodontal

d.

Perubahan Imunologis
Meningkatnya kerentanan penderita diabetes melitus terhadap inflamsi diduga disebabkan oleh
terjadinya defisiensi fungsi leukosit polimorfonuklear (LPN) berupa terganggunya khemotaksis,
kelemahan daya fagositosis atau terganggunya kemampuannya untuk melekat ke bakteri. dan

e.

Perubahan berkaitan dengan kolagen


Peningkatan level glukosa bisa pula menyebabkan berkurangnya produksi kolagen . Disamping itu
terjadi juga peningkatan aktivitas kolagenase pada gingiva. (7)
Beberapa mekanisme juga telah diusulkan untuk menjelaskan peningkatan penyakit periodontal
pada penderita DM antara lain : respon dari Host, subgingiva mikroflora, metabolisme kolagen,
perdarahan, cairan creviculargingiva dan faktor keturunan. Berbagai mekanisme patofisiologi juga
mempunyai implikasi dalam peningkatan kehilangan tulang alveolar pada penderita diabetes. (8)
Oleh karena itu, pengobatan pencegahan periodontal harus dimasukkan dalam penatalaksanaan
yang menyeluruh terhadap pasien dengan diabetes. Pengobatan meliputi penilaian awal dari
progesivitas penyakit mulut, penjelasan tentang kebersihan mulut, instruksi dan penilaian yang
berhubungan dengan pola makan, perlindungan dari penyakit dengan melakukan pemeriksaan gigi
secara periodik.(11)
Yang paling penting dalam pengobatan penyakit periodontitis pada orang dengan diabetes melitus
adalah kontrol gula darah yang teratur. Sebab dalam penelitian didapatkan terdapat penurunan
penyakit periodontitis pada penderita diabetes melitus dengan kadar gula darah yang terkontrol. (9)

2.

Karies Dentis
Hubungan antara diabetes dan karies gigi telah diselidiki, namun tidak ada organisasi yang
menjelaskan secara tuntas. Hal ini penting untuk dicatat bahwa pasien dengan diabetes peka
terhadap gangguan sensori mulut, jaringan periodontal, dan produksi air ludah, yang bisa
meningkatkan resiko pembentukan baru atau muncul kembali karies pada gigi. (8)
Laju peningkatan karies gigi pada pasien muda dengan diabetes yang telah dilaporkan berhubungan
dengan gangguan fungsi pembentukan saliva. (11)Faktor pembentukan karies termasuk unsur-unsur
tradisional (sebagai contoh, pengukuran jumlah streptokokus, pada kerusakan gigi sebelumnya)
menunjukkan baik tidaknya pengontrolan dari diabetes. Oleh karena itu diperlukan penilaian
berkelanjutan oleh dokter gigi terhadap gigi busuk yang baru atau berulang. (8) Dokter gigi juga dapat
memberikan pengobatan topical seperti flouride yang mengandung penyengar mulut dan penganti
saliva untuk mencegah karies dan mengurangi ketidaknyamanan. (11)

3.

Disfungsi Kelenjar Saliva


Ludah penderita DM seringkali menjadi lebih kental, sehingga mulutnya terasa kering,
disebut xerostomia diabetic.(6,8) Pada penderita diabetes berkurangnya ludah(saliva) dipengaruhi
faktor angiopati dan neuropati diabetik, perubahan pada kelenjar parotis dan karena poliuria yang
berat.(1,10) Penurunan sekresi air ludah dari kelenjar parotis cenderung membuat pH menjadi turun.
Disamping itu terjadi kenaikan kadar glukosa cairan mulut yang akan dimetabolisme oleh bakteri
mulut menjadi asam. Pada penelitian yang dilakukan oleh Suyono Isa, dkk terhadap penderita rawat
inap dan rawat jalan di Poliklinik RSUD dr. Moewardi Surakarta dari bulan Januari Februari 2001
sebanyak 23 orang yang memenuhi kriteria DM dan didapatkan kesimpulan bahwa pH air ludah
penderita diabetes secara statistik lebih rendah dibandingkan kontrol sehat. (1)

4.

Penyakit Mukosa Mulut


Diabetes sering dihubungkan dengan kemungkinan yang lebih besar dari terbentuknya kerusakan
mukosa mulut. Didapatkan laporan prevalensi yang besar dari Lichen Planus dan aphthous
stomatitis yang berulang.(8)
Lichen Planus secara umum merupakan suatu penyakit kronik mucocutan yang penyebabnya belum
diketahui. Secara umum terjadi karena proses imunologi yang melibatkan suatu reaksi
hipersensitivitas dalam tingkat mikroskopik. Hal ini ditandai dengan infiltrasi dari limfosit T yang
intens (sel CD4+ dan khususnya sel CD8+) yang ditempatkan pada sambungan antara epitel dan
jaringan ikat. Regulasi sel imun lainnya (seperti makrofag, sel dendrit, sel Langerhans) dapat terlihat
terjadi peningkatan jumlah didalam lesi Lichen Planus. Tampaknya tidak ada hubungan antara
Lichen Planus dan hipertensi atau diabetes melitus (ini adalah sindrom Grispans) yang awalnya
diusulkan.
Bagaimanapun, penelitian terhadap 40 pasien dengan Lichen Planus didapatkan 11 pasien (28 %)
mempunyai riawayat diabetes yang laten, dibandingkan dengan yang tidak mempunyai riwayat pada

kelompok kontrol, hal ini menyiratkan kemungkinan adanya hubungan terhadap imunopathogenesis
dari Lichen Planus.(11)

5.

Infeksi pada Mulut


Manifestasi lain diabetes dan suatu tanda dari imunosupresif sistemik adalah hadirnya infeksi
oportunis seperti candidiasis oral. Infeksi jamur pada permukaan mukosa oral dan
pemindahan protheses lebih umum ditemukan pada orang dewasa yang mengidap diabetes.
Pseudohifa dari kandida merupakan tanda utama dari infeksi candida pada mulut, dan mempunyai
hubungan yang signifikan dengan perokok sigaret, penggunaan gigi palsu dan kontrol gula darah
yang rendah pada orang dewasa pengidap diabetes. Penurunan pembentukan air ludah mungkin
juga meningkatkan infeksi candida pada penderita diabetes.(8)
Lesi oral yang dihubungkan dengan kandidiasis meliputi median rhomboid glossitis (atropi pusat
papila), glositis atofi, stomatits akibat gigi palsu, kandidiasis pseudomembran dan kheilitis angular.
Kandida albican adalah bagian dari mikroflora normal pada mulut yang jarang menginfeksi mukosa
mulut tanpa disertai faktor predisposisi. Faktor tersebut meliputi, kondisi penekanan imunologi
(misalnya pada AIDS, kanker atau diabetes), pemakaian gigi palsu yang berhubungan dengan
kebersihan mulut yang kurang dan penggunaan obat antibiotik spektrum luas dalam jangka panjang.
Gangguang fungsi pembentukan air ludah, penekanan fungsi imun dan hipergikemi saliva
menyediakan bahan untuk pertumbuhan jamur merupakan faktor pendukung terbesar untuk
kandidiasis mulut pada pasien dengan diabetes. (11)
Profesional pelayan kesehatan harus siap dalam mendiagnosa kandidiasis dan memberikan
pengobatan tetapi yang lebih penting adalah menemukan penyebab infeksinya yang bisa
merupakan diagnosa dari diabetes melitus.(8)

6.

Gangguan Pengecapan
Lidah merupakan organ utama dalam kesehatan mulut, dan mengalami pengaruh yang kurang baik
pada pasien dengan diabetes. Dalam sebuah penelitian dilaporkan bahwa lebih dari 1 3 orang
dewasa dengan diabetes mengalami hypogeusia atau penyusutan persepsi pada lidah yang bisa
menghasilkan hiperfagia dan obesitas. Gangguan fungsi sensory ini dapat menghambat
kemampuan untuk memelihara suatu pola makan yang sesuai dan bisa mendorong regulasi glukosa
kearah yang lebih rendah.(8)
Lidah penderita diabetes juga sering membesar dan terasa tebal sehingga terjadi gangguan
pengecapan pada lidahnya.(6)

7.

Kerusakan neurosensory
Pasien diabetes dilaporkan mengalami peningkatan keluhan terhadap glossodynia dan
stomatopyrosis. Secara umum, gangguan sensori saraf wajah dan mulut serta sindrom mulut
terbakar dihubungkan dengan diabetes melitus. Pasien kemungkinan mengalami oral dysesthesias
yang lama, yang mana memberikan efek yang kurang baik bagi pemeliharaan kesehatan mulut. (8)

Sindrom mulut atau lidah terbakar biasanya secara klinis tidak memperlihatkan luka yang dapat
ditemukan, walaupun gejala nyeri dan rasa terbakar dapat terasa berat. Penyebab rasa mulut
terbakar bervariasi dan sering sulit diterjemahkan secara klinis. Gejala nyeri dan terbakar nampak
hasil dari suatu faktor atau kombinasi dari beberapa faktor. Pada diabetes tidak terkontrol atau
secara garis besar terkontrol, faktor penyebabnya bisa meliputi gangguan fungsi pembentukan
saliva, kandidiasis dan abnormalitas neurologi seperti depresi. Neuropati saraf otonom dan sensorikmotorik merupakan bagian dari sindrom diabetes, dan prevalensi neuropati pada diabetes melitus
mendekati 50% setelah 25 tahun dari awal terjadinya onset dari penyakit, dengan rata-rata 30
persen pada orang dewasa dengan diabetes.
Neuropati mungkin mendorong perasaan kebas atau perasaan geli pada mulut, mati rasa, rasa
terbakar atau nyeri disebabkan perubahan patologis yang melibatkan persarafan di daerah mulut.
Diabetes telah dihubungkan dengan gejala rasa terbakar pada mulut. Bagaimanapun neuropati
pada diabetes dihubungkan dengan nyeri dan rasa terbakar pada bagian tubuh yang lain seperti
pada kaki.
Untuk mengurangi gejala mulut terbakar pada penderita diabetes, faktor yang sangat menentukan
adalah peningkatan terhadap kontrol gula darah, sehingga kekeringan pada mulut (xerostomia) dan
kandidiasis yang merupakan faktor penyebab mulut terbakar dapat di minimalisir.(11)

V.

MANAJEMEN KOMPLIKASI ORAL PADA DIABETES


Pasien dengan kontrol gula darah yang kurang mempunyai resiko terjadinya komplikasi oral
karena kepekaan mereka terhadap infeksi dan sequelae serta sangat memerlukan pemberian
pengobatan suplemen antibiotik.(8)
Secara umum, orang dewasa dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang terkontrol dengan baik
mungkin mempunyai risiko yang tidak signifikan untuk mengalami penyakit mulut yang progresive
dibandingkan dengan mereka yang tanpa diabetes dan karenanya dapat diperlakukan dengan cara
yang sama. Misalnya lesi pada corona carious yang belum menembus dentin pada pasien dengan
kontrol diabetes yang baik mungkin tidak memerlukan intervensi yang segera, sedangkan suatu
luka yang serupa pada penderita dengan diabetes yang kurang terkontrol ( hiperglikemia rendah
sampai tinggi) mungkin memerlukan tindakan operasi segera, memberikan resiko besar yang
progresiv. Secara umum resiko kemungkinan terjadinya komplikasi oral berhubungan dengan
kontrol kadar gula darah dan ini dinilai dalam bagian interprestasi dari rata-rata HbA 1c dan tingkat
kadar gula darah 2 jam setelah makan. (11)

1.

Tata cara pengobatan untuk candidiasis


Dengan pemusatan pada kandidiasis sebagai tanda secara umum atau diabetes yang tidak
terkontrol, dan mempunyai hubungan sekunder dengan kelainan fungsi pembentukan saliva,
beberapa pengobatan topikal dan sistemik utama dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
PENGOBATAN TERHADAP KANDIDIASIS ORAL
Jenis obat

Waktu pemberian

Dosis

Topikal
Clotrimazole troches1

Nystatin
Supossutoria2

2 minggu

vaginal

Dipecahkan
perlahan
dan
dimasukkan 1 10 mg dalam mulut
sebanyak 5 kali/hari

2 minggu
Dipecahkan perlahan satu tablet
( 100.000 unit) dalam mulut 6-8
kali/hari

Sistemik
Flukonazole

2 minggu

100 mg/hari

Ketokonazole3

2 minggu

200 mg/hari

Itrakonazole4

2 minggu

200 mg/hari

1.
2.

Gunakan dengan perhatian karena mengandung gula


Walaupun sedian ini tidak dirancang untuk penggunaan dalam mulut, klinisi harus
menemukan ini berguna untuk pengobatan kandidiasis oral ketika kandungan gula dari obat
antikandida topikal lainnya menjadi perhatian. Suatu pastiles tanpa yang dibumbui tanpa
gula mungkin dihancurkan secara serempak dimulut untuk menyembunyikan rasa nistatin
3. Gunakan dengan perhatian : awasi sifat hepatotoksis dengan liver fungsi test
4. Harus digunakan terhadap strain candida albicans yang resisten

Secara umum dinasehatkan kepada dokter gigi bahwa pertama yang dinilai adalah kandungan gula
pada beberapa anti jamur sebelum diresepkan. Sebagai contoh clotimazole troches mempunyai
kadar gula yang tinggi mungkin akan berlawanan jika diberikan pada penderita dengan diabetes. (11)

2.

Tata cara pengobatan gangguan fungsi kelenjar saliva dan xerostomia


Dasar pemikiran untuk pengobatan xerostomia adalah merangsang pembentukan kelenjar saliva
atau terapi pengganti saliva untuk membuat mulut tetap lembab, mencegah gigi busuk dan infeksi
kandida. Manajemen pendekatan untuk mulut yang kering adalah dengan menggunakan pergantian
saliva dan menstimulasinya; pendekatan ini mungkin mengurangi progresivitas atau mencegah
pembentukan dari karies dentis (pembusukan gigi). (11)

3.

Manajemen sindrom mulut terbakar (Burning Mouth Syndrome)


Pada pasien dewasa dengan sindrom mulut terbakar, bermacam faktor mungkin berinteraksi secara
sinergis. Pada diabetes yang tidak terkontrol, xerostomia dan kandidiasis dapat memberikan
kontribusi terhadap gejala yang berhubungan dengan mulut terbakar. Sebagai tambahan untuk
pengobatan terhadap kondisi ini, peningkatan dalam pengontrolan kadar gula darah penting
dilakukan untuk mengurangi gejala. Pemberian dosis rendah benzodiazepins, tricyclic antidepresant
dan antikonvulsan dapat membantu dalam mengurangi atau menghilangkan gejala setelah

beberapa minggu atau bulan. Dosis dari obat ini disesuaikan dengan gejala yang dialami pasien.
Efek samping yang berpotensi meliputi xerostomia. Konsultasi dengan dokter pasien sangat perlu
karena obat ini mempunyai potensial untuk kecanduan dan ketergantungan. Pengobatan yang biasa
digunakan meliputi amitriptilin, nortriptilin, clonazepam dan gabapentin. Yang menarik amitriptilin
telah digunakan untuk pengobatan neuropati otonom pada diabetes. (11)

4.

Manajemen periodontal dan pertimbangan bedah


Pada penderita dengan diabetes melitus perawatan periodontal hanya dapat dilakukan jika kadar
gula darahnya terkontrol. Apabila akan dilakukan prosedur bedah yang agak besar, sebaiknya
diberikan antibiotika satu hari sebelumnya sebagai perlindungan.(12)
Dokter gigi dapat melaksanakan prosedur pembedahan periodontal, walaupun demikian penting
bagi pasien untuk memelihara suatu diet yang normal sepanjang tahap pasca pembedahan untuk
menghindari hipoglikemia ( kadar gula darah yang rendah dan insulin syok) dan memastikan
perbaikan yang efektif. Praktisi gigi harus meninjau ulang sejarah dari komplikasi, menilai kontrol
gula darah pasien dan melakukan dialog dengan dokter yang menangani pasien dan para ahli gizi.
Makin lama menderita diabetes maka semakin besar kemungkinan pada pasien terjadi
pengembangan penyakit periodontalnya.
Pengobatan periodontal yang mendukung harus disajikan pada interval yang relative singkat ( 2
atau 3 bulan). Infeksi periodontal mungkin menyulitkan penderita diabetes dan derajat tingkat kontrol
metabolisme. Pasien dewasa dengan diabetes yang terkontrol baik dalam mengikuti prosedur
pembedahan secara umum tidak memerlukan antibiotik. Namun pemberian antibiotik sepanjang
setelah tahap pembedahan merupakan hal yang sesuai, terutama sekali jika ada infeksi yang
penting, rasa sakit dan stress. Pemilihan antibiotik tergantung dari bermacam faktor (sebagai
contoh, tingkat kepekaan dan spesifisitas yang diharapkan dan penyebaran dari infeksi), dan harus
dilakukan dengan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter pasien.
Perhatian utama pengobatan periodontal pada pasien dengan diabetes melitus adalah non bedah.
Pemberian prosedur pembedahan mengharuskan modifikasi dari pengobatan pasien sebelum dan
sesudah perawatan, dan juga mungkin mendorong ke arah suatu tahap penyembuhan yang panjang
pada penderita diabetes. Kombinasi debridemant non bedah dan terapi antibiotik tetrasiklin pada
pasien dengan diabetes melitus yang mempunyai peridontitis mungkin mempunyai pengaruh positif
yang potensial dalam pengontrolan kadar gula darah. Penggunaan tetrasiklin pada pengobatan
penyakit periodontal telah dihubungkan dengan peningkatan kadar gula darah yang dinilai oleh
pemeriksaaan HbA1c.
Beberapa dokumen yang diterbitkan sudah melaporkan suatu tambahan manfaat pada penggunaan
tetrasiklin pada pengobatan penyakit periodontal, terutama sebagai penghambat degradasi enzim
jaringan ikat, matriks metalloproteinase manusia. Sebagai contoh, dosis rendah dari doxicyclin telah
ditunjukkan untuk menghambat kolagenase cairan crevicular gingiva pada dosis yang tidak bersifat
antimikroba, dengan mantap menghilangkan resistensi dari bakteri. Tetrasiklin dapat berfungsi
sebagai penghambat resorpsi tulang atau kehilangan tulang, dan kemampuan ini tidak terikat pada
sifat antimikrobial yang mereka gunakan, hal ini menunjukkan arah dimensi baru terhadap
manajemen pengobatan pada periodontitis.(11)

5.

Manajemen penyakit mulut dengan kortikosteroid


Pengobatan dengan menggunakan kortikosteroid dan obat immunomodulasi mempunyai potensial
terhadap efek samping. Oleh karena itu kerjasama yang erat antara dokter dan pasien sangat
diperlukan. Penggunaan steroid dalam pengobatan erosi pada liken planus terhadap pasien dengan
diabetes menjadi perhatian yang pantas dipertimbangkan karena steroid dapat melawan aksi insulin
dan mendorong kearah hiperglikemia. Selama pengobatan dengan steroid, pasien harus diberikan
instruksi untuk mengawasi sendiri kadar gula darahnya secara teratur. Penggunaan steroid yang
lama ( untuk periode lebih dari 2 minggu secara terus menerus) mungkin akan menyebabkan atrofi
mukosa dan kandidiasis sekunder. Kondisi tersebut biasanya terjadi pada diabetes yang tidak
terkontrol. Ketika erosi oral karena liken planus telah berkurang, steroid topikal harus dikurangkan
secara bertahap lebih rendah dari frekuensi terapi terakhir, tergantung dari pengontrolan erosi dan
kemungkinan untuk mengalami kekambuhan. Kemunculan obat imunomodulator non sterod
(sebagai contoh, salap tacrolimus, obat topical thalidomide) mungkin berguna dalam manajemen
pengobatan pada pasien dengan penyakit mukosa mulut dan diabetes yang tidak terkontrol secara
bersamaan.
Diabetes melitus/ kencing manis adalah kondisi dimana level/kandungan glukosa dalam darah meningkat
karena produksi insulin yang abnormal, baik berupa penurunan produksi insulin maupun tidak mampunya
tubuh memproduksi insulin. Insulin adalah hormon yang mentransfer glukosa dalam darah ke dalam sel atau
jaringan tubuh untuk digunakan sebagai sumber energi. Diabetes dapat terjadi karena faktor keturunan,
obesitas, bahkan ada pula diabetes yang hanya diderita saat masa kehamilan. Ada 3 gejala khas yang dialami
penderita diabetes yaitu mudah lapar, mudah haus, dan produksi air kencing yang banyak.
Buruknya kebersihan dan kesehatan rongga mulut dapat menandakan seseorang mengalami penyakit
sistemik, salah satunya diabetes melitus. Diabetes sangat berkaitan erat dengan penyakit atau kerusakan
jaringan penyangga/penyokong gigi yang secara medis disebut jaringan periodontal, yaitu kerusakan jaringan
pendukung gigi yaitu gusi dan di sekitar gigi dan gusi. Bila seorang pasien mengalami respon perbaikan yang
sangat lemah/lambat setelah tindakan perawatan pada jaringan periodontal, seperti pembersihan karang gigi
(scaling), kuret, dan perawatan lainnya, maka pasien tersebut sebaiknya dikonsulkan ke dokter untuk diperiksa
apakah pasien tersebut mengalami penyakit sistemik, dalam hal ini diabetes. Sulitnya proses penyembuhan
luka memang terjadi pada penderita diabetes termasuk penyembuhan setelah perawatan jaringan periodontal.
Rentannya infeksi bakteri di rongga mulut pada penderita diabetes tak lepas dari tingginya level glukosa dalam
darah. Seperti yang kita ketahui bahwa bakteri memfermentasi gula sehingga bakteri lebih mudah berkembang
biak pada seseorang dengan penyakit diabetes.
Kondisi rongga mulut lainnya yang dapat menjadi indikator seseorang mengalami diabetes adalah:
- Burning mouth syndrome atau sindrom terasanya sensasi terbakar pada rongga mulut. Seorang penderita
diabetes secara konsisten atau terus-menerus merasa mulutnya terbakar, tak peduli apapun yang dia makan
atau dia minum. Selain itu pasien juga merasakan sensasi pahit/ rasa metal/ besi pada mulutnya. Dan tak
jarang juga napas seorang penderita diabetes bau keton/ seperti aseton.
- Thrush. Thrush adalah infeksi jamur pada rongga mulut. Penampakannya dapat berupa lapisan berwarna
putih/ kekuningan yang sering ditemukan pada lidah, pipi bagian dalam, atau pun langit-langit. Jamur ini

sebenarnya memang terdapat dalam ekosistem rongga mulut yang normal, namun karena kondisi diabetes
yang dialami, membuat tubuh tidak dapat mengontrol perkembangbiakan jamur tersebut, sehingga
perkembangbiakannya menjadi berlebihan.
- Dry mouth syndrome atau sindrom mulut kering atau dikenal juga dengan istilah xerostomia. Ketika tubuh kita
tidak dapat memproduksi air liur yang cukup, maka sindrom ini akan terjadi. Kondisi ini disebabkan oleh
meningkatnya level glukosa pada air liur, sedangkan pasien diabetes memiliki peningkatan kadar glukosa
bukan saja pada darah melainkan juga pada air liur. Salah satu efeknya adalah meningkatnya risiko karies
pada gigi.
Yang harus dilakukan oleh seorang penderita diabetes untuk menjaga kesehatan gigi dan mulutnya adalah:
- Berobat/ kontrol ke dokter spesialis penyakit dalam terutama untuk mendapatkan kadar gula darah yang
selalu terkontrol yang otomatis akan mempengaruhi keadaan rongga mulut.
- Mengkonsumsi diet yang tinggi kadar serat yang sangat baik untuk mempertahankan kadar gula darah
normal dan membantu merangsang produksi air liur yang sangat baik untuk mendapatkan efek self cleansing
di rongga mulut
- Tetap menjaga kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi paling tidak 2 kali sehari (setelah sarapan dan
tepat sebelum tidur malam) dan berkumur dengan mouthwash (yang tidak mengandung alkohol) setelah
menyikat gigi, serta rajin minum air putih.
- Rutin pergi ke dokter gigi untuk memeriksakan gigi agar dapat diberikan prosedur pencegahan dan perawatan
gigi yang diperlukan.
http://www.tanyapepsodent.com/diabetes-dan-hubungannya-dengan-kesehatan-rongga-mulu