Anda di halaman 1dari 6

Judul Jurnal

: Kajian Ekonomi Penanganan Sedimen pada Waduk Seri


di Sungai Brantas (Sengguruh, Sutami Dan Wlingi)

Oleh :

Viari Djajasinga, Aniek Masrevaniah, Pitojo Tri Juwono


PEMBAHASAN

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pengelolaan waduk adalah


masalah sedimentasi. Sedimentasi yang terjadi pada waduk dapat disebabkan
akibat erosi yang terjadi pada lahan-lahan kritis yang terdapat pada

daerah

tangkapan waduk. Jika material sedimen yang terbentuk akibat erosi lahan
tersebut masuk ke dalam aliran sungai dalam jumlah yang besar maka akan
menyebabkan laju sedimen yang masuk ke dalam waduk menjadi besar bahkan
akan melampaui laju sedimen rencana.
Waduk Sengguruh, Sutami dan Wlingi adalah tiga waduk penting yang
menghasilkan 67.43% produksi listrik PLTA di Jawa Timur. Tabel berikut
menunjukkan kapasitas tampungan awal ketiga waduk.
Tabel 1. Tampungan Awal Waduk
Tinggi M.A.

Kapasitas Tampungan Awal

Waduk

Waduk (m)
(Juta m3)
HWL LWL
Kotor
Efektif
Mati
Sengguruh 292,5 291,4
21,5
2,5
19,0
Sutami
272,5 246,0
343,0
253,0
90,0
Wlingi
163,5 162,0
24,0
5,2
18,8
Dengan menggunakan data tampungan waduk dan data debit inflow,
dilakukan perhitungan laju sedimentasi dan perubahan kapasitas tampungan yang
terjadi serta perubahan trap efficiency waduk. Trap efficiency dinyatakan sebagai
persentase dari sedimen total yang mengendap dalam waduk terhadap sedimen
yang masuk waduk. Hubungan antara efisiensi tampungan dan perbandingan
antara kapasitas tampungan waduk dan debit tahunan yang masuk waduk
dirumuskan sebagai berikut (Brune, 1953 pada Soewarno, 1991):
Y = 100 (1 1/(1+x))n
Dimana :

= Efisiensi tampungan

= konstanta, dimana n=100 untuk kurva rata-rata

Tampak bahwa sedimentasi yang terjadi pada masa awal beroperasinya


waduk (1988-1993) sangat tinggi, hingga mencapai 3.23 juta m 3/tahun. Kondisi

ini menyebabkan terjadinya penurunan trap efficiency waduk secara signifikan,


dimana pada tahun 2011, trap efficiency Waduk Sengguruh hanya tinggal 1.37%,
jauh berkurang dibandingkan saat awal operasinya yang mencapai 41.08 %.
Setelah Bendungan Sengguruh selesai dibangun (1988), terjadi tren
penurunan sedimentasi yang signifikan. Pada tahun 1989, laju sedimentasi yang
terjadi mencapai 8.86 juta m3/tahun, sehingga volume tampungan kotor Waduk
Sutami tereduksi sekitar 44%, atau rata-rata mendekati 2.5 % per tahun. Besarnya
laju sedimentasi ini dapat diredam selama periode awal operasi Waduk Sengguruh
(1989 sd 1993), namun seiring dengan makin menurunnya trap efficiency Waduk
Sengguruh, tren kenaikan sedimentasi di Waduk Sutami kembali meningkat sejak
tahun 1994. Sejak tahun 2002, saat trap efficiency Waduk Sengguruh hanya tersisa
kurang dari 7 %, laju sedimentasi yang terjadi di Waduk Sutami mengalami
peningkatan tren kembali.
Pada pengukuran bulan Januari 1990 (sebelum G. Kelud meletus)
diketahui bahwa tampungan kotor Waduk Wlingi berkurang hingga 19.2% dari
volume awalnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa walaupun belum terjadi
letusan G. Kelud, secara alamiah Waduk Wlingi sudah menerima beban
sedimentasi yang cukup tinggi. Gunung Kelud meletus pada Februari 1990 dan
sejak itu Waduk Wlingi praktis terpenuhi oleh sedimen.
Untuk menjaga agar elevasi muka air waduk tetap terkendali sebelum
terjadi overtopping, maka debit outflow harus dialirkan melalui spillway. Kondisi
ini menyebabkan sebagian besar sedimen tidak sempat mengendap, melainkan
langsung masuk ke tampungan Waduk Sutami dan menambah beban sedimentasi
waduk. Untuk mempertahankan tampungan waduk, sejak tahun 1995 upaya teknis
berupa pengerukan sedimen dilaksanakan di Waduk Sengguruh, dengan total
volume sampai tahun 2011 sebesar 3.34 juta m 3, setara dengan 185.8 ribu m3/th.
Sedangkan di Waduk Sutami sejak tahun 2004 dilakukan penanganan teknis
dengan pengerukan sedimen. Hingga tahun 2011, volume sedimen yang telah
dikeruk mencapai 2.74 juta m3, setara dengan 124.6 ribu m3/tahun. Sejak tahun
1990 hingga kini dilakukan penanganan sedimen secara rutin di Waduk Wlingi
berupa pengerukan dan flushing. Kegiatan ini dapat mempertahankan kondisi
waduk mendekati kondisi sebelum Gunung Kelud meletus, dimana pada tahun

2010 volume tampungan kotor sebesar 4.49 juta m 3 dan tampungan efektif sebesar
1.99 juta m3.
Metode penanganan yang telah dilakukan terhadap ketiga waduk saat ini
adalah melalui pengerukan dan penggelontoran (flushing) hingga tahun 2011.
Analisa penanganan sedimen saat ini meliputi jumlah sedimentasi per tahun yang
terjadi dan rerata sedimentasi tahunan pada periode waktu tertentu seperti dapat
dilihat pada tabel 4 dan 5 berikut ini.
Tabel 4. Laju Sedimentasi Waduk
Waduk
Sengguruh
Sutami
Wlingi

Periode

Jumlah
Tahun

1993-2011
18
1988-2011
23
1990-2011
21
Total Laju Sedimentasi

Volume
Sedimentasi
(juta m3)
4,325
33,472
0,25

Rerata
Sedimentasi
(juta m3/th)
0,240
1,455
0,012
1,707

Tabel 5. Penanganan Sedimen saat ini


Rerata Pengerukan
Rerata Flushing
(juta m3/th)
(juta m3/th)
0,186
0
Sengguruh
0,125
0
Sutami
0,324
0,264
Wlingi
Total Penanganan Sedimentasi
Waduk

Volume Penanganan
(juta m3/th)
0,186
0,125
0,588
0,899

Metode penanganan tersebut dibedakan menjadi 4 alternatif dengan


perbedaan pada volume penanganan sedimen, metode pengerukan, dan lokasi
pembuangan material. Dari 4 macam alternatif yang disebutkan untuk penanganan
sedimen ketiga waduk tersebut, alternatif yang paling layak dilaksanakan adalah
alternatif 3, karena secara sistematis dapat mengimbangi laju sedimentasi yang
terjadi dan secara ekonomis memiliki parameter paling menguntungkan, dimana
alternatif 3 memiliki nilai B/C=1,03, IRR=17,35%, dan NPV=Rp6,37 milyar.
Rincian untuk penanganan sedimen pada alternatif 3 adalah sebagai
berikut:
1. Fokus pengerukan pada Waduk Sengguruh dan Sutami, material hasil
pengerukan di-buang ke lokasi spoil bank yang tersedia, penambahan volume
pengerukan di Seng-guruh ditampung dalam spoil bank baru serta pekerjaan
hauling.

2. Volume penanganan sedimen sebesar 1.7 juta m3, mencakup volume


pengerukan sebesar 1.3 juta m3 (Waduk Sengguruh sebesar 0.7 juta m3, Waduk
Sutami 0.5 juta m3 dan Waduk Wlingi 0.1 juta m3).
3. Volume flushing di Waduk Wlingi sebesar 400.000 m3.
.

= Perbandingan kapasitas tampungan dengan inflow tahunan

= konstanta, dimana n=1,5 untuk kurva rata-rata

Apabila kapasitas tampungan waduk lebih kecil daripada debit inflow tahunan, maka air akan tertampung pada waduk dalam waktu
relatif pendek, sehingga sedimen yang melayang akan lebih banyak melimpas pada pelimpah tanpa sempat mengendap. Sebaliknya, apabila
kapasitas tampungan waduk lebih besar daripada debit inflow tahunan, air akan cenderung tertampung lebih lama, sehingga praktis hampir
semua sedimen akan mengendap pada tampungan waduk tersebut. Hasil perhitungan sedimentasi waduk dan perubahan trap efficiency
dapat dilihat pada tabel 2 dan 3 berikut ini.
Tabel 2. Sedimentasi tiap Waduk
2002-2011

1972-1989

Sutami
1989-2002

2002-2011

1977-1990

Wlingi
1990-1995

16,14

2,16

2,17

150,61

16,39

17,08

19,26

0,12

0,13

1988-1993

Periode
3

Volume Sedimentasi (juta m )

1,29

0,08

0,55

100,37

7,2

9,69

0,1

0,12

2,08

1,62

50,24

9,19

7,4

16,26

0,02

0,02

3,23

0,24

0,24

8,86

1,26

1,9

1,48

0,02

0,01

Perubahan Tampungan Efektif (juta m )


Perubahan Tampungan Mati (juta m )

1995-2011

14,85

Sengguruh
1993-2002

Rerata Sedimentasi (juta m )

Tabel 3. Trap Efficiency tiap Waduk


Tahun
Tampungan Waduk
(juta m3)
Inflow Tahunan
(juta m3)
Trap Eficiency (%)

1988

Sengguruh
1993
2002

Sutami
1989
2002

2011

1972

21,5

5,36

3,2

1,04

343

192,39

1740,78
7
41,08

1469,55
2
13,82

1588,22
7
6,87

1701,86
3
1,37

2129,45
2
91,36

1842,13
2
87,18

Wlingi
2011

1977

1990

1995

2011

176

158,92

24

4,74

4,62

4,49

2289,54
8
83,24

2644,13
3
79,38

3103,422

3576,078

4,66

3,73

3525,898
25,77

3290,29
1
4,47