Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KEMUHAMMADIYAHAN

BIOGRAFI TOKOH PEMBAHARUAN


Haji Abdul Malik Karim Amrullah
BUYA HAMKA

Disusun oleh:
Ari Fitriyadi

2011430101

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA


JAKARTA
2015
1

KATA PENGANTAR
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmatnya
makalah Biografi Buya Hamka ini dapat terselesaikan tepat waktu.
Makalah

yang

secara

spesifik

membahas

kajian

tokoh

ini

berusaha

memberikan gambaran bagaimana biografi Hamka, dan bagaimana pemikiran dan


pengaruhnya terhadap pendidkan Islam.Karena diakui atau tidak, pemikiran Hamka
masih

kental

kita

rasakan

dewasa

ini. Pemikiran-pemikiranHamka

tersebut

didasarkan pada al-Quran dan Hadits yang disertai dengan argument-argumen


yang mendukung hal tersebut. Karena pada hakikatnya al-Quran adalah kitab yang
akan tetap mampu menjawab segala persoalan hidup manusia.
Semoga makalah ini dapat berguna baik bagi penyusun khusunya dan
pembaca pada umunya sebagai inspirasi dalam mengisi kehidupan.

Jakarta, Januari
2015

Penyusun

BAB I
SEJARAH KEHIDUPAN BUYA HAMKA
Hamka

lahir

pada

17

Februari

1908 (13

Muharram

1362) di Minangkabau, Sumatera. Ia lahir sebagai anak pertama dari tujuh orang
bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga yang taat melaksanakan ajaran
agama Islam. Ayahnya bernama Abdul Karim Amrullah, ulama pembaru Islam di
Minangkabau yang akrab dipanggil dengan sebutan Haji Rasul, sementara ibunya,
yakni Sitti Shafiyah, berasal dari keturunan seniman di Minangkabau. Adapun ayah
dari Abdul Karim, kakek Hamka, yakni Muhammad Amrullah dikenal sebagai ulama
pengikut Tarekat Naqsyabandiyah.
Sebelum mengenyam pendidikan di sekolah, Hamka tinggal bersama
neneknya di sebuah rumah di dekat Danau Maninjau. Ketika berusia enam tahun, ia
pindah bersama ayahnya ke Padang Panjang. Sebagaimana umumnya anak-anak
laki-laki di Minangkabau, sewaktu kecil ia belajar mengaji dan tidur di surau yang
berada di sekitar tempat ia tinggal, sebab anak laki-laki Minang memang tak punya
tempat di rumah. Di surau, ia belajar mengaji dan silek, sementara di luar itu, ia
suka mendengarkan kaba, kisah-kisah yang dinyanyikan dengan alat-alat musik
tradisional

Minangkabau. Pergaulannya

dengan

tukang-tukang

kaba,

memberikannya pengetahuan tentang seni bercerita dan mengolah kata-kata. Kelak


melalui novel-novelnya, Hamka sering mencomot kosakata dan istilah-istilah
Minangkabau. Seperti halnya sastrawan yang lahir di ranah Minang, pantun dan
petatah-petitih menjadi bumbu dalam karya-karyanya.
Mengenyam pendidikan
Pada tahun 1915, setelah usianya genap tujuh tahun, ia dimasukkan ke
sebuah Sekolah Desa dan belajar ilmu pengetahuan umum seperti berhitung dan
membaca di sekolah tersebut. Pada masa-masa itu, sebagaimana diakui oleh
Hamka, merupakan zaman yang seindah-indahnya pada dirinya. Pagi ia bergegas
pergi ke sekolah supaya dapat bermain sebelum pelajaran dimulai, kemudian
sepulang sekolah bermain-main lagi, bercari-carian, bermain galah, bergelut, dan
berkejar-kejaran, seperti anak-anak lainnya bermain. Dua tahun kemudian, sambil
3

tetap belajar setiap pagi di Sekolah Desa, ia juga belajar di Diniyah School setiap
sore. Namun sejak dimasukkan ke Thawalib oleh ayahnya pada tahun 1918, ia tidak
dapat lagi mengikuti pelajaran di Sekolah Desa. Ia berhenti setelah tamat kelas
dua. Setelah itu, ia belajar di Diniyah School setiap pagi, sementara sorenya belajar
di Thawalib dan malamnya kembali ke surau. Demikian kegiatan Hamka kecil setiap
hari, sesuatu yangsebagaimana diakuinyatidak menyenangkan dan mengekang
kebebasan masa kanak-kanaknya.
Selama belajar di Thawalib, ia bukan termasuk anak yang pandai, bahkan ia
sering tidak hadir beberapa hari karena merasa jenuh dan memilih mencari ilmu
dengan jalannya sendiri. Ia lebih senang berada di sebuah perpustakaan umum
milik gurunya, Zainuddin Labay El Yunusy daripada dipusingkan dengan pelajaranpelajaran yang harus dihafalnya di kelas. Dari perpustakaan tersebut, ia leluasa
membaca bermacam-macam buku, bahkan beberapa ia pinjam untuk dibawanya
pulang. Namun, karena buku yang dipinjamnya itu tidak ada hubungannya dengan
pelajaran, ia sempat dimarahi oleh ayahnya ketika ketahuan tengah asyik
membaca Kaba Cindua Mato. Ayahnya berkata, "Apakah engkau akan menjadi
orang alim nanti, atau menjadi orang tukang cerita?"
Sebagai usaha untuk menunjukkan diri kepada ayahnya dan sebagai akibat
dari persentuhannya dengan buku-buku yang dibacanya tentang daya tarik Jawa
Tengah, menyebabkan Hamka sangat berminat untuk merantau ke Tanah Jawa.
Pada saat yang sama, ia tidak lagi tertarik untuk menyelesaikan pendidikan di
Thawalib. Setelah belajar selama empat tahun, ia memutuskan untuk keluar dari
Thawalib, sementara program pendidikan di sekolah tersebut dirancang selama
tujuh tahun. Ia keluar tanpa memperoleh ijazah. Pada masa-masa setelah itu,
Hamka sempat dibawa ke Parabek, sekitar 5 km dari Bukittinggi pada tahun 1922
untuk belajar kepada Syekh Ibrahim Musa, tetapi tidak berlangsung lama. Ia lebih
memilih mengikuti kata hatinya untuk menuntut ilmu dan pengalaman menurut
caranya sendiri. Ia memutuskan untuk bertolak ke pulau Jawa. Namun, usaha yang
pertama sempat terjegal oleh ayahnya.
Merantau ke Jawa
Hamka telah berkelana ke sejumlah tempat di Minangkabau sejak berusia
remaja, sehingga dijuluki oleh ayahnya dengan sebutan "Si Bujang Jauh". Ketika
berusia 15 tahun, setelah mengalami suatu peristiwa yang mengguncangkan
4

jiwanya, yakni perceraian orang tuanya, Hamka telah berniat pergi ke pulau Jawa
setelah mengetahui bahwa Islam di Jawa lebih maju daripada Minangkabau
terutama dalam hal pergerakan dan organisasi. Namun setiba di Bengkulu, Hamka
terkena wabah penyakit cacar, sehingga setelah sekitar dua bulan berada di atas
pembaringan, ia memutuskan kembali ke Padang Panjang. Meski begitu niatnya
untuk pergi ke pulau Jawa tidak terbendung. Pada tahun 1924, setahun setelah
sembuh dari penyakit cacar, ia kembali berangkat ke pulau Jawa.
Setiba di pulau Jawa, Hamka bertolak ke Yogyakarta dan menetap di rumah
adik kandung ayahnya, Ja'far Amrullah. Melalui pamannya itu, ia mendapat
kesempatan mengikuti berbagai diskusi dan pelatihan pergerakan Islam yang
diselenggarakan

oleh Muhammadiyah dan Sarekat

Islam. Selain

mempelajari

pergerakan Islam, ia juga meluaskan pandangannya dalam persoalan gangguan


terhadap kemajuan Islam seperti kristenisasi dan komunisme. Selama di Jawa, ia
aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan agama. Dalam berbagai kesempatan, ia
berguru

kepada Bagoes

Hadikoesoemo, HOS

Tjokroaminoto, Abdul

Rozak

Fachruddin, dan Suryopranoto. Sebelum kembali ke Minangkabau, ia sempat


mengembara

ke Bandung dan

bertemu

dengan

tokoh-

tokoh Masyumi seperti Ahmad Hassan danMohammad Natsir, yang memberinya


kesempatan belajar menulis dalam Majalah Pembela Islam. Selanjutnya pada tahun
1925, ia pergi ke Pekalongan, Jawa Timur untuk menemui Ahmad Rasyid Sutan
Mansuryang

waktu

itu

menjabat

sebagai

Ketua

Muhammadiyah

cabang

Pekalongansekaligus belajar kepadanya. Selama di Pekalongan, ia menetap di


rumah kakak iparnya itu dan mulai tampil berpidato di beberapa tempat.
Dalam perantauan pertamanya ke pulau Jawa, ia mengaku memiliki
semangat baru dalam mempelajari Islam. Ia juga melihat ada perbedaan antara
misi pembaruan Islam di Minangkabau dan Jawa; jika di Minangkabau ditujukan
pada

pemurnian

ajaran

Islam

dari

praktik

yang

dianggap

salah,

seperti tarekat, taklid, dan khirafat, maka di Jawa lebih berorientasi kepada usaha
untuk memerangi keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan.
Menunaikan ibadah haji
Suasana pelaksanaan haji di Masjidil Haram,Mekkah. Perjalanan Hamka ke
Mekkah pada tahun 1927 meletupkan inspirasi baginya untuk menulis Di Bawah
Lindungan Ka'bah.
5

Setelah setahun lamanya berada di Jawa, pada bulan Juli 1925 Hamka
kembali ke Padang Panjang. Di Padang Panjang, ia menulis majalah pertamanya
berjudul Chatibul Ummah, yang berisikan kumpulan pidato yang didengarkannya
di Surau

Jembatan

Besi, dan

Majalah Tabligh

Muhammadiyah. Di

sela-sela

aktivitasnya dalam bidang dakwah melalui tulisan, ia menyempatkan berpidato di


beberapa tempat di Padang Panjang. Namun pada saat itu, semuanya justru dikritik
tajam oleh ayahnya, "Pidato-pidato saja adalah percuma, isi dahulu dengan
pengetahuan, barulah ada arti dan manfaatnya pidato-pidatomu itu." Di sisi lain, ia
tidak mendapatkan penerimaan baik dari masyarakat. Ia sering kali dicemooh
sebagai "tukang pidato yang tidak berijazah", bahkan ia sempat mendapat kritikan
dari sebagian ulama karena ketika itu ia belum menguasai bahasa Arab dengan
baik. Berbagai kritikan yang ia terima di tanah kelahirannya, ia jadikan cambuk
untuk membekali diri lebih matang.
Pada bulan Februari 1927, ia mengambil keputusan pergi ke Mekkah untuk
memperdalam ilmu pengetahuan kegamaannya, termasuk untuk mempelajari
bahasa Arab dan menunaikan ibadah hajinya yang pertama. Ia pergi tanpa pamit
kepada ayahnya dan berangkat dengan biaya sendiri. Selama di Mekkah, ia menjadi
koresponden

Harian Pelita

Andalas sekaligus

bekerja

di

sebuah

perusahaan

percetakan milik Tuan Hamid, putra Majid Kurdi, yang merupakan mertua
dari Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Di tempat ia bekerja itu, ia dapat membaca
kitab-kitab klasik, buku-buku, dan buletin Islam dalam bahasa Arab, satu-satunya
bahasa asing yang dikuasainya.
Menjelang pelaksanaan ibadah haji berlangsung, Hamka bersama beberapa
calon jemaah haji lainnya mendirikan organisasi Persatuan Hindia Timur, sebuah
organisasi yang memberikan pelajaran manasik haji kepada calon jemaah haji asal
Indonesia. Setelah menunaikan haji, dan beberapa lama tinggal di Tanah Suci, ia
berjumpa dengan Agus Salim dan sempat menyampaikan hasratnya untuk menetap
di Mekkah, tetapi Agus Salim justru menasihatinya untuk segera pulang. "Banyak
pekerjaan yang jauh lebih penting menyangkut pergerakan, studi, dan perjuangan
yang dapat engkau lakukan. Karenanya, akan lebih baik mengembangkan diri di
tanah airmu sendiri", ujar Agus Salim. Ia pun segera kembali ke tanah air setelah
tujuh bulan bermukim di Mekkah. Namun, bukannya pulang ke Padang Panjang,
Hamka

malah

menetap

di Medan,

kota

tempat

berlabuhnya

kapal

yang

membawanya pulang.
6

Karier di Medan
Selama di Medan, ia banyak menulis artikel di berbagai majalah dan sempat
menjadi guru agama selama beberapa bulan di Tebing Tinggi. Ia mengirimkan
tulisan-tulisannya

untuk

surat

kabar Pembela

Islam

di Bandung dan Suara

Muhammadiyah yang dipimpin Abdul Rozak Fachruddin di Yogyakarta. Selain itu, ia


juga bekerja sebagai koresponden di Harian Pelita Andalas dan menuliskan laporanlaporan perjalanan, terutama perjalanannya ke Mekkah pada tahun 1927. Pada
tahun

1928,

ia

menulis

romannya

yang

pertama

dalam bahasa

Minangkabau berjudul Si Sabariyah. Pada tahun yang sama, ia diangkat sebagai


redaktur Majalah Kemajuan Zaman berdasarkan hasil konferensi Muhammadiyah di
Padang Panjang Setahun berikutnya, ia menulis beberapa buku, antara lain: Agama
dan Perempuan, Pembela Islam, Adat Minangkabau, Agama Islam, Kepentingan
Tabligh, dan Ayat-ayat Miraj. Namun, beberapa di antara kayanya tersebut disita
karena dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial yang sedang berkuasa ketika
itu.
Pada

28

Juni

1926, gempa

bumi berkekuatan

7,6 SR meluluhlantakkan

sebagian besar Padang Panjang, termasuk rumah ayah Hamka di Gatangan, Pasar
Usang
Sewaktu di Medan, orang-orang di kampungnya sudah berkali-kali berkirim
surat memintanya pulang, tetapi selalu ditolak oleh Hamka. Oleh sebab itu,
ayahnya meminta Ahmad Rasyid Sutan Mansur untuk menjemput dan membujuk
Hamka pulang.[22] Bujukan kakak iparnya itu akhirnya membuat Hamka luluh, dan
kemudian ia pulang ke kampung halamannya di Maninjau, sementara rumah
ayahnya di Padang Panjang luluh lantah akibat gempa bumi pada tahun 1926.
Setiba di kampung halamannya, ia diterima ayahnya dengan penuh haru hingga
menitikkan air mata. Ayahnya terkejut mengetahui Hamka telah berangkat haji dan
pergi dengan ongkos sendiri. Ayahnya bahkan berkata, "Mengapa tidak engkau beri
tahu bahwa begitu mulia dan suci maksudmu? Abuya (ayah) ketika itu sedang
susah dan miskin. Kalau itu maksudmu, tak kayu jenjang dikeping, tak emas
bungkal diasah." Sejak saat itu, pandangan Hamka terhadap ayahnya mulai
berubah. Namun, setelah sekitar setahun menetap di Sungai Batang, ia kembali
meninggalkan kampung halamannya.

Hamka pindah ke Medan pada tahun 1936. Di Medan, ia bekerja sebagai


editor sekaligus menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah pengetahuan Islam
yang

didirikannya

bersama M.

Masyarakat. Melalui Pedoman

Yunan

Nasution,

Masyarakat,

ia

yaitu

untuk

Majalah Pedoman
pertama

kalinya

memperkenalkannama pena "Hamka". Selama di Medan, ia menulis Di Bawah


Lindungan Ka'bah, yang terinspirasi dari perjalanannya ke Mekkah pada tahun
1927. Setelah Di Bawah Lindungan Ka'bah diterbitkan pada tahun 1938, ia
menulis Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, yang pada awalnya ditulis sebagai
cerita bersambung dalam Pedoman Masyarakat. Selain itu, ia juga menerbitkan
beberapa roman dan buku-buku lainnya seperti: Merantau ke Deli, Keadilan
Ilahi, Tuan

Direktur,Angkatan

Baru, Terusir, Di

Dalam

Lembah

Kehidupan, Ayahku, Tasawuf Modern, dan Falsafah Hidup. Namun pada tahun 1943,
Majalah Pedoman Masyarakat yang dipimpinnya dibredel oleh Jepang, yang ketika
itu berkuasa di Indonesia.

BAB II
Bidang Pembaharuan
Politik
Sejak masih muda, Hamka telah terlibat dalam aktivitas politik, yaitu ketika
menjadi anggota Sarekat Islam pada tahun 1925 dan, setelah kemerdekaan ia aktif
8

denganPartai

Masyumi.[61] Pada pemilihan

umum

1955,

ia

terpilih

menjadi

anggota Dewan Konstituante mewakili Jawa Tengah. Akan tetapi pengangkatan


tersebut ditolak karena merasa tempat tersebut tidak sesuai baginya. Atas desakan
kakak

iparnya, Ahmad

Rasyid

Sutan

Mansur,

akhirnya

Hamka

menerima

pengangkatan tersebut.
Di Konstituante, ia bersama Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Isa
Anshari menjadi

pihak

yang

paling

konsisten

memperjuangkan syariat

Islam menjadi dasar negara Indonesia. Dalam pidatonya, Hamka mengusulkan agar
dalam sila pertama Pancasila dimasukkan kembali kalimat tentang "kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", sebagaimana yang termaktub
dalam Piagam Jakarta. Akan tetapi, pemikiran Hamka ditentang keras oleh sebagian
besar

anggota

Selanjutnya,

Konstituante,

dalam

sidang

yang

umumnya

Konstituante

berasal

dari

di Bandung pada

pihak
tahun

komunis.
1957,

ia

menyampaikan pidato penolakannya atas gagasan Presiden Soekarno yang akan


menerapkan Demokrasi Terpimpin. Namun, segala usahanya itu kandas setelah
Soekarno membubarkan Dewan Konstituante melalui Dekrit Presiden pada 5 Juli
1959 dan, perjalanan politik Hamka dapat dikatakan berakhir setelah Masyumi ikut
dibubarkan oleh Presiden Soekarno.
Sikapnya

yang

konsisten

terhadap

agama,

menyebabkannya

acapkali

berhadapan dengan berbagai rintangan, terutama terhadap beberapa kebijakan


pemerintah. Keteguhan sikapnya ini membuatnya dipenjarakan oleh Soekarno dari
tahun 1964 sampai 1966. Pada awalnya, Hamka diasingkan ke Sukabumi, kemudian
ke Puncak,Megamendung, dan terakhir dirawat di rumah sakit Persahabatan
Rawamangun, sebagai tawanan. Di dalam penjara ia mulai menulis Tafsir alAzhar yang merupakankarya ilmiah terbesarnya.
Pada tahun 1977, Hamka dipilih sebagai ketua umum Majelis Ulama
Indonesia yang pertama. Semasa jabatannya, Hamka mengeluarkan fatwa yang
bersisi penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang akan memberlakukan RUU
Perkawinan tahun 1973, dan mengecam kebijakan diperbolehkannya merayakan
Natal bersama umat Nasrani. Meskipun pemerintah mendesaknya untuk menarik
kembali fatwanya tersebut dengan diiringi berbagai ancaman, Hamka tetap teguh
dengan pendiriannya. Akan tetapi, pada tanggal 24 Juli 1981, Hamka memutuskan
untuk melepaskan jabatannya sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia,
karena fatwanya yang tidak kunjung dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
9

Sastra
Hamka juga merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit.
Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti
Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada
tahun 1928, ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia
menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah
menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan
seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat.
Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, ia dapat menyelidiki karya ulama
dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas alAqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, ia
meneliti karya sarjanaPerancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William
James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.
Hamka juga banyak menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya lain
seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku romannya yang
pertama dalam bahasa Minang dengan judul Si Sabariah. Kemudian, ia juga menulis
buku-buku lain, baik yang berbentuk roman, sejarah, biografi dan otobiografi, social
kemasyarakatan, pemikirandan pendidikan, teologi, tasawuf, tafsir, dan fiqih.
Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar. Di antara novel-novelnya
seperti Tenggelamnya

Kapal

Van

Der

Wijck, Di

Bawah

Lindungan

Ka'bah,

dan Merantau ke Deli juga menjadi perhatian umum dan menjadi buku teks sastra
di Malaysia dan Singapura. Beberapa penghargaan dan anugerah juga ia terima,
baik peringkat nasional maupun internasional.
Pada

tahun 1959,

Hamka

mendapat

anugerah

gelar Doktor

Honoris

Causa dari Universitas al-Azhar, Kairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama
Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali ia
memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Nasional Malaysia pada
bidang kesusasteraan, serta gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.

10

BAB III
USAHA PEMBAHARUAN
RIWAYAT ORGANISASI HAMKA
HAMKA aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau
mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat,
bidah, tarekat dan kebatinan sesat di Padan g Panjang. Mulai tahun 1928 beliau
mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929 HAMKA
mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian
beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih
menjadi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi
Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Pada tahun
1953, HAMKA dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah.
AKTIVITAS POLITIK HAMKA
Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi
anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu
menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan
menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA
diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.
Pada tahun 1955 HAMKA beliau masuk Konstituante melalui partai Masyumi
dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum. Pada masa inilah
pemikiran HAMKA sering bergesekan dengan mainstream politik ketika itu.
Misalnya, ketika partai-partai beraliran nasionalis dan komunis menghendaki
Pancasila sebagai dasar negara. Dalam pidatonya di Konstituante, HAMKA
menyarankan agar dalam sila pertama Pancasila dimasukkan kalimat tentang
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknyan sesuai yang termaktub
dalam Piagam Jakarta. Namun, pemikiran HAMKA ditentang keras oleh sebagian
besar anggota Konstituante, termasuk Presiden Sukarno. Perjalanan politiknya bisa
dikatakan

berakhir

ketika

Konstituante

dibubarkan

melalui

DekritPresiden

Soekarno pada 1959. Masyumi kemudian diharamkan oleh pemerintah Indonesia


pada tahun 1960. Meski begitu, HAMKA tidak pernah menaruh dendam terhadap
Sukarno. Ketika Sukarno wafat, justru HAMKA yang menjadi imam salatnya. Banyak
11

suara-suara dari rekan sejawat yang mempertanyakan sikap HAMKA. Ada yang
mengatakan Sukarno itu komunis, sehingga tak perlu disalatkan, namun HAMKA
tidak

peduli.

Bagi

HAMKA,

apa

yang

dilakukannya

atas

dasar

hubungan

persahabatan. Apalagi, di mata HAMKA, Sukarno adalah seorang muslim.


Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, HAMKA dipenjarakan oleh Presiden
Soekarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis
Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari
penjara, HAMKA diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional,
Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga
Kebudayaan Nasional Indonesia.
Pada tahun 1978, HAMKA lagi-lagi berbeda pandangan dengan pemerintah.
Pemicunya adalah keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef
untuk mencabut ketentuan libur selama puasa Ramadan, yang sebelumnya sudah
menjadi kebiasaan.
Idealisme HAMKA kembali diuji ketika tahun 1980 Menteri Agama Alamsyah
Ratuprawiranegara meminta MUI mencabut fatwa yang melarang perayaan Natal
bersama. Sebagai Ketua MUI, HAMKA langsung menolak keinginan itu. Sikap keras
HAMKA kemudian ditanggapi Alamsyah dengan rencana pengunduran diri dari
jabatannya.

Mendengar

niat

itu,

HAMKA

lantas

meminta

Alamsyah

untuk

mengurungkannya. Pada saat itu pula HAMKA memutuskan mundur sebagai Ketua
MUI.
AKTIVITAS SASTRA HAMKA
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang
wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, HAMKA menjadi
wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam
dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah
Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan
majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman
Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.
HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel
dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid). Pada 1950, ia
mendapat kesempatan untuk melawat ke berbagai negara daratan Arab. Sepulang
dari lawatan itu, HAMKA menulis beberapa roman. Antara lain Mandi Cahaya di
12

Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Sebelum
menyelesaikan roman-roman di atas, ia telah membuat roman yang lainnya. Seperti
Di Bawah Lindungan Kabah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli,
dan Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan roman yang mendapat perhatian
umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura. Setelah itu HAMKA
menulis lagi di majalah baru Panji Masyarakat yang sempat terkenal karena
menerbitkan tulisan Bung Hatta berjudul Demokrasi Kita.
Kitab Tafsir Al-Azhar merupakan karya gemilang Buya HAMKA. Tafsir Al-Quran
30 juz itu salah satu dari 118 lebih karya yang dihasilkan Buya HAMKA semasa
hidupnya. Tafsir tersebut dimulainya tahun 1960.
HAMKA meninggalkan karya tulis segudang. Tulisan-tulisannya meliputi
banyak bidang kajian: politik (Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret, Urat Tunggang
Pancasila), sejarah (Sejarah Ummat Islam, Sejarah Islam di Sumatera), budaya (Adat
Minangkabau Menghadapi Revolusi), akhlak (Kesepaduan Iman & Amal Salih ), dan
ilmu-ilmu keislaman (Tashawwuf Modern).

Daftar karya Sastra Buya Hamka


1.

Kenang-Kenangan Hidup, 4 Jilid, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

2.

Ayahku (Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangannya), Jakarta:
Pustaka Wijaya, 1958.

3.

Khatib al-Ummah, 3 Jilid, Padang Panjang, 1925.

4.

Islam dan Adat, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1929.

5.

Kepentingan Melakukan Tabligh, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1929.

6.

Majalah Tentera, 4 nomor, Makassar, 1932.

7.

Majalah al-Mahdi, 9 nomor, Makassar, 1932.

8.

Bohong di Dunia, cet. 1, Medan: Cerdas, 1939.

9.

Agama dan Perempuan, Medan: Cerdas, 1939.

10.

Pedoman Mubaligh Islam, cet. 1, Medan: Bukhandel Islamiah, 1941.

11.

Majalah Semangat Islam, 1943.

12.

Majalah Menara, Padang Panjang, 1946.

13.

Hikmat Isra Miraj, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui).

14.

Negara Islam, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),

15.

Islam dan Demokrasi, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),

16.

Revolusi Fikiran, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),

17.

Dibandingkan Ombak Masyarakat, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),

13

18.

Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1946.

19.

Revolusi Agama, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1946.

20.

Sesudah Naskah Renville, 1947 (tempat dan penerbit tidak diketahui).

21.

Tinjauan Islam Ir. Soekarno, Tebing Tinggi, 1949.

22.

Pribadi, 1950 (tempat dan penerbit tidak diketahui).

23.

Falsafah Hidup, cet. 3, Jakarta: Pustaka Panji Masyarakat, 1950.

24.

Falsafah Ideologi Islam, Jakarta: Pustaka Wijaya, 1950.

25.

Urat Tunggang Pancasila, Jakarta: Keluarga, 1951.

26.

Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1952.

27.

K.H. A. Dahlan, Jakarta: Sinar Pujangga, 1952.

28.

Perkembangan Tashawwuf dari Abad ke Abad, cet. 3, Jakarta: Pustaka Islam, 1957.

29.

Pribadi, Jakarta: Bulan Bintang, 1959.

30.

Pandangan Hidup Muslim, Jakarta: Bulan Bintang, 1962.

31.

Lembaga Hidup, cet. 6, Jakarta: Jayamurni, 1962 (kemudian dicetak ulang di


Singapura oleh Pustaka Nasional dalam dua kali cetakan, pada tahun 1995 dan 1999).

32.

1001 Tanya Jawab tentang Islam, Jakarta: CV. Hikmat, 1962.

33.

Cemburu, Jakarta: Firma Tekad, 1962.

34.

Angkatan Baru, Jakarta: Hikmat, 1962.

35.

Ekspansi Ideologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1963.

36.

Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia, Jakarta: Tintamas, 1965 (awalnya


merupakan naskah yang disampakannya pada orasi ilmiah sewaktu menerima gelar
Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Mesir, pada 21 Januari 1958).

37.

Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Jakarta: Bulan Bintang, 1965.

38.

Lembaga Hikmat, cet. 4, Jakarta: Bulan Bintang, 1966.

39.

Dari Lembah Cita-Cita, cet. 4, Jakarta: Bulan Bintang, 1967.

40.

Hak-Hak Azasi Manusia Dipandang dari Segi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1968.

41.

Gerakan Pembaruan Agama (Islam) di Minangkabau, Padang: Minang Permai, 1969.

42.

Hubungan antara Agama dengan Negara menurut Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas,
1970.

43.

Islam, Alim Ulama dan Pembangunan, Jakarta: Pusat dakwah Islam Indonesia, 1971.

44.

Islam dan Kebatinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1972.

45.

Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.

46.

Beberapa Tantangan terhadap Umat Islam di Masa Kini, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.

47.

Kedudukan Perempuan dalam Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.

48.

Muhammadiyah di Minangkabau, Jakarta: Nurul Islam, 1974.

49.

Tanya Jawab Islam, Jilid I dan II cet. 2, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

50.

Studi Islam, Aqidah, Syariah, Ibadah, Jakarta: Yayasan Nurul Iman, 1976.

14

51.

Perkembangan Kebatinan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1976.

52.

Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, cet. 8, Jakarta: Yayasan Nurul Islam,


1980.

53.

Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.

54.

Kebudayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.

55.

Lembaga Budi, cet. 7, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.

56.

Tasawuf Modern, cet. 9, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.

57.

Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan dan Keberanian, Jakarta: Yayasan


Idayu, 1983.

58.

Islam: Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.

59.

Iman dan Amal Shaleh, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.

60.

Renungan Tasawuf, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985.

61.

Filsafat Ketuhanan, cet. 2, Surabaya: Karunia, 1985.

62.

Keadilan Sosial dalam Islam, Jakarta: Pustaka Antara, 1985.

63.

Tafsir al-Azhar, Juz I sampai Juz XXX, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986.

64.

Prinsip-prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990.

65.

Tuntunan Puasa, Tarawih, dan Idul Fitri, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1995.

66.

Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Jakarta: Tekad, 1963.

67.

Islam dan Adat Minangkabau, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.

68.

Mengembara di Lembah Nil, Jakarta: NV. Gapura, 1951.

69.

Di Tepi Sungai Dajlah, Jakarta: Tintamas, 1953.

70.

Mandi Cahaya di Tanah Suci, Jakarta: Tintamas, 1953.

71.

Empat Bulan di Amerika, 2 Jilid, Jakarta: Tintamas, 1954.

72.

Merantau ke Deli, cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1977 (ditulis pada tahun 1939).

73.

Si Sabariah (roman dalam bahasa Minangkabau), Padang Panjang: 1926.

74.

Laila Majnun, Jakarta: Balai Pustaka, 1932.

75.

Salahnya Sendiri, Medan: Cerdas, 1939.

76.

Keadilan Ilahi, Medan: Cerdas, 1940.

77.

Angkatan Baru, Medan: Cerdas, 1949.

78.

Cahaya Baru, Jakarta: Pustaka Nasional, 1950.

79.

Menunggu Beduk Berbunyi, Jakarta: Firma Pustaka Antara, 1950.

80.

Terusir, Jakarta: Firma Pustaka Antara, 1950.

81.

Di Dalam Lembah Kehidupan (kumpulan cerpen), Jakarta: Balai Pustaka, 1958.

82.

Di Bawah Lindungan Ka'bah, cet. 7, Jakarta: Balai Pustaka, 1957.

83.

Tuan Direktur, Jakarta: Jayamurni, 1961.

84.

Dijemput Mamaknya, cet. 3, Jakarta: Mega Bookstrore, 1962.

85.

Cermin Kehidupan, Jakarta: Mega Bookstrore, 1962.

15

86.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, cet. 13, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

87.

Pembela Islam (Tarikh Sayyidina Abubakar Shiddiq), Medan: Pustaka Nasional, 1929.

88.

Ringkasan Tarikh Ummat Islam, Medan: Pustaka Nasional,1929.

89.

Sejarah Islam di Sumatera, Medan: Pustaka Nasional, 1950.

90.

Dari Perbendaharaan Lama, Medan: M. Arbi, 1963.

91.

Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao, cet. 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.

92.

Sejarah Umat Islam, 4 Jilid, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

93.

Sullam al-Wushul; Pengantar Ushul Fiqih (terjemahan karya Dr. H. Abdul Karim
Amrullah), Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.

94.

Margaretta Gauthier (terjemahan karya Alexandre Dumas), cet. 7, Jakarta: Bulan


Bintang, 1975.

AKTIVITAS KEAGAMAAN
Setelah peristiwa 1965 dan berdirinya pemerintahan Orde Baru, HAMKA
secara total berperan sebagai ulama. Ia meninggalkan dunia politik dan sastra.
Tulisan-tulisannya di Panji Masyarakat sudah merefleksikannya sebagai seorang
ulama, dan ini bisa dibaca pada rubrik Dari Hati Ke Hati yang sangat bagus
penuturannya. Keulamaan HAMKA lebih menonjol lagi ketika dia menjadi ketua MUI
pertama tahun 1975.
HAMKA dikenal sebagai seorang moderat. Tidak pernah beliau mengeluarkan
kata-kata keras, apalagi kasar dalam komunikasinya. Beliau lebih suka memilih
menulis roman atau cerpen dalam menyampaikan pesan-pesan moral Islam.
Ada satu yang sangat menarik dari Buya HAMKA, yaitu keteguhannya
memegang

prinsip

yang

diyakini.

Inilah

yang

membuat

semua

orang

menyeganinya. Sikap independennya itu sungguh bukan hal yang baru bagi HAMKA.
Pada zamam pemerintah Soekarno, HAMKA berani mengeluarkan fatwa haram
menikah lagi bagi Presiden Soekarno. Otomatis fatwa itu membuat sang Presiden
berang kebakaran jenggot. Tidak hanya berhenti di situ saja, HAMKA juga terusterusan mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI waktu itu. Maka, wajar saja
kalau akhirnya dia dijebloskan ke penjara oleh Soekarno. Bahkan majalah yang
dibentuknya Panji Masyarat pernah dibredel Soekarno karena menerbitkan tulisan
Bung Hatta yang berjudul Demokrasi Kita yang terkenal itu. Tulisan itu berisi
kritikan tajam terhadap konsep Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno.
Ketika tidak lagi disibukkan dengan urusan-urusan politik, hari-hari HAMKA lebih
banyak diisi dengan kuliah subuh di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan.
16

KESIMPULAN
Nama lengkap beliau adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, tetapi orang
menyebutnya dengan Buya Hamka. Lahir di Maninijau, Sumatra Barat, senin 16
Februari 1980. Putra seorang tokoh seorang pembaharu dari Minangkabau, Doktor
Haji Abdul Karim Amrullah melekat setelah beliau untuk pertama kalinya naik haji
ke Mekkah pada tahun 1927.
Belakangan

ia

diberikan

sebutan

Buya,

yaitu

panggilan

buat

orang

Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti
ayah kami, atau seseorang yang dihormati. HAMKA (1908-1981), adalah akronim
kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah.
Sosok HAMKA selain sebagai ulama, beliau juga seorang pemikir. Diantara
buah pemikiran beliau tentang gagasan pendidikan, baginya pendidikan adalah
sarana mendidik watak pribadi-pribadi. Kelahiran manusia di bumi ini tak hanya
mengenal apa yang dimaksud dengan baik dan buruk, tapi juga selain beribadah
kepada Allah, juga berguna bagi sesama dan alam lingkungannya. Karena itu
bagaimana pun kehebatan sistem pendidika moderen, menurut HAMKA tak bisa
lepas begitu saja tanpa diimbang dengan pendidikan agama. Dan salah satu
pemikiran pendidikan beliau yang mendorong pendidikan agama masuk kurikulum
sekolah.

Bahkan,

HAMKA

lebih

maju

lagi,

agar

ada

asrama-asrama

yang

menampung anak-anak sekolah.


Pada tanggal 24 Juli 1981, HAMKA telah berpulang ke rahmatullah. Jasa dan
pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam agama Islam. Beliau bukan saja
diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di Negara kelahirannya,
17

bahkan jasanya di seantero Nusantara, termasuk Malaysia, Singapura, turut


dihargai.

18