Anda di halaman 1dari 7

NAMA : FITRIA NURJANNAH

KELAS : XII IPA 3


NO ABSEN : 12

PERKEMBANGAN PERS INDONESIA

1. Jaman Penjajahan Belanda

• . Era Kolonial

Era kolonial memiliki batasan hingga akhir abad 19. Pada mulanya
pemerintahan kolonial Belanda menerbitkan surat kabar berbahsa belanda
kemudian masyarakat Indo Raya dan Cian juga menerbitkan suratkabar dalam
bahasa Belanda, Cina dan bahasa daerah.

Dalam era ini dapat diketahui bahwa Bataviasche Nuvelles en politique


Raisonnementen yang terbit pada Agustus 1744 di Batavia (Jakarta) merupakan
surat kabar pertama di Indonesia. Namun pada Juni 1776 surat kabar ini dibredel.
Sampai pertengahan abad 19, setidaknya ada 30 surat kabar yang dterbitkan
dalam bahasa Belanda, 27 suratkabar berbahasa Indonesia dan satu surat kabar
berbahasa Jawa.

• Era perjuangan kaum nasionalis

Era perjuangan Nasionalis berawal dari awal abad dua puluh hingga
tahun 1942. Pada era ini lahir suratkabar yang dibiayai, disunting dan diterbitkan
oleh etnis Indonesia, yakni surat kabar Medan Prijaji.

Karena mulai tahun 1908 muncul organisasi kebagsaan Indonesia maka


pers Indonesia mulia mengelompokkan diri sesuai dengan aliran politik dan
kecenderungan organisasinya.

Hingga menjelang berakhirnya masa kekuasaan kolonial, terdapat 33


suratkabar dan majalah berbahasa Indonesia dengan tiras keseluruhan sekitar
47.000 eksemplar.
Dalam era ini juga tercatat bahwa 27 surat kabar kaum nasionalis
dibreidel pemerintah pada tahun 1936 karena adanya ordonansi pers untuk
membatasi kebangkitan gerakan nasionalis.

Analisa Data

Tujuan : kemerdekaan Indonesia

Fungsi : pendorong bangsa Indonesia dalam perjuangan memperbaiki nasib dan


kedudukan bangsa

Peran : Menyuarakan kepedihan, penderitaan, dan merupakan refleksi dari isi hati
bangsa terjajah

Control pemerintah : Kitab Undang – Undang Hukum Pidana, artikel 153 bis dan
ter. dan artikel 154 KUHP, Persibrediel Ordonantie (Hak
untuk menghentikan penerbitan surat kabar atau majalah
Indonesia ), Haatzai Artikelen ( peraturan tentang hukuman
terhadap siapapun yang menyebarkan permusuhan, kebencian
serta penghinaan kepada pemerintah Belanda atau kelompok
penduduk di Hindia Belanda)

2. Jaman Penjajahan Jepang ( masa transisi pertama)

Era ini berlangsung dari 1942 hingga 1945, yakni selama penjajahan
Jepang. Selam periode ini situasi politik Indonesia mengalami perubahan yang
radikal. Dalam era ini juga pers Indonesia belajar tentang kemapuan media massa
sebagi alat mobilisasi massa untuk tujuan tertentu. Pada era ini pers Indonesia
mengalami kemajuan dalam hal teknis namun juga mulai diberlakukannya izin
penerbitan pers.

Dalam masa ini surat kabar berbahasa Belanda diberangus dan beberaoa
surat kabar baru diterbitkan meskipun dikontrol ketata oleh Jepang. Selian itu
Jepang juga mendirikan Jawa Shinbun Kai dan cabang kantor berita Domei
dengan menggabungkan dua kantor berita yang ada di Indonesia yakni Aneta dan
Antara.
Analisa Data

Tujuan : Kemerdekaan Indonesia

Fungsi : Mendukung kepentingan Jepang (dipaksa)

Peran : Sebagai alat untuk merebut kekuasaan Jepang

Control pemerintah : Pers Nasional dipaksa bergabung dengan Jepang

3. Revolusi Kemerdekaan

Era ini berlangsung dari 1945-1957. Setelah terkena euphoria


kemerdekaan terjadilah persaingan keras antara kekuatan politik sehingga pers
Indonesia mengalami perubahan sifat dari pers perjuangan menjadi pers partisan.
Pers pada era ini sekedar menjadi corong partai politik.

Ada tiga jenis suratkabar dalam era ini yakni, surat kabar republikein
yang mengobarkan aksi kemerdekaan dan semangat anti Jepang, surat kabar
belanda, dan surat kabar Cina.

Analisa Data

Tujuan : Mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berhasil diraih pada tanggal


14 Agustus 1945

Fungsi : Sebagai corong partai politik

Control pemerintah : Dibentuknya Dewan Pers.

4. Orde Lama

Era ini berlangsung dari tahun 1957 hingga 1965. Sepanjang periode ini
dan diberlakukannya Undang-Undang Darurat Peranag pers diperintahkan oleh
presiden Soekarno agar setia kepada ideologi nasakom serta pemanfaatan surat
kabar untuk memobilisasi rakyat.

Analisa Data

Peran : menyalurkan aspirasi meskipun dibatasi

Fungsi : Mendukung politik pemerintah (dipaksa)


5. Orde Baru

• Masa transisi kedua

Masa ini berlangsung pada tahun 1965 hingga 1974. Pada awal
pemerintahan Orde baru ini, pers mendapatkan ruang yang cukup bebas.
Meskipun demikian pada tahun 1970, pemerintah mulai campur tangan dalam
pemilihan ketua Persatuan Wartawan Indonesia

• Era bisnis pers

Era ini berlangsung dari tahun 1974 hingga 1988. Pembredelan media
massa yang terjadi setelah peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari),
mengakibatkan pers yang tadinya lantang menjadai tiarap. Pers Indonesia
semakin bisa dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah setelah sebagian surat
kabar dilarang terbit.

Pada Era ini juga pemerintahan Orde Baru berhasil meningkatakan


pertumbuhan ekonlomi yang berimbas pada semakin terbukanya pasar bagi
ssuarat kabar. Hanya saja sebagian besar pers yang dapat mengembangkan
bisnisnya harus berhati-hati dalam mengutarakan pandangan politik agar tidak
bertentangan dengan penguasa.

• Masa transisi ketiga.

Era ini terjadi pada akhir tahun 1980an dimana situasi politik mulai
berubah. Faktor yang melatarbelakangi perubahan ini antara lain adalah
kenyataan bahwa Soeharto akan mencapai usia 70 tahun dalam 1991 sehingga
muncul perkiraan bahwa perubahan di rezim orde baru hanya soal waktu. Namun
tak ada yang berubah dalam kebijakan pers karean lembaga SIUPP yang
mengontrol pers dengan ketat tidak dihapus.

Pers dimata negara memiliki peranan sebagai pendorong kesatuan


nasional dan pembangunan sambil menrapkan system perijinan. Pemerintah juga
tidak menjamin dengn tegas kebebasan pers di Indoensia, hal ini terbukti dengan
kontrol ketat pemerintah dengan mendirikan dewan pers dan PWI, selain itu
pemerintah juga ikut campur tangan dalam keredaksian.
Dalam pemerintahan Orde Baru ini setidaknya ada tiga macam cara
yang digunakan wartawan untuk menghindari peringatan dan atau pembredeilan
dari pemrintah, yakni eufimisme, jurnalisme rekaman dan jurnalisme amplop.

Teknik eufeumisme adalah teknik mengungkapkan fakta secara tersirat


bukan tersurat. Penggunaan kata-kata ini adalah upaya meringankan akibat politik
dari suatu pemberitaan.. Fakta dalam sebuah berita berbahaya senantiasa ditup
oleh pers dengan ungkapan yang sopan.

Analisa Data

Fungsi : Sebagai penyebar informasi, penyalur aspirasi, control sosial

Control pemerintah : Pers diatur dan dikontrol seperti halnya dengan organisasi
massa dan partai politik

6. Reformasi

Seperti biasa, setiap kali suatu rezim tumbang, disitulah pers menikmati
masa bulan madu. Kelahiran orde reformasi sejak pukul 12.00 siang, kamis 21
Mei 1998 setelah Suharto menyerahkan jabatan presiden kepada wakilnya B.J.
Habibie, disambut dengan suka cita. Terjadilah euphoria di mana-mana.
Kebebasan jurnalistik berubah secar drastic menjadi kemerdekaan jurnalistik,
Departemen Penerangan sebagaai malaikat pencabut nyawa pers, dengan serta
mertadibubarkan.

Secara yuridis, UU Pokok Pers No.21/1982 pun diganti dengan UU


pokok pers No.40/1999. dengan undang-undang dan pemerintahan baru, siapa
pun bisa menerbitan dan mengelola pers. Siapa pun bisa mnejadi wartawan dan
masuk dalam organisasi pers mana pun. Tak ada lagi kewajiban hanya menginduk
kepada satu organisasi pers. Seperti ditegaskan Pasal 9 Ayat (1) UU Pokok Pers
No.40/1999, setiap warga negara indonewsia dan negara berhak mendirikan
perusahaan pers. Pada pasal yang sams ayat berikutnya 92) ditegaskan lagi, setiap
perusahaan pers harus berbentuk badan hukum indonesia.

Dalam era reformasi, kemerdekaan pers benar-benra dijamin dan


senantiasa diperjuangkan untuk diwujudkan. Semua komponen bangsa memilki
komitmen yang sama: pers harus hidup dan merdeka. Hidup menurut kaidah
manajamen dan perusahaan sebagai lembaga ekonomi. Merdeka menurut kaidah
demokrasi, hak asasi manusia, dan tentu saja supemasi hukum.

Analisa Data

Tujuan : Mendukung pemerintahan dalam era perbaikan

Peran : a. Memberi informasi kepada masyarakat

b. Menegakkan nilai –nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya


supremasi hukum, dan hak asasi manusia serta menghormati
kebhinekaan.

c. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat


dan benar

d. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang


berkaiytan dengan kepentingan umum

e. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran


KELOMPOK GLOBALISASI
1. Skeptis
kalangan skeptis yang antara lain diwakili Hirst dan Thompson menyatakan,
globalisasi secara esensial adalah mitos yang menyembunyikan adanya
kenyataan bahwa ekonomi internasional semakin terbagi ke dalam tiga
kelompok regional utama di mana pemerintah nasional masih memiliki
kekuatan.
2. Hiperglobalis
Ohmae yang merupakan hiperglobalis mendefinisikan globalisasi dewasa ini
sebagai era baru di mana orang-orang di manapun semakin tunduk kepada
disiplin pasar bebas
3. Transformasionalis
Kaum transformasionalis yang diwakili Rosenau dan Giddens berpendapat,
pola globalisasi dewasa ini diterima sebagai sesuatu yang belum pernah
terjadi dalam sejarah, yang mana negara dan masyarakat yang melintasi dunia
sedang mencoba proses perubahan di mana mereka mencoba untuk
beradaptasi kepada dunia yang lebih saling terhubung namun penuh
ketidakpastian.