Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Penelitian UNRAM, Februari 2014

ISSN 0854 - 0098

Vol.18 No. 1

PERAN PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN SAMPAH


RUMAH TANGGA BERBASIS PROGRAM 4P DI WILAYAH
PESISIR DESA LABUHAN HAJI - LOMBOK TIMUR
THE ROLE OF WOMEN IN DOMESTIC WASTE MANAGEMENT BASED
ON 4PPROGRAM AT COASTAL REGION
LABUHAN HAJI VILLAGE- EAST LOMBOK
Lolita Endang Susilowati
PS Agroekoteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian
Universitas Mataram Jl. Majapahit 62 Mataram 83125 telp (0370) 621435
Email : lolitaabas@yahoo.com
ABSTRAK
Sampah rumah tangga sangat erat kaitannya dengan kebersihan, kesehatan, keindahan
dan keamanan. Perempuan memiliki peranan besar terhadap pengelolaan kebersihan dan
sampah, sebagaimana budaya kita yang menyebutkan bahwa pekerjaan bersih-bersih
adalah urusan perempuan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsi peran perempuan dalam
pengelolaan sampah rumah tangga berbasis program 4 P (pemilahan-pengolahanpemanfaatan-pembuangan residu). Penelitian kualitatif dengan metode penelitian deskriptif
dilakukan di kampung Mandar dengan jumlah respondent 15 orang. Pengambilan sampel
menggunakan dengan metode purposive sampling . Responden adalah wanita menikah
berumur 17- 50 tahun dan sebagai ibu rumah tangga. Hasil kajian menunjukkan bahwa
rerata timbulan sampah rumah tangga yang dihasilkan mencapai sekitar 0,5 kg/orang/hari
dengan komposisi 80,21% berupa sampah organik dan sisanya berupa sampah anorganik,
seperti plastik, kayu, pecahan kaca, kaleng dan lain-lain. Status sosial ekonomi perempuan
di wilayah tersebut relatif rendah baik dari segi pendidikan, pendapatan maupun jenis
pekerjaan. Sebagian besar perempuan belum penerapkan program 4P. Pemisahan sampah
hanya dilakukan untuk tujuan dijual. Semakin tinggi status sosial ekonomi perempuan, maka
mereka semakin baik dalam pengelolaan sampahnya. Dalam kesimpulannya, peran ibu
rumah tangga, dalam mengelola sampah rumah tangga berbasis program 4P belum terlihat
secara sempurna. Karena itu, pendidikan dan pelatihan yang terstruktur mengenai program
tersebut diperlukan untuk membangun perilaku baik meraka dalam pengelolaan sampah.
Kata kunci: Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, Program 4P, Perempuan.

ABSTR ACT
Domestic waste is closely associated with cleanliness, health, aesthetics and safety.
Women are responsible for all of these . The purpose of this study was to describe the
womens role in the domestic waste management based on the 4 P program (sorting,
processing, utilizing and residue disposal). The descriptive research method was used in this
study. Survey was conducted to 15 respondents of the Mandar village by means of the
purposive sampling method. The respondents were housewife aged 17-50 years. The study
results showed that the average amount of the domestic waste produced was about
0.5kg/person/day. The waste composition was 85% of organic and the remaining was
plastics, glasses, cans and others. Women's social and economic status in the area is
relatively low in terms of education, income and occupation. Most women on this area had
not applied the 4P program. Waste sorting was only undertaken for the purpose of sale.

97

Jurnal Penelitian UNRAM, Februari 2014


ISSN 0854 - 0098

Vol.18 No. 1

The higher the social-economic status of women, the better the manage waste. In
conclusion, the role of the housewife in managing domestic waste based on the 4 P
program has not been done perfectly.Therefore, structured education and training about the
program is needed to establish good behavior in waste management.
Key words: domestic waste management, 4P-Program, Women
PENDAHULUAN
Dalam Undang-undang RI No 18 tahun
2008 tentang pengelolaan sampah, definisi
sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari
manusia dan/atau proses alam yang
berbentuk padat. Batasan ini menyuratkan
bahwa setiap aktivitas manusia selalu
menghasilkan sisa kegiatan yang disebut
dengan sampah. Sebagai konsekuensinya
timbulan sampah akan terus meningkat
seiring dengan meningkatnya aktivitas
manusia dan pertambahan penduduk.
Karenanya permasalahan sampah dan
pengelolaannya kini menjadi persoalan yang
mencolok dan mendesak. Hal ini tidak saja
karena
terkait
dengan
perubahan
keseimbangan lingkungan yang berdampak
pada nilai estetika dan kesehatan manusia
akan tetapi juga menyangkut masalah
sosial-budaya masyarakat yang tidak/kurang
peduli terhadap sampah.
Cara pandang masyarakat yang salah
tentang
sampah
telah menyebabkan
rendahnya
tingkat
kesadaran
dan
kepedulian masyarakat untuk memecahlan
masalah persampahan. Budaya menyukai
buang sampah sembarangan nampaknya
telah menjadi bagian dari perilaku hidup
bagi kebanyakan masyarakat yang tidak
peduli
sampah
dan
cenderung
mementingkan diri sendiri. Cara pandang
yang salah ini boleh jadi merupakan salah
satu faktor penyebab banyaknya program
tentang penglolaan sampah yang tidak
berhasil. Merubah cara pandang masyarakat
tentang sampah dari anggapan sebagai
bahan yang tidak mempunyai manfaat
menjadi bermanfaat merupakan salah satu
bagian yang tidak terpisahkan dari upaya
pengelolaan sampah secara terpadu
(Trihadiningrum, 2008). Dalam UU no 18
Tahun 2008, yang dimaksud dengan
pengelolaan sampah rumah tangga adalah
kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan
berkesinambungan
yang
meliputi

pengurangan dan penanganan sampah


rumah tangga.
Permasalahan sampah di kawasan
pesisir sebagai jalur yang membatasi
daratan dengan laut dengan lebar bervariasi
menjadi persoalan yang cukup penting
mengingat pesisir sebagai muara dari
berbagai sungai dan drainase. Sampah
yang ditemui di kawasan pesisir sebagian
besar berasal dari aktivitas rumah tangga
(sampah-RT), sampah dari sungai dan
sampah kiriman yang terbawa oleh
arus/gelombang laut. Upaya membangun
kesadaran masyarakat hingga membangun
sistem pengelolaan sampah terus dilakukan
dengan harapan sampah menjadi sumber
bahan baku yang dapat dimanfaatkan
kembali dan memberikan nilai tambah bagi
ekonomi masyarakat pesisir.
Paradigma lama pengelolaan sampah
dengan pendekatan kumpul angkut
buang ke TPA sampah sudah saatnya
ditinggalkan.
Paradigma
baru
sesuai
Undang Undang No 18 tahun 2008,
memandang sampah sebagai sumberdaya
yang dapat dimanfaatkan dan mempunyai
nilai ekonomi, sehingga komponen sampah
yang akan dibuang adalah bagian yang
benar-benar
sudah
tidak
dapat
dimanfaatkan.
Pengelolaan
sampah
dilakukan dengan pendekatan terpadu mulai
dari hulu, sejak sebelum dihasilkan produk
yang berpotensi menjadi sampah, sampai ke
hilir yaitu pada fase produk sesudah
digunakan sehingga menjadi sampah, yang
kemudian dikembalikan secara aman ke
media lingkungan. Konsep ini biasa disebut
dengan 3 R yaitu Reduce Reuse Recycle
(Peraturan Menteri Pekerjaaan Umum no
21/PRT/M/2006), dengan menggunakan
paradigma baru pengelolaan sampah
berbasis program 4P yaitu pemilahanpengolahan-pemanfaatan-pembuangan
residu.
Sampah yang bersumber dari aktivitas
rumah tangga (sampah-RT) umumnya terdiri

98

Jurnal Penelitian UNRAM, Februari 2014


ISSN 0854 - 0098

atas sampah organik (minimal 75%) dan


sisanya sampah anorganik (Harningsih,
2010). Sampah anorganik seperti plastik,
kaca, kain dan logam tidak dapat diolah
dengan
cara
pemanfaatkan
aktifitas
mikroorganisme,
sehingga
sampah
anorganik juga disebut sebagai nonbiodegradable waste. Beberapa jenis
sampah yang termasuk organik atau
biodegradable waste adalah sisa makanan,
tumbuhan, hewan dan kertas.
Terkait dengan timbulan sampah-RT,
peran perempuan menjadi substansial,
karena pada tingkat aktivitas domestik
perempuan (ibu rumah tangga) merupakan
anggota keluarga yang paling banyak
bersentuhan dengan limbah rumah tangga
(Mawati, 1999; PPLH, 2006) . Hal ini
tentunya tidak terlepas dari budaya yang
menyatakan
bahwa
pekerjaan
yang
berkaitan dengan kebersihan, kesehatan
dan keindahan baik di dalam dan di luar
rumah
adalah
urusan
perempuan.
Semantara, perhatian pemerintah pada
kasus persampahan cenderung lebih
memperhatikan pada masalah pemulung,
estetika lingkungan, tempat pembuangan
sampah, dan pencemaran. Sentuhan
terhadap
perempuan
terkait
dengan
permasalahan sampah belum mendapatkan
perhatian yang proposional. Perempuan
hanya dianggap sebagai objek, sebagai
pemakai bahan-bahan konsumsi rumah
tangga, tanpa diberi pengetahuan tentang
bahaya dari sisa kegiatannya terhadap
dirinya, keluarga dan lingkungannya.
Berdasarkan pada uraian di atas, maka
dapat dipertanyakan bagaimana peran
perempuan dalam pengelolaan sampah-RT
dan faktor internal apa saja yang
mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan
mendeskripsi peran perempuan dalam
pengelolaan sampah rumah tangga berbasis
program
pemilahan-pengolahanpemanfaatan-pembuangan residu (4P).
Manfaat dari kegiatan ini diharapkan dapat
menjadi acuan dan
rujukan dalam
menempatkan perempuan sebagai potensi
alternatif penyelesaian masalah sampah
yang mengarah pada perolehan keuntungan
sosial-ekonomi.

Vol.18 No. 1

METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan paradigma
kualitatif dengan pendekatan metode
penelitian deskriptif. Penggunaan metode
deskriptif dimaksudkan untuk memberikan
gambaran yang jelas, menyeluruh dan utuh
terhadap situasi sosial yang diteliti
(Rahardjo, 2010), sehingga penelitian
kualitatif ini mampu memberikan informasiinformasi yang dapat menggambarkan
situasi nyata untuk mencapai tujuan dalam
mencari esensi makna di balik fenomena
kondisi persampahan di desa Labuhan Haji.
Dalam mengidentifikasi faktor- faktor
tersebut dilakukan survei dan pengambilan
sampel dilakukan dengan metode purposive
sampling yang diberikan kepada 15
responden dari kampung Mandar. Penelitian
ini diawali dengan penggalian informasi
informasi tentang bentuk-bentuk perilaku
dan faktor pembentuk perilaku perempuan
dalam mengelola sampah melalui observasi
lapangan. Dalam proses observasi, peneliti
melakukan
wawancara
yang
bersifat
mendalam untuk memperoleh makna yang
utuh dari sebuah informasi dan mengambil
dokumentasi terhadap kondisi yang terkait
dengan informasi yang diberikan oleh
informan atau narasumber.
Data Penelitian
Objek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kampung
Mandar Desa Labuhan Haji-Kabupaten
Lombok Timur pada bulan Oktober 2011.
Penelitian ini lebih difokuskan pada
pengamatan dan wawancara kepada
perempuan (ibu rumah tangga) kampung
Mandar. Kriteria perempuan yang dimaksud
adalah ibu rumah tangga yang telah tinggal
di daerah tersebut lebih dari 5 (lima) tahun
atau perempuan asli dari desa Labuhan
Haji, dan termasuk dalam golongan usia
produktif ( umur 17- 50 tahun), telah
menikah dan sebagai ibu rumah tangga..
Teknik Pengumpulan Data
Data
yang
dikumpulkan
dalam
penelitian ini berupa data primer dan data
sekunder. Menurut Rahardjo (2011) data
primer merupakan data yang didapat dari
sumber pertama, sedangkan data sekunder
merupakan data primer yang diperoleh

99

Jurnal Penelitian UNRAM, Februari 2014


ISSN 0854 - 0098

orang lain atau data primer yang telah diolah


lebih lanjut dan disajikan baik oleh
pengumpul data primer atau oleh pihak lain
yang pada umumnya disajikan dalam bentuk
tabel-tabel atau diagram-diagram. Dalam
pengertian lain, data primer juga dapat
dikatakan sebagai data pokok penelitian,
sedangkan data sekunder adalah data
tambahan yang berguna untuk melengkapi
data primer.
Teknik pengambilan data primer dan
sekunder dilakukan dengan observasi,
wawancara dan dokumentasi.
1) Observasi pasif, yaitu pengamatan dan
pencatatan secara sistematis terhadap
gejala atau fenomena yang terkait dengan
perilaku perempuan dalam mengelola
sampah serta kondisi lingkungan yang
meliputi kondisi fisik lingkungan, sosial dan
budaya, dengan cara datang ke tempat
kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak ikut
terlibat dalam kegiatan tersebut.
2) Wawancara semi terstruktur dan
mendalam untuk memperoleh data atau
informasi secara langsung dengan tatap
muka
melalui
komunikasi
verbal.
Wawancara dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan yang sebelumnya telah peneliti
persiapkan secara garis besar, dengan
acuan permasalahan sampah-RT dari
timbulan, pewadahan, pengangkutan dan
pemusnahan di dalam kerangka bentuk
perilaku pengelolaan sampah-RT.
Peubah dan Parameter Penelitian
Peubah dan parameter yang diamati
meliputi: faktor-faktor lingkungan dalam
aspek fisik, sosial dan budaya sebagai
pembentuk
perilaku
individu
dalam
mengelola sampah RT.
1) Timbulan sampah (observasi)
2) Tempat dan tanggal lahir responden
untuk
mengetahui
daerah
asal
responden (wawancara)
3) Umur responden untuk mengetahui
kelompok usia (wawancara)
4) Pekerjaan sampingan responden, seperti
berjualan sayur, warung kopi atau
lainnya. Pekerjaan

Vol.18 No. 1

sampingan dapat menambah jumlah


sampah-RT (wawancara)
5)
Pendidikan
responden
untuk
mencocokkan pendapat umum bahwa
tingkat pendidikan
berpengaruh
terhadap
kesadaran
kebersihan lingkungan (wawancara).
6) Jumlah keluarga (wawancara)
7)
Proses penanganan sampah di
lingkungan
responden
(wawancara,
observasi).
8)
Penegakan
awik-awik
tentang
persampahan (dokumen)
9) Pola pembinaan pemerintah (dokumen)
10) Data penghasilan (dokumen)
Menganalisis bentuk-bentuk perilaku
individu dalam mengelola sampah-RT, mulai
dari timbulan, pewadahan, pengangkutan
sampai dengan pemusnahan.
1) Deskripsi perempuan dalam mengelola
sampah yang meliputi:
a) Peran perempuan dalam mengurangi
timbulan sampah (wawancara).
b) pola pewadahan dan pemilahan
sampah individu
(observasi,wawancara).
c) Motivasi masyarakat untuk
mengnangkut sampah ke
enampungan komunal (wawncara)
d) Pemusnahan sampah oleh
masyarakat (observasi, wawancara
2) Peran Perempuan (ibu Rumah Tangga)
Dalam Mengelola Sampah

HASIL DAN PEMBAHASAN


Aspek Sosial Responden
Gambaran mengenai aspek sosial
responden ditunjukkan dalam grafik di
bawah ini. Aspek sosial merupakan salah
satu aspek penting dalam pengelolaan
sampah-RT, karena hal ini menyangkut
sumberdaya manusia yang dinamis dalam
menjalankan kehidupannya. Pengelolaan
sampah-RT pada hakekatnya bersumber
dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk
masyarakat dalam memujudkan kehidupan
yang bersih, sehat, indah dan aman.

100

90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

Vol.18 No. 1

Jumlah Responden (orang)

Timbulan Sampah (%)

Jurnal Penelitian UNRAM, Februari 2014


ISSN 0854 - 0098

12
10
8
6
4
2
0

Sampah
organik

Sampah
botol plastik

Sampah
Sampah
plastik kaca, kaleng
bungkus

Gambar 1. Komposisi Timbulan Sampah

Gambar 3. Kelompok Umur Resonden

Di luar desa Labuhan Haji

Di desa Labuhan Haji

Gambar 2. Tempat Lahir Responden

Gambar 4 . Pekerjaan Responden

101

Jurnal Penelitian UNRAM, Februari 2014


ISSN 0854 - 0098

Deskripsi Perilaku Perempuan (Ibu


Rumah Tangga) dalam Mengelola
Sampah-RT
Timbulan Sampah
Timbulan sampah baik dalam ukuran
volume dan keberadaan sampah yang
berserakan menggambarkan tidak adanya
pengelolaan sampah yang dilakukan oleh
warga. Hasil observasi menunjukkan bahwa
timbulan sampah ditemukan di mana-mana
seperti di selokan sekitar pemukiman, di
selokan sekitar pesisir, di lahan terbuka
sekitar makam (kuburan) atau di tepian
sungai. Sampah juga banyak ditemukan di
pesisir pantai yang boleh jadi tidak saja
berasal dari pemukiman setempat tepi juga
berasal dari sampah kiriman yang hayut
oleh air sungai dan terlonggok di pesisir
pantai. Bagi warga yang memiliki tipikal
rumah panggung, umumnya sampah
anorganik (rata-rata volume mencapai 19,79
%) seperti sampah kertas/plastik bungkus
makanan, botol plastik, botol minuman dari
kaca/ kaleng, serta ember plastik yang
pecah dibuang begitu saja di kolong rumah
panggungnya. Sementara, pembersihan
sampah yang terkumpul di kolong rumah
hanya dilakukan sewaktu-waktu yakni ketika
sedang mulcul keinginanya
untuk
membersihkan atau karena akan ada suatu
kegiatan yang mengharuskan pembersihan.
Alasan
mereka
tidak
mengerjakan
membersihan secara rutin karena kesulitan
dalam pembersihan akibat ketinggian kolong
rumah tidak memungkinkan ukuran tubuh
manusia untuk memasukinya.
Dari deskripsi tentang timbulan sampah
tersebut di atas menggambarkan bahwa ibu
rumah tangga belum banyak berperan
dalam mengelola sampah. Mereka condong
memiliki perilaku membuang sampah
sembarangan. Hanya sebagian kecil saja
ibu RT yang respek terhadap kebersihan
dan kelompok ini umumnya mewadahi
sampah yang dihasilkannya.
Pewadahan
Pewadahan sampah adalah usaha
yang dilakukan oleh setiap orang dalam
mengumpulkan sampah yang dihasilkannya
sebelum dibuang atau dimusnahkan. Terkait
dengan aktivitas pewadahan sampah,
sebagian
besar
rumah-tangga
tidak
menyediakan
tempat
sampah
untuk

Vol.18 No. 1

mewadahi sampah yang dihasilkannya.


Mereka secara umum membuang sampah
langsung keluar rumah, dengan alasan akan
habis dimakan oleh anjing dan/atau ayam
peliharaannya. Hanya sebagian kecil dari
ibu rumah tangga yang telah mewadahi
sampahnya ke dalam tempat sampah atau
kantong plastik untuk selanjutnya dilakukan
proses pembuangan atau pemusnahan
sampah.
Terkait dengan pekerjaan mewadahi
sampah, tidak semua kelompok yang telah
melakukan pewadahan memilahkan antara
sampah organik (seperti sisa makanan, sisa
bahan sayuran dan buah dan sisa olahan
pangan) dan sampah anorganik. Pemilihan
pewadahan sampah umumnya hanya
dilakukan pada sampah anorganik yang
masih dapat dijual seperti sampah botol
plastik bekas tempat minum.
Pengangkutan
Pengangkutan sampah adalah proses
pemindahan
sampah
yang
telah
dihasilkannya ke tempat pengumpulan
sampah atau ke tempat pemusnahan
sampah. Aktivitas pengangkutan sampah
yang dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga
di kampung Mandar umumnya dilakukan
dengan cara melempar sampah yang telah
diwadahi ke lahan terbuka sekitar makam
atau dibuang ke pesisir pantai atau ke
sungai. Untuk warga yang memilki
pekarangan umumnya sampah diangkut ke
pekarangan rumahnya untuk dibuang atau
dikumpulkan
yang
selanjutnya
dimusnahkan.
Pemusnahan
Pemusnahan sampah dimasudkan
untuk menghilangkan material sampah
menjadi bahan yang tidak berbahaya atau
mengganggu. Aktivitas pemusnahan yang
banyak dilakukan oleh warga adalah dengan
membakar sampah terutama pada cuaca
panas atau pada musim penghujan yang
dilakukan saat dalam seminggu hujan tidak
turun. Cara pemusnahan lainnya yaitu
dengan menghanyutkan sampah ke sungai,
khususnya pada saat aliran air sungai
terlihat deras.

102

Jurnal Penelitian UNRAM, Februari 2014


ISSN 0854 - 0098

Peran Perempuan (ibu Rumah Tangga)


Dalam Mengelola Sampah
Berdasarkan
hasil
survei
dapat
diketahui bahwa ibu-ibu rumah tangga di
kampung Mandar sebagian besar belum
banyak berperan dalam mengelola sampahRT-nya. Hal ini ditunjukkan oleh perilaku ibuibu RT yang kurang perhatian terhadap
kegiatan
pengumpulan
pemisahan,
pemanfaatan dan pemusnahan sampah-RT,
yangmana kegiatan tersebut merupakan
bentuk
implementasi
dari
konsep
pengelolaan sampah 3 R (reduce, reuse dan
recycle) (Peraturan Menteri Pekerjaaan
Umum no 21/PRT/M/2006).
Dari analisis faktor pembentuk perilaku
individu dapat diketahui bahwa beberapa
faktor ekternal yang meliputi aspek fisik,
sosial dan budaya sangat menentukan
tingkat rendahnya peran ibu RT dalam
mengelola sampah di Kampung Mandar.
Aspek fisik lingkungan tersebut seperti 1)
letak kampung Mandar yang berlokasi di
wilayah pesisir pantai labuhan haji,
menyebabkan warga dengan mudah
melonggokkan sampah-RTnya di ruangruang terbuka, di kebun-kebun kelapa, di
selokan yang terletak di wilayah pesisir.
Mereka seringkali menganggap wilayah
pesisir pantai sebagai tempat pembuangan
sampah yang gratis, murah dan mudah
(praktis). Hal ini selain disebabkan tingginya
tingkat kemiskinan masyarakat, rendahnya
pendidikan, tingkat kesehatan yang tidak
memadai, juga kurangnya informasi tentang
kebersihan lingkungan, telah menyebabkan
wilayah pesisir menjadi keranjang sampah
2) Ketidaktersediaan sarana prasarana
persampahan baik yang bersifat individu
atau komunal. Sarana persampahan yang
disediakan oleh individu hanya tempat
sampah, sedangkan secara komunal hanya
lokasi tempat pembakaran sampah yang
tersedia di lahan terbuka sekitar makam
(kuburan).
Aspek sosial yang mempengaruhi
rendahya peran ibu rumah tangga dalam
mengelolan sampah antara lain 1)
rendahnya motivasi ibu rumah tangga untuk
melakukan pola pengelolaan sampah
secara tepat (pengelolaan sampah berbasis
3R) karena mereka memiliki bentuk perilaku
yang cenderung sama yaitu membuang

Vol.18 No. 1

sampah sembarangan. Dengan demikian


menyebabkan tidak adanya kontrol sosial
oleh indivudu atau kelompok yang memberi
tanggapan atas perilaku pengelolaan
sampah yang salah atau tidak tepat. 2)
Tingkat
pendidikan
responden
dan
pendapatan keluarga yang relatif rendah
juga menjadi salah satu faktor penghambat
bagi sebagian besar ibu rumah tangga untuk
memahami
pentingnya
pengolaahan
sampah
dalam
kaitannya
dengan
kebersihan dan kesehatan.
Aspek budaya yang membentuk
rendahnya peran ibu rumah tangga dalam
pengelolaan sampah antara lain: 1)
pandangan terhadap sampah sebagai
material
yang
harus
dibuang
dan
dimusnahkan masih melekat di sebagian
besar masyarakat di wilayah ini. Beberapa
ibu rumah tangga (ibu rumah tangga yang
berasal dari luar desa labuhan haji) yang
telah melakukan pewadahan sampah belum
dapat memberikan pandangan kepada ibu
rumah tangga yang lain untuk mengikuti
langkah positif tersebut. 2) Belum adanya
pembinaan pengelolaan sampah yang
efektif oleh pemerintahan desa apakah itu
dalam
bentuk
peraturan
(awik-awik)
persampahan
ataupun
pelatihan
pengelolaan sampah yang tepat.
Instrumen Sosial Untuk Membangun
Peran Perempuan (ibu Rumah Tangga)
Dalam Mengelola Sampah
Keberhasilan pengelolaan sampah
berbasis program 4P sebagai implimensai
dari konsep pengelohan sampah 3R sangat
ditentukan oleh peran dan partisipasi ibu
rumah tangga dalam mengelola sampah.
karena ibu rumah tangga merupakan
anggota keluarga baik secara langsung dan
tidak langung berhubungan dengan masalah
sampah di dalam dan di luar rumahnya.
Fong et al (1996) menjelaskan perempuan
memiliki peran ganda dalam mengelola
sampah
mulai
dari
pengumpulan,
pengangkutan,
pemanfaatan
dan
pembuangan, dan sekaligus perempuan
memberi manfaat yang lebih besar dari
sekedar mengelola sampah. Manfaat
dimaksud antara lain dalam hal 1)
pemberdayaan kaum perempuan terutama
yang
berkaitan
dengan
peningkatan
pendapatan ekonomi; 2) pendidikan dan

103

Jurnal Penelitian UNRAM, Februari 2014


ISSN 0854 - 0098

penyadaran kepada anak-anak terkait


dengan pentingnya kegiatan pengumpulan
sampah
dengan
cara
menyuruh,
menasehati, menjelaskan dan memberikan
contoh praktis.
Berdasarkan hasil survei diperoleh hasil
bahwa sebagian besar responden yang
berusia 30- 40 tahun (90%) dan
berpendidikan
SLTP/SD
memiliki
pengetahuan tentang persampahan yang
masih relatif rendah. Dalam pengelolaannya
sekitar 66 % responden tidak melalukan
pemisahan sampah dalam mengelola
sampahnya. Sementara hanya sekitar 7 %
responden yang melakukan pengumpulan
sampah yang masih bernilai ekonomi untuk
dijual, seperti sampah botol plastik, ember
plastik rusak, sedangkan sampah bungkus
makanan yang terbuat dari aluminium foil
dibiarkan terbuang.
Dari seluruh responden menyatakan
belum pernah mendapatkan pelatihan atau
penyuluhan mengenai persampahan, dan
90% dari responden antusias untuk
mengikuti pelatihan atau penyuluhan jika
diadakan. Karenanya itu, instrumen sosial
yang tepat untuk diaplikasikan adalah
pelatihan pengelolaan sampah bagi ibu
rumah tangga. Hal senada disarankan juga
oleh
Trihadiningrum
(2008)
dengan
mengungkapkan bahwa masyarakat perlu
diberikan
pemahaman tentang potensi
pemanfaaat sampah dan cara mengelolanya
guna meminimalsasi timbulan sampah
Pelatihan
yang
bertujuan
untuk
reorientasi pola pikir cukup tepat diberikan
mengingat permasalahan sampah ke depan
akan menjadi semakin krusial seiring
dengan meningkatnya jumlah penduduk dan
akativitas manusia. Berdasarkan hasil survei
diketahui bahwa sebagian besar ibu rumah
tangga relatif mudah untuk mengolah
informasi dengan cara melihat (visual) dan
dengan cara praktek langsung, bergerak,
bekerja
dan
menyentuh
(kinestatik).
Karenanya, metode pelatihan yang tepat
untuk dapat segera mencapai tujuan
pelatihan
yaitu
pelatihan
dengan
mengedepankan aspek belajar visual dan
kinestatik.

Vol.18 No. 1

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa selama ini peran perempuan (ibu
rumah tangga) di kampung Mandar dalam
pengelolaan sampah rumah tangga masih
relatif
rendah,
kesadaran
terhadap
kebersihan dan keindahan masih tergolong
rendah dengan kecederungan berperilaku
membuang sampah sembarangan.
Sebagian besar ibu rumah tangga tidak
melakukan pewadahan sampah baik dalam
tempat sampah ataupun kantong plastik.
Sebagian yang lain melakukan pemadahan
sampah khususnya untuk sampah sisa
aktivitas dapur yang dipersiapkan untuk
proses pengangkutan dan pemusnahan.
Sebagaian besar ibu rumah tangga belum
melakukan pemanfaatan ulang terhadap
sampah yang masih mempunyai potensi
nilai
ekonomi.
Paradigma
mengenai
persampahan yang berkembang di lokasi
penelitian masih pada kerangka pikir bahwa
sampah merupakan material yang tidak
mempuyai manfaat sehingga harus dibuang.
Pada lokasi penelitian, ibu rumah
tangga belum pernah memperoleh pelatihan
atau penyuluhan mengenai persampahan
yang menekankan pada konsep 3R melalui
pendekatan program pengelolaaan sampah
yang
diawali
dengan
kegiatan
pengumpulan-pengangkutan-pemanfaatan
dan pembuangan residu (4P).
Saran
Mengacu pada hasil penelitian, maka
untuk meningkatkan peran perempuan baik
sebagai subyek sekaligus obyek yang terkait
dengan kegiatan pengelolaan sampah-RT,
maka diperlukan :
1)
Kegiatan pelatihan pengelolaan
sampah yang tepat kepada ibu rumah
tangga.
2) Meningkatkan ketrampilan dan kreativitas
ibu rumah tangga dalam memanfaatkan
sampah-anorganik sebagai bahan baku
kerajinan tangan.
3)
Dibangun awik-awik yang mengatur
tentang persampahan di lokasi tersebut.
Ucapan Terimakasih
Kajian ini merupakan bagian dari
kegiatan sosialisasi dan implementasi

104

Jurnal Penelitian UNRAM, Februari 2014


ISSN 0854 - 0098

program PHBS-Rumah Tangga dan Sanitasi


Total Berbasis Masyarakat di desa Labuhan
Haji-Kabupaten Lombok Timur dengan
sumber dana dari Kementerian Kesehatan
RI
Badan
Pengembangan
dan
Pemberdayaan SDM Kesehatan- Pusat
Promkes. Untuk itu penulis menyampaiakan
terimakasih atas kerjasamanya.
DAFTAR PUSTAKA
Fong, Monica, Wendy Wakeman, and
Anjana Bhushan.1996. Toolkit on Gender in
Water and Sanitation. Gender Toolkit Series
No. 2. Washington, D.C.:World Bank.
Harningsih, T. 2010. Peran Gender Dalam
Menangani
Permasalahan
Sampah.
EGALITA. Vol 2 no2. UIN. Malang
.
KLH. 2008. Undang-Undang RI Nomor 18
Tahun
2008,
tentang
Pengelolaan
Sampah.
Kementrian Lingkungan Hidup
Republik Indonesia, Jakarta.

Vol.18 No. 1

Rahardjo,M,
2010.
Apakah
Metode
Penelitian Kualitatif Ilmiah &. Analisis Data
Penelitian
Kualitatif
http://www.mudjiarahardjo.com
diakses 10 Februari 2011.
Rahardjo,M, 2011. Metode Pengumpulan
Data Kualitatif
http://www.mudjiarahardjo.com Diakses 10
Juli 2011.
Trihadiningrum,Y. 2008. Perkembangan
Paradigma
Pengelolaan
Sampah
Kota
Dalam
Rangka
Pencapaian
Millenium
Development
Goals. Fakultas Teknik Sipil
dan
Perencanaan
.ITS.
Surabaya.
Diakses
10
Nopember 2011

Mawati,S. 1999. Partisipasi Ibu Rumah


Tangga
Dalam
Pengelolaan
Sampah Domestik di Kecamatan
Semarang
Tengah
Kodia
Semarang, Guna Menciptakan
Lingkungan
yang
Sehat.
Laporan Penelitian Dana DIK
Rutin Universitas Diponegoro.
Pusat penelitian Linglkungan
Hidup.
Lemlit
Universitas
Diponegoro. Semarang.
Kementeri Pekerjaan Umum. 2006. Permen
PU
nomor:
21/PRT/M/2006
tentang Kebijakan dan Strategi
Nasional Pengembangan Sistem
Pengelolaan
Persampahan
(KSNP-SPP).
Kementrian
Pekerjaan
Umum
Republik
Indonesia, Jakarta.
PPLH-Bali. 2006. Peran Perempuan dalam
Pengelolaan Sampah.
http://www.pplhbali.or.id/indo/artikel/nopemb
er/sanur.htm diakses 10 November 2011.

105

Anda mungkin juga menyukai