Anda di halaman 1dari 20

BLOK IKGT II

MODUL 3. ANTISEPTIK RONGGA MULUT

SEMESTER III
TAHUN AKADEMIK 2013/2014
Kelompok 5
1. Maria Andriani Surjanto
2. Ayub Didik Susanto
3. William Susanto
4. Almira Faizah
5. Emerald Navy Wilbarine
6. Aldo Alveno Dayasoeharso
7. Tiaranita Ramadhani
8. Annisa Mutiara P
9. Cindy Indah Permatasari
10. Dyah Lestarining Ratri
11. Ruth Rozawijayanti

2011.07.0.0059
2011.07.0.0036
2011.07.0.0025
2011.07.0.0040
2011.07.0.0019
2011.07.0.0082
2011.07.0.0041
2011.07.0.0053
2011.07.0.0056
2011.07.0.0068
2011.07.0.0063

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2013

KATA PENGANTAR

Page | 1

Pertama-tama, ucapan syukur kami sampaikan kepada Tuhan yang Maha


Esa, karena berkat dan rahmat-Nya makalai ini dapat kami selesaikan sesuai
dengan harapan kami.Didalam makalah ini, kami membahas tentang antiseptik
rongga mulut.
Makalah ini disusun dengan tujuan agar pembaca memahami bagaimana
pengobatan dan juga mekanisme dari infeksi bakteri yang ada.
Akhirnya kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua dosen lain
yang mendukung dan membantu proses penyelesaian makalah ini. Kami sangat
mengharapkan masukan dan kritik dari pembaca sehingga kami dapat
memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam makalah ini.
Surabaya, 12 Januari 2014

Kelompok Lima

Page | 2

DAFTAR ISI
Kata pengantar
Daftar isi

2
3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
1.2 BATASAN TOPIK
1.3 PETA KONSEP

4
4
5

BAB II PEMBAHASAN
2.1 ULSER
2.2 SAR
2.2.1 DEFINISI
2.2.2 JENIS / TIPE
2.2.3 ETIOLOGI
2.2.4 GAMBARAN KLINIS
2.2.5 FAKTOR PREDISPOSISI
2.3 BAKTERI RONGGA MULUT
2.3.1 COCCI
2.3.2 BASIL
2.4 HABITAT BAKTERI PADA RONGGA MULUT
2.5 PATOGENESIS BAKTERI PADA SAR
2.6 TERAPI
2.6.1 OBAT-OBATAN
2.6.2 FAKTOR YANG MENENTUKAN SEDIAAN OBAT
2.7 RESEP

6
6
6
8
8
9
10
11
13
14
16
17

BAB III PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

19
20
ANTISEPTIK RONGGA MULUT
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jimmy, 21 tahun, seorang mahasiswa FKG UHT semester 7 yang sedang
mengambil skripsi, mengeluh adanya sariawan kecil-kecil yang banyak
tersebar pada rongga mulutnya. Sering mengalami sariawan tapi tidak
Page | 3

sebanyak sekarang ini. Dokter gigi melihat adanya ulser multiple dengan
diameter sekitar 1-2 mm menyebar pada bukal fold hingga orofaring.
Penderita sudah mengkonsumsi vitamin dan berusaha untuk istirahat yang
cukup. Dokter gigi menduga hal ini disebabkan oleh karena stres. Dokter gigi
menuliskan resep berupa terapi obat lokal dengan tujuan untuk mempercepat
penyembuhan ulser dan mencegah terjadinya infeksi sekunder.
1.2 Batasan Topik
1. Ulser
2. SAR
2.1. Definisi
2.2. Jenis / tipe (mayor, minor, hipertiformis)
2.3. Etiologi
2.4. Gambaran klinis
2.5. Faktor predisposisi
3. Bakteri
3.1 Coccus gram + & 3.2 basil qram + & 4. Habitat bakteri pada rongga mulut
5. Patogenesis bakteri pada SAR
6. Terapi
6.1 Obat-obatan
6.2 Faktor yang menentukan bentuk sediaan
7. Penulisan resep
8. Kesimpulan

1.3 Peta Konsep

STRES
Page | 4

ULSER MULTIPLE
DIAGNOSIS SAR
PEMILIHAN OBAT LOKAL
PENULISAN RESEP

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ULSER
Ulser di definisikansebagaikehilanganlapisanepitelium.Ulser di
dahuluidengan blister (vesikel) yang
memperlihatkanterjadinyapemisahanjaringanepitel.Lesiulseratifumumnya di
temuipadapasiendenganmasalahkesehatangigidanmulut.Meskipunbanyaklesi
ulser yang memilkitampakanklinis yang serupa,
Page | 5

namunetiologinyamencakupberbagaimacamkelainan, termasukpenyakit yang


bersifatreaktif, infeksisi/imunologi, danneoplasma.

2.2 SAR
2.2.1 Definisi
Stomatitis aftosarekuren (SAR) adalahsuatuperdagangan yang
terjadipadamukosamulut,
biasanyaberupaulserputihkekuningan.Ulserinidapatberupaulsertunggalmaupunle
bihdarisatu.SAR dapatmenyerangmukosamulut yang
tidakberkeratinyaitumukosabukal, labial, lateral, dan ventral lidah, dasarmulut,
palatumlunak, danmukosaorofaring.
SAR merupakanulser oral rekurenpadamukosamuluttanpatandatandaadanyapenyakitlaindansalahsatukondisiulseratifmukosamulut yang paling
menyakitkanterutamasewaktumakan, menelan, danberbicara. Penyakitini relative
ringankarenatidakbersifatmembahayakanjiwadanmenular.Beberapaahlimenyatak
anbahwa SAR bukanmerupakanpenyakit yang berdirisendiri,
tetapilebihmerupakangambarankeadaanpatologisdengangejalaklinis yang sama.

2.2.2 Jenis / Tipe


A. SAR Tipe Minor
Tipe minor mengenaisebagianbesarpasien SAR yaitu 75% sampaidengan
85% darikeseluruhan SAR, yang di tandaidenganadanyaulserberbentukbulatdan
oval, dangkal, dengan diameter 1-10 mm, dan di kelilingiolehpinggiran yang
eritematous. Ulserasidaritipe minor cenderungmengenaidaerah-daerahnon
keratin, sepertimukosa labial, mukosabukaldandasarmulut.

Page | 6

Ulserasibiasatunggalataumerupakankelompok yang terdiriatas 4-5 ulser dank


ansembuhdalamwaktu 10-14 haritanpameninggalkanbekasjaringanparut.

B. SAR Tipe Mayor


Tipe mayor di derita 10% - 15% dari penderita SAR dan lebih parah dari tipe
minor.Ulser biasanya tunggal, berbentuk oval dan berdiameter sekitar 1-3cm,
berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mana
saja dari mukosa mulut, termasuk daerah-daerah berkeratin.
Ulser yang besar,dalam serta bertumbuh dengan lambat biasanya berbentuk
dengan bagian tepi yang menonjolsertaeritematous dang mengikat, yang
menunjukan bahwa terjadi edema.Selalu meninggalkan jaringan parut setelah
sembuh jaringan parut tersebut terjadi karena kelamaan dan keparahan ulser.

C. SAR TipeHerpetiformis
Istilahherpetiformispadatipeini di pakaikarenabentukklinisnya (yang
dapatterdiridari 100 ulserkecil-kecilpadasatuwaktu) miripdengangingivostomatis
herpetic primer, tetapi virus-virus herpes tidakmempunyaiperanetiologipada SAR
tipeherpetiformis.SAR tipeherpetiformisjarangterjadiyaitusekitar 5%-10%
darikasus SAR.Setiapulserberbentukbulatdan oval, mempunyai diameter 0,5-3,0
mmdanbilaulserbergabungbentuknyatidakteratur.Setiapulserberlangsungselamas
atuhinggaduaminggudantidakakanmeninggalkanjaringanparutketikasembuh.

2.2.3 Etiologi
Etiologidari SAR belum di ketahuidenganpasti.Terdapatbeberapafaktor yang
telah di ketahuiturutberperandalamtimbulnyalesi-lesi
SAR.Denganberkembangnyailmukedokteran,
Page | 7

khususnyaimunopatologimakafaktorgangguan system imuntelahbanyak di


hubungkansebagaisalahsatufaktor yang
sangatberperansebagaifaktorpredisposisi SAR.Imunopatogenesis SAR
dapatmelibatkansemuakomponen system imunbaikselulermaupunhumoral.Pada
system imunseluleryaitusitokin, sedangkanpada system imunhumoralyaitu IgA,
IgM, dan IgG.

2.2.4 Gambaran Klinis


SAR diawali dengan gajala prodormal yang digambarkan dengan rasa
sakit dan terbakar selama 24-48 jam sebelum terjadi ulser. Ulser ini
menyakitkan, berbatas jalas, dangakal, bulat/oval, tertutup selaput
pseudomembran kuning keabu-abuan dan dikelilingi pinggiran yang eritematus
dan dapat bertahan untuk beberapa hari atau bulan.
Tahapan perkembanganSAR dibagi menjadi 4 :
1.tahap premonitory terjadi pada 24 jam pertama, perkembangan lesi SAR
Pada waktu prodormal, pasien akan merasakan sensasi mulut terbakar
pada tempat dimana lesi akan muncul . secara mikroskopis sel-sel mononuclear
akan menginfeksi epithelium, dan edema akan julai berkembang.
2. tahap preulserasi, terjadi pada 18-72 jam pertama perkembangan
Lesi SAR pada tahap ini, mandibula dan papula akan berkkembang
dengan tepi eritematus. Intensitas rasa nyeri akan meningkat suatu tahap
preulserasi ini.
3. tahap ulseratif akan berlanjut selama beberapa hari hingga 2 minggu
Pada tahap ini papula-papula akan berulserasi dan ulser itu akan
diselaputi oleh lapisan fibromembranous yang akan diikuti oleh intensitas nyeri
yang berkurang
Page | 8

2.2.5 factor predisposisi


Trauma
Ulser dapat terbentuk pada daerah bekas terjadinya luka penetrasi akibat
trauma. Umumnya ulser terjadi karena tergigit saat bicara, kebiasaan buruk, atau
saat mengunyah, akibat perawatan gigi, makan atau minum terlalu panas, dan
sikat gigi. Trauma bukan merupakan factor berkembangnya SAR pada semua
penderitatetapi trauma di pertimbangkan sebagai factor pendukung.
Genetik
Factor genetic SAR diduga berhubungan dengan peningkatan jumlah human
leucocyantigen (HLA), namu beberapa ahli masih menolak hal tersebut. HLA
menyerang sel-sel melalui mekanisme sitotoksin dengan jalan mengaktifkan sel
mononukleus ke ephitelium.
stress
Merupakan respon tubuh dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan
lingkungan yang terjadi terus menerus yang berpengaruh terhadap fisik dan
emosi.
2.3 Bakteri rongga mulut
2.3.1 Cocci gram (+)
Genus streptococcus:
Coccus gram positif dalam rantai, tiak dapat berpindahtempat (non-motile),selalu
memiliki permukaan fibril, kadang-kadang berkapsul, fakultatif non aerob,
variabel (faktor yang berubah-ubah) hemolisis tetapi alpha hemolisis pada
umumnya medium terpilih, mitis salivarius agar (MSA).
- Grup mutans
Page | 9

Spesies utama : streptococcus mutan serotypes, s, sabrinus serotypes, s.


cricetus serotypes, s. rattus serotypes.
Karakteristik : tinggi, cembung, koloni opaque, menghasilkan polisakarida
ekstraseluler yang melimpah dalam sukrosa mengandung media, media selektf
MSA dan gar bacitarin
-Salivatorius group
Karakteristik kultural : besar, koloni berlendir di MSA selama masa produksi
fructons (polimer fruktosa dengan struktur levan) ekstraseluler. S. Vestibularis
tidak memproduksi polisakarida ekstraseluler dari sukrosa, mereka memproduksi
urease dan hidrogen peroksida, dimana pH yang rendah, yang berkontraksi ke
sistem peroksida saliva masing-masing.
Tempat utama infeksi di intra oral : dorsum lidah dan saliva, S. Vestibularis
terutama beada di mukosa vestibular, bukan patogen oral yang utama.
-

Anginosus group

Karakteristik kultural : CO2 tergantung, bentuk kecil, koloni non adherent di


MSA.
Tempat utama infeksi di intra oral : celah gigi, alveolar dental, dan infeksi
endodontik.
2.3.2 Basil
Gram Positif
Genus Actinomycetes
Pendek, gram positif batang (rods) plemorfik.

Spesies utama: Actinomycetes israelii, A. Gereneseriae, A.


Odontolyticus, A. Naeslundii (spesies 1 & 2), A. Myeri, A. Georgiae.
Patogen manusia paling penting adalah A. Israelii.
Page | 10

Tempat

utama

di

intraoral:

Actinomycetes

odontolyticus,

demineralisasi enamel pada tahap sangat awal, & berkembangnya


terkait munculnya lesi karies kecil. A. Naeslundii adalah sebuah
patogen

opportunistik

yang

menyebabkan

cervicofacial

&

ileocaecal actinomycosis. Actinomyces gereneseriae & A. Georgiae


adalah komponen minor dari flora gingiva normal.
Genus Lactobacillus
Gram positif bacilli
Spesies utama: Lactobacillus casei, L. Fermentum, L. Actidophilus

(yang lain termasuk: L. Salivarius, L. Rhomnosus).


Karakteristik kultural: katalase negatif, mikroaerofilik, dibutuhkan
nutrisi komples, asidurik, pH optimal 5,5-5,8. Media selektifnya

adalah agar Rogosa.


Genus Eubacterium
Pleomorfik, gram-variable rods atau filamen
Spesies utama: Eubacterium brachii, E. Hmidum, E. Nodatum, E.
Saphenum.
Gram propionibacterium
Gram-positif bacilli
Spesies utama: Propionibacterium acnes (termasuk P. Propionicus,

sebelumnya Arachnia propionica).


Karakteristik kulyural: anaerob ketat, morfologi yang tidak dapat
dibedakan dari Actinomyces israelli tapi menghasilkan asam
propionic dari glukosa.

Gram Negatif
Gram negatif rods-facultative anaerobic, dan capnophilic genera.
Genus Haemophilus
Genus Porphyromonas
Gram negatif pleomorfik rods non motile; 6 serotipe berdasarkan
polisakarida berkapsul (antigenik K), assacharolytic.
Spesies utama: Porphyromonas gingivalis, P. Endodontalis, P.

Catoniae.
Karakteristik kultural: anaerob ketat, membutuhkan vitamin K &

haemin untuk pertumbuhan.


Genus Fusobacterium
Tipis, bentuk cerutu batang gram negatif dengan ujung bulat.

Page | 11

Spesies

Periodonticum.
Karakteristik kultural:

utama:

Fusobacterium

nucleatum,

memerlukan

banyak

F.

Alocis,

media

F.

untuk

pertumbuhan dan sering Asaccharolytic, anaerob ketat, selalu nonhaemolitik; F. Nucleatum bisa memproduksi ammonia & hidrogen
sulfida dari sistein & methionin & diimplikasikan sebagai sebuah
organisme odorgenic dalam halitosis.
Genus Leptotrichia
Filamen gram-negatif dengan sedikitnya 1 ujungnya runcing.
Spesies utama: Leptotrichia buccalis.
Karakteristik kultural: anaerob ketat, dengan koloni

yang

menyerupai fusobacteria.
Genus Treponema
Motile gram-negatif helical cells, dalam tiga ukuran (besar, sedang, kecil)
Spesies utama: Treponema denticola, T. Macrodentium, T.
Skolindatium, T. Socranskii, t. Maltophilum, T. Amylovarum, T.

Vincentii.
Karakteristik kultural: semua treponema adalah anaerobik ketat &
susah untuk dikulturkan. Memerlukan media yang kaya dengan
serum. Karakterisasi miskin; T. Denticola adalah asaccharolytic; T.
Socranskii mefermentasikan karbohidrat ke acetic, laktat, & asam

sukonik.
Tempat utama infeksi di intra oral: T. Denticola lebih proteolitik
daripada yang lain, & memiliki aminopeptidase & protease arginin
spesifik; ini juga menurunkan kolagen & gelatin. Ditemukan di celah
gingiva; hampir berkaitan dengan ulser gingiva akut, penyakit
periodontal yang merusak.

2.4

Habitat bakteri pada rongga mulut

ciri spesial dari mukosa mulut->beragam flora

pada papila lidah yang paling tinggi kondilnya karena merupakan

tempat pelindung yang aman.


Page | 12

papila lidah punya redox potensial yang rendah,meningkatnya

pertumbuhan flora anaerob dan sebagai tempat berkumpulnya bakteri gram


negatif yang menyebabkan penyakit periodontal.
b.

Permukaan gigi (supragingival dan subgingival)

tempat pada tubuh sebagai ladang populasi mikroba

banyak bakteri yang ada pada permukaan gigi->plak yang dihasilkan.

plak merupakan pencetus karies dan penyakit periodontal.

c.
-

Epitel crevicular dan gingival crevice


meskipun pada area minor di rongga mulut,bakteri yang ada pada daerah

ini memegang peranan penting pada pencetus penyakit periodontal dan gingival.
d.
-

Alat" ortho dan prosto


jika alat-alat ortho dan prosto tidak dibersihkan secara baik -> wadah

yang penuh dengan bakteri/jamur mati.


-

jamur pada permukaan full denture->candida->dentule stomatitis

2.5 Patogenesis Bakteri pada SAR


Telah beberapa dekade dilakukan penelitian empiris klinis yang menunjukkan
bahwa faktor psikis mempunyai peranan dalam terjadinya penyakit SAR.11
Genco et.al. (1998) menuliskan stres jalur umum dari terjadinya sejumlah
penyakit kronik, salah satu bagian tubuh yang dapat dipengaruhi oleh stres
adalah rongga mulut.
mengeluarkan kortisol yang menghambat komponen dari respon imun. Kortisol
ini akan melepaskan glukokortikoid dan katekolamin yang akan menyebabkan
Page | 13

penurunan produksi INF- (sitokin tipe 1) dan meningkatkan produksi IL-10 dan
IL-4 (sitokin tipe 2) yang akan memicu terjadinya perubahan keseimbangan
sitokin tipe 1/tipe 2 yang lebih ke arah respon tipe 2. Namun, penelitian terbaru
menyatakan bahwa disregulasi dari keseimbangan sitokin tipe 1/tipe 2 inilah
yang memainkan peranan penting dalam menghubungkan pengaruh stres
terhadap sistem imun. Dalam upaya menghasilkan homeostatis akibat stres
sering menghasilkan kondisi patologis terhadap tubuh.
Stres akibat stresor psikologis dapat mengakibatkan perubahan tingkat molekul
pada berbagai sel imunokompeten. Berbagai perubahan tersebut dapat
mengakibatkan keadaan patologis pada sel epitel mukosa rongga mulut,
sehingga sel epitel lebih peka terhadap rangsangan

2.6 Terapi
2.6.1 Obat obatan
HYALURONIC ACID
Proteoglican yang secara umum ditemukan pada jaringan occuran
intracellular(aqueus dan vitreus humourr dan cairan sinovial). Hyaluronic acid
adalah komponen dari intracellular cement. Dapat digunakan dalam perawatan
dari lesi pada mukosa rongga mulut. Memiliki fungsi utama untuk penyembuhan
jaringan.
Indikasi :
Untuk perawatan Reccurent Aphtous Ulceration ( RAU )
Terutama karena mempunyai efek anti inflamasi.
Efek samping :
Ulcer muncul lagi pada hari ke 4
Page | 14

Menyebabkan hidrasi jaringan


Melemahkan ikatan sel pada matriks extracellular, sehingga terjadi migrasi sel
Restriksi pergerakan air dan molekul kecil

CHLORHEXIDINE
Antibakteri yang memiliki spectrum luas. Sangat efektif untuk bakteri gram +,
gram - , bakteri, ragi, jamur, protozoa, algae, dan virus.
Mekanisme kerja :
Mengika bakteri, berinteraksi dengan molekul dinding sel bakteri, meningkatkan
permeabilitas dinding sel bakteri, sehingga dapat penetrasi ke dalam sitoplasma
bakteri.
Diserap oleh hidroxyapatite permukaan gigi, dan mucin dari saliva. Dilepas
perlahan lahan dalam bentuk yang aktif, menghambat pertumbuhan plak.
Indikasi :
Kumur 2 x sehari dengan chlorhexidine 0,2% dapat mengurangi mikro organisme
saliva hingga 80%.
Pemakaian dalam waktu lama dapat menyebabkan diskolorasi dari mahkota
jacket akrilik dan tumpatan pada gigi.
2.6.2 Faktor yang menentukan bentuk sediaan obat
Menurut fisika kimia
Obat higroskopis dipilih larutan, puyer/ tablet : basah

obat padat : padat/cairan asal stabil

obat padat : salep/crem

obat cair : cairan kecuali vitamin yang larut dalam minyak (

soft capsul )
Page | 15

Faktor penderita

umur penderita

anak-anak : dipilih larutan tidak larut dengan air dipilih puyer atau

suspense

lansia = anak-anak

lokasi

efek local : efek obat dipakai untuk kulit, kulit berambut atau mukosa

penetrasi : obat melalui kulit dan mudah dijangkau

efek sistemik : per oral lebih mudah

keadaan umum

penderita tidak sadar : parenteral atau rectal

penderita berobat jalan : per oral

penderita kooperatif atau tidak

jadi dalam kasus ini menggunakan obat kumur soalnya dalam kasus ini ulser
multiple menyebar bukal fold hingga orofaring. Kalau menggunakan salep atau
crem kurang efisien dan dalam kasus ini penderita dewasa sehingga dengan
mudah menggunakan obat kumur.

2.7 Resep

Drg. Remita
Jln. Arief Rahman Hakim no. 40
Surabaya

Surabaya, 9 Januari 2014


R/

Chlorhexidine Glucuronat 0,2% garg. No. I


Page | 16

S 2 d.d. I collut. or.


------------------------------------------------------------------------------ signature
Pasien

:Bpk. Jimmy

Usia

:21 tahun

Alamat

:Jln. Kertajaya timur no. 31

Drg. Remita
Jln. Arief Rahman Hakim no. 40
Surabaya

Surabaya, 9 Januari 2014


R/

Hyaluronic Acid 0,2% ung.


S u.e.

------------------------------------------------------------------------------ signature
Pasien

:Bpk. Jimmy

Usia

:21 tahun

Alamat

:Jln. Kertajaya timur no. 31

Page | 17

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
SAR merupakan lesi yang terdapat dalam rongga mulut yang dalam kasus
pemicu kali ini disebabkan ole stress, sehingga muncul SAR. Pada pasien ini,
gambaran klinis yang diperoleh adalah ulser multiple dengan diameter sekitar 12 mm menyebar bukal fold sampai ke orofaring.
Pada pasien di diagnosis herpertiformis, yang mirip gingival stomatitis
herpetit primer yang disebabkan oleh stress, maka dari itu diberikan terapi
menggunakan obat chlorhexidine dan asam hialuronat karena memiliki spectrum
yang lebih luas dan dengan bentuk sediaan obat kumur, karena lebih efektif
untuk ulser multiple di bandingkan dalam sediaan topikal.

Page | 18

DAFTAR PUSTAKA
A. DAFTAR PUSTAKA
1. Bruce AJ dan Rogers RS, 2003. Acute Oral Ulcers. Dermatologic Clinics,
21: 1-15. Available from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12622264.
Accesed June 14, 2012
2. Greenberg MS, 2008. Ulcerative, Vesicular, and Bulous Lesion in Burkets
Oral Medicine Diagnosis and Treatment. 11th Ed. New York : BC Decker
Inc. p 57; 63-65
3. Scully C dan Felix DH, 2005. Oral Medicine- Update for The Dentgal
Practioner Aphthous and Other Common Ulcers. British Dental Journal,
199(5):

259-264.

Available

http://www.nature.com/bdj/journal/v199/n5/full/4812649a.html.

from
Accessed

June 28, 2012


4. Heerden VWFP dan Boy SC, 2007. Diagnosis and Management of
Common Non-viral Oral Ulcerations. SA Fam Pract, 2007, 49(8): 20-26.
Available

from

http://www.ajol.info/index.php/safp/article/viewFile/13395/15710...
Accessed June 30, 2012
Page | 19

5. Kilic SS, 2004. Recurrent aphthous stomatitis. Recent Advances in Pediatrics,


Jaypee Brothers Medical Publishers, New Delhi,pp 63-75 available at
http://immunoloji.uludag.edu.tr/notlar_seminerler/aphthous_eng_w.htm,
accessed January 2010
6. Nisa R, 2011. Stomatitis Aftosa Rekuren (Sar) Yang Dipicu Oleh Stres
Pada Mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Skripsi,
chapter II. Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Available from url : http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/27287.
Accessed December 29th 2013
7. Samaranayake L, 2006. Essential Microbiologi for Dentistry, 3rd ed.
Edinburgh : Churchil Livingstone Elsevier, pp 255-259

Page | 20