Anda di halaman 1dari 130

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

GERAK JATUH BEBAS


(PERCOBAAN ME2)

Disusun oleh :
KELOMPOK 1
Teguh Prakoso Tri H.

(1250903000111041)

Yasmin Saniyyah

(125090300111037)

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA FMIPA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Tujuan Percobaan
Setelah menyelesaikan percobaan ini pesera praktikum Fisika Dasar diharapkan
dapat memahami konsep dari gerak jatuh bebas, mengukur waktu benda yang jatuh bebas
sebagai fungsi dari jarak dan menentukan percepatan gravitasi bumi di tempat percobaan
dengan metode gerak jatuh bebas.
1.2. Dasar Teori
Contoh gerak dengan percepatan (hampir) konstan yang sering dijumpa adalah gerak
benda yang jatuh ke bumi. Bila tidak ada gesekan udara, ternyata semu benda yang jatuh
pada tempat yang sama, tidak bergantung pada ukuran, berat maupun susunan benda, dan
jika jarak yang ditempuh selama jatuh tidak terlalu besar, maka percepatannya dapat
dianggap kostan selama jatuh. Gerak ideal ini, yang mengabaikan gesekan udara dan
perubahan kecil percepatan terhadap ketinggian, disebut gerak jatuh bebas. Percepatan
yang dialami benda jatuh bebas disebut percepatan yang disebabkan oleh gravitasi dan
diberi simbol g. Di dekat permukaan bumi, besarnya kira-kira 32 kaki/s2 atau 9,8 m/s2
atau 980 cm/s2, dan berarah ke bawah meuju pusat bumi(Halliday,1985).
Satu dari contoh yang paling umum mengenai gerak lurus berubah beraturan adalah
benda yang dibiarkan jatuh bebas dengan jarak yang tidak jauh dari permukaan tanah.
Kenyataan bahwa benda yang jatuh mengalmi percepatan mungkin pertama kali tidak
begitu terlihat. Dan hati hati dengan pemikiran yang dipercayai banyak orang sampai
masa Galileo, bahwa benda yang lebih berat jatuh lebih cepat dari beda yang lebih ringan
dan bahwa laju jatuhnya benda tersebut sebanding dengan berat benda itu. Semua benda
akan jatuh dengan percepatan konstan yang sama jika tidak ada udara atau hambatan
lainnya. Sebuah benda yang jatuh dari keadaan diam, jarak yang ditempuh akan
sebanding dengankuadrat waktu yaitu, d t2. Kita dapat melihat halini dari persamaan,
tetapi Galileo adalah orang pertama yang menurunkan hubungan matematis ini. Pada
kenyataannya, di antara sumbangan-sumbangan Galileo yang hebat untuk sains adalah
enetuan hubungan-hubungan matematis seperti itu, dan penekanan kepentingannya.
Sumbangan besar lainnya dari Galileo adalah pengajuan teori dengan hasil-hasil
eksperimen yang speifik yang bisa diperiksa secara kuantitatif (seperti d t2). Untuk
mempekuat penegasannya bahwa laju benda yang jatuh bertambah ketika benda itu jatuh,
Galileo menggunakan argumen yang cerdik: sebuah batu berat yang dijatuhkan dari
ketinggian 2 m akan memukul sebuah tiang pancang lebih dalam ke tanah dibandinkan

dengan batu yang sama tetpi dijatuhkan dari ketinggian 0,2 m. Jelas, batu tersebut
bergerak lebih cepat pada keadaan yang pertama. Seperti kita lihat, Galileo juga
menegaskan bahwa semua benda, berat atau ringan, jatuh dengan percepatan yang sama,
paling tidak jika tidak ada udara. Jika anda memegang selembar kertas secara horisontal
pada satu tangan dan sebuah benda lain yang lbih beratkatakanlah, sebuah bola
baseball, di tangan yang lain dan melepaskan kertas dan bola tersebut pada saat yang
sama, benda yang lebih berat akan lebih dulu mencapai tanah. Tetapi jika annda
mengulang percobaan ini, kali ini dengan membentuk kertas menjadi gumpalan kecil.
Anda akan melihat bahwa kedua benda tersebut mencapai lantai pada saat yang hampir
sama. Galileo yakin bahwa udara berperan sebaga hambatan untuk benda yang sangat
ringan yang memiliki permukaan yang luas. Tetapi pada banyak keadaan biasa, hambatan
udara ini bisa diabaikan. Pada suatu ruang dimana udara tekah dihisap, maka benda
ringan seperti bulu atau selembar kertas yang dipegang horisontal pun akan jatuh dengan
percepatan yang sama seperti benda yang lain. Demonstrasi pada ruang hampa udara
seperti ini tdak ada pada masa Galileo, yang membuat keberhasilan Galileo lebih hebat
lagi. Galileo sering disebut bapak sains modern, tidak hanya disebabkan isi dari sainsnya
(penemuan astronomik, inersia, jatuh bebas), tetapi juga gaya atau pendekatannya
terhadap sains (idealisasi dan penyederhanaan, matematisasi teori, teori yang memiliki
hasil yang dapat diuji, eksperimen untuk menguji ramalan teoritis). Subangan Galileo
yang spesifk terhadap pemahaman kita mengenai gerak jatuh bebas dapat di rangkum
sebagai berikut: pada suatu lokasi tertentu di bumi dan dengn tdk danya hambatan udara,
semua benda jath dengan percepatan konstan yang sama. Kita menyebut percepatan ini
percepatan yang disebabkan oleh gravitasi ada bumi, dan memberinya simbo g, besarnya
kira-kira 9,80 m/s2. Dalam satuan inggris g kira-kira 32 ft/s2. Laju sebuah benda yang
jatuh di udara (atau fluida lainnya) tidak bertambah secara tak tentu. Jika benda tersebut
jatuh cukup jauh, ia akan mencapai kecepatan maksimum yang disebut kecepatan
terminal. Percepatan yang dissebabkan oleh gravitasi adalah sebuah vektor (sebagaimana
juga percepatan lainnya), dan arahnya ke bawah menuju pusat bumi (Giancoli,1999).
Contoh paling umum dari gerak dengan percepatan kostan adalah gerak jatuh bebas
atau benda jatuh bebas ke bumi. Dalam kondisi tidak ada gesekan udara yang ditemukan
pada semua sisi benda, anpa memperhatikan ukuran atau berat mereka, jatuh paa
percepatan yang sama pada titik yang sama pada permukaan bumi, dan jika jarak yang
ditempuh selama jatuh tidakterlalu besar, maka percepatan benda tersebut dapat dianggap
kostan selama jatuh. Gerk ideal ini disebut dengan jatuh bebas. Percepatan yang dialami
benda jatuh bebas disebut percepatan yang disebabkan oleh gravitasi dan diberi simbol g.

Di dekat bumi, besarnya kira-kira 32 kaki/s2 atau 9,8 m/s2 atau 980 cm/s2, dan berarah ke
bawah meuju pusat bumi(Sears,1962).
Contoh paling umum dari gerak dengan percepatan kostan adalah gerak jatuh bebas
atau benda jatuh bebas ke bumi. Dalam kondisi tidak ada gesekan udara yang ditemukan
pada semua sisi benda, anpa memperhatikan ukuran atau berat mereka, jatuh paa
percepatan yang sama pada titik yang sama pada permukaan bumi, dan jika jarak yang
ditempuh selama jatuh tidakterlalu besar, maka percepatan benda tersebut dapat dianggap
kostan selama jatuh. Gerk ideal ini disebut dengan jatuh bebas. Percepatan yang dialami
benda jatuh bebas disebut percepatan yang disebabkan oleh gravitasi dan diberi simbol g.
Di dekat permukaan bumi, besarnya kira-kira 32 kaki/s2 atau 9,8 m/s2 atau 980 cm/s2, dan
berarah ke bawah meuju pusat bumi. Pada umumnya orang menganggap gravitasi sama
dengan gaya gravitasi, itu salah. Gravitasi adalah fenimena, dan gaya gravitasi berarti
gaya yang menarik benda ke bumi, ataulebih dikenal berat pada benda tersebut, simbol g
mewakii ercepatan yang diakibatkan oleh gaya yang ditibulkan oleh fenomena gravitasi
(Richards,1960).
Kita dapat mengaplikasikan ide ini karena sebuah penelitian yang penting yang dibut
oleh Galileo. Dia menemukan setelah banyak melakukan eksperimen, dimana semua
benda dekat bumi jatuh ke bumi dengan percepatan yang sama. Percepatan ini, 32 kaki/s 2
di Inggris dan 9,8 m/s2 di sistem matrik. Ini disebut dengan percepatan gravitasi dan
disimbolkan g (Beiser,1964).

BAB II
MEODOLOGI

2.1. Peralatan
Alat-alat yang dipergunakan dalam perobaan ini adalah satu set instrumen penjatuh
benda, dua buah bola besi atau baja, satu buah pencatat waktu, satu buah skala vertikal,
satu buah sumber tegangan DC, kabel penghubung secukupnya dan skalar morse.

2.2. Tata Laksana Percobaan


Pada percobaan ini pertama yang harus dilakukan adalah peralatan-peralatan pada
praktikum disusun. Kemudian, besi penopang diatur agar tegak lurus dengan sekrup
pengatur. Kemudian klem b dikunci pada posisi serendah mungkin dan plat kontak c diatur
sehingga bola jatuh tepat pada permukaan plat. Selanjutnya, sumber tegangan dihidupkan
dan bola ditempelkan pada bagian bawah magnet penahan. Kemudian, beberapa lembar
kertas berukuran perangko disusun dianta bola dan magnet penahan. Arus magnet
dinaikkan sampai bolatetap menempel (tanpa suara dengung) arus diatur agar arus magnet
mejadi rendah. Kemudian, pencacah pada pengukur waktu diatur dengan resolusi 1 ms,
kemudian direset. Selanjutnya, jarak antara sisi bawah bola dan permukaan plat kontak
diatur. Kemudian kunci morse ditekan dengan cepat. Begituwaktu t terbaca dan dicatat,
pencacah di reset dan plat kontak dibuka kembali. Selanjutnya, agar diperoleh hasil
seakurat mungkun, pengukuran diulangi tujuh kali pada jarak yang sama. Kemudian klem
bdi geser agar jrak s berkurang dan pengukuran dilkuan seperti diatas minimal lima variasi
jarak. Kemudian, langkah-langkah diatas di ulangi pada bola besi yng linnya.

2.3. Gambar
2.3.1. Susunan alat percobaan gerak jatuh bebas

BAB III
ANALISA DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Hasil Percobaan


3.1.1 Bola 1
m=32,5gram=0,0325kg
No.

S (cm)

(ms)

t(ms)
t1

t2

t3

t4

t5

t6

t7

1.

10

149

147

143

145

141

143

148

145,14

2.

15

174

179

176

179

176

182

173

177

3.

20

195

196

196

197

199

198

199

197,14

4.

25

224

212

225

230

225

230

230

225,14

5.

30

250

247

254

251

250

249

252

250,43

3.1.2 Bola 2
m=16,2gram=0,0162kg
No.

S (cm)

(ms)

t(ms)
t1

t2

t3

t4

t5

t6

t7

1.

10

141

145

139

150

141

147

135

142,57

2.

15

181

179

176

180

178

183

177

179,14

3.

20

212

212

205

244

202

206

209

212,86

4.

25

233

238

234

232

235

236

233

234,43

5.

30

251

241

241

248

248

252

248

248,71

3.2. Perhitungan
3.2.1 Bola 1
No.

S (m)

t(ms)

(s)

(s)
2

g(m/s2)

|g- |2

V(m/s2)

|v- 2|

1.

0,10

0,145

0,021

9,524

0,062

0,69

0,0802

2.

0,15

0,177

0,031

9,677

0,009

0,85

0,0152

3.

0,20

0,197

0,039

10,256

0,234

1,015

0,0017

4.

0,25

0,225

0,051

9,803

0,00096 1,111

0,019

5.

0,30

0,250

0,0625

9,6

0,296

0,0514

48,86

0,60196 4,886

g2=

= 10,256

g3=

= 9,677

g4=

2
= 9,803m/s

g5=

2
= 9,6m/s

Krg =

0,1675

2
= 9,524 m/s

g1=

1,2

m/s2

= 9,772

x 100 % =

m/s2

m/s2

x 100%

= 1,78%

= 0,1735 m/s2

Krv =

= 0,9732

m/s2

x 100 % =

m/s2

= 9,722

x 100%

= 0,091515 m/s2

= 9,4 %

m/s2

= 0,9372

3.2.2 Bola 2
No.

S (m)

t(ms)

(s)

(s)
2

g(m/s2)

|g- |2

V(m/s2)

|v- 2|

1.

0,10

0,143

0,020

10

0,35236 0,699

0,063

2.

0,15

0,179

0,032

9,375

0,0096

0,838

0,012

3.

0,20

0,213

0,045

8,889

0,26729 0,939

0,011

4.

0,25

0,234

0,055

9,091

0,09923 1,068

0,014

5.

0,30

0,249

0,062

9,677

0,07344 1,205

0,065

47,032

0,79328 4,794

0,163

Krg =

= 9,406

m/s2

x 100 % =

x 100%

= 9,406

= 0,1991582 m/s2

= 2,1 %

m/s2

Krv =

= 0,9498

m/s2

x 100 % =

x 100%

= 0,9498

= 0,0902774 m/s2

= 9,5 %

m/s2

3.4. Pembahasan
3.4.1. Analisa Prosedur
Pada percobaan ini menggunakan alat-alat yang dirangkai menjadi satu rangkaian
untuk menjalankan satu sistem dalam percobaan dan masing-masing alat mempunyai
fungsi-fungsi tersendiri yang diperlukan dalam proses percobaan. Pada percobaan ni
menggunakan sat set instrumen penjatuh benda dan dalam instrumen ini terdapat tiang
penyangga yang berfungsi untuk menyangga magnet penahan agar tepat diatas plat kontak
dan juga untuk megatur ketinggian magnet penahan. Terdapat juga sebuah magnet penahan
yang berfungsi untuk menahan dan kemudian menjatuhkan bola besi. Dalam percobaan ini
juga digunakan sebuh skala vertikal yang berfungsi untuk mengatur jarak antara megnet
dengan plat kontak.dalam percoban ini juga digunakan sebuah sumber tegangan DC yang
digunakan untuk mengalirkan arus listrik sehingga magnet bisa menarik atau menahan bol
besi. Dalam percobaan ini digunakan sebuah alat pengukur waktu yang berfungsi untuk
mengukur waktu tempuh jatuhnya bola dari magnet penyangga ke plat kontak. Dalam
percbaan ini juga digunakan beberapa kabel penghubung yang digunakan untuk
menghubungkan perangkat satu dengan perangkat lainnya. Dalam percobaan ini juga
dibutuhkan dua buah boa besi yang digunakan benda yang dijatuhkan dan di ukur
waktunya. Dan dalam percobaan ini juga digunakan kertas seukuran perangko yang
diletakkan diantara bola besi dan magnet yang gunanya agar bola besi langsung jatuh
seketika saat skalar morse ditekan dengan cepat.
3.4.1.2. Fungsi Perlakuan
Pada percobaan ini pertama alat-alat harus dipersiapkan terlebih dahulu. Kemudian
alat-alat tersebut dirangkai seperti pada gambar agar tidak terjadi kesalahan alat atau alat
tersebut dapat dengan mudah menjalankan fungsinya tanpa ada gangguan. Kemudian,
sumber tegangan dihidupkan kare percobaan ini membutuhkan arus listrik untuk
memberikan gaya tarik pada magnet penahan. Kemudia bola besi satu diletakkan pada
magnet dan diantaranya diletakkan sebuah keras seukuran perangko. Gunanya agar tidak
terjadi kesalahan pada magnet dan saat skalar morse ditekan magnet langsung kehilangan
gaya tariknya dan bola besi langsung jatuh. Pada saat menempekan bola besi, arus listrik
diatur sehingga bola dapat menempel dengan kuat dan tidak terdengar suara dengungan.
Kemudian, plat kontak dan magnet penahan diatur agar lurus vertikal agar bola besi yang
jatuh dari magnet penahan jatuh tepat pada plat kontak sehingga waktu dapat terbaca
dengan baik. Kemudian, alat pencacah waktu dihidupkan dan resolusnya diatur hingga 1
ms sehingga didapatkan ketelitian pengukuran waktu yang tinggi. Stelah semua alat
disiapkan, dan telah dihubungkan satu sama ain dengan kabel penghubung, bola

ditempelkan dan skalar morse ditekn dengan cepat. Ditekan dengan cepat agar ketika bola
jatuh, seketika itu wktu mulai diukur, jika menekannya lama maka ketika tangan dilepas
dari skalar morse itu adalah saat dimulaiya mengukur waktu bukan saat bola tepat jatuh.
Untuk setiap bola, dijatuhkan dari lima variasi jarak, dan untuk setiap variasi jarak,
dilakukan tujuh kali pengukuran waktu. Hal ini ditujukan agar diperoleh variasi data yang
kemudian ditujukan untuk mecari seberapa besar tingkat kesalahan pada percbaan tersebut
dan untuk membandingkan gravitasi pada setiap jarak pada percobaan ini.

3.4.2. Analisa Hasil


Pada percobaan ini hasil yang didapat tidak jauh beda antara waktu yang dibutuhkan
bola kecil danbola besar. Hal in menunjukkan bahwa pada gerak jatuh bebas ukuran dan
berat benda tidak begitu berpengaruh pada waktu yang dibutuhkan benda tersebut jatuh dari
magnet ke plat kontak. Hal ini adalah bukti bahwa pada gerak jatuh bebas ukuran dan berat
diabaikan sehingga kecepatan dan waktu yang dibutuhkan terpaut selisih yang sangat kecil.
Dari hasil perhitungan didapatkan nilai gravitasi pada perhitungan dan pada grafik tidak jauh
beda. Pada perhitungan, nilai percepatan gravitasi yang didapatkan pada bola satu yaitu
sebesar 9.80,17 m/s2 kemudian bola kedua nilainya didapatkan sebesar 9.40,2 m/s2.
Kemudian pada grafik, nilai percepatan gravitasi pada bola pertama yang didapatkan sebesar
100,01 m/s2 kemudian pada bola kedua nilainya didapatkan sebesar 8,570,02 m/s2. Nilai
tersebut dapat dikatakan memiliki selisih yang sangat sedikit atau bahkan bisa lebih kecil
lagi jika nilai ralat pada nilai gravitasi yang kecil ditambahkan dan nila ralat pada gravitasi
yang besar dikurangkan. Dalam percccobaan ini kesalahn sedikit apapun dapat memberi
selisih nilai yang besar. Merurut hukum kedua newton, gerak jatuh bebas gerak jatuh beda
pada arah vertikal dari ketinggian tertentu tanpa kecepatan awal. Jadi, gerak benda hanya
dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi g. Pada gerak jatuh bebas benda tersebut termasuk
dalam hukum kekekalan energi (memiliki energi potensial dan energi kinetik). Dimana
energi mekanik benda akan selalu sama meskipun energi kinetik dan energi potensialnya
berubah. Pada ketinggian maksimum energi potensial maksimum dan energi kinetik sama
dengan nol berarti energi mekanik samadengan energi potensial benda tersebut. Pada
ketinggian nol energi potensial sama dengan nol dan energi kinetiknya maksimal berarti
energi mekanik sama dengan energ kinetik benda tersebut. Berat dari suatu benda adalah
gaya yang disebabkan oleh gravitasi berkaitan dengan massa benda tersebut. Berat benda
disebabkan oleh gravitasi sehingga arah gaya tersebut selalu mengarah kebawah atau ke inti
bumi. Satuan berat adalah Newton (N). Sedangkan massa adalah suatu sifat fisika dari suatu
benda untuk menjelaskan berbagai perilaku objek yang terpantau. Gerak jatuh bebas

biasanya terjadi setiap hari, seperti buah jatuh dan lain sebagainya. Pada intinya semua
benda yang jatuh vertikal tanpa mempunyai kecapatan awal adalah benda yang bergerak
jatuh bebas. Pada percobaan ini digunakan arus DC atau arus searah dikarenakan arus DC
mengalirkan elektron dari suatu titik yang energi potensialnya tinggi ke titik lain yang energi
potensialnya rendah. Dan juga pada percobaan ini hany membutuhkan arus listrik yang kecil
dan jika menggunakan arus AC atau arus bolak balik maka akan terjadi kesalahan pada
pecobaan ini. Sehngga dalam percobaan ini arus serah lebih simpel dari arus bolak balik
karena arus searah lebih mudah untuk mengontrolnya (memutus arusnya lebih mudah)
sehingga lebih efisien digunakan dalam percobaan ini dibanding arus AC. Pada percobaan
ini beberapa kesalahan yang mungkin terjadi adalah pertama kesalahan pembacaan waktu
oleh pencacah waktu, kedua karena proses pemencetan skalar morse yang tidak benar atau
tidak cepat dalam memencetnya, ketiga kesalahan kerena bola tidak jatuh tepat pada plat
kontak. Setiap kesalahan tersebut dapat merubah hasil pada percobaan ini.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa berat dari suatu benda tidak berpengaruh
pada proses gerak jatuh bebas tersebut. Setiap benda yang jatuh bebas mengalami
percepatann yang sama. Semakin jauh jarak tempuh bola maka semakin besar kecepatan
benda saat di titik akhir atau titik yag paling bawah. Semakin lama waktu tempuh bend
maka semakin cepat kecepatan benda saat berada di titik akhir dan semakin jauh jarak
tempuh benda. Gerak jatuh bebas selalu diawali dengan benda yang diam. Gravitasi bumi
memiliki simbol g dan satuan m/s2 jadi untuk mencari nilainya dapat dilakukan dengan
membagi jarak dengan waktu tempuh yang dikuadratkan.

4.2. Saran
Dalam melakukan percobaan ini, sebaiknya sebelum melakukan percobaan ini peserta
praktikum dwjibkan membaca langkah-langkah percobaan terlebih dahulu agar mengerti
semua yang harus dilakukan dalam percobaan. Kemudian, dalam pemencetan skalar morse
harus cepat agar pngukur waktu bisa membaca waktu dengan tepat. Para peserta praktikum
diharapkan mendengarkan dan mematuhi petunjuk dari asisten praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Beiser, Arthur. 1964. The Foundation of Physics. Addison-wesley publishing
company,inc: London.
Gincoli, Douglas C. 1999. Fisika. Erlangga: Jakarta.
Halliday, David. Robert R. 1985.Fisika. Erlangga: Jakarta.
Richards, James A. Dkk.1960.Modern University Physics. Addison-wesley publishing
company, inc: London.
Sears, Francis Weston.1962.Mechanics, Heat, and Sound. Addison-wesley publishing
company,inc: London.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I


TUMBUKAN
(PERCOBAAN ME3)
Disusun oleh:
Kelompok 2
Moh. Lutfi

(125090300111003)

Choirun Nisa

(125090300111001)

Dina Nurul Afifah

(125090300111002)

M. Nur Huda Arifandy

(125090300111039)

Sri Handayani

(125090300111040)

Yuni Susiati

(125090300111038)

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Tujuan Percobaan
Setelah melaksanakan praktikum ini, peserta praktikum diharapkan mampu
memahami dan menjelaskan konsep momentum linear dan mampu membuktikan hukum
kekekalan momentum pada peristiwa tumbukan serta mengaplikasikannya untuk
memecahkan fenomena yang bersifat fisis.

1.2. Dasar Teori


Tumbukan merupakan peristiwa yang digunakan untuk menyelidiki partikelpartikel kecil yang bertumbukan bersinggungan, dengan memandang partikel-partikel
yang bertumbukan sebagai suatu sistem, sehingga dapat menggunakan hukum-hukum
kekekalan untuk memprediksikan apa yang akan terjadi setelah tumbukan serta dapat
menentukan gaya interaksi tumbukan. Pada peristiwa tumbukan terjadi dua hal, pertama
yaitu perpindahan momentum melalui impuls yang disebabkan oleh gaya interaksi yang
terjadi dalam jangka waktu yang sangat pendek. Sehingga impuls gaya luar dapat
diabaikan terhadap gaya interaksinya, akibatnya momentum dianggap kekal. Kedua,
terjadi perpindahan energy, karena pada saat tumbukan gaya interaksi juga menyebabkan
partikel lain bergeser sehingga partikel tersebut melakukan kerja. Saat tumbukan gaya
interaksi dianggap sebagai gaya konservatif, sehingga energy mekanik pada suatu system
adalah kekal. Pada peristiwa tumbukan dapat dibedakan menjadi tiga. Pertama, tumbukan
elastis sempurna yaitu energi kinetik sebelum dan setelah tumbukan adalah konstan tanpa
ada yang tersimpan sebagai energi potensial maupun menjadi kalor. Kedua, tumbukan tak
elastis yaitu energi kinetik sebelum dan sesudah tumbukan konstan. Ketiga, tumbukan tak
elastis sempurna yaitu apabila ada dua benda atau partikel-partikel bersatu dan bergerak
bersama setelah tumbukan (Sutrisno,1997).
Gagasan dasar tumbukan adalah gerak partikel yang bertumbukan (minimal satu
partikel) berubah secara mendadak sehingga dapat dibedakan secara fisis partikel sebelum
mengalami tumbukan dan setelah mengalami tumbukan (Halliday,Resnick,1978).
Momentum total sistem akibat tumbukan sama dengan nol, jika tidak ada gaya
eksternal yang bekerja, gaya impuls yang bekerja berupa gaya internal sehingga tidak
mempengaruhi momentum total sistem (Halliday dkk,1992).

Pada tumbukan elastis, energi kinetik total di dalam suatu sistem sama sebelum
maupun sesudah tumbukan. Dalam tumbukan tidak elastis, tumbukan mengubah energi
kinetik dalam sistem tertutup, sehingga energi kinetiknya tidak tetap (Holzner,1992).
Dibandingkan dengan gaya impuls yang relatif besar, gaya eksternal gravitasi dapat
diabaikan dalam penentuan perubahan gerak, semakin pendek waktu tumbukannya,
hasilnya semakin mendekati nilai sebenarnya (Halliday,1978).
Sebuah bola yang bersifat elastis sebagian, apabila dijatuhkan dari ketinggian h1
dengan kecepatan v1 akibat energi potensial gravitasi akan memantul kembali dengan
ketinggian h2 dengan kecepatan v2, dimana perbandingan tingginya sama dengan kuadrat
dari perbandingan kecepatannya (Sears,1962).
Rasio antara kecepatan relatif antara posisi awal dengan posisi berikutnya dalam
suatu tumbukan elastic sebagian dinamakan koefisien restitusi. Jika koefisien restitusinya
bernilai 1 restitusinya antara 0 dan 1 maka disebut tumbukan elastis tidak sempurna dan
jika koefisien restitusinya bernilai 0, maka disebut tumbukan tidak elastik (Beiser,1992).

BAB II
METODOLOGI
2.1. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini, antara lain seperangkat rel udara,
pencacah waktu, garpu penghalang cahaya, kabel dan sumber tegangan.
2.2. Tatalaksana Percobaan
Pada percobaan ini, pertama disusun trak udara, kereta luncur dan counter sesuai
dengan sistem pada gambar 2.1. Lalu kedua papan luncur dilengkapi dengan beban
tambahan 100 gram dan penahan (a) serta pegas (b) seperti pada gambar 2.2. Kemudian
diselipkan empat lempeng interrupter (c) pada tiap papan luncur. Kemudian dikumpulkan
kebagian tengah sehingga dibentuk susunan lempeng rapat selebar S = 2cm. Setelah itu,
diletakkan papan luncur ke rel. Kedua, dihidupkan blower dan rel diatur supaya datar
dengan diubah sekrup pengatur ketinggian. Jika sudah benar, maka papan akan tetap
diam ketika ditempatkan direl. Selanjutnya dihubungkan kabel-kabel penghubung seperti
gambar 2.1. Lalu diatur pencacah pada angka nol dengan tombol reset. Posisi penghalang
cahaya seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.2.
Percobaan dengan massa sama ( m1= m2 , v2 = 0 ). Pertama, diletakkan papan
luncur 1 pada posisi awal dari rel dan papan luncur 2 dalan keadan diam, diletakkan
diantara kedua penghalan cahaya. Diatur kedua pencacah pada posisi nol. Didorong
papan luncur 1, dicatat waktu yang ditunjukkan oleh pencacah untuk masing-masing
papan luncur. Dicatat t1 sebagai t1 dan t2 sebagai t2. Diulang untuk beberapa kecepatan
awal yang berbeda.
Percobaan dengan massa yang berbeda ( m1 m2 , v2 = 0 ). Pertama, dilakukan
percobaan seperti pada uraian untuk massa yang sama. Setiap kali dilakukan pengukuran,
diubah massa papan luncur dengan ditambahkan beban yang sesuai. Jika papan luncur 1
berbalik arah setelah tumbukan ( m1 < m2 ), direset pencacah (1) pada posisi nol secepat
mungkin setelah dicatat t1 agar t1 dapat diukur oleh penghalang pertama. Jika papan
luncur 1 terus maju setelah tumbukan ( m1 > m2 ), direset pencacah (2) secepat mungkin,
setelah dicatat t2 agar t1 dapat diukur oleh penghalang kedua.

2.3 Gambar

Gambar 2.1 Susunan trak udara, kereta luncur dan counter

Gambar 2.2 Beban luncur ; (a) Plat penahan tumbukan, (b) per, (c) lapisan peluncur,
(d) pemberat tambahan.

BAB III
ANALISA DAN PEMBAHASAN
3.1

Data Hasil Pembahasan

3.1.1. Percobaan Pertama


S= 0,02 m
m1 = m2 = 0,1 kg
No. m1 (kg) m2 (kg)
1

0,011

0,024

0,015

0,017

0,015

0,016

0,015

0,016

0,013

0,014

3.1.2. Percobaan Kedua


S = 0,02 m
No. m1 (kg) m2 (kg)

t1 (s)

t1 (s)

t2 (s)

0,1

0,2

0,009

0,040

0,013

0,1

0,2

0,010

0,045

0,013

0,1

0,2

0,009

0,040

0,013

0,1

0,2

0,009

0,043

0,013

0,1

0,2

0,010

0,047

0,014

t2 (s)

t2 (s)

3.1.3. Percobaan Ketiga


S = 0,02 m
m1 = m2 = 0,1 kg
NO.

t1 (s)

t1 (s)

0,013

0,027

0,011

0,038

0,013

0,038

0,020

0,047

0,014

0,024

0,030

0,032

3.2. Perhitungan
3.2.1. Percobaan Pertama

S = 0,02 m

m1 = m2 = 0,1 kg
v2 = 0 m/s
No. v1 (m/s) v2 (m/s) P1 (kg. m/s) P2 (kg. m/s) Ek1 (J) Ek2 (J)
1

1,818

0,833

0,182

0,083

0,165

0,035

1,333

1,176

0,133

0,118

0,089

0,069

1,333

1,250

0,133

0,125

0,089

0,078

1,333

1,250

0,133

0,125

0,089

0,078

1,538

1,429

0,154

0,143

0,102

0,118

7,355

5,938

0,736

0,594

0,534

0,378

1,471

1,188

0,147

0,119

0,107

0,076

1. v1 =

Ek1 = m1v12 =

= 1,818 m/s

10-1 (1,333)2 J

= 0,089 J
v2 =

= 0,833 m/s

Ek2 = m2v22 =

P1 = m1 v1 = 10-1.1,818 kg m/s
= 0,182 kg m/s
P2 = m2 v2 = 10-1.0,833 kg m/s
= 0,083
-1

Ek1 = m1v1 =

10 (1,818) J

= 1,333 m/s

= 1,250 m/s

P1 = m1 v1 = 10-1.1,333 kg m/s
= 0,133 kg m/s

m2v22 =

-1

10 (0,833) J

= 0,035 J
2. v1 =

3. v1 =

= 0,165 J
Ek2 =

= 0,069 J

v2 =
2

10-1 (1,176)2 J

P2 = m2 v2 = 10-1.1,250 kg m/s
= 0,125 kg m/s

= 1,333 m/s

Ek1 = m1v12 =

10-1 (1,333)2 J

= 0,089 J
v2 =

= 0,176 m/s

Ek2 = m2v22 =

P1 = m1 v1 = 10-1.1,333 kg m/s
= 0,133 kg m/s
P2 = m2 v2 = 10-1.1,176 kg m/s
= 0,118 kg m/s

10-1 (0,250)2 J

= 0,078 J
4. v1 =
v2 =

=
=

= 1,333 m/s
= 1,250 m/s

P1 = m1 v1 = 10-1.1,333 kg m/s

= 0,118 J

= 0,133 kg m/s

Ek2 = m2v22 =

P2 = m2 v2 = 10-1.1,250 kg m/s
= 0,125 kg m/s
2

= 0,102 J
Hukum Kekekalan Momentum

-1

Ek1 = m1v1 =

10 (1,333) J

+ = +

= 0,089 J
Ek2 =

m2v22 =

-1

v2 =

10 (0,250) J

= 0,078 J
5. v1 =

0,147 0,119
=

= 1,538 m/s

P1 = m1 v1 = 10-1.1,538 kg m/s

=
1,471 0,188

= 1,429 m/s

Hukum kekekalan Energi Kinetik


E+E = E +E

= 0,154 kg m/s
P2 = m2 v2 = 10-1.1,429 kg m/s

E = E

= 0,143 kg m/s
Ek1 = m1v12 =

10-1 (0,143)2 J

10-1 (1,538)2 J

0,107 0,076

3.2.2. Percobaan Kedua

S = 0,02 m

m1 = 0,1 kg
m2 = 0,2 kg
v2 = 0 m/s
No v1(m/s) v1(m/s) v2(m/s) P1(kg. m/s) P1(kg. m/s) P2(kg. m/s) Ek1(J) Ek1(J) Ek2(J)

1
2

2,222
2,000

0,500
0,444

1,538
1,538

0,222
0,200

0,050
0,044

0,308
0,308

0,247 0,013 0,237


0,200 0,010 0,237

2,222

0,500

1,538

0,222

0,050

0,308

0,247 0,013 0,237

2,222

0,465

1,538

0,222

0,047

0,308

0,247 0,011 0,237

2,000

0,426

1,429

0,200

0,043

0,286

0,200 0,009 0,204

10,666 2,335

7,581

1,066

0,234

1,518

1,141 0,056 0,230

1,516

0,213

0,047

0,304

0,228 0,011 0,230

2,133

0,467

1. v1 =

Ek2 = m2v22 =

= 2,222 m/s

2.10-1 (1,538)2 J

= 0,237 J
v1 =

v2 =

= 0,500 m/s

3. v1 =

= 1,538 m/s

P1 = m1 v1 = 10-1.2,222 kg m/s
= 0,222 kg m/s
P1 = m1 v1 = 10-1.0,500 kg m/s
= 0,050 kg m/s

= 0,308 kg m/s
2

v2 =

10 (2,222) J

= 0,247 J

= 1,538 m/s

P1 = m1 v1 = 10-1.2,222 kg m/s
P1 = m1 v1 = 10-1.0,500 kg m/s
P2 = m2 v2 = 2.10-1.1,538 kg m/s
= 0,308 kg m/s

Ek1 = m1v12 =

10-1 (0,500)2 J

Ek1 = m1v12 =

= 0,013 J

10-1 (2,222)2 J

= 0,247 J

Ek2 = m2v22 =

2.10-1 (1,538)2 J

Ek1 = m1v12 =

= 0,237 J
=

= 0,500 m/s

= 0,050 kg m/s
-1

Ek1 = m1v1 =

v1 =

= 0,222 kg m/s

P2 = m2 v2 = 2.10-1.1,538 kg m/s

2. v1 =

= 2,222 m/s

10-1 (0,500)2 J

= 0,013 J
Ek2 = m2v22 =

= 2,000 m/s

2.10-1 (1,538)2 J

= 0,237 J
v1 =

= 0,444 m/s

v2 =

= 1,538 m/s

P1 = m1 v1 = 10-1.2 kg m/s
= 0,200 kg m/s
P1 = m1 v1 = 10-1.0,444 kg m/s
= 0,044 kg m/s
P2 = m2 v2 = 2.10 .1,538 kg m/s
= 0,308 kg m/s
Ek1 = m1v1 =

= 0,010 J

= 2,222 m/s

v1 =

= 0,465 m/s

v2 =

= 1,538 m/s

P1 = m1 v1 = 10-1.2,222 kg m/s
P1 = m1 v1 = 10-1.0,465 kg m/s
= 0,047 kg m/s

-1

10 (2,000) J

= 0,200 J
Ek1 = m1v12 =

= 0,222 kg m/s

-1

4. v1 =

P2 = m2 v2 = 2.10-1.1,538 kg m/s
= 0,308 kg m/s

10-1 (0,444)2 J

Ek1 = m1v12 =
= 0,247 J

10-1 (2,222)2 J

Ek1 = m1v12 =

10-1 (0,465)2 J

= 0,011 J
2.10-1 (1,538)2 J

= 0,237 J
=

10-1 (2,000)2 J

= 0,200 J

Ek2 = m2v22 =

5. v1 =

Ek1 = m1v12 =

Ek1 = m1v12 =

10-1 (0,426)2 J

= 0,009 J
Ek2 = m2v22 =

= 2,000 m/s

2.10-1 (1,429)2 J

= 0,204 J
v1 =

= 0,426 m/s

v2 =

= 1,429 m/s

Hukum Kekekalan Momentum


+ = +
= +

P1 = m1 v1 = 10-1.2 kg m/s
= 0,200 kg m/s

0,213 0,351

P1 = m1 v1 = 10-1.0,426 kg m/s
= 0,043 kg m/s
P2 = m2 v2 = 2.10-1.1,429 kg m/s

Hukum kekekalan Energi Kinetik


E+E = E +E
E = E +E

= 0,286 kg m/s

0,228 0,170
3.2.3. Percobaan Kedua

S = 0,02 m

m1 = m2 = 0,2 kg
No v1(m/s) v2(m/s) v1(m/s) v2(m/s)

P1(kg. P2(kg. P1(kg. P2(kg.


Ek1(J) Ek2(J) Ek1(J) Ek2(J)
m/s) m/s) m/s) m/s)

1
2

1,538 1,818 0,741


1,538 1,000 0,526

0,526
0,426

0,308 0,364 0,148 0,105 0,237 0,331 0,055 0,028


0,308 0,200 0,105 0,085 0,237 0,100 0,028 0,018

1,429 0,667 0,833

0,625

0,286 0,133 0,167 0,125 0,204 0,045 0,069 0,039

4,505 3,485 2,100

1,577

0,902 0,697 0,420 0,315 0,678 0,476 0,152 0,085

1,501 1,162 0,700

0,526

0,300 0,232 0,140 0,105 0,226 0,159 0,051 0,028

1. v1 =

= 1,538 m/s

= 0,308 kg m/s
P2 = m2 v2 = 2.10-1.1,818 kg m/s

v2 =

= 1,818 m/s

= 0,364 kg m/s
P1 = m1 v1 = 2.10-1.0,741 kg m/s

v1 =

= 0,741 m/s

v2 =

= 0,526 m/s

P1 = m1 v1 = 2.10-1.1,538 kg m/s

= 0,148 kg m/s
P2 = m2 v2 = 2.10-1.0,526 kg m/s
= 0,105 kg m/s

Ek1 = m1v12 =

2.10-1 (1,538)2 J

3. v1 =

= 1,429m/s

2.10-1 (1,818)2 J

v2 =

= 0,667 m/s

= 0,237 J
Ek2 = m2v22 =
= 0,331 J
Ek1 = m1v12 =

2.10-1 (0,741)2 J

= 0,055 J
2.10-1 (0,526)2 J

= 0,833 m/s

v2 =

= 0,625 m/s

= 0,286 kg m/s
P2 = m2 v2 = 2.10-1.0,667 kg m/s

= 0,028 J
=

P1 = m1 v1 = 2.10-1.1,429 kg m/s

Ek2 = m2v22 =

2. v1 =

v1 =

= 1,538 m/s

= 0,133 kg m/s
P1 = m1 v1 = 2.10-1.0,833 kg m/s

v2 =

= 1,000 m/s

v1 =

= 0,526 m/s

v2 =

= 0,426 m/s

P1 = m1 v1 = 2.10-1.1,538 kg m/s
= 0,308 kg m/s

= 0,200 kg m/s
-1

P1 = m1 v1 = 2.10 .0,526 kg m/s


P2 = m2 v2 = 2.10-1.0,426 kg m/s
= 0,085 kg m/s
2.10-1 (1,538)2 J

2.10-1 (1,000)2 J

= 0,204 J
2.10-1 (0,667)2 J

= 0,045 J
Ek1 = m1v12 =

2.10-1 (0,833)2 J

Ek2 = m2v22 =

2.10-1 (0,625)2 J

Hukum Kekekalan Momentum

0,300+0,232=0,140+0,105
0,532 0,245

2.10-1 (0,526)2 J
Hukum kekekalan Energi Kinetik

= 0,028 J

= 0,018 J

2.10-1 (1,429)2 J

+ = +

= 0,100 J

Ek2 = m2v22 =

Ek1 = m1v12 =

= 0,039 J

= 0,237 J

Ek1 = m1v12 =

= 0,125 kg m/s

= 0,069 J

= 0,105 kg m/s

Ek2 = m2v22 =

P2 = m2 v2 = 2.10-1.0,625 kg m/s

Ek2 = m2v22 =

P2 = m2 v2 = 2.10-1.1,000 kg m/s

Ek1 = m1v12 =

= 0,167 kg m/s

2.10-1 (0,426)2 J

E+E = E +E
0,226+0,159=0,051+0,028
0,385 0,079

33 Pembahasan
3.3.1. Analisa Prosedur
3.3.1.1 Fungsi Alat
Dalam melakukan praktikum ini, peralatan yang digunakan yaitu seperangkat rel
udara, pencacah waktu, garpu penghalang cahaya (interuptor), kabel dan sumber
tegangan. Rel udara digunakan sebagai lintasan peluncur untuk mengurangi gesekan
antara rel dengan peluncur sehingga kecepatan peluncur lebih stabil. Pencacah waktu
digunakan untuk mencatat waktu yang dibutuhkan interuptor pada saat menghalangi
cahaya. Pencacah waktu yang digunakan yaitu digital counter sehingga lebih akurat
karena memiliki ketelitian 1 milisekon. Prinsip kerja pencacah waktu dengan garpu
penghalang cahaya yaitu apabila cahaya ditutupi interuptor, pencacah waktu akan mulai
melakukan perhitungan waktu dan akan berhenti setelah interuptr tidak menghalanginya.
Kabel digunakan untuk membuat rangkaian listrik sistem dan sumber tegangan sebagai
sumber energi listrik sistem.
3.3.1.2 Fungsi Perlakuan
Dalam melakukan percobaan ini, pastikan rangkaian sistem sudah terpasang
dengan benar agar meminimalisir ketidaktepatan percobaan. Peluncur diberi beban
tambahan agar peluncur diasumsikan memiliki massa yaitu massa beban tambahan
karena massa peluncur diabaikan. Sistem dari rel udara digunakan untuk meminimalisir
gesekan antara rel dengan peluncur, namun peluncur tetap memiliki gaya normal.
Sebelum pelcur didorong, atur pencacah waktu setiap kali perhitungan. Hal ini bertujuan
untuk memperoleh nilai sebenarnya, bukan kumulatif. Pada percobaan pertama, massa
benda pertama dan massa benda kedua sama serta benda kedua pada mulanya diam.
Dilakukan perhitungan waktu sebelum dan sesudah tumbukan pada masing-masing
benda, untuk memperoleh ketepatan benda melalui persamaan vi=s/t. Perhitungan
dilakukan sebanyak lima kali. Sedangkan pada percobaan kedua, massa benda pertama
dan benda kedua tidak sama agar mendapatkan variasi data serta benda kedua pada
mulanya dalam keadaan diam. Dilakukan perhitungan waktu dan dilakukan sebanyak
lima kali. Kemudian pada percobaan ketiga, massa benda pertama dan kedua sama serta
masing-masing benda pada mulanya bergerak dan memiliki kecepatan sebelum
tumbukan. Dilakukan perhitungan waktu dan diulang sebanyak tiga kali. Hal yang
penting yang harus diperhatikan adalah pada percobaab kedua dan ketiga, setelah terjadi
tumbukan maka pencacah waktu harus direstart agar tidak terjadi kumulasi data.

3.4 Analisa Hasil


Berdasarkan hasil perhitungan, pada percobaan pertama nilai momentum sistem
sebelum dan sesudah tumbukan memiliki selisih ( m=0,028 kg.m/s) dan energi
kinetiknya juga memiliki selisih nilai (( Ek=0,031 J). Sedangkan pada percobaan kedua,
selisih momentum (( m=0,142 kg.m/s) dan (( Ek=0,058 J), pada percobaan ketiga
(( m=0,287 kg.m/s) dan (( Ek=0,306 J).
Dari hasil percobaan diperoleh selisih nilai momentum dan energi kinetik yang
cukup besar. Hal ini terjadi disebabkan beberapa faktor antara lain: kedua benda peluncur
tidak bertumbukan tepat di tengah sehingga jarak untuk kembali ke posisi semula tidak
seimbang, setelah peluncur-peluncur bertumbukan dan terpental maka semakin lama
kecepatannya semakin berkurang arena rel udara dan blower kurang efektif, keadaan
peluncur kedua yang sulit utuk dibuat dalam keadaan diam sehingga mempengaruhi
kecepatannya setelah tumbukan dan terjadi banyak pembulatan angka pada perhitungan.
Prinsip tumbukan yaitu aliran udara rel yang berasal dari blower dilewatkan pada
papan luncur (peluncur) sehingga peluncur akan melayang di atas rel yang berguna untuk
meminimalisir gesekan antara peluncur dan rel. Ketika papan luncur didorong dan
melewati penghalang cahaya, lempeng interuptor akan menutup cahaya dan pencacah
waktu mulai bekerja. Kecepatan peluncur diperoleh dari jarak tempuh lempeng (lebar
lempeng/s) menutup cahaya dibagi watu tempuh yang tercatat pada pencacah waktu.
Sedangkan momentumnya diperoleh dari massa tambahan peluncur diali kecepatannya.
Tumbukan yaitu bertumbuknya dua benda atau lebih yang masing-masing benda
memiliki massa dan minimal satu benda menumbuk dengan kecepatan tertentu, sehingga
perpindahan momentum benda. Sedangkan momentum merupakan besar massa dikali
kecepatan benda.
Tumbukan dibedakan menjadi tiga. Pertama, tumbukan elastis sempurna yang
berlaku hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan energi kinetik. Kedua,
tumbukan elastis sebagian dan tidak berlaku hukum kekekalan energi kinetik, sebagian
energi kinetik menjadi energi panas, energi bunyi maupun bentuk deformsi lainnya.
Ketiga, tumbukan tidak elastis yaitu tumbukan yang menghasilkan penyatuan benda dan
tidak berlaku hukum kekekalan momentum.

Dalam tumbukan elastis sempurna berlaku persamaan:


P = P
Ek = Ek

P1+P2+.....= P1+P2+.....

m1v12 + m2v22 + .. =

m1v1 2 + m2v2 2 + ..

V = V V2 V1 = (V2 V1)
Dalam tumbukan elastic sebagian tidak memiliki persamaan khusus :
P = P m1v1 + m2v2 + .. = m1v1 + m2v2 + ..
Dalam tumbukan elastis berlaku persamaan :

m1v1 + m2v2 + .. = (m1 + m2 + ..)v


Persamaan Koefisien Restitusi :

e=

atau e =

Contoh soal :
Dua buah benda yang memiliki massa m1 = m2 = 2 kg bergerak saling mendekati
seperti pada gambar, V1= 10

dan V2 = 20

. Jika kedua benda bertumbukan

lenting sempurna, hitung kecepatan masing-masing benda setelah tumbukan!

Penyelesaian

Pada tumbukan lenting sempurna, berlaku persamaan :


V2 V1 = (V2 V1)
V2 V1 = (20 + 10)
V2 V1 = 30
V1 = V2 30 . . . . . .. (persamaan 1)

m1 v 1 + m2 v 2 = m1 v 1 + m2 v 2 x
V1 + V2 = V1 + V2
(10) + (20) = (V2 30) + V2
10 = 2 V2 30
2 V2 = 20
V2 = 10

(ke kanan)

V1 = (1030)

V1 = 20 (ke kiri)
Perbedaan antara tumbukan elastic dan tumbukan tidak elastic, yaitu pertama,
sifat fisis benda hasil tumbukan pada tumbukan elastis tetap, sedangkan pada tumbukan
tidak elastis, kedua benda akan menjadi satu. Kedua, untuk tumbukan elastis, kecepatan
relatif benda-benda sesudah tumbukan sama dengan minus kecepatan relatif sebelum
tumbukan (V

= V) dan untuk tumbukan tak elastis karena benda-benda menjadi

satu sehingga menambah nilai momen inersia benda sehingga benda tersebut akan lebih
lembam atau lambat kecepatannya. Ketiga, koefisien restitusi yang merupakan
perbandingan antara kecepatan relatif sesaat sesudah tumbukan dengan kecepatan relatif
sesaat sebelum tumbukan, pada tumbukan elastis e = 1 dan pada tumbukan tak elastis e =
0.
Apabila dua benda saling bertumbukan elastis di mana mula-mula benda pertama
bergerak dengan kecepatan V1 dan benda kedua diam (V2= 0). Berikut merupakan bukti
bahwa : (a) V1 = V2 jika kedua benda bermassa sama dan (b) P1 = P1 + P2 jika keduanya
bermassa tidak sama.

(a) m1 = m2

P = P

P1 + P2 = P1 + P2

m1v1 + m2v2 = m1v1 + m2v2

transfer energi dari


V1 = V1 + VAdanya
2
benda 1 ke benda 2, karena
V1 = V2
massanya sama sehingga V1
=0
(b) m1 m2

P = P

P1 + P2 = P1 + P2

m1v1 + m2v2 = m1v1 + m2v2


P1 = P1 + P2

Apabila suatu benda yang ringam dan sebuah benda yang berat memiliki energi
kinetik yang sama. Maka momentum benda berat lebih besar daripada momentum benda
ringan. Bukti :
Ek1 = Ek2

benda ringan

:1

benda berat

:2

m1v12= m2v22

Karena m1< m2 maka V1> V2 sehingga P = m, jadi


disimpulkan bahwa P1 > P2

P v dan dapat

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dalam peristiwa tumbukan berlaku hukum Kekekalan Momentum dan hukum
Kekekalan Energi Kinetik pada tumbukan elastis. Dalam percobaan ini persentase bukti
hukum kekekalan momentum besar, karena hanya memiliki selisih yang tipis.
4.2. Saran
Penulis menyarankan agar perangkat rel udara perlu dilakukan servis dan
memperbaiki keadaan rel udara agar dapat seimbang dan tetap terjaga komponenkomponennya.

DAFTAR PUSTAKA
Beiser, Arthur. 1992. Modern Technical Physics. USA: Addision Wesley Publishing
Company.
Halliday, David, dkk. 1992. Physics. USA: John Willey and Sons, Inc.
Halliday, Resnick. 1978. Fisika. Jakarta: Erlangga.
Holzner, Steven. 1992. Physics 1st. USA: John Willey and Sons, Inc.
Sears, Francis W. 1962. Mekanika, Panas dan Bunyi. Jakarta: Erlangga.
Sutrisno. 1997. Fisika Dasar. Bandung: Penerbit ITP Press.

TUGAS PENDAHULUAN
1. Pada tumbukan elastis, sifat fisis benda yang saling bertumbukan tetap, sedangkan
pada tumbukan tak-elastis, benda yang saling bertumbukan akan menjadi satu.
minus kecepatan relatif sebelum tumbukan( v = v ) dan untuk tumbukan takelastis, karena benda-benda tersebut menjadi satu sehingga menambah nilai momen
inersia benda yang akibatnya benda tersebut akan lebih lembam atau lambat
kecepatannya.
Koefisien restitusi yang merupakan perbandingan antara kecepatan relatif sesaat
sesudah tumbukan dengan kecepatan relatif sesaat sebelum tumbukan pada tumbukan
elastis bernilai 1 dan pada tumbukan tak-elastis bernilai nol.
2. a. Jika masa m1 = m2 , berlaku

v2 = 0 & v1 = 0 ( imbas dari v2 yang diam ) & ( imbas dari massa yang sama

b. Jika massa m1 m2

Pawal = Pakhir
P1 + P2 = P1 + P2
m1v1 + m2v2 = m2v2 + m2v2

v2 = 0

m1v1 = m1v2 + m2v2


P 1 = P 1 + P 2

3. Jika benda ringan merupakan benda 1 dan benda berat merupakan benda 2

X2

Karena m1 < m2 maka v1 > v2

P1
m1v1
v22v1

P2
m2v2
v12v2

v2

< v1

P2

> P1

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I


MOMEN INERSIA
(PERCOBAAN ME1)
Disusun oleh:
Kelompok 3
Ainun Rohimus Sofah

(125090300111004)

Dian Sulistyoningsih

(125090300111005)

Dimas Barra Kurniawan

(125090300111009)

M. Sofyan Habibi

(125090300111007)

Nilatul Asna

(125090300111008)

Yudo Perbowo

(125090300111006)

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Dewasa ini ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Begitu juga dalam bidang
ilmu fisika, salah satunya yaitu mengenai momen inersia. Banyak sekali aktivitas dalam
kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan momen inersia. Oleh karena itu, praktikum
kali ini akan melakukan percobaan mengenai momen inersia suatu cakram. Setelah
melakukan percobaan momen inersia ini, peserta harus bisa menghitung momen inersia dari
suatu cakram serta menentukan momen inersia dari cakram berlubang.
1.2 Dasar Teori
Momen inersia merupakan ukuran sudut kuantitatif dari properti objek yang tahan
percepatan rotasi. Momen inersia tergantung pada bentuk dan sumbu rotasi tubuh. Rumus
yang berbeda memungkinkan perhitungan bentuk momen inersia yang berbeda. Rumus untuk
massa merupakan titik penting untuk diketahui (Bresnick, 1996).
Sebuah benda berputar memiliki energi kinetik karena partikel penyusunnya bergerak,
meskipun tubuh secara keseluruhan tetap di tempat. Kecepatan partikel yang merupakan jarak
r dari sumbu benda kaku berputar dengan kecepatan sudut
v=

, adalah:

massa partikel itu adalah m, sedang energi kinetik yaitu:


Ek= mv2=(mr2)

dimana simbol tersebut berarti seperti yang disebutkan sebelumnya, jumlah dari persamaan
menyatakan bahwa energi kinetik memutar benda kaku sama dengan satu setengah jumlah
dari mr2. Nilai partikel benda dikalikan dengan kuadrat dari

kecepatan sudut.

Persamaan ini
I=mr2
dikenal sebgai momen inersia. Memiliki nilai yang sama terlepas dari pergerakannya.
Semakin jauh sebuah partikel yang diberikan adalah dari sumbu rotasi, semakin cepat
bergerak dan semakin besar konstribusinya terhadap energi kinetik dari benda. Momen inersia
benda bergantung pada cara di mana massa dikonstribusikan relatif terhadap sumbu rotasi.

Hal ini sangat mungkin untuk suatu benda untuk memiliki momen inersia yang lebih besar
dari pada yang lain meskipun massanya mungkin jauh lebih kecil dari dua (Beiser, 1964).
Faktor yang diwakili oleh simbol I disebut momen inersia dan momen gayanya:
=I.
Dimana harus diukur dalam radian per detik kuadrat (Bueche,1988).
Persamaan yang menghubungkan persamaan sudut dengan persamaan linear tangensial
atg=r., didapatkan:
F=m.a
=m.r.
Jika kedua sisi dikalikan dengan r, akan didapatkan bahwa torsi =r.F dinyatakan dengan
=m.r2., dari persamaan tersebut akan didapatkan hubungan langsung antara percepatan
sudut dan torsi

yang diberikan. Kuantitas mr2 menyatakan inersiatt torsi partikel dan disebut

meomen inersia (Giancoli, 1998).


Suatu benda tegar terdiri dari sejumlah besar sekali partikel. Maka penjumlahan dalam
persamaan yang sederhana harus digantikan dengan integral, I=
adalah kecepatan benda , maka dm=
I=

; atu jika

dV dan

dV

I=
Besaran tersebut disebut momen inersiarelatif terhadap sumbu rotasi dan didapat
dengan menambahkan hasil kali massa tiap partikel dengan kuadrat jaraknya terhadap sumbu.
Oleh karena itu, semakin melebar suatu benda, semakin besar momen inersianya.
Dengan definisi momen inersia, persamaan tersebut dapat dituliskan dalam bentuk:
L=I.

(hanya untuk rotasi terhadap sumbu linear utama), dimana I merupakan

momen inersia utama yang bersesuaian (Beer,1976).

BAB II
METODOLOGI
2.1 Peralatan
Untuk melakukan praktikum momen inersia membutuhkan peralatan-peralatan.
Peralatan yang digunakan yaitu sebuah mistar/penggaris, sebuah stopwatch, beberapa buah
cakram, sebuah timbangan dan beberapa buah pemberat.
2.2 Tata Laksana Percobaan
Pertama massa pemberat m dan cakram ditimbang. Kemudian, jari-jari cakram
berlubang diukur RL dan RD -nya. Lalu posisi titik A dan B ditentukan dan diukur jaraknya.
Setelah itu pemberat dilepaskan dititik A, waktu yang diperlukan untuk mencapai titik B juga
ikut diukur sebanyak 7 kali. Langkah selanjutnya cakram berlubang di atas cakram pertama
sampai cakram yang tersedia terpakai semua.
2.3 Gambar

Gambar 2.1 Penggaris/Mistar

Gambar 2.2 Stopwatch

Gambar 2.3 Timbangan

BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3.1 Data hasil Percobaan
3.1.1 Massa Pemberat = 30 gr = 0,03 Kg
3.1.2 Massa Cakram
3.1.2.1 Massa Cakram Tak Berongga
m=276,5 gr=0,2765 Kg= 0,28 Kg
3.1.2.2 Massa Cakram Berongga
Cakram

(gr)

(Kg)

m1

289,5

0,2895

m2

288,9

0,2889

m3

288,2

0,2882

m4

288,2

0,2882

m5

289,3

0,2893

3.1.3 Jari-Jari Cakram


Cakram

RL (m)

RD (m)

Tak berongga

0,08

Berongga satu

0,08

0,03

Berongga dua

0,08

0,03

Berongga tiga

0,08

0,03

Berongga empat

0,08

0,03

Berongga lima

0,08

0,03

3.1.4 Jarak Tempuh


S=30 cm=0,3 m
3.1.5 Waktu Tempuh

Jumlah
Penambahan

Waktu Tempuh (s)

(n)
0

11,1

27,1

6,5

5,0

6,4

7,7

6,4

6,9

7,0

7,1

8,3

8,5

8,5

7,9

7,5

10,0

8,7

8,7

8,5

8,4

12,0

10,5

9,9

10,4

9,9

12,2

15,0

10,5

11,9

12,3

3.2 Perhitungan
3.2.1 Cakram Tak Berongga
I0=MR2

R=.nst
=.0,1
R =0,05

=0,28(0,08)2

I0=(

)I

=0,28.0,0064
=(

=0,001792
=(0,19+0,625)0,0018
I0=0,0018

Kg

/m2
=0,815.0,0018

m=.nst
=0,001467
=.0,1
I0=0,0015 Kg.m2
m=0,05
Kr I0=

x 100%

=0,8.100%
Kr I0=80%

3.2.2 Cakram Berongga


=
3.2.2.1 Cakram Berongga (M1)

=
=

Kg
=

I=.M1(RL2-RD2)
=

=.0,2895(0,082-0,032)
=.0,2895(0,0064-0,0009)
=0,14475.0,0055

Kr t=

I=0,000796 Kg.m2

x 100%
x100%

=0,0296.100%

No

7,7

0,4624

6,4

0,3844

=0,28882 Kg

6,9

0,0144

I=.M2(RL2-RD2)

7,0

0,0004

=.0,2889(0,082-0,032)

7,1

0,0064

=.0,2889(0,0064-0,0009)

=0,868

Kr t=2,96%
3.2.2.2 Cakram Berongga (M2)

=0,14445.0,0055

I=0,00079 Kg.m2

Kr t=2,38%

3.2.2.3 Cakram Berongga (M3)

No

8,3

0,0256

=0,28882 Kg

8,5

0,1296

I=.M3(RL2-RD2)

8,5

0,1296

=.0,2882(0,082-0,032)

7,9

0,0576

=.0,2882(0,0064-0,0009)

7,5

0,4096

=0,1441.0,0055
I=0,000792 Kg.m2

=0,752

10

1,2996

8,7

0,0256

8,7

0,0256

8,5

0,1296

8,4

0,2116
=1,692

=
=

Kr t=
=

x 100%
x100%

=0,0238.100%

No

Kr t=

x 100%

x100%
=

=0,0328.100%
Kr t=3,28%

3.2.2.4 Cakram Berongga (M4)


=0,28882 Kg

Kr t=

x 100%

I=.M4(RL2-RD2)
=
2

x100%

=.0,2882(0,08 -0,03 )
=0,0366.100%

=.0,2882(0,0064-0,0009)

Kr t=3,66%

=0,1441.0,0055

3.2.2.5 Cakram Berongga (M5)

I=0,000792 Kg.m2
No

12

2,1316

=0,28882 Kg
I=.M1(RL2-RD2)
=.0,2893(0,082-0,032)

10,5

0,0016

9,9

0,4096

10,4

0,0196

=.0,2893(0,0064-0,0009)
=0,14465.0,0055
I=0,00080 Kg.m2
5

9,9

0,4096
=2,972

No

12,2

0,0324

15

6,8644

10,5

3,5344

11,9

0,2304

12,3

0,0064
=10,668

=
=0,0048
=

=
=16,67

=
3.2.4 Percepatan Cakram Berongga
=

3.2.4.1 Cakram 1

=
Kr t=

x 100%

=
=

x100%

=0,0590.100%
Kr t=5,90%

=
=0,0122

3.2.3 Percepatan Cakram Tak Berongga

=
=
=6,56

3.2.4.2 Cakram 2

=
=

=
=0,0054
=

=0,0090
=

=
=14,81
=
3.2.4.5 Cakram 5

=8,89
3.2.4.3 Cakram 3

=
=

=
=0,0039
=

=0,0076
=

=
=20,51
=
3.2.4 Grafik hubungan dengan

= 10,53

3.2.4.4 Cakram 4
=

=18,59

=(20,12-0,0081)24

=20,119. 24

- 8,075.

=482,6856

=
=2,5
Maka koordinat centroid (2,5;18,59)
R=

Grafik Hubungan Antara 1/


dan n

=
25

=64,6

20
15
10

=
5
0

=0,1536

+ +

3.2 Pembahasan
3.2.1 Analisa Prosedur
3.2.1.1 Fungsi Alat
Beberapa fungsi alat praktikum seperti penggaris digunakan untuk pengukuran jarak dari
titik A ke titik B. Sopwatch digunakan utnuk menghitung waktu yang diperlukan pemberat dari
titik A ke titik B. Cakram dan pemberat berfungsi sebgai benda uji. Sedangkan timbangan
digunakan untuk menimbang pemberat, cakram berongga dan cakram tak berongga.
3.2.1.2 Fungsi Perlakuan
Awalnya cakram tak berongga dan cakram berongga ditimbang agar diketahui massanya,
lalu massanya dicatat. Kemudian, untuk cakram yang tidakn

berongga diukur jari-jarinya

menggunakan jangka sorong, sedangkan cakram yang berongga diukur juga jari-jari luar dan
dalamnya dengan menggunakan jangka sorong. Jari-jari luar diukur menggunakan pisau ukur
jangka sorong bagian bawah, sedangkan jari-jari cakram bagian dalam diukur menggunakann
pisau ukur jangka sorong bagian atas. Cakram yang sudah diukur jari-jarinya dicatat. Disamping
itu, jarak antara titik A dan titik B yang telah ditentukan sebelumnya diukur dengan
menggunakan mistar atau penggaris, lalu dicatat hasilnya. Kemudian, pemberat dilepaskan dari
titik A agar menuju titik B. Setelah itu, waktu yang diperlukan pemberat menuju titik B dari titik
A dicatat. Hal tersebut dilakukan selama lima kali berturut-turut. Kemudian cakram yang
berlubang ditambahkan satu per satun di atas cakram pertama dan catat waktuunya. Hal itu
diulangi sampai cakram yang tersedia terpakai semua.
3.2.2 Analisa Hasil
Momen inersia adalah ukuran kelembaman (resistansi) sebuah partikel terhadap
perubahan kedudukan atau posisi dalam gerak rotasi. Momen inersia juga dikatan sebagai
kecenderungan benda untuk mempertahankan keadaannya. Berdasarkan hasil dari pengamatan
dan perhitungan, dapat diketahui bahwa semakin besar nilai jari-jari dan massa cakram berongga,
maka momen inersia semakin besar, dan begitu pula sebaliknya.
Hubungan antara percepatan tangensial dan percepatan angular dinyatakan oleh a=.R
yang artinya =a/R dan momen gayanya adalah =I. =I0.. momen inersia pada cakram berongga
dapat diketahui dari rumus I=.m(RL2-RD2) dimana RL jari-jari luar dan RD jari-jari dalam.

Sedangkan hubungan antara massa dan percepatan terletak pada hukum Newton yang
kedua yaitu F=m.a, dari formula ini dapat diketahui bahwa massa berbanding tebalik dengan
percepatan. Semakin besar massa maka percepatannya semakin kecil dan sebaliknya.
Dari hasil yang diperoleh Kr yang besar yaitu 8,3%; 2,96%; 2,38%; 3,28%; 3,66%;
590%. Bisa diambil kesimpulan bahwa telah terjadi kekeliruan atau berbanding terbalik dengan
teori. Hal tersebut bisa terjadi karena terdapat kesalahan dalam pengukuran seperti kesalahan
pembacaan skala yang tidak benar, faktor tidak terduga yang terjadi dalam pengukuran misalnya
getaran di sekitar tempat pengukuran sehingga pembacaan skala kurang sempurna serta
kurangnya ketelitian pengamat. Aplikasi momen inersia dalam kehidupan sehari-hari seperti pada
orang yang sedang fitness dan lain sebagainya.

BAB 1V
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dalam praktikum kali ini dilakukan berbagai pengulangan pengukuran agar memperoleh
hasil yang akurat, agar momen inersia dari suatu cakram dapat diketahui. Momen inersia suatu
cakram dapat diketahui dari I=MR2, sedangkan momen inersia dari sistem divariasi dengan
menmbah massa cakram dengan beberapa cakram berongga dengan menggabungkan momen
ienrsia dari kedua cakram tersebut. Sehingga momen inersia total dari momen inersia tottal dari
cakram gabungan yaitu I=M(RL2-RD2). I dapat diperoleh dengan menggambar grafik
hubungan antara 1/ dengan n dan menghitung kemiringan grafik.
4.2 Saran
Pada praktikum kali ini perlu ketelitian yang besar agar data atau hasil pengukuran akurat.
Bersifat hati-hati dan penuh kesabaran diperlukan, dalam pembuatan skala diperlukan ketelitian
juga dan skala pada grafik sekecil mungkin agar ketelitian yang didapatkan dengan susah payah
dan hasil pengukuran tidak sia-sia.

DAFTAR PUSTAKA
Beer, F.P dan Russel J. 1976. Mekanika Untuk Insinyur Statika. Jakarta: Erlangga.
Beiser, A. 1964. The Foundation Of Physics. USA: Addison-Wesley.
Bresnick, S. 1996. High Yield Phisics. USA: William & Wilkins.
Bueche, F.J. 1988. Priciple Of Physics. United States Of America: McGraw-Hill.
Giancolli. 1998. Fisika. Jakarta: Erlangga.
S. Taswa E, Ahmadi, Abu. 1996. Kamus Lengkap Fisika. Jakarta: Bumi Aksara.
Wilardjo, L. 1997. Kamus Istillah Fisika. Jakarta: Gramedia Widiasarana.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I


MODULUS ELASTISITAS
(PERCOBAAN ME-5)
Disusun oleh:
Kelompok 4
Tias Pranata Marga Siwi

(125090801111011)

Ardhi Wibowo

(125090800111020)

Dhika Rizkiansah

(125090800111027)

Galih Rahmat Maulana

(125090800111021)

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dilakukanya percobaan ini yaitu, agar praktikan mampu menjelaskan konsep
tegangan regangan tarik dan modulus elastisitas dari suatu bahan serta mampu mengaplikasiakn
teori-teori yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
1.2 DASAR TEORI
Perbandingan antara tegangan dan regangan dengan syarat-syarat tertentu merupakan definisi
singkat dari hukum hooke , hukum hooke bukan hukum yang bersifat umum , tetapi hanya
merupakan temuan ekspiremental yang hanya berlaku pada rentang yang terbatas . secara singkat
modulus elastisitas memiliki persamaan pemanjangan sebuah pegas ideal berbanding lurus
dengan gaya-gaya yang menariknya =/, jika dijabarkan satu per satu tegangan menyatakan
kekuatan dari gaya-gaya dari penarikan yang biasanya dinyatakan dalam bentuk gaya persatuan
luas, sedangakan regangan menyatakan hasil deformasinya. Saat tegangan dan regangan cukup
kecil, ditentukan bahwa keduanya berbanding lurus dengan konstanta sebagai pembandingnya.
Dalam modulus elastisitas menunjukkan suatu fakta jika semakin kuat suatu benda ditarik, maka
semakin panjang benda tersebut. Semakin kuat gaya tekan yang dilakukan maka semakin tertekan
pula benda tersebut(young dan freedman, 2002).
Gaya yang menarik suatu benda sebesar

l adalah perubahan panjang dan K adalah

konstanta pembanding dimana rumusan ini sering disebut dengan hukum hooke yang berlaku
hamper untuk semua materi padat namun dalam system yang terbatas, karena jika gaya terlalu
besar atau sangat besar maka benda dengan kemampuan elastis secara otomatis akan patah.
Modulus elastis atau yang sering disebut dengan modulus young merupakan hasil perkalian gaya
dan panjang mula-mula dan perkalian antara luas permukaan dengan perubahan panjangngnya
sebagai pembandingnaya. Dengan persamaan umum sebagai berikut =

dengan kata lain

modulus young berbanding lurus dengan nilai tegangan dan berbanding terbalik dengan nilai
reganganya (Giancoli, 2001).
Stress atau tegangan merupakan hasil bagi antara gaya dengan luas permukaandari suatu
benda. Strin atau regangan merupakan hasil bagi antara delta panjang dengan panjang mula-mula
suatu benda, terutama benda yang memiliki kemampuan untuk berelastis. Kika dijabarkan secara
menyeluruh nilai modulus elastis atau modulus young memiliki persamaan sebagai berikut

dengan satuan

(Jones Childern, 1992).

Teganagan memiliki beberapa kesamaan dengan tekanan, persamaan yang ditunjukkan


keduanya antara lain komponenya. Dimana tegangan(stress) merupakan hasil bagi dari gaya
dengan luas permukaan suatu benda. Sama dengan tekanan yang merupakan hasil bagi dari gaya
dengan luas permukaan penampangnya. Kedua besaran ini pun secara otomatis memiliki satuan
yang sama pula yakni

atau sama dengan pascal( Wiston francis, 1994).

Modulus elastisitas merupakan persamaan yang terjadi karena pengembangan dari dasar
teori-teori tegangan regangan yang terjadi pada suatu benda dimana persamaan-persamaan yang
ada pada benda berbahan elastic ada tiga yakni, persamaan young, hooked an bulk. Namun secara
umum hanya ada dua persamaan yang paling sering digunakan yakni persamaan modulus young(
elastis )=

dan persamaan hooke F= k.x(Alonso, 1997).

BAB II
METODOLOGI
2.1 PERALATAN
Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain, dua utas kawat, perangkat alat
baca skala utama dan nontius, seperangkat beban , mistar atau roll meter dan sebuah
micrometer secrub.
2.2 TATA LAKSANA PERCOBAAN
Mula-mula dua utas kawat digantungkan dan dilengkapi dengan seperangkat alat baca
skala utama dan nontius. Agar kawat lurus maka kawat diberi beban awal yang tidak terlalu
besar. Lalu diameter dan panjang kawat diukur serta ditentukan nilai modulus elastisitasnya.
Setelah itu kedudukan skala utama terhadap kedudukan skala nontius dicatat dan bebabn
ditambah beratnya secara berkala. Setelah beberapa saat( kurang lebih 10 sekon) kedudukan
skala utama dan nontius dicatat kembali dan dihitung pertambahan panjangnya. Langkahlangkah tersebut diulangi hingga lima atau tujuh kali penambahan. Setelah penambahan
dilakukan beban dikurangi secara berkala dan dicatat kedudukan skala utama serta skala
nontiusnya. Dihitung pengurangan panjang yang terjadi. Diulangi langkah-langkah pada
pengurangan seperti langkah-langkah pada penambahan beban, sehingga semua beban habis.
2.3 GAMBAR PERLATAN

2.3.1. Gb. Skala nontius dan skala utama

2.3.2. Gb. Kawat

BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3.1 DATA HASIL PERCOBAAN
A. Data hasil penambahan beban
NO
1
2
3
4
5
6
7

m (kg)
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4

L1(mm)
1.562
1.564
1.566
1.568
1.569
1.57
1.571

B. Data hasil pengurangan beban


No.
1
2
3
4
5
6
7

m (Kg)
0,15
1
1,5
2
2,5
3
3,5

L1 (mm)
1,568
1,567
1,564
1,562
1,561
1,560
1,550

Diameter kawat = 0,26 mm


Panjang kawat mula-mula (l0) = 156 cm = 1560 mm = 1,56 m
3.2 Perhitungan (penambahan beban)

No

F=

L (cm)

L1 (m)

(Kg)

m.g

A (m2)

l/l

= F/A

Y (Pa)

(N)

1,562x10-3

155,84 x10-2

10

53x10-10

0,998

0,18x1010 0,18x1010

1,5

1,564x10-3

155,84 x10-2

15

53x10-10

0,998

0,28x1010 0,28x1010

1,566x10-3

155,84 x10-2

20

53x10-10

0,998

0,37x1010 0,37x1010

2,5

1,568x10-3

155,84 x10-2

25

53x10-10

0,998

0,47x1010 0,47x1010

1,569x10-3

155,84 x10-2

30

53x10-10

0,998

0,56x1010 0,56x1010

3,5

1,570x10-3

155,84 x10-2

35

53x10-10

0,998

0,66x1010 0,66x1010

1,571x10-3

155,84 x10-2

40

53x10-10

0,998

0,75x1010 0,75x1010

= L1 L0

= d2 = x 3,14 x (0,26)2 = 0,053 m2

3,27 x1010
=

0,467 x 1010 N/m2


n
7

= Y/n =

L 155,847

155,84 x10 2 m
n
7

6,986

0,998 m
n
7

F 175

25 N
n
7
3,27 x1010
= 0,467 x 1010 Pa
7

Y Y

= (Y Y)

n(n 1)

9 x10 6
=
7(7 1)

9 x10 6
=
42

0,21x10 6 = 0,45 x 103 Pa

= (0,467 x 1010 0,45 x 103) Pa

Y
0,45 x10 3
=
x 100% =
= 0,97 x 10-7 x 100% = 0,97 x 10-4%
10
Y
0,46 x10

KY

Centroid

= b a = 0,56 0,18 = 0,38

= 0,988

= 0,467

Tan

Y 0,467

0,472
X 0,988

Kry

Y
0,38
x 100% =
x 100% = 80%
tan
0,472

3.3. Perhitungan (pengurangan beban)

No

F=

L1 (m)

(Kg)

L (cm)

m.g

A (m2)

l/l

= F/A

Y (Pa)

(N)

1,56x10-3

156,31 x10-2

10

53x10-10

1,009

0,09x1010 0,09x1010

1,5

1,56x10-3

156,31 x10-2

15

53x10-10

1,009

0,18x1010 0,18x1010

1,561x10-3

156,31 x10-2

20

53x10-10

1,009

0,28x1010 0,28x1010

2,5

1,562x10-3

156,31 x10-2

25

53x10-10

1,009

0,37x1010 0,37x1010

1,566x10-3

156,31 x10-2

30

53x10-10

1,009

0,47x1010 0,47x1010

3,5

1,567x10-3

156,31 x10-2

35

53x10-10

1,009

0,56x1010 0,56x1010

1,568x10-3

156,31 x10-2

40

53x10-10

1,009

0,66x1010 0,66x1010

= L1 L0

= d2 = x 3,14 x (0,26)2 = 0,053 m2

L 156,31x7

156,31x10 2 m
n
7

7,069

1,069 m
n
7

2,611010

0,37 x 1010 N/m2


n
7

F 140

20 N
n
7

= Y/n =

2,61x1010
= 0,37 x 1010 Pa
7

Y Y

= (Y Y)

n(n 1)

246,49 x10 6
=
42

5,86 x10 6 = 1,55 x 103 Pa

= (0,37 x 1010 1,55 x 103) Pa

Y
1,55 x10 5
=
x 100% =
= 4,18 x 10-5 x 100% = 4,18 x 10-3%
10
Y
0,37 x10

KY

Centroid

= b a = 0,56 0,09 = 0,47

= 1,009

= 0,372

Tan

Y 1,009

2,712
X 0,372

Kry

Y
0,47
x 100% =
x 100% = 17,3%
tan
2,712

3.2 ANALISA PROSEDUR


Perangkat baca skala utama dan nontius digunakan untuk proses pengkalibrasian
yang secara tidak langsung kedua perangkat baca ini digunakan untuk pengatur
kesetimbangan saat dilakukan penambahan dan pengurangan beban saat percobaan
dilakukan. Micrometer secrub memiliki fungsi sebagai pengukur diameter kawat. Beban
digunakan untuk meluruskan kawat dan kawat digunakan sebagai obyek amat di saat
perubahan panjang terjadi baik pada saat penambahan beban atau pengurangan beban.
Skala utama dan nontius harus dikalibrasi terlebih dahulu setiap dilakukan
penambahan dan pengurangan beban dilakukan. Pengukuran panjang kawat digunakan

alat bantu roll meter dimana pengukuranya dimulai dari ujung pengait atas hingga pengait
bawah yang mendekati skala nontius, mengapa pada pengukuran panjang kawat tidak
digunakan penggaris , alsanya hanya satu tidak menutup kemungkinan jika pengukuran
panjang kawat menggunakan penggaris berpotensi memiliki nilai deviasi atau
ketidakpastian hasil pengukaran yang besar. Maka untuk itu digunakan roll meter dalam
pengukuran panjang kawat untuk meminimalisir nilai deviasi yang timbul.

3.3 ANALISA HASIL


Tegangan merupakan suatu gaya yang dilakukan terhadap suatu benda dengan luas
penampang tertentu. Di dalam praktikum ini tegangan berhubungan dengan beban yang
dikaitkan atau digantungkan dengan seutas kawat berskala utama dan nontius.
Sedangakan regangan merupakan suatu perbandingan delta panjang dengan panjanbg
mula-mula suatu benda dengan kemampuan elastis, jika di dalam percobaan ini
berkenaan dengan perubahan panjang kawat saat penambahan dan pengurangan beban
dilakukan pada kawat. Dengan menggunakan micrometer secrub didapatkan nilai
diameter kawat sebesar 0,2666 mm,
begitu pula

dihitung satu per satu setiap penambahan beban

yang diperoleh dari pengurangan antara

dengan

( panjang setelah

dilakukan penambahan beban ddengan panjang mula-mula atau sebelum penambahan


beban dilakukan dengan menggunakan bantuan roll meter. Setelah itu dari perhitungan
tersebut dapat dihitung nilai regangannya satu per satu( tiap perubahan panjang yang
terjadi. Begitu pula nilai teganganya beserta komponen-komponenya seperti F dan A.
setelah dihitung semuanya dilakukan perhitungan rata-rata, dari data perhitungan yang
diperoleh tersebut akan dimasukkan pada perhitunga selanjutnya yaitu nilai modulus
elastisnya beserta angka deviasinya. Nilai penambahan dipereoleh sebesar 0,46 x
sedangkan pada pengurangan diperoleh sebesar 0,37 x

%. Terdapat pula grafik

dimana nilai Kr grafik pada penambahan beban sebesar 80% dan Kr grafik pengurangan
beban sebesar 17,3%. Terdapat kejanggalan pada Kr antara perhitungan manual dan
grafik. Hal ini terjadi dikarenakan kekurang telitian praktikan dalam melakukan setiap
detail perhitungan dan percobaan. Tak hanya itu saja terdapat faktor lain yang
mempengaruhi diantaranya yaitu
pengukuran.

keyerbatasan alat ukur yang digunakan dalam

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Tegangan adalah perbandingan antara gaya dengan luas permukaan suatu benda.
Regangan adalah perbandingan antara delta panjang engan panjang mula mula.
Sedangkan modulus elastis merupakan perbandingan antara tegangan dan regangan.
4.2 SARAN
Praktikan harus melakukan setiap detail percobaan dan perhitungan dengan seteliti
mungkin untuk mengurangi potensi nilai ketidakpastian (devisiasi) yang besar beserta
untuk meminimalisir kemungkinan kekeliruan dalam memasukkan atau mengolah data
percobaan.

DAFATAR PUSTAKA

Alonso, macello and edward.J Finn. 1967. Fundamental University Phyics.USA:


Addison wesly

Young, D Hugh dan Roger A freedman. 2002. Physics University. USA:


Addison wesly

Gincoli. 2001. Fisika Dasar. Jakarta: Erlangga

Jones, Childern. 1992. Contampory Collage Physics. USA: Addison Wesly

Wiston, Francis. 1994. Fisika universitas 1. Jakarta: Yayasan Buku

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR


VISKOSITAS
(PERCOBAAN FP1)
Disusun oleh :
KELOMPOK 5
1. Dessy Ana Laila Sari
2. Dwiky Rahmadian
3. Fandi Ahmad Rayvaldo
4. Fia Gladnesia
5. Simsom Bintang

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA FMIPA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
Dengan dilakukannya percobaan yang membahas tentang viskositas dari suatu zat cair
ini, peserta percobaan praktikum ini diharapkan untuk dapat mengerti serta memahami
secara menyeluruh pada aspek hokum Stokes. Selain itu, peserta percobaan juga
diharapkan untuk dapat menentukan nilai koefisien kekentalan (viskositas) suatu zat cair
dengan menerapkan konsep hokum Stokes dengan tepat dan akurat
1.2 Dasar Teori
Kekentalan fluida Newton adalah sifat termodinamika yang sebenarnya, nilai sifat ini
sangat bergantung kepada besaran suhu (T) dan tekanan (P). Pada suatu keadaaan tertentu
nilai kekentalan fluida sangat berbeda dibandingkan zat fluida lainnya. Parameter utama
yang mengkolerasikan perilaku kekentalan semua fluida Newton ialah bilangan Reynolds
yang nirmatra (White, 1986)

Di dalam fluida yang bergerak setiap elemen dalam fluida mengalami tegangan yang
didesakkan kepadanya oleh elemen-elemen yang lainnya yang berada di sekelilingnya.
Tegangan pada setiap bagian dari permukaan elemen dipecahkan ke dalam suatu
komponen-komponen normal dan komponen tangensial terhadap arah gerakan fluida yang
kita kenal secara umum sebagai tekanan dan tegangan geser. Tekanan dapat timbul baik
fluida di keadaan bergerak maupun pada keadaan diam atau tidak bergerak. Akan tetapi,
tegangan geser hanya akan timpul apabila cairan atau fluida dalam keadaan bergerak. Sifat
yang menimbulkan tegangan geser inilah yang disebut viskositas atau kekentalan.
(Dugdale, 1981)

Viskositas dapat juga dianggap sebagai kelengketan internal dari suatu fluida. Properti
ini dapat menghasilkan suatu tegangan geser di dalam suatu aliran fluida sehingga dapat
menyebabkan rugi yang terjadi pada pipa. Viskositas sangat bergantung kepada
temperatur atau suhu. Apabila suhu dinaikkan maka tingkat viskositas suatu fluida akan
terjadi penurunan begitu juga sebaliknya, apabila suhu diturunkan maka tingkat viskositas
fluida tersebut akan meningkat. Di dalam fluida, viskositas disebabkan oleh gaya-gaya
kohesif, dan apabila pada gas terjadi karena tumbukan antara molekul satu dengan yang
lainnya. (Potter, Merlec and Wiggert. 2008)

Viskositas dari gas akan bertambah apabila suhu dinaikkan, tetapi viskositas pada
cairan akan mengalami penurunan apabila suhu dinaikkan. Variasi dalam efek temperatur
sendiri dapat dijelaskan melalui percobaan tentang penyebab terjadinya viskositas.
Resistensi dan cairan untuk dapat bergeser atau bergerak bergantung pada gaya kohesi
milik fluida tersebut dan pada laju transfer dari momentum molekul gas tersebut.
(Streeter. 1971)

Dari semua properti fluida yang ada, viskositas merupakan properti yang paling
penting dalam pembelajaran aliran fluida. Viskositas adalah properti dari fluida
berdasarkan yang memberikan resistensi untuk bergeser atau bergerak. Menurut hukum
Newton tentang keadaan kekentalan suatu fluida, bahwa pada tingkatan tertentu deformasi
suatu sudut fluida tegangan gesernya berbanding lurus dengan viskositas fluida tersebut.
Sirup gula dan aspal salah satu contoh dari fluida yang memiliki tingkat kekentalan zat
yang tinggi; air dan udara merupakan contoh dari fluida yang tingkat kekentalannya
sangat rendah. (Streeter and Whyle. 1979)

Koefisien dari kekentalan atau viskositas mungkin sangat dipengaruhi dengan


temperature atau suhu dan tekanan, akan tetapi kurang atau lebih unik terjadi pada fluida
yang spesifik. (Jerome and Elder. 1989)

BAB II
METODOLOGI

2.1 Peralatan
Untuk membantu dalam proses percobaan tentang viskositas fluida digunakan
beberapa peralatan dalam pratikum II ini, antara lain: Mistar; Jangka sorong; Kaliper
micrometer; Neraca ohaus dan Stopwatch. Sedangkan benda-benda yang digunakan
sebagai bahan percobaan antara lain: Beberapa tabung gelas yang berisi zat cair yang
berbeda yaitu oli, gliserin dan minyak; beberapa bola kecil yang ukurannya berbeda.
2.2 Tata Laksana Percobaan
Untuk didapatkan volume tabung yang difungsikan sebagai wadah cairan, pertamatama dengan digunakannya alat berupa jangka sorong kita tentukan besar diameter (D)
dari tabung. Pengukuran diameter ini dilakukan di titik pengukuran yang berbeda. Di
dalam percobaan ini digunakan tiga tabung sehingga ditemukan tiga data diameter yang
dinyatakan dalam satuan millimeter (mm). Berdasarkan dengan rumus volume tabung
maka dapat ditentukan luas alas dari tabung dan dikalikan dengan tinggi dari tabung
sehingga didapatkan nilai dari volume tabung.
Selanjutnya ditentukan besar massa jenis () dengan digunakannya alat berupa
aerometer. Massa jenis dapat ditentukan dengan aerometer yang memanfaatkan konsep
dari gaya apung benda.
Untuk didapatkannya massa jenis dari benda yang berupa bola () dengan
diterapkannya rumus antara massa benda (m) dibagi dengan besar volumenya. Untuk
didapatkannya data massa dari benda, bola akan ditimbang dengan neraca ohaus.
Kemudian pada pengukuran volume bola, ditentukan terlebih dahulu besar nilai diameter
dari bola (D) sehingga dapat disubtitusikan kedalam persamaan rumus volume bola.

Bola kemudian dijatuhkan kedalam tabung yang berisi larutan yang berbeda, pada titik
awal benda mulai bergerak konstan akan ditandai. Kemudian waktu yang diperlukan
benda untuk mencapai dasar diukur dengan menggunakan stopwatch, waktu yang diukur
dinyatakan dalam satuan detik (sekon). Penjatuhan bola diulangi pada setiap tabung yang
akan diuji dengan setiap bola yang berbeda.

Batas bawah akan diubah sehingga didapatkan besar perubahan jarak (S), lalu dengan
digunakan sebuah bola waktu yang dibutuhkan untuk jatuh dihitung dengan stopwatch.
2.3 Gambar
2.3.1 Areometer

2.3.2 Mistar

2.3.3 Jangka Sorong

2.3.4 Kaliper Mikrometer

2.3.5 Neraca Ohaus

2.3.6 Stopwatch

2.3.7 Bola Uji

2.3.8 Tabung Gelas

BAB III
ANALISA dan PEMBAHASAN
3.1 Data Hasil Percobaan
3.1.1 Diameter dan Massa Bola
No
1
2
3

Bola I
D (mm)
15.45
15.47
15.46
46.38

m (gr)
5.4
5.5
5.3
16.2

Bola II
D (mm)
7.48
7.46
7.44
22.38

m (gr)
2.0
2.1
2.0
6.1

Bola III
D (mm)
19.44
19.44
19.43
58.31

m (gr)
32.7
32.6
32.2
97.5

3.1.2 Diameter Tabung


No. Tabung A
(Oli)
1
73.06
2
73.06
3
73.1

Tabung B
(Minyak)
72.1
71.9
72.29

Tabung C
(Gliserin)
73.56
74
73.52

3.1.3 Percobaan pada Bola 3


D (mm) (g/cm)

Tabun
g
A

Zat
Oli

73.07

0.9

Minyak

72.08

0.93

Gliserin 73.69

1.3

S (cm)
23.7 (900)
21.1 (800)
18.5 (700)
26.1 (900)
23.4 (800)
20.8 (700)
24.3 (900)
21.6 (800)
19.0 (700)

Waktu Tempuh (s)


t
t
0.5
0.3
0.2
0.2
0.1
0.1
0.2
0.25
0.1
0.15
0.1
0.15
0.4
0.5
0.35
0.4
0.3
0.3

t
0.3
0.3
0.1
0.2
0.15
0.15
0.45
0.4
0.1

3.2 Perhitungan
3.2.1 Bola I
No.

D (cm)

1
2
3

1.545
1.547
1.546
4.638

|d- |

m (gr)

|m-|

5.4
5.5
5.3
16.2

V
(cm)
1.930
1.937
1.933
5.8

|v- |

V
(cm)
0.219
0.229
0.215
0.663

|v- |

3.2.2 Bola II
No.

D (cm)

1
2
3

0.748
0.760
0.744
2.238

|d- |

m (gr)
2.0
2.1
2.0
6.1

|m-|

3.2.2 Bola III


No. D (cm)
1
2
3

|d- |

m (gr)

1.944
1.944
1.943
5.831

32.7
32.6
32.2
97.5

|m-|

V
(cm)
3.845
3.845
3.839
11.529

|v- |

3.2.2 Grafik
3.2.2.1 Pada Fluida Berupa Oli
No. S
(cm)
1
23.7
2
21.1
3
18.5

63.3
Titik sentroid

T (s)
0.4
0.23
0.1
0.73

Jadi, (x,y) = (21.6; 0.39)

3.2.2.2 Pada Fluida Berupa Minyak


No. S
(cm)
1
26.1
2
23.4
3
20.8

70.3
Titik sentroid

T (s)
0.216
0.16
0.13
0.5

Jadi, (x,y) = (21.6; 0.39)

3.2.2.3 Pada Fluida Berupa Gliserin


No. S
(cm)
1
24.3
2
21.6
3
19

64.9
Titik sentroid

T (s)
0.45
0.39
0.33
1.17

Jadi, (x,y) = (21.6; 0.39)

3.3.1 Analisa Prosedur


3.3.1.1 Fungsi Alat
Untuk menunjang proses praktikum kali ini, digunakan beberapa jenis alat ukur, antara
lain: Areometer yang berfungsi sebagai pengukur besar massa jenis dari larutan dengan
berdasarkan pada konsep daya apung yang ada pada benda, akan tetapi dalam percobaan
kali ini, alat ini tidak digunakan dan sebagai gantinya besar nilai massa jenis larutan telah
ditetapkan sesuai dengan besar massa jenis larutan dalam keadaan standar; Mistar dalam
percobaan ini berfungsi sebagai pengukur panjang ataupun tinggi dari tabung yang diisi
oleh larutan tertentu serta sebagai patokan ukuran tinggi saat bola besi dijatuhkan; Jangka
sorong berfungsi dalam pengukuran besar diameter dari tabung; Neraca ohaus berfungsi
saat pengukuran bola sehingga bola dapat diketahui massanya secara pasti; Kaliper
mikrometer berfungsi sebagai pengukur besar dari diameter bola yang akan dijatuhkan
pada larutan dan stopwatch berfungsi untuk pengambilan data waktu yang diperlukan oleh
bola besi untuk mencapai dasar dari tabung saat dijatuhkan ke dalam larutan tertentu.
Dalam percobaan ini juga digunakan tiga jenis larutan dengan besar nilai kekentalan yang
berbeda yaitu larutan oli, minyak dan gliserin selain itu dalam percobaan ini juga
digunakan beberapa bola pejal dengan ukuran yang berbeda sebagai bahan yang akan
diujicobakan.

3.3.1.2 Fungsi Perlakuan


Dalam proses pengukuran terdapat beberapa pengukuran yaitu, pengukuran diameter,
pengukuran waktu dan pengukuran panjang. Dalam pengukuran diameter digunakan
beberapa alat yaitu jangka sorong dan caliper mikrometer. Jangka sorong digunakan
dalam pengukuran diameter (D) objek tabung yang diisi oleh tiga jenis fluida. Pada jangka
sorong besar ketelitiannya yang dapat diukur sebesar 0.01 cm. Untuk didapatkannya data
yang lebih akurat diwajibkan untuk digunakannya kunci yang tepat pada bagian slide bervernier yang terdapat pada jangka sorong. Pada proses pengukuran diameter pada bola (d)
tidak digunakan jangka sorong tetapi dengan menggunakan kaliper mikrometer karena
tingkat ketelitiannya yang lebih besar ketimbang dengan jangka sorong yaitu 0.001 cm
sehingga lebih baik daripada jangka sorong karena benda yang relatif lebih kecil. Pada
pengukuran tinggi tabung (S) digunakan mistar berketelitian 0.1 cm sebagai alat
pengukurnya. Pada pengukuran massa benda (m), digunakan neraca ohaus sebagai
pengganti neraca analitik. Jenis neraca ohaus yang digunakan pada pengukuran ini adalah

neraca ohaus tiga lengan, neraca ini digunakan dalam pengukuran massa dari bola pejal.
Pada perhitungan waktu pada bola pejal ketiga untuk tenggelam di tiap-tiap fluida
digunakan stopwatch sebagai alat pengukur waktunya.

3.2.2 Analisa Hasil


Untuk menentukan nilai rata-rata dari tiap data seperti diameter (d), waktu (t), jarak
(S), massa (m) dan volume (v) dapat ditentukan dengan rumus,

Rumus ini berlaku pada setiap penentuan besar nilai rata-rata dari data yang
didapatkan. Sehingga dalam rumus di atas besaran diameter (d) dapat digantikan dengan
besaran lainnya yang ingin ditentukan nilai rata-ratanya. Rumus ini hanya berlaku pada
besaran yang memiliki jumlah data sebesar lebih dari satu data.

Untuk menentukan besar volume objek pengukuran karena dalam praktikum


digunakan dua benda yaitu tabung dan bola. Untuk menentukan volume bola digunakan
rumus,

Dalam kasus ini nilai d dibagi dua menjadi nilai r atau jari-jari bola. Untuk nilai
dapat berupa pecahan maupun angka desimal. Pada bentuk pecahan sama dengan 22/7 dan
pada bentuk desimal nilai senilai 3.14. sendiri merupakan konstanta bagi benda yang
memiliki salah satu atau lebih bidang yang berbentuk lingkaran.
Untuk benda berupa tabung dapat digunakan rumus,

Setelah didapatkan data volume tiap benda, kita harus menentukan besar massa
masing-masing benda dengan bantuan neraca ohaus sebagai pengganti neraca analitik.
Adapun untuk menentukan besar nilai dari massa jenis () pada percobaan kali ini,
dengan menggunakan rumus,

Pada percobaan kedua yaitu proses jatuhnya bola pejal di dalam fluida yang berbeda
kekentalannya (viskositasnya) yang satu dengan yang lainnya. Untuk menentukan titik
sentroid pada grafik kecepatan bola ketiga pada fluida ditentukan dengan rumus,

Dan untuk menentukan besar sudut yang terbentuk pada grafik digunakan rumus,

Dengan didapatkannya hasil Tan ini, akan didapat hasil v rata-rata v sendiri
melambangkan kecepatan pada bola pejal ketiga, Besar nilai v rata-rata ini diartikan
sebagai besar kecepatan bola pejal untuk jatuh pada fluida yang diujicobakan dalam
praktikum ini. Nilai kecepatan dapat ditentukan dengan rumus,

Sehingga dengan didapatkannya besaran dapat ditentukan koefisien viskositas fluida


dengan menerapkan rumus,

Pada bola 1 didapatkan beberapa data yaitu: diameter rata-rata ( ) sebesar 1.546 cm;
dengan ketelitian diameter Kr d sebesar 0.037%; volume rata-rata

sebesar 1.933 cm

serta massa jenis () sebesar 2.793 gr/cm. Pada bola 2 didapatkan data yaitu: diameter
rata-rata ( ) sebesar 0.746 cm; dengan ketelitian diameter Kr d sebesar 0.785%; volume
rata-rata

sebesar 0.221 cm serta massa jenis () sebesar 9.19 gr/cm. Pada bola 3

didapatkan data berupa: diameter rata-rata ( ) sebesar 1.944 cm; dengan ketelitian
diameter Kr d sebesar 0.029%; volume rata-rata

sebesar 3.843 cm serta massa jenis

() sebesar 8.457 gr/cm.


Pada percobaaan tentang kecepatan benda pada fluida dengan tingkat kekentalan
(viskositas) yang berbeda tiap fluidanya. Dalam percobaan ini objek yang digunakan
adalah bola pejal ketiga yang bermassa 32.5 gram. Fluida yang akan diujicobakan dalam
percobaan ini yaitu, oli, minyak dan gliserin. Massa jenis dari ketiga fluida ini masingmasing adalah 0.9; 0.93 dan 1.3 gr /cm. Jarak yang digunakan sebagai patokan yaitu
jarak saat cairan bervolume 900 mL, 800 mL dan 700 mL. Pada tabung yang berisi oli

jarak yang digunakan antara lain: 23.7 cm; 21.1 cm; 18.5 cm. Dari data yang didapatkan
melalui proses perhitungan didapatkan data seperti: titik sentroid sebesar (21.1; 0.24);
besar 17.24 cm/s; dengan Kr v 41.1 %; koefisien viskositas sebesar 387.926 dyne/cm.
Pada tabung berisi minyak goreng jarak yang digunakan antara lain: 26.1 cm; 23.4 cm
dan 20.8 cm. Dari pengukuran ini didapatkan data antara lain: titik sentroid sebesar (23.4;
0.16); besar 66.67 cm/s; dengan Kr v 10.3%; koefisien viskositas sebesar 22.25
dyne/cm. Pada tabung berisi gliserin jarak yang digunakan sebesar 23.4 cm; 21.6 cm dan
19 cm. Dalam pengukuran ini didapatkan data berupa: titik sentroid sebesar (21.6; 0.39);
besar 55.5cm/s; dengan Kr v 12.4%; koefisien viskositas sebesar 25.45dyne/cm.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari pengukuran yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa tiap fluida
memiliki masing-masing tingkat kekentalan (Viskositas) yang berbeda satu sama lainnya.
Dalam kasus pengukuran kali ini viskositas merupakan salah satu factor pokok yang
mempengaruhi adanya perbedaan besar kecepatan jatuh suatu benda dalam fluida yang
bersangkutan. Sehingga dapat ditarik intinya yaitu, makin tinggi nilai kekentalan suatu
zat maka kecepatan rata-rata benda untuk mencapai dasar semakin melambat.
4.2 Saran
Dalam percobaan ini sangat diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi baik dalam
kegiatan mengukur maupun kegiatan perhitungan. Pada pengukuran sebaiknya praktikan
harus memberi perhatian yang penuh sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pembacaan
skala.

DAFTAR PUSTAKA
Streeter L. Victor and Wylie Benjamin E. 1979. Fluid Mechanics. Tokyo: Tosho Printing.
Dugdale R. H. 1981. Mekanika Fluida. Jakarta: Erlangga.
White, M. Frank. 1986. Mekanika Zalir. Jakarta: Erlangga.
Potter, Ph. D. Merlec and Wiggert C. David. 2008. Mekanika Fluida. Jakarta: Erlangga.
Williams, Jerome and Elder A. Samual. 1989. Fluid Physics for Oceanographers and Physics.
U.K: Pergamon Press.
Streeter, L. Victor. 1971. Fluid Mechanics. Tokyo: Kogakusha Co. Ltd.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I


KOEFISIEN MUAI PANJANG
(PERCOBAAN FP)
Disusun oleh:
Kelompok 6
Hadiyani Afina Rafika

(125090700111026)

Ihda Arija Alfi Husna

(125090700111001)

Lucky Kriski Muhtar

(125090700111002)

M. Fajri Mubarak

(125090700111025)

Qori Fajar Hermawan

(125090700111003)

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
Percobaan koefisien muai panjang bertujuan agar peserta memahami konsep
pemuaian berbagai zat padat dan menentukan koefisien muai panjang berbagai batang
logam.

1.2 Dasar Teori


Kebanyakan
membutuhkan

dari

bahan

sambungan

memuai

khusus

ketika

dan

suhunya

menopang

untuk

meningkat.Jembatan
memberi

ruang

pemuaian.Peristiwa tersebut merupakan salah satu contoh dari pemuaian termal. Anggap
batang dari bahan memiliki panjang L0 pada suhu awal T0 ketika suhu berubah dengan T,
panjang berubah dengan L. Percobaan menunjukkan bahwa apabila T tidak terlalu
besar (katakanlah, kurang dari 100 C atau sebagainya), L proporsional secara langsung
terhadap T. Jika dua batang terbuat dari bahan yang sama akan memiliki perubahan suhu
yang sama, jika perubahan adalah dua kali dari yang lain, kemudian perubahan pada
panjang juga dua kali. Dengan demikian L juga harus proporsional terhadap L0 ( Young,
1992).
Eksperimen mengindikasikan bahwa perubahan panjang L dari hampir semua
benda padat adalah perkiraan yang sangat tepat, secara langsung proporsional terhadap
panjang asli dari objek, L0.Yaitu untuk perubahan suhu yang sama, empat meter
panjangnya besi akan meningkat dua kali sepanjang dua meter. Kita dapat menuliskannya
dengan persamaan :
dengan adalah konstan dan disebut dengan koefisien pemuaian linear dengan satuan
(C)-1, artinya perderajat. Nilai dari untuk berbagai bahan pada sushu 20 C terdapat
pada tabel di bawah. Perlu dicatat bahwa berubah sedikit sekali terhadap suhu. Dengan
demikian, bila rentang suhu tidak terlalu besar, keragaman biasanya dapat diabaikan.

Bahan

Solid

Alumunium

0.000025

Kuningan

0.000019

Besi atau Baja

0.000012

Liquid

Timah

0.000029

Kaca Pyrex

0.000003

Kaca Biasa

0.000009

Kuarsa

0.0000004

Gasoline

0.00095

Raksa

0.00018

Etil Alkohol

0.0011

Air

0.0005

(Giancoli, 1988)
Kita dapat memahami mengapa, pada tingkat mikroskopis, benda padat memuai
dengan peningkatan suhu. Pada benda padat, atom yang berdekatan mengalami gaya satu
sama lain dan bergerak bergetar. Pada suhu yang telah diketahui, molekul khusus berkisar
pada posisi rata-rata. Fungsi energi potensial efektif dari dua atom yang berdekatan
terpisahkan oleh jarak. Fungsi ini asimetris terhadap munimumnya, dan pemisahan ratarata bergantung pada energi molekul. Kita menghubungkan peningkatan suhu dengan
peningkatan energi molekular rata-rata. Dengan peningkatan energi, pemisahan molekul
rata-rata akan meningkat. Efeknya, ketika mengenai atom pada benda padat, menaikkan
pemuaian termal (Keller dkk., 1992).
Pertambahan ukuran tiap bagian suatu benda untuk suatu perubahan suhu tertentu
sebanding dengan ukuran mula-mula benda itu. Jadi, jika kita naikkan temperatur suatu
penggaris baja, misalnya, pengaruhnya akan serupa dengan pembesarn fotografis. Garisgaris yang semula berjarak pisahnya lebih besar. Demikian pula lebar penggaris akan
sedikit lebih besar. Bila penggaris mempunyai lubang, maka lubang akan menjadi lebih
besar, seperti yang terjadi pada perbesaran geografis (Tipler, 1991).
Koefisien muai suatu batang dapat ditentukan secara pendekatan batang. Di dekat
ujung-ujung batang ditentukan secara pendekatan batang. Kemudian suhu batang
dinaikkan atau diturunkan dengan mengetahui beberapa kenaikan atau turunnya suhu itu,
lalu pergeseran tiap-tiap garis tersebut diukur dengan mikroskop pengukur (Zemansky dan
Sears, 1962).

Logam A

Logam B

BAB II
METODOLOGI

2.1 Peralatan
Ada beberapa alat yang di pergunakan dalam percobaan ini. Antara lain adalah
seperengkat alat pemuaian, thermometer, selang karet, pipa yang akan di ukur muai
panjangnnya (kuningan, baja dan perunggu), cawan petri, dan generator uap.

2.2 Tata Laksana Percobaan


Mula-mula alat disusun seperti gambar 1. Kemudian di lakukan kalibrasi
panjang ke sudut pada set up peralatan ini dengan dipastikan terlebih dahulu bahwa
jarum penunjuk pada posisi 0. Setelah itu diletakan ujung terbuka pipa di bagian
sandaran tetap (A) dan ujung tertutup di sandaran pengarah (B).pipa dijepitkan pada
sandaran tetap dengan sekrup yang dikencangkan (C). sehingga dapat dijepit tepat
pada lekukan cincin katup. Kemudian ujung terbuka pipa disambungkan ke selang
karet yang di hubungkan dengan generator uap.Setelah itu tempat generator uap diisi
dengan air sampai bagian dan generator tersebut ditutup dengan penutup sekrup.
Pada temperature ruangan (bukan temperature air )T0, atau temperature awal dicatat.
Diukur terlebih dahulu pipa sebelum dipanaskan dengan generator yang dihubungkan
ke stopkontack.Dicata panjang batang pipa (diwakili besarnya sudut), untuk setiap
perubahan 5 C sampai tidak terjadi perubahan panjang lagi. Langkah-langkah diatas
diulang lagi untuk pipa yang lain.
2.3 Gambar

Gambar 1 : Setup Eksperimen

BAB III
ANALISA DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Hasil Pengamatan

No.

Jenis Pipa 1

Jenis Pipa 2

Jenis Pipa 3

L0 = 0,642 m

L0 = 0,642 m

L0 = 0,642 m

T0 = 27,5 C

T0 = 27,5 C

T0 = 27,5 oC

T (oC)

(o)

T (oC)

(o)

T (oC)

(o)

32,5

32,5

32,5

14

37,5

37,5

2,5

37,5

14

42,5

42,5

2,5

42,5

17

Tabel 3.1.1. Tabel Hasil Pengmatan Muai Panjang pada Pipa 1,2 dan 3

3.2 Perhitungan
3.2.1 Pipa 1

Catatan:

No.
1.
2.
3.

Tabel 3.2.1.1. Perhitungan

3.2.2 Pipa 2

Catatan :
L

No.

1
2
3

Tabel 3.2.1.1. Perhitungan

3.2.2. Pipa 3

L
L
L
Catatan :
L

No.

1
2
3

Tabel 3.2.1.1. Perhitungan

3.3 Pembahasan
3.3.1 Analisa Prosedur
3.3.1.1 Fungsi Alat
Dalam percobaan koefisien muai panjang ini, digunakan beberapa
alat ukur dan bendauji. Alat ukur yang digunakan seperti setup peralatan,
selang karet, cawan petri, termometer dan generator uap. Sedangkan benda
uji yang digunakan ialah tiga pipa yaitu pipa besi, pipa kuningan dan pipa
perunggu.
Setup peralatan digunakan sebagai rangka seluruh alat dimana
seluruh peralatan yang digunakanterhubung ke setup peralatan, bukan hanya
peralatan saja namun benda uji pun diletakkan pada setup peralatan. Setup
peralatan memiliki dua buah sandaran. Yakni sandaran tetap dan sandaran
pengarah. Sandaran tetap digunakan untuk manyimpan dan menjepit pipa
terbuka (benda uji). Sedangkan sandaran pengarah dugunakan untuk
menyimpan dan menjepit pipa tertutup. Setup peralatan juga dilengkapi
dengan alat pengukur pemuaian berbentuk bujur sangkar yang akan bergerak
apabila benda uji dimuaikan dimana setiap derajatnya setara dengan nilai 3 .
10-5 meter. Setup peralatan juga memiliki pemutar skrup pada ujung sandaran
tetap agar bisa menjepit pipa.
Selang karet merupakan selang yang termodifikasi agar kalor atau
panas diusahakan telah bisa keluar dari sistem. Alat ini digunakan untuk
menghubungkan generator uap dengan setup peralatan serta menghubungkan
benda uji dengan cawan petri. Dalam praktikum, alat ini sangat berperan
penting dalam distribusi kalor dari genrator uap ke benda uji.
Cawan petri digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan uap sisa
yang digunakan untuk memuaikan benda uji. Cawan petri ini mempunyai
memiliki fungsi lain yakni tempat untuk menimbang bahan dan tempat
mengeringkan bahan. Cawan petri mrupakan wadah berbentuk bundar dan
terbuat dari plastik atau kaca.
Alat yang dugunakan selanjutnya adalah termometer. Termometer
digunakan untuk mengukur suhu. Baik suhu mula-mula saat percobaan yang
merupakan suhu ruangan serta suhu akhir yang merupakan suhu benda uji
setelah dipanaskan. Termometer digunakan dalam percobaan koefisien muai
panjang karena koefisien sangat tergantung pada suhu. Persamaan koefisien
muai panjang adalah :

=L/LT
Sehingga koefisien muai panjang berbandibng terbalik dengan suhu.
Termometer menjadi penting dalam menentukan suhu untuk mengetahui
nilai dari koefisien muai panjang.
Alat yang digunakan selanjutnya ialah generator uap . Generator uap
digunakan sebagai sumber kalor, kalor berasal dari air yang dipanaskan
dalam generator uap. Sehingga air tersebut menjadi uap dan uap tersebutlah
yang membuat bahan uji menjadi memuai dengan mengetahui perubahan
panjang benda uji dengan serta perubahan suhu maka akan didapatkan nilai
koefisien muai panjang. Cara kerja generator uap ialah memanaskan air yang
ada di karet sehingga menjadi uap. Energi yang digunakan oleh karet listrik
ialah energi listrtik.
Dalam praktikum alat atau instrumen memang menjadi syarat pasti
untuk mengukur suatu besaran. Namun setiap alat ukur tersebut juga
memiliki syarat agar bisa digunakan secara tepat dengan presisi dan akurat.
Maka, alat ukur tersebut harus dilakuakn kalibrasi serta kondisi alat ukur
tersebut harus berfubngsi dengan baik. Sehingga dapat didapatkan data hasil
yang benar.
3.3.1.2 Fungsi Perlakuan
Percobaan koefisien muai panjang ini memiliki tujuan agar praktikab
dapat memahami konsep dari persamaan pada loga. Hal ini menjadi penting
karena manusia sangat membutuhkan logam dalam kehidupan sehariharinya. Logam dan beberapa material padat lainnya memiliki sifat memuai.
Sehingga dengan mempelajari sifat dari pemuaian itu sendiri manusia dapat
memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam praktikum di laboraturium untuk percobaan koefisien muai
panjang perlu diperhatikan beberapa muai dengan saat perakitan alat harus
dipastiakan bahwa selang karet terpasang baik agar tidak ada kalor yang
tebuang saat dialkukan pendistribusian kalo. Sehingga, pada alat penghubung
baik pada generator uap, pada setup peralatan dan cawan petri harus benar.
Jadi dalam pemasangan seperti pada pengencangan sekrup dan pastiakan
bahwa selang tidak bocor. Hal ini perlu dilakuakan agar percobaan menjadi
efektif.
Dalam percobaan koefisien muai panjang, perlu diperhatikan apabila
sesudah memanaskan air lebih baik air dibuang dan diganti yang baru.

Krena, apabila menunggu air mendingin, maka akan memerlukan waktu


yang lama. Dalam percobaan ini, pada tiap percobaan harus teliti. Karena,
bila harus mengulang maka akan memerlukan waktu yang lama.
Ketelitian dalam praktikum menjadi syarat yang harus dipenuhi.
Namun, tidak cukup itu saja. Karena, dalam praktikum ini diperlukan
kerjasama tim yang baik. Pengamatan dalam pratikum ini terdiri dari
beberapa pengamatan yang membutuhkan banyak pengamat dalam satu
waktu. Yaitu untuk mengamati busur derajat, termometer, stop contact dan
pencatat data.
Dalam praktikum ini, perlu diperhatikan bahwa alat-alat yang
digunakan tersebut ketika proses praktikum sedang berada pada suhu diatas
minimal. Sehingga, tidak bisa disentuh menggunakan tangan kosong. Perlu
diperhatikan pula bahwa termometer dan ketel yang digunakan merupakan
alat elektronik yang apabila terkena air dapat terjadi konsleting. Air tersebut
dapat berasal dari air yang mendidih pada generator uap yang meluap
sehingga alat instrumen listrik harus diamankan dari luapan air tersebut.
Sehingga, agar percobaan menghasilkan data yang valid yang dapat
digunakan untuk mensejahterakan dan membantu kehidupan diperlukan
ketelitian dan kepahaman dalam menguasai materi yang akan dilakukan.
3.3.2 Analisa Hasil
Pemuaian adalah bertambah ukuran suatu benda karena pengaruh suhu atau
bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima kalor. Pemuaian terjadi pada zat
padat, zat cair dan zat gas. Namun, pemuaian linear hanya terjadi pada zat padat
saja.
Pemuaian linear adalah bertambah panjangnya zat pada salah satu sisinya
saja. Misalkan panjang, lebar atau bagian tinggi dari zat tersebut menerima kalor.
Persamaan pemuaian linear adalah :
L=LT
Koefisien muai panjang yang didefinisikan sebagai pertambahan panjang
tiap satuan panajng atau satuan suhu, memiliki persamaan :
=L/LT
Dengan L adalah perubahan panjang benda (L-L), L adalah panjang
benda mula-mula, L adalah panajng akhir benda, T adalah perubahan suhu (T-T),
T adalah suhu mula-mula, T adalah suhu akhir benda dan adalah koefisien muai
panjang.

Setelah dihasilkan data mentah melalui pengukuran dengan seperangkat


instrumen berupa suhu mula-mula, suhu akhir, simpangan dan panjang mula-mula,
data dikembangkan untuk mendapatkan nilai perubahan suhu dan konversi sudut ke
panjang dengan cara mensubtitusikan data ke persamaan berikut :
Tn = Tn - To

Ln = n =1

Setelah didapatkan data diatas, masuk kepada pengolahan selanjutnya yaitu


melaui persamaan (mencari niali koefisien linear) :
=L/LT
Selanjutnya diambil niali rata-rata dari data tiap pipa. Sehingga, dihasikan
data yang diinginkan berupa koefisien muai panjang.
Selanjutnya, hasil percobaan tersebut disamakan dengan hasil percobaan.
Dan ternyata terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Yaitu pada data perhitungan
sebesar 15,05.10-6 (K-1) dan pada literatur sebesar 12.10-6 (K-1).
Terdapat perbedaan koefisien muai panjang sebesar 3,05.10 -6 K-1. Hal ini
terjadi karena alat yang digunakan relatif kurang mendukung. Termometer yang
digunakan mengalami sedikit kerusakan (kurang sensitif). Sehingga, terus menerus
berubah sebesar interval 3

ketika sensornya digerakkan di ruangan tanpa

disentuhkan ke sistem. Selain termometer, selang karet yang kurang baik pada saat
penempelan ke setup peralatan menjadi kesalahan selanjutnya. Hal ini membuat
kalor dapat keluar dari sistem. Bukan hanya rusaknya alat saja, namun ada alat yang
tidak ada dan diganti dengan alat lainnya yaitu cawan petri yang diganti dengan
ketel untuk generator uap. Fasilitas keamanan dalam praktikum juga mendukung.
Karena, laboratorium belum memiliki alat pelindung panas untuk tangan. Sehingga,
praktikan agak canggung dalam melakukan pengukuran.
Setelah mendapatkan nilai koefisien muai panjang, dilanjutkan untuk
mencari kesalahan relatif dengan persamaan :
Kr= / x 100%
Sehingga didapatkan hasil koefisien relatif sebesar :
Kr1 = 12,38 %
Kr2 = 25,2 %
Kr3 = 29,12%
Angka kesalahan relatif yang tinggi, membuktikan bahwa presisi alat-alat
untuk praktikumkoefisien muai panjangtidak efektif digunakan.
Fungsi dari pemuaian itu diantaranya adalah untuk mengukur kejadiankejadian di alam yang berhubuangan pemuaian. Sehingga dapat menanggulangi

kerugian yang ditimbulkan dan memanfaatkan kelebihannya. Aplikasi dari


pemuaian ialah dalam pembuatan rel kereta api yang diberi regangan agar rel tidak
bengkok ketika terik (siang). Selain itu, kaca yang dibuat renggang dengan kayunya
agar tidak pecah. Pemasngan jembatan yang salah satu sisi jembatan diberi roda
untuk memberikan ruang saat terjadi pemuaian. Kabel telepon yang dibuat kendur
agar tidak putus ketika terjadi pemuaian pada waktu siang hari.
Fungsi pemuaian diatas adalah fungsi pemuaian yang digunakan sebagai
penanggulangan pengaruh negatif dari pemuaian. Namun fungsi secara nyata dari
pemuaian ialah penyelingan plat logam pada roda peati, pemasangan roda ban kerja
pada lokomotif, membuka tutup botol dengan air panas, bimetal lampu sen, setrika
listrik dan pemasangan pita logam pada tongkat kayu.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pada percobaan ini dapat disimpulkan bahwazat padat dapat mengalami
pertambahan panjang apabila terjadi pemanasan pada zat tersebut dan mungkin juga akan
mengalami pemuaian luas dan volume (hanya saja tidak dibuktikan pada percobaan ini).
Zat padat tersebut akan kembali menyusut jika suhu kembali turun.
Koefisien muai panjang pada masing-masing pipa bahan yang diujikan berbedabeda satu sama lain. Pipa yang paling banyak mengalami pemuaian adalah pada pipa
berbahan perunggu.
4.2 Saran
Sebelum dilakukan percobaan, sebaiknya dilakukan terlebih dahulu pengecekan
terhadap alat-alat yang akan digunakan. Apakah alat tersebut masih berfungsi dengan baik
atau tidak. Sehingga, tidak akan terjadi gangguan ketika pengambilan data dilakukan.
Wadah yang digunakan pada generator uap (ketel) sebaiknya ditambah agar ketika
penggantian air ke percobaan bahan lain tidak akan memakan waktu lama sehingga akan
lebih efisien waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, Douglas. C. 1988. Physics for Scientist and Engineering. New Jersey: Prentice Hall.
Keller, Fredrick. J, W. Edward Gattys. Malcolm J. Skove. 1993. PhysicsClassicalandModern.
New York: John Wiley and Sons.
Tipler, Paul. A. 1991. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.
Young, Hugh. D. 1992. University Physics. New York: Addison-Wesley Pulishers.
Zemansky, Mark. W. Francis Weston Searz. 1962. Fisika untuk Universitas. Bandung:
Binacipta.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I


KALOR JENIS
(PERCOBAAN FP3)
Disusun oleh:
Kelompok 7

Aileen M. Tapetfeto

( 125090700111009 )

Antares Wira Andika

( 125090700111007 )

Daniel Noventio A. P

( 125090700111008 )

Izzatul Mufidah

( 125090700111005 )

Muhamad Rahmawan

( 125090700111006 )

Nur Amalia Putri

( 125090700111004 )

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Tujuan Percobaan
Setelah melakukan praktikum ini diharapkan peserta praktikum Fisika Dasar
dapat menjelaskan konsep kalor jenis zat padat dan asas Black, juga mampu
menentukan kalor jenis suatu bahan dengan menggunakan kalorimeter.

1.2

Dasar Teori
Panas Jenis atau biasa disebut kalor jenis memiliki definisi tersendiri, yaitu
sebagai perbandingan antara kapasitas panas jenis bahan tersebut dengan kapasitas
panas jenis air. Secara umum, panas jenis atau kalor jenis secara numerik atau
perhitungan angka memiliki kesamaan dengan kapasitas panas jenisnya. Akan tetapi,
karena panas jenis didefenisikan sebagai perbandingan, maka panas jenis atau kalor
jenis hanyalah berupa bilangan tanpa satuan. Kapasitas panas benda memiliki sebuah
defenisi, yaitu panas atau banyaknya panas yang diperlukan untuk menimbulkan
kenaikan suhu yang sama, berbeda-beda nilai kapasitas panas antara benda satu
dengan benda yang lainnya tergantung dari bahan dasarnya. Bila sebuah benda
menerima kalor atau panas sebanyak Q, suhu benda tersebut mengalami kenaikan
sebesar

derajat.

Perbandingan antara banyaknya panas yang diberikan dengan kenaikan suhu disebut
kapasitas panas benda tersebut. Bila dituliskan persamaannya, maka akan menjadi
seperti ini:

Kapasitas panas jenis memiliki satuan kalori per gram derajat celcius (

) .

Dari kapasitas panas, kita bisa mencari kapasitas panas jenis, digunakan sebagai angka
yang khas bagi bahan benda yang bersangkutan. Cara mencarinya dengan persamaan
berikut:

Apabila kita ingin mencari kalor melalui persamaan di atas akan berbunyi:
. (Sears,1964).
Perpindahan panas atau kalor akan terjadi apabila dua benda yang memiliki
suhu masing-masing misalnya yang satu panas dan yang satu dingin bertemu. Kedua
benda ini saling menghantarkan panas dan menerima panas sehingga diperoleh sebuah
angka suhu setimbang. Untuk benda yang panas akan menjadi lebih dingin, untuk
benda yang dingin akan menjadi lebih panas. Apabila perpindahan panas ( merupakan

perpindahan energi ) terjadi semata-mata karena perbedaaan suhu, peristiwa ini


disebut pengaliran panas. Akan tetapi ada perpindahan panas tanpa pengaliran panas.
Hal ini akan dipelajari dalam pemampatan ruangan. ( Sears dan Zemansky, 1962).
Temperatur atau suhu merupakana besaran yang digunakan utuk mengukur
panas dinginnya suat benda. Namun definisi ilmiahnya adalah ukuran dari suatu
kemampuan bergerak partikel, pada umumnya adalah atom-atom, untuk secara
langsung menyalurkan energi panasnya kesebuah termometer atau objek yang lainnya.
Suhu dari sebuah zat tidak hanya bergantung pada banyaknya jumlah atom saat
dilakukan pengukuran, tetapi juga bergantung pada energi kinetik acak rata-rata.
Semakin banyak jumlah atom dan semakin banyak juga energi kinetik yang dimiliki,
energi panas yang dipancarkan oleh zat tersebut akan semakin banyak juga pada
sistem. ( Hecht, 1994 ).
Setiap zat yang ada dibumi ini memiliki batas kalor atau suhu yang dapat
diterima dan diserap apabila jumlah kalor yang diterima melebihi batas tersebut, zat
itu akan mengalami perubahan wujud. Perubahan wujud ini ada beberapa macam,
yang pasti terjadi antara zat cair, gas dan padat. Yang pertama adalah membeku, yaitu
perubahan wujud dari cair ke padat. Kebalikan dari membwku adalah melebur atau
mencair. Yang kedua adalah menguap, yaitu perubahan wujud cair menjadi gas.
Sedangkan perubahan bentuk dari gas ke cair dinamakan mengembun. Yang ketiga
adalah perubahan wujud dari padat ke gas yang kerap kali disebut menyublim. Untuk
mengembalikan wujud padat dari wujud gas, zat tersebut perlu mengalami
pengkristalan. (Sternheim dan Kane, 1991).
Energi panas sangatlah mudah untuk diciptakan melalui perubahan energi
lainnya. Sebagai contoh saat kereta berjalan dengan bahan bakar batu bara, batu bara
tersebut langsung terbakar di dalam tungku dan menjadi energi panas. Sayangnya
untuk mengembalikan energi panas tersebut menjadi energi lain atau energi asal
adalah sangat sulit. Itulah alasan mengapa energi panas adalah energi yang paling
boros. (Beiser, 1964).

BAB II
METODOLOGI
2.1

Peralatan
Dalam percobaan kalor jenis ini ada beberapa alat ukur yang perlu digunakan.
Diantaranya adalah sebuah kalorimeter yang lengkap dengan pengaduknya, lalu
termometer, timbangan dan gelas ukur. Perlu disiapkan juga sebuah alat pemanas.
Untuk benda uji, siapkan sebuah bahan yang akan ditentukan kalor jenisnya.

2.2

Tata Laksana Percobaan


Bahan benda uji yang akan ditentukan kalor jenisnya ditimbang dan
dimasukkan kedalam pemanas. Lalu massa kalorimeter kosong dan pengaduknya
ditimbang seteliti mungkin. Bila bahan dasar pengaduk dan kalorimeter berbeda,
maka harus ditimbang secara terpisah. Setelah ditimbang, air dituangkan kedalam
kalorimeter hingga ketinggian atau volumenya dari kalorimeter. Setelah diisi,
kalorimeter beserta isinya ditimbang kembali massanya, lalu dicari selisih massa ini
dengan massa kalorimeter untuk ditemukannnya massa air. Kalorimeter ditutup dan
dimasukkan sebuah termometer kedalam kalorimeter tadi. Setelah beberapa saat, suhu
yang tertera pada termometer dicatat. Setelah bahan dipanaskan cukup lama,(
menit / suhu

80

15

) diambil dan dimasukkan ke dalam kalorimeter. Sambil diaduk,

temperatur dibaca setiap menit dan pembacaaan dihentikan saat diperoleh 3x


pembacaan yang sama hasilnya. Setelah selesai, termometer bisa dilepas, airnya
dimasukkan ke gelas ukur guna mengetahui volumenya. Langkah-langkah diatas
diulangi lagi untuk bahan yang lainnya, juga data yang diperoleh wajib dicatat.

2.3 Gambar Alat

BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1

Data Hasil Pengamatan

3.1.1 Bola Besi Besar

T(

27,5

27,5

27,5

27,5

27,5

27,5

28

28

28

28

28

3.1.2 Bola Besi Kecil

T(

28

3.2

Perhitungan
3.2.1 Perhitungan Bola
3.2.1.1 Bola Besi Besar

205,6 + 131,3.0,094 + 23.0,094 + 2,219.2,5.0,119


205,6 + 12,342 + 2,162 + 0,663
220,767

3.2.1.2Bola Besi Kecil

218,2.1 + 131,3.0,094 + 23.0,094 + 2,219.2,5.0,119


218,2 + 12,342 + 2,162 + 0,663
233,367

3.2.2 Perhitungan Grafik


No.

Massa/mx(gr)

1.

8,6

0,00952

2.

10

0,02

Bola Besar

Tan

Bola Kecil

Tan
(

Gambar Grafik

3.3 Pembahasan
3.3.1 Analisa Prosedur
A. Fungsi Alat
Dalam percobaan tentang kalor jenis ini digunakan beberapa alat, baik alat
ukur maupun alat percobaan. Peralatan yang digunakan antara lain sebuah kalorimeter
dengan pengaduknya yang secara kebetulan memiliki atau terbuat dari bahan yang
sama, yaitu tembaga. Lalu sebuah termometer yang dipasang di calorimeter, berisikan
air raksa, juga termometer yang dipasang di pemanas, dan juga terbuat dari bahan yang
sama. Lalu pemanas yang menggunakan uap. Selain itu, timbangan (neraca
ohauss),gelas ukur yang terbuat dai kaca. Untuk benda uji, digunakan dua macam bola
yang terbuat dari besi. Untuk bola satu (lebih besar) ada delapan butir, dan untuk dua
(lebih kecil) digunakan 24 butir.
Kalori meter dari tembaga, bagian luarnya dilapisi semacam kain agar suhu
kalorimeter bagian dalam tidah terpengaruh luar. Bagian penutup kalorimeter terdapat
dua buah lubang, besar dan kecil. Lubang yang kecil digunakan untuk gagang atau
pegangan pengaduk, sedangkan lubang besar digunakan untuk tempat sumbat gabus
berlubang dengan thermometer di lubangnya. Air dari keran dimasukkan ke dalam
kalorimeter hingga mencapai dari volume kalorimeter.

Lalu dilihat skala

thermometer awal untuk memperoleh suhu awal air. Nantinya kalorimeter ini akan

dimasuki benda uji yang panas, lalu dilihat lagi skalanya selama menit sekali untuk
memperoleh suhu setimbang.
Pemanas uap yang memiliki sumber dari listrik, memanaskan air dari
sebuah tabung, lalu menghantarkan uap ke dalam tabung-tabung yang memiliki tutup di
atas dan bawahnya. Seebelum dipanaskan, benda uji dimasukkan melalui tutup atas.
Lalu nyalakan pemanas dan tunggu hingga panas. Setelah 800C atau 15 menit,
matikan pemanas, lalu keluarkan benda uji melalui tutup bawah dan ditampung dalam
kalorimeter. Termometer sudah terpasang di tabung pemanas untuk memeriksa suhu di
dalam tabung pemanas.
Untuk benda uji, pertama dicari massanya menggunakan neraca ohaus,
lalu dipanaskan di dalam pemanas uap. Setelah panas (dalam termometer terlihat 800C
atau waktu 15 menit), benda dikeluarkan dan ditampung dalam kalorimeter berair
tanpa menyentuhnya. Lalu cari suhu setimbang.
Neraca ohauss digunakan untuk mengukur massa calorimeter kosong dan
berisi air, massa pengaduk dan massa benda uji.
Setelah mencari suhu setimbang, benda uji dikeluarkan dari kalorimeter,
lalu air dimasukkan ke gelas ukur untuk mencari volume air yang digunakan.

B. Fungsi Percobaan
Percobaan kalor jenis ini dilaksanakan untuk melatih pengamat agar
mampu menggunakan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk mencari kalor jenis
dari sebuah benda. Pengamat dituntut untuk teliti dan telaten saat membaca skala
termometer dan megukur massa.
Dikarenakan saat pemanasan atau waktu yang diperlukan pemanas cukup
lama, maka pengukuran hanya bisa dilakukan sekali pada masing-masing benda uji
maupun alat-alat yang diukur massanya, dan suhunya. Namun, masing-masing
pengamat bergantian melihat skalanya atau mengukurnya sehingga diperoleh angka
yang mendekati kebenaran.
Setelah data mentah diperoleh, dilanjutkan dengan perhitungan untuk
memperoleh nilai kalor jenis dan kapasitas kalor karena besaran-besaran ini termasuk
besaran turunan dan tidak bisa diperoleh melalui penelitian biasa.
Semua nilai yang diperoleh dituliskan dalam bentuk nilai nilai ralat.
Data-data tersebut juga digunakan untuk mencari angka kesalahan relatif.

3.3.2 Analisa Hasil


Hal pertama yang diperhitungkan adalah deviasi massa dari air,
kalorimeter, termometer, pengaduk, dan bahan atau benda uji. Karena semua benda
diukur menggunakan neraca Ohauss yang sama, maka deviasi massa yang diperoleh
pada masing-masing benda adalah sama, yaitu 0,005 gr. Deviasi ini nilainya sama
untuk bahan uji bola besar maupun bahan uji boal kecil.
Lalu dicari kalor jenis masing-masing bahan uji menggunakan rumus
. Bila dijabarkan,

memiliki rumus

yang dimisalkan dengan A yang dikalikan dengan ( T-T1). Pada rumus


,

dijabarkan (T2-T) yang dimisalkan C. Nilai A adalah 220,767 untuk bola besar

dan 233,367 untuk bola kecil. Untuk nilai B dari bola besar sebesar 0.5 , dan bola
kecil 1 . Sedangkan nilai C untuk bola besar adalah 52,5

dan nilai C untuk bola

kecil adalah 50 .
Setelah dimasukkan kedalam rumus
besar sebesar 0,244 kal/gr

, diperoleh nilai untuk bola

, dan untuk bola kecil sebesar 0,466 kal/gr . Setelah

diperoleh nilai kalor jenis dari benda bola besar dan kecil, langkah selanjutnya adalah
memperhitungkan kapasitas kalornya (

) dengan menggunakan persamaan

. Untuk bola besar, kapasitas kalornya diperoleh sebesar 2,0984 kal/ , dan
untuk bola kecil diperoleh kapasitas kalor sebesar 4,66 kal/ .
Sekarang untuk perhitungan deviasi dari A, B, C kalor jenis dan kapasitas
kalor. Yang pertama untuk deviasi A bola besar diperoleh nilai sebesar 0,2 dan untuk
deviasi A bola kecil juga bernilai 0,2. Yang kedua deviasi B bola besar adalah 0,5 ,
sama dengan deviasi B untuk bola kecil 0,5

. Untuk deviasi C bola besar dan kecil

diperoleh nilai yang sama juga yaitu sebesar 0,5

Selanjutnya adalah perhitungan

deviasi kalor jenis, yang diperoleh dari rumus:

. Pada

bola besar diperoleh deviasi kalor jenisnya sebesar 0,247 kal/gr , dan untuk bola
kecil deviasi kalor jenisnya adalah sebesar 0,24 kal/gr . Yang terakhir adalah deviasi
kapasitas kalor untuk boal besar yaitu 2,136 kal/ , dan untuk bola kecil diperoleh
nilai sebesar 2,423 kal/ .
Untuk kesalah relatif dapat dihitung dari nilai besaran deviasi dibagi nilai
besaran tersebut dikali 100%. Kr (kesalahan relatif) A untuk bola besar diperoleh
sebesar 0,0905% dan bola kecil adalah sebesar 0,0857%. Untuk Kr

bola besar

diperoleh nilai sebesar 101,299%, dan bola kecil sebesar 101,791%.Selanjutnya untuk
bola besar diperoleh nilai kesalahan relatif kapasitas kalor sebesar 101,791%, dan

untuk bola kecil diperoleh nilai sebesar 51,995%. Yang terakhir adalah perhitungan
Asas Black, yang berbunyi jumlah kalor yang dilepaskan sama dengan jumlah kalor
yang diterima, dengan perhitungan menggunakan rumus A.B=

dan

. Pada bole besar diperoleh perbandingan sebesar 110,383 = 110,116 kalori,


dan untuk bola kecil diperoleh nilai sebesar 233,367 = 233 kalori. Ruas kiri
merupakan perhitungan dari A.B sedangkan ruas kanan merupakan perhitungan
dari

BAB IV
PENUTUP
4.1.

KESIMPULAN
Peserta praktikum telah melakukan percobaan kalor jenis ini semaksimal
mungkin. Peserta sudah mampu melakukan pengukuran massa, suhu & volum yang
menjadi data perhitungan mencari kalor jenis bahan uji dan kapasitas kalornya. Yang
terpenting dalam percobaan kali ini adalah ketelitian, konsentrasi, dan ketelatenan.
Kehilangan satu dari faktor tersebut sangat fatal akibatnya dalam pengukuran.
Untuk angka kesalahan relatif yang diharuskan adalah berkisar 0% hingga
10%. Namun, peserta penelitian memperoleh nilai yang terlalu tinggi. Hal ini dapat
disebabkan kurang telitinya peserta dalam mencari data, atau salah dalam melakukan
perhitungan. Karena tingkat kesalahan relatif terlalu besar, ini berarti keakuratan
pengukuran masih meragukan.
Setelah melakukan pengukuran/percobaan kalor jenis ini, peserta penelitian
mengerti konsep dari asas Black. Bunyi dari asas Black adalah : Jumlah kalor
yang dilepaskan suatu sistem sama dengan jumlah kalor yang diterima oleh sistem
lain.

4.2.

Saran
Untuk asisten laboratorium penelitian diharapkan untuk lebih teliti dalam
melakukan penelitian dan memasukkan data, dan lebih cermat dalam memeriksa
kemampuan alat-alatnya apakah layak pakai atau sudah dikonversikan atau belum.

DAFTAR PUSTAKA
Beiser, Arthur.1964.The Foundation of Physics.USA:Addison Wesley.
Hecht, Eugene.1994.Physics Heat Algebra Trigonometry.USA:Books Publishing
Company.
Kane, Sternheim Jan.1991.General Physics.USA:Hamilton Printing Company.
Sears, Francis Weston.1964.Mekanika Panas dan Bunyi.Bandung:Binacipta.
Sears, Francis Weston dan Zemansky Mark W..1962.Fisika untuk Universitas I:
Mekanika,Panas dan Bunyi.Jakarta:Binacipta.

TUGAS PENDAHULUAN
1. Turunan Persamaan no 5:

2. Kalor serap adalah banyaknya kalor yang berpindah dari lingkungan ke sistem atau
bahan yang bersangkutan.
Kalor lepas adalah banyaknya kalor yang berpindah dari sistem atau benda uji yang
bersangkutan menuju lingkungan sekitar benda.
3. Bahan uji apa yang lebih baik? Butiran ataukah bongkahan? Jelaskan!
Bongkahan, karena dalam perhitungan dan megukur massa lebih mudah dilakukan
balok.
4. Bejana adiabatik = kalorimeter. Alat yang tidak berpengaruh dengan energi panas
diluar sistem percobaan, tetapi berpengaruh pada sistem.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I


SISTEM PEGAS
(PERCOBAAN GB1)
Disusun oleh:
Kelompok 8
Ludy Claudia Hawa S.

(125090700111010)

Indah Gumilang D.

(125090700111011)

Yogi Fernandus

(125090307111011)

Veny Lestarining R.

(125090307111012)

Rinaldy Rizky A.

(125090307111013)

Novi Artika Fitriani

(125090307111014)

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
Setelah diselesaikannya percobaan ini diharapkan peserta praktikum fisika dasar
dapat menjelaskan getaran selaras dengan menggunakan pegas, menentukan konstanta
pegas dalam susunan tunggal, seri dan paralel, dan menentukan sistem pegas.

1.2 Teori
Banyak benda bergetar atau berosilasi sebuah benda di ujung pegas, garpu tala,
roda penyeimbang pada jam tangan tua, pendulum, penggaris, plastik, senar gitar, piano,
dll. Ketika sebuah getaran atau osilasi terulang sendiri, ke depan dan belakang, pada
lintasan yang sama, gerakan tersebutdisebut periodik. Bentuk yang paling sederhana dari
gerak periodik dipresentasikan oleh sebuah benda yang berosilasi di ujung pegas. Karena
banyak jenis gerak lain yang hampir menyerupai sistem ini (Giancoli, 2001).
Semua pegas memiliki panjang alami dimana pada keadaan ini pegas tidak
memberikan gaya pada massa m , dan posisi massa di titik ini disebut posisi setimbang.
Jika massa dipindahkan apakah ke kiri, yang menekan pegas atau ke kanan, yang
merentangkan pegas, pegas memberikan gaya pada massa yang bekerja dalam arah
mengembalikan massa ke posisi setimbangnya; oleh sebab itu disebut gaya pemulih.
Besar gaya pemulih F ternyata berbanding lurus dengan simpangan x dari pegas yang
direntangkan atau ditekan ddari posisi setimbang.
F=-kx
Perhatikan bahwa posisi setimbang adalah x = 0 pada persamaan di atas yang sering
disebut sebagai hukum Hooke. Hukum tersebut akrat selama pegas tidak ditekan sampai
kumparan-kumparannya bersentuhan, atau direnggangkan sampai melebihi batas
elastisitas. Tanda menandakan bahwa gaya pemulih selalu mempunyai arah yang
berlawanan dengan simpangan x (Giancoli, 2001).
Konstanta pembanding k pada persamaan tersebut disebut konsatnta pegas. Untuk
meregangkan pegas sejauh x, kita harus memberikan gaya (eksternal) pada pegas yang
sama dengan F = + k x. Makin besar nilai k, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk
meregangkan pegas sejauh jarak tertentu. Sehingga, makin kaku pegas, makin besar
konstanta pegas k (Giancoli, 2001).
Osilasi dari pegas yang tergantung vertikal pada dasarnya seperti pegas horizontal
karena adanya gaya gravitasi, panjang pegas vertikal dalam posisi setimbang akan lebih

panjang daripada ketika posisinya horizontal. Pegas berada pada keadaan setimbang
ketika F = 0 = mg kx0 sehingga pegas terenggang dengan jarak tambahan x0 = mg / k
agar setimbang (Giancoli, 2001).
Setiap gerak yang berulang dalam selang waktu yang sama disebut gerak periodik.
Jika suatu partikel dalam gerak periodik bergerak bolak balik melalui lintasan yang sama
karena gaya gesekan melepaskan tenaga geraknya. Periode T suatu gerak harmonik adalah
waktu yang dibutuhkan untuk menempuh satu lintasan lengkap dari geraknya, yaitu suatu
getaran penuh atau satu putaran. Frekuensi gerak v adalah banyaknya getaran (putaran)
tiap satuan waktu (Halliday, 1999).
Besar simpangan maksimum disebut amplitudo gerak harmonik sederhana dan
selalu diambil harga positifnya. Dalam bagian ini pegas ideal didefinisikan sebagai pegas
yang bila ditekan atau direntangkan maka memberikan gaya F=-kx; k yang disebut
konstanta pegas. Persoalan osilator harmonik sederhana menjadi penting karena dua
alasan berikut yaitu karena kebanyakan persoalan menyangkut getaran, dan karena sring
dijumpai di persoalan fisis (Halliday, 1999).
Disini x adalah deformasi atau perubahan panjang, F adalah gaya balik oleh bahan,
dan k adalah suatu tetapan pembanding. Untuk pegas, k disebut tetapan pegas. Tanda
negatif menyatakan bahwa gaya selalu melawan deformasi (Sutrisno, 1997).
Hukum hooke berlaku pada suatu bahan selama perubahan panjang tidak terlalu
besar. Daerah dimana Hooke berlaku disebut daerah elastik, maka benda akan mengalami
perubahan bentuk permanen (Sutrisno, 1997).
Perhatikan bahwa gaya pegas adalah kekuatan variabel karena tergantung pada
posisi ujung bebas. F dapat disimbolkan F(x). Hukum Hookes adalah yang berhubungan.
Plot kemungkinan F adalah bahwa dalam arah (Jones dkk, 1938).
Model untuk prilaku pegas akurat hanya jika tidak menjadi terlalu besar; jika kita
menarik ujung bebas maka pegas akan melakukan geraknya dalam tiap detik secara
selaras (Crummett, 1994).

BAB II
METODOLOGI

2.1 Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum sistem pegas adalah beberapa buah
pegas, sebuah stopwatch, sebuah mistar serta beberapa buah beban pemberat serta statip.

2.2 Tata Laksana Percobaan


Adapun tata laksana dalam melakukan percobaan antara lain, pertama salah satu
pegas diambil dan digantungkan pada statip, lalu panjang pegas diukur dan dicatat sebagai
panjang awal (X0). Posisi titik pengukuranya diperhatikan.
Lalu pegas diberi dengan beban m, dan diukur panjangnya sebagai X1. Lalu beban
ditarik sedikit ke bawah kemudian dilepaskan. Maka akan terjadi getaran selaras (pegas
jangan ditarik terlalau panjang, sebab rusaknya pegas dapat disebabkan karena hal
tersebut).
Setelah itu, catat waktu yang diperlukan untuk 10 getaran (atau menurut yang
ditunjukkan asisten), lalu langkah ke-2 dan ke-3 diulangi dengan menambahkan beban
(minimal 4x penambahan). Lalu satu persatu beban dikurangi hingga habis dan setiap
panjang pegas (X2) dicatat tiap kali beban dikurangi.
Yang terakhir, langkah 1-4 diulangi untuk pegas 2, gabungan pegas 1 dan pegas 2
secara seri dan paralel.

2.3 Gambar

BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Hasil Percobaan
3.1.1 Pegas Ke-1
m (gr)

X1 (cm)

T10 (s)

X2 (cm)

Getaran (kali)

100

13

25

200

15

20

300

17,5

6,25

5,5

16

400

20

6,6

15

500

22

7,7

10

13

m (gr)

X1 (cm)

T10 (s)

X2 (cm)

Getaran (kali)

100

13

3,5

28

200

15,5

4,5

3,5

22

300

18

5,9

17

400

20,5

6,6

8,5

15

500

23

7,1

11

14

3.1.2 Pegas Ke-2

3.1.3 Pegas yang Dipasang Seri


m (gr)

X1 (cm)

T10 (s)

X2 (cm)

Getaran (kali)

100

30

5,2

19

200

33

7,7

13

300

38

11

11

400

43

10

16

10

500

47

11,1

20

3.1.4 Pegas yang Dipasang Paralel


m (gr)

X1 (cm)

T10 (s)

X2 (cm)

Getaran (kali)

100

34

3,3

1,5

30

200

36

5,5

4,5

18

300

39,5

7,1

14

400

42

8,3

9,5

12

500

46

10

13,5

10

3.2 Perhitungan
3.2.1 Pegas I
x

m (kg)

T1

k (N/m)

|k- |2

g
m

|g-|2

T2 (s2)

(m)

(s)

( /s)

0,1

0,01

0,4

24,65

45,15

2,465

8,38

0,16

0,2

0,03

0,5

31,55

0,032

4,732

0,4

0,25

0,3

0,055 0,62

31,13

0,057

5,7

0,1156

0,3844

0,4

0,08

0,66

36,68

28,19

7,336

3,9

0,4356

0,5

0,1

0,77

32,86

2,22

6,57

1,46

0,5929

k=31,37 =75,649 =5,36 =14,25

3.2.1.1 Konstanta Pegas

/m
/m
/m

=
= 6,2 %
Grafik

/m
/m

|k-k|2 = |24,65-31,37|2 = 45,15 N/m

|k-k|2 = |31,55-31,37|2 = 0,032 N/m

|k-k|2 = |31,13-31,37|2 = 0,057 N/m

|k-k|2 = |36,68-31,37|2 = 28,19 N/m

|k-k|2 = |32,86-31,37|2 = 2,22 N/m

k = 42 cot

= 1,95 N/m
o k = k k = (31,37 1,95) N/m

= 4 . (3,14)2 . 0,8
= 31,55 N/m

o
=
= 14,92 %
Grafik
3.2.1.2 Percepatan Gravitasi

|g-|2 = |2,465-5,36|2 = 8,38

|g-|2 = |4,7325-5,36|2 = 0,4

|g-|2 = |5,7-5,36|2 = 0,1156

|g-|2 = |7,336-5,36|2 = 3,9

|g-|2 = |6,57-5,36|2 = 1,46

= 1,2.10-3
g = - k tan
= - 31,55 . 0,07

= 0,8

o g = g = (5,36 0,8)

= - 2,2

3.2.2 Pegas II
m (kg)

T1

k (N/m)

|k-k|2

T2 (s2)

(s)

0,1

0,01

0,35

31,55

19,44

3,155

10,2

0,1225

0,2

0,035 0,45

38,95

8,94

6,8

0,2

0,2025

0,3

0,05

0,59

33,98

3,92

5,6

0,56

0,3481

0,4

0,085 0,66

36,21

0,0625

7,6

1,56

0,4356

0,5

0,11

39,11

9,92

8,6

5,06

0,5041

k=35,96

=42,28

0,71

( /s)

|g-|2

(m)

=6,35 =17,58

Grafik

3.2.2.1 Konstanta Pegas

|k-k|2 = |31,55 - 35,96|2 = 19,44 N/m

|k-k|2 = |38,95 - 35,96|2 = 8,94 N/m

|k-k|2 = |33,98 - 35,96|2 = 3,92 N/m

|k-k|2 = |36,21 - 35,96|2 = 0,0625 N/m

/m
/m
/m
/m
/m

|k-k| = |39,11 - 35,96| = 9,92 /m

k = 42 cot
= 4 . (3,14)2 . 1,08
= 42,5 N/m

= 1,45 N/m
o k = k k = (35,96 1,45) N/m

o
=
= 4,03 %

3.2.2.2 Percepatan Gravitasi

Grafik

|g-|2 = |3,155-6,35|2 = 10,2

|g-|2 = |6,8-6,35|2 = 0,2

|g-|2 = |5,6-6,35|2 = 0,56

|g-|2 = |7,6-6,35|2 = 1,56

|g-|2 = |8,6-6,35|2 = 5,06

= 0,93

g = - k tan
= - 42,5 . 0,22
= - 9,35

o g = g = (6,35 0,93)

o
=
= 14,6 %

3.2.3 Pegas Seri


m (kg)

T1

k (N/m)

|k-k|2

g
m

T2 (s2)

(m)

(s)

0,1

0,03

0,52

14,58

0,11

4,37

0,86

0,2704

0,2

0,06

0,77

13,3

2,59

1,71

0,5929

0,3

0,11

0,9

14,6

0,09

5,35

0,0025

0,81

0,4

0,16

15,77

0,74

6,3

0,5

0,2

1,1

16,3

1,93

6,52

0,9

1,21

=5,3

=4,47

k=14,91 =5,46

( /s)

|g-|2

3.2.3.1 Konstanta Pegas

/m

Grafik

/m
/m

/m

/m

|k-k|2 = |14,58 14,91|2 = 0,11 N/m

|k-k|2 = |13,3 - 14,91|2 = 2,59 N/m

|k-k|2 = |14,6 - 14,91|2 = 0,09 N/m

|k-k|2 = |15,77 - 14,91|2 = 0,74 N/m

|k-k|2 = |16,3 - 14,91|2 = 1,93 N/m

k = 42 cot

= 0,52 /m

= 4 . (3,14)2 . 0,75
N

o k = k k = (14,91 0,52) /m

o
=
= 3,48 %

= 29,57 N/m

3.2.3.2 Percepatan Gravitasi

Grafik

|g-|2 = |4,37-5,3|2 = 0,86

|g-|2 = |3,99-5,3|2 = 1,71

|g-|2 = |5,35-5,3|2 = 0,0025

|g-|2 = |6,3-5,3|2 = 1

|g-|2 = |6,52-5,3|2 = 0,9

g = - k tan

= - 29,57 . 0,4
= - 11,82

= 0,47
o g = g = (5,3 0,47)

o
=
= 8,86 %

3.2.4 Pegas Paralel


m (kg)

x
(m)

T1
(s)

k (N/m)

|k-k|2

g
m

( /s)

|g-|2

T2 (s2)

0,1

0,015 0,33

36,21

111,09

5,43

9.10-4

0,1089

0,2

0,045 0,55

26,07

0,16

5,86

16.10-2

0,3025

0,3

0,07

0,71

23,47

4,84

5,47

10-4

0,5041

0,4

0,095 0,83

22,89

7,72

5,43

9.10-4

0,6889

0,5

0,13

19,71

35,52

5,12

0,1156

k=25,67 =159,33 =5,46 =0,2775

3.2.4.1 Konstanta Pegas


/m

Grafik

/m
/m
/m
/m

|k-k|2 = |36,21 - 25,67|2 = 111,09 N/m


|k-k|2 = |26,07 - 25,67|2 = 0,16 N/m
|k-k|2 = |23,47 - 25,67|2 = 4,84 N/m
|k-k|2 = |22,89 - 25,67|2 = 7,72 N/m
|k-k|2 = |19,71 - 25,67|2 = 35,52 N/m

k = 42 cot

= 4 . (3,14)2 . 0,5
N

= 2,82 /m
o

= 19,71 N/m
N

k = k k = (25,67 2,82) /m

o
=
= 10,98 %

3.2.4.2 Percepatan Gravitasi

Grafik

|g-|2 = |5,43-5,46|2 = 9.10-4


|g-|2 = |5,86-5,46|2 = 0,16
|g-|2 = |5,47-5,46|2 = 10-4
|g-|2 = |5,43-5,46|2 = 9.10-4
|g-|2 = |5,12-5,46|2 = 0,1156

g = - k tan
= - 19,71 . 0,86
= - 16,95

= 0,117
o g = g = (5,46 0,117)

o
=
= 2,14 %

3.3 Pembahasan
3.3.1 Analisa Prosedur
3.3.1.1 Fungsi Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan sistem pegas kali ini antara lain
beberapa buah pegas, statip, beberapa buah beban, mistar (meteran) dan stopwatch.
Pegas adalah alat utama yang akan digunakan dalam percobaan ini, pegas
berfungsi untuk menentukan periode dan percepatan gravitasi dalam setiap gerakannya
secara vertikal.
Dalam percobaan ini pegas yang dibutuhkan minimal, karena kita akan
mengukur periode dan percepatan gravitasi bila pegas disusun secara seri ataupun
secara paralel. Ketiga pegas tersebut harus memiliki kerapatan dan panjang yang
sama.
Fungsi alat berikutnya adalah statip. Statip berfungsi sebagai tempat
penggantungan pegas. Tinggi statip dapat diatur sesuai keinginan.
Beban, beban berfungsi untuk memberikan berat pada pegas sehingga pegas
memiliki perubahan panjang dari panjang awal.beban yang dibutuhkan pada
percobaan ini sebanyak 5 buah dengan berat masing-masing 100 gram.
Berikutnya adalah mistar atau alat ukur panjang. Pada percobaan kita
membutuhkan meteran untuk mengukur panjang dari beban yang diberikan ke pegas.
Dan yang terakhir adalah stopwach. Stopwatch berfungsi untuk menghitung
waktu yang dibutuhkan pegas dalam setiap detiknya.
3.3.1.2 Fungsi Perlakuan
Dalam percobaan ini dibutuhkan beberapa perlakuan diantaranya panjang
pegas mulai diukur dari lingkaran pertama hingga lingkaran terakhir pada pegas.
Bukan dari tingkat penggantungnya. Setelah itu pegas ditarik oleh orang yang sama
dan ditarik dengan panjang yang sama. Sehingga hal itu dapat meminimalisir
kesalahan.
Dan yang terakhir setelah menghitung waktu dengan stopwatch kita harus
mengalibrasinya kembali agar tidak terjadi perbedaan perhitungan waktu.
3.3.2 Analisa Hasil
Pada pegas pertama didapat nilai rata-rata periodenya adalah sebesar 0,41
sekon, nilai rata-rata konstanta pegasnya sebesar 31,37

/m dan nilai percepatan

garvitasi rata-ratanya sebesar 5,36 m/s2, sedangkan pada pegas pertama ini kesalahan
relatif untuk konstanta pegas sebesar Kr k = 6,2 % dan kesalahan relatif untuk
percepatan gravitasi sebesar Kr g = 14,92%.

Pada hasil tersebut dapat dilihat kesalahan relatif dari percobaan ini masih
cukup besar.
Sedangkan pada pegas kedua didapat nilai rata-rata periodenya adalah sebesar
0,552 sekon. Nilai rata-rata konstanta pegasnya sebesar 35,96 N/m dan nilai percepatan
gravitasi rata-ratanya sebesar 6,35 m/s2. Pada percobaan ini kesalahan relatif untuk
konstanta pegas adalah sebesar Kr k = 4,03% dan kesalahan relatif untuk percepatan
gravitasi adalah sebesar 14,6%.
Hasil yang didapat dari pegas yang dipasang seri untuk rata-rata periodenya
adalah sebesar 0,858 sekon, sementara untuk hasil rata-rata konstanta pegasnya adalah
sebesar 14,91 N/m, dan untuk rata-rata percepatan gravitasinya adalah sebesar 5,3 m/s2.
Pada pegas yang dipasang seri ini diperoleh nilai kesalahan relatif sebesar 3,48%
untuk KrK, dan untuk Krg sebesar 8,68%.
Dan yang terakhir pada pegas yang dipasang paralel, hasil yang didapat untuk
rata-rata periodenya adalah sebesar 0,684 sekon, untuk rata-rata nilai konstanta pegas
sebesar 25,67

/m dan rata-rata percepatan gravitasi adalah sebesar 5,46

m 2

/s .

Sementara nilai kesalahan relatif untuk konstanta pegas adalah sebesar Kr k = 10,98 %
dan kesalahan relatif untuk Kr g = 2,14%.
Dari keseluruhan data yang telah didapat kita ketahui bahwa semakin besar
beban yang diberikan kepada pegas maka menyebabkan perubahan panjang yang besar
pula dan semakin berat beban yang diberikan kepada petugas maka dibutuhkan waktu
yang lama untuk mencapai T10 sehingga nilai T10 semakin besar.
Sehingga nilai konstanta pegas berbanding lurus dengan nilai massa dan
berbanding terbalik dengan kuadrat periodenya.
Dari seluruh data yang diperoleh juga nilai masing-masing kesalahan relatifnya
masih cukup besar, hal ini disebabkan oleh kesalahan dalam prosedur percobaan yang
dilakukan praktikum. Pada hasil percobaan terdapat getaran yang dilakukan dalam 10
sekon, sehingga dari itu kita bisa dapatkan nilai T10 dan T1. Contoh : dalam 10 sekon
telah terjadi 25 getaran, berarti dalam 1 sekon telah terjadi kira-kira 2,5 getaran, maka
10 kali getaran dibutuhkan waktu 4 sekon.
Terjadinya kesalahan juga terjadi ketika perhitungan waktu dan perhitungan
getaran, sehingga hasil yang di dapat muran memuaskan.
Pada percobaan tersebut didapat gaya-gaya yang bekerja pada beban antara lain
gaya pemulih dan gaya berat pada beban. Gaya pemulih memiliki besar yang
bergbanding lurus dengan simpangan X dari pegas yang direntangkan atau ditekan
dari posisi seimbang, besar gaya pemulih dapat ditulis dengan rumus F = - k x

Sehingga pada keadaan setimbang maka F = mg - kx gaya

F = - k x juga

disebut sebagai hukum Hooke dimana hukum Hooke merupakan hal khusus dari
hubungan dengan deformasi pada benda elastik yang lebih umum. Hubungan dari
persamaan dipenuhi oleh pegan dan benda elastik lainnya. Namun jika sebuah benda
dapat dideformasikan sampai melampaui suatu titik tertentu, ia tidak akan kembali ke
bentuk asalnya.
Pada hasil percobaan dan perhitungan terdapat perbedaan persentase Kr antara
Kr yang dihitung dari perhitungan rumus dengan Kr yang dihitung dengan pencarian
titik pada grafik.
Hal tersebut bisa terjadi karena pembulatan angka yang telah dilakukan
sehingga terdapat sedikit perbedaan yang tidak terlalu signifikan. Perbedaan Kr
tersebut dapat diminimalisir dengan cara ditiadakannya pembulatan angka, namun
apabila ditiadakan angka tersebut maka itu akan mempersulit perhitungan.
Penggunaan pegas sendiri dalam duania kedokteran sangat banyak. Contohnya
terletak pada kasur pasien biasanya terdapat pegas untuk menurunkan dan menaikkan
bagian kasur tertentu, selain itu terdapat juga pada alat dokter gigi yaitu pada lampu
yang digunakan untuk memeriksa pasien. Lampu tersebut dapat dinaikkan dan
diturunkan karena ada pegas.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan sistem pegas adalah tentang gerak
selaras dimana getaran selaras atau getaran harmonik adalah posisi partikel atau benda
yang bergetar dalam fungsi waktu. Getaran selaras ini terjadi karena adanya gaya balik
yang arah selalu menuju titik seimbang.
Lalu dari percobaan ini kita dapat melihat bahwa konstanta pegas terbesar terdapat
pada pegas yang dipasang tunggal lalu paralel dan disusul oleh pegas yang dipasang seri.
Dalam percobaan ini juga pecepatan gravitasi bumi dapat ditentukan dari besarnya
konstanta pegas, perubahan panjang dan massa beban.

4.2 Saran
Praktikum sebaiknya lebih cermat dalam menghitung T10 dan dalam membaca
prosedur percobaan. Karena kesalahan sedikit saja pada prosedur percobaan akan
berdampak fatal pada data.

DAFTAR PUSTAKA

Crummet, William P., 1994. University Physic Models And Applications. USA: W. m. C.
Brown Publishers.
Giancoli, Douglas C., 1998. Physics Principles with Application. USA: Prentice Hall.
Halliday, David dkk, 1999. Fisika Dasar Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
Jones, Edwin R. dkk, 1938. Contemporary Collage Physics Second Edition. USA: AddisonWesley Publishing Company
Sutrisno, 1997. Fisika Dasar. Bandung: Penerbit ITB