Anda di halaman 1dari 2

LEBIH DOSA DARI GUNA

Oleh: Jum’an

Saya punya hutang empat ratus ribu rupiah yang sudah lama belum
terbayar. Ditangan saya ada selembar duapuluh-ribuan. Kalau saya
pasang taruhan, ada harapan saya dapat limaratus ribu. Hutang akan
terbayar, sisanya yang seratus ribu untuk traktir, hitung-hitung balas
jasa keterlambatan.
Duapuluh ribu cukup kecil dibanding lima ratus ribu yang bakalan saya
peroleh. Enteng, hilangpun tak terasa rugi. Ya saya pasang saja,
bismilah. Menyenangkan sekali kalau sampai dapat. Belum dapatpun
rasahati sudah berbinar-binar. Irama musik dangdut, joget goyang
Karawang dan dag-dig-dug antara hilang sekedar duapuluh ribu dan
fantasi menangguk limaratus ribu, memacu adrenalin saya
membangkitkan rasa girang dan suka-cita. Untuk orang yang
berpenghasilan pas-pasan seperti saya, rangsangan dan harapan
seperti ini sungguh-sungguh manggairahkan dan sudah selayaknya
kalau saya suka. Debaran jantung serasa mau meloncat terjun
kekolam renang atau bungee-jumping.

Pantaskan kalau orang tertarik untuk berjudi? Bila kita bermain video
game kita merasakan rangsangan adrenalin seperti itu. Bedanya kita
tidak memperoleh uang limaratus ribu kalau menang. Jadi bukan
sekedar uang yang menarik orang kemeja judi. Gairah, harapan dan
imajinasi, excitement - begitu kalau kita mau sedikit melebih-lebihkan.
Orang yang suka berjudi umumnya enggan untuk menghitung-hitung
berapa jumlah uang yang sudah dihabiskan untuk taruhan. Harapan
dan fantasi yang mereka rasakan jauh lebih berharga dari pada uang
yang dipasangnya untuk taruhan.

Beberapa kali menang bertaruh membuat orang terangsang untuk


meneruskan pertaruhan itu sampai, seperti yang umumnya terjadi,
sederet kemenangan kecil itu ditelan oleh satu kekalahan besar.
Seperti perselingkuhan yang beberapa kali aman, sekali kepergok
keluarga berantakan. Menurut penelitian hasrat berjudi tidak ada
hubungannya dengan latar belakang, jenis kelamin maupun kultur
seseorang. Melulu berasal dari nafsu manusia untuk menikmati
kesenangan dan memperoleh hasil yang banyak dengan sedikit atau
tanpa usaha sama sekali.

Dari mereka yang sudah terjerumus banyak diataranya yang sampai


kecanduan. Pada tingkat ini orang tidak kuasa bisa lagi menghentikan
hasrat untuk berjudi. Selalu ingin menebus kekalahan yang sudah
dialami, berbohong kepada teman dan keluarga untuk menutupi
kebiasaan judinya. Tidak malu menghutang uang dengan
mengorbankan hubungan baik, menggunakan jatah belanja keluarga
atau biaya sekolah anak-anak untuk menutupi kekalahan berjudi.

Tidak jarang kepribadian berubah menjadi manipulatif, cepat marah,


mudah tersinggung dan sok ngatur dalam keluarga. Kehilangan selera
untuk kerja yang normal dan kesukaan atau hobi. Membuat alasan
yang naif dan suka mengelak kalau ditanya dari mana atau mau
kemana. Menjauh dari orang-orang yang seharusnya dicintai dan
teman-teman dekat. Judi sekaligus merusak diri-pribadi, keluarga dan
masyarakat. Tidak jarang pemenang judi besar terpuruk kembali
keselokan asalnya dan mengulangi membudak pada perjudian.

Walhasil judi itu lebih manyak dosa dari pada guna (Al-Baqoroh 219)
dan merupakan amalan setan (Al-Maidah 90). Lagipula kemungkinan
mendapat lotre puluhan juta lebih kecil dari kemungkinan tersambar
petir.
Jauhi judi sebelum mati melepuh ..........