Anda di halaman 1dari 146

PROYEK AKHIR

Pekerjaan :

TAMBANG TERBUKA BATUBARA


PT.KARBINDO ABESYAPRADHY
Studi Kasus :
Quality Control Sebagai Upaya Menjaga Kualitas Batubara
Pada Penambangan Batubara PT. Karbindo Abesyapradhi

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Dalam Menyelesaikan Pendidikan di Program D-3 Teknik Pertambangan

Oleh :
MASDIAN DARMA PUTRA
BP. 2008/00695
Konsentrasi

: Tambang Umum

Program Studi : D-3 Teknik Pertambangan

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
PADANG
2012

LEMBAR PENGESAHAN
PROYEK AKHIR
Pekerjaan:
TAMBANG TERBUKA BATUBARA
PT. KARBINDO ABESYAPRADHI

Studi Kasus:
Quality Control Sebagai Upaya Menjaga Kualitas Batubara
Pada Penambangan Batubara PT. Karbindo Abesyapradhi

Oleh:
Nama
: Masdian Darma Putra
Bp/Nim
: 2008/00695
Konsentrasi
: Tambang Umum
Program Studi : D-3 Teknik Pertambangan

Disetujui Oleh:
Dosen Pembimbing

Drs. Tamrin Kasim, MT


NIP : 19530810 198602 1 001

Diketahui Oleh:
Ketua Jurusan
Teknik Pertambangan

Ketua Program Studi


D3 Teknik Pertambangan

Drs. Bambang Heriyadi,MT.


NIP : 19641114 198903 1 002

Drs. Raimon Kopa, MT.


NIP : 19580313 198303 1 006
ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN


PROYEK AKHIR
Dinyatakan Lulus Oleh Tim Penguji Proyek Akhir Program Studi
D3 Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Negeri Padang
Pekerjaan:
TAMBANG TERBUKA BATUBARA
PT. KARBINDO ABESYAPRADHI
Studi Kasus:
Quality Control Sebagai Upaya Menjaga Kualitas Batubara
Pada Penambangan Batubara PT. Karbindo Abesyapradhi
Oleh:
Nama

: Masdian Darma Putra

Bp/Nim

: 2008/00695

Konsentrasi

: Tambang Umum

Program Studi

: D-3 Teknik Pertambangan


Padang,

Januari 2012

Tim Penguji:

Nama

TandaTangan

1. Drs. Tamrin Kasim, MT.

1.

2. Drs. Syamsul Bahri, MT.

2.

3. Ansosry, ST, MT.

3.

iii

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
Jl.Prof Dr. Hamka Kampus UNP Air Tawar Padang
25171
Telp.(0751),7059996, FT: (0751)7055644,445118 Fax
.7055644
E-mail : info@ft.unp.ac.id

Certified Management System


DIN EN ISO 9001:2000
Cert.No. 01.100 086042

SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama

: Masdian Darma Putra

NIM/TM

: 00695/2008

Program Studi

: D3 T.Pertambangan

Jurusan

: T.Pertambangan

Fakultas

: FT UNP

Dengan ini menyatakan, bahwa Skripsi/Tugas Akhir/Proyek Akhir saya dengan


judul Quality Control Sebagai Upaya Menjaga Kualitas Batubara Pada
Penambangan Batubara PT. Karbindo Abesyapradhi Adalah benar merupakan
hasil karya saya dan bukan merupakan plagiat maka saya bersedia diproses dan
menerima sanksi akademis maupun hukum sesuai dengan hukum dan ketentuan
yang berlaku, baik di institusi UNP maupun dimasyarakat dan negara.
Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung
jawab sebagai anggota masyarakat ilmiah.

Diketahui Oleh,

Saya yang menyatakan,

Ketua Jurusan T.Pertambangan

Drs. Bambang Heriyadi,MT

Masdian Darma Putra

Nip : 19641114 198903 1 002

2008/00695

iv

BIODATA

I. DATA DIRI :
Nama Lengkap

: Masdian Darma Putra

No. Buku Pokok

: 2008 / 00695

Tempat / Tanggal lahir

: Sawah Liat/ 14 juli 1990

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Nama Bapak

: Masrul Syair

Nama Ibu

: Ratna Perdamayani

Jumlah Bersaudara

: 3 (Tiga) Orang

Alamat tetap

: Jl. Sawahliat,Kenagarian Kapuh Utara,


Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir
Selatan, Provinsi Sumatera Barat

II. DATA PENDIDIKAN:


Sekolah Dasar

: SD Negeri 23 Sawah Liat Tarusan

Sekolah Lanjutan Pertama

: MTsN Koto XI Tarusan

Sekolah Lanjutan Atas

: SMA Negeri 1 Koto XI Tarusan

Perguruan Tingi

: Universitas Negeri Padang

III. Proyek Akhir:


Tempat Kerja Praktek

: PT. Karbindo Abesyapradhi

Tanggal Kerja Praktek

: 03 Agustus s/d 17 September 2011

Topik Studi kasus

: Quality Control Sebagai Upaya Menjaga Kualitas


Batubara Pada Penambangan Batubara PT.
Karbindo Abesyapradhi

Tanggal Sidang Proyek akhir : 9 Januari 2012

Padang, Januari 2012

( Masdian Darma Putra )


BP. 2008/00695

RINGKASAN
PT. Karbindo Abesyapradhi (PT. KA) adalah salah satu pelaku usaha
kegiatan penambangan batubara di Provinsi Sumatera Barat. Penambangan di
PT. Karbindo Abesyapradhi ini dilakukan dengan sistem penambangan
terbuka dengan metoda open pit yang masing-masing pit dibagi atas lima
bagian (lima pit area). Diantaranya pit A, pit B, pit C, pit D, dan pit E. Di
setiap pit memiliki kualitas batubara yang bervariasi. Batubara pada masingmasing pit terdiri atas tiga tipe, yaitu roof, middle, dan floor. Roof dan middle
adalah batubara high calory. Sedangkan floor adalah batubara low calory,
batubara high calory disini adalah batubara yang memiliki nilai kalori
6.000 kcal/kg, selain itu terdapat batubara low calory yang nilai kalori <
6000 kcal/kg.
Quality Control merupakan serangkaian kegiatan dalam pengendalian
mutu batubara, karena dalam prosesnya terjadi penurunan kualitas batubara
yaitu pada saat batubara ditambang (coal getting), kemudian penumpukan
batubara dari Pit ke ROM area, hingga pada tahap pengolahan batubara
menjadi product murni (processing).
Pada pengujian kualitas batubara dari channel sampling, ROM area,
dan product area yang dijadikan perbandingan yaitu:
1. Pada channel sampling (TM = 12,10 %, IM = 5,38 %, ASH = 6,09 %, VM
= 40,11 %, FC = 48,42 %, TS = 1,98 %, dan Kalori 6,795 Kkal/Kg).
2. ROM area (TM = 10,88 %, IM = 5,27 %, ASH = 12,63 %, VM = 38,63 %,
FC = 43,48 %, TS = 1,95 %, dan Kalori 6,349 Kkal/Kg).
3. Product area (TM = 10,85 %, IM = 5,27 %, ASH = 11,54 %, VM = 38,69
%, FC = 43,50 %, TS = 1,95 %, dan Kalori 6.335 Kkal/Kg).
Sehingga diketahui bahwa terjadi penurunan kualitas batubara antara
channel sampling dan ROM area serta pada product area. Untuk itu
dilakukanlah pengontrolan kualitas batubara karena ketika batubara akan
ditambang diperlukan penambangan secara selektif, untuk menghindari agar
pengotor (parting) tidak terbawa sekecil mungkin. Kemudian ketika
penumpukan batubara di ROM area batubara yang high calory dan low calory
penumpukannya harus dijauhkan agar tidak tercampur kualitas yang satu
dengan yang lainnya. Pada tahap processing drainase harus dirancang dengan
baik agar air tidak masuk kedalam stockpile product, dan yang terpenting
adalah kebersihan alat harus tetap dijaga agar batubara tidak tercampur
dengan pengotor-pengotor yang terbawa oleh alat pada saat bekerja di
stockpile product maupun pada ROM area.

vi

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas ridho dan rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Proyek Akhir dengan judul: Quality
Control Sebagai Upaya Menjaga Kualitas Batubara Pada Penambangan Batubara
PT. Karbindo Abesyapradhi.
Proyek Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan kuliah
pada Program Studi Diploma-3 Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Universitas
Negeri Padang (UNP).
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Drs. Tamrin Kasim, MT selaku Dosen Pembimbing Proyek Akhir yang telah
banyak membantu dan memberikan masukan kepada penulis sehingga laporan Proyek
Akhir ini dapat diselesaikan.
2. Teristimewa untuk kedua orang tua dan keluarga besar penulis yang telah memberikan
dukungan secara moril dan materil sehingga penulis dapat menyelesaikan Proyek
Akhir ini.
3. Bapak Drs. Bambang Heriyadi, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
4. Bapak Drs. Raimon Kopa, MT selaku Ketua Program Studi D-3 Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
5. Bapak Drs. Raimon Kopa, MT selaku dosen Pembimbing Akademis yang telah
banyak memberi masukan kepada penulis.
6. Bapak Drs. Syamsul Bahri, MT dan Bapak Ansosry, ST, MT selaku Dosen Penguji.
7. Bapak Drs. Ganefri, M.Pd selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.
8. Bapak Drs. Nelvi Erizon, M.Si selaku Ketua Hubungan Unit Industri Fakultas Teknik
Universitas Negeri Padang.
9. Seluruh dosen pengajar Teknik Pertambangan Universitas Negeri Padang.
10. Bapak Ir. Emo Carmo, BA selaku Kepala Teknik Tambang PT. Karbindo
Abesyapradhi.
11. Bapak Ir. Sediatma PT. Karbindo Mine Plan Supervisor Abesyapradhi sebagai
Pembimbing Lapangan yang telah banyak memberi nasehat kepada penulis.
12. Bapak Elias Butuk selaku Supervisor Survey PT. Karbindo Abesyapradhi yang selalu
membantu dalam pelaksanaan Praktek Lapangan.

vii

13. Seluruh Staff dan Karyawan PT. Karbindo Abesyapradhi.


14. Rekan-rekan Mahasiswa Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Negeri
Padang (khususnya angkatan 2008).
15. Kepada seluruh orang-orang terdekat saya yang sudah membantu saya dalam
menyelesaikan Proyek akhir ini .

Penulis menyadari bahwa penulisan Laporan Proyek Akhir ini jauh dari
kesempurnaan, karena itu penulis mengharapkan masukan, kritik dan saran yang dapat
membangun dari seluruh pihak demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga Laporan Proyek Akhir
ini bermanfaat terutama untuk penulis sendiri, perusahaan dan bagi pembaca yang
memerlukan.

Padang,

Januari 2012

Penulis

viii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .... .........................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN PROYEK AKHIR ................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN LULUS UJIAN PROYEK AKHIR.....................

iii

HALAMAN PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT


BOIDATA ................................................................................................................

viii

RINGKASAN ..........................................................................................................

ix

KATA PENGANTAR.............................................................................................

DAFTAR ISI ..........................................................................................................

xiv

DAFTAR GAMBAR...............................................................................................

xv

DAFTAR TABEL ...................................................................................................

xviii

DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................................

xix

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ..........................................................

B.

TUJUAN DAN MANFAAT.................................................

C.

SISTEMATIKA PENULISAN .............................................

LAPORAN KEGIATAN LAPANGAN


A. DESKRIPSI PERUSAHAAN ..............................................

1. Sejarah PT. Karbindo Abesyapradhi ...............................

2. Perkembangan PT. Karbindo Abesyapradhi ....................

3. Visi dan Misi PT. Karbindo Abesyapradhi ......................

10

4. Kebijakan PT. Karbindo Abesyapradhi ...........................

11

DESKRIPSI PROYEK .........................................................

16

1. Ruang Lingkup Kerja ......................................................

16

2. Peralatan Penambangan ...................................................

17

3. Sistem Penambangan .......................................................

18

B.

ix

4. Tenaga Kerja dan Jam kerja ............................................

19

5. Keadaan Umum Daerah Kuasa Penambangan ................

20

PROSES PELAKSANAAN PEKERJAAN/PROYEK ........

30

1. Pelaksanaan Kegiatan Proyek ..........................................

30

2. Kegiatan Penambangan ...................................................

33

D. PELAKSANAAN KEGIATAN LAPANGAN ....................

39

1. Survey Topografi dan Pemetaan ......................................

40

2. Persiapan Penambangan ..................................................

44

3. Kegiatan Penambangan ...................................................

70

4. Pemasaran ........................................................................

75

5. Kegiatan dan Peralatan Penunjang Penambangan ...........

77

TEMUAN MENARIK ..........................................................

84

STUDI KASUS
A. PERUMUSAN MASALAH .................................................

86

B.

BATASAN MASALAH .......................................................

87

C.

LANDASAN TEORI ............................................................

87

1. Proses Terbentuknya Batubara ........................................

87

2. Quality Control ................................................................

88

3. Profil Batubara Di PT.Karbindo Abesyapradhi ...............

89

4. Tahapan yang da pada Quality Control

.....................

90

D. METODOLOGI PEMBAHASAN MASALAH...................

98

1. Sumber Data ....................................................................

98

ANALISIS DATA DAN PEMECAHAN MASALAH ........

99

1. Analisis Data....................................................................

99

2. Pemecahan Masalah.........................................................

104

PENUTUP
A. KESIMPULAN .....................................................................

118

C.

E.
BABIII

E.

BAB IV

B.

SARAN .................................................................................

120

DAFTAR PUSATAKA ...........................................................................................

121

LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.

Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah PT. Karbindo Abesyapradhi .. 21

Gambar 2.

Statigrafi PT. Karbindo Abesyapradhi ..............................................

25

Gambar 3.

Bentuk Arah Penggalian Open Pit, Open Cast/Open Cut .................

32

Gambar 4.

Daerah Penambangan PT. Karbindo Abesyapradhi ..........................

36

Gambar 5.

Theodolite Sokkia SET 3C................................................................

41

Gambar 6.

Kegiatan Survey ................................................................................

43

Gambar 7.

Alat Bor Tamrock CHA 660 .............................................................

46

Gambar 8.

Alat Bor Pantera 1500 ......................................................................

47

Gambar 9.

Gudang Bahan Peledak PT. Karbindo Abesyapradhi .......................

52

Gambar 10.

Leading Wire .....................................................................................

53

Gambar 11.

Blasting Ohm Meter (BOM) dan Blasting Machine (BM) ...............

54

Gambar 12.

Kendaraan Transportasi Crew Blasting.............................................

55

Gambar 13.

Detonator Listrik ...............................................................................

57

Gambar 14.

Sumbu Ledak (Detonating Cord)......................................................

58

Gambar 15.

Dayagel Produksi PT. Dahana .........................................................

59

Gambar 16.

Delay Detonator ................................................................................

60

Gambar 17.

Plastic Linear ....................................................................................

61

Gambar 18.

Pengadukan ANFO ...........................................................................

62

Gambar 19.

Pengisian Bahan Peledak ..................................................................

63

Gambar 20.

Pengisian Stemming dan Cutting .......................................................

64

Gambar 21.

Pemuatan Overburden.......................................................................

69

Gambar 22.

Euclid sebagai Alat Agkut Overburden ............................................

70

Gambar 23.

Single Bench yang Membentang dari Pit A

xi

sampai Pit E di PT. Karbindo Abesyapradhi ....................................

71

Gambar 24.

Waste dump overburden ...................................................................

72

Gambar 25.

Proses Pemuatan Batubara ................................................................

74

Gambar 26.

Penumpukan Batubara di ROM Area ...............................................

75

Gambar 27.

Kegiatan Pemeliharaan Jalan ............................................................

79

Gambar 28.

Bulldozer CAT D9R Sedang Merapikan Fron Kerja ........................

80

Gambar 29.

Penyiraman Jalan ..............................................................................

81

Gambar 30.

Tower Lamp sebagai Penerang pada Shift Malam............................

82

Gambar 31.

Maintenance Truck............................................................................

83

Gambar 32.

Rumah Genset ...................................................................................

83

Gambar 33.

Workshop ..........................................................................................

84

Gambar 34.

Gambaran Umum Profil Batubara Di kawasan


PT.Karbindo Abesyapradhi ...............................................................

89

Gambar 35.

Pengambilan Sampel pada Channel/Pit Sampling ............................

106

Gambar 36.

Proses Pengambilan Batubara Per Lapisan ......................................

107

Gambar 37.

Coal Cleaner yang Bekerja di Pit .....................................................

108

Gambar 38.

Pemberian Identitas pada dump truck Batubara ................................

109

Gambar 39.

Penumpukan dan Pemberian Identitas Batubara di ROM Area ........

110

Gambar 40.

Pengambilan Sampel Batubara di ROM Area...................................

111

Gambar 41.

Rancangan Drainase pada ROM area dan Stockpile Product ...........

112

Gambar 42.

Crushing Plant dan Beberapa Petugas Coal Picker ..........................

116

xii

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1.

Kompilasi Penggunaan Lahan Bagi Usaha Tambang


Batubara PT. Karbindo Abesyapradhi ..............................................

10

Tabel 2.

Kompilasi Jenis dan Jumlah Penyerahan Alat Proteksi Diri .............

13

Tabel 3.

Kompilasi Jumlah dan Proporsi Tenaga Kerja


PT. Karbindo Abesyapradhi Tahun 2009..........................................

Tabel 4.

19

Data Curah Hujan Tahunan Lokasi Tambang


PT. Karbindo Abesyapradhi ..............................................................

22

Tabel 5.

Hasil Analisis Proksimat ...................................................................

28

Tabel 6.

Sifat Fisik Lapisan Tanah Penutup Batubara (Overburden) .............

29

Tabel 7.

Data Hasil Analisis Channel Sampling pada Middle D ....................

97

Tabel 8.

Data Hasil Analisis Sample Rom Area pada Middle D


Per 500 ton Setelah dirata-ratakan ....................................................

Tabel 9.

100

Data Hasil Analisis Sample Product Area Pada


Middle D Per 1000 ton Setelah dirata-ratakan ..................................

101

Tabel 10. Data Hasil Perbandingan Analisis Batubara Middle D Mulai


dari Pit(Channel Sampling), Rom Area, dan Product Area.

xiii

101

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Diagram Alir Kegiatan Quality Control

Lampiran 2.

Diagram Alir Kegiatan Pengolahan Batubara PT. Karbindo


Abesyapradhi

Lampiran 3.

Struktur Organisasi PT. Karbindo Abesyapradhi

Lampiran 4.

Peta Kemajuan Penambangan PT. Karbindo Abesyapradhi

Lampiran 5.

Data Uji Analisis Kualitas Batubara Channel Sampling Middle D

Lampiran 6.

Data Uji Analisis Kualitas Batubara ROM Area Middle D Per


500 ton

Lampiran 7.

Data Uji Analisis Kualitas Batubara Product Area Middle D Per


1000 ton

Lampiran 8.

Log Profile Seam Of Coal PT. Karbindo Abesyapradhi Pit D

Lampiran 9.

Surat Keterangan PLI

Lampiran 10. Catatan Bimbingan Proyek Akhir


Lampiran 11. Jadwal Kegiatan Lapangan
Lampiran 12. Lembaran Penilaian Supervisor Industri

xiv

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era globalisasi ini dunia industri tumbuh dan berkembang dengan
cepat yang menyebabkan kebutuhan terhadap energi semakin meningkat.
Tingginya harga minyak mentah di pasar internasional mengakibatkan
kalangan pengusaha berusaha untuk mencari sumber energi alternatif sebagai
pengganti minyak. Batubara adalah salah satu sumber energi alternatif yang
dilirik oleh kalangan pengusaha. Disamping melihat dari segi keuntungan
biaya, ketersediaan batubara di berbagai negara juga relatif besar, khususnya
di Indonesia yang memiliki batubara bernilai kalori tinggi dengan biaya
produksi untuk mengeluarkannya masih rendah dari negara lain.
PT. Karbindo Abesyapradhi adalah salah satu perusahaan yang
bergerak dalam bidang pertambangan khususnya batubara yang Kuasa
Pertambangannya terletak di daerah Sungai Tambang Kabupaten Sijunjung
Sumatera Barat. Dengan dibantu oleh PT. Pasura Bina Tambang sebagai
kontraktor penambangan, batubara yang ada di daerah tersebut diambil
dengan menggunakan metoda open pit mining.
Proses pengambilan batubara harus dilakukan selektif mungkin agar
kualitas batubara tetap terjaga. Untuk itu PT. Karbindo Abesyapradhi sangat
menjaga sekali pengendalian mutu dari batubara tersebut. Quality Control

sangat diperlukan agar kualitas batubara yang dihasilkan dari proses


penambangan dapat mencapai target mutu yang dikehendaki oleh pembeli.
B. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan
a. Tujuan Proyek
Tujuan

dilakukannya

penambangan

oleh

PT.

daya

alam

Karbindo

Abesyapradhi adalah:
1) Menggali

dan

memanfaatkan

sumber

dengan

memperhatikan aspek lingkungan dan keselamatan kerja.


2) Membuka lapangan pekejaan bagi masyarakat sekitar tambang agar
dapat mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.
3) Memenuhi kebutuhan batubara untuk pasar dunia baik ekspor
maupun domestik.
b. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian (Praktek Lapangan Industri) di
PT. Karbindo Abesyapradhi adalah untuk mengetahui faktor
terjadinya penurunan kualitas batubara yang pengontrolannya
dimulai dari channel sampling, pengambilan batubara (coal getting),
pengangkutan dan penumpukan batubara ke ROM area, sampai pada
proses pengolahan (processing).

2. Manfaat
a. Manfaat Proyek
Adapun manfaat yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan
yang dilakukan oleh PT. Karbindo Abesyapradhi adalah:
1) Menambah devisa negara dari sektor penerimaan pajak dan bea
cukai.
2) Menambah pendapatan daerah Kabupaten Sijunjung dan Propinsi
Sumatera Barat melalui pemasukan pajak yang dibebankan kepada
perusahaan.
3) Dengan adanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar yang
akan berdampak terhadap perbaikan ekonomi masyarakat di sekitar
tambang.
b. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah perusahaan mendapatkan
masukan tentang langkah-langkah yang harus dilakukan agar
kualitas batubara tetap terjaga sehingga dapat bersaing di pasar
internasional.
C. Sistematika Penulisan
Laporan proyek akhir ini dalam penulisannya terdiri dari 4 bab dan
disertai beberapa lampiran dengan masing-masing bab akan membahas hal-hal
sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini terdiri dari latar belakang, tujuan dan manfaat, serta
sistematika penulisan proyek akhir.
BAB II LAPORAN KEGIATAN LAPANGAN
Pada bab ini dijelaskan mengenai deskripsi perusahaan, proses
pelaksanaan proyek, pelaksanaan kegiatan di lapangan, dan temuan-temuan
menarik yang ada di lapangan.
BAB III STUDI KASUS
Pada bab ini menjelaskan tentang perumusan masalah, batasan
masalah, landasan teori dan metodologi pemecahan, data dan pengolahannya,
serta analisis atau pemecahan masalah.
BAB IV PENUTUP
Pada bab ini berisikan kesimpulan dan saran yang dapat penulis
berikan dari permasalahan yang dibahas dalam laporan ini.

BAB II
LAPORAN KEGIATAN LAPANGAN

A. Deskripsi Perusahaan
1. Sejarah PT. Karbindo Abesyapradhi
Sumber daya alam berupa batubara di Sumatera Barat pertama kali
ditemukan oleh Ir. W. H De Greeve pada tahun 1868 yakni di sepanjang Sungai
Batang Ombilin. Usaha eksploitasi di Sungai Durian telah dilaksanakan
Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1880, tetapi kemudian terhenti dan
dimulai kembali pada tahun 1892 seiring dengan dibukanya pelabuhan Emma
Hoven, sekarang Teluk Bayur di Padang. Pada saat ini areal tambang tersebut
dikelola oleh PT. Bukit Asam (Persero) Unit Penambangan Ombilin (UPO).
Sejak tahun 1973 akibat terjadinya krisis energi, batubara sebagai salah
satu sumber energi alternatif pengganti minyak bumi terus meningkat terutama
pada sektor-sektor industri seperti industri kertas, industri semen, pembangkit
tenaga listrik. Karena pemanfaatan

batubara sebagai sumber energi sangat

besar, mendorong PT. Karbindo Abesyapradhi untuk melakukan penelitian dan


telah berhasil mendapatkan deposit batubara di Jorong Sungai Tambang, Nagari
Kunangan Parik Rantang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung,
Propinsi Sumatera Barat.
Untuk penelitian pertama dilakukan oleh tim peneliti dari PT. Karbindo
Abesyapradhi pada tahun 1990 berupa penelitian lebih lanjut dari eksplorasi pada
tahun 1989. Tim tersebut melakukan kegiatan eksplorasi intensif dan

menghasilkan satu kesimpulan bahwa batubara di daerah Sungai Tambang layak


untuk ditambang dilihat dari segi teknis dan ekonomisnya.
PT. Karbindo Abesyapradhi telah melakukan penambangan pada areal
Tiang Satu Sungai Tambang sejak tahun 1990, saat itu proses pekerjaan ditangani
langsung oleh PT. Karbindo Abesyapradhi. Pada tahun 2002 kegiatan
penambangan terhenti, hingga tahun 2004 baru beroperasi kembali bersama
perusahaan kontraktor PT. Abdi Sarana Nusa (ASN). Pada pertengahan tahun
2006 kegiatan penambangan kembali terhenti, hingga akhirnya pada bulan Maret
2007 kembali beroperasi dengan perusahaan kontraktor PT. Pasura Bina
Tambang. PT. Pasura Bina Tambang adalah anak perusahaan dari Srikandi
Group. Srikandi Group sendiri merupakan perusahaan otomotif merk Mitsubishi,
yang berkantor pusat di Jakarta.
Sebelum mengikat kontrak kerja dengan PT. Karbindo Abesyapradhi, PT.
Pasura Bina Tambang telah melakukan kegiatan penambangan batubara di
Bontang Kalimantan Timur. Setelah kegiatan penambangan di Bontang terhenti,
maka PT. Pasura Bina Tambang melakukan take over terhadap saham PT.
Karbindo Abesyapradhi. Pada bulan Juni tahun 2007 yang lalu telah didatangkan
sejumlah alat berat dari Bontang. Alat-alat berat tersebut adalah dump truck,
excavator dengan berbagai type, bulldozer, dan alat-alat pendukung lainnya.
Sistem

penerimaan

karyawan

yang

diterapkan

PT.

Karbindo

Abesyapradhi saat ini adalah sistem kontrak kerja per enam bulan. Jika selama
enam bulan dianggap layak maka pada masa kontrak kerja kedua akan
ditingkatkan menjadi kontrak kerja tahunan hingga menjadi karyawan tetap PT.
Karbindo Abesyapradhi.

Perizinan usaha penambangan batubara PT. Karbindo Abesyapradhi,


terutama menyangkut kegiatan eksplorasi, antara lain:
a. Keputusan

Direktur

1260.K/2014/DDJP/1993,

Jendral
tentang

Pertambangan
Pemberian

Umum

Kuasa

Nomor

Pertambangan

Eksploitasi (DU.354/SUMBAR).
b. Keputusan Bupati Sawahlunto/Sijunjung Nomor 540.11/10/KPTS-BPT-2004,
tentang Penciutan Wilayah Kuasa Pertambangan Batubara Tahap Eksploitasi
PT. Karbindo Abesyapradhi (KW-97 PC 0063).
c. Keputusan

Direktur

1261.K/2015/DDJP/1993,

Jenderal
tentang

Pertambangan
Pemberian

Umum

Kuasa

Nomor

Pertambangan

Pengangkutan dan Kuasa Pertambangan Penjualan.


d. Keputusan Bupati Sawahlunto/Sijunjung Nomor 540.11/15/KPTS-BPT-2003,
tentang Pemberian Perpanjangan Kuasa Pertambangan Pengangkutan dan
Kuasa Pertambangan Penjualan (DU 354-SUMBAR).
e. Keputusan

Mentri Pertambangan dan Energi Nomor 3771/0115/Sj.R/

1992, tentang persetujuan ANDAL Penambangan Batubara di Desa Sungai


Tambang, Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, Provinsi Sumatra Barat.
f. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 2317/0115/Sj.T/ 1993,
tentang Persetujuan RKL dan RPL Pertambangan batubara di Desa Sungai
Tambangan, Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat.
g. Keputusan Bupati Sawahlunto/Sijunjung No.SI/188.45/495/Kpts-BPT-2006
tentang Izin pengangkutan, Penyimpanan/Penimbunan dan Pemakaian Bahan
Peledak di Wilayah Pertambangan Umum.

h. Surat izin Kepolisian Republik Indonesia No. Pol. SI/2640/VIII/2006 tentang


Pemilikan, Penguasaan dan Penyimpanan Bahan Peledak (berlaku hingga 29
Agustus 2011).
Kuasa Pertambangan (KP) saat ini 357,73 Ha. Dengan beroperasinya
penambangan batubara yang dieksploitasi oleh PT. Karbindo Abesyapradhi,
perusahaan ini berharap akan mendatangkan devisa bagi negara dan sumber
pendapatan bagi pemerintah daerah selain itu juga membuka lahan pekerjaan
khususnya bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat
yang bermukim di sekitar area pertambangan
2. Perkembangan PT. Karbindo Abesyapradhi
PT. Karbindo Abesyapradhi mempunyai luas KP 357,73 Ha ini dibagi
menjadi lima bagian (lima Pit area) yaitu Pit A, Pit B, Pit C, Pit D dan Pit E,
dimana Pit A terdiri dari Pit A1 sampai dengan A6, Pit B terdiri dari Pit B1
sampai dengan B4, Pit C terdiri dari Pit C1 sampai dengan C6, Pit D terdiri dari
Pit D1 sampai dengan D6, dan Pit E terdiri dari Pit E1 sampai dengan E3,
sedangkan jarak antar Pit maupun jarak pada masing-masing Pit adalah per 100
m. Titik penggalian terendah di PT. Karbindo Abesyapradhi ini adalah 96,0 m
DPL (Pit D1). Penggalian dilakukan dengan cara sistem jenjang (benching
system), dimana penurunan bench atau jalan kerja dilakukan secara bertahap
searah strike dan dip batubara yakni 300 sampai dengan 450 ke arah Utara.
Aktifitas penambangan menghasilkan limbah (waste) berupa material
penutup lapisan batubara (overburden). Material tersebut (waste) ditimbunkan
pada areal pembuangan (waste dump overburden) A Extra, A Utara, B Utara, D
Selatan serta dilanjutkan di areal pit E (waste dump E3 Barat).

Kompilasi penggunaan lahan bagi usaha tambang batubara PT. Karbindo


Abesyapradhi dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Kompilasi Penggunaan Lahan Bagi Usaha Tambang Batubara PT.
Karbindo Abesyapradhi

NO

PENGGUNAAN LAHAN

KUMULATIF
(Ha)

1.

Luas KP Eksploitasi (setelah penciutan)

357,73

2.

Luas Lahan yang Dibuka / Dimanfaatkan

254,1378

a. Areal Tambang

71,4347

b. Areal Penimbunan Material Buangan

129,3914

c. Areal Reklamasi (Penghijauan)

38,5956

d. Areal Tergenang Air (Setling Pond &

5,4081

Sediment Pond)
e. Emplasemen

3,958

f.

Jalan Tambang

9,7337

g. Jalan Non-Tambang

3,2

h. Areal Penimbunan Hasil Produksi (ROM)


i.
3.

Areal Pemanfaatan Lain

Luas Lahan yang Tidak / Belum Dimanfaatkan

Sumber: PT. Karbindo Abesyapradhi

5,919
16,8413
91,0195

3. Visi dan Misi PT. Karbindo Abesyapradhi


Visi dari PT. Karbindo Abesyapradhi adalah Usaha Tambang yang
Berwawasan Lingkungan, sedangkan misi dari PT.

Karbindo Abesyapradhi

ini sebagai berikut:


a. Manajemen

bertanggung

jawab

penuh

untuk

selalu

terpeliharanya

lingkungan, baik di area kerja maupun di sekitarnya.


b. Manajemen mengusahakan perlindungan dan pelestarian lingkungan secara
terpadu dalam setiap aktivitas penambangan.
c. Manajemen menerima setiap laporan atau upaya perlindungan dan
pelestarian lingkungan, untuk dapat ditindaklanjuti.
d. Seluruh karyawan/karyawati turut bertanggung jawab dalam mengusahakan
perlindungan lingkungan kerja.
4. Kebijakan PT. Karbindo Abesyapradhi
a. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kebijakan PT. Karbindo Abesyapradhi mengenai Kesehatan dan
Keselamatan Kerja yaitu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk
mencapai tingkat keselamatan yang tinggi yang dibuktikan melalui
komitmen, perilaku yang aman dan disiplin kerja.
Kegiatan-kegiatan dalam bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja
pertambangan PT. Karbindo Abesyapradhi adalah sebagai berikut:
1) Pelayanan kesehatan karyawan pada balai pengobatan.
2) Pelaksanaan pengenalan keselamatan (safety induction), pembekalan
secara umum, dilakukan sebelum tenaga kerja memulai pekerjaan di
dalam areal tambang.

10

3) Pelaksanaan safety talk, dengan tindakan mencegah kecelakaan tambang,


kondisi membahayakan, pengadaan tanggul pengaman (safety berm) dan
pemakaian Alat Proteksi Diri (APD).
4) Inventarisasi keberadaan dan kondisi kelayakan Alat Pemadam Api
Ringan (APAR), baik pada unit bangunan maupun peralatan dan
kendaraan.
5) Inventarisasi kebutuhan, keberadaan dan efektivitas penempatan ramburambu lalu lintas di areal tambang.
6) Pengawasan pelaksanaan peledakan (blasting).
7) Inventarisasi dan investigasi lokasi kerja tidak aman di areal tambang.
8) Penyediaan Alat Proteksi Diri (APD) bagi tenaga kerja, kompilasi jenis
APD yang telah diberikan kepada tenaga kerja selama periode Triwulan
IV Semester II Tahun Kerja 2007 tersaji pada Tabel 2 berikut ini.

11

Tabel 2. Kompilasi Jenis dan Jumlah Penyerahan Alat Proteksi


Diri

JENIS ALAT
NO

PROTEKSI DIRI

SATUAN

PENYERAHAN

(APD)
1.

Sepatu Boot Kulit

Pasang

30

2.

Sepatu Boot Karet

Pasang

3.

Helm

Buah

14

4.

Kaca Mata

Pasang

5.

Sarung Tangan Katun

Pasang

148

6.

Mantel Hujan

Buah

7.

Masker

Buah

17

8.

Sarung Tangan Las

Pasang

9.

Ear Plug

Pasang

16

Sumber: PT. Karbindo Abesyapradhi

b. Sosial Masyarakat
1) Pengadaan bantuan untuk kegiatan sosial masyarakat yang bersifat tidak
tetap seperti sumbangan dana, material berupa batu dan lain sebagainya.
2) Memberikan kesempatan kerja bagi anggota masyarakat setempat.
c. Pengelolaan Lingkungan
Kegiatan

penambangan yang

dilakukan oleh PT. Karbindo

Abesyapradhi memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk itu


PT. Karbindo Abesyapradhi sudah menyusun suatu kebijakan tentang
pengelolaan lingkungan hidup untuk mengurangi

12

dampak-dampak negatif terhadap lingkungan akibat penambangan. Dengan


mengidentifikasi sedini mungkin persoalan lingkungan dan potensi
konsekuensinya, serta memastikan bahwa semua pekerja, subkontraktorsubkontraktor yang dibutuhkan dapat memenuhi tanggung jawab mereka
terhadap lingkungan.
Beberapa peraturan-peraturan yang dibuat PT.Karbindo Abesyapradhi
terhadap perlindungan dan pelestarian lingkungan:
1) Tidak diperkenankan memasuki areal hutan suksesi (hutan pengganti),
kecuali untuk keperluan penelitian yang disetujui secara tertulis oleh
Kepala Teknik Tambang.
2) Dilarang meracuni ikan pada kolam biologi, areal tergenang lainnya
dilingkungan kerja PT. Karbindo Abesyapradhi dan di sepanjang
perairan Sungai Tambangan.
3) Seluruh kayu yang keluar melalui ruas jalan tambang PT. Karbindo
Abesyapradhi harus dilengkapi dengan surat Rekomendasi Wali Nagari.
4) Seluruh material timbunan yang keluar dari tambang PT. Karbindo
Abesyapradhi harus dilengkapi rekomendasi Wali Nagari.
5) Seluruh karyawan turut bertanggung jawab dalam mengusahakan
perlindungan lingkungan di tempat kerja. Jika terjadi pelanggaran atau
kelalaian akan dikenakan sanksi.
Sesuai kemajuan tambang, kegiatan pengelolaan lingkungan juga telah
dilaksanakan secara terpadu dan berkelanjutan antara lain:

13

1) Penyimpanan tanah pucuk (top soil storage) pada bagian areal buangan
(waste dump overburden) yang final atau di lokasi lain yang
memungkinkan.
2) Air kerja, air pemompaan pit area dikelola pada kolam pengendapan
(settling pond) sebelum dialirkan menuju Sungai Tambangan.
3) Penataan drainase, agar aliran permukaan diarahkan menuju parit-parit
alam atau anak Sungai Tambangan untuk mencegah penirisan atau air
limpasan ke dalam areal kerja (pit area).
4) Sehubungan dengan tata cara pengolahan batubara di area ROM coal
yang diterapkan PT. Karbindo Abesyapradhi adalah pencampuran
(blending) roof, middle, floor antar pit area secara kering (dry process),
maka tidak ada tailing.
5) Mengumpulkan limbah padat, seperti filter oli, potongan besi, ban bekas
dan lain sebagainya pada lokasi yang ditentukan.
6) Penyiraman jalan masuk dan jalan kerja secara berkala menggunakan
truk tangki air (water tank).
7) Pembuatan tanggul pengaman (safety berm) pada lokasi yang diperlukan.
8) Pemeliharaan mine infrastructure seperti kantor, mess, karyawan,
workshop, jalan masuk tambang dan sarana prasarana lainnya.

B. Deskripsi Proyek
Sistem penambangan pada PT. Karbindo Abesyapradhi adalah tambang
terbuka dengan metode open pit (open pit mining), dengan tata cara penambangan
searah jurus lapisan dan kedudukan batubara (strip mining). Sebagai acuan Striping
Ratio (SR) adalah 10 : 1.

14

Pekerjaan penambangan batubara saat ini dikerjakan oleh PT. Pasura Bina
Tambang sebagai kontraktor dalam melakukan penambangan dan kegiatan lainnya
dalam wilayah penambangan PT. Karbindo Abesyapradhi.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui endapan batubara pada daerah
penambangan Pit Tiang Satu terdiri dari satu lapisan (seam) saja. Tebal lapisan
batubara antara 1 m sampai 25 m, sedangkan lapisan batubara pada pit E terdapat
sisipan lanau atau lempung yang keras (parting) dimana untuk memisahkan parting
dan batubara perlu dilakukan peledakan. Jumlah cadangan terukur sebanyak
7.775.890,03 ton dan cadangan terduga 4.405.631 ton yang terbagi dalam lima
daerah penambangan yaitu Pit A, B, C, D, E.
1. Ruang Lingkup Kerja
Pekerjaan penambangan batubara di PT. Karbindo Abesyapradhi ini
dilakukan oleh perusahaan kontraktor PT. Pasura Bina Tambang. Adapun ruang
lingkup pekerjaan penambangan atau jenis pekerjaan yang dilakukan di PT.
Karbindo Abesyapradhi antara lain:
a. Survey dan pemetaan.
b. Pembersihan lahan (land clearing).
c. Pengupasan lapisan top soil dan sub top soil.
d. Mengangkut top soil ke tempat penyimpanan.
e. Peledakan (blasting) sebagai salah satu bentuk persiapan penambangan.
f.

Pengupasan lapisan penutup (overburden) .

g. Pengangkutan lapisan penutup ke waste dump overburden area.


h. Penambangan batubara.
i.

Pengambilan batubara (coal getting).

15

j.

Pengangkutan batubara dari pit ke ROM area.

k. Processing pada crushing plant. Untuk kegiatan pencampuran (blending)


batubara dilakukan saat memasukkan batubara pada hopper.
l.

Transporting batubara bersih ke stock pile pelabuhan Teluk Bayur.

m. Penanganan air dari daerah penambangan


n. Penimbunan areal bekas penambangan
o. Pembibitan pepohonan untuk kegiatan reklamasi seperti Jati, Karet, Mahoni,
dsb.
p. Melaksanakan kegiatan reklamasi lahan bekas penambangan.
2. Peralatan Penambangan
Peralatan yang beroperasi dalam melaksanakan penambangan di PT.
Karbindo Abesyapradhi terdiri dari:
a. Bulldozer, berfungsi:
1) Membersihkan dan meratakan permukaan kerja tambang.
2) Mengupas permukaan tanah tipis di lapisan batubara.
3) Membantu pekerjaan mendorong (dozing) material ke tempat lain.
b. Excavator, berfungsi:
1) Melakukan penggalian batubara.
2) Memindahkan tumpukan tanah di lokasi penggalian.
3) Membantu mengupas lapisan tanah penutup di permukaan lapisan
batubara.
c. Motor grader, berfungsi meratakan jalan dan lantai kerja tambang.
d. Tower lamp, berfungsi untuk menerangi front kerja pada malam hari.
Masing-masing tower lamp memiliki mesin diesel sendiri, sehingga kita

16

tidak perlu membentangkan kabel dari genset untuk sember energi tower
lamp tersebut.
e. Dump truck Mitsubishi 220 PS, dengan kapasitas untuk 25 ton batubara.
f.

Rigid truck merk Euclid dan Terex, dengan kapasitas bak 22 BCM untuk
pengangkutan material overburden.

g. Mobil tangki air (water tank) merk Mitsubishi.


h. Kendaraan untuk mengisi bahan bakar ke semua unit alat berat.
i.
3.

Kendaraan angkutan bahan peledak (fuel truck) merk Mitsubishi.

Sistem Penambangan
Sistem penambangan yang dilakukan adalah tambang terbuka dengan
metode open pit (open pit mining) dengan cara penambangan searah jurus lapisan
dan kedudukan batubara (strip mining). Penggalian tanah penutup menggunakan
sistem jenjang (benching system), dimana penurunan bench atau jalan kerja
dilakukan secara bertahap dari arah Selatan ke Utara sesuai dengan arah
kemiringan perlapisan batubara.
Untuk memberaikan overburden yang tebal dan kompak perlu dilakukan
peledakan untuk memudahkan pengambilannya. Selanjutnya batubara yang telah
tersingkap diambil secara selektif (selective mining) yaitu dengan cara
memisahkan batubara dari pengotornya (parting) secara langsung di lapangan.
Batubara yang diambil langsung dimuat menggunakan excavator ke dalam dump
truck lalu ditumpuk pada Run Of Mine (ROM) untuk diproses, sedangkan
overburden ditumpuk pada waste dump.

17

4. Tenaga kerja dan jam kerja


Sesuai kemajuan kegiatan, tenaga kerja yang telah terlibat di lokasi kerja
meliputi staff, non-staff, pekerja kantor dan pekerja lapangan. Kompilasi jumlah
dan proporsi tenaga kerja yang dimaksud, tersaji pada Tabel 3 berikut ini
Tabel 3. Kompilasi Jumlah dan Proporsi Tenaga Kerja PT. Karbindo
Abesyapradhi Tahun 2011
Kualifikasi Tenaga Kerja (orang)
No

Perusahaan
Staff

Nonstaff

Jumlah

Pekerja

Pekerja

Lapangan

Kantor

(orang)

1.

PT. Karbindo
Abesyapradhi

21

--

20

44

2.

PT. Pasura Bina


Tambang

25

--

147

--

172

JUMLAH

46

--

167

216

Sumber : PT. Karbindo Abesyapradhi

Untuk jam kerja dibagi atas dua shift dengan pembagian sebagai berikut :
- Shift pagi

: Mulai jam 07.00-18.00, istirahat (12.00-13.00)

- Shift malam : Mulai jam 18.00-06.00, istirahat (24.00-01.00)


Pembagian ini berlaku untuk semua petugas kecuali petugas kantor yang
hanya bekerja pada shift pagi.
5. Keadaan Umum Daerah Kuasa Penambangan

a. Lokasi dan Kesampaian Daerah


Secara

geografis

daerah

usaha

pertambang

PT.

Karbindo

Abesyapradhi terletak pada koordinat (1010 20 30 - 1010 22 40) BT dan


(00 49 30 - 00 52 14) LS.

18

Sedangkan secara administratif lokasi kegiatan terletak di Jorong


Sungai Tambang dan areal tambang keseluruhan meliputi bagian Jorong
Sungai Tambang sendiri, Kunangan dan Parik Rantang pada Kecamatan
Kamang Baru Kabupaten Sijunjung Propinsi Sumatera Barat.
Akses yang tersedia ke lokasi usaha tambang batubara

PT.

Karbindo Abesyapradhi sebagian besar adalah Jalan lintas Sumatera


(Sumatera High Way) dengan jarak 165 km dari ibu kota Provinsi
Sumatera Barat (Padang) ke arah Provinsi Jambi dan

lokasi kegiatan

penambangan batubara 4 km dari Kiliran Jao, untuk lebih jelasnya hal ini
dapat dilihat pada gambar 1.

Sumber: PT. Karbindo Abesyapradhi

Gambar 1. Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah PT.Karbindo


Abesyapradhi

19

b. Iklim dan Cuaca


Keadaan iklim di lokasi penambangan termasuk iklim tropis dengan
suhu udara panas pada siang hari dan cukup dingin pada malam hari, dengan
kisaran suhu 24 oC sampai dengan 30 C. Berdasarkan data curah hujan
antara tahun 1997 sampai dengan tahun 2006, curah hujan rata-rata tertinggi
terjadi pada bulan Desember, yaitu sebesar 1382,1 mm (pada tabel 4 ).
Sedangkan curah hujan rata-rata terendah terjadi pada bulan Februari, yaitu
sebesar 650,2 mm (pada Tabel 4).
Tabel 4. Data Curah Hujan Tahun 1997-2006 Lokasi Tambang
PT. Karbindo Abesyapradhi

Sumber: PT. Karbindo Abesyapradhi

20

Suhu udara harian berkisar 20,44 20,85 oC pagi hari, 30,78 31,06
C pada siang hari dan 25,58 25,70 oC pada sore hari. Kelembaban relatif

udara harian rata-rata berkisar 92,17 93,75 % pagi hari, 73,52 74,00 %
siang hari dan 79,91 80,64 % pada sore harinya (Pengamatan Departemen
Lingkungan PT. Karbindo Abesyapradhi pada periode Triwulan IV Tahun
2007).
Dari pengamatan selama 10 tahun diketahui bahwa rata-rata musim
penghujan umumnya terjadi bulan Januari Mei dan Nopember
Desember. Sedangkan musim kemarau terjadi bulan Juni Oktober.

c. Keadaan Geologi dan Stratigrafi


1) Geologi
Daerah kuasa pertambangan PT. Karbindo Abesyapradhi
merupakan kawasan perbukitan rendah sampai terjal dengan bagian
Timur merupakan dataran alluvial dan kawasan perbukitan, di sebelah
Barat merupakan hulu-hulu sungai yang mengalir ke arah Timur.
Daerah penambangan terletak pada Lereng Timur dari daerah
Bukit Barisan yang merupakan batas antara kelompok batuan pra tersier
dan batuan intrusive yang merupakan inti dari bukit barisan dengan
kelompok batuan sedimen tengah dengan cekungan yang tersusun oleh
sedimen-sedimen daratan dan laut dangkal dan terbentuk pada miosen
awal. Pada kondisi lingkungan inilah yang memungkinkan terbentuknya
cebakan batubara.

21

Rekonstruksi tektonik dan sedimentasinya dimulai setelah


orogenesa Zaman Kapur mengalami proses erosi yang berjalan
sepanjang Pulau Sumatera dan diikuti dengan proses sedimentasi serta
aktifitas vulkanisme yang akan merubah geomorfologi Pulau Sumatera
sehingga membentuk batuan-batuan vulkanik, pegunungan, cekungan
antara gunung (Intra Montana Basin) dan patahan bongkah (block
faulting).
2) Stratigrafi
Berdasarkan data litologi daerah setempat diketahui bahwa
daerah penambangan PT. Karbindo Abesyapradhi terdiri dari empat
satuan batuan yaitu satuan alluvium (pasir, kerikil, kerakal), satuan batu
lanau (breksi, batubara, batu lanau), satuan batu gamping (batu gamping,
batu pasir, dolomit) serta satuan batuan pra tersier (batu gamping, batu
sabak, sekis)
Untuk daerah penambangan, litologi yang tersingkap dari tua ke
muda adalah kelompok batuan pra tersier yang terdiri dari lava, rijang,
metal dan gamping yang telah mengalami deformasi yang cukup kuat.
Tidak selaras di atasnya adalah breksi vulkanik dengan komponen
penyusun andesit di atasnya adalah batu pasir glaukonitan, kadangkadang lempungan dengan ketebalan 1 meter sampai dengan 2 meter.
Batubara (variasi batubara, batubara serpihan, serpih batubara dan serpih)
yang mempunyai ketebalan 5 meter sampai cdengan 17 meter, batu lanau
berlapis dengan ketebalan 5 cm sampai dengan 25 cm, sangat
keras/kompak dengan tebal lebih dari 200 meter dengan beberapa sisipan
batu pasir. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2 berikut.

22

Sumber: PT. Karbindo Abesyapradhi

Gambar 2. Stratigrafi PT. Karbindo Abesyapradhi

d. Struktur Geologi Regional


Berdasarkan penyelidikan lapangan tim ekplorasi PT. Karbindo
Abesyapradhi dapat diperkirakan bahwa proses terjadinya batubara di daerah
penelitian ini adalah secara insitu, yaitu pembentukan batubara yang berasal
dari tumbuhan setempat yang mati kemudian terakumulasi di suatu tempat.

23

Hal ini diperkuat dengan hasil pengamatan tim ekplorasi yaitu


dengan dijumpainya rawa-rawa gambut di sekitar lokasi dan ditemukan
akar-akar dalam lumpur serta batang kayu tegak di bawah lapisan batubara.
Struktur utama daerah ini adalah struktur lipatan berupa sinklin yang
memanjang dari arah timur ke arah Barat Laut dan sesar mendatar yang
berarah utara selatan. Selain itu terdapat juga sesar geser pada bagian Barat
Laut dan sebuah sesar normal pada bagian barat daya.
Struktur dominan yang terlihat pada permukaan lereng adalah
bidang perlapisan (Bedding Plane) yang mempunyai orientasi seragam
(perlapisannya relatif sama). Struktur lipatan ini terdapat pada overburden
yang terdiri dari batu lanau dengan kerapatan struktur perlapisan berkisar
antara 10 cm sampai dengan 115 cm di bagian timur (Pit D) dan antara 30
cm sampai dengan 100 cm di bagian timur (Pit C) dengan permukaan
diskontinuitas atau bidang struktur umumnya tidak terbuka, kering dan
pelapukan rendah. Struktur geologi yang ada pada daerah penambangan
adalah sesar turun dan sesar mendatar, sesar tersebut memotong lapisan
batubara.

e. Cadangan dan Kualitas Batubara


Berdasarkan hasil penelitian terdahulu diketahui endapan batubara
pada daerah penambangan Pit tiang satu terdiri dari satu lapisan (seam) saja.
Tebal lapisan batubara antara 1 meter sampai dengan 25 meter, endapan ini
terdiri dari variasi batubara serpihan dan serpihan batubara. Jumlah
cadangan terukur sebanyak 7.775.890,03 ton dan cadangan terduga
4.405.631,91 ton terbagi dalam lima daerah penambangan yaitu Pit A, Pit B,

24

Pit C, Pit D dan Pit E. Perhitugan cadangan dapat dilakukan dengan datadata dari luas areal, ketebalan batubara, singkapan batubara dan data
pemboran, sehingga dapat diketahui tiga dimensi cebakan batubara.
Cadangan terukur yang perhitungannya berdasarkan pada jalur
singkapan yang telah ditemukan, lebar berdasarkan proyeksi panjang lapisan
sedimen penutup batubara dimulai dari jalur singkapan batubara searah
kemiringan yang berhasil ditemukan dan dilakukan pengukuran dengan
anggapan lapisan normal dan untuk tebal ditentukan dari data parit uji dan
sumur uji.
PT. Karbindo Abesyapradhi memiliki variasi kualitas batubara.
Kualitas batubara dibedakan menurut tempat pengambilannya masingmasing. Batubara pada masing-masing Pit terdiri atas tiga tipe, yaitu roof,
middle dan floor. Roof dan middle adalah batubara high calory sedangkan
floor adalah batubara low calory. Batubara high calory disini adalah
batubara yang memiliki nilai kalori 6000 Kcal/kg, sedangkan batubara low
calory adalah batubara yang memiliki nilai kalori <6.000 Kcal/kg. Selain itu
ada suatu tempat penyimpanan batubara low calory yang dinamakan dengan
Pulau Hitam yang memiliki nilai kalori <4.500 Kcal/kg. Untuk uji kualitas
batubara

PT. Karbindo Abesyapradhi dilakukan oleh PT. Sucofindo.

Data-data analisis proksimat dari laboratorium PT. Sucofindo dapat dilihat


pada Tabel 5 berikut.

25

Tabel 5. Hasil Analisis Proksimat


No

Analisis

Nilai

Total Moisture (AR)

6,41 - 15,43 %

Inherent Moisture (ADB)

5,55 - 11 %

Volatile Matter (ADB)

32,47 - 46,83 %

Fixed Carbon (ADB)

45,04 - 52,48 %

Total Sulphur (ADB)

1,21 - 3,30 %

Ash Content (ADB)

1,87 - 15,25 %

Gross Calorific Value (ADB)

5.418 7.069 kcal/kg

Sumber : PT. Sucofindo

f. Sifat Fisik dan Jenis Lapisan Penutup Batubara


Sifat-sifat fisik dari lapisan penutup batubara diantaranya adalah
bobot isi, berat jenis, kadar air, derajat kejenuhan, porositas dan void ratio.
Untuk mengetahui besarnya masing-masing sifat fisik overburden tersebut
dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini

26

Tabel 6. Sifat Fisik Lapisan Tanah Penutup Batubara


(Overburden)
Parameter

Besaran

Bobot isi insitu

2,42 ton/m3

Bobot isi lepas

1,84 ton/m3

Berat jenis

2,76

Kadar air

3,85 %

Derajat kejenuhan

45,63 %

Porositas

20,43 %

Void ratio

0,29

Sumber: PT. Karbindo Abesyapradhi

Berdasarkan data litologi daerah setempat diketahui bahwa daerah


penambangan terdiri dari tiga satuan batuan, yaitu satuan alluvium (pasir,
kerikil, kerakal), satuan batuan lanau (breksi, batubara, batu lanau) dan
satuan batuan tersier (batu gamping, batu sabak, filit dan sekis).
Lapisan penutup dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu lapisan
top soil dan lapisan overburden. Lapisan top soil merupakan lapisan tanah
humus yang berada paling atas dan harus dialokasikan tersendiri, karena
nantinya akan bermanfaat pada pelaksanaan reklamasi lahan bekas
penambangan. Warna dari top soil ini biasanya coklat kemerahan dengan
ketebalan 50 cm.

27

Lapisan overburden terdiri atas batuan pra-tersier dan lava, rijang,


meta, dan gamping yang telah mengalami deformasi. Disamping itu,
overburden juga tersusun atas breksi vulkanik dengan komponen penyusun
utamanya adalah batuan andesit, lanau yang sangat keras/kompak dengan
sisipan batu pasir. Diatasnya ada endapan alluvial yang terdiri dari lempung,
lumpur, pasir dan kerikil.
C. Proses Pelaksanaan Pekerjan/Proyek
1. Pelaksanaan Kegiatan Proyek
a. Eksplorasi
Penelitian umum yang dilakukan pada tahun 1975 oleh tim dari
Direktorat Geologi Bandung di bawah koordinasi PH. Silitonga dan Kastowo
yang penelitian geologi umum (regional) yang hasilnya diwujudkan dalam
peta Geologi Lembar Solok Selatan dengan
Penelitian

diteruskan

pada

tahun

skala 1 : 250.000.
1989

oleh

PT.

Karbindo

Abesyapradhi dan pada tahun 1990 PT. Karbindo Abesyapradhi melakukan


kegiatan eksplorasi secara intensif pada daerah penelitian untuk memastikan
apakah batubara di daerah Sungai Tambang ini layak untuk ditambang
(mineable).
b. Perencanaan Tambang
Tujuan perencanaan tambang agar dapat dipakai sebagai kerangka
acuan, dengan demikian tambang dapat berjalan secara efektif dan efisien
termasuk memperhatikan K3LH dan juga dapat memenuhi aspirasi stake
holders pertambangan.

28

Perencanaan tambang merupakan titik awal yang harus dilakukan


sebelum kegiatan penambangan dilakukan. Dasar-dasar dari perencanaan
tambang pada umumnya antara lain desain tambang, metode penambangan,
peralatan yang digunakan, akses jalan tambang dan fasilitas yang diperlukan.
Dasar-dasar dari perencanaan tambang pada umumnya antara lain
mengenai rancangan tambang, metode penambangan, peralatanm pembuatan
akses jalan, pengelolaan tambang dan fasilitas yang diperlukan
Perencanaan tambang terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1) Sebelum kegiatan tambang dimulai.
2) Ketika tambang sedang berjalan dan selama umur tambang itu sendiri.
Menurut Arif (2000: 4-8) secara umum metode tambang terbuka dapat
dikelompokan menjadi empat metode diantaranya:
1) Open pit, open cast/open cut
Metode ini biasanya diterapkan untuk menambang endapanendapan bijih (ore). Operasi penambangan konvensional, yaitu: pemecahan
batuan dengan pemboran dan peledakan, diikuti dengan penggalian,
pemuatan, dan pengangkutan. Perbedaan antara open pit, open cast/open
cut dicirikan oleh arah penggalian/arah penambangan. Arah penggalian
pada open pit dilakukan dari permukaan yang relatif mendatar menuju
kearah bawah dimana endapan bijih itu berada, sedangkan arah penggalian
pada open cast/open cut apabila dilakukan pada suatu lereng bukit. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini.

29

Open pit

Open cast/open cut

Gambar 3. Bentuk Arah Penggalian Open Pit, Open Cast/Open


Cut

2) Kuari (Quarry)
Kuari adalah suatu metode tambang terbuka yang ditetapkan untuk
menambang endapan-endapan bahan galian industri atau mineral industri.
Secara garis besar kuari dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
a) Side hill type, diterapkan untuk menambang endapan mineral industri
yang terletak di lereng bukit atau endapannya berbentuk bukit.
b) Pill type, diterapkan untuk menambang endapan mineral industri yang
terletak pada suatu daerah yang relatif datar.
3) Strip mine
Strip mine adalah sistem tambang terbuka yang diterapkan untuk
menambang endapan-endapan sedimenter yang letaknya kurang lebih
mendatar, misalnya tambang batubara, tambang garam, dan lain-lain.

30

4) Alluvial mine
Alluvial mine adalah tambang terbuka yang diterapkan untuk
menambang endapan-endapan alluvial, misalnya tambang bijih timah, pasir
besi, dan lain-lain.
2. Kegiatan Penambangan
a. Survey dan Pemetaan
Survey dan pemetaan merupakan suatu kegiatan mengambil data
koordinat dan elevasi pada suatu area, hasil dari pemetaan ini digunakan
untuk menentukan perencanaan tambang ke depan dan sebagai gambaran
kondisi area penambangan. Survey dan pemetaan ini sangat mempengaruhi
dalam kegiatan penambangan. Karena dengan survey dapat ditentukan
daerah mana yang akan di tambang.
Fungsi kegiatan survey selain untuk perencanaan tambang juga
berperan penting untuk mengetahui perubahan dan kemajuan penambangan
seperti mengetahui jumlah penggalian overburden dan sisa cadangan.
b. Land Clearing, Pengupasan Top Soil dan Pengangkutan
Land clearing bertujuan untuk membersihkan lahan penambangan
dari tumbuhan untuk memudahkan proses pengupasan Top Soil, semaksemak dan pohon yang berdiameter kecil didorong dengan bulldozer agar
ukuran yang kecil tidak lengket dan tertinggal di tanah yang lembek. Untuk
pohon yang berdiameter besar ditebang dengan gergaji mesin.

31

Kemudian dilanjutkan dengan pengupasan top soil dan sub top soil:
1) Top soil
Merupakan lapisan tanah yang paling atas yang mengandung
bahan-bahan organik, berwarna cokelat kehitaman dengan ketebalan
sekitar 0,5 meter. Lapisan ini mengandung sebagian besar unsur hara
tanah. Top soil ini dikupas dengan menggunakan excavator PC 200 dan
bulldozer D375 dan diangkut ke tempat penumpukan sementara dengan
menggunakan dump truck.
2) Sub top soil
Merupakan lapisan tanah dibawah top soil yang mengandung
sedikit bahan organik, berupa lempung berwarna kuning, sub top soil
juga dikupas dengan menggunakan excavator PC 200 dan diangkut
dengan euclid dan terex.
c. Pengupasan Tanah Penutup (Overburden) dan Pengangkutan
Tanah

penutup

(overburden)

pada

lahan

penambangan

PT. Karbindo Abesyapradhi berupa batu pasiran (sand stone), batu lanau
(silt stone) dan tanah clay yang keras. Metode untuk penggalian overburden
adalah dengan menggali overburden secara bertahap dan membuat jenjang
(bench) secara terus menerus sehingga lapisan tanah penutup batubara
terbebas.
Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup (overburden) dilakukan
dengan menggunakan peledakan, karena lapisan tanah penutup yang cukup
tebal dan keras, peledakan yang digunakan untuk pengupasan tanah penutup
ini yaitu dengan pemakaian cordtex.

32

d. Pembersihan Lapisan Atas Batubara (cleaning)


Cleaning dimaksudkan untuk membersihkan lapisan batubara dari
lapisan pengotor yang terdiri atas tanah yang tercampur batubara dan lapisan
black shale 5 cm sampai dengan 20 cm. Pembersihan ini langsung
dilakukan dengan menggunakan excavator.
e. Penambangan Batubara
Sistem tambang terbuka (open pit mining), dilakukan dengan tata
cara penambangan searah jurus lapisan dan kedudukan batubara (strip
mining) sesuai dengan aspek geologis pembentukan endapan batubara.
Lapisan batubara pada PT. Karbindo Abesyapradhi memiliki
ketebalan 1 m sampai dengan 25 m dan terdapat sisipan tanah lempung
(clay), black shale sehingga penambangan dilakukan secara selectif mining
yaitu pengambilan batubara bersih dan memisahkan black shale serta sisipan
clay (parting).
Penambangan dilakukan dengan acuan perbandingan lapisan
overburden dengan lapisan batubara yang akan digali 10 : 1. Daerah
penambangan PT. Karbindo Abesyapradhi dapat dilihat pada gambar 4 di
bawah ini.

33

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 4. Daerah Penambangan PT. Karbindo Abesyapradhi


f.

Processing
Proses pengolahan batubara di PT. Karbindo Abesyapradhi hanya
terdapat crushing plant sedangkan pencucian tidak dilakukan karena dengan
menggunakan penambangan selectif mining telah menghasilkan batubara
yang bersih. Batubara pada PT. Karbindo Abesyapradhi memiliki tingkat
HGI (Hardgrove Grindability Index) yang tinggi dengan nilai antara 45-50,
sehingga batubaranya mudah hancur dan berukuran halus, jika dilakukan
pencucian maka batubara akan banyak yang terbuang (looses).

g. Pemasaran
Pemasaran produk batubara PT. Karbindo Abesyapradhi dilakukan
dengan menerapkan sistim FOB (Free On Board) atau penjualan dengan
harga setelah di atas kapal. Pemasaran batubara

PT. Karbindo

Abesyapradhi diekspor ke India. Batubara terlebih dahulu dikirim ke


stockpile PT. Karbindo Abesyapradhi di Teluk Bayur, Padang dengan jenis

34

dump truck yang menggunakan jasa pengangkutan dari luar dengan sistem
kontrak yang diberikan lewat tender.
h. Reklamasi
Areal penambangan yang telah diambil batubaranya ditimbun
kembali untuk dilakukan reklamasi/penanaman pohon. Pembibitan dan
penanaman ini ditangani oleh Safety Health Environment (SHE) yaitu badan
yang mengawasi masalah keselamatan dan lingkungan hidup PT. Karbindo
Abesyapradhi.
i.

Hidrologi (Kualitas Air Permukaan)


Dari

pemantauan

Departemen

Lingkungan

PT.

Karbindo

Abesyapradhi (Safety Health Environment Departement) periode Triwulan


IV tahun 2007 diketahui kualitas air kerja pit area dan Kolam Biologi serta
badan perairan Sungai Tambangan, baik yang berada di areal kerja maupun
pemukiman adalah sebagai berikut:
1) Parameter kualitas air kerja (air pit area dan Kolam Biologi) yang
berfluktuasi cukup besar selama Triwulan IV adalah zat padat tersuspensi
(berkisar 123-153 mg/L) dan DO (demand oxygen atau kebutuhan
oksigen) yang berkisar 0,82 0,95 mg/L. Namun, secara keseluruhan
kualitas air kerja memenuhi Klasifikasi Mutu Air Kelas 2 sebagaimana
termuat dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001.
2) Parameter kualitas air Sungai Tambangan di sump dan areal kerja
(Sta.04) dan juga di bagian hilir (Sta.17) yang berfluktuasi cukup besar
selama Triwulan IV adalah zat padat tersuspensi (berkisar 133 mg/L) dan
parameter DO (0,43 0,64 mg/L). Tetapi secara keseluruhan kualitas ait

35

Sungai Tambangan memenuhi Klasifikasi Mutu Air Kelas 2 dari


Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001.
Sementara itu dari pemantauan secara visual, kualitas air kerja (pit
A, pit B D) serta badan perairan Sungai Tambangan dapat dikemukakan
tidak ada introduksi air kerja atau limbah kegiatan secara langsung ke
lingkungan perairan Sungai Tambangan, karena air kerja (air pit area dan
hasil pemompaan) dan aliran permukaan lainnya dari areal kerja (seperti
workshop, ROM area dan Stock yard) yang terlebih dahulu dialirkan menuju
setting pond. Perlakuan yang diterapkan bagi settling pond adalah
pengerukan jika daya tampung tidak lagi efektif. Sumber daya air tersebut di
bagian hilir layak dimanfaatkan untuk aktivitas mandi, cuci dan kakus
(MCK) masyarakat.
j.

Pengontrolan Terhadap Limbah Hidrokarbon (oli, minyak solar dan


aki bekas)
Limbah cair ini termasuk limbah bahan beracun dan berbahaya
(Limbah B3). Untuk menangani masalah in PT. Karbindo Abesyapradhi
menggunakan perangkap oli pada unit workshop, yang merupakan
penampung limbah atau ceceran minyak solar dan oli bekas yang dilengkapi
perangkap. Limbah tersebut dikumpulkan dengan menggunakan drum,
kemudian diserahkan kepada pihak yang memiliki izin pengumpulan limbah
B3.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

No. 85

tahun 1999, tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun, serta


memperhatikan

pula

keputusan

kepala

BAPEDAL

No.

Kep-

265/BAPEDAL/08/1996, tentang cara dan persyaratan penyimpanan dan

36

pengumpulan minyak bekas, maka implementasi yang diterapkan oleh PT.


Karbindo Abesyapradhi secara konsekuen adalah membangun sarana
penyimpanan sementara untuk oli bekas dengan luas mencapai 2.400 m2.
D. Pelaksanaan Kegiatan Lapangan
Kegiatan Praktek Lapangan Industri di PT. Karbindo Abesyapradhi, mulai
tanggal 5 Agustus sampai dengan 17 September 2011 selama 40 hari, dengan
jadwal harian jam 08.00-17.00 WIB kecuali hari Jumat
Kegiatan yang penulis lakukan selama praktek lapangan industri yaitu
mengamati secara langsung seluruh kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan
penambangan di PT. Karbindo Abesyapradhi. Kemudian mencari semua data dan
informasi yang diperlukan, baik itu dengan cara melakukan sendiri dilapangan
maupun diskusi langsung dengan Kepala Teknik Tambang, pembimbing lapangan,
pegawai kantor, pegawai lapangan dan pihak-pihak atau orang yang lebih
mengetahui.
Kegiatan yang telah diamati sebagai berikut:
1. Survey Topografi dan Pemetaan
a. Persiapan Kegiatan Survey
Kegiatan survey topografi dilakukan oleh kru survey sebanyak lima
orang atau paling sedikit tiga orang. Peralatan yang digunakan pada
pengukuran adalah sebagai berikut:
1) Theodolit merk Sokkia seri SET 3C
2) Prisma
3) Yalon

37

4) Unting-unting
5) Statif atau kaki segitiga
6) Meteran
7) Palu
8) Alat penyimpan data berupa memory card
9) Peralatan safety bagi kru survey

Alat ukur Theodolit merk Sokkia seri SET 3C produk buatan


Jepang yang mempunyai spesifikasi sebagai berikut:
ukuran

: 181x177x371 mm

massa

: 7,5 kg

jarak pandang maksimum

: 2200 m

suhu pengoperasian

: - 200C sampai 500C

kesalahan pembacaan sudut

: 130 setiap 1000 m

kecepatan pembacaan

: 5 detik

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini.

Sumber : Dokumentasi penulis

Gambar 5. Theodolite Sokkia SET 3C

38

Semua peralatan tersebut disimpan pada almari khusus di ruangan


kerja yang menangani masalah survey dan pemetaan. Sebagai alat
transportasi crew memakai kendaraan Mitsubishi L200 untuk menuju
lokasi-lokasi yang akan dilakukan pengukuran.
b. Pengukuran

Pengukuran

dilakukan

biasanya

setiap

hari.

Tujuan

dari

pengukuran adalah untuk mendapatkan data tentang jarak, beda tinggi


(elevasi), dan sudut (azimut). Data-data ini nantinya berguna untuk
menentukan hasil dari penambangan seperti jumlah cadangan yang
telah tertambang dan volume lapisan penutup yang telah terangkut,
untuk menentukan letak kontur dan untuk mengetahui kondisi terkini
dari daerah penambangan.
Hal pertama yang dilakukan dalam pengukuran adalah mencari
titik tetap, yang nantinya berguna untuk menentukan beda tinggi titiktitik yang telah diukur. Titik tetap ini telah ada sebelumnya, yang
merupakan perpanjangan pengukuran dari Desa Kamang dan titik ini
harus dimiliki minimal dua titik. Selain itu, penentuan titik ini juga
bisa menggunakan alat GPS (Global Position System) yang secara
otomatis dapat menentukan elevasi suatu titik tanpa perlu melakukan
pengambilan titik dengan pengukuran dari daerah yang telah
mempunyai titik tetap.
Selanjutnya alat ukur ditempatkan pada salah satu titik tetap lalu
dilakukan penyetelan untuk menstabilkan posisi alat ukur serta
39

pemasangan memory card, sedangkan crew lainnya akan berdiri pada


titik tetap satunya lagi dengan memegang prisma. Ketika keduanya
saling membidik, salah satu dari crew akan memberi aba-aba bahwa
titik

tersebut

telah

dapat

diukur.

Dengan

menekan

tombol

pengoperasian pada theodolit maka secara otomatis koordinat dan


ketinggian titik yang dibidik dapat diketahui. Kemudian memory card
dapat menyimpan data-data tersebut dengan pemberian nama atau
kode pada setiap titik-titik yang telah diukur terlebih dahulu.
Hal yang sama juga dilakukan untuk pengukuran titik berikutnya.
Titik-titik yang akan diukur tersebut adalah daerah yang mengalami
perubahan ketinggian akibat kegiatan penambangan seperti pit kerja
dan lokasi pembuangan material penutup. Berikut gambar kru survey
sedang melakukan pengukuran seperti pada gambar 6 berikut ini.

Sumber:Dokumentasi penulis

Gambar 6. Kegiatan Survey

40

c. Pengolahan data

Setelah pengukuran usai dilakukan di lapangan maka data-data


yang

berupa koordinat-koordinat titik diolah di kantor satu untuk

dibuatkan model pemetaannya. Caranya adalah dengan memasukan


memory card ke dalam wincome. Wincome adalah alat bantu
memindahkan data (transporder) ke dalam komputer. Data yang
dimasukkan melalui wincome ini masih dalam format SDR. Dengan
program tambahan pada komputer yaitu aplikasi surpac vision maka
data dalam format SDR ini dapat diubah ke dalam format TSP.
Selanjutnya, melalui aplikasi surpac vision seorang ahli survey
akan melakukan pengolahan data yang nantinya akan menghasilkan
peta kontur kemajuan tambang. Dengan peta kontur ini kita dapat
dengan mudah menentukan jarak ke lokasi tertentu, koordinat lokasi
tertentu, jumlah cadangan yang telah tertambang pada hari itu, volume
lapisan penutup yang telah terangkut, pertambahan tinggi lokasi
pembuangan material penutup dan beberapa data lainnya tentang
kemajuan tambang.
2. Persiapan Penambangan
Sebelum kegiatan penambangan batubara dilaksanakan, terlebih dahulu
dilakukan pengupasan tanah penutup (overburden), lapisan penutup yang bersifat
massive tidak memungkinkan atau sangat tidak efisien jika dikerjakan oleh alat
gali excavator. Maka dari itu perlu dilaksanakan kegiatan pemboran (drilling)
dan peledakan (blasting).

41

a. Kegiatan Pemboran (Drilling)


Pola pemboran untuk peledakan di PT. Karbindo Abesyapradhi
adalah pola zig zag persegi panjang (staggered pattern), dilakukan dengan
membuat lubang bor secara miring, dengan kemiringan berkisar antara 60o
sampai dengan 70o. Alasannya adalah pemboran secara miring dianggap
lebih menguntungkan dibandingkan pemboran secara vertikal dan alasan ini
juga didukung oleh bentuk perlapisan dari lapisan penutup.
1) Jadwal Pemboran
Pekerjaan pemboran dikerjakan oleh petugas pada waktu-waktu
berikut:
a) Pada pagi hari menjelang tengah hari, dimana kegiatan peledakan
pertama akan dilaksanakan pada jam istirahat siang.
b) Setelah jam istirahat siang menjelang sore hari, di mana kegiatan
peledakan akan dilaksanakan pada waktu pergantian shift siang
dengan shift malam.
Sedangkan pada shif malam tidak dilaksanakan kegiatan pemboran
dan peledakan, mengingat bahaya yang akan ditimbulkan. Jadi malam
hari terfokus pada pengangkutan material penutup yang telah diledakkan
pada siang hari.
2) Alat Bor yang Digunakan
Kondisi batuan dan kondisi lapangan kerja menjadi pertimbangan
utama dalam pemilihan alat bor. Faktor yang juga tidak boleh dilupakan
adalah kemampuan kerja alat dalam mencapai target produksi. Jenis alat

42

bor yang digunakan olen PT. Karbindo Abesyapradhi pada Tiang Satu
adalah:
a) Satu unit Tamrock CHA 660
Mempunyai panjang batang bor 3 meter dan penyambungan
dapat dilakukan dengan batang bor masing-masing sepanjang 3 meter.
Diameter lubang bor yang dihasilkan adalah 3,5 inchi, seperti gambar
7 berikut ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 7. Alat Bor Tamrock CHA 660


b) Dua Unit Pantera 1500
Memiliki mesin Caterpillar C-10 dengan panjang batang bor 6
meter dan penyambungan dapat dilakukan dengan batang bor masingmasing 3 meter, sedangkan diameter lubang yang dihasilkan adalah
5,5 inchi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti gambar 8 berikut
ini.

43

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 8. Alat Bor Pantera 1500


Kedua alat bor ini memiliki system rotary percuassive drill, air
flushing (tekanan udara kompresor). Dimana cutting pemboran di
angkat keatas permukaan oleh udara yang bertekanan. Kedua alat bor
ini dapat dioperasikan untuk pemboran secara horizontal, vertikan
maupun miring.
Mesin bor Pantera 1500 adalah tipe terbaru sehingga lebih
canggih dibandingkan mesin bor Tamrock CHA 660, Pantera 1500
memiliki sistem operasional digital dan memiliki handle yang multi
fungsi sehingga memudahkan operator dalam pengoperasiannya dan
kerja menjadi lebih cepat. Dibandingkan Tamrock CHA 660 yang
sistem pengendaliannya lebih banyak manual maka waktu yang
diperlukan untuk proses pemboran juga akan lama. Keunggulan lain
dari mesin bor Pantera 1500 yaitu memiliki unit pengisap cutting
yang bekerja dengan baik, sehingga tidak ada debu-debu pemboran
yang berterbangan di udara bebas. Cutting pemboran diisap oleh unit
pengisap cutting yang terdapat di samping batang bor. Cutting kasar

44

dikeluarkan oleh alat yang terdapat di samping rig. Sedangkan cutting


yang halus yang berpotensi menimbulkan banyak debu beterbangan,
dikeluarkan oleh alat yang terdapat di bagian belakang unit mesih bor.
3) Pelaksanaan Pemboran
Sebelum melaksanakan pemboran terlebih dahulu dilakukan
pembersihan atau penempatan lokasi pemboran agar alat yang beroperasi
dapat bekerja dengan maksimal.
a) Urutan pekerjaan pengeboran untuk peledakan di PT.

Karbindo

Abesyapradhi adalah sebagai berikut:


Foreman Drilling & Balsting menentukan lokasi yang akan dibor.
Foreman Drilling & Balsting memberikan arahan kepada operator
mesin bor mengenai bagian-bagian yang harus dibor, berapa jarak
spasi, burden serta kedalaman lubang bor (bore hole).
Buldozer membuatkan jalan yang akan ditempuh oleh mesin bor
untuk menuju lokasi pemboran.
Pengeboran mulai dilakukan sesuai dengan arahan dari Foreman
Drilling & Balsting.
Sementara

kegiatan

pengeboran

hampir

mencapai

jumlah

maksimal lubang bor yang telah ditetapkan, maka petugas


peledakan mulai mendatangi lokasi untuk melakukan pengisian
bahan peledak ke dalam lubang bor tersebut.
b) Kendala-kendala yang sering ditemui oleh operator mesin bor dalam
melakukan pekerjaannya adalah sebagai berikut:
Batang bor terjepit apabila menembus formasi batuan yang lunak
dan pecah. Keadaan seperti ini seringkali disebabkan oleh kegiatan

45

pembongkaran batuan hasil peledakan yang dilakukan sebelumnya


tidak maksimal.
Batang bor juga terjepit apabila menembus formasi batuan yang
mengandung sedikit air (lembab). Tetapi apabila kandungan air
formasi batuan tersebut banyak, maka pemboran akan tetap
berjalan normal seperti biasa.
Mesin bor sering tidak beroperasi akibat terlambat mendapat
instruksi dari Foreman. Hal ini sering disebabkan oleh tidak
adanya lokasi yang akan dibor.
c) Siklus dalam melaksanakan pemboran adalah:
Menempatkan dan menyiapkan posisi alat bor pada kondisi ratarata air untuk membor suatu titik.
Melakukan pemboran yang diawali dengan menghidupkan
kompresor agar cutting terangkat ke atas.
Menyambung batang bor apabila kegiatan pemboran melebihi
kedalaman 6 meter.
Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan maka dilakukan
pengangkatan batang bor dan batang bor kedua disimpan pada
tempat penyimpanan batang bor yaitu spindle yang terdapat pada
rig.
Mengangkat kaki alat bor (jack) sebelum bergerak ke lubang
berikutnya.
Dalam kegiatan pemboran sering kali burden, spacing dan kedalaman
lubang bor tidak sesuai antara rencana dengan yang dihasilkan secara
nyata karena operator hanya memperkirakan secara kasat mata.

46

b. Kegiatan Peledakan Lapisan Penutup (Overburden)


1) Prosedur Kegiatan Peledakan
Prosedur kegiatan peledakan secara garis besar adalah sebagai
berikut:
a) Pengambilan bahan peledak di gudang bahan peledak.
b) Pengadukan Ammunium Nitrat (AN) dengan Fuel Oil (FO) di Coxan
ANFO mixer.
c) Pengikatan dayagel dengan sumbu ledak, dan dimasukan kedalam
plastic linear untuk lebung berair.
d) Pengisian bahan peledak kedalam lubang ledak.
e) Pemadatan stemming.
f) Merangkai dan menyambung sumbu ledak pada masing-masing
lubang ledak.
g) Pemasangan detonator.
h) Pengamanan lokasi peledakan.
i) Peledakan.
j) Pengecekan hasil peledakan.
2) Gudang bahan peledak
Bahan-bahan peledak yang digunakan disimpan di tempat yang
aman, yang bebas dari api dan tempatnya tersendiri. Orang yang masuk
ketempat tersebut harus bebas dari hal-hal yang bisa membuat bahan
peledak meledak dan dijaga ketat oleh security selama 24 jam.
Sesuai dengan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi
Nomor 555.K/26/M.PE/1995 tanggal 22 Mei 1995 tentang Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum, Bab II tentang Bahan

47

Peledak

dan

Peledakan,

PT.

Karbindo

Abesyapradhi

telah

mengimplementasikan dengan baik.


a)

Gudang bahan peledak telah dilengkapi dengan:


(1) Tanda dilarang merokok dan tanda dilarang masuk bagi yang
tidak berkepentingan.
(2) Hanya satu jalan masuk.
(3) Alat pemadam api yang diletakkan di tempat yang mudah
dijangkau di luar bangunan gudang.

b)

Sekitar gudang bahan peledak dilengkapi dengan lampu penerangan,


dijaga selama 24 jam, dan memiliki rumah jaga untuk pengawasan.

c)

Sekeliling lokasi gudang dipasang pagar pengaman dan pintu yang


dapat dikunci.

d)

Untuk masuk hanya diperbolehkan menggunakan lampu senter


kedap gas.

e)

Dilarang memakai sepatu beralaskan besi.

f)

Gudang berbentuk kontainer.

g)

Memiliki ventilasi pada bagian atas dan bawah.


Gudang bahan peledak PT. Karbindo Abesyapradhi dapat kita

lihat seperti gambar 9 di bawah ini.

48

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 9.Gudang Bahan Peledak PT. Karbindo Abesyapradhi


3) Peralatan Peledakan
Peralatan peledakan adalah alat-alat yang dapat digunakan
berulang-ulang dalam proses peledakan atau lebih dari satu kali proses
peledakan. Adapun peralatan peledakan antara lain:
a) Kabel Utama (leading wire)
Kabel utama berfungsi untuk menghubungkan kedua ujung
detonator pada rangkaian peledakan ke blasting machine (BM) agar
para juru ledak dapat mencari posisi yang cukup aman saat
meledakan, dengan panjangnya minimal 300 meter. Seperti gambar
10 berikut ini.

49

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 10. Leading Wire


b) Stick/tongkat
Merupakan tongkat kayu yang berguna untuk mendorong handak
kedalam lubang ledak dengan panjang 6 meter, mengetahui keadaan
lubang berair atau tidak berair, mengetahui kedalaman lubang dan
untuk memadatkan stemming.
c) Blasting Machine (BM)
Suatu alat yang bekerja dengan menggunakan sumber tenaga dari
batrei untuk memberikan tenaga yang menghasilkan arus listrik yang
bervoltase besar untuk diteruskan ke firring circuit.
d) Blasting Ohm Machine (BOM)
Adalah Alat ukur tahanan kawat listrik untuk keperluan
peledakan dibuat khusus untuk pekerjaan peledakan dan tidak
disarankan digunakan untuk keperluan lain. Gambar Blasting Ohm
Meter (BOM) dan Blasting Machine (BM) dapat kita lihat seperti
gambar 11 berikut ini.

50

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 11. Blasting Ohm Meter (BOM) dan Blasting


Machine (BM)
e) Pisau
Berfungsi sebagai pemutus atau pemotong saat membuat
rangkaian peledakan. Standarnya bukanlah menggunakan pisau
melainkan tang (cramper) sebagai alat pemutus dan menjepit
sambungan sumbu api dengan detonator biasa.
f) Kendaraan transportasi
Kendaraan transportasi adalah kendaraan mobilisasi yang
dikhususkan untuk pengangkutan bahan peledak dari gudang bahan
peledak menuju lokasi peledakan dan untuk keperluan transportasi
para crew blasting, seperti pengambilan bahan peledak ke gudang dan
pengembalian sisa bahan peledak. Kendaraan transportasi yang
dimaksud adalah Mitsubishi Cold Diesel 100Ps. Seperti gambar 12
berikut ini.

51

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 12. Kendaraan Transportasi Crew Blasting


g) Serine
Serine merupakan alat untuk memberi peringatan pada semua
orang yang berada di lokasi peledakan dan sekitar lokasi peledakan,
bahwa kegiatan peledakan akan segera dilaksanakan, dan sebagai
perintah untuk meninggalkan atau mengosongkan lokasi peledakan.
h) Handy Talky (HT)
HT berfungsi untuk menginformasikan pada semua orang bahwa
kegiatan peledakan akan segera dimulai, serta untuk memberikan abaaba saat peledakan.
4) Perlengkapan peledakan
Perlengkapan peledakkan adalah semua fasilitas peledakan yang
hanya dapat digunakan satu kali, dengan kata lain fasilitas ini rusak
setelah dipakai.

Perlengkapan peledakkan PT. Karbindo Abesyapradhi antara lain:

52

a) Detonator (blasting capsule)


Detonator adalah alat pemicu awal yang menimbulkan inisiasi
dalam bentuk letupan (ledakan kecil) sebagai bentuk aksi yang
memberikan efek kejut terhadap bahan peleda peka detonator atau
primer.
Detenator listrik dikelompokkan pada detonator langsung
(instantaneous detonator) dan detonator tunda (delay detonator).
Jenis detonator yang dipakai di PT. Karbindo Abesyapradhi adalah
jenis detonator listrik langsung, yaitu detonator listrik yang tidak
memakai waktu tunda. Setiap kali peledakan dibutuhkan dua
detonator listrik, satu untuk peledakan dan yang lainnya sebagai
cadangan jika terjadi gagal ledak (misfire). Gambar detonator listrik
dapat dilihat seperti gambar 13 di bawah ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 13. Detonator Listrik

53

Untuk alasan keamanan detonator ditempatkan secara terpisah


dengan bahan peledak lain saat membawanya ke luar dari gudang
menuju lokasi peledakan. detonator dimasukan ke dalam tas dan
dipegang oleh security.
b) Sumbu ledak (detonating cord)
Sumbu ledak adalah sumbu yang pada bagian intinya terdapat
bahan peledak Penta Erythritol Tetra Nitrate (PETN) dibalut lapisan
plastik dan dibungkus dengan kombinasi tekstil, kawat, dan lapisan
plastik. PETN itu sendiri adalah salah satu jenis bahan peledak kuat
dengan kecepatan rambat sekitar 6.000 m/s sampai dengan 7.000
m/s, komposisi PETN pada sumbu ledak bevariasi dari 3,6 gr/m
sampai dengan 70 gr/m. Di lapangan sumbu ledak dikenal dengan
istilah detonating cord, detonating fuse, atau cordtex.
Sumbu ledak yang dipakai di PT. Karbindo Abesyapradhi adalah
sumbu ledak yang diproduksi oleh PT. Dahana dengan komposisi
PETN 10 gr/m. Dikemas dalam bentuk gulungan, satu gulungan 250
meter. Dalam kotak kemasan berisi 4 gulungan atau 1.000 meter.
Berikut gambar sumbu ledak (detonating cord) seperti gambar
14 berikut ini.

54

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 14. Sumbu Ledak (Detonating Cord)


c) Boster
Watergel adalah campuran oksidator, bahan bakar, dan pemeka
(sensitizer) di dalam media air yang dikentalkan memakai gums,
semacam perekat, sehingga campuran tersebut berbentuk jeli atau
pasta dan peka tehadap detonator.
Boster yang dipakai dalam kegiatan peledakan oleh PT.
Karbindo Abesyapradhi adalah yang diproduksi oleh

PT. Dahana

dengan nama produk dayagel. Dikemas di dalam kotak dengan


massa 20 kg. Setiap kotak berisi 110 biji. Massa satu biji 182
gram. Seperti gambar 15 berikut ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 15. Dayagel Produksi PT. Dahana

55

d) Delay Detonator
Delay Detonator adalah detonator yang dapat menunda sumber
energi beberapa saat, yaitu antara puluhan milisekon sampai sekon
atau detik, untuk meledakkan isian primer dan sekunder. Seperti
gambar 16 di berikut ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 16. Delay Detonator


Delay detonator yang dipakai PT. Karbindo Abesyapradhi
diproduksi oleh PT. Dahana dengan waktu tunda 17 ms, 25 ms, dan
65 ms. Delay detonator disambungkan pada sumbu ledak yang akan
menghubungkan antar baris lubang ledak dipermukaan (turnkline
delay) dari rangkaian peledakan.
e) ANFO
ANFO adalah singkatan dari Ammonium Nitrat (AN) sebagai zat
pengoksida dan Fuel Oil (FO) sebagai bahan bakar. Bahan bakar
yang biasa dipakai adalah solar karena solar memiliki sifat

56

sensitivitas dan tingkat homogenitas yang jika dicampurkan dengan


AN lebih mudah dicapai.
Ammonium Nitrat (ANFO) yang dipakai PT. Karbindo
Abesyapradhi untuk kegiatan peledakan adalah produksi dari PT.
Dahana yang dikemas ke dalam karung, setiap karung bermassa 25
kg.
f) Plastic linear
Plastic linear berfungsi untuk proteksi bahan peledak ANFO
ketika dimasukan ke dalam lubang ledak yang berair. Plastic linear
ini dikemas dalam bentuk gulungan, dalam penggunaannya dipotong
menyesuaikan kedalaman dari lubang ledak. Untuk lebih jelasnya
seperti gambar 17 di bawah ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 17. Plastic Linear

57

5) Pengadukan Bahan Peledak


Tempat pengadukan AN dengan FO terletak di bagian luar
gudang bahan peledak tepatnya disamping kanan belakang. Pengadukan
menggunakan molen atau Coxan ANFO mixer dengan proses sebagai
berikut.
a) Ammonium Nitrat (AN) yang telah diambil dari gudang bahan peledak
dibawa ke ketempat Coxan ANFO mixer.
b) Setelah mesin dihidupkan AN dengan massa 25 kg ini dimasukkan ke
dalam molen satu per satu. Satu orang pekerja sebagai operator molen
dan yang lain bekerja membuka ikatan karung dan memasukkan AN
ke dalam molen. Seiring dengan itu, ketika molen berputar secara
teratur maka pekerja lainnya menambahkan solar ke dalam putaran
molen tersebut dengan takaran yang telah ditentukan.
c) Takaran AN dan FO adalah 95,5 % AN : 4,5 % FO. Takaran ini
didasarkan dari perbandingan massa keduanya. Dengan kata lain,
setiap karung AN (25 kg) membutuhkan 1,5 kg solar atau setara denga
1,875 liter solar (density 0,8 gr/cc).
d) Setelah diaduk rata, ANFO dimasukkan ke dalam karung.
e) Dengan kendaraan pengangkut ANFO serta bahan peledak lainnya
dibawa ke lokasi peledakan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 18 berikut ini.

58

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 18. Pengadukan ANFO


6) Pengisian Bahan Peledak
Sistem peledakan adalah kombinasi antara sumbu api (cordiex)
dengan listrik, dalam rangkaian menggunakan delay 17 ms, 25 ms, 65 ms
untuk mengurangi getaran, sedangkan pola pemboran adalah pola zig zag
persegi panjang.
Cara pengisian bahan peledak:
a) Sebelum bahah peledak dimasukkan terlebih dahulu lubang ledak
diperiksa apakah berair atu tidak. Jika lubang ledak berair maka
diunakan plastic linear (kondom) yang telah disiapkan, yang
didalamnya sudah dimasukkan dayagel dalam keadaan terikat
bersama sumbu ledak. Untuk keadaan lubang ledak yang tidak berair
langsung masukkan dayagel yang telah terikat ke dalam lubang ledak
tanpa plastic linear.
b) Tuangkan ANFO sesuai dengan Powder Colom yang telah
direncanakan ke dalam lubang ledak. Untuk kondisi berair ANFO

59

dimasukkan kedalam plastic linear. Pengisian bahan peledak seperti


gambar 19 di bawah ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 19. Pengisian Bahan Peledak


c) Dilanjutkan dengan pengisian cutting untuk stemming, sebaiknya
stemming diisi dengan ukuran butiran yang halus, kemudian
dipadatkan dengan tongkat atau stick. Seperti gambar 20 di bawah ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 20. Pengisian Stemming dan Cutting

7) Metoda dan Rangkaian Peledakan

60

Metoda peledakan yang diterapkan di lapangan oleh PT.


Karbindo Abesyapradhi adalah metoda kombinasi antara sumbu ledak
dengan listrik. Rangkaian menggunakan delay detonator 17 ms, 25 ms
dan 65 ms untuk mengurangi getaran.
Pembuatan rangkaian dimulai dari ujung-ujung sumbu ledak
yang diikatkan ke sumbu ledak utama yang berada di permukaan
sehingga membentuk satu garis lurus, pengikatan dilakukan dengan
simpul biasa sebanyak dua kali secara rapi dan kuat. Kemudian
dihubungkan kembali dengan barisan lubang ledak lainnya.
Untuk

mengurangi

dampak

getaran

(ground

vibration)

digunakan delay detonator yang dipasangkan antar baris lubang ledak.


Untuk barisan lubang ledak yang berada dekat dengan bidang
bebas (free face), diikatkan detonator listrik pada salah satu ujung sumbu
ledak, lalu ujung kawat detonator disambungkan pada ujung kawat utama
(load wire). Sambungan dua kawat ini harus diletakkan di tempat yang
kering sebab jika di tempatkan pada lokasi basah rangkaian bisa tidak
meledak.
8) Pengecekan Tahanan
Sebelum dua ujung kawat lead wire dipasangkan pada dua kutub
blasting machine terlebih dahulu harus dicek tahanan lead wire. Tujuan
pengecekan tahanan ini adalah untuk memastikan rangkaian terpasang
dengan baik. Sedangkan untuk peledakan metoda listrik, dengan
mengetahui tahanan kita dapat menemukan voltage blasting machine
setelah arus dihitung.

61

Prosedur pengukuran tahanan ini dengan menggunakan Blasting


Ohm Machine (BOM) adalah:
a) Kedua ujung kawat utama dihubungkan pada sepasang terminal yang
tersedia pada BOM, kemudian dikencangkan.
b) BOM

dikontakkan,

dengan

menekan

tombol,

hingga

jarak

menunjukan angka tertentu, yaitu nilai tahanan. Apabila pada


pengukuran tahanan legwire jarum jam tidak bergerak berarti
detonator rusak dan sebaiknya detonator tersebut tidak dipakai, sebab
ada kemungkinan kawat pijar dalam fushead terputus.
c) Bila jarum bergerak, catat angkanya sebagai data hasil pengukuran
tahanan.
9) Pengamanan Lokasi Peledakan Sebelum Peledakan Dimulai
Sebelum melakukan blasting, pengawas peledakan harus
menginformasikan melalui sirine, HT, dan Mikropon kepada semua
orang yang berada dilokasi ataupun disekitar lokasi bahwa kegiatan
peledakan akan dilaksanakan. Termasuk memberitahu kepada seluruh
operator alat berat yang sedang beroperasi agar menghentikan
pekerjaannya dan secepatnya meninggalkan lokasi peledakan sampai
jarak 300 m.

10) Kegiatan Peledakan Dimulai

62

Setelah lokasi benar-benar aman, dengan menggunakan blasting


machine kegiatan peledakan sudah bisa dimulai. Prosedur penggunaan
blasting machine adalah sebagai berikut:
a) Hubungkan dua kawat (leading wire) dari rangkaian peledakan ke
masing-masing kutub listrik yang ada pada blasting machine.
b) Ikat kuat pada masing-masing kutub dengan memutar sekrupnya.
c) Isi kapasitor dengan memutar tombol indikator kearah yang telah di
instruksikan pada blasting machine dan tunggu beberap detik.
d) Untuk meledakan putar kembali tombol indikator ke arah yang
berlawanan.
11) Selesai Peledakan
Setelah peledakan selesai, maka juru ledak dan satpam harus
melakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap hasil ledakan untuk
memastikan bahwa keadaan aman dari kemungkinan adanya misfire. Jika
terjadi misfire dilakukan peledakan ulang, sampai dipastikan tidak ada
lagi misfire. Setelah dipastikan aman, seluruh alat diperbolehkan
beroperasi kembali.
Ada dua cara penanganan misfire, yaitu:
a) Diledakan saat itu juga, dengan memperbaiki rangkaian dan
menggunakan delay detonator cadangan yang biasanya sudah
dilebihkan pengambilannya pada setiap kegiatan peledakan untuk
mengatasi terjadinya misfire.
b) Lubang yang mengalami misfire tersebut diberi tanda untuk keamanan
bagi karyawan yang akan bekerja dilokasi tersebut, kemudian lubang

63

akan dirangkaikan kembali dengan rangkaian peledakan yang baru


saat melakukan kegiatan peledakan berikutnya. Ini disebabkan karena
lubang ledak telah tertimbun oleh hancuran material penutup dan
menunggu material tersebut untuk dimuat. Lubang yang mengalami
gagal ledak ini mendapat perlakuan khusus, yaitu diletakkan pada
rangkaian terakhir. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi jika terjadi
premature blasting.

c. Pemuatan dan Pengangkutan Overburden


Setelah pekerjaan peledakan (blasting) selesai, maka kegiatan
pembongkaran overburden bisa dilakukan. Adapun urutan proses pekerjaan
pembongkaran overburden tersebut adalah sebagai berikut:
1) Batuan yang telah diledakkan sebelumnya dibongkar dengan ripper yang
ada pada bagian belakang buldozer.
2) Blade

buldozer

mengumpulkan

batuan-batuan

tadi

sambil

mempersiapkan jalan yang akan ditempuh oleh excavator dan dump truk
atau euclid untuk mengambil material tersebut.
3) Setelah jalan selesai dibuatkan oleh buldozer, maka excavator dapat
mulai bekerja mengambil batuan dan memasukkannya ke- dalam bak
dump truck dan euclid. Euclid adalah jenis dump truck berukuran besar,
dengan kapasitas bak 22 BCM. Oleh sebab itu pengisian bak euclid
dilakukan oleh excavator dengan kapasitas bucket yang lebih besar pula.
Seperti, Komatsu PC 1200 (3,1 m3). Sedangkan jenis dump truck lain
yang digunakan adalah Mitsubishi 220 PS, dengan kapasitas bak 6 BCM.
Pengisian bak dump truck ini menggunakan excavator Kobellco (1,7 m3).

64

4) Dump truck dan euclid mengangkut batuan tadi ke tempat pembuangan


(waste dump). Di mana, demi menunjang kinerja masing-masing jenis
alat angkut, maka lokasi waste dump untuk dump truck berbeda dengan
waste dump untuk euclid. Dan pekerjaan ini dilakukan secara terusmenerus hingga pergantian shift berikutnya.
5) Selama dump truck melewati jalan tambang, debu-debu sangat banyak
berterbangan. Maka Foreman memerintahkan mobil water tank untuk
menyirami jalan tersebut. Dan penyiraman ini dilakukan secara berkala
tergantung kondisi di lapangan.
6) Di samping banyaknya debu yang berterbangan, material-material yang
terbawa oleh bak dump truck maupun euclid berupa batu dan air
seringkali berjatuhan di jalan tambang. Hal ini tentu saja sangat
berbahaya, berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan mengganggu
kinerja dump truck maupun euclid. Oleh sebab itu motor grader bekerja
membersihkan jalan dari jatuhan batu-batuan tesebut.
Berikut gambaran pemuatan overburden oleh euclid seperti gambar
21 dan 22 berikut ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 21. Pemuatan Overburden

65

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 22. Euclid sebagai Alat Angkut Overburden


3. Kegiatan Penambangan
a. Stabilitas Lereng
Secara umum untuk lereng ditambang PT. Karbindo Abesyapradhi
hanya terdiri dari satu jenjang (singel bench) terutama pada Pit
penambangan, yaitu Pit A sampai dengan Pit B.
1) Pit Area

Rata-rata sudut bench baik single bench maupun multi bench


pada Pit area bagian utara berkisar antara 55o sampai dengan 65o,
tinggi bench berkisar dari 10 meter sampai 50 meter, lebar jalan
kerja berkisar antara 20 meter sampai dengan 40 meter. Faktor
lereng masih stabil pada sudut yang demikian karena memotong
kemiringan lapisan batuan original.
66

Sudut lereng baik single bench atau multi bench Pit area
bagian selatan berkisar antara 30o sampai dengan 45o (overall 30o),
lebar bench 15 meter, tinggi bench dari 10 meter sampai dengan
20 meter, lebar jalan kerja 40 meter. Sudut lereng juga tetap stabil,
karena merupakan floor dari lapisan batubara. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada gambar 23 di berikut ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 23. Single Bench yang Membentang dari Pit A sampai


Pit E di PT. Karbindo Abesyapradhi

2) Waste Dump Overburden Area


Secara rata-rata, sudut bench yang diterapkan pada waste dump
overburden berkisar antara 450 sampai dengan 70o (overall 60o),
tinggi bench berkisar dari 10 meter sampai dengan 12 meter dan
lebar jalan kerja atau lebar berm berkisar antara 10 meter sampai
dengan 20 meter.
Tinggi letak waste dump overburden B Utara dan D Utara masingmasing berkisar antara 152 meter sampai dengan 178 meter dan antara
186 meter sampai dengan 208 meter dari muka laut. Untuk waste dump

67

overburden B, C, D dan E selatan masih berkisar antara 160 meter


sampai dengan 225 meter. Gambar waste dump overburden dapat dilihat
pada gambar 24 berikut ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 24. Waste dump overburden


b. Penambangan batubara
Penambangan batubara di PT. Karbindo Abesyapardhi dilakukan
secara selektif (selectif mining), pemisahan secara langsung dilapangan (pit
area) sesuai posisi lapisan yaitu roof, middle, dah floor. Biasanya, batu bara
yang termasuk Low Calory Value (LCV) berada dibawah floor.
1) Pengambilan batubara (coal getting)
Proses penggalian batubara terbagi dalam dua tahapan, yaitu:
a) Cleaning batubara, yaitu proses pemisahan batuan-batuan pengotor
yang menempel pada permukaan lapisan batubara. Ini dilakukan
langsung oleh excavator atau menugaskan (coal picker) pada lokasi

68

pengambilan batubara di dalam areal tambang untuk melakukan


hand sorting, agar faktor kehilangan (looses) batubara dapat
diperkecil dan material lain penyerta batubara dapat dipisahkan.
b) Pengambilan batubara (coal getting) dilakukan dengan menggunakan
Hidraulic Excavator Kobellco SK200.
c) Pemuatan dan pengangkutan batubara
Di PT. Karbindo abesyapradhi, proses pemuatan batubara dilakukan
dengan menggunakan Hidraulic Excavator Kobellco SK200,
sedangkan alat angkut yang digunakan mengangkut untuk batubara
adalah dump truck Mitsubishi HD 220 PS dengan kapasitas pengisian
bak munjung adalah 25 MT. batubara tersebut diangkut dan
ditumpukan di Run Of Mine (ROM) yang berada dekat dengan
crushing plant. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti gambar 25
di bawah ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 25. Proses Pemuatan Batubara


2) Penumpukan Batubara di ROM area
Sebelum diproses batubara yang telah diangkut dari tambang
akan ditumpukan sementara pada ROM area yang luasnya 5,9190 ha.

69

Penumpukan batubara ini berdasarkan atas lapisan batubara yang diambil


saat penambangan yaitu roof, middle, dan floor yang ditumpuk per 500
ton, ini bertujuan untuk memudahkan dalam identifikasi kualitas batubara
yang dilakukan oleh PT. Sucofindo, sebagai acuan dalam melakukan
pemeriksaan kualitas batubara (channel sampling). Setiap batubara yang
datang dari tambang akan diambil sampel oleh salah satu karyawan PT.
Sucofindo untuk di uji proksimat di laboratorium.
Penumpukan batubata di ROM area seperti gambar 26 di bawah
ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 26. Penumpukan Batubara di ROM Area


3) Pengolahan Batubara
Berikut urutan proses pengolahan batubara:
a) Batubara dari lokasi penambangan dipisahkan sesuai dengan
kualitasnya.
b) Batubara yang telah dipisahkan tadi dibawa oleh dump truck ke
hopper. Dimana penempatannya disesuaikan dengan kualitas masingmasing jenis batubara.

70

c) Batubara di analisis oleh karyawan bagian quality control.


d) Batubara dimasukkan ke crusher sesuai dengan spesifikasi pasar,
dengan blending (pencampuran) maupun tanpa blending.
e) Final produc dihasilkan dan siap dipasarkan kepada konsumen.
Tempat pengolahan batubara di PT. Karbindo Abesyapradhi
disebut dengan Crushing Plant Production (CPP). Double roll yang ada
pada crushing plant mereduksi bongkahan batubara menjadi lebih kecil
yaitu ukuran 50 mm.
4. Pemasaran
a. Sistem dan Tata Cara Pengangkutan
Pengangkutan produk batubara dilakukan menggunakan truck (baik
dump truck biasa maupun tronton), dengan sistem dana tata cara sebagai
berikut:
1) Pemuatan batubara menggunakan wheel loader atau excavator di
stockpile.
2) Pemasangan terpal pada truk (oleh pekerja) serta penyegelan yang
dilakukan oleh PT. Sucofindo. Penyegelan ini bertujuan untuk
menghindari kecurangan atau penggelapan batubara saat pengiriman.
3) Pemberangkatan truk
b. Tujuan Pengangkutan
Tujuan pengangkutan produk batubara adalah pelabuhan Teluk
Bayur Padang dengan jarak tempuh 190 km dari lokasi tambang. Batubara
tersebut ditimbun pada lokasi penimbunan produk batubara (stockpile) juga
berada di areal pelabuhan Teluk Bayur Padang, yang menempati lahan seluas
1,027 ha.

71

c. Sistem Penjualan
Penjualan produk batubara PT. Karbindo Abesyapradhi dilakukan
dengan menerapkan sistem FOB (Free On Board) atau penjualan dengan
harga setelah di atas kapal.
d. Jenis dan Jumlah Produk
Produk yang akan dijual oleh PT. Karbindo Abesyapradhi adalah
batubara dengan spesifikasi sebagai berikut:
Nilai kalori

: 6300 6500 Kcal/kg

Total Sulfur

: 2,00 3,30 %

Total Moisture

: 14 17 %

Sizing

: 1 mm 50 mm

e. Tujuan Pemasaran
Sesuai dengan pasar, tujuan penjualan produk batubara PT.
Karbindo Abesyapradhi adalah luar negeri (ekspor) India, Pakistan, dan
Thailand.
5. Kegiatan dan Peralatan Penunjang Penambangan
a. Pembuatan Drainase dan Penanganan Genangan Air
Disepanjang front kerja penambangan ditemukan genangangenangan air. Bahkan genangan air tersebut telah mencapai kedalaman 25
meter. Hal ini disebabkan oleh kapasitas pompa yang digunakan belum
memadai. Untuk mengatasi hal tersebut, maka PT. Karbindo Abesyapradhi
melakukan penambahan pompa dengan sistem sewa (rental). Pihak penyedia
pompa langsung mengantarkan pompa ke lokasi kerja dan melakukan

72

perawatan terhadap pompa tersebut. Sehingga tugas karyawan PT. Karbindo


Abesyapradhi hanyalah melakukan penjagaan dan mengontrol kondisi pompa
pada saat-saat diperlukan. Apabila ditemui masalah dengan pompa tersebut,
maka pihak penyedia jasa langsung datang ke lapangan untuk melakukan
perbaikan. Dari hasil laporan triwulan PT. Karbindo Abesyapradhi, dengan
melakukan sistem rental ini, PT. Karbind Abesyapradhi bisa melakukan
penghematan biaya investasi. Disamping melakukan penambahan pompa,
perusahaan juga telah mendatangkan tenaga ahli untuk mencari solusi
penanganan masalah genangan air tersebut.
Langkah awal yang dilakukan untuk mengurangi dampak genangan
air pada pit kerja terhadap kelangsungan pekerjaan adalah dengan
mengarahkan atau mengkonsentrasikan aliran air pada daerah yang lebih
rendah dengan kata lain membuat kolam-kolam mini kemudian dialirkan ke
kolam yang lebih besar. Air yang tergenang pada kolam besar ini, baik itu
yang berasal dari kolam-kolam mini, air tanah maupun yang berasal dari air
hujan terlebih dahulu dialirkan ke settling pond melalui saluran pipa yang
dihubungkan denga pompa air, kemudian baru dialirkan menuju parit-parit
alam atau anak Sungai Tambangan.
b. Pembuatan Tanggul Pengaman (safety berm)
Pembuatan tanggul pengaman ini dilakukan hampir setiap hari.
Karena kegiatan penambangan yang lancar akan mengakibatkan perubahan
posisi jalan ataupun areal yang akan ditambang. Tanggul pengaman ini
berfungsi untuk mengurangi kecelakaan tambang pada saat alat-alat
penambangan beroperasi. Ketinggian dari pada tanggul pengaman ini
berkisar 1,3 meter.

73

c. Pengikisan Lumpur dan Perataan Jalan Tambang


Kegiatan penambangan akan terhenti akibat hujan yang turun dan
membuat jalan-jalan pada areal penambangan yang hanya lapisan tanah akan
becek dan berlumpur serta licin yang akhirnya bisa menyebabkan
kecelakaan. Jalan pada areal penambangan juga akan bergelombang dan
rusak akibat dari berat kendaraan dan alat-alat penambangan yang lalu lalang
pada saat beroperasi.
Kegiatan pemeliharaan jalan dapat dilihat pada gambar 27 berikut
ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 27. Kegiatan Pemeliharaan Jalan


d. Preparasi Front Kerja
Preparasi ini dikerjakan dengan Bulldozer CAT D9R, peranan
Bulldozer sebagai berikut:
1) Merapikan Front kerja.
2) Membuat jalan untuk alat loading (excavator).
3) Membuat jalan untuk hauling (dump truck atau Terex TR60).

74

4) Membantu excavator dalam mengumpulkan material untuk dimuat ke


dalam bak dump truck.
5) Membajak

material

yang

akan

digali

oleh

excavator

dengan

menggunakan ripper yang ada pada bagian belakan bulldozer.


Bulldozer CAT D9R sedang merapikan fron kerja terlihat pada
gambar 28 berikut ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 28. Bulldozer CAT D9R Sedang Merapikan Fron


Kerja
e. Penyiraman Debu Jalan dan Debu pada Lokasi Kerja
Lokasi penambangan yang hanya berlapis tanah dan kalau hari panas
akan menghasilkan debu dan pertikel-partikel berbahaya dan dapat
mengakibatkan berkurangnya jarak pandang operator alat-alat berat dan
penyakit pada orang-orang yang bekerja pada lokasi terbuka.

75

Dalam hal ini truck yang berisi air memiliki peranan penting dengan
meyirami lokasi atau areal penambangan dan pada jalan-jalan tambang agar
debu jalan tidak mengganggu aktifitas pekerja.
Kegiatan penyiraman jalan terlihat seperti gambar 29 berikut ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 29.Penyiraman Jalan


f.

Penyiapan Alat Penerang untuk Perkerja pada Shift Malam


Pada malam hari kegiatan penambangan tetap berjalan, keadaan
yang gelap pada malam hari tidak cukup hanya diterangi oleh lampu alat
yang beroperasi, tetapi juga diperlukan lampu tambang (tower lamp) yang
dihidupkan dengan menggunakan mesin diesel sebagai generator listriknya.
Seperti gambar 30 di bawah ini.

76

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 30. Tower Lamp sebagai Penerang pada Shift Malam


g. Kegiatan Perbaikan Alat Keliling
Selain workshop atau bengkel utama yang berada pada lokasi
penambangan, adapula bengkel keliling yang berupa truck yang disebut
dengan maintenance truck. Bengkel keliling ini berguna untuk memperbaiki
kerusakan-kerusakan kecil yang dialami oleh alat-alat berat yang beroperasi
juga sebagai pengisian bahan bakar. Maintenance truck seperti gambar 31 di
bawah ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 31. Maintenance Truck

77

h. Rumah Genset
Rumah genset sebagai memasok alau kebutuhan listrik di komplek
perusahaan dan untuk workshop, kantor, serta rumah timbangan jika lisltrik
dari PLN terputus. Genset menghasilkan voltase 380 400 V. Rumah genset
seperti gambar 32 berikut ini.

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 32. Rumah Genset


i.

Bengkel (Workshop)
Workshop merupakan tempat perawatan dan perbaikan terhadap
mesin-mesin dan peralatan tambang. Di PT. Karbindo Abesyapradhi terdapat
dua workshop, workshop satu untuk perbaikan dan perawatan alat-alat berat
seperti excavator, motor grader, truck dan lain-lain. Sedangkan workshop
dua di fungsikan khusus untuk perbaikan dan perawatan dump truck, Terek
TR60 dan Euclid. Seperti gambar 33 di bawah ini.

78

Sumber: Dokumentasi penulis

Gambar 33. Workshop


E. Temuan Menarik
Dari hasil pengamatan di lapangan, penulis menemukan temuan menarik
sebagai berikut:
1. Seringnya pada unit-unit alat berat yang sudah direncanakan beroperasi tidak
terlaksana dengan baik.
2.

Seringnya terjadi antrian dump truck pada saat pemuatan dan pengangkutan
tanah penutup.

3. Adakalanya dalam peledakan tidak memiliki bidang bebas berupa jenjangjenjang. Ini dapat menyebabkan energi peledakan melemah kerena teredam oleh
batuan sampingnya.
4. Penggunaan alat safety di lapangan kurang teraplikasi dengan baik, ini dibuktikan
khususnya pada crew blasting tidak menggunakan, masker, sarung tangan, tidak
adanya rumah tempat berlindung juru ledak (shelter), dan alat tutup telinga
(Earplug).

79

5. Dalam kegiatan penambangan PT. Karbindo Abesyapradhi banyak terlihat


batubara Pulau Hitam yang terbuang sia-sia dan dibiarkan begitu saja di ROM
area sehingga tercampur dengan pengotor.
6. Kurang terencananya sistem drainase yang baik pada ROM area maupun
stockpile product sehingga air banyak tergenang pada area tersebut, ini berakibat
kadar air pada batubara menjadi meningkat dan kualitas batubara menjadi kurang
baik.
7. Tidak berjalannya selektif

mining dengan baik karena banyaknya pengotor

(parting) disetiap perlapisan batubara sehingga batubara yang terambil


bercampur dengan parting-parting tersebut ini menyebabkan kualitas batubara
menjadi menurun.
Dari beberapa temuan menarik yang penulis amati di lapangan, maka
penulis tertarik untuk membahas masalah pengontrolan kualitas batubara (coal
quality control) dengan judul Quality Control Sebagai Upaya Menjaga Kualitas
Batubara Pada Penambangan Batubara PT. Karbindo Abesyapradhi.

80

BAB III
STUDI KASUS
A. Perumusan Masalah
Penambangan batubara di PT. Karbindo Abesyapradhi dilakukan
dengan tambang terbuka dengan metode open pit, penambangan dibagi
menjadi lima pit, pit A, pit B, pit C, pit D, pit E. setiap pit memiliki kualitas
batubara yang bervariasi. Batubara pada masing-masing pit terdiri atas tiga
tipe, yaitu roof, middle, dan floor. Roof dan middle adalah batubara high
calory. Sedangkan floor adalah batubara low calory, batubara high calory
disini adalah batubara yang memiliki nilai kalori 6.000 kcal/kg, selain itu
terdapat batubara low calory yang nilai kalori < 6.000 kcal/kg.
Dalam setiap penambangan batubara, banyak hal-hal yang dapat
menurunkan kualitas batubara, diantaranya pada saat penambangan batubara
tersebut maka perlu adanya pengendalian mutu dari batubara itu sendiri
(Quality Control).
Quality Control merupakan serangkaian kegiatan pengendalian mutu
atau penjagaan kualitas batubara mulai dari pit area (channel sampling),
pengambilan batubara (coal getting) di pit, penumpukan batubara dari Pit ke
ROM area, hingga tahap pengolahan batubara menjadi product murni
(processing).
Banyak hal yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas batubara
diantaranya pada saat penambangan batubara (coal getting) tercampurnya
81

batubara dengan batuan pengotor (parting), yang disebabkan karena tidak


optimalnya selective mining.
Untuk itu dalam melakukan berbagai pengontrolan tersebut banyak hal
yang harus diperhatikan agar mutu dari batubara tersebut tetap terjaga, baik
dari banyak zat pengotor yang tercampur dengan batubara sampai proses dari
pengankutan dan penumpukan batubara itu sendiri.
Berkaitan dengan hal diatas, maka penulis dalam hal ini melakukan
penelitian tentang Quality Control Sebagai Upaya Menjaga Kualitas
Batubara Pada Penambangan Batubara di PT.Karbindo Abesyapradhi.
B. Batasan Masalah
Dalam bab studi kasus ini permasalahan yang akan dibahas adalah
sebagai berikut :
1. Masalah perubahan kualitas batubara dari pit (channel sampling) ke ROM
area, sampai pada tahap pengolahan menjadi product murni (processing)
2. Langkah-langkah penanggulangan perubahan kualitas agar kualitas
batubara tersebut terjaga.
C. Landasan Teori
1. Proses Terbentuknya Batubara
Kualitas batubara yang bervariasi tidak terlepas dari terbentuknya
batubara itu sendiri, ada 2 (dua) teori mengenai proses terbentuknya
batubara seperti dibawah ini :

82

a. Teori Insitu
Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara,
terbentuknya ditempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu berada.
Dengan demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati, belum
mengalami proses transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan
mengalami coalification. Lapisan sedimen ini merupakan pengotor
batubara (impurietis) yang menyebabkan kualitas batubara bervariasi
satu sama lain per perlapisannya.
b. Teori Drift
Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara
terjadinya ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula
hidup dan berkembang. Dengan demikian tumbuhan yang telah mati di
angkut oleh media air dan berakumulasi disuatu tempat, tertutup oleh
batuan sedimen yang yang mengalami proses coalification. Proses ini
yang menyebabkan batubara terdiri dari beberapa lapisan sehingga
membuat batubara menjadi berbeda kualitasnya antara perlapisan
batubara itu sendiri.
2. Quality Control
Quality Control merupakan serangkaian kegiatan untuk menjaga
kualitas batubara serta pengendalian mutu dari batubara tersebut kegiatan
ini dimulai dari pengambilan sample batubara di pit (channel sampling),
penambangan batubara (coal getting), pengangkutan dan penumpukan

83

batubara di ROM area, hingga tahap pengolahan batubara menjadi product


murni (processing).
3. Profil Batubara Di PT. Karbindo Abesyapradhi

Sumber: Dokumentasi penulis


Gambar 34. Gambaran Umum Profil Batubara Di kawasan
PT.Karbindo Abesyapradhi
Dari keterangan gambar diatas bahwa PT. Karbindo Abesyapradhi
memiliki variasi kualitas batubara. Kualitas batubara dibedakan menurut
tempat pengambilannya masing-masing. Batubara pada masing-masing
Pit terdiri atas tiga tipe, yaitu roof, middle dan floor. Roof dan middle
adalah batubara high calory sedangkan floor adalah batubara low calory.
Batubara high calory disini adalah batubara yang memiliki nilai kalori
84

6000 Kcal/kg, sedangkan batubara low calory adalah batubara yang


memiliki nilai kalori <6.000 Kcal/kg. Dan setiap perlapisannya dibatasi
oleh parting, yaitu batuan pengotor batubara yang kebalannya juga
bervariasi antara perlapisannya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh
gambar diatas. Pada pit D ini bahwa N 31 E 310 setelah diukur dengan
kompas geologi dilapangan.
4. Tahapan yang ada pada Quality Control
a. Pada Pit Area
1. Pengambilan Sample Pada Pit Area (Channel Sampling)
Pengambilan sample (channel sampling) dilakukan untuk
mengetahui kualitas dari batubara yang sesungguhnya di pit,
sebelum dilakukan pengambilan batubara secara keseluruhan.
Sehingga didapat data analisis tentang kualitas batubara tersebut.
2. Pengambilan Batubara (Coal Getting)
Pengambilan batubara merupakan serangkaian kegiatan
untuk mengambil batubara yang ada di pit, Pada pengambilan
batubara banyak hal yang mempengaruhi kualitas batubara tersebut
dimana banyaknya zat pengotor terbawa pada pengambilan
batubara di pit area dengan excavator seperti batu-batu (parting),
batuan yang mirip dengan batubara (black sil), tanah (clay), kayu
dan lain-lain. ini dapat mengakibatkan kadar abu semakin tinggi
sehingga kalori dari batubara tersebut akan berkurang. Untuk

85

pengambilan batubara dari pit area haruslah mempunyai trik


tertentu (selektif mining) sehingga parting tidak terbawa sekecil
mungkin. Pada saat ini PT. Karbindo Abesyapradhi pengambilan
batubara dimulai dari lapisan yang paling atas (roof).
3. Pengangkutan Batubara
Pengangkutan batubara dilakukan untuk membawa batubara
dari pit ke ROM area tempat penumpukan batubara, disini
penumpukan batubara harus dengan lokasi dan kualitas yang sama
sehingga tidak tercampur dengan kualitas yang lain.
b. Pada ROM Area
1) Penumpukan Batubara
Pada PT. Karbindo Abesyapradhi penumpukan batubara di
ROM area dilakukan per 500 ton untuk lokasi dengan kualitas
yang sama, missal batubara middle D1 ditumpuk per 500 ton, ini
dilakukan untuk mempermudah pengambilan sample nantinya di
ROM area.
2) Pengambilan Sample
Pada PT. Karbindo Abesyapradhi pengambilan sample di
ROM area dilakukan per 500 ton untuk batubara dengan kualitas
yang sama, nanti diketahui hasil analisis kualitas batubara tersebut
setelah berada di ROM.

86

3) Pengendalian Mutu Batubara di ROM area


Saat ini banyak hal yang yang dapat menyebabkan turunnya
kualitas batubara khususnya di ROM area. Seperti, adanya
genangan air sehingga disekitar tumpukan batubara banyak
lumpur-lumpur yang nantinya dapat menempel pada batubara.
Kemudian adanya debu-debu karena aktivitas kerja disekitar
ROM, ini dapat nantinya megurangi kualitas dari batubara
tersebut.
c. Pada Pengolahan Menjadi Product Murni (Processing)
1) Pengolahan Batubara
Pengolahan batubara pada PT. Karbindo Abesyapradhi
memakai satu unit alat pengolahan crushing plant, dimana pada
prosesnya crushing plant ini dapat mereduksi bongkahan batubara
menjadi ukuran 50 mm.
Jika

diperlukan

proses

pengolahan

juga

dilakukan

pencampuran batubara (coal blending) antara dua kualitas yang


berbeda yaitu batubara yang high calory dengan batubara yang
low calory, dengan tujuan agar batubara yang memiliki calory
rendah nantinya dapat dipasarkan dengan tetap menjaga kualitas
hasil blending sesuai dengan permintaan pasar.

87

2) Pengambilan Sample
Pengambilan sample pada product area dilakukan per 100
ton, ini bertujuan agar dapat mengetahui kualitas batubara setelah
diproses dan parameter yang dianalisis sama dengan analisis pada
pengambilan sample ROM area.
3) Penumpukan Batubara
Pada product area, tempat penumpukan batubara yang telah
di crushing dinamakan stockpile product, disini nantinya juga
akan dilakukan pengontrolan batubara, seperti adanya genangan
air disekitar product, debu, dan lain-lain.
4. Parameter analisis Secara Umum (Proximate Analysis) yang Terdapat
pada Batubara
Dalam menjaga kualitas batubara ada beberapa parameter
proximate yang terdapat dalam batubara yang harus diketahui (Indra Lubis
: 2008) adalah :
a. Kandungan Air (Moisture)
Terdapat dua bentuk kandungan air ( Moisture) yaitu :
1) Kandungan Air Total (Total Moisture)
Total Moisture adalah kandungan air secara total yang
terdapat dalam batubara, yang merupakan penggabungan dari nilai
free moisture, residual moisture dan inanalisis sample, kandungan
air total sangat dipengaruhi ukuran butir dan iklim daerah sekitar,
88

yang dinyatakan dalam % komersial. Total Moisture sering


dijadikan parameter penentu berat akhir atau bahkan sebagai
batasan rejection.
2) Kandungan Air Bawaan (Inherent Moisture)
Merupakan kandungan air yang ada pada batubara bersama
saat terbentuknya batubara tersebut, yang terikat secara kimia dalam
batubara, kandungan air bawaan berhubungan erat dengan nilai
kalori, umumnya bila kandungan air bawaab berkurang maka nilai
kalori akan bagus demikian juga sebaliknya, yang dinyatakan dalam
%.
b. Kandungan Abu (Ash Content)
Merupakan sisa-sisa zat anorganik yang terkandung dalam
batubara setelah dibakar, kandungan abu tersebut dapat dihasilkan dari
pengotor bawaan dalam proses pembentukan batubara maupun proses
penambangan.
Abu dalam batubara merupakan material yang tidak ikut
terbakar pada saat pembakaran batubara, kandungan abu berpengaruh
pada nilai kalori dimana semakin besar kandungan abu membuat nilai
kalori semakin rendah.
Pada dasarnya abu ini dapat dihasilkan dari pengotor bawaan
maupun pengotor sebagai hasil penambangan oleh karena itu komposisi
abu dapat diketahui dengan baik untuk kemungkinan pemanfaatannya
89

sebagai bahan bangunan atau keramik dan penanggulangannya terhadap


masalah lingkungan.
c. Kandungan Sulfhur (Total Sulphur)
Di dalam batubara, sulphur bisa berupa material carbonaceous
merupakan bagian dari material, seperti sulfat pada saat pembakaran
batubara kandungan sulphur yang berupa sulphur oksida akan berubah
menjadi fase gas, dimana sebagian besar akan membentuk belerang
dioksida (SO2) dan sebagian kecil 1 % sampai 2 % akan membentuk
belerang trioksida (SO3).
Gas CO2 yang terbentuk ini merupakan polutan yang serius
pada pembakaran di ketel, bagian ujung belakang ketel tersebut gas-gas
hasil pembakaran akan didinginkan, dalam keadaan seperti ini belerang
kemungkinan akan bereaksi dengan uap air akan membentuk asam
sulfat dan mengembun. Asam Sulfat yang sudah mengembun ini akan
mengakibatkan polusi udara dan akan memberikan kontribusi atas
terjadinya hujan asam.
Nilai sulphur digunakan untuk mengetahui kandungan total
belerang yang terdapat pada batubara dengan membakar sampel
batubara pada suhu yang tinggi, yang dinyatakan dalam %. Sulphur
merupakan zat pencemar, maka adanya sulphur yang tinggi sangat tidak
dikehendaki.

90

d. Zat Terbang (Volatile Matter)


Merupakan zat aktif yang terdapat pada batubara yang
menghasilkan energy atau panas apabila batubara tersebut dibakar, Zat
terbang tersebut terdiri dari gas-gas yang mudah terbakar seperti
Hidrogen (H), Karbon Monoksida (CO), dan Methan (CH4) zat terbang
juga dapat berfungsi sebagai ukuran dalam menentukan peringkat
batubara.
Pengaruhnya dalam preparasi batubara adalah jika kandungan
zat terbang tinggi (> 24%) maka batubara akan mudah terbakar, zat
tersebut terdiri dari gs-gas yang mudah terbakar seperti Hidrogen (H),
Karbon Monoksida (CO) dan Methan (CH4) yang dinyatakan dalam %.
e. Karbon Tertambat ( Fixed Carbon)
Merupakan karbon yang tertinggal sesudah zat belerang dan
kandungan airnya hilang. Dengan pengeluaran zat terbang dan
kandungan air maka karbon tertambat secara otomatis akan naik,
sehingga semakin tinggi kandungan karbon maka kelas batubaranya
akan naik.
Karbon tertambat adalah karbon yang terdapat pada batubara
yang berupa zat padat, jumlah karbon tertambat ditentukan oleh
kandungan air bawaan, abu, dan zat terbang. Karbon merupakan sisa
padat hasil pemanasan batubara setelah saluran zat terbang habis keluar.

91

Karbon teroksidasi sempurna menjadi gas CO2 yang merupakan karbon


tertinggal sesudah zat belerang dan kandungan airnya hilang.
f. Nilai Kalori (calorific value)
Nilai kalori dari batubara merupakan jumlah panas dari
komponen yang terbakar seperti karbon, hidrogen, dan sulfur dikurangi
dengan panas reaksi eksotermis yang terjadi dari pembakaran
komponen pengotor, panas yang dihasilkan dari proses pembakaran
batubara tersebut dinyatakan dalam Kcal/kg.
D. Metodologi Pembahasan Masalah
1. Sumber Data
Sumber data yang dipergunakan adalah sebagai berikut :
a. Data primer yaitu data yang diperoleh dari pengamatan dan analisis
yang dilakukan dilapangan.
b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumber lain seperti :
literature dan data dari perusahaan
Data-data tersebut meliputi:
1) Data hasil analisis sample middle D dari channel sampling, ROM
area, hingga product yang dijadikan untuk perbandingan kualitas
2) Deskripsi perusahaan
3) Sejarah Perusahaan
4) Lokasi dan Topografi
92

5) Iklim dan Cuaca


6) Keadaan Geologi dan Stratigrafi
7) Kualitas batubara
E. Analisis Data Dan Pemecahan Masalah
1. Analisis Data
Analisis data yang dilakukan adalah analisis yang dilakukan oleh
PT. Sucofindo disini penulis menyajikan untuk dijadikan perbandingan
kualitas batubara mulai dari hasil analisis channel sampling (Table 7),
analisis ROM area (Table 8), dan analisis pada product area (Table 9).
Tabel 7. Data Hasil Analisis Channel Sampling pada Middle D

Parameter Kualitas

Sumber
TM

IM

ASH

VM

FC

TS

GCV

(Kcal/kg)

1,98

6.795

AR

Middle
Pit D

12,10

ADB

5,38

6,09

Sumber : PT. Sucofindo

93

40,11

48,42

Tabel 8. Data Hasil Analisis Sample Rom Area pada Middle D Per
500 ton setelah dirata-ratakan
Parameter Kualitas
Sumber

NO

TM
(%)

IM
(%)

ASH
(%)

AR

VM
(%)

FC
(%)

TS
(%)

GCV
(Kcal/kg)

ADB

1
11.15 5.66 6.17

39.63 48.54 2.08

6,845

10.43 5.19 15.73 37.33 41.75 2.15

6,098

11.06 5.17 12.87 39.36 42.60 1.87

6,359

11.03 5.38 11.78 38.27 44.57 1.83

6,418

10.26 5.09 14.07 38.04 42.80 2.17

6,248

10.43 5.28 13.31 37.74 43.67 1.81

6,309

11.05 5.32 12.29 37.71 44.68 1.86

6,373

10.93 5.06 12.95 40.75 41.24 1.97

6,350

11.08 5.21 12.99 38.17 43.63 1.84

6,331

10.92 5.14 18.26 35.88 40.72 1.83

5,879

10.97 5.47 10.62 40.11 43.80 1.92

6,528

Middle
D

10

11

94

12

13

14

15

16

17

18

19

20
Ratarata

10.97 5.18 11.46 40.48 42.88 1.80

6,439

10.90 5.24 11.30 38.96 44.50 2.17

6,453

11.13 5.40 10.14 40.09 44.37 1.93

6,573

10.89 5.24 14.33 39.16 41.27 2.24

6,240

11.19 5.20 13.10 39.27 42.43 2.63

6,278

11.25 5.86 6.93

40.15 47.06 1.92

6,735

10.03 4.91 17.97 36.23 40.89 1.53

5,944

10.98 5.24 11.05 38.91 44.80 1.78

6,474

10.91 5.08 15.19 36.42 43.31 1.76

6,124

10.88 5.27 12.63 38.63 43.48 1.95

6,349.90

Sumber : PT. Sucofindo

95

Tabel 9. Data Hasil Analisis Sample Product Area Pada Middle D


Per 1000 ton Setelah dirata-ratakan
Parameter Kualitas
Sumber

NO

TM
(%)

IM
(%)

ASH
(%)

AR
1

5
Middle
D
6

10
Ratarata

VM
(%)

FC
(%)

TS
(%)

GCV
(Kcal/kg)

ADB

10.98 5.19 13.78 38.45 42.58 1.74 6,308

10.92 5.17 12.68 38.18 43.97 2.09 6,356

11.06 5.46 9.66

39.03 45.85 2.20 6,565

10.90 5.20 10.19 38.99 45.62 1.83 6,273

10.88 5.23 12.49 39.02 43.26 1.86 6,391

10.48 5.17 13.75 38.45 42.63 2.28 6,269

11.05 5.63 11.20 38.71 44.46 1.89 6,430

10.85 5.10 13.30 38.61 42.99 1.90 6,270

11.09 5.24 8.91

38.51 37.34 1.86 6,255

10.28 5.30 9.41

38.95 46.34 1.83 6,238

10.85 5.27 11.54 38.69 43.50 1.95 6,335.50

Sumber : PT. Sucofindo


96

Tabel 10. Data Hasil Perbandingan Analisis Batubara Middle D


Mulai dari Pit (Channel Sampling), Rom Area, dan
Product Area
Parameter Kualitas
Sumber

TM

IM

ASH

VM

FC

TS

GCV

(Kcal/kg)

AR

ADB

Channel
Sampling

12,10 5,38

ROM area

10.88 5.27 12.63 38.63 43.48 1.95

6,349.90

Product
area

10.85 5.27 11.54 38.69 43.50 1.95

6,335.50

6,09

40,11 48,42 1,98

6,795

Berdasarkan hasil data perbandingan di atas dapat diketahui bahwa


terjadi penurunan kualitas batubara antara pit (channel sampling) dan
ROM area serta pada product area. Dimana kandungan air, dan kadar abu
meningkat sehingga kalori dari batubara tersebut menurun, ini disebabkan
karena tahapan quality control yang tidak terjaga dengan baik mulai dari
pit area, ROM area, hingga pada product area.
Terjadinya perbedaan kualitas batubara dari channel sampling
dengan kualitas di ROM maupun hasil product disebabkan oleh:
1. Selectif mining tidak berjalan dengan baik yang berakibat tercampurnya
material pengotor (parting) dengan batubara yang diambil di pit.
97

2. Tidak adanya petugas coal cleaner yang berada di pit untuk


memisahkan batubara dengan material pengotor.
3. Sering tidak terpasangnya tanda identitas kualitas di dump truck pada
saat pengangkutan batubara, hal ini menyebabkan kesalahan pada saat
penumpukan batubara di ROM area sehingga batubara tercampur
dengan kualitas yang lain.
4. Pengambilan batubara yang dilaksanakan pada malam hari mempunyai
resiko yang cukup besar terhadap kualitas batubara yang didapat
(kemungkinan parting terambil cukup besar).
5. Banyaknya genangan air di sekitar ROM dan product mengakibatkan
kadar air menjadi tinggi, dan lumpur-lumpur melekat pada batubara
sehingga kadar abu pun naik maka berakibat pada menurunnya kualitas
pada batubara (kalori berkurang).
6. Papan pemberian tanda identitas kualitas batubara di ROM yang tidak
memenuhi standar (asal-asalan) tulisannya kurang jelas dan sering
hilang tertimbun oleh batubara sehingga berakibat pada kesalahan
dalam penumpukan batubara.
7. Terlalu berdekatannya jarak penumpukan batubara yang high calory
dan low calory yang berakibat pada tercampurnya batubara tersebut.
8. Keberadaan hand picking di ROM yang tidak optimal pekerjaannya
untuk memisahkan batubara dengan material non batubara.

98

9. Banyaknya debu-debu yang terbawa oleh alat angkut maupun alat muat
yang bekerja di ROM, sehingga debu-debu tersebut menempel dengan
batubara.
10. Tidak terjaganya kebersihan alat yang bekerja di product area sehingga
material pengotor yang terbawa oleh alat berat bercampur dengan
batubara.
11. Tidak adanya keberadaan hand picking pada saat batubara masuk
kedalam hopper cruser sehingga material seperti batu, tanah, dan kayu
ikut masuk kedalam pengolahan.
12. Tidak optimalnya keberadaan petugas coal picker yang duduk di belt
conveyor untuk memisahkan batu-batu yang ikut terbawa dalam proses
pengolahan.
2. Pemecahan Masalah
Kegiatan tahapan-tahapan pengontrolan kualitas batubara (Coal
Quality Control) dan langkah-langkah penanggulangannya adalah sebagai
berikut:
a. Pengontrolan pada Pit Area
1) Pengambilan channel sampling
Sebelum

batubara

diambil,

terlebih

dahulu

dilakukan

pit/channel sampling oleh petugas PT. Sucofindo sebanyak 3 - 4


orang yang kemudian di dampingi oleh Coal Quality Control
Supervisor PT. Karbindo Abesyapradhi. Dimana channel sampling
ini adalah pengambilan contoh yang diperlukan untuk menentukan
99

mutu yang terdapat dalam perlapisan batubara yang dapat mewakili


dari keseluruhan lapisan, sehingga didapatkan hasil analisis berupa
cuplikan mutu dari perlapisan batubara.
a) Peralatan yang digunakan

Palu geologi

Linggis

Alat tulis lapangan

Meteran

Work sheet

Sekop leader

Matras

Karung contoh, yang dilapisi


plastik (inner bag)

b) Langkah-langkah channel sampling


(1) Bersihkan terlebih dahulu lokasi yang akan di ambil sampling
(2) Amati pola jurus lapisan secara umum dan keseluruhannya
(3) Amati pola jurus perlapisan yang tersingkap dilapangan (strike)
(4) amati pola kemiringan perlapisan yang tersingkap dilapangan
(dip)
(5) Amati pola struktur perlipatan/patahan perlapisan
(6) Ukur dan catat ketebalan lapisan batubara yang tersingkap
dilapangan
(7) Kemudian tentukan titik section tempat pengambilan contoh dan
berikan tanda garis yang memotong tebal perlapisan dengan
salah satu alat kerja.
(8) Bentangkan matras dibawah section yang akan di sampling
(pola vertical). Agar matras dapat menampung jumlah rata-rata

100

contoh yang akan dipotong dari perlapisan, maka bentangan


matras harus berada dekat lapisan yang akan di ambil
(9) Kemudian ambil seluruh partikel batubara pada tiap perlapisan
dengan mengacu kepada kedalaman dan lebar dari profil
channel sampling. Dengan estimasi ukuran section kedalaman
10 cm x lebar 20 cm.
(10) Lalu siapkan karung yang telah dilapisi plastik (inner bag)
dibagian dalamnya
(11) Berikan label pada karung contoh untuk beri informasi sebagai
berikut:
Nama perusahaan
Nama lokasi
Kode contoh
Tanggal pengambilan contoh
(12) Masukkan seluruh partikel yang terkumpul di atas matras
kedalam karung yang telah disiapkan seperti diatas
(13) Ikat dengan rapat mulut karung lalu beri segel dan identifikasi
pada rekaman segel sesuai dengan catatan nomor segel yang
tersedia, kemudian catat kedalam work sheet.
(14) Lengkapi work shett dan log deskripsi lau bawa ke lab untuk di
analisis
Persyaratan utama dari pengambilan channel sampling adalah
harus tegak lurus dengan arah (strike) yang diambil dari pit.

101

Dari hasil channel sampling didapatkan bahwa ada 3 kualitas


batubara pada PT. Karbindo Abesyapradhi sesuai dengan letak
perlapisannya yaitu:
Roof letaknya dibagian atas perlapisan batubara
Middle letaknya dibagian tengah perlapisan batubara
Floor letaknya dibagian bawah perlapisan batubara

Sumber: Dokumentasi penulis


Gambar 35. Pengambilan Sampel Pada Channel/Pit
Sampling
2) Proses Pengambilan Batubara (coal getting)
a) Hindari pengambilan batubara pada malam hari
b) Pengambilan batubara dimulai pada lapisan paling atas yaitu roof
c) Foreman di lapangan memberikan arahan kepada operator
excavator tentang lapisan batubara yang akan diambil agar tidak
tercampur dengan parting-parting di setiap lapisan batubara.
d) Perlunya operator yang mengerti tentang kualitas perlapisan
batubara

dan

penambangan

secara

selectif

mining

agar

pengambilan batubara tidak tercampur dengan batuan lain


102

(parting) yang terdapat pada setiap lapisan batubara karena sangat


mempengaruhi terhadap kualitas batubara. Pada PT. Karbindo
Abesyapradhi tiap perlapisannya selalu terdapat parting maka
untuk itu penambangan selektif yang dianjurkan adalah ketika
batubara setebal 50 cm, yang akan diambil adalah setebal 40 cm
saja sedangkan untuk ketebalan batubara 10 cm selanjutnya
diambil bersamaan dengan parting.

Gambar 36. Proses Pengambilan Batubara Per Lapisan


e) Perlunya beberapa petugas coal cleaner di lapangan untuk
memisahkan zat-zat yang dapat tercampur dengan batubara di
lapangan. Seperti batu-batu, kayu, tanah, dll.

Sumber: Dokumentasi penulis


Gambar 37. Coal Cleaner yang Bekerja di Pit
103

3) Tahap Pengangkutan
Tahap pengangkutan batubara dari pit menuju ke ROM area
sangat penting agar tidak terjadi kesalahan pada penumpukan
batubara nantinya, yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Batubara yang akan diangkut dimuat oleh excavator ke atas dump
truck dengan masing-masing tipe/kualitas agar batubara tidak
tercampur dengan kualitas lain, misal: middle khusus middle saja.
b) Foreman dilapangan memberikan arahan kepada sopir dump truck
tentang jenis batubara yang diangkut.
c) Kemudian foreman melakukan komunikasi dengan petugas di
ROM area bahwa batubara yang diangkut sekarang adalah
kualitas tertentu dan nantinya bisa diarahkan dimana akan
ditumpuk.
d) Lalu petugas lapangan memberi tanda identitas dikaca mobil
tentang jenis batubara yang akan dibawa, Kemudian sopir dump
truck membawa batubara tersebut ke ROM area.

Sumber: Dokumentasi penulis


Gambar 38. Pemberian Identitas pada dump truck Batubara
104

e) Kemudian petugas di ROM area mengarahkan dimana batubara


akan ditumpahkan.
b. Pengontrolan dan Penumpukan Pada ROM Area
1) Penumpukan Batubara
Batubara yang diangkut dari pit ditumpuk di ROM area,
dimana untuk menjaga kualitas perlu dilakukan hal-hal sebagai
berikut:
a) Foreman di ROM area menerima informasi melalui komunikasi
dari foreman di pit tentang jenis batubara yang akan di angkut
kedalam dump truck.
b) Foreman di ROM area sudah dilapangan bersama petugas PT.
Sucofindo untuk pengambilan sample.
c) Kemudian foreman di ROM area mengarahkan sopir dump truck
untuk menumpahkan batubara pada tempat yang telah di
tentukan.
d) Lalu petugas PT. Sucofindo mengambil sample batubara dari tiap
tumpahan dump truck yang membawa batubara ke ROM area.
e) Batubara yang berasal dari pit di tumpuk dengan kualitas yang
sama, dimana penumpukan dilakukan per 500 ton dan diberi
identitas berupa papan dengan nama lokasi dan jenisnya. Ini
dilakukan agar batubara tidak bercampur dengan kualitas yang
lain.

105

f) Pembuatan papan untuk pemberian tanda kualitas batubara


(labeling) harus sesuai standar, misalnya dengan ukuran panjang
dan lebar 30 cm x 20 cm dan mencantumkan jenis, tonase,
tanggal, dll.
g) Kemudian jauhkan jarak antara penumpukan batubara yang high
calory dengan low calory.

Sumber: Dokumentasi penulis


Gambar 39. Penumpukan dan Pemberian Identitas Batubara
Di ROM Area
2) Pengambilan Sampel
a) Peralatan dan perlengkapan pengambilan sampel di ROM area
adalah:

Sekop leader

Karung yang telah dilapisi plastik (inner bag)

Alat tulis

b) Cara pengambilan sampel

Sampel di ambil menggunakan sekop leader 6 kg

106

Karung diberi identitas agar tipe yang diambil tidak


bertukar dengan yang lain

Sampel dibawa ke laboratorum setelah batubara tertumpuk


500 ton

Sumber: Dokumentasi penulis


Gambar 40. Pengambilan Sampel Batubara di ROM
Area
Pada ROM area di PT. Karbindo Abesyapradhi material yang
sudah lama tertumpuk kira-kira 3 bulan maka akan di cek kembali
sampelnya di laboratorium untuk mengetahui kualitas terbaru dari
batubara tersebut.
3) Pengontrolan Pada ROM area
Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk pengontrolan
pada ROM area adalah sebagai berikut:
a) Jangan membiarkan adanya genangan air dilokasi ROM area,
karena dapat meningkatkan kadar air (free moisture).
107

b) Dimana drainase harus dirancang dengan sempurna agar air tidak


masuk kedalam lokasi ROM area sehingga dapat mencegah
luapan air hujan yang sering menggenangi lokasi tersebut. Untuk
itu dibuat parit di sekeliling daerah ROM area agar air mengalir
kesatu arah dan langsung menuju kolam pengendapan.

Gambar 41. Rancangan Drainase pada ROM area


dan
Stockpile Product
c) Debu-debu yang berada pada ROM area maupun yang terbawa
oleh alat angkut harus ditanggulangi dengan melakukan
penyiraman lokasi tersebut secara teratur.
d) Operator yang bekerja di ROM area harus menjaga kebersihan
alat, agar batubara tidak tercampur dengan material-material
pengotor lainnya.
e) Perlunya hand picking untuk memisahkan material-material non
batubara seperti tanah, batu, kayu, dan lain-lain yang tertumpuk di
ROM area sebelum dilakukan pengolahan (processing).
c. Pengontrolan pada Pengolahan Batubara (processing)
108

1) Tahap Pengolahan
Pada pengolahan batubara dalam menjaga kualitasnya, PT.
Karbindo Abesyapradhi memiliki satu unit alat pengolahan yaitu
crushing plant yang digunakan untuk mereduksi ukuran batubara
menjadi kecil ( 55 mm).
Langkah

kerja

crushing

plant

pada

PT.

Karbindo

Abesyapradhi sebagai berikut:


a) Batubara pada ROM area diangkut oleh loader dan dimuat ke
dalam hopper
b) Akibat pengaruh gravitasi, batubara yang ditampung di dalam
hopper turun secara berlahan-lahan ke bawah dan akan
tertampung pada pengumpan (vibrating grizzly feeder).
c) Vibrating grizzly feeder bekerja maju mundur dan dengan getaran
yang dihasilkan meyebabkan batubara terdorong ke dalam ayakan
atau screen yang bertingkat.
d) Batubara yang berukuran 50 mm akan lolos pada ayakan ini dan
langsung jatuh pada belt conveyor, sedangkan batubara yang
bersifat bongkahan atau ukurannya >50 mm akan menggelinding
menuju ruang putaran double roll, pada double roll

inilah

batubara dihancurkan dan ukurannya tereduksi menjadi 50 mm.


e) Batubara hasil peremukan double roll ini akan jatuh pada belt
conveyor yang ada di bawahnya, selanjutnya belt conveyor akan
membawa final product ini ke stockpile.
109

Jika diperlukan dalam pengolahan batubara juga dilakukan


coal blending, yang harus diperhatikan di lapangan diantaranya
adalah:
a) Mengetahui kualitas yang dikehendaki sesuai dengan kebutuhan
pasar.
b) Mengetahui spesifikasi kualitas batubara pada tiap pit.
c) Mengontrol tonase batubara yang akan diblending dari tiap tipe
dan pit.
d) Menjaga kebersihan pada alat-alat berat yang bekerja pada pit
penambangan, ROM area dan pada stockpile product.
e) Melakukan pemeriksaan hasil coal blending yang telah di
crushing dengan hasil analisis labor.
2) Pengontrolan pada Pengolahan Batubara (processing)
Pada tahap processing batubara banyak proses yang dilalui
sehingga diperlukan cara-cara khusus agar batubara tetap terjaga
kualitasnya.
a) Batubara diangkut oleh loader dan dimasukkan kedalam hopper
cruser diperlukan keberadaan hand picking agar pada saat
pengolahan material-material seperti tanah, batu, kayu, dan lainlain tidak terbawa masuk kedalam hopper.
b) Untuk menanggulangi batuan-batuan pengotor yang ikut terbawa
pada saat proses pengolahan, dilakukan pemisahan secara manual

110

oleh coal picker yang duduk di dekat belt conveyor yang sedang
berjalan.
c) Kebersihan track dan bucket excavator yang digunakan pada
stockpile product harus diperhatikan sebelum beroperasi.
d) Sistem drainase pada lokasi stockpile product harus dirancang
sebaik mungkin untuk menghindari masuknya air kedalam
tumpukan batubara

Sumber: Dokumentasi penulis


Gambar 42. Crushing Plant dan Beberapa Petugas Coal Picker
Penumpukan pada stockpile product, jika terdapat beberapa
kualitas batubara maka dilakukan penumpukan pada masing-masing
kualitas dan diberikan tanda (labeling) sehingga mengetahui jenis
dari batubara tersebut.

111

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Dari kegiatan Praktek Lapangan Industri yang telah dilaksanakan pada
PT. Karbindo Abesyapradhi (PT. KA) Sungai Tambang Sijunjung, maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. PT. KA adalah perusahaan pemegang KP batubara dengan area
konsensinya terletak pada daerah Sungai Tambang, Sijunjung. Sejak tahun
1990 PT. KA melakukan pengembangan usaha penambangan dengan
metode tambang terbuka dan sempat terhenti pada tahun 2002, dan
beroperasi kembali pada tahun 2004 oleh perusahaan kontraktor PT. Abdi
Sarana Nusa (ASN) dan terhenti lagi pada pertengahan tahun 2006,
kemudian

akhirnya

pada

tahun

2007

beroperasi

kembali

yang

penambangannya dikerjakan oleh kontraktor PT. Pasura Bina Tambang.


2. Dari

analisis data yang diperoleh tentang kualitas batubara pada Pit

Middle D, maka diperoleh perbandingan sebagai berikut:


a. Pit/channel sampling (TM = 12,10 %, IM = 5,38 %, ASH = 6,09%,
VM = 40,11 %, FC = 48,42 %, TS = 1,98 %, dan Kalori 6.795
Kkal/Kg).
b. ROM area (TM = 10,88 %, IM = 5,27 %, ASH = 12,63 %, VM =
38,63 %, FC = 43,50 %, TS = 1,95 %, dan Kalori 6.349 Kkal/Kg).

112

c. Product area (TM = 10,85 %, IM = 5,27 %, ASH = 11,54 %, VM =


38,69 %, FC = 43,50 %, TS = 1,95 %, dan Kalori 6.335 Kkal/Kg).
3. Berdasarkan hasil data perbandingan di atas dapat diketahui bahwa terjadi
penurunan kualitas batubara antara channel sampling dan ROM area serta
pada product area.
4. Langkah-langkah yang sangat penting pada pelaksanaan Quality Control
adalah:
a. Pada pit area dilakukan penambangan secara selektif karena pada PT.
Karbindo Abesyapradhi terdapat tiga perlapisan batubara, yaitu roof,
middle, dan floor dimana disetiap perlapisannya itu banyak pengotor
(parting), sehingga dengan penambangan yang selektif parting yang
terambil dapat di minimalisir sekecil mungkin.
b. Pada ROM area air sangat mempengaruhi terhadap kualitas batubara
sehingga sistem drainase harus dirancang dengan sempurna agar air
tidak masuk kedalam lokasi ROM area kemudian untuk mencegah
luapan air hujan yang sering menggenangi lokasi tersebut.
c. Pada stockpile product kebersihan alat yang bekerja harus diperhatikan
agar batubara tidak tercampur dengan pengotor yang terbawa oleh alat
berat seperti tanah, batu, dan kayu-kayu yang terdapat di lokasi
penumpukan batubara.

113

Saran
Setelah melakukan Praktek Lapangan Industri di PT. Karbindo
Abesyapradhi (PT. KA) Sungai Tambang, Sijunjung penulis menyarankan:
1. Adanya sistem drainase pada stockpile dan ROM sangat penting, karena
air memiliki pengaruh besar sebagai pembawa tanah, bahan pengotor
batubara yang akan dapat menurunkan kualitas batubara. Untuk itu
diperlukan sistem drainase yang bagus agar kualitas batubara tetap terjaga.
2. Perlunya penambangan secara selektif agar didapatkan mutu dan kualitas
batubara yang lebih baik, untuk itu diperlukan operator yang mengerti
tentang setiap perlapisan batubara.
3. Optimalkan petugas coal cleaner, hand picking, dan coal picker di
lapangan untuk memisahkan batubara dengan material non batubara.
4. Lakukan penyiraman lokasi ROM area dan stockpile product secara teratur
untuk menanggulangi debu-debu yang terbawa oleh aktivitas alat berat di
sekitar ROM area dan stockpile product .

114

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Data-data Laporan dan Arsip Perusahaan PT. Karbindo Abesyapradhi,
Sungai Tambang : PT. Karbindo Abesyapradhi.
Arsip, Dokumen PT. SUCOFINDO.
Irwandi Arif. Buku Ajar TA-427 Tambang Terbuka. Bandung : ITB. 2000.
Raimon Kopa. Pelaksanaan Proyek Akhir. Padang : Universitas Negeri Padang.
2006.
Muchjidin. Pengendalian Mutu Dalam Industri Batubara. Bandung : ITB. 2006.
Facri Rusma. Batubara. Padang : Universitas Negeri Padang. 2004.
Dios Perkasa. Menghitung Nilai Ekonomis Pemanfaatan Parting Jenis Batu Pasir
Di PT.Karbindo Abesyapradhi Sebagai Salah Satu Upaya
Konservasi Bahan Galian.2011

115

Diagram Alir Kegiatan Quality Control

Quality Control

Pit Area

ROM Area

Product Area

Channel Sampling

Penumpukan Batubara

Hopper

Coal Getting

Pengambilan Sampel

Crusing Plant

Coal Cleaner

Labelling

Pengambilan Sample

Hand Picking

Coal Picker

Stockpile Product
Labelling

Pengangkutan Batubara
Pemberian Identitas

Diagram Alir Kegiatan Pengolahan Batubara PT. Karbindo Abesyapradhi

Coal Picker
ROM
Belt Conveyor 3

Produk
+ 50 mm
ROM Hopper

Coal Picker
Belt Conveyor 2
Double Roll

Belt Feeder

Belt Conveyor 4
Belt Conveyor 1

Produk

Single Deck
Screen

- 50 mm
Stockpile Product
Produk
- 50 mm
2

LOG PROFILE SEAM OF COAL


PT. KARBINDO ABESYAPRADHI
Pit/Block

:D

Drawn By

: Elyas Butuk

Code of Porfile/Block

Roof Elevation

: 93,06

Roof Coordinate

: N 9.905.813,27

Floor Elevation

: 93,90

: E 762.024,55

Date

: 07 September 2011

: N 9.905.790,08

Page

: 1 of 4

Floor Coordinate

: E 762.014,83

Depth (m)

Litology

Vertical
position
of coal

Thicknes
Strike/Dip
Coal

Description

Parting

0.45

0.45

Batubara Keras ( Lapisan atas / Roof )


0.50

Parting / Pengotor

0.95

0.55

Batubara Keras ( Lapisan atas / Roof )

1.50

Parting / Pengotor

0.70
2.20

Batubara Keras ( Lapisan Tengah / Midle )

2.36

4.56

5
1.00

5.56
0.25

5.81

6
0.53
6.34
0.15

6.49

LOG PROFILE SEAM OF COAL


PT. KARBINDO ABESYAPRADHI
Pit/Block

:D

Drawn By

: Elyas Butuk

Code of Porfile/Block

Roof Elevation

: 93,06

Roof Coordinate

: N 9.905.813,27

Floor Elevation

: 93,90

: E 762.024,55

Date

: 07 September 2011

: N 9.905.790,08

Page

: 2 of 4

Floor Coordinate

: E 762.014,83

Depth (m)

Litology

Vertical
position
of coal

Thicknes
Strike/Dip
Coal

Parting

1.24

7.73

0.34
8.07
0.50
8.57

0.68
9.25
0.19

9.44

10

2.23

11

Description

11.67

12

0.50
12.17

13

2.40

14

14.57
0.32

15

14.89

LOG PROFILE SEAM OF COAL


PT. KARBINDO ABESYAPRADHI
Pit/Block

:D

Drawn By

: Elyas Butuk

Code of Porfile/Block

Roof Elevation

: 93,06

Roof Coordinate

: N 9.905.813,27

Floor Elevation

: 93,90

: E 762.024,55

Date

: 07 September 2011

: N 9.905.790,08

Page

: 3 of 4

Floor Coordinate

: E 762.014,83

Depth (m)

Litology

Vertical
position
of coal

Thicknes
Strike/Dip
Coal

Parting

15

16
2.44

17

17.33

Description

0.20

17.53

18

0.74

18.27
0.27

18.54
0.33

19

18.87

0.75
19.62

20

2.30

21

21.92

22
0.48
22.40
0.30
22.70

23

23.00

0.30

LOG PROFILE SEAM OF COAL


PT. KARBINDO ABESYAPRADHI
Pit/Block

:D

Drawn By

: Elyas Butuk

Code of Porfile/Block

Roof Elevation

: 93,06

Roof Coordinate

: N 9.905.813,27

Floor Elevation

: 93,90

: E 762.024,55

Date

: 07 September 2011

: N 9.905.790,08

Page

: 4 of 4

Floor Coordinate

: E 762.014,83

Depth (m)

Litology

Vertical
position
of coal

Thicknes
Strike/Dip
Coal

Parting

23
23.00

0.70

23.70

24

25

26

27

28

29

Description

10

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
Jl.Prof Dr. Hamka Kampus UNP Air Tawar Padang 25171
Telp.(0751),7059996, FT: (0751)7055644,445118 Fax
.7055644
E-mail : info@ft.unp.ac.id

Certified Management System


DIN EN ISO 9001:2000
Cert.No. 01.100 086042

KARTU BIMBINGAN PROYEK AKHIR


Nama
BP/NIM
Tempat PLI
Jadwal PLI
Dosen Pembimbing

: Masdian Darma Putra


: 2008 / 00695
: PT. Karbindo Abesyapradhi
: 3 Agustus s/d 17 September 2011
: Drs. Tamrin Kasim, MT.

No
1.

Hari / Tanggal
11 Agustus 2011

Rekomendasi / Catatan
Paraf
Acc judul yang akan diambil di lapangan.

2.

5 Oktober 2011

Penyerahan hasil laporan Proyek akhir, Setelah melakukan Praktek Lapanagan


Industri.

3.

20 Desember 2011

Perbaikan Tata tulis dan melengkapi data-data yang masih kurang dalam
laporan Proyek Akhir.

4.

24 Desember 2011

Mempelajari pembacaan peta, data-data yang diberikan oleh perusahaan dan


memahami materi.

5.

4 Januari 2012

ACC untuk ujian pada tanggal


Januari 2012

9 -

Padang, 4 Januari 2012


Dosen Pembimbing

Drs.Tamrin Kasim, MT.


NIP. 19530810 198602 1 001

11

12

13

14

15

16