Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

KATARAK

OLEH
MAHASISWA STIKES ICME JOMBANG

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM (PKRS)


RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG
JUNI 2015

SATUAN ACARA PENYULUHAN


KATARAK

OLEH
1.
2.
3.
4.

Abdurohman
Edi Sang P.
M. Noor A.S
Nurul Farida

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


STIKES INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG
TAHUN AJARAN 2015
LEMBAR PENGESAHAN

Satuan Acara Penyuluhan (SAP)


KATARAK

telah disetujui dan disahkan pada :

Tanggal

Juni 2015

Mengetahui,
Pembimbing Klinik

(Achmad Suprijani, S.Kep,Ners)


NIP. 195803091982071001

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Tema

: Katarak

Pokok bahasan

: Proses terjadi sampai dengan penatalaksanaan Katarak

Sasaran

: Pasien, keluarga pasien, petugas dan pengunjung


di Ruang 21 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Hari/ Tanggal

: Jumat, 12 Juni 2015

Tempat

: Ruang 21 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Alokasi waktu

: 35 menit

LATAR BELAKANG
Katarak merupakan salah satu penyakit yang menyerang mata yang merupakan salah
satu jenis penyakit mata tenang visus menurun perlahan. Katarak adalah keadaan dimana
terjadi kekeruhan pada lensa yang dapatterjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa,
denaturasi protein lensa, atau akibat keduanya. Biasanya mengenai kedua mata dan
berjalan progresif (Mansjoer dkk, 2008). Katarak dapat menimbulkan gangguan
penglihatan seperti penglihatan kabur, penglihatan bagian sentral hilang sampai menjadi
buta setelah 10-20 tahun dari mulai terjadinya kekeruhan lensa (Kupler, 2009)
Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2003, jumlah katarak di Indonesia saat ini
berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut yang pada tahun 2000 diperkirakan
sebesar 15,3 juta (7,4% dari total penduduk). Jumlah ini cenderung akan bertambah besar
dengan meningkatnya penduduk Indonesia. Prevalensi katarak di daerah perdesaan 6,29%
lebih tinggi jika dibandingkan daerah perkotaan 4,5% (Depkes RI, 2004). Menurut data
Survei Kesehatan Rumah Tangga Survei Kesehatan Nasional (SKRT SUSENAS) tahun
2005, prevalensi katarak di Indonesia sebesar 4,99%. Prevalensi katarak Jawa Bali sebesar
5,48% lebih tinggi dibandingkan dengan daerah Indonesia lainnya. (pada tahun 2015
terjadi peningkatan sebesar 414% dibandingkan dengan penduduk tahun 1990).
Begitu besarnya resiko masyarakat Indonesia untuk menderita katarak memicu kita
dalam upaya pencegahan. Dengan memperhatikan gaya hidup, lingkungan yang sehat
akan membuat kita terhindar dari berbagai jenis penyakit dalam stadium yang lebih berat
yang akan menyulitkan upaya penyembuhan. Oleh karena timbulnya berbagai masalah di
atas, mahasiswa tertarik untuk melakukan penyuluhan tentang Katarak agar pasien,
keluarga pasien, petugas dan pengunjung di Ruang 21 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
mengetahui proses terjadi sampai dengan penatalaksanaan Katarak.

A. Tujuan Instruksional
1. Tujuan umum

Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan pasien, keluarga pasien, petugas


dan pengunjung di Ruang 21 RSUD Dr. Saiful Anwar dapat mengetahui dan
memahami tentang Katarak.
2. Tujuan khusus
Setelah dilakukan penyuluhan selama 35 menit diharapkan pasien, keluarga
pasien, petugas dan pengunjung di Ruang 21 RSUD Dr. Saiful Anwar dapat
mengetahui :
a. Pengertian dari Katarak
b. Penyebab Katarak
c. Tanda dan gejala dari Katarak
d. Macam-macam Katarak
e. Komplikasi dari Katarak
f. Penatalaksanaan Katarak
g. Pencegahan Katarak
B. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
C. Media Penyuluhan
1. LCD
D. Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi struktur :
1.

Menyusun Satuan Acara Penyuluhan Katarak

2.

Melakukan konsultasi Satuan Acara Penyuluhan yang telah disusun dengan


pembimbing

3.

Melakukan kontrak waktu dan tempat penyuluhan

4.

Membentuk pengorganisasian dalam pelaksanaan penyuluhan, dengan susunan


sebagai berikut .

5.

a) Penyaji

: Abdurrohman

b) Moderator

: Edi Sang P.

c) Observer

: M.Noor A.S.

d) Fasilitator

: Nurul Farida

Mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan


penyuluhan

Kriteria evaluasi proses :


1. Penyuluhan diharapkan berjalan dengan lancar
2. Peserta penyuluhan datang tepat waktu
3. Peserta penyuluhan aktif bertanya
4. Peserta penyuluhan tidak meninggalkan tempat sebelum penyuluhan selesai
5. Penyuluhan dapat berlangsung sesuai dengan kontrak waktu
6. Struktur organisasi dapat melaksanakan tugas sesuai peran dengan baik

Kriteria evaluasi hasil :


1. Penyaji mengajukan pertanyaan secara langsung kepada peserta penyuluhan
tentang materi penyuluhan sebelum penyuluhan dilaksanakan. Bila hanya 5-10%
dari seluruh peserta penyuluhan yang dapat menjawab pertanyaan maka perlu
diadakan penyuluhan tentang Katarak.
2. Penyaji mengajukan pertanyaan secara langsung kepada peserta penyuluhan setelah
penyampaian materi penyuluhan, bila 60% dari seluruh peserta penyuluhan mampu
menjawab pertanyaan yang diajukan, maka dapat dikategorikan penyuluhan
berhasil.

E. Kegiatan Penyuluhan
No

Waktu

Tahapan

Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan Peserta

Media

1.

5 menit

Pembukaan

2.

15 menit Penyajian
materi

Menjelaskan pada peserta Memperhatikan


tentang:
dan mendengarkan
1. Pengertian Katarak
2. Penyebab Katarak
3. Tanda dan gejala Katarak
4. Macam-macam Katarak
5. Komplikasi Katarak
6. Penatalaksanaan Katarak
7. Pencegahan Katarak

3.

10 menit Evaluasi

4.

5 menit

1. Memberikan
1. Bertanya
reinforcement
positif 2. Mendengar
kepada
peserta
atas
kemampuan bertanya.
2. Menjawab
pertanyaan
peserta
3. Memberikan pertanyaan
tentang materi yang telah
disampaikan
1. Menyimpulkan
hasil Menjawab salam
penyuluhan
2. Mengucapkan
terima
kasih atas peran serta
peserta
yang
telah
berpartisipasi
3. Menutup
acara
penyuluhan
dengan
mengucapkan salam

Penutup

F. Lampiran Materi

1. Mengucapkan salam
1. Menjawab
2. Memperkenalkan diri
salam
3. Menjelaskan judul materi 2. Memperhatikan
serta tujuan yang akan
dan
dicapai
oleh
peserta
mendengarkan
penyuluhan
dan
melakukan kontrak waktu.
4. Apersepsi
materi
penyuluhan
LCD

Katarak
1.1 Pengertian
Katarak merupakan salah satu penyakit yang menyerang mata yang merupakan
salah satu jenis penyakit mata tenang visus menurun perlahan. Katarak adalah
keadaan dimana terjadi kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat keduanya. Biasanya
mengenai kedua mata dan berjalan progresif (Mansjoer dkk, 2008).
Menurut Kadek dan Darmadi (2007) katarak adalah kekeruhan lensa mata atau
kapsul lensa yang mengubah gambaran yang diproyeksikan pada retina .
Katarak merupakan suatu keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih
menjadi keruh, yang dapat disebabkan oleh berbagai hal tetapi biasanya berkaitan
dengan proses penuaan (Vaughan, 2007)
1.2 Penyebab
1. Trauma, contohnya terjadi pada katarak traumatika, seperti trauma tembus pada
mata yang disebabkan oleh benda tajam/tumpul, radiasi (terpapar oleh sinar X
atau benda-benda radioaktif).
2. Penyakit mata lain, seperti uveitis.
3. Penyakit sistemik (diabetes militus), contohnya terjadi pada katarak diabetika
dikarenakan gangguan metabolisme tubuh secara umum dan retina sehingga
mengakibatkan kelainan retina dan pembuluh-pembuluh darahnya. Diabetes akan
mengakibatkan kelainan dan kerusakan pada retina.
4. Defek kongenital, salah satu kelainan bawaan sebagai akibat infeksi virus
prenatal) dan katarak developmental terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan
sebagai akibat dari defek kongenital. Kedua bentuk ini mungkin disebabkan oleh
faktor herediter, toksis, nutrisional, atau proses peradangan.
1.3 Tanda dan Gejala
1. Penurunan ketajaman penglihatan secara bertahap
2. Penglihatan berkabut seolah-olah melihat asap
3. Pandangan silau ketika melihat sinar
4. Kesulitan memfokuskan benda di ruang yang gelap
5. Lensa mata berwarna keputih-putihan
6. Penglihatan ganda saat melihat suatu benda.
1.4 Macam Macam Katarak
1. Katarak Kongenital
Katarak untuk jenis satu ini, biasanya dialami oleh bayi atau balita dan anak-anak
atau ada yang dari bawaan lahir karena kesalahan oleh ibunya ketika mengandung.
Katarak jenis ini dapat ditangani dengan melakukan operasi atau pembedahan
dengan cara Disisio atau ekstraksi linear dan ekstrasi dengan fakoemulasifikasi

untuk mencegah ambnliopia eksnopsia. Setelah melakukan operasi ini seseorang


akan membutuhkan koreksi untuk kelainan refraksi mata yang menjadi afakia.
2. Katarak Traumatic
Katarak yang disebabkan oleh rasa trauma atau pernah mengalami cedera pada
mata sebelumnya.
3. Katarak Sekunder
Katarak sekunder adalah istilah untuk semua bahan seperti kapsul lensa, sel epitel,
serabut lensa, elemen fibrin sesudah suatu peradangan dan hasil degenerasi atau
degenerasi lensa yang tertinggal sesudah suatu operasi katarak ekstra kapsuler
atau sesudah suatu trauma yang memecah lensa. Katarak yang disebabkan oleh
konsumsi obat seperti prednisone dan kortikosteroid, serta penderita diabetes.
Katarak diderita 10 kali lebih umum oleh penderita diabetes daripada oleh
populasi secara umum.
4. Katarak Senil
Katarak Senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu
usia diatas 50 tahun. Katarak Senil juga katarak yang berkaitan dengan usia,
merupakan jenis katarak yang paling umum. Berdasarkan lokasinya, terdapat 3
jenis katarak ini, yakni nuclear sclerosis, cortical, dan posterior subcapsular.
Nuclear sclerosis merupakan perubahan lensa secara perlahan sehingga menjadi
keras dan berwarna kekuningan. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada
pandangan dekat (pandangan baca), bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih
baik. Penderita juga mengalami kesulitan membedakan warna, terutama warna
biru. Katarak jenis cortical terjadi bila serat-serat lensa menjadi keruh, dapat
menyebabkan silau terutama bila menyetir pada malam hari. Posterior subcapsular
merupakan terjadinya kekeruhan di sisi belakang lensa. Katarak ini menyebabkan
silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang, serta pandangan baca
menurun.

1.5 Komplikasi Katarak


a. Kerusakan retina
Kerusakan retina ini terjadi terjadi setelah pascah bedah, akibat ada robekan pada
retina, cairan masuk ke belakang dan mendorong retina atau terjadi penimbunan
eksudat dibawah retina sehingga terangkat.
b. Infeksi
Ini bisa terjadi setelah pasca bedah karena kurangnya perawatan yang tidak
edekuat.

c. Hilangnya vitreous.
Jika kapsul posterior mengalami kerusakan selama operasi maka gel vitreous
dapat masuk ke dalam bilik anterior, yang merupakan resikoterjadinya glaucoma
atau traksi pada retina. Keadaan ini membutuhkan pengangkatan dengan satu
instrument yang mengaspirasi dan mengeksisi gel (virektomi). Pemasanagan
lensa intraocular sesegera mungkin tidak bias dilakukan pada kondisi ini.
d. Prolaps iris.
Iris dapat mengalami protrusi melalui insisi bedah pada periode pasca operasi
dini. Terlihat sebagai daerah berwarna gelap pada lokasi insisi. Pupil mengalami
distorsi. Keadaan ini membutuhkan perbaikan segera dengan pembedahan.
e. Endoftalmitis
Komplikasi infeksi ekstraksi katarak yang serius, namun jarang terjadi.
1.6 Penatalaksanaan
Salah satu cara pengobatan katarak adalah dengan cara pembedahan ,yaitu
lensa yang telah keruh diangkat dan sekaligus ditanam lensa intraokuler sehingga
pasca operasi tidak perlu lagi memakai kaca mata khusus (kaca mata aphakia). Setelah
operasi harus dijaga jangan sampai terjadi infeksi.
Sampai saat ini belum ditemuka n obat yang dapat mencegah katarak.
Beberapa penelitian sedang dilakukan untuk memperlambat proses bertambah
keruhnya lensa untuk menjadi katarak (Ilyas, 2009).
Meski telah banyak usaha yang dilakukan untuk memperlambat progresifitas
atau mencegah terjadinya katarak, tatalaksana masih dengan pembedahan (James,
2010). Untuk menentukan waktu katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan
tajam penglihatan dan bukan oleh hasil pemeriksaan. Tajam penglihatan dikaitkan
dengan tugas sehari-hari penderita Digunakan nama

insipien, imatur, matur, dan

hipermatur didasarkan atas kemungkinan terjadinya penyulit yang dapat terjadi (Prof.
Dr Sidarta Ilyas, dkk, 2009). Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar
lensa dan penggantian lensa dengan implant plastik. Saat ini pembedahan semakin
banyak dilakukan dengan anestesi lokal daripada anestesi umum. Anestesi lokal
diinfiltrasikan di sekitar bola mata dan kelopak mata atau diberikan secara topikal.
Operasi dilakukan dengan insisi luas pada perifer kornea atau sklera anterior, diikuti
oleh ekstraksi (lensa diangkat dari mata) katarak ekatrakapsular. Insisi harus dijahit.
Likuifikasi lensa menggunakan probe ultrasonografi yang dimasukkan melalui insisi
yang lebih kecil dari kornea atau sklera anterior (fakoemulsifikasi).
Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar lensa dan
penggantian lensa dengan implant plastik. Saat ini pembedahan semakin banyak
dilakukan dengan anestesi lokal daripada anestesi umum. Anestesi lokal
diinfiltrasikan di sekitar bola mata dan kelopak mata atau diberikan secara topikal.

Operasi dilakukan dengan insisi luas pada perifer kornea atau sklera anterior, diikuti
oleh ekstraksi (lensa diangkat dari mata) katarak ekatrakapsular. Insisi harus dijahit.
Likuifikasi lensa menggunakan probe ultrasonografi yang dimasukkan melalui insisi
yang lebih kecil dari kornea atau sklera anterior (fakoemulsifikasi).
1.7 Pengkajian Fokus
Dalam melakukan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama
dan hal yang penting di lakukan baik saat pasien pertama kali masuk rumah sakit
maupun selama pasien dirawat di rumah sakit.
1. Biodata
Identitas klien : nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/
bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat dan nomor register.
2. Riwayat kesehatan
a.
Keluhan utama
Penurunan ketajaman penglihatan dan silau.
b.
Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat kesehatan pendahuluan pasien diambil untuk menemukan masalah
primer pasien, seperti: kesulitan membaca, pandangan kabur, pandangan ganda,
atau hilangnya daerah penglihatan soliter. Perawat harus menemukan apakah
masalahnya hanya mengenai satu mata atau dua mata dan berapa lama pasien
sudah menderita kelainan ini. Riwayat mata yang jelas sangat penting. Apakah
pasien pernah mengalami cedera mata atau infeksi mata, penyakit apa yang
terakhir diderita pasien.
c.

Riwayat kesehatan sekaran


Eksplorasi keadaan atau status okuler umum pasien. Apakah ia mengenakan
kacamata atau lensa kontak?, apakah pasien mengalami kesulitan melihat
(fokus) pada jarak dekat atau jauh?, apakah ada keluhan dalam membaca atau
menonton televisi?, bagaimana dengan masalah membedakan warna atau

masalah dengan penglihatan lateral atau perifer?


Riwayat kesehatan keluarga
Adakah riwayat kelainan mata pada keluarga derajat pertama atau kakek-nenek.
3. Pemeriksaan fisik
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara keabuan pada
d.

pupil

sehingga

retina

tak

akan

tampak

dengan

oftalmoskop (Smeltzer,

2009). Katarak terlihat tampak hitam terhadap refleks fundus ketika mata diperiksa
dengan oftalmoskop direk. Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan
katarak secara rinci dan identifikasi lokasi opasitas dengan tepat. Katarak terkait
usia biasanya terletak didaerah nukleus, korteks, atau subkapsular. Katarak
terinduksi steroid umumnya terletak di subkapsular posterior. Tampilan lain
yang

menandakan penyebab okular katarak dapat ditemukan, antara lain

deposisi pigmen pada lensa menunjukkan inflamasi sebelumnya atau kerusakan


iris menandakan trauma mata sebelumnya (James, 2010)

4. Pemeriksaan Diagnostik
Selain uji mata yang biasanya dilakukan menggunakan kartu snellen, keratometri,
pemeriksaan lampu slit dan oftalmoskopi, maka A- scan ultrasound (echography)
dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostik, khususnya bila
dipertimbangkan akan dilakukan pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000
3
sel/mm ,

pasien

ini

merupakan

kandidat

yang

baik

untuk

dilakukan

fakoemulsifikasi dan implantasi IOL (Smeltzer, 2009). Pemeriksaan diagnostik


yang lain diantaranya adalah:
a. Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan
kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf,
penglihatan ke retina.
b. Lapang Penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor, karotis,
glukoma.
c. Pengukuran Tonografi : TIO (12 25 mmHg)
d. Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup
glukoma.
e. Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe glaucoma.
f. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik,
papiledema, perdarahan.
g. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
h. EKG, kolesterol serum, lipid
i. Tes toleransi glukosa : kotrol DM
5. Persiapan Pasien Pre Operasi Katarak
a. Pasien mendafarkan diri di pendaftaran
b. Pasien datang ke ruang poli pemeriksaan mata
c. Pasien diperiksa terlebih dahulu
d. Setelah didapatkan hasil pemeriksaannya, pasien diminta untuk menunggu di
ruang tunggu
e. Pasien dinyatakan positif menderita katarak dan akan dilakukan operasi
f. Pasien dan keluarganya diminta persetujuan untuk melakukan operasi katarak
g. Pasien diberikan obat pantokain untuk melebarkan pupil mata pasien yang
dinyatakan positif katarak
h. Pasien diminta menunggu di ruang tunggu untuk menunggu proses pelebaran
pupilnya
i. Pasien kemudian dilakukan pemeriksaan mata secara auskultasi untuk melihat
apakah obat pantokain sudah bereaksi dengan menggunakan pen light
j. Setelah obat pantokain bereaksi dan pupil pasien melebar, pasien di persilahkan
untuk berangkat ke ruang OK
k. Pada saat diruang OK, pasien di berikan petunjuk saat dimana operasi akan
dilaksanakan, seperti:
1) Pasien diminta untuk menuruti apa permintaan dokter demi keberhasilan dan
kelancaran proses operasi katarak tersebut
2) Pasien dilarang untuk batuk pada saat operasi
3) Pasien diminta untuk tetap diam dan tidak banyak bergerak pada saat operasi
4) Jika pasien ingin berdoa, pasien diminta untuk berdoa di dalam hati saja
l. Pasien diminta untuk berbaring diatas tempat tidur pembedahan operasi katarak

6. Perawatan Mata Post Operasi Katarak


1. Hal-hal yang boleh dilakukan setelah operasi katarak
a. Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan
b. Pakai Penutup mata seperti yang dinasehatkan
c. Melakukan pekerjaan hanya tidak berat
d. Bila memakai sepatu jangan membungkuk, tetapi angkat kaki keatas
7. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan setelah operasi katarak
a. Jangan menggosok mata
b. Jangan membungkuk terlalu dalam
c. Jangan menggendong yang berat
d. Jangan membaca berlebihan dari biasanya
e. Jangan mengejan keras sewaktu buang air besar
f. Jangan berbaring kesisi mata yang baru dibedah
8. Cara penggunaan tetes mata
a. cuci tangan
b. penderita berbaring/duduk dan melihat ke atas
c. Perlahan tarik kulit kelopak mata yang sakit ke bawah
d. Teteskan satu tetes ke tengah-tangah kelopak mata.
e. Usahakan supaya penetes tidak menyentuh lipatan mata atau bulu mata
f. Penderita menjaga agar mata tetap tertutup selama 1-2 menit supaya obat
terserap.
g. Cuci tangan
9. Cara penggunaan salep mata
a. Cuci tangan
b. Penderita berbaring/duduk dan melihat ke atas
c. Perlahan tarik kulit kelopak mata yang sakit ke bawah kemudian pencet ujung
salep, ujung tube jangan sampai menyentuh mata.
d. Penderita dianjurkan untuk menutup matanya 2-3 menit.supaya obat masuk dan
terserap.
e. Selama pemberian salep penglihatannya akan kabur sebentar, dan istirahatlah.
f. Cuci tangan.
1.8 Pencegahan
a. Mengontrol penyakit yang berhubungan dengan katarak dan menghindari faktor
faktor yang mempercepat terbentuknya katarak.
b. Menggunakan kaca mata hitam ketika berada di luar ruangan pada siang hari bisa
mengurangi jumlah sinar ultraviolet yang masuk ke dalam mata.
c. Menjaga agar tidak terkena trauma tembus pada mata yang disebabkan oleh benda
tajam/tumpul, radiasi (terpapar oleh sinar X atau benda-benda radioaktif).
d. Menjaga pola makan bergizi yang baik untuk proses metabolisme, mengkonsumsi
suplemen, buah dan sayur sebelum terjadi katarak dapat menunda pembentukan
atau mencegah katarak. Sedangkan pada tahap awal katarak suplemen dapat

memperlambat pertumbuhannya. Pada tahap berat tindakan hanya bisa diatasi


dengan operasi.

DAFTAR PUSTAKA
Ilyas S. 2005. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. 3rd edisi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. hal:
128-136.
Ilyas S. 2008. Ilmu Penyakit Mata. ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 200-211
Nico A. Lumenta. 2008. Manajemen Hidup Sehat. Jakarta: Elek Media Komputindo
Fadhlur Rahman. 2009. Laporan Kasus Katarak Matur Pada Penderita Diabetes Mellitus.
http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35543-Kep%20Sensori%20dan%20
Persepsi-Askep%20Katarak.html#popup
http://ladyrosebangkitdanpercaya.blogspot.com/2013/08/sap-katarak.html