Anda di halaman 1dari 2

METODE TRIP DISTRIBUTION

Model Trip distribution atau distribusi perjalanan terbagi dua yaitu :


1. Metode Faktor Pertumbuhan (Growth Factor)
Pergerakan di masa mendatang adalah pertumbuhan dari pergerakan pada masa sekarang.
Pada metode Growth Factor terbagi lagi menjadi :
a. Model Uniform
b. Model Average
c. Model Fratar
d. Model Detroit
e. Model Furness
2. Metode Sintetis (Synthetic Method)
Dalam metode ini sudah mulai mempertimbangkan bukan saja faktor pertumbuhan tetapi
juga mempertimbangkan faktor aksesibilitas. Pada metode sintetis terbagi lagi menjadi :
a. Model Gravity
b. Model Intervening-opportunity
c. Model Gravity-opportunity
Perbedaan dari setiap metode Growth Factor
a. Model Uniform
Asumsi dasar :
- Semua daerah dianggap mempunyai tingkat bangkitan atau tarikan yang seragam
- Total bangkitan sama dengan total tarikan
- Hanya dapat digunakan untuk daerah kajian yang tingkat pertumbuhannya merata di
seluruh wilayahnya.
Kelemahan model Uniform :
-

Tidak dapat dipakai pada daerah yang tingkat pertumbuhannya tidak merata
Tidak cocok dipakai di Indonesia karena tingkat pertumbuhannya tidak merata di daerah-

daerah Indonesia
Tidak mempertimbangkan aksesibilitas tapi hanya dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan

yang disebabkan oleh perubahan land use


Model ini tidak cocok digunakan untuk perencanaan jangka panjang karena dalam jangka
panjang tidak dapat dijamin bahwa tidak ada perubahan aksesibilitas

b. Model Average
Asumsi dasar :
- Menggunakan tingkat pertumbuhan yang berbeda untuk setiap zona yang dapat dihasilkan
-

dari peramalan tata guna lahan dan bangkitan lalu lintas


Metode rata-rata menghasilkan sebaran perjalanan karena besarnya perbedaan tidak

tersebar secara acak tetapi tergantung nilai tingkat pertumbuhan.


Zona dengan nilai pertumbuhan yang lebih rendah dari tingkat pertumbuhan global akan
menghasilkan nilai yang lebih besar dari perkiraan.
1

Kelemahan model Average :


-

Apabila semakin banyak pengulangan/iterasi yang digunakan untuk menganalisis sebaran


perjalanan, maka nilai ketepatan menjadi berkurang.

c. Model Fratar
Asumsi dasar :
- Trip distribusi dari suatu zona pada masa mendatang proporsional dengan trip distribusi
-

pada masa sekarang


Trip distribusi tersebut dimodifikasi dengan growth factor dari zona ke mana pergerakan

tersebut berakhir
pengaruh lokasi zona diperhitungkan

Kelemahan model Fratar :


-

Model ini jarang digunakan karena iterasinya rumit

d. Model Detroit
Asumsi dasar :
- Prosesnya mirip dengan metode rata-rata dan Fratar
- Walaupun jumlah pergerakan dari zona i meningkat sesuai dengan tingkat pertumbuhan,
pergerakan ini harus juga disebarkan ke zona lain
e. Model Furness
Asumsi dasar :
- Metode ini berdasarkan estimasi faktor pertumbuhan (growth factor) untuk produksi
-

perjalanan dan tarikan perjalanan, yaitu dua buah faktor pertumbuhan untuk setiap zona.
Metode ini selalu mempunyai satu solusi akhir dan terbukti efisien dibandingkan dengan

metode analogi lainnya.


Solusi akhir selalu sama, tidak bergantung dari perhitungan pengulangan dimulai dari baris
atau kolom.

Kelemahan model Furness :


-

Relatif mahal untuk mendapatkan data eksisting


Batas zona harus konstan, sehingga tidak ada zona baru pada masa mendatang
Tidak dapat digunakan untuk daerah dengan tingkat pertumbuhan pesat
Tidak memperhitungkan tingkat aksesibilitas
Tidak memperhitungkan transport impedance (time distance, cost antar zona)