Anda di halaman 1dari 11

1.

Gratifikasi
Kasus Gratifikasi mantan Direktur Utama Perusahaan Umum Bulog
Kasus gratifikasi dengan terdakwa mantan Direktur Utama Perusahaan Umum Bulog, Widjanarko
Puspoyo, segera maju ke tahap penuntutan. Menurut Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana
Khusus, M Salim, penyidikan kasus itu telah selesai.Kasus gratifikasi ini terjadi dalam impor beras pada
2001-2002. Dugaan gratifikasi dari Vietnam Southern Food Corporation dalam impor beras 2001-2002.
Vietnam Food adalah rekanan Bulog. Vietnam Food diduga telah mengirimkan uang sebesar $ 1,5 juta ke
PT Tugu Dana Utama. PT Tugu kemudian mengirimkan $ 1,2 juta ke PT Arden Bridge Investment milik
Widjokongko Puspoyo-adik kandung Widjanarko. Dari PT Arden ini, uang mengalir ke Widjanarko,
Endang Ernawati-istri Widjanarko, Winda Nindyati-putri Widjanarko, dan Rinaldy Puspoyo-putra
Widjanarko. Rp 1,5 triliun ke mantan Direktur Utama Perum Bulog, Widjanarko Puspoyo.
Penyebab : Vietnam Food melakukan penyuapan dengan tujuan agar ia mendapatkan keuntungan dalam
impor beras pada tahun 2001-2002 yang lalu.
Solusi : pemerintah harus tegas dalam memberikan hukuman pada kedua belah pihak agar kejadian itu
tidak terulangi lagi.

Bupati Pelalawan Tersangka Kasus Gratifikasi


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Pelalawan Tengku Azmun Jaafar
sebagai tersangka dalam kasus dugaan gratifikasi atau suap senilai Rp600 juta atas keluarnya sejumlah
Izin Penebangan Kayu (IPK).Namun hingga kini orang nomor satu di Pelalawan tersebut belum ditahan.
Kepala Hubungan Masyarakat KPK Johan Budi kepada Media Indonesia, Rabu, (22/8) mengatakan
Azmun ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat Tanda Penerimaaan Barang Bukti
(STTB)/220/Dak.2/KPK/VI/2007 tangal 13 Agustus 2007. STPBB ini diterima oleh penyidik KPK Eko
Puji Nugroho.Menurut Johan, saat ini KPK telah menyita sejumlah barang bukti yang memperkuat
penetapan Azmun sebagai tersangka. Barang bukti yang disita antara lain buku kas PT Persada Karya
Sejati tahun 2006, 3 lembar form PT Persada Karya Sejati tanggal 26 Januari, 1 lembar kuitansi tertanggal
20 Januari 2006 dengan nilai Rp600 juta.
Penyebab : Ia melakukan gratifikasi dengan tujuan agar dapat mendapatkan sejumlah Izin Penebangan
Kayu.
Solusi
: pemerintah harus lebih mengawasi instansi pemerintahan agar hal seperti itu tidak terulangi
lagi. Karena Bupati seharusnya menjadi panutan bagi masyarakatnya bukan memberikan contoh yang
tidak baik.

Kejagung Akan Telusuri Penyuap Bos Bea Cukai Juanda

Kejaksaan Agung telah menetapkan bekas Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan
Cukai Bandara Juanda, Surabaya, Argandiono sebagai tersangka kasus gratifikasi Rp 11,7 miliar pada 30
Juni 2011. Kini, Korps Adhyaksa menelusuri pihak lain yang diduga memberi suap kepada
Argandiono.Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Andhi Nirwanto menyatakan, terseretnya
bekas Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Bandara Juanda itu, tak membuat puas
instansinya.Pasalnya, kemungkinan munculnya tersangka baru dalam perkara ini sangat terbuka. Selain
itu, Andhi berpendapat bahwa Argandiono tak mungkin mendapat uang tanpa dijanjikan sesuatu oleh
pihak pemberi.Sejauh ini, kami belum menetapkan tersangka lain pada kasus ini. Namun, sudah
diperintahkan untuk mengembangkan kasus ini dan menjerat para pelaku lainnya, baik dari penyuap dan
disuap, katanya di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta kemarin.Andhi optimis jajarannya dapat
membekuk tersangka lainnya yang turut terlibat dalam perkara ini. Namun, katanya, saat ini yang sedang
difokuskan oleh pihaknya ialah memanggil Argandiono ke Jakarta. Semua ini butuh waktu. Kami akan
terus menelusuri dan mencari fakta baru untuk mengembangkan perkara ini, ucapnya.Sejak 2004 sampai
2011, Argandiono disangka mengumpulkan dana mencapai Rp 11,7 miliar. Uang diterimanya secara tunai
maupun transfer dari pengusaha yang diduga membutuhkan jasa Argandiono. Dari hasil penelusuran
penyidik pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus), lanjut Noor, antara lain ada pengusaha
yang memberi uang seratus juta sebulan
Penyebab : pengusaha itu melakukan gratifikasi karena membutuhkan jasa dari Argandiono yang
masih diselidiki oleh Kejaksaan Agung
Solusi : kejaksaan agung sebaiknya melakukan penyelidikan itu dengan cepat, agar permasalahan
ini cepat selesai dan tidak berlarut-larut lagi.

Penyelidikan tersangka grafitikasi alih fungsi hutan, Al Amin Nasution


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah selesai menyidik tersangka gratifikasi alih fungsi
hutan, Al Amin Nasution. Namun, penyidik batal melimpahkan berkas perkara dan tersangka ke
penuntutan, karena mantan anggota DPR RI nonaktif tersebut beralasan sakit.Hal itu diungkapkan juru
bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Johan Budi SP, di Gedung KPK, Jakarta, kemarin.
"Menurut jadwal, hari ini (kemarin) kami akan melimpahkan perkara Al Amin ke penuntutan. Tetapi,
batal dilakukan karena yang bersangkutan mengeluh sakit," kata Johan.Al Amin ditangkap penyidik KPK
di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau,
Azirwan dan seorang wanita serta dua ajudan Azirwan. Saat menggelandang dari Pub Mistere, Hotel Ritz
Carlton, penyidik KPK menyita uang Rp 3,9 juta dan Rp 60 juta dari tangan Al Amin.Anggota Fraksi
Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) DPR itu, dituduh menerima sejumlah uang dari Azirwan terkait
pemberian rekomendasi alih fungsi hutan lindung di Kabupaten Bintan untuk dijadikan Kota Bandar Seri
Bintan. Azirwan saat ini sudah diadili di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).Dalam persidangan
perkara Azirwan pernah terungkap bahwa Sekda Bintan itu sangat kesal terhadap sikap Al Amin yang
selalu meminta uang kepadanya selama rekomendasi alih fungsi hutan lindung tersebut belum
dikeluarkan DPR-RI. Menurut ajudan Azirwan, saat menjadi saksi pada persidangan tersebut, Sekda
Bintan itu pernah mengungkapkan kekesalannya dengan mengibaratkan Al Amin sebagai perampok

karena selalu meminta uang yang dikait-kaitkan dengan pemberian rekomendasi alih fungsi hutan lindung
tersebut.Selain terkait dengan kasus gratifikasi pemberian rekomendasi alih fungsi hutan lindung di
Bintan, Al Amin dikabarkan ikut terlibat dalam dugaan suap pada alih fungsi hutan bakau di Tanjung ApiApi, Sumatera Selatan, dan alih fungsi hutan di Batam.
Penyebab : Azirwan ingin mengambil alih fungsi hutan lindung di Kabupaten Bintan untuk

dijadikan Kota Bandar Seri Bintan.


Solusi : Kedua belah pihak, baik Al Amin maupun Azirwan harus diberikan hukuman yang berat agar
mereka sadar dan membuat orang lain takut untuk melakukan gratifikasi.

Polisi Bekuk Pencuri Uang Disdik


BOGOR, KOMPAS.com Aparat Satuan Reserse Polres Bogor Kota menangkap tiga
tersangka pencuri uang sebanyak Rp 570 juta milik Dinas Pendidikan Kota Bogor. Dua tersangka
lainnya masih buron.
Kepala Polres Bogor Kota Ajun Komisaris Besar Nugroho Slamet Wibowo mengatakan, ketiga
tersangka ditangkap dua hari lalu. "Penangkapan mereka hasil pengembangan empat tersangka
pencuri barang-barang elektronika yang ditangkap anggota Polsek Tanah Sarean Kota," kata
Nugroho di Aula Kantor Polres di Jalan Kapten Muslihat, Kamis (14/4/2011) siang.
Ketiga tersangka adalah Dadang, Lawading, dan Hasan, yang semuanya asal Ambon, berdomisili
di Bondongan, Bogor Tengah, Kota Bogor. Yang buron adalah Irawan dan Amir.
"Yang merencanakan Irawan. Saya kebagian Rp 125 juta. Sekarang uangnya sudah habis, saya
pakai untuk berfoya-foya. Enggak ada yang saya kirim ke anak istri di Ambon," kata Dadang
Hapid (28).

Dia mengatakan, mereka mencuri di Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor di Jalan Pajajaran,
Bogor Utara, karena melihat kantor tersebut mudah untuk dimasuki.
"Enggak ada orang dalam yang kasih tahu. Kami masuk, cari-cari saja ruang bendahara dengan
melihat-lihat papan nama di depan ruangan. Lalu kami masuk dan cari-cari tempat menyimpan
uang," ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Aim Halim Hermana yang hadir di Polres Bogor Kota
mengatakan, sangat berterima kasih Polres berhasil menangkap para pelaku. "Sejak kasus
pencurian itu pada Oktober 2010 lalu, kami sangat tertekan. Uang yang dicuri itu berasal dari
APBD yang rencananya untuk 11 kegiatan bagi peningkatan kualitas SDM, khususnya guruguru," katanya.
Penyebab : Tersangka tergoda untuk melakukan pencurian karena keadaan di Kantor Dinas
Pendidikan Kota Bogor kurang ketat dalam penjagaan sehingga mudah dimasuki.
Solusi : Dinas Pendidikan Kota Bogor sebaiknya lebih memperketat penjagaan agar hal seperti
ini tidak terulangi lagi.

Polisi Masih Telusuri Kasus Pencurian Mobil Pengisian ATM


Rabu, 18 Mei 2011 08:04 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Polisi masih mengembangkan kasus pencurian mobil


pengisian uang ATM BCA milik PT Armorindo di Pondok Kopi, Jakarta Timur. Pelaku diduga
mengambil uang sekitar Rp 460 juta.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Baharudin Djafar mengatakan, polisi telah
memeriksa sembilan saksi terkait kasus ini. "Status mereka masih menjadi saksi. Masih
pengembangan," katanya di Mapolda Metro Jaya, Selasa (17/5).
Baharudin mengatakan, sembilan saksi yaitu sopir mobil Yunizar Simbolon, satpam yang ikut
dalam mobil Ahmad dan Hendrik, serta teknisi pengisi ATM Zulfikar. Lima orang lainnya,
merupakan saksi yang melihat dan menemukan mobil. "Sekarang ditangani Polres Jakarta
Timur."
Pada Ahad (15/5), mobil pengisian ATM milik PT Armarindo dibawa kabur pencuri saat
melakukan pengisian ATM di Apotik Tania, Pondok Kopi, Jakarta Timur sekitar pukul 21.30. Di

dalam mobil tersebut terdapat tujuh karung uang.


Sebelum dibawa kabur, mobil itu ditumpangi oleh satu sopir, dua satpam dan satu teknisi pengisi
ATM. Dalam perjalanan menuju Apotik Tania, Pondok Kopi, ada seseorang yang kemudian ikut
menumpang mobil tersebut. Penumpang ini kemudian ikut ke Apotik Tania.
Pada saat akan mengisi ATM, satu satpam, sopir dan tenaga teknisi turun dari mobil. Sementara
satpam Hendrik dan penumpang tadi masih di dalam mobil. Saat inilah kemudian mobil dibawa
kabur.
Sekitar tengah malam, mobil kemudian ditemukan di wilayah Jatibening, Pondok Gede, Jakarta
Timur. Pelaku berhasil menggondol sekitar Rp 460 juta dalam satu karung. Sementar enam
karung uang ditinggalkan. Di mobil juga ditemukan Hendrik yang mengalami luka-luka.
Penyebab : Peristiwa itu terjadi karena kecerobohan korban yang secara tidak sengaja
mengijinkan tersangka menumpang dalam mobil ATM, sehingga dia berkesempatan untuk
mencuri uang tersebut.
Solusi : sebaiknya pihak Bank lebih hati-hati lagi dalam melakukan pengisian ATM agar hal ini
tidak terjadi lagi.

Hakim Tunggal PN Medan Gelar Sidang Pencurian Uang Di


Markas Poltabes Medan
Medan pphe cyber news
Pengadilan Negeri Medan dengan hakim tunggal yakni Sugiono SH, Kamis (30/9) sore mulai
menyidangkan Brigadir Syaiful terdakwa Kasus pencurian uang di Markas Poltabes Medan yang
terjadi Selasa tanggal 1 Juni 2010 yang lalu. Dalam sidang tersebut JPU Parada SH mendakwa
Brigadir Syaiful dengan pasal 363 ayat 2, dengan pemberatan karena dilakukan di malam hari
dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.
Selain hakim tunggal, sidang yang dilaksanakan di sore hari menjelang magrib ini,juga terkesan
sangat cepat. JPU menghadirkan 3 saksi dari kepolisian diantaranya Bendahara Poltabes Medan
AIPTU AT Jenda Ginting . Dalam keterangan kepada hakim bahwa uang sebesar 12 juta yang
dicuri oleh Syaiful ( anggota Provost ) bukan uang milik Poltabes Medan, melainkan milik

pribadinya yang disimpan dilaci meja kerjanya. Jenda Ginting juga mengaku bahwa sebahagian
uang tersebut sudah dikembalikan dan mereka telah berdamai atas perintah Kapoltabes Medan.
Setelah mendengarkan keterangan saksi saksi, Hakim tunggal Sugiono SH langsung melanjutkan
sidang untuk mendengarkan keterangan terdakwa. Terdakwa Brigadir Polisi Syaiful dalam
keterangannya mengaku melakukan pencurian tersebut karena istrinya bakal melahirkan dan
butuh dana. kamu kan bisa pinjam dari orang tua dan sanak family lainnya, kenapa harus
mencuri Tanya Sugiono. saya menanggung biaya orang tua saya pak ujar terdakwa. Karena
keterangan terdakwa tidak membantah melakukan pencurian tersebut dan dianggap cukup,
Sugiono lantas menunda siding hingga kamis depan untuk mendengarkan tuntutan JPU.
Sebelumnya Pencurian uang yang diduga uang kas Malpotabes Medan tersebut sempat
mencengangkan masyarakat kota Medan, dan mencoreng muka institusi penegak hukum
tersebut. Saat itu Kapoltabes Medan, Komisaris Besar (Kombes) Imam Margono, mengatakan
sanksi terberat yang akan diterima personel Provost Poltabes Medan itu adalah pemecatan tidak
dengan hormat. Tapi, kita tunggu dulu putusan pengadilan umum, ujar Imam saat
dikonfirmasi. Menurut Imam, Syaiful tersangka tunggal dalam kasus pencurian uang kas untuk
alokasi dana operasional Poltabes Medan.
Penyebab : tersangka melakukan pencurian itu dalam keadaan terdesak karena membutuhkan
dana untuk biaya persalinan istrinya.
Solusi : Sebaiknya tersangka memikirkan terlebih dahulu akibat dari perbuatan yang akan
dilakukannya. Karena seperti sekarang dia justru dipenjara dan tidak mendapat uang apapun.

Tersangka Pencuri Uang Multindo, Diantara Pelakunya Pembunuh Menejer PT.Asiatic

Tiga Tersangka kasus pencurian uang sebesar Rp 41 juta milik PT Multindo Auto Finance, yang
terjadi di Jalan Sudirman, Thehok, Kecamatan Jambi Selatan, 21 Desember 2008 lalu, salah satu
tersangkanya Syahrial alias Acok, pelaku pembunuh menejer PT.Asiatic Persada.
Hal ini disampaikan Kapolsek Jambi Selatan , AKP Andre Sukendar, pada wartawan Kamis
(9/7). Dia mengatakan, keterlibatan Acok, didalam kasus pencurian uang milik Multindo itu
terungkap dari hasil pemeriksaan dua tersangka, Adi Madagi Syam (24) dan Rudimansyah (40),
yang ditahan pada 2 Juli 2009 lalu.
Keterlibatan Acok, didalam kasus pencurian itu terungkap dari nomor HP nya yang disimpan
oleh tersangka Adi.

Dari pemeriksaan kedua tersangka itu mengakui bahwa dalam kasus pencurian uang miliknya
PT Multindo, Acok , terlibat didalamnya.
Kini ketiga tersangka itu telah kita proses. Untuk tersanga Acok, proses dan penahanya
dilakukan oleh Polres Muarojambi. Sedangkan tersangka Adi dan Rudi, kita memprosesnya,
kata Andre. (infojambi.com/FRI)

JAKARTA -- Indonesian Coruption Watch (ICW) menyatakan dukungannya kepada KPK untuk
mengungkap dugaan korupsi yang terjadi di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Seram
Bagian Timur (SBT), Maluku. Dugaan korupsi di dua kabupaten yang baru dimekarkan lebih
dari lima tahun lalu itu, kini sementara di dalami KPK.
Koordinator Devisi Korupsi Politik ICW, Ade Irawan mengatakan, KPK harus bisa mengungkap
dugaan korupsi di dua kabupaten itu. Sehingga tidak terkesan hanya wacana belaka. LSM anti
korupsi itu berharap semoga KPK mendapat bukti kuat, sehingga tidak terbatas hanya pada
pendalaman kasus. Tapi ditingkatkan ke penyelidikan, dan penyidikan sehingga ada efek jerah
dari pelaku korupsi di Maluku.
KPK harus lebih serius dalam menangani kasus korupsi di SBB dan SBT itu. Karena problem
sosial seperti rusuh dan lainnya juga biasanya bermula dari kasus korupsi, ungkap Irawan,
kepada Ambon Ekspres, usai mengikuti dialog kenegaraan di DPD RI, Rabu (12/10).
Dia berjanji pihaknya akan melakukan pengawasan terhadap KPK dalam menangani kasus-kasus
di Maluku, yakni dugaan korupsi di SBB dan SBT yang sementara di dalami. Apalagi ICW
sering melakukan pengawasan ketat terhadap KPK dalam kasus korupdi di daerah.
Menurutnya, dugaan korupsi Maluku harus lebih diprioritaskan oleh KPK, karena Maluku
termasuk memiliki indeks korupsi tertinggi di Indonesia. Dalam catatan ICW yang diperoleh dari
hasil penelitian mereka, menunjukan Maluku masuk dalam 13 besar daerah terkorup di
Indonesia.
Maka itu kami berharap ke KPK, agar Maluku lebih diprioritaskan dalam pemberantasan
korupsi. Hasil penelitian kami membuktikan Maluku salah satu daerah terkorup. Maluku kalau
tidak salah masuk dalam 13 besar daerah terkorup dari 33 provinsi di Indonesia,ungkapnya.
Sayangnya, kata dia belum ada kasus yang ditangani KPK sampai kepada penyidikan. Hanya
baru pada tingkat pendalaman. Dia berharap ke depan bisa ada kasus korupsi yang diungkap oleh
lembaga anti koruptor yang paling ditakuti tersebut.

Dalam kasus korupsi SBB dan SBT, memang KPK belum mempublikasikan secara detail kasus
apa yang ditanganinya. Namun pihaknya telah menurunkan tim ke dua daerah tersebut pada
September 2011 lalu. Tapi tim di tarik kembali ke Jakarta, lantaran kondisi Ambon tidak
kondusif. Belum diketahui pasti, kapan tim akan diturunkan lagi untuk mengusut korupsi SBB
dan SBT.
Informasi yang diperoleh wartawan Ambon Ekspres Biro Jakarta, Taufik Kadafik Namakule, di
KPK menunjukan, bahwa KPK tetap akan menurunkan tim ke dua kabupaten tersebut, hanya
saja keberangkatan tim akan dirahasiakan kepada media massa, sehingga tak bisa diketahui.
Hal ini terpaksa dilakukan untuk memastikan dugaan korupsi tersebut berada dalam kondisi
aman. Artinya tidak ada pihak-pihak yang berkelit atau menghilangkan barang bukti sebelum tim
diturunkan.
Kasus korupsi di dua kabupaten tersebut didalami KPK setelah lembaga superbody itu mendapat
laporan masyarakat yang masuk di bagian pengaduan masyarakat (dumas) KPK. Laporan di
dalami di lembaga tersebut, dan kesimpulannya harus ada tim penyidik yang turun untuk
memastikan kasus yang ditangani.
Hal ini karena ada aktivis Maluku yang melaporkan kasus-kasus tersebut sering datang ke KPK
menanyakan laporannya. Bahkan diinformasikan, para aktivisi tersebut ngamuk di dumas KPK
lantaran laporannya tidak ditindalanjuti, padahal data-data yang dilaporkannya lengkap.
(fik/fmc)
Terbukti Korupsi, Mantan Bos PT Pos Jakbar Diganjar 2 Tahun Bui

Jakarta (Detik.com) - Mantan Kepala Kantor Pos Jakarta Barat Abdul Maruf
terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Ma'ruf pun diganjar hukuman 2
tahun penjara plus denda Rp 50 juta oleh majelis hakim pengadikan Tipikor.

"Menjatuhkan pidana kurungan 2 tahun penjara dan denda Rp 50 juta, jika


tidak mampu membayar diganti hukuman 3 bulan penjara," ujar Ketua
Majelis Hakim, Tjokorda Rae Suamba saat membacakan vonis di Pengadilan
Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (5/7/2011).

Ma'ruf terbukti melanggar pasal 3 UU No.31/1999 sebagaimana diubah


menjadi UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo
Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Mantan Bos PT Pos Jakbar ini menjabat tahun 2005-2006. Ma'aruf


melakukan pembayaran seolah-olah untuk diberikan kepada pelanggan

korporat yaitu PT Indosat Tbk, PT Amindoway Jaya dan PT Mandiri Tbk


(persero) selama 2005-2006 sebanyak 15 kali.

Namun sebenarnya, uang ini tidak dibayarkan pada tiga perusahaan ini,
melainkan masuk kantong Ma'ruf.

"Uang itu digunakan untuk memperkaya diri sendiri," ujar majelis hakim.

Akibat tindakan Ma'ruf, negara dan PT Pos dirugikan Rp 524 juta. Ma'ruf pun
diwajibkan mengganti sisa kerugian ini sebesar Rp 519 juta.

Menanggapi vonis hakim, Ma'ruf langsung menyatakan banding. "Banding


yang mulia," ujar Ma'ruf.
Korupsi Nazaruddin di Mana-mana

Komisi Pemberantasan Korupsi resminya kini memang hanya menyidik kasus suap kepada
Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Wafid Muharram, terkait pembangunan wisma atlet
SEA Games di Jakabaring, Palembang. Pada kasus ini, mantan Bendahara Umum Partai
Demokrat, Muhammad Nazaruddin, menjadi tersangka.
Namun hasil pengembangan kasus ini, dari penggeledahan di rumah dan kantor Nazaruddin,
hasilnya luar biasa. Nazaruddin diduga korupsi di mana-mana.
Juru Bicara KPK Johan Budi, kepada Kompas di Jakarta, Senin (15/8/2011), menuturkan, kasus
yang resmi menjadikan Nazaruddin sebagai tersangka memang baru kasus suap Sekretaris
Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora). Akan tetapi, KPK telah siap menjerat Nazaruddin
dengan kasus korupsi lainnya.
KPK, lanjut Johan, saat ini tengah melakukan penyelidikan dugaan korupsi di beberapa
kementerian yang diduga melibatkan Nazaruddin. Penyelidikan dilakukan setelah KPK
menemukan berkoli-koli dokumen di rumah dan kantor Nazaruddin saat digeledah.
"Kemarin data itu kami peroleh setelah penggeledahan di kantornya. Kan banyak, berkoli-koli
dokumen. Selain itu, ada juga laporan masyarakat," kata Johan.
Ia menuturkan, saat ini dua kasus korupsi yang diduga melibatkan Nazaruddin dan telah
diselidiki KPK ada di Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Nasional.

Di dua kementerian ini, lanjut Johan, Nazaruddin diduga terlibat dalam dugaan korupsi dalam
pengadaan barang yang dibiayai dengan anggaran pendapatan dan belanja negara. Belum
diketahui secara persis berapa nilai proyek yang diduga dikorupsi Nazaruddin.
Johan membeberkan, nilai proyek di dua kementerian itu mencapai lebih dari Rp 2 triliun.

Korupsi Gayus Mencapai Rp 1,7 Triliun


Sejak awal sebenarnya cenderung tak percaya bahwa uang pajak yang ditilep Gayus hanya Rp28
milyar, apalagi ditambah pengakuannya bahwa dari dana sejumlah itu dia hanya menikmati
Rp1,5 milyar, selebihnya mengalir ke polisi (Rp11 milyar), jaksa (Rp5 milyar), hakim (Rp5
milyar), pengacara (Rp5 milyar).Apa masuk akal yang maling cuma dapat Rp1,5 milyar?
Ketidakpercayaan ini berdasarkan banyaknya wajib pajak raksasa yang ditanganinya yakni 149
wajib pajak antara lain Chevron, Kaltim Prima Coal atau Kapuas Prima Coal (Metrotv bikin
Kapuas Prima Coal), Bumi Resourches dan lain-lain. Dari 149 mega perusahaan ini, 60 ditangani
Gayus langsung.
Semua perusahaan itu ingin mendapatkan keringanan pajak atau tidak bisa menerima besaran
jumlah tagihan dari instansi pajak dan Gayus dkk memanfaatkan peluang tersebut.
Ketidakpercayan itu terjawab sudah, Majalah Tempo terbaru mengungkapkan bahwa kasus
Gayus mencakup uang sebesar Rp1,7 triliun, saat ini dia masih menyimpan uang tersebut di
beberapa deposit box dan menurut Tempo dia berulang kali membujuk penyidik akan
memberikan deposit box tersebutkecuali satu untuk dia dan keluargaasal dibebaskan atau
hukumannya diringankan.
Berita ini membuktikan bahwa korupsi di instansi perpajakan adalah mega korupsi yang harus
mendapat perhatian dan pengawalan super serius dari pers dan masyarakat.. Disinyalir potensi
uang negara yang hanyut ke kantong-kantong petugas pajak dan gangnya mencapai Rp300
triliun!
Gara-gara ulah petugas bejat di jawatan pajak kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan
jalan raya berkualitas baik, sekolah-sekolah, bea siswa, perguruan tinggi, rumah sakit, obatobatan, pasar, pembangkit listrik, taman hiburan dan fasilitas publik lainnya.
Mungkin sudah saatnya kita lebih memperhatikan petugas pajak di kota kita, juga polisi, jaksa,
hakim dan pengacara, bukan untuk mengusili atau mencampuri kehidupan pribadi mereka, tapi
hanya untuk menyelamatkan fasilitas publik yang mungkin bisa kita peroleh kalau perilaku dan
gaya hidup mereka wajar-wajar saja.

Kalau kita begitu pedulinya pada maling ayam, maling jemuran, maling tape mobil, maling kaca
spion, maling motor dan sejenisnya, mengapa tidak kita tingkatkan sedikit kepedulian kita pada
para pencuri uang kita, rakyat Indonesia?