Anda di halaman 1dari 10

4.

Kolusi
Kolusi Proyek Bandara, Sedang Ditangani Polisi
Larantuka, NTT Online - Kasus dugaan kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) dalam proses
pelelangan proyek pekerjaan pemotongan tanah dan pematangan landasan pacu tahap I bandar
udara (Bandara) Gewayantana Larantuka sudah mulai ditangani Polres Flotim.
Komisaris PT Putra Sikka Mandiri Maumere, Paulus Pope Belang selaku pelapor atas kasus
tersebut sudah dimintai keterangan oleh penyidik Reskrim Polres Flotim, Sabtu (8/8). Paul Pope
Belang, seusai dimintai keterangan oleh penyidik, Sabtu (8/8) menjelaskan, dirinya diperiksa
polisi terkait laporannya tentang dugaan KKN dalam proses pelelangan proyek Bandara
Gewayantana Larantuka senilai Rp 6 miliar.
Menurutnya, panitia pelelangan proyek ini dan pejabat pembuat komitmen/kuasa pengguna
anggaran (PPK/KPA) Bandara Gewayantana telah melanggar ketentuan Keppres 80 tahun 2003.
Dalam keputusan pelelangan proyek miliaran rupiah itu, penitia menetapkan PT Cipta Sarana
Raya Maumere sebagai pemenang, walaupun perusahaan tersebut berada pada nomor buntut
(nomor 8-Red) perengkingan rekanan lelang dengan nilai tawar Rp 6,1 miliar.
Nilai penawaran seperti ini, tandas Pope, sangat merugikan negara senilai Rp 2 miliar. Menurut
Pope, dengan adanya keputusan panitia lelang dan PPK/KPA Bandara Gewayantana, maka
secara akal sehat dapat diduga telah terjadi kolusi.
Perusahaan kami, PT Putra Sikka Mandiri selaku rekanan lelang yang berada pada nomor urut 1
dengan nilai penawaran Rp 4,7 miliar, seyogianya harus menang, karena menerapkan nilai tawar
terendah dan sangat menguntungkan negara sebesar Rp 2 miliar. Kami heran kok, mengapa
panitia dan PPK/KPA dapat melenceng dari ketentuan yang berlaku. Atas dasar itu, berikut
dugaan adanya manipulasi dokumen kami oleh pihak panitia, maka kami selaku pihak yang
dirugikan melakukan pengaduan ke penegak hukum dengan tujuan mencari keadilan dan
kebenaran, tegasnya.
Pope mengakui di hadapan penyidik Reskrim Polres Flotim, bahwa ia telah membeberkan fakta
persoalan sesungguhnya. Di depan penyidik, sekitar 3 jam lebih, Pope yang didampingi
pengacaranya, Agustina Lamabelawa, telah memberikan keterangan seputar proses pelelangan,
penipuan, pemalsuan dokumen, KKN, dan perbuatan tidak menyenangkan.
Saya harapkan proses hukum dari kasus ini berjalan hingga tuntas, dengan landasan moral,
bahwa negara dirugikan sekitar Rp.2 miliar hanya karena ketidakberesan dalam pelelangan
proyek tersebut. Panitia dan PPK/KPA harus segera diperiksa untuk mempertanggungjawabkan
perbuatan mereka yang telah melanggar ketentuan yang berlaku, harapnya.
Terkait dugaan pemalsuan dokumen pelelangan tersebut, pengacara, Agustina Lamabelewa pada
Rabu (22/7) bersama Pope menemui Wakapolres Flotim, Agustinus Nggana.

Di depan Wakapolres Nggana, Ina Lamabelawa meminta laporannya dapat ditindaklanjuti polisi
dengan mulai melakukan proses hukum dugaan pelanggaran pidana pelelangan proyek Bandara.
Wakapolres Nggana, pada kesempatan tersebut, menyatakan respek atas laporan tersebut dan
berjanji akan mempelajari dokumen yang disampaikan PT. Putra Sikka Mandiri selaku pihak
yang dirugikan.
Sebagaimana diberitakan media ini, Jumat (17/7), PPK/KPA Bandara Gewayantana, Arnold
Masan Sanga dalam jawaban sanggahan PT. Putra Sikka Mandiri, mengakui bahwa penawaran
lelang proyek ini sudah dievaluasi berdasarkan metode sistem gugur yang dilakukan dengan cara
memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang
diurut mulai dari tahapan penilaian administrasi, persyaratan teknis, dan kewajaran harga.
Peserta atau rekanan yang tidak lulus dalam setiap tahapan dinyatakan gugur.
Arnold membantah penilaian pihak PT Putra Sikka Mandiri bahwa adanya KKN. Tudingan
adanya KKN itu tidak mendasar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. PT Citra Sarana Raya
dinyatakan layak sehingga ditetapkan sebagai pemenang lelang, akunya. Flores Pos.
Penyebab : Adanya praktek kolusi yang dilakukan oleh panitia pelelangan proyek dan pejabat
pembuat komitmen / kuasa pengguna anggaran yang memenangkan PT . Cipta Raya Sarana
Maumere yang merugikan Negara sebesar Rp. 2 milyar.
Solusi : Sebaiknya pemerintah ikut ambil tindakan dalam memilih perusahaan yang akan
menerima tender tersebut. Dan pelelangan sebaiknya dilakukan secara terbuka,sehingga dapat
menghindari terjadinya hal-hal yang merugikan Negara.

Partai Buruh Laporkan Dugaan Kolusi di KPU


JAKARTA, SENIN - Ketua Umum Partai Buruh Mochtar Pakpahan, mengadukan dugaan
kolusi di Komisi Pemilihan Umum. Ia datang ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Senin
(28/7) sekitar pukul 13.45 WIB.
Menurut Pakpahan, dugaan kolusi yang terjadi saat verifikasi partai politik peserta pemilu 2009
ini membuat sejumlah partai yang seharusnya lolos verifikasi, menjadi tidak lolos. Sebaliknya,
ada partai yang seharusnya tidak lolos verifikasi, justru dinyatakan sebagai peserta Pemilu 2009.
"Anggota KPU Andi Nurpati dan Putu Arta," jawab Pakpahan saat ditanya siapa yang
bertanggung jawab dalam dugaan kolusi ini. Dampak paling kelihatan dari dugaan kolusi ini,
lanjut Pakpahan, partainya tidak dapat mengikuti Pemilu 2009.
Saat ditanya mengapa tidak melaporkan dugaan kolusi ini ke Bawaslu, dia mengatakan, dari
pengalaman Pemilu 2004, melaporkan ke Bawaslu tidak banyak memberikan manfaat.

Penyebab : diduga adanya praktek kolusi yang dilakukan oleh KPU pada pemilu 2009. Dan hal
tersebut mengakibatkan partai yang seharusnya lolos verifikasi menjadi tidak lolos, sedangkan
partai yang seharusnya tidak lolos verifikasi menjadi lolos.
Solusi : KPK dan pemerintah dapat menangani kasus ini dengan benar. Jangan sampai merugikan
partai yang dirugikan. Dan agar kasus ini tidak terjadi lagi.

Demokrat Curiga Modus Kolusi KPU Berjaring


INILAH.COM, Jakarta - Penetapan Ketua KPU Abdul Hafidz Anshari sebagai
tersangka, disinyalir tidak bekerja sendiri. Melainkan, ada pihak-pihak lain
yang turut terlibat dalam kasus pemalsuan surat rekapitulasi Halmahera.
"Apakah perorangan atau berjejaring, logika saya berjejaring," ujar Ketua DPP Partai
Demokrat (PD) Gede Pasek Suardika di gedung DPR, Jakarta, Selasa (11/10/2011).
Pasek yang juga anggota Panja Mafia Pemilu DPR menilai kasus ini sangat serius.
Apalagi, ada bukti otentik. "Apalagi tersangka Ketua KPU, akte otentik. Pemalsuan
yang sikapnya serius," katanya.
Menurutnya, hal ini justru jauh lebih fatal jika dibandingkan masalah yang lain.
Seperti surat palsu MK maupun masalah yang lain seperti yang menimpa anggota
DPR Ahmad Yani. "Ini lebih fatal karena ketuanya langsung," katanya.
Terkait silang pendapat antara Kejaksaan Agung dengan Bareskrim Mabes Polri,
Pasek menilai jika sudah ada SPDP (Surat Perintah Dimulainya Penyelidikan) maka
sudah ada tersangka. "Kalau sudah tahapan penyelidikan berarti sudah tahapan
tersangka," katanya.
Banyaknya kasus yang menimpa KPU dinilai karena sistem birokrasi yang lemah.
"Bisa jadi tidak didukung birokrasi yang kuat. Otomatis lemah dangan beberapa
kasus yang ada," katanya.
Penyebab :
Solusi :

Calon Kepala BIN Bantah Dugaan Kolusi dengan


SBY
JAKARTA--MICOM: Calon Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Letjen TNI Marciano
Norman membantah dugaan kolusi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) terkait pencalonannya. Dia mengaku menghormati SBY sebagai panglima
tertinggi di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Pasti, saya adalah komandan paspampres, prajurit TNI sementara Pak SBY adalah
panglima tertinggi," ujarnya usai pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Angkatan
Darat (RSPAD), Jakarta, Selasa (18/10).
Dia juga enggan berkomentar tentang rumor pencalonannya bertujuan untuk
"mengamankan" orang nomor satu di Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Norman menjalani pemeriksaan kesehatan
bersama sejumlah calon menteri di RSPAD hari ini. Dia tetap menjalani pemeriksaan
kesehatan meski mengaku sedang menderita flu. (Bob/OL-12)
Penyebab :
Solusi :

5. Nepotisme

Nepotisme Ancam Wibawa SBY


INILAH.COM, Jakarta - Kredibilitas pemerintahan Presiden SBY kembali
terancam oleh kasus nepotisme. Belum hilang dari ingatan kita Aulia
Pohan yang juga besan Presiden disebut-sebut sebagai kandidat kuat
Gubernur Bank Indonesia, kini adik ipar Ani Yudhoyono juga diperkirakan
akan ditetapkan menjadi Dirut BNI dalam RUPS, Rabu (6/2).
Pengangkatan Gatot sebagai Dirut BNI hampir pasti, karena calon-calon yang
dimunculkan tidak ada yang sekaliber dirinya. Sebagai Wakil Dirut BNI, Gatot hanya
bertarung dengan orang baru BNI, Elvyn G. Masassya (Corporate Secretary) dan
Lilies Handayani (BNI Life).
Padahal, pasca Dirut Sigit Pramono, BNI membutuhkan figur kuat untuk
mengangkat kinerja perusahaan. Pemimpin sekelas Agus Martowardoyo yang
mengangkat kinerja Bank Mandiri setelah karut-marut ditinggal ECW Neloe.
Namun tampaknya seperti halnya posisi Gubernur Bank Indonesia yang akan
dipaksakan pada Aulia Pohan, posisi bos tertinggi BNI juga akan diberikan pada
Gatot. Sumber mengemukakan bahwa keputusan SBY tersebut sebenarnya bisa
ditebak dari karakter mantan Menko Polkam itu dalam memilih timnya.
"Di Partai Demokrat ada Hadi Utomo yang juga merupakan ipar dari SBY. Hadi
didudukkan sebagai Ketua Umum. Kemudian, kabinet diisi dan diatur oleh Sudi
Silalahi, sohibnya di militer," jelasnya.
Menneg BUMN Sofyan Djalil sendiri mengatakan bahwa pihaknya sudah
mengantongi nama-nama direksi baru. Bahkan meskipun proses uji kepatutan dan
kelayakan (fit and proper test) Bank Indonesia belum selesai, pengangkatan direksi
baru tetap bisa dilakukan hari ini.

"Kita sudah oke semua. Tinggal di BI yang fit and proper test, yang sepertinya tidak
ada masalah. Walaupun BI belum selesai, tapi kita akan angkat dulu, nanti sambil
fit and proper test-nya selesai," kata Sofyan di kantornya Selasa (5/2).
Selain BNI, pengajuan nama calon gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2008-2013
oleh Presiden SBY kepada DPR juga layak disimak. SBY diminta berhati-hati
mengajukan kandidat penguasa bank sentral itu. Nama-nama yang masih
tersangkut kasus hukum diminta tidak dimajukan.
Sementara Wakil Ketua Komisi XI DPR (membidangi keuangan dan perbankan)
Endin J. Soefihara, mengingatkan SBY harus lebih selektif mengusulkan nama-nama
calon gubernur BI kepada legislatif pada 18 Februari mendatang.
SBY diminta mempertimbangkan secara serius jika akan memasukkan kembali
nama Gubernur BI Burhanuddin Abdullah. "Saya kira, lebih baik mengajukan calon
yang tidak tersangkut kasus hukum," kata Endin di Jakarta, Selasa(5/2).
Endin mengatakan, kredibilitas BI dan pemerintah akan dipertaruhkan jika yang
diajukan adalah calon bermasalah. "Sekarang biarlah aparat penegak hukum
menuntaskan kasus pembagian uang oleh BI ini. Kita tinggal menunggu siapa yang
akan diajukan oleh presiden," papar Endin.
Penyebab : Presiden SBY yang memasukkan keluarga dan koleganya ke kedudukan
yang cukup tinggi.
Solusi : Presiden SBY sebaiknya lebih selektif lagi dalam memilih calon-calon yang
akan menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Jangan hanya menganggap
orang tersebut keluarga atau koleganya, tapi harus melihat dari kemampuan dan
potensi yang dimilikinya.
Nepotisme Warnai Rekomendasi Pembuatan Paspor Sudjiono Timan

TEMPO Interaktif, Jakarta: Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri memeriksa saksi
Kombes AH, terkait dugaan tiga perwira polisi yang membantu membuatkan paspor terpidana
korupsi Sudjiono Timan. AH sedang diperiksa hari ini, kata Juru Bicara Mabes Polri Brigjen
Pol. Soenarko DA, kepada wartawan Jumat (17/12) siang.
Kombes AH bertugas di NCB/intepol Mabes Polri. Ia dimintai keterangan atas pengawasan
terhadap bawahannya. Tanggung jawab terhadap salah satu stafnya untuk memperkuat proses
dan prosedur pengeluaran surat yang sifatnya koordinatif dengan lintas terkait atau lintas
departemen dalam pengurusan paspor itu, kata Soenarko.
Sebelumnya diberitakan, tiga perwira polisi masing-masing AKBP SA, AKBP BA, AKP AK,
diperiksa Divisi Propam Mabes Polri karena diduga ikut membantu membuat paspor Sudjiono
Timan. Sudjiono adalah terpidana kasus korupsi yang saat ini masih buron.
Soenarko menambahkan, AKBP BA mempunyai hubungan kekeluargaan dengan pengusaha
swasta berinisial H. Pengusaha ini rencananya juga akan dipanggil sebagai saksi. Kemudian,

AKBP BA memerintahkan bawahannya untuk memberikan rekomendasi pembuatan paspor.


Memberikan rekomendasi untuk anggota masyarakat itukan sudah keluar dari pada ketentuan
kedinasan, katanya.
Apa sanksi yang akan diberikan kepada ketiga perwira itu, Soenarko katakan, ada dua kategori
yakni pelanggaran disiplin dan kode etik profesi.
Penyebab : adanya tiga perwira polisi yang membantu membuatkan paspor untuk terpidana
korupsi Sudjiono Timan.
Solusi : pihak kepolisian harus tegas dalam menangani hal ini. Jangan sampai hal seperti ini
terulangi lagi. Dan anggota kepolisian harus lebih jujur lagi.

Nepotisme Ancam Demokratisasi


BERITA - berita-terkini.infogue.com - Fenomena nepotisme politik kembali menguat dalam era
demokratisasi saat ini. Para petinggi partai menempatkan anak, istri, keponakan, dan keluarganya pada posisi-posisi
strategis daftar calon anggota legislatif Pemilu 2009. Apa dampaknya bagi reformasi yang masih berjalan di tempat?
Mungkin ruang tulisan ini terlalu sempit untuk memuat kembali daftar nama caleg yang tak lain adalah keluarga dari
pengurus kunci partai. Sekadar contoh, tiga orang di nya adalah Edy Baskoro, putra Ketua Dewan Pembina Partai
Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono; Puan Maharani, putri Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri;
dan Dave Laksono, putra Wakil Ketua Umum Partai Golkar. Hampir semua partai menempatkan keluarga elite partai
ini pada posisi nomor urut teratas, menyisihkan para kader dan aktivis partai yang berkeringat serta berjuang dari
bawah.
Perlakuan istimewa petinggi partai atau pejabat terhadap keluarga sendiri ini hampir seragam di semua tingkat dan
dapat dicek kembali pada daftar caleg DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota yang diumumkan KPU. Ini
tentu ironi politik di tengah retorika membuncah para elite tentang urgensi pemberantasan korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN) dalam rangka mewujudkan Indonesia baru.
Nepotisme dan dinasti politik
Nepotisme politik secara sederhana dapat diartikan sebagai pemberian perlakuan istimewa kepada keluarga sendiri
dalam posisi kekuasaan politik tertentu, baik di lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Nepotisme tak hanya
menafikan penjenjangan karier politik atas dasar prestasi, kapabilitas, dan rekam jejak dalam proses rekrutmen
politik, tetapi bersifat antidemokrasi. Karena itu, salah satu cita-cita reformasi pasca-Soeharto yang terpenting adalah
pemberantasan KKN yang selama ini dianggap sebagai biang kebobrokan rezim Orde Baru.
Para pelaku nepotisme biasanya membela diri dengan menunjukkan fakta bahwa fenomena serupa juga terjadi di
negara lain. Di negeri kampiun demokrasi, seperti Amerika Serikat, sering disebut klan John F Kennedy, George
Bush, dan Bill Clinton sebagai pelaku nepotisme. Di Asia acapkali dicontohkan keluarga Nehru yang melahirkan
Indira Gandhi serta anak dan menantu Gandhi yang terjun ke politik, sementara di Pakistan ada keluarga Ali Bhutto
yang melahirkan Benazir Bhutto dan kini suami serta anaknya juga turut berkiprah dalam politik. Kecenderungan
hampir sama terjadi di Filipina, Thailand, Banglades, dan beberapa negara lain.
Namun, sebagian pembelaan itu jelas salah dan tidak tepat. Sekadar contoh, Ted dan Bob Kennedy, Hillary Clinton,

Gandhi beserta anak menantunya, begitu pula Benazir yang tertembak, tidak berkiprah di politik semata-mata karena
nepotisme. Mereka tak sekadar memiliki reputasi, rekam jejak, dan kapabilitas, tetapi juga sebagian memiliki latar
belakang pendidikan bidang politik atau hukum yang memadai. Jadi, kalaupun terbentuk dinasti politik atas dasar
garis darah, citra publik mereka cenderung positif.
Neopatrimonial
Sementara itu, yang berlangsung di Indonesia acapkali adalah kecenderungan para elite politik berlaku aji mumpung.
Artinya, mumpung sang bapak sedang berkuasa, diwariskanlah kekuasaan serupa untuk anak, istri, atau anggota
keluarga yang lain. Akhirnya yang berkembang adalah format patrimonial dengan kutub ekstremnya: negara
patrimonial. Sebagaimana berlaku pada monarki tradisional, di negara patrimonial kekuasaan, baik politik maupun
ekonomi, diwariskan secara turun-temurun di para keluarga ataupun kerabat istana.
Gejala menguatnya kembali nepotisme di balik proses pencalonan legislatif dewasa ini mungkin belum separah
negara patrimonial karena para caleg yang ditawarkan itu akan dipilih melalui pemilu demokratis. Namun
persoalannya, sistem pemilu atas dasar nomor urut dan struktur sebagian besar partai yang masih oligarkis relatif
belum memberikan kesempatan bagi publik untuk memilih caleg atas dasar kapabilitas, rekam jejak, dan kompetensi
mereka. Format kepartaian dan perwakilan politik yang berlaku pasca-Soeharto masih memberi ruang yang lebar
berkibarnya nepotisme politik.
Karena itu, jika budaya politik tradisional dan tidak sehat ini terus berlangsung dalam politik nasional, maka tidak
mustahil patrimonialisme baru dalam skala partai tumbuh membesar dalam skala negara dan berujung pada
ketidakpercayaan publik terhadap proses demokrasi. Fenomena golput yang relatif tinggi dalam berbagai pilkada
provinsi dan kabupaten/kota bisa jadi merupakan pertanda mulai runtuhnya kepercayaan publik terhadap segenap
proses demokrasi itu.
Personalisasi kekuasaan
Salah satu dampak dari nepotisme politik dalam proses rekrutmen politik adalah tidak kunjung melembaganya partai
sebagai sebuah organisasi modern dan demokratis. Nepotisme tak hanya menutup peluang para kader atau aktivis
partai yang benar-benar berjuang meniti karier politik dari bawah, tetapi juga menjadi perangkap berkembang
biaknya personalisasi kekuasaan dan kepemimpinan oligarkis partai-partai.
Implikasi lain dari menguatnya nepotisme dalam rekrutmen politik adalah semakin melembaganya praktik korupsi
politik dalam arti luas. Apabila para elite terbiasa mengambil hak politik para kader dan aktivis partai, yang menjadi
korban berikutnya adalah rakyat melalui korupsi berjemaah atas dana publik, seperti marak dalam sejumlah kasus
mutakhir.
Rezim Orde Baru sebenarnya memberi pelajaran amat berharga bagi bangsa ini betapa berbahayanya praktik
korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun ironisnya para elite politik kita tak kunjung sadar akan hal itu. Semoga masih
ada elite politik yang tidak sekadar mengambil untuk diri dan keluarga, tetapi juga memberi bagi Tanah Air tercinta.
Syamsuddin Haris Profesor Riset Ilmu Politik LIPI.
Penyebab : banyaknya para petinggi partai yang menempatkan keluarganya di posisi-posisi yang strategis tanpa
melihat kader lain yang sudah berusaha keras untuk mendapatkan posisi tersebut.
Solusi : sebaiknya petinggi partai harus bersikap adil jangan hanya melihat itu keluarganya atau bukan. Tetapi dari
segi kemampuan dan potensi juga harus dipertimbangkan.
Penyebab :
Solusi :

Nepotisme SBY di Balik Pengangkatan KSAD


Amanat reformasi yang digulirkan mahasiswa pada 1998 adalah anti kolusi, korupsi, dan
nepotisme (KKN). Sayangnya, KKN yang terjadi kini justru lebih hebat dan lebih masif
dibandingkan yang terjadi pada zaman Orde Baru (Orba) yang ditumbangkan kekuatan
reformasi. Contoh terbaru nepotisme itu adalah dengan ditunjuknya Pramonon Edhi Wibowo
sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang baru oleh SBY.
Demikian benang merah yang mengemuka dalam diskusi publik bertema Nepotisme Menggurita,
Demokrasi Terancam Petaka, di Rumah Perubahan 2.0, Senin (4/7).
Diskusi menghadirkan anggota DPD Wayan Sudirta, pengamat politik UI Aris Santosa, dan
Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M. Massardie. Namun juga hadir dalam
diskusi itu sejumlah tokoh, antara lain ekonom senior Rizal Ramli, pengasuh Pondok Pesantren
Tebu Ireng Solahudin Wahid yang akrab disapai Gus Sholah, pakar hukum tata negara J.E
Sahetapy, dan tokoh lintas agama Djohan Effendi.
Menurut Gus Sholah, nepotisme biasanya menjadi salah satu penyebab runtuhnya kekuasaan
sebuah rezim. Contoh tentang itu terjadi pada 1998, yaitu ketika Presiden Soeharto mengangkat
Siti Hardyianti Rukmana atau Mbak Tutut sebagai Menteri Sosial.
Saat itu masyarakat menilai langkah Pak Harto sebagai suatu yang melampaui batas. Saya tidak
tahu, apakah diangkatnya Jenderal Pramono yang juga ipar SBY sebagai KASAD bisa dianggap
sebagai langkah yang melampaui batas pula, ujar Gus Sholah.
Sementara itu, Rizal berpendapat pengangkatan Pramono sebagai KASAD tidak lebih dan tidak
kurang menunjukkan bagaimana SBY semakin takut dan khawatir. Itulah sebabnya dia
mengangkat orang yang diyakini benar-benar loyal kepadanya sebagai petinggi TNI AD. Dengan
demikian, SBY ingin ada semacam jaminan, bahwa posisi dan keamanannya kelak benar-benar
terjamin.
Pertanyaannya, apakah KASAD Pramono akan berani menggunakan TNI untuk membela
iparnya jika mahasiswa benar-benar turun ke jalan untuk menumbangkan SBY, tukas Rizal yang
juga bekas Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan di era Presiden Gus Dur.
Senada dengan Rizal, Sahetapy mengatakan untuk mengubah Indonesia agar menjadi negara dan
bangsa yang maju, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuang budaya nepotisme.
Namun langkah itu memerlukan waktu yang lama. Padahal saat ini kita tidak punya cukup
waktu. Budaya nepotisme kita berkali-kali membuktikan sebagai suatu hal yang buruk.
Tidak ada sistem

Menyangkut pengangkatan Pramono sebagai KASAD, baik Wayan, Aris maupun Adhie
berpendapat hal itu terjadi karena tidak adanya sistem yang jelas. Penunjukan KASAD selama
ini cenderung tidak jelas, dan lebih banyak ditentukan oleh selera dan kepentingan presiden.
Padahal, kalau sistemnya jelas, bisa jadi Pramono memang layak menjadi KASAD. Misalnya,
ada kriteria pemilihan yang jelas yang antara lain ditunjukkan melalui scoring tertinggi di antara
sejumlah calon yang ada, ujar Wayan.
Soal tiadanya sistem yang jelas di TNI ini juga diakui Aris. Namun dia menyangsikan apakah
sistem ini bisa diterapkan di kalangan tentara. Menurut dia, TNI memiliki tradisi soal
kepangkatan dan jabatan sendiri. Bagi mereka, jabatan bukan sekadar perkara prestasi atau
kinerja semata. Jabatan ini punya arti politis yang akan sangat menentukan nasib rekan-rekan
angkatan atau korpsnya.
Pencitraan hancurkan demokrasi
Sementara itu, Adhie menilai politik pencitraan yang dilakukan SBY telah benar-benar
menghancurkan demokrasi. Lewat pencitraan, rekam jejak dan integritas yang dibangun selama
belasan bahkan puluhan tahun, bisa dikalahkan hanya dalam tempo beberapa bulan saja.
Namun, politik pencitraan memerlukan dana besar. Antara lain untuk membiayai survei yang
pertanyaannya sudah diatur sedemikian rupa, iklan di media massa, baliho, money politic, dan
lainnya. Untuk memperoleh dana besar itu, politisi harus melakukan kolusi. Nanti setelah
terpilih, dia harus kembali meakukan korupsi untuk menggantikan investasi yang telah
dikeluarkan selama pencalonan dan pemilihan, tutur Adhie.

Nepotisme Penyebab Praktik Korupsi Sumut


MEDAN Banyaknya kasus korupsi yang terjadi di Sumatera Utara (Sumut) dikarenakan
praktik nepotisme yang mendarah daging.
Hal ini dikatakan, Analis Hukum, Ikhwaludin Simatupang. Pola rekrutmen di Sumut yang
selama ini mengandalkan kekeluargaan dan uang membuat Sumut susah memberantas korupsi.
Selain itu, lanjut Ikhwaludin, lambannya kinerja Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dalam
menangani korupsi juga membuat kasus korupsi seperti mandeg.
Ada dua pengaruh pertama kejatisu memang aktif atau memang kasusnya yang terlalu
banyak,ucapnya.

Untuk itu, Ikhwaludin mengimbau agar semua pihak harus bekerja sama memberantas korupsi di
Sumut. Jangan sampai kita semakin malu dikatakan provinsi terkorup di Indonesia, tegasnya.