Anda di halaman 1dari 3

KERUGIAN YANG DI TIMBULKAN OLEH Campylobacter sp

1. CAMPYLOBACTERIOSIS PADA MANUSIA


Angka kejadian campylobacteriosis pada pasien penderita diare hampir sama dengan
kejadian salmonellosis atau shigellosis. Hasil penelitian di negara Amerika menunjukkan angka
kejadian salmonelosis berkisar 300-1500 kasus/100.000 penduduk, infeksi Escherichia coli 30
kasus/tahun (SPARLING, 1998) dan campylobacteriosis 1/1000 orang. Laporan dari negara
Inggris dan Wales, lebih dari 1% populasi terinfeksi setiap tahunnya dengan kerugian ekonomi
mencapai 12 million. Sebaliknya di Indonesia hanya sedikit informasi mengenai infeksi C.
jejuni pada manusia, salah satunya adalah yang dilaporkan oleh BALITVET, Bogor pada tahun
1984 yaitu tentang kasus keracunan susu C. jejuni di Jawa Barat.
Masa inkubasi campylobacteriosis pada manusia umumnya 2 4 hari ketika kuman
mengalami multiplikasi dalam usus dan mencapai jumlah 106 109 per gram feses. Untuk
terjadinya infeksi hanya diperlukan sekitar 800 kuman C. jejuni dengan gejala klinis berupa
demam, diare, muntah dan sakit perut. C. jejuni menghasilkan enterotoksin yang mirip dengan
penyakit kolera dan toksin Escherichia coli.
Banyak kejadian Campylobacteriosis pada manusia bersifat sporadik. Kejadian dari
penyakit ini memiliki karakteristik epidemiologik yang berbeda dari infeksi sproradik. Penyakit
umumnya terjadi pada musim semi dan gugur. Konsumsi susu mentah sebagai sumber infeksi
pada 30 dari 80 kejadian luar biasa Campylobacteriosis pada manusia, seperti yang dilaporkan
oleh CDC antara tahun 1973 dan 1992. Terjadinya penyakit ini disebabkan oleh mengkonsumsi
susu mentah pada saat kunjungan anak sekolah ke peternakan selama musim sedang. Sebaliknya,
puncak Campylobacter sporadic terjadi selama musim panas.
Faktor resiko lainnya yang proporsinya lebih kecil dari penyakit sproradik diantaranya
minum air yang tidak dimasak dengan baik, perjalanan ke luar negeri, mengkonsumsi babi
panggang atau sosis, minum susu mentah atau susu botol, kontak dengan anjing atau kucing,
khususnya binatang kesayangan anak-anak atau binatang kesayangan yang terkena diare.
Penyebaran dari manusia ke manusia tidak umum terjadi. Pangan asal hewan merupakan faktor
penting dalam penyebaran Campylobacter jejuni terhadap manusia.

Di Amerika Serikat Campylobacter umumnya menyerang pada bayi, kurang lebih 14 per
100.000 per tahun terjangkit penyakit ini. Dengan samakin bertambahnya umur (anak-anak),
maka kejadian semakin menurun yaitu 4 per 100.000 orang per tahun. Kejadian pada orang
dewasa meningkat lagi yaitu sebesar 8 per 100.000 orang pertahun. Diantara umur remaja dan
dewasa, diperkirakan < 3 per 100.000 orang per tahun. Setiap orang ada kecenderungan dapat
terinfeksi kuman C. jejuni, tetapi anak di bawah umur 5 tahun dan orang dewasa (15-29 tahun)
merupakan yang paling rentan terinfeksi kuman ini
2. CAMPYOBACTERIOSIS PADA HEWAN

CAMPYLOBACTER PADA AYAM


Campylobacter jejuni secara alami ada dalam saluran pencernaan ayam. Sumber terjadinya
infeksi pada ayam dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu dari infeksi day of chick (DOC) dari
ayam dewasa, kontaminasi pakan, dan kontaminasi air. Selama proses pemotongan bakteri C.
jejuni akan menyebar ke karkas ayam. Kontaminasi C. jejuni pada ayam telah dilaporkan di
beberapa negara berkisar 22-78% pada produk ayam (HARRIS et al., 1986; PARK et al., 1981;
STERN et al., 1985). Di USA, mayoritas karkas ayam yang dijual di pasaran terkontaminasi
oleh C. jejuni (GRANT et al., 1980). Survey menunjukkan bahwa C. jejuni telah berhasil
diisolasi dari retail market sebanyak 92% dari karkas ayam dan 85-89% dari hati dan ampela
ayam. Sebanyak 50% dari hati dan ampela ayam yang terkontaminasi mengandung kuman lebih
dari 1100 C. jejuni per gram (BUTZLER, 1984). Rekoveri C. jejuni pada karkas dapat
dipengaruhi oleh proporsi dari flock yang terinfeksi, faktor musim dan cuaca, peralatan untuk
memproses karkas, teknik sampling dan isolasi (SHANE, 2000). Level C. jejuni pada karkas
dan produknya sangat dipengaruhi oleh penanganan dan penyimpanan (PALUMBO, 1984).
Karkas yang dibekukan dan kemudian dicairkan kembali juga panas akan mengurangi nilai
recovery C. jejuni pada karkas.
C. jejuni relatif toleran terhadap pembekuan (HANNINEN, 1981). Penyimpanan karkas ayam
pada suhu -200C dengan level bakteri 103 105 CFU/g, jumlah bakteri akan berkurang log 0,5
2,0 dalam waktu 2 minggu. Infeksi C. jejuni dengan tingkat kontaminasi 103 CFU pada karkas
sangat sensitif apabila dipanaskan pada suhu 1900C selama 90 menit (SHANE, 2000).
Penyebab kekerdilan :
Bakteri anaerob Campylobacter spp. bersama-sama dengan agen virus mempunyai peranan
dalam menginduksi sindroma kekerdilan pada ayam pedaging dengan terlihat menghambat laju
pertumbuhan, perubahan pertumbuhan bulu helikopter dan gejala klinis berupa diare dan depresi
pada ayam-ayam perubahan. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk menentukan karakterisasi
dan sifatkeganasanisolat Campylobacter spp. tersebut.

3. CAMPYLOBACTER PADA KERUGIAN PETERNAKAN


Kerugian besar akan diterima oleh peternakan yang terinfeksi bakteri tersebut, sebab, kerdil
bukan lah hasil yang di harapan dari hewan ternak. Hal ini membuat penurunan harga pada hasil
panen ayam tersebut , selain itu pada peternakan ayam broiler di ketaui , konsistensi timbangan
karkas adalah hal mutlak yang dapat menjaga keawetan pelanggan, sebab dapat di ketahui bahwa
persaingan di duni ternak sangat ketat. Oleh karna itu kualitas mutu sangat berpengaruh.
Kejadian infeksi Campylobacter sp. pada hewan sangat bervariasi, akan tetapi infeksi C. jejuni
pada peternakan ayam memegang peranan penting. Usaha mengurangi kejadian infeksi pada
ayam merupakan usaha yang penting untuk memperbaiki sistem produksi dan untuk mengurangi
kejadian kontaminasi agen infeksi C. jejuni serta mempunyai peranan penting dalam bidang
kesehatan masyarakat. Metode cepat untuk deteksi C. jejuni sangat diperlukan untuk mengetahui
sumber kontaminasi. Metode direct PCR (DPCR) merupakan deteksi cepat dan sensitif untuk
menentukan keberadaan bakteri patogen dalam
sampel tanpa melakukan isolasi DNA (FodeVaughan et al., 2001). Metode DPCR digunakan
sebagai teknik deteksi dasar dalam produksi bahan pangan untuk meningkatkan standar
keamanan pangan (Archana dan Taha, 2010). Menurut Blackburn dan Clure (2003)
Campylobacter sp. adalah mikroorganisme yang sulit dikultur. Pendekatan secara molekuler
untuk mendeteksi bakteri kontaminan dalam bahan pangan terutama Campylobacter sp. mampu
membedakan sampai tingkat spesies