Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)

Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe


Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

PENINGKATAN KUALITAS ASAP CAIR DENGAN DISTILASI


Fachraniah*), Zahra Fona*), Zahratur Rahmi**)
ABSTRAK
Asap cair diperoleh dari kondensasi uap hasil pirolisis serbuk kayu gergajian.
Distilasi dilakukan untuk meningkatkan kualitas asap cair yang dihasilkan. Distilasi
dilakukan pada temperatur 100 oC (fraksi I), 101125 oC (fraksi II), 126-150 oC
(fraksi III) dan 151-200 oC (fraksi IV), selanjutnya ditentukan indeks bias,
konsentrasi asam, pH, densiti, analisis warna dan aroma asap. Hasil menunjukkan
adanya perbedaan karakteristik asap cair sebelum dan sesudah distilasi. Indeks bias
menjadi lebih kecil, pH makin rendah, konsentrasi asam makin pekat, warna makin
jernih dan aroma asap makin kuat. Variasi temperatur distilasi menunjukkan bahwa
semakin tinggi temperatur maka pH makin rendah, sedangkan densiti dan
konsentrasi asam makin tinggi. Kondisi optimal distilasi diperoleh pada fraksi III.
Kata kunci : Serbuk kayu gergajian, pirolisis, distilasi dan asap cair
Penggunaan asap cair lebih
menguntungkan daripada menggunakan
metode pengasapan langsung karena
warna dan citarasa produk dapat
dikendalikan, produk karsinogen lebih
kecil, dan proses dapat dilakukan
dengan cepat.
Salah satu cara untuk memperoleh
sifat organoleptik yang diinginkan
adalah dengan perlakuan distilasi,
sehingga diharapkan metode distilasi
dapat menghasilkan asap cair yang
lebih bermutu sebagai bahan pengawet
yang murah dan aman bagi kesehatan.

PENDAHULUAN
Berbagai jenis kayu dapat
digunakan sebagai bahan dasar
pembuatan asap cair (Tranggono
dkk.,1996 dalam Elvira, 2004). Untuk
mendapatkan asap yang berkualitas
sebaiknya menggunakan kayu keras
seperti kayu bakau, kayu rasamala,
serbuk kayu jati serta tempurung
kelapa. Limbah serbuk kayu gergajian
dapat dimanfaatkan untuk memperoleh
asap cair melalui kondensasi uap hasil
proses pirolisis. Cara tersebut dapat
meningkatkan nilai tambah serbuk kayu
gergajian karena asap cair yang
dihasilkan mempunyai nilai ekonomi
yang cukup tinggi.
Penggunaan asap cair terutama
dikaitkan dengan sifat-sifat fungsional
asap cair, diantaranya adalah sebagai
antioksidan, antibakteri, antijamur, dan
potensinya dalam pembentukan warna
coklat pada produk celupan. Asap cair
dapat diaplikasikan pada bahan pangan
karena
dapat
berperan
dalam
pengawetan bahan pangan.

TINJAUAN PUSTAKA
Serbuk kayu
Serbuk kayu merupakan salah
satu limbah yang dihasilkan dari proses
penggergajian kayu. Serbuk kayu
memiliki komponen kimia yang sama
dengan kayu. Komponen kimia serbuk
kayu tergantung dari jenis kayu
asalnya. Unsur-unsur penyusun kayu
terkandung dalam sejumlah senyawa
organik. seperti selulosa, hemiselulosa

*) Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe


**)Alumni Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

dan lignin. Komponen


terdiri dari 3 unsur,
karbohidrat yang terdiri
dan
hemiselulosa,

kimia kayu
yaitu unsur
dari selulosa
unsur
non

karbohidrat yang terdiri dari lignin, dan


unsur-unsur yang diendapkan dalam
kayu selama proses pertumbuhan (zat
ekstraktif).

Tabel 1 Klasifikasi komponen kimia kayu Indonesia


Komponen

Kelas komponen
Sedang (%)

Tinggi (%)

Rendah (%)

Kayu daun lebar


- Selulosa
- Lignin
- Pentosan
- Zat ekstraktif
- Abu

45
33
24
3
6

40-44
18-32
21-24
2-3
0,22-6

40
18
21
2
0,22

Kayu daun jarum


- Selulosa
- Lignin
- Pentosan
- Zat ekstraktif
- Abu

44
32
13
7
0,89

41-44
28-32
8-13
5-7
0,89

41
28
8
5
0,89

Sumber : Vademacum Kehutanan Indonesia dalam Erliza dkk, 2007

Senyawa
yang
berhasil
dideteksi di dalam asap dikelompokkan
menjadi beberapa golongan :
a. Senyawa Fenol
Senyawa fenol diduga berperan
sebagai antioksidan sehingga dapat
memperpanjang masa simpan produk
asapan. Kandungan Senyawa fenol
dalam asap sangat tergantung pada
temperatur pirolisis kayu. Kualitas
fenol pada kayu sangat bervariasi yaitu
antara 10-200 mg/kg. Beberapa jenis
fenol yang biasanya terdapat dalam
produk asapan adalah guaiakol dan
siringol.

Asap Cair
Asap cair adalah destilat asap
yang merupakan campuran larutan dari
dispersi asap hasil pirolisis kayu. Asap
cair mengandung lebih dari 400
komponen dan memiliki fungsi sebagai
penghambat perkembangan bakteri dan
cukup aman sebagai pengawet alami.
Cara memproduksi asap cair serbuk
gergaji dikeringkan agar kadar airnya
konsisten, kemudian dipirolisis dengan
waktu dan suhu tertentu. Asap
kemudian dikondensasikan melalui
suatu kondensor dengan menggunakan
media air sebagai pendingin. Produk
kasar ini didiamkan dalam tangki
penampungan selama kurang lebih 10
hari untuk mengendapkan komponen
larut.

OCH3
HO

HO

H3CO

H3CO

Guaiakol

Siringol

Gambar 1. Jenis senyawa fenol

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

b. Senyawa Karbonil.
Senyawa-senyawa
karbonil
dalam asap memiliki peranan pada
pewarnaan dan citarasa produk asapan.
Jenis Senyawa karbonil yang terdapat
dalam asap cair antara lain adalah
vanilin dan siringaldehid.

Sifat Fungsional Asap


Fungsi komponen asap terutama
adalah untuk memberi flavor dan warna
yang diinginkan pada produk asapan,
dan berperan dalam pengawetan serta
bertindak sebagai antibakteri dan
antioksidan, yaitu :
a. Pemberi flavor
Asap cair memberikan flavor
asap khas yang tidak dapat digantikan
dengan cara lain. Fenol merupakan
Senyawa yang paling bertanggung
jawab pada pembentukan aroma tipikal
yang diinginkan pada produk asapan.
Fenol dalam hubungannya dengan sifat
sensoris mempunyai bau tajam
menyengat. Meskipun Senyawa fenol
memegang peranan penting dalam
flavor asap, namun diperlukan senyawa
lain seperti karbonil dan lakton agar
flavor karakteristik asap dapat muncul.

OCH3
HO

HO

O
C

H3CO

Vanilin

O
H3CO

C
H

Siringaldehida

Gambar 2. Jenis senyawa karbonil


c. Senyawa Asam
Senyawa-senyawa asam mempunyai peranan sebagai antibakteri dan
membentuk citarasa produk asapan.
Senyawa asam ini antara lain adalah
asam asetat, propionat, butirat, dan
valerat.

b. Pemberi warna
Opini umum pembentukan
warna pada pengasapan adalah bahwa
warna dihasilkan langsung oleh tar
yang terdeposit pada permukaan selama
proses pengasapan. Warna produk
berkisar dari kuning keemasan sampai
coklat gelap. Padahal warna tersebut
disebabkan oleh senyawa karbonil.

d. Senyawa Hidrokarbon Polisiklis


Aromatis (HPA)
Senyawa HPA dapat terbentuk
pada proses pirolisis kayu, seperti
benzo(a)pirena, disebut Tar dan
memiliki pengaruh buruk karena
bersifat karsinogen sehingga harus
dihilangkan pada
proses awal
pembuatan asap cair. Pembentukan
berbagai
Senyawa HPA selama
pembuatan asap tergantung dari
beberapa hal, seperti temperatur
pirolisis, waktu dan kelembaban udara
pada proses pembuatan asap serta
kandungan
udara
dalam
kayu.
Pengendapan dan penyaringan akan
menurunkan kadar bezo(a)pirena dalam
asap cair
e. Alkohol dan Ester
f. Hidrokarbon Alifatik
g. Lakton

c. Antibakteri
Potensi asap cair sebagai
antibakteri dapat memperpanjang masa
simpan produk dengan mencegah
kerusakan akibat aktivitas bakteri
perusak atau pembusuk dan juga dapat
melindungi konsumen dari penyakit
karena aktivitas bakteri patogen.
Senyawa yang mendukung sifat
antibakteri dalam asap cair adalah fenol
dan asam. Asap lebih kuat menghambat
pertumbuhan bakteri daripada senyawa
fenol, namun apabila keduanya
digabungkan
akan
menghasilkan
3

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

kemampuan penghambat yang lebih


besar
daripada
masing-masing
senyawa.

dapat memperbaiki kualitas produk


karet yang dihasilkan.
c. Industri Kayu
Kayu yang diolesi dengan asap
cair mempunyai ketahanan terhadap
serangan rayap daripada kayu tanpa
diolesi asap cair dan
juga bisa
digunakan untuk bahan campuran
larutan
finishing
meubel
guna
menambah ketahanan warna kuning
keemasan (M. Zaman, 2007).

Manfaat Asap Cair


Asap cair memiliki banyak
manfaat dan telah digunakan pada
berbagai industri, antara lain :
a. Industri Pangan
Asap cair memiliki kegunaan yang
sangat besar sebagai pemberi rasa dan
aroma yang spesifik juga sebagai
pengawet karena sifat anti mikroba dan
antioksidan. Dengan tersedianya asap
cair
maka
proses
pengasapan
tradisional dengan menggunakan asap
secara langsung yang mengandung
banyak kelemahan seperti pencemaran
lingkungan, proses tidak dikendalikan,
kualitas yang tidak konsisten serta
timbulnya bahaya kebakaran yang
semua tersebut dapat dihindari.

Pirolisis
Pirolisis disebut juga sebagai
Destructive distillation yaitu suatu
proses penguraian material berserat
pada suhu tinggi tanpa kontak langsung
dengan udara untuk menghasilkan
arang dan larutan pirognate. Peruraian
pirolitik kayu dengan adanya udara atau
oksigen dalam suhu akhir sekitar 500OC
menghasilkan tiga kelompok umum
senyawa, yaitu komponen-komponen
padat, senyawa-senyawa yang mudah
menguap dan dapat dikondensasikan,
dan gas-gas yang mudah menguap dan
tidak dapat dikondensasikan.

b. Industri perkebunan
Asap cair dapat digunakan
sebagai koagulan lateks dengan sifat
fungsional asap cair seperti antijamur,
antibakteri dan antioksidan tersebut

Tabel 2. Produk-produk pirolisis berbagai kayu pada 400 oC


Kayu

Arang
(%)

Asam asetat
(%)

Metanol
(%)

Tar
(%)

Gas
(%)

Pinus
Spruce
Alder
Beech
Ekaliptus
Maple
Oak
Red ironwood

32,8
34,2
35,5
32,5
36,5
35,0
35,7
41,4

3,9
3,6
6,5
7,7
4,1
6,6
5,6
3,1

1,5
1,7
1,9
2,1
2,1
1,8
1,6
2,4

18,9
15,6
16,2
14
12,3
15,5
13,6
11,0

15,4
15,2
16,8
16,0
16,3
15,5
14,9
17,2

Sumber : Brocksiepe 1976 dalam D. Fengel dan G. Wagener, 1995.

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

Proses
pirolisis
telah
lama
dimanfaatkan untuk memperoleh selain
arang juga bahan kimia, seperti metanol
dan terpentin. Fraksi-fraksi pirolitik
kasar tar dan minyak merupakan
campuran yang sangat kompleks yang
terutama terdiri dari komponenkomponen minyak ringan dan berat
yang dapat digunakan untuk tujuan
impregnasi dan dalam penggunaan
obat-obatan.
Percobaan
dengan
berbagai spesies kayu yang dipanaskan
pada 400 oC menghasilkan sekitar 3341% arang, 3-7% asam asetat, 1.5-2.5%
metanol, 11-19% tar, dan 15-17% gas
yang tidak dapat dikondensasi. Hal-hal
yang mempengaruhi proses pirolisis
adalah waktu pemanasan, suhu
pemanasan, dan ukuran bahan. Produkproduk pirolisis berbagai kayu pada
400oC diperlihatkan pada Tabel 2
(Brocksiepe 1976 dalam D. Fengel dan
G. Wagener, 1995).

Campuran
zat
dididihkan
sehingga menguap dan uap didinginkan
kembali ke dalam bentuk cairan. Zat
yang memiliki titik didih lebih rendah
akan menguap lebih dulu. Uap yang
dikeluarkan dari campuran disebut
sebagai uap bebas, kondensat yang
jatuh sebagai destilat dan bagian cairan
yang tidak menguap sebagai residu.
Produk destilat yang pertama kali
tertampung
mempunyai
kadar
komponen
yang
lebih
ringan
dibandingkan dengan destilat yang lain.
Metode ini merupakan termasuk
unit operasi kimia jenis perpindahan
massa. Penerapan proses ini didasarkan
pada teori bahwa pada suatu larutan,
masing-masing
komponen
akan
menguap
pada
titik
didihnya.
Komponen-komponen dominan yang
mendukung sifat-sifat fungsional asap
cair adalah senyawa fenolat, karbonil
dan asam.
Pada distilasi asap cair, variasi
temperatur
bertujuan
untuk
mendapatkan asap cair dengan sifatsifat fungsional yang menonjol.
Misalnya, pada temperatur 100 oC
(menghilangkan atau menguapkan
o
kandungan
air),
101125
C
(mendapatkan kandungan asam asetat ),
126-150 oC (mendapatkan kandungan
o
asam
propianat),
151-200
C
(mendapatkan kandungan asam butirat
dan asam isovalerat) dan sebagainya.

Distilasi
Distilasi adalah suatu metode
pemisahan berdasarkan perbedaan
kecepatan atau kemudahan menguap
(volatilitas) bahan.

METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan menggunakan seperangkat alat pirolosis,
seperangkat alat distilasi, timbangan,
dan alat-alat gelas sebagai pendukung
lainnya. Bahan baku berupa limbah
kayu gergajian dari panglong di daerah
Punteuet Buketrata Lhokseumawe,
indikator fenolftalin dan natrium
hidroksida digunakan sebagai reagen

Gambar 3. Perlengkapan distilasi di


laboratorium
5

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

penitrasi. Temperatur Pirolisis 250 oC


dengan waktu 12
jam, sedangkan
waktu distilasi 8 jam dengan variasi
Temperatur 100 oC, 101125oC,
126-150 oC, dan 151-200 oC. Analisis
produk meliputi nilai Indeks bias,
Konsentrasi asam, Derajat keasaman
(pH), Warna, dan aroma. Penelitian ini
dilakukan dalam tiga tahap, yaitu
proses pirolisis, distilasi, dan tahap
analisis.

penentuan Kadar Asam dilakukan


dengan cara titrasi, penentuan nilai pH
dengan alat pH Meter, penentuan
Warna diamati secara visual dan aroma
sampel asap cair dibaui dengan indera
penciuman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah melakukan penelitian,
hasil yang diperoleh meliputi rendemen
asap cair dari hasil pirolisis, empat
fraksi hasil distilasi dan analisis
kualitas asap cair berupa nilai indeks
bias, densiti, kadar asam, pH, warna,
dan aroma.

Proses Pirolisis
Serbuk kayu gergajian yang
sudah dibersihkan dan dikeringkan
ditimbang sebanyak 20 kg, selanjutnya
dimasukkan ke dalam tangki pirolisis
yang telah dihubungkan dengan
kondensor. Alat pirolisis dijalankan
pada temperatur 250 oC selama 12 jam.
Hasil kondensasi berupa asap cair
ditampung, diendapkan selama 10 hari,
kemudian disaring dan dianalisis.

Hasil Pirolisis
Pirolisis serbuk kayu gergajian
sebanyak 20 kg secara batch
menggunakan reaktor pirolisis pada
suhu 250 oC selama 12 jam
menghasilkan asap cair sebanyak 5,8
liter dan rendemennya sebesar 29,88 %.

Distilasi
Asap cair sebanyak 400 ml
dimasukkan ke dalam labu bulat ukuran
500 ml, dididihkan dengan mantel
pemanas dengan variasi temperatur,
yaitu 100 oC untuk fraksi I, 101125 o
C untuk fraksi II, 126-150 oC untuk
fraksi III dan 151-200 oC untuk fraksi
IV.

Hasil Distilasi
Asap cair hasil pirolisis
selanjutnya dilakukan proses distilasi
dengan variasi temperatur untuk
mendapatkan empat fraksi yang
tujuannya adalah untuk memisahkan tar
dan untuk mendapatkan asap cair
dengan sifat-sifat fungsional yang
menonjol. Dengan proses distilasi ini
diharapkan asap cair yang dihasilkan
memiliki warna yang lebih jernih dan
tetap memiliki aroma asap. Hasil
distilasi asap cair sebanyak 400 ml
disajikan pada Tabel 4.

Tahap Analisis
Indeks Bias ditentukan dengan
alat Refraktometer, pengukuran Densiti
dilakukan
dengan
piknometer,

Tabel 4. Hasil distilasi asap cair sebanyak 400 ml.


Fraksi (suhu)
I ( 100 oC)
II (101125 oC)
III (126-150 oC)
IV (151-200 oC)

Volume ( ml )
105
250
10
8

Rendemen ( % )
26,25
62,5
2,5
2

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

Dari Tabel 4 dapat dilihat


bahwa rendemen terbesar adalah fraksi
II yaitu sebesar 62,5 %, ini dikarenakan
bahwa pada fraksi II mengandung
banyak senyawa yang memiliki titik
didih antara 101-125oC. Sedangkan
fraksi terkecil adalah fraksi IV yaitu
sebesar 2 %. Hal ini diperkirakan
karena fraksi IV adalah fraksi yang
paling terakhir dimana fraksi-fraksi
yang ringan telah menguap terlebih
dahulu. Jika dijumlahkan seluruh asap

cair dari fraksi I-IV maka diperoleh


93,25 % (v/v). Jadi, jumlah asap cair
yang tidak terdistilasi adalah sebanyak
6,75 % yaitu tar dan senyawa-senyawa
yang memiliki titik didih >200 oC.
Hasil Analisis
a. Indeks Bias
Grafik yang memperlihatkan
pengaruh temperatur distilasi terhadap
indeks bias asap cair dapat dilihat pada
Gambar 4.

Tabel 5. Perbandingan indeks bias, densiti, pH dan konsentrasi asam asetat


(CH3COOH) asap cair sebelum dan sesudah proses distilasi.
Fraksi

Indek Bias

I
II
III
IV
V*

1,3469
1,3415
1,3440
1,3700
1,3731

Densiti
(gr/ml)
1,0016
1,0184
1,0212
1,0280
1,0304

pH
1,35
1,14
0,97
0,36
1,43

Konsentrasi Asam
Asetat (N)
0,7
1,25
1,8
7,25
0,45

Keterangan : * adalah asap cair sebelum didistilasi

1.3800

Indeks Bias

1.3700
1.3600
1.3500
1.3400
1.3300
1.3200
I

II

III

IV

Fraksi

Gambar 4. Grafik temperatur distilasi terhadap indeks bias asap cair.


Pada Tabel 5, dapat dilihat bahwa
indeks bias sesudah distilasi lebih kecil
dibandingkan dengsn sebelum distilasi.
Berdasarkan pada Gambar 4 dapat
dilihat bahwa indeks bias yang terkecil
yaitu pada fraksi II yang nilainya

hampir mendekati fraksi III, sedangkan


indeks bias terbesar terdapat pada
fraksi IV yang hampir mendekati
indeks bias sebelum distilasi. Hal
tersebut disebabkan oleh senyawa tar
dan senyawa bertitik didih tinggi

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

lainnya ikut teruapkan. Asap cair hasil


distilasi ini memiliki indeks bias yang
lebih besar bila dibandingkan dengan
asap cair yang beredar di pasaran yang
memiliki indeks bias 1,3352 (bahan
baku tempurung kelapa).

yang lebih tinggi, sehingga densitinya


hampir sama dengan densiti asap cair
sebelum didistilasi. Densiti asap cair
hasil distilasi pada fraksi III dan IV
mendekati dengan densiti asap cair
yang beredar di pasaran yaitu 1,026
gr/ml (bahan baku tempurung kelapa).

b. Densiti
Untuk mengetahui massa dari
sejumlah volume asap cair maka perlu
diukur
densiti.
Gambar
5
memperlihatkan pengaruh temperatur
distilasi terhadap densiti asap cair.
Pada Tabel 5. dapat dilihat
bahwa densiti sebelum distilasi lebih
besar daripada sesudah distilasi. Hal ini
diperkirakan
karena
masih
mengandung senyawa tar yang tidak
larut dan senyawa-senyawa berat
lainnya. Berdasarkan Gambar 5. dapat
diketahui bahwa semakin tinggi
temperatur distilasi maka semakin
besar densiti asap cair. Pada fraksi I
diperkirakan banyak kandungan air dan
pada fraksi berikutnya mengandung
senyawa asam dan senyawa lain yang
memiliki titik didih di setiap fraksi.
Dengan demikian, pada fraksi IV
kemungkinan mengandung tar dan
senyawa lain yang memiliki titik didih

c. Derajat Keasaman (pH) dan


Konsentrasi
Asam
Asetat
(CH3COOH)
Untuk
mengetahui
kadar
asam/derajat keasaman asap cair maka
perlu diukur pH asap cair masingmasing
fraksi.
Grafik
yang
memperlihatkan pengaruh temperatur
distilasi terhadap pH asap cair dapat
dilihat pada Gambar 6.
Dari Tabel 5. dapat dilihat
bahwa asap cair hasil distilasi memiliki
pH lebih rendah daripada asap cair
sebelum
distilasi.
Hal
tersebut
disebabkan karena adanya pemisahan
komponen asam pada asap cair sesudah
distilasi yang berdasarkan titik
didihnya. Pada Gambar 6. dapat dilihat
bahwa pH yang paling rendah yaitu
pada fraksi IV dan paling tinggi pada
fraksi I. Dapat disimpulkan bahwa asap
cair hasil distilasi dengan urutan

1.0300

Densiti
(gr/m l)

1.0200
1.0100
1.0000
0.9900
0.9800
I

II

III

IV

Fraksi

Gambar 5. Grafik temperatur distilasi terhadap densiti asap cair.

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

1.6
1.4
1.2
pH

1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
I

II

III

IV

Fraks i

Konsentrasi
Asam (N)

Gambar 6. Grafik temperatur distilasi terhadap pH asap cair

8
7
6
5
4
3
2
1
0
I

II

III

IV

Fraksi

Gambar 7. Grafik temperatur distilasi terhadap konsentrasi asam


asetat dalam asap cair
kadar asam dari yang paling kuat
adalah sebagai berikut : Asap cair
Fraksi IV > fraksi III > fraksi II >
fraksi I.
Ada kemungkinan jenis asam
yang terkandung dalam asap cair
berupa Asam Asetat (CH3COOH).
Untuk menentukan konsentrasi Asam
Asetat dapat dilakukan dengan cara
titrasi menggunakan larutan standar

NaOH
0,5
N.
Grafik
yang
memperlihatkan pengaruh temperatur
distilasi terhadap konsentrasi asam
asetat dapat dilihat pada Gambar 7.
Dari Tabel 5. dapat dilihat
bahwa asap cair setelah distilasi
memiliki konsentrasi asam asetat lebih
besar daripada asap cair sebelum
distilasi. Berdasarkan Gambar 7 dapat
diketahui bahwa konsentrasi asam

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

asetat yang paling rendah terdapat pada


fraksi I. Hal ini disebabkan kandungan
asam asetat dalam asap cair masih
sedikit teruap karena titik didihnya
belum tercapai pada fraksi I ini.
Sedangkan konsentrasi asam asetat
terbesar terdapat pada fraksi IV. Asam
asetat yang memiliki titik didih 118 oC
sudah mulai menguap pada fraksi II
dan semakin besar hingga fraksi ke IV.

kemungkinan terikutnya tar. Hasil


analisis warna asap cair ini agak sedikit
berbeda dengan warna asap cair dari
tempurung kelapa yang didapatkan
oleh Elvira, 2004 yaitu pada fraksi I
kuning muda dan fraksi II kuning
keputihan.
Asap cair memiliki aroma asap
yang khas. Asap cair sebelum distilasi
memiliki aroma asap yang kuat dan
menyengat tetapi setelah didistilasi
memiliki aroma asap yang berbedabeda tiap fraksinya. Aroma asap yang
paling kuat adalah pada fraksi I, itu
kemungkinan disebabkan oleh senyawa
karbonil yang sangat berperan dalam
menghasilkan aroma asap. Senyawa
karbonil bertitik didih rendah (2197oC) sehingga pada fraksi I sudah
mulai teruapkan. Fraksi II dan III
memiliki aroma asap yang lemah,
sedangkan fraksi IV sama dengan
aroma asap cair sebelum distilasi yaitu
memiliki aroma asap yang kuat. Pada
fraksi ini ada aromanya begitu
menyengat. Hal tersebut kemungkinan
diakibatkan oleh senyawa tar yang
terikut pada fraksi ini sehingga
menimbulkan aroma yang menyengat.
Hasil analisis aroma asap cair ini sesuai
dengan asap cair dari tempurung kelapa
yang diperoleh oleh Elvira, 2004.

d. Warna dan Aroma asap


Hasil analisis warna dan aroma
asap cair disajikan pada Tabel 6. Asap
cair sebelum distilasi memiliki warna
coklat kemerahan. Hal ini disebabkan
oleh kandungan senyawa tar yang pada
dasarnya
berwarna
hitam
dan
komponen yang memiliki berat
molekul tinggi, maka dari itu pada
penelitian ini dilakukan proses distilasi
dengan maksud menghasilkan asap cair
yang berwarna lebih jernih, sehingga
bila diaplikasikan pada bahan pangan
akan menghasilkan warna produk
asapan yang menarik dan tidak gelap
karena pada umumnya konsumen
cenderung lebih menyukai bahan
pangan yang lebih terang. Perbedaan
warna asap cair tiap fraksinya
dipengaruhi oleh adanya tar. Fraksi IV
memiliki warna yang paling gelap
karena pada temperatur tersebut
Tabel 6. Warna dan aroma asap cair
Fraksi

Warna

Aroma asap

Kuning kehijauan

Sangat kuat

II

Kuning keputihan dan jernih

Tidak kuat

III

Kuning muda dan jernih

Tidak kuat

IV

Kuning kecoklatan

Kuat dan menyengat

V*

Coklat kemerahan

Kuat dan menyengat

Keterangan : * asap cair sebelum didistilasi

10

Jurnal Reaksi (Journal of Science and Technology)


Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe
Vol. 7 No.14, Juni 2009 ISSN 1693-248X

Teknologi
Bioenergi.
AgroMedia Pustaka; Jakarta.
M. Zaman, 2007. Penanggulangan
dan Pemanfaatan Limbah
Serbuk Kayu Gergajian
Melalui Proses Pirolisis.
Karya
Ilmiah
Seminar
Kenaikan Jabatan, Politeknik
Negeri Sriwijaya; Palembang.
Nazariah, 2007. Pemanfaatan Sabut
Kelapa Sebagai Bahan Baku
Produksi Asap Cair. TGA
DIII Jurusan Teknik Kimia
Politeknik
Negeri
Lhokseumawe; Buket Rata.
Wikipedia
Indonesia.
Distilasi.
www.WikipediaIndonesia.co
m, diakses tanggal 3 Mai
2008.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat
simpulkan bahwa :
1. Ada perbedaan karakteristik antara
asap cair sebelum dan sesudah
distilasi.
2. Indeks bias dan pH asap cair
setelah distilasi lebih rendah dari
indeks bias sebelum distilasi.
3. Konsentrasi asam asetat asap cair
setelah distilasi lebih tinggi dari
konsentrasi asam asetat asap cair
sebelum distilasi.
4. Semakin
tinggi
temperatur
distilasi maka semakin tinggi
densiti dan konsentrasi
asam,
semakin rendah nilai pH.
5. Warna asap cair yang paling jernih
didapatkan pada fraksi III (126150 oC).
DAFTAR PUSTAKA
Bernasconi,G, dkk.,1995. Teknologi
Kimia, bagian 2. Terjemahan
Lienda Handojo. PT Pradnya
Paramita; Jakarta.
Elvira, 2004. Peningkatan Mutu
Asap
Cair
Tempurung
Kelapa Dengan Metode
Distilasi Dengan Variasi
Temperatur. Skripsi S-1
Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam,
UGM; Yogyakarta.
D. Fengel dan G. Wagener, 1995.
Kayu, Kimia Ultrastruktur,
Reaksi-reaksi. Terjemahan
Hardjono Sastrohamidjoyo,
Gadjah Mada University
Press; Yogyakarta.
Erliza H,, Siti M,, Armansyah HT,,
Abdul WP dan Roy H, 2007.

11