Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat.
Mutu hidup, produktivitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang
tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya kerja fisik serta
terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak
langsung dari masalah gizi kurang.
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu masalah gizi yang paling
utama pada saat ini di Indonesia adalah kurang kalori dan protein, hal ini
banyak ditemukan pada bayi dan anak yang masih kecil. Keadaan juga
diperparah karena anak dan bayi merupakan golongan rentan.
Terjadinya kerawanan gizi pada bayi selain disebabkan makanan yang
kurang juga karena Air Susu Ibu (ASI) banyak diganti dengan susu formula
dengan cara dan jumlah yang tidak memenuhi kebutuhan. Hal ini pertanda
adanya perubahan sosial dan budaya yang negatif dipandang dari segi gizi.
Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh
jumlah ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang
terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat
mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar enam bulan. Setelah
itu, ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein, vitamin, dan mineral utama
untuk bayi yang telah mendapat makanan tambahan yang berupa beras.
Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus
dimulai sedini mungkin, yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang
memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah
pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal mungkin
merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan
generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan tentang
peningkatan penggunaan ASI. Dukungan politis dari pemerintah terhadap
peningkatan penggunaan ASI termasuk ASI eksklusif telah memadai, hal ini
terbukti dengan telah dicanangkannya Gerakan Nasional Peningkatan
Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden pada hari Ibu
tanggal 22 Desember 1990 yang bertemakan "Dengan ASI, kaum ibu
mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonesia". Dalam pidatonya
1

presiden menyatakan juga bahwa ASI sebagai makanan tunggal harus


diberikan sampai bayi berusia enam bulan. Pemberian ASI tanpa pemberiaan
makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif. Selanjutnya bayi
perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian ASI di
teruskan sampai anak berusia dua tahun.
ASI merupakan makanan yang bergizi sehingga tidak memerlukan
tambahan komposisi. Disamping itu ASI mudah dicerna oleh bayi dan
langsung terserap. Diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan
ternyata mampu menghasilkan air susu dalam jumlah yang cukup untuk
keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan selama enam
bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baik pun sering dapat
menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama tiga bulan
pertama.
ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan
lagi, namun akhir-akhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu
meyusui melupakan keuntungan menyusui. Selama ini dengan membiarkan
bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal hanya sedikit bayi yang
sebenarnya menggunakan susu formula. Kalau hal yang demikian terus
berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman yang serius terhadap
upaya pelestarian dari peningkatan penggunaan ASI.
Menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2002-2003, didapati data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi di
bawah usia dua bulan hanya mencakup 64% dari total bayi yang ada.
Persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi. Yakni,
46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-5 bulan. Yang lebih
memprihatinkan, 13% bayi di bawah dua bulan telah diberi susu formula dan
satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan.
Penelitian Dr. Parma dkk di Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil Padang
di dapatkan bahwa lama pemberian ASI saja sampai 4-6 bulan pada ibu yang
karyawan adalah 12,63% dan pada ibu rumah tangga sebanyak 21,27%.
Apabila dilihat dari pendidikannya ternyata 75% dari ibu-ibu yang

berpendidikan tamat SD telah memberikan makanan pendamping ASI yang


terlalu dini pada bayi.
Berbagai alasan dikemukakan oleh ibu-ibu mengapa keliru dalam
pemanfaatan ASI secara eksklusif kepada bayinya, antara lain adalah
produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam menghisap, keadaan puting susu
ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja, desakan dari keluarga untuk segera
memberikan makanan lunak, dan pengaruh iklan/promosi pengganti ASI.
Tabel 1. Jumlah Bayi 0-6 Bulan Masih Menyusu di Kecamatan Karanggede
No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Desa
Manyaran
Semupur
Klumpit
Pinggir
Bantengan
Tegalsari
Sranten
Grogolan
Mojosari
Pengkol
Karangkepoh
Sendang
Kebonan
Klari
Bangkok
Dologan

Jumlah bayi
0-6 Bulan
26
22
10
15
24
21
16
27
7
18
20
27
23
12
14
18

Jumlah bayi 0-6 Bulan


Masih Menyusu
5
14
0
7
20
20
13
24
2
13
18
13
21
10
10
12

Total
%
19
64
0
47
83
95
81
89
29
72
90
48
91
83
71
67

Dari data laporan bulanan Puskesmas Karanggede tahun 2014,


didapatkan angka pencapaian pemberian ASI eksklusif di desa Manyaran
Kecamatan Karanggede sebanyak 19% dari target yang seharusnya dicapai
sebanyak 70%. Oleh karena itu pentingnya upaya untuk meningkatkan
pencapaian pemberian ASI Eksklusif.
B. Permasalahan
1. Keluarga
a. Pengetahuan dan pemberian ASI ekslusif yang masih rendah.

b. Kurangnya dukungan keluarga kepada ibu untuk memberikan ASI


eksklusif.
2. Masyarakat
a. Adanya anggapan di masyarakat yang berkembang bahwa susu
formula lebih baik dari pada ASI.
b. Semakin banyaknya iklan-iklan mengenai susu formula.
3. Kader
a. Promosi pemberian ASI eksklusif ke masyarakat berupa sosialisasi
melalui penyuluhan masih kurang.
b. Belum semua kader posyandu mendapatkan materi tentang ASI
eksklusif.
4. Puskesmas
a. Alat peraga yang tersedia belum menggunakan media audio visual.
b. Media dan alat peraga, seperti leaflet, poster mengenai pemberian
ASI eksklusif jumlahnya masih kurang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi ASI Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa dan garam-garam anorganik yang di sekresi oleh kelenjar mamae
ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya. ASI eksklusif adalah
pemberian

ASI

tanpa

makanan dan

minuman tambahan lain pada

bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan
dalam tahap ASI eksklusif ini.

B. Manfaat ASI dan Manyusui


Keuntungan menyusui meningkat seiring lama menyusu eksklusif
hingga enam bulan. Setelah itu, dengan tambahan makanan pendamping
ASI pada usia enam bulan, keuntungan menyusui meningkat seiring dengan
meningkatnya lama pemberian ASI sampai dua tahun.
1.
Manfaat ASI untuk bayi
ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi,
praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi
yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan
bayi, dapat juga melindungi infeksi gastrointestinal. ASI tidak
mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada
bayi. ASI juga mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat
melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin,
Lysozyme,
lactobacillus,

Complemen

C3

dan

Bifidus, Lactoferrin. ASI

C4 ,

Antistapiloccocus,

dapat

meningkatkan

kesehatan dan kecerdasan bayi serta meningkatkan jalinan kasih


sayang ibu dan anak.

2.

Manfaat ASI untuk ibu


Suatu rasa kebanggaan dari ibu, bahwa ia dapat memberikan
kehidupan kepada bayinya dan hubungan yang lebih erat karena
secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi perkembangan
psikis dan emosional antara ibu dan anak. Dengan menyusui, rahim
ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian rahim
keukuran sebelum hamil serta mempercepat berhentinya pendarahan
post partum. Dengan menyusui kesuburan ibu akan menjadi
berkurang untuk beberpa bulan dan dapat menjarangkan kehamilan.
ASI juga dapat mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa
yang akan datang.

C. Komposisi ASI

Keadaan
amino

yang

menguntungkan

dari

ASI

meliputi

asam

dan kandungan protein yang optimal untuk bayi normal. Asam

lemak esensial dalam jumlah yang berlimpah tetapi tidak berlebihan,


kandungan natrium yang relatif rendah tetapi adekuat, beban solut yang
rendah dibandingka n dengan susu sapi, dan absorbs yang sangat baik
untuk zat besi, kalsium dan seng, yang menyediakan jumlah yang adekuat
dari zat-zat nutrisi ini untuk bayi yang disusui ASI secara penuh selama 46 bulan.
ASI tidak saja mengandung makronutrien, vitamin,dan mineral tatapi
juga faktor pertumbuhan, hormon, dan faktor protektif. Paling sedikit
terdapat 100 komponen pada ASI, termasuk zat yang belum teridentifikasi
dan belum jelas perannya.
Sifat khas manusia adalah otak yang besar dan rumit, yang
mengalami banyak perkembangan selama 2 tahun pertama. ASI
menyediakan laktosa, sistein, kolestrol, dan tromboplastin yang diperlukan
untuk sintesis jaringan system syaraf pusat. Namun, karena ASI
merupakan nutrisi yang sempurna, analisis komponenya memungkinkan
kita memproduksi pengganti untuk ditambahkan kedalam susu formula.
Maka dari itu, susu formula tidak akan secara sempurna menyerupai ASI.
Walaupun ASI mungkin dapat dianggap

nutrisi yang sempurna,

komposisinya bervariasi. Komposisi ASI bervariasi dari orang ke orang,


dari satu periode laktasi ke periode lain, dan setiap jam dalam sehari.
Adapun komposisi ASI antara lain mengandung protein,

lemak,

karbohidrat, garam mineral, air, Vitamin seperti pada kolostrum.


Kolostrum mengandung zat kekebalan, vitamin A yang tinggi, lebih
kental dan berwarna kekuning-kuningan. Oleh karena itu, kolostrum
harus diberikan kepada bayi. Sekalipun produksi ASI pada hari-hari
pertama baru sedikit, namun mencukupi kebutuhan bayi. Pemberian air
gula, air tajin dan masakan pralaktal (sebelum ASI lancar diproduksi) lain
harus dihindari.
Kolostrum merupakan sekresi payudara yang bersifat alkali, yang
mungkin mulai dihasilkan selama bulan-bulan terakhir kehamilan dan

pada 2- 4 hari pertama setelah melahirkan. Mempunyai berat jenis yang


lebih besar (1,040- 1,060), kandungan protein yang lebih tinggi,
vitamin larut lemak, mineral, kandungan karbohidrat, dan lemak yang
lebih rendah daripada ASI biasa.
Kolostrum mengandung IgA sekretori, leukosit, dan zat-zat imun
lainnya yang berperan dalam mekanisme pertahanan neonatus.
D. Produksi ASI
Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh
isapan mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang
kelenjar hipofisis anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin, hormon
utama yang mengandalkan pengeluaran Air Susu. Proses pengeluaran air
susu juga tergantung pada Refleks Let Down atau refleks ejeksi susu, dimana
hisapan putting dapat merangsang kelenjar hipofisis posterior untuk
menghasilkan hormon oksitosin, Di bawah pengaruh oksitosin, sel-sel di
sekitar alveoli berkontraksi, mengeluarkan susu melalui system duktus
kedalam mulut bayi.
Laktasi dapat dianggap terdiri atas dua fase, laktogenesis, inisiasi
laktasi, dan galaktopoiesis, pemeliharaan sekresi air susu. Inisiasi laktasi
berkaitan dengan penurunan estrogen, progesteron, dari sirkulasi ibu saat
persalinan. Dua hormon terpenting yang berperan dalam laktasi adalah
prolaktin yang merangsang produksi air susu, dan oksitosin yang berperan
dalam penyemprotan (ejeksi) susu.
Menurut (Arifin, 2004), berdasarkan waktu diproduksi ASI dapat
dibagi menjadi 3 yaitu :
1.

Colostrum
C o l o s t r u m merupakan cairan yang pertama kali disekresi
oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual
material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae
sebelum dan segera sesudah melahirkan anak. Disekresi oleh kelenjar
mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa
laktasi. Komposisi colostrum dari hari ke hari dapat berubah, dan

merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan,


lebih kuning dibandingkan ASI Mature. ASI juga merupakan suatu
laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru
lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima
makanan selanjutnya. Dengan ASI Mature dimana protein yang utama
adalah casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin,
Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi
berlainan sehingga dapat

memberikan daya perlindungan tubuh

terhadap infeksi.
Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature
yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan
pertama. Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan
dengan ASI Mature. Total energi lebih rendah dibandingkan ASI
Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum. Vitamin larut lemak lebih
tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih
rendah. Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak. PH lebih
alkalis

dibandingkan

ASI

Mature.

Lemaknya

lebih

banyak

mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature.


Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus
bayi menjadi krang sempurna, yangakan menambah kadar antobodi
pada bayi. Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
2.
Air Susu Masa Peralihan (Transisi)
Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi) Merupakan ASI
peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature. Disekresi dari hari ke 4
hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat
bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 ke 5. Kadar
protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat
semakin tinggi serta volume semakin meningkat.
3.
Air Susu Mature
Air Susu mature merupakan ASI yang disekresi pada hari ke
10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi
ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI
komposisinya baru konstan. ASI matur ini juga merupakan makanan

yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu
yang sehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang

diberikan

selama 6 bulan pertamabagi bayi. Air susu matur merupakan


cairan

putih

kekuning-kuningan,

karena

mengandung

casienat,

riboflavin dan karotin.Tidak menggumpal bila dipanaskan.Volume: 300


850 ml/24 jam. Terdapat anti microbaterial factor, yaitu: Antibodi
terhadap

bakteri dan virus, Enzim

(lysozime,

lactoperoxidese),

Protein (lactoferrin, B 12 Ginding Protein).


E. Pola Pemberian ASI
Agar pemberian ASI eksklusif dapat berhasil, selain tidak memberikan
makanan lain perlu pula diperhatikan cara menyusui yang baik dan benar
yaitu tidak dijadwal, ASI diberikan sesering mungkin termasuk menyusui
pada malam hari. Ibu menggunakan payudara kiri dan kanan secara
bergantian tiap kali menyusui. Disamping itu, posisi ibu bisa duduk atau
tiduran dengan suasana tenang dan santai. Bayi dipeluk dengan posisi
menghadap ibu. Isapan mulut bayi pada puting susu harus baik yaitu
sebagian besar areola (bagian hitam sekitar puting) masuk kemulut bayi.
Apabila payudara terasa penuh dan bayi belum mengisap secara efektif,
sebaiknya ASI dikeluarkan dengan menggunakan tangan yang bersih.
Keadaan gizi ibu yang baik selama hamil dan menyusui serta persiapan
psikologi selama kehamilan akan menunjang keberhasilan menyusui.
F. Masalah Pemberian ASI
Kegagalan pemberian ASI eksklusif akan menyebabkan kekurangan
jumlah sel otak sebanyak 15% 20%, sehingga menghambat perkembangan
kecerdasan bayi pada tahap selanjutnya. Ada beberapa masalah menyusui
terkait dengan ibu yaitu :
1. Pembengkakan Payudara
Pembengkakan payudara ialah respon payudara terhadap hormonhormon laktasi dan adanya air susu. Payudara mambengkak dan
menekan saluran air susu, sehingga bayi tidak memperoleh air susu.
Rasa nyeri dapat menjalar ke aksila. Perawatan yang lebih baik dapat

dilakukan dengan menggunakan es yang diletakkan di payudara. Es


akan mengurangi pembengkakan,sehingga sejumlah air susu yang
cukup dapat dikeluarkan untuk membuat areola menjadi lunak.
Payudara dapat menjadi sangat bengkak jika bayi tidak sering
menyusu atau kurang efisien dalam mengisap selama beberapa hari
pertama setelah ASI keluar. Payudara memang sedikit bengkak
disaat sedang mulai menyusui, bengkak yang ekstrem menyebabkan
pembengkakan dari duktus susu dalam payudara dan pembuluh daerah
di area dada.
2. Puting Luka
Puting susu dapat terasa nyeri pada beberapa hari pertama.
Puting yang luka dapat dicegah atau dibatasi dengan mengambil posisi
yang benar dan dengan menghindari pembengkakan sebelum hal ini
terjadi.
3. Saluran Yang Tersumbat
Kadang-kadang saluran air
nyeri

susu

tersumbat, menimbulkan

di payudara, yang terlihat bengkak dan panas. Saluran yang

tersumbat ini dapat di sebabkan

oleh pengosongan payudara yang

tidak baik, pemakaian bra yang terlalu ketat, posisi menyusui yang
tidak benar, atau selalu menggunakan posisi yang sama.
4. Affterpains
Ibu yang menyusui dapat mengalami affterpains. Affterpains
lebih sering terjadi pada ibu multipara daripada ibu primipara.
Affterpains Ini dapat cukup kuat sehingga ibu merasa tidak nyaman dan
ketegangannya dapat mengganggu proses pemberian makan pada bayi.
5. Persepsi Tentang Jumlah Susu Yang Tidak Adekuat
Suplai air susu yang tidak cukup jarang menjadi masalah, karena
isapan menstimulasi aliran susu dalam waktu cukup lama seharusnya
dapat memberikan suplai susu dan jumlah besar.
6. Mastitis
Mastitis merupakan suatu infeksi payudara yang disebabkan oleh
bakteri dalam sisstem duktus. Mastitis menyebabkan bengkak, panas,
dan nyeri, biasanya hanya pada satu payudara, dan juga menyebabkan
ibu menyusui merasa demam dan sakit.
7. Masalah pada Bayi

10

Beberapa kondisi bayi bisa mempersulit tindakan menyusui pada


bayi, salah satu
laktosa atau

diantaranya adalah

bayi tidak

tahan terhadap

fenilketonuria. kelainan sumbing bibir atau langit-

langit, dan kelainan bentuk mulut sehingga bayi tidak dapat


menghisap dengan baik.
G. Manajemen Laktasi
Manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk
menunjang keberhasilan

menyusui.

Dalam

pelaksanaannya

terutama

dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa
menyusui selanjutnya. Menurut (Arifin, 2004), Adapun upaya-upaya yang
dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pada masa Kehamilan (antenatal)
Memberikan penerangaan dan penyuluhan tentang manfaat
keunggulan ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya,
disamping bahaya pemberian susu botol. Pemeriksaan kesehatan,
kehamilan dan payudara / keadaan putting susu, apakah ada kelainan
atau tidak. Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu
hamil. Lakukan perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan
agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup.
Memperhatikan gizi/makanan

ditambah

mulai

dari

kehamilan

trisemester kedua sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum
hamil. Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal
ini perlu diperhatikan keluarga terutama suami kepada istri yang
sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya.
2. Pada masa segera setelah persalinan (prenatal)
Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan
cara menysui yang baik dan benar, yakni: tentang posisi dan cara
melakatkan bayi pada payudara ibu. Membantu terjadinya kontak
langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari agar menyusui dapat
dilakukan tanpa jadwal. Ibu nifas dapat diberikan kapsul vitamin A

11

dosis

tinggi

(200.000S 1 )

dalam waktu

dua

minggu

setelah

melahirkan.
3. Pada masa menyusui selanjutnya (post-natal)
Menyusui dilanjutkan secara ekslusif selama 4 bulan pertama
usia bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman
lainnya. Perhatikan gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1
kali lebih banyak dari biasa dan minum minimal 8 gelas sehari. Ibu
menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan
keberhasilan menyusui. Menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar
produksi ASI tidak terhambat. Pengertian dan dukungan keluarga
terutama suami penting untuk menunjang.
Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan
apabila ada permasalahan menysusui seperti payudara banyak disertai
demam. Menghubungi kelompok pendukung ASI terdekat untuk
meminta pengalaman dari ibu-ibu lain yang sukses menyusui bagi
mereka. Memperhatikan gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 4
bulan, berikan MP ASsI yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.
H. Faktor Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif
Ada 2 hal yang mempengaruhi kegagalan dalam pemberian ASI yaitu
faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor Internal
a. Pengetahuan
Dalam hal ini, banyak sekali alasan kenapa orang tua
memberikan MPASI < 6 bulan. Umumnya banyak ibu yang
beranggapan kalau anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika
diberi makan. Meski tidak ada relevansinya banyak yang
beranggapan ini benar. Karena, belum sempurnanya sistem
pencernaan sehingga harus bekerja lebih keras untuk mengolah
dan memecah makanan. Kadang anak yang menangis terus

12

menerus dianggap sebagai anak yang tidak kenyang. Padahal


menangis bukan semata-mata tanda anak yang kelaparan. Hal ini
menunjukan bahwa pengetahuan orang tua masih sangat rendah.
b. Pengetahuan
Sciartino (1999) mengemukakan bahwa pendidikan yang
cukup merupakan dasar dalam pengembangan wawasan sarana
yang memudahkan untuk dimotivasi serta turut menentukan cara
berpikir

seseorang

dalam menerima pengetahuan, sikap dan

perilaku masyarakat. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai


suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa
mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif
dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya
masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah
tingkah laku.
c. Pekerjaan Ibu
Beberapa wanita karier mempunyai kecemasan lain, yaitu
bahwa memberikan air susu kepada bayi selama 4 sampai 6 bulan
akan mempengaruhi kegagalan

profesi

dan

kemasyarakatan

mereka dan mungkin akan merusak prospek peningkatan karier.


Ini semua merupakan masalah besar yang telah berkembang pada
kebudayaan dan masalah ini sangat nyata bagi para wanita yang
menghadapinya.
Ibu menyusui yang bekerja tidak perlu khawatir. Mereka
tidak

perlu berhenti menyusui anaknya. Sebaiknya ibu bekerja

tetap harus memberi ASI eksklusif kepada bayinya hingga umur 6


bulan. Hal ini dikarenakan banyaknya keuntungan yang diperoleh
dibandingkan jika anak disusui dengan susu formula. Tidak sulit
untuk tetap menyusui bayi saat bekerja. Jika memungkinkan,
bayi dapat dibawa ke kantor ibu untuk disusui. Hal tersebut akan
sedikit terkendala jika di tempat bekerja atau di sekitar tempat
bekerja tidak tersedia sarana penitipan bayi atau pojok laktasi.

13

Bila tempat bekerja dekat dengan rumah, ibu dapat pulang untuk
menyusui bayi pada waktu istirahat atau bisa juga meminta bantuan
seseorang untuk membawa bayi ketempat bekerja
Lokasi kantor ibu yang jauh dari rumah juga bukanlah
penghalang untuk tetap memberikan ASI ekslusif. Walaupun ibu
bekerja dan tempat bekerja jauh dari rumah, ibu tetap dapat
memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Sebelum pergi bekerja,
ASI tersebut bisa dikeluarkan dan dititipkan pada pengasuh untuk
diberikan pada bayi. Di tempat bekerja, ibu dapat memerah ASI 23 kali (setiap 3 jam). Pengeluaran ASI dapat membuat ibu merasa
nyaman dan mengurangi ASI menetes. ASI simpan di lemari es dan
dibawa pulang dengan termos es saat ibu selesai bekerja. Ibu juga
bisa menyimpannya dalam termos yang diberi es batu atau blue
ice. Kegiatan menyusui dapat dilanjutkan pada malam hari, pagi
hari sebelum berangkat, dan waktu luang ibu. Keadaan ini akan
membantu produksi ASI tetap tinggi.
d. Penyakit Ibu
Pilihan untuk menyusui tidak terbuka untuk setiap ibu.
Beberapa ibu tidak bisa atau tidak boleh menyusui bayi mereka.
Alasanya bisa emosional atau fiscal, berkaitan dengan kesehatan
ibu atau bayi, bisa sementara (dimana kadang-kadang ibu bisa
menyusui sesudahnya) atau jangka panjang. Beberapa faktor yang
paling sering bisa mencegah atau menghalangi seorang ibu dari
menyusui

termasuk:

Penyakit

serius

yang

melumpuhkan

(misalnya gagal jantung atau gagal ginjal, atau anemia yang


parah) atau kekurangan berat badan yang ekstrem meskipun
beberapa ibu bisa mengatasi masalah ini dan menyusui bayinya.
Infeksi yang serius, misalnya tuberculosis (TBC) aktif yang
tidak dirawat (setelah dirawat selama dua minggu, ibu boleh
menyusui); untuk sementara waktu, payudara bisa dipompa dan air
susunya dibuang agar cadangan air susu sudah

ada

ketika

14

tindakan menyusui dimulai. Penyakit yang menahun yang


memerlukan obat

yang akan memasuki air susu

ibu dan

membahayakan bayi, misalnya obat-obat anti tiroid, antikanker,


antihipertensi atau obat-obat yang bisa mengubah suasana hati,
misalnya lhitium, penenang, atau sedatif. Jika anda menggunakan
obat-obat saperti ini, tanyakan terlebih dahulu kepada dokter anda
sebelum anda mulai menyusui. Pada beberapa kasus, perubahan
obat atau jarak makan obat bisa memungkinkan anda untuk
menyusui. Kontak dengan beberapa bahan kimia tertentu di tempat
kerja. Infeksi AIDS atau HIV, yang bisa ditularkan melalui cairan
tubuh, termasuk air susu ibu. Penyalahgunaan obat-obatan
termasuk penggunaan obat penenang, kokain, heroin, metadon,
marijuana,

atau

penyalahgunaan

alkohol.

penolakan

yang

mendalam terhadap menyusui.


Beberapa kondisi bayi bisa mempersulit tindakan menyusui,
tatapi bukan tidak

mungkin

dukungan medis

yang

kelainan-kelainan

seperti

untuk

mencobanya

(dengan

benar). Termasuk diantaranya adalah


tidak

tahan

terhadap laktosa atau

fenilketonuria, di mana susu manusia maupun susu sapi tidak bisa


dicerna. Sumbing

bibir dan atau langit-langit, dan kelainan

bentuk mulut lainya yang mengganggu penghisapan. Meskipun


keberhasilan menyusu sebagian tergantung dari jenis cacatnya,
tetapi dengan bantuan khusus, tindakan menyusui masih bisa
dimungkinkan.
2. Faktor Eksternal
a. Promosi Susu Formula
Tempat
pemberian

melahirkan

memberikan

pengaruh

terhadap

ASI Eksklusif pada bayi karena merupakan titik awal

bagi ibu untuk memilih apakah tetap memberikan bayinya ASI


Eksklusif atau memberikan susu formula yang diberikan oleh
petugas kesehatan maupun non kesehatan sebelum ASI-nya keluar.

15

Meskipun ada kode etik internasional tentang

pengganti ASI

(susu formula), pemasaran susu formula langsung ke rumah sakit


saat ini semakin gencar dan sangat mengganggu keberhasilan
program ASI Eksklusif.
Selain itu adanya promosi susu formula juga bisa menjadi
kemungkinan gagalnya pemberian ASI walaupun mindset awal
sebenarnya ASI, promosi bisa berasal dari petugas kesehatan
misalnya pada saat pulang dibekali susu formula, ataupun dari
iklan-iklan di beberapa media baik cetak maupun elektronik.
b. Penolong Pesalinan
Menurut

Depkes

pertolongan persalinan

RI
dapat

tenaga

yang

dibedakan

dapat
menjadi

memberikan
dua

yaitu

tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter


umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) dan dukun bayi
(terlatih dan tidak terlatih). Kendala yang dihadapi dalam upaya
peningkatan penggunaan ASI adalah sikap

sementara petugas

kesehatan dari berbagai tingkat yang tidak bergairah mengikuti


perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan.
Konsep baru tentang pemberian ASI dan mengenai hal-hal
yang berhubungan dengan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui
dan bayi baru lahir. Disamping itu juga sikap sementara penaggung
jawab ruang bersalin dan perawatan dirumah sakit, rumah bersalinn
yang berlangsung memberikan susu botol pada bayi baru lahir
ataupun tidak mau mengusahakan agar ibu mampu memberikan
ASI kepada bayinya, serta belum diterapkannya pelayanan rawat
disebahagian besar rumah sakit atau klinik bersalin.

16

BAB III
METODE KEGIATAN
A. Perencanaan dan Pemilihan Wilayah
Prioritas Masalah
Angka pencapaian

Rencana Kegiatan
Upaya meningkatkan

Metode dan Pendekatan


Kegiatan berupa penyuluhan dan

pemberian ASI eksklusif

pengetahuan ibu

diskusi dengan ibu menyusui

di desa Manyaran

tentang pemberian

dan ibu hamil yang

Kecamatan Karanggede

ASI eksklusif di Desa

dikoordinasikan dengan bidan

sebanyak 19% dari target

Manyaran Kecamatan

desa dan kader posyandu di

yang seharusnya dicapai

Karanggede.

Desa Manyaran Kecamatan

sebanyak 70 %.

Karanggede.

B. Pelaksanaan Kegiatan
Jenis Kegiatan

Waktu

Tempat

Pelaksana

Penyuluhan ASI

14 November

Posyandu Sumber

dr. Esti Mahanani

eksklusif

2014

Waras VI Desa

Sri Lestari, Amd.Keb

Penyuluhan ASI

26 Januari

Manyaran
Kelas Ibu Hamil

dr. Esti Mahanani

eksklusif

2014

Desa Manyaran

Sri Lestari, Amd.Keb

C. Evaluasi
1. Evaluasi Proses
a. Terdapat kesempatan oleh pelaksana kegiatan untuk menyajikan
materi tentang :
1. Definisi ASI Eksklusif
2. Kandungan nutrisi pada ASI
3. Keuntungan menyusui bagi ibu dan bayi
4. Kriteria dan anjuran pemberian ASI
5. Upaya keberhasilan menyusui
6. Permasalahan menyusui pada bayi
7. Permasalahan menyusui pada ibu
b. Evaluasi pada penyuluhan yang dilakukan di posyandu
1. Penyuluhan dihadiri oleh 14 ibu yang menyusui.
2. Penyuluhan dilakukan menggunakan media visual flipchart.
3. Suasana penyuluhan tidak kondusif.
4. Ibu aktif untuk mengikuti diskusi.

17

c. Evaluasi pada penyuluhan yang dilakukan di kelas ibu hamil


1. Penyuluhan dihadiri oleh 3 ibu hamil dan 3 kader posyandu.
2. Penyuluhan dilakukan menggunakan media presentasi power
point.
3. Suasana penyuluhan kondusif.
4. Ibu aktif untuk mengikuti diskusi.
2. Evaluasi Hasil
a. Ibu tahu pengertian ASI eksklusif.
b. Ibu tahu tentang tujuan dan manfaat ASI eksklusif.
c. Ibu tahu keunggulan dari pemberian ASI eksklusif.
d. Ibu tahu cara menyusui yang baik dan benar.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Sesuai dengan kondisi dan situasi yang ditemui pemberian ASI
eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Karanggede, maka dapat disimpulkan
rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas
Karanggede disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor lingkungan yang
masih mempercayai mitos dan kurangnya pengetahuan ibu tentang
pentingnya pemberian ASI eksklusif.
B. Saran
Pemecahan masalah dalam upaya

peningkatan pemberian ASI

eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Karanggede, diupayakan dari faktor


manusia dan lingkungan seperti penyuluhan terhadap masyarakat tentang
ASI eksklusif di posyandu, kelas ibu dan balita, pengaktifan konseling

18

laktasi di Puskesmas serta kerja sama dengan lintas sektor seperti Bidan
Praktek Swasta demi digalakkannya pemberian ASI Eksklusif. Dari segi
faktor material, perlunya penyediaan media dan alat peraga, seperti leaflet
dan poster serta pembuatan video tentang ASI eksklusif dan manajemen
laktasi. Sedangkan dari segi metode, dilakukan penyuluhan kepada
masyarakat sesuai waktu yang telah ditentukan dan menggunakan media
yang menarik.

19

DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar.
Departemen Kesehatan RI. 2013. ASI eksklusif; bayi cerdas, ibu pun sehat.
Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2008.
Paket modul kegiatan-Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI eksklusif 6
bulan.
Departemen Kesehatan, Direktorat Bina Gizi Masyarakat. 2008. Petunjuk
Pelaksanaan ASI Eksklusif bagi Petugas Puskesmas.
Fikawati, Sandra, Syafiq A. 2010. Kajian implementasi dan kebijakan air susu ibu
eksklusif dan inisiasi menyusui dini di Indonesia. Jakarta.
Hegar, B. 2012. Understanding and implementation of breastfeeding regulation.
Jakarta.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2013. Kendala pemberian ASI eksklusif. Available
from: idai.or.id
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014. Air susu ibu dan menyusui. Available from:
idai.or.id
Jackson K.M, Nazar A.M. 2006. Breastfeeding, the immune response, and
longterm health. J. Am Osteopath Assoc.
Kementerian Kesehatan RI. Available from: depkes.go.id
Peraturan Pemerintah RI. 2012. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif. Jakarta.
Rahmadhani E.P, Lubis G, Edison. 2013. Hubungan pemberian ASI eksklusif
dengan angka kejadian diare akut pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas
Kuranji Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas.
Roesli, Utami. 2000. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Roesli, Utami. 2008. Inisiasi Menyusui Dini plus Asi Eksklusif. Jakarta:
Pustaka Bunda.
Suraatmaja, S. 2007. Gastroenterologi Anak. Jakarta: CV.Sagung Seto.

LAMPIRAN

20

21