Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN

PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCAPAN I


Pencapan Repeat Kapas dengan Zat Warna Pigmen

Disusun oleh
Nama

Grup

: Krisna Bayu Kiswara


Fadhlan Nuran Gani
Nunki Larasati
Purbaraksa Ramadhan
Gina Puspita Sari
Selly Aprilianti
Mutiah Nida Haifa
: 2 K2

Dosen

: Sasmaya., S.Teks

(13020026)
(13020030)
(13020035)
(13020036)
(13020039)
(13020040)
(13020050)

Asisten Dosen: Drs. Solehudin


Witri A. S., S.ST.
Kelompok

:1&2

POLITEKNIK-STTT
BANDUNG
2015

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


Agar praktikan dapat mengetahui dan memahami cara menyetel screen untuk pencapan repeat.

II.
a.

TEORI DASAR
Serat Kapas
Serat kapas terutama tersusun atas selulosa. Selulosa merupakan polimer linier yang tersusun dari
kondensasi molekul-molekul glukosa yang dihubungkan pada posisi 1 dan 4.
CH2OH

OH

OH

HOOH
H

OH

CH2OH

CH2OH
H

OHOH
H

H
OH

OH

OH

H
OH

CH2OH

Sifat fisika kapas antara lain:


-

Kekuatan 3,2-5,2 g/denier dan dalam keadaan basah kekuatannya naik.


Mulur 4-13% rata-rata 7%
MR 7-8,5%
Berat jenis 1,5-1,56
Index bias // sumbu = 1,58
sumbu = 1,53
Sifat kimia kapas antara lain:
-

Asam akan menghidrolisa serat yang menyebabkan hidroselulosa.


Oksidator akan menyerang oksigen dalam rantai oksiselulosa
Alkali akan menggelembungkan serat pada dinding sekunder.

b. Zat Warna Pigmen


Zat warna pigmen adalah zat warna yang tidak larut dalam air, biasanya dalam bentuk terdispersi
kerap disebut juga emulsi pigmen. Pencapan dengan zat warna pigmen dapat digunakan pada semua jenis
serat karena kekuatannya tergantung pada daya ikat binder yang digunakan. Ditinjau dari segi ekonomis
metoda pencapan dengan zat warna pigmen sangat sederhana dan murah.
Zat warna pigmen tidak mempunyai afinitas terhadap serat oleh karena itu harus dengan bantuan zat
pengikat/binder. Lapisan film dari binder dari pigmen adalah suatu struktur tiga dimensi, dimana binder
adalah suatu zat pembentuk lapisan film yang terdiri dari rantai panjang makromolekul dan jika

diaplikasikan dengan zat warna pigmen pada permukan bahan akan diperoleh ikatan silang tiga dimensi.
Ikatan silang yang terbentuk karena adanya udara panas dan kondisi pH asam. Efiseinsi binder ditentukan
oleh daya tahan luntur dari zat warna pigmen pada permukaan bahan, hal ini ditentukan oleh kondisi
fikasasi yaitu waktu dan dan suhu udara panas, adanya katalis asam dan mutu dari bindernya sendiri, tapi
tingkat ikatan silang yang terbentuk harus dibatasi untuk mencegah struktur tiga dimensi menjadi getas
dengan demikian sifat kelenturannnya dapat terjaga.
Kriteria penting yang diperlukan dari lapisan film binder yang baik adalah
-

Elastisitas, Plastisitas, Kelembutan


Daya kohesi, adesi pada substrat
Daya tahan terhadap hidrolisa/pelarut, daya termoplastis
Tidak menggelembung atau mengembang dengan adanya zat zat pencuci kering, tahan terhadap zat

kimia, panas, sinar dan cuaca


Tidak berwarna dan stabil
Binder dapat dibuat dengan berat molekul tinggi dalam suatu polimerisasi. Monomer monomer

penting yang dapat digunakan antara lain : derivat asam akrilat (terutama ester), butadiena dan vinil asetat.
Urea formaldehid, melamin formaldehid dan sejenisnya cocok untuk digunakan sebagai bahan dasar
pembuatan zat pembantu ikatan (fixer), terutama beraksi sebagai zat adesif antara binder dan serat, juga
mendukung ikatan silang pada permukaan lapisan binder sehingga dapat meningkatkan sifat ketahanan
luntur hasil pencapan. Juga penggunaannya kira kira 10% dari pasta cap. Proses fiksasi sebaiknya tanpa
adanya air, udara panas dengan suhu diatas 120oC adalah sesuai untuk reaksi silang tiga dimensi.
Katalis yang diperlukan untuk menghasilkan suasana asam pada proses fikasai dapat digunakan
amonium klorida atau zink nitrat. Pada umumnya lebih disukai penggunaan amonium klorida karena hasil
pewarnaan yang lebih baik. Katalis ditambahkan pada pasta cap dengan jumlah antara 0,5-20%.
Penggunaan katalis yang bersifat elektrolit dalam pasta cap dapat dikurangi untuk mengurangi pengaruh
viskositas pengental.
Reaksi ikatan silang dan ikatan silang dari binder(saling reaksi dari gugus metilol atau reaksi gugus
metilol dengan gugus hidroksil) terjadi pada kondisi asam yang dapat digambarkan sebagai berikut :
pH<5
B-CH2OH + HO-CH2-B B-CH2OCH2-B + HOH atau
pH<5
B-CH2OH + HO-B B-CH2-OB + HOH
Reaksi antara binder dengan serat digambarkan sebagai berikut :
pH=3

B-CH2-OR + HO-Sel B-CH2-O-Sel + ROH


Dimana R adalah CH3 atau H dan B = molekul binder
Pengental yang sesuai untuk pencapan dengan zat warna pigmen adalah pengental emulsi minyak
dalam air (O/W) yang banyak dipakai pada saat ini. Pengental tersebut mengandung 75% minyak, 0,1-1%
zat pengemulsi non ion dan 29% air. Ukuran partikel dari emulsi, tergantung dari jenis zat pengemulsi dan
tingginya kecepatan pengadukan.Pengental emulsi cocok untuk digunakan dalam pencapan pigmen karena
semua komponen pengental tersebut kecuali zat pengemulsi akan menguap sempurna pada saat proses
fiksasi, sehingga tidak meninggalkan residu atau sisa sisa pencapan dan tidak menyebabkan hasil
pegangan yang kaku.

Zat warna pigmen sangat banyak digunakan pada industri pencapan di Indonesia hal ini karena :
Dapat digunakan untuk segala jenis serat dan campuran serat.
Fiksasinya mudah, yaitu dengan pemanasawetan.
Mempunyai ketahanan terhadap sinardan zat-zatkimia.
Warna yang dicapkan adalah warna akhir, sehingga memudahkan dalam menentukan kombinasi
warna.
Dapatdicapkan diatas kain berwarna dengan hasil yang cukup baik.
Hasil pencapan dapat disimpan lama sebelum pemanas awetan.
Tidak memerlukan pengerjaan pencucian, penyabunan, oksidasi dan pengukusan, sehingga
dapatmempersinfgkat waktu pengerjaan dan tenaga.
Menghasilkan warna yang cerah.
III.

TAHAPAN PENCAPAN
1. Persiapan screen
Persipan kasa cap adalah pekerjaan terhadap kasa cap sampai dilaakukan pemindahan gambar film
(afdruk) ke kasa cap sehingga kasa cap siap digunakan proses pencapan.
Kasa cap terbuat dari kain sintetis, seperti nylon dan polyester yang memiliki sifat hidrofobik sehingga
kestabilan tegamngan kasa terjaga, tidak mudah muluratau mengkeret. Kain kasaa yang mudah mulurdan
mengkeret akan menyebabkan berubahnya corak-corak yang telah ditentukan. Selain itu kain sintetik

meiliki kekuatan tarik yang tinggi sehingga memungkinkan untuk ditegangkan secara kuat pada rangka
kasa.
Pemasangan kasa pada rangka kasa dapat dilakukan dengan cara manual menggunakan tangan atau
dapat juga dengan mengunakan meja atau mesin penarik Strecing machine.

2. Persiapan pasta cap


Pada persiapan pasta cap yang harus dilakukan pertama adalah memilih kesesuaian zat warna terhadap
jenis serat yang dicap. Selanjutnya adalah seleksi terhadap kesesuaian jenis pengental, zat-zat pembantu,
methoda pencapan yang digunakan serta kondisi pengeringan, fiksasi dan pengerjaan akhir (pencucian).
Pasta cap adalah pasta yang siap digunakan untuk proses pencapan, didalam pasta cap terdiri dari beberapa
komponen pokok, yaitu :
-

Zat warna
Pengental induk
Zat kimia Pembantu
Air (sebagai pelarutatau balance)
Jumlah pasta cap disesuaikan dengan jumlah bahan/kain yang akan dicap dan besar kecilnya

motif.Selain itu kekentalan atau viscositas pasta cap perlu dilakukan pengujian yang disesuaikan dengan
alat cap dan bentuk/ukuran motifnya.
3. Pencapan
Ada beberapa macam metoda pencapan yang sering digunakan berdasarkan cara mengaplikasikan
pada bahan tekstil dan alat yang dipakai, antara lain metoda pencapan langsung, pencapan tumpang,
pencapan rintang, pencapan rusak, pencapan bakar, pencapan alih, dan pencapan rambut serat.
Dari beberapa macam methoda tersebut dapat dikelompokan dalam tiga macam pencapan, yaitu :
-

Pencapan langsung
Pencapan tidak langsung
Pencapan khusus.
Proses pencapan dapatdilakukan dengan cara manual atau dengan menggunaakan mesin. Mesin

pencapan yang bayak diogunakan adalah mesin pencapan kasadatar dan mesin pencapan kasa putar.
Pencapan kasa manual atau handscreen printing, pada saai ini masih dilakukan. Keseluruhan proses
pencapan mulai dari penggelaran kain yang akan dicap, pemindahan kasa, dan perakelan dilakukan dengan

menggunakan tangan. Kecepatan produksi tergantung pada cepat lambatnya pekerja dan banyaknya warna
yang digunakan.
Untuk mendapatkan hasil yang baik dari pencapan kassa manual harus diperhatikan besarnya
penekanan rakel dimana penekanan yang dilakukan harus stabil untuk memperoleh kerataan warna pada
seluruh motif.
4. Pengeringan
Proses pengeringan setelah kain dicap diperlukan untuk menghilangklan kelembabban lapisan pastacap
sehingga mencegah blobor (bleeding) warna dari motif dan diperoleh hasil cap dengan motif yang
tajam,selain itu untuk memudahkan proses fiksasi.
Perencanaan pengeringan pertlu dilakukan dengan memperhatikan factor-faktor antara lain jenis kain,
jenispasta cap, tegangan kain dan pencegahan terhadap kusutnya kain selama pengeringan. Sehingga perlu
dilakukan pemilihan terhadap jenis mesin pengering, system dalam ruang pengering dan tegangan yang
diaplikasikan pada kain.
Walaupun kondisi pengeringan tidak berpengaruh terhadap hasil fiksasi zat warna, namun
standarpengeringan yang baik akan memberikan efek hasil

pewarnaan yang tinggi dan brilian.

Pengeringan yang berlebihan akan menyebabkan retak dan pecahnya lapisan pastacap sehingga fiksasi
tidak sempurna dan terjadi pengotoran motif. Demikian pula pengeringan yang tidak merata kan
menyebabkan ketidakrataan warna cap dan arahwarna. Secara umum pengeringan system hotflue
memberikan hasil yang paling baik.
5. Fiksasi zat warna
Proses fiksasi dilakukan agarzatwarna yang terkandungdidalam pasta cap terfiksasi kedalam serat kain
dengan membentuk ikatan seperti gaya fan der waals, ikatan hydrogen maupun ikatan kovalen. Untuk
tujuan tersebut dapat dilakukan proses fiksasi dengan cara : Steaming, udara panas dan larutan kimia.

IV.

RESEP PENCAPAN
a. Alat

Kasa screen dan rakel

Meja print

Mixer (untuk pembuatan pengental emulsi )


b. Bahan

Zat warna pigmen


Binder
Fixer
DAP 1:1
Urea/Gliserin
Pengental
Kain
c. Resep
Zat warna pigmen
Binder
Fixer
DAP 1:1
Urea/Gliserin
Pengental
Ballance

V.

: 30
: 150
: 20
: 20
: 20
: 700
:X
1000

gram
gram
gram
gram
gram
gram
gram
gram

CARA KERJA
1. Kasa print untuk pencapan repeat di ukur panjang motifnya
2. Kasa print diuji dengan menggunakan bedak tabur atau tepung untuk mengetahui apakah motif masih
dapat digunakan atau tidak
3. Setelah mengetahui ukuran dari motif, meja pencapan diberi batas menggunakan besi pembatas yang
dipasang pada pinggiran meja sesuai dengan ukuran motif
4. Kain disiapkan di atas meja pencapan
5. Ketika akan melakukan pencapan, kedua nok pada ujung kasa harus menempel pada pinggiran meja
pencapan dan tanduk kasa tepat berada diatas besi pembatas yang telah dipasang
6. Kemudian dilakukan proses pencapan dengan berselang-seling agar motif tidak saling tumpang tindih
7. Setelah selesai, kain lalu dikeringkan

VI.

SKEMA PROSES

Persiapan
Bahan

Pencapan

Pengeringan

VII.

DISKUSI

Pada praktikum pencapan zat warna pigmen dengan secarmotif repeat ini, ada hal-hal yang perlu
diperhatikan, yaitu sebagai berikut :
-

Memasang tali pembatas motif pada sepanjang meja yang akan digunakan untuk pencapan repeat. Hal ini

dilakukan agar letak kain untuk pencapan lurus.


Meja yang digunakan untuk pencapan harus rata dan dilapisi kain seperti selimut.
Screen memiliki tanduk yang digunakan untuk mengatur posisi screen
Pada pencapan ada motif yang warnanya belang dan ada juga motif yang warnanya terlalu tebal , hal ini

dikarenakan penekanan pada rakel yang tidak seimbang.


Pemasangan nok tidak tepat sehinga menyebabkan adanya ruang berlebih pada motif repeat.
Sebelum pencapan dimulai sebaiknya periksa terlebih dahulu rakel yang akan digunakan,karena jika rakel
kendor atau tidak rata ujungnya akan mempengaruhi motif pencapan.

VIII. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa penyetelan screen untuk motif repeat harus dipasang sesuai dengan prosedur
agar hasil pencapan repeat yang dihasilkan saling berkesinambungan dan tidak ada jarak antar repeat ,caranya
adalh denagan mengukur lebar motif secara teliti sehingga pemasangan nok pun sesuai. Pemasangan screen
pada meja pencapan harus tegak lurus bagian motifnya agar motif saling menyambung dan tidak melenceng.
Perakelan yang dilakukan harus rata agar hasil pencapan rata dan seimbang.

DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arifin ,dkk., Teknologi Pencapan Tekstil. Bandung : Institut Teknologi Tekstil, 1998
Djufri, Rashid, Ir., dkk, Teknologi Pengelantangan, Pencelupan, danPencapan.Bandung : Institut Teknologi
Tekstil, 1976
Purwanti, dkk, Pedoman Praktikum Pencapan dan Penyempurnaan.Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi
Tekstil, 1978

Anda mungkin juga menyukai