Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

EVALUASI TEKSTIL KIMIA I


Analisa Kerusakan Serat Selulosa secara Kualitatif

Nama

: Gina Puspitasari

NPM

: 13020039

Grup

: 2K2

Dosen

: Luciana, S.Teks, M.Pd..

Asisten

: Samuel M
Eka S.SiT.

Tgl. Praktikum

: 9 April 2015
16 April 2015
23 April 2015

Tgl. Penyerahan laporan

: 30 April 2015

POLITEKNIK STTT B A N D U N G
2015

BAB I PENDAHULUAN
I.MAKSUD DAN TUJUAN
1.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis kerusakan serat
selulosa ,penyebab kerusakan serat selulosa tersebut dan gugus yang terkandung dalam jenis
kerusakan serat selulosa tersebut.

1.2 Tujuan
a) Pengujian pewarnaan dengan Cara uji Harrizon,Perak Nitrat Amoniakal dan dengan
pereaksi fehling
Pengujian dilakukan untuk menunjukan adanya gugus pereduksi pada serat
yang rusak karena zat kimia.
b) Pengujian pewarnaan dengan Cara Pencelupan Tolak , Cara biru trunbuli , Na
Kromat dan dengan Metilen Blue
Pengujian dilakukan untuk menunjukkan adanya karboksilat pada serat
selulosa yang rusak karena zat kimia.
c) Pengujian penggelembungan dengan NaOH dan Pengujian pewarnaan dengan Congo
red
Pengujian dilakukan untuk membedakan kerusakan serat kapas karena zat
kimia dan mekanika.

BAB II DASAR TEORI


2.1 Serat Kapas
Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk ke dalam jenis Gossypium
,yaitu:
a. Gossypium aeboreum
b. Gossypium herbarium
c. Gossypium barbadense
d. Gossypium hirsutum Gossypium hirsutum berhasil dikembangkan menjadi
tanaman Industri.

2.1.1

Morfologi Serat kapas

a. Memanjang
Bentuk memanjang serat kapas, pipih seperti pita yang terpuntir.Bentuk
memanjang serat,dibagi menjadi tiga bagian ,ialah :

Dasar
Berbentuk kerucut pendek yang selama pertumbuhan serat tetap tertanam
diantara sel-sel epidermis

Badan
Kira-kira sampai 15/16 panjang serat.Mempunyai diameter yang
sama ,dinding yang tebal dan lumen yang tipis.

Ujung
Memounyai sedikit konvolusi dan mempunyai lumen

b. Melintang

Bentuk penampang serat secara melintang sangat bervariasi dari pipih sampai
bulat tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Serat kapas dewasa
,penampang melintangnya terdiri dari 6 bagian yaitu:

Kutikula
Merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin ,pectin dan protein.

Dinding primer

Lapisan antara
Merupakan bagian pertama dari dinding sekunder

Dinding sekunder

Dinding lumen
Lebih tahan terhadap pereaksi pereaksi tertentu dibandingkan dinding
sekunder..

Lumen
Merupakan ruangan kosong di dalam serat.

2.1.2

Sifat sifat

a. Sifat Fisika

Warna kapas tidak betul-betul putih biasanya sedikit krem

2-3 gram/denier ,kekuatan akan meningkat 10 % ketika basah

Mulur berkisar antara 4-13 % bergantung pada jenisnya dengan mulur


rata-rata 7 %

MR7-8,5 % . Serat kapas mempunyai afinitas yang tinggi terhadap air.


Hampir semua pectin dapat dihilangkan dalam pemasakan kapas dengan
larutan natrium hidroksida. Proses penghilangan pectin tidak banyak
mempengaruhi kekuatan maupun kerusakan serat

Mudah kusut, untuk mengurangi kekusutan dapat dicampur dengan serat


polyester.

b.

Sifat Kimia

Terhidrolisis dalam asam kuat sehingga kekuatan turun

Oksidator berlebih menghasilkan oksiselulosa

Menggembung dalam larutan alkali.

2.2 Identifikasi Kerusakan Serat Selulosa ( kapas )


Kerusakan bahan tekstil dapat terjadi pada setiap tingkat proses bahan tekstil,
mulai dari bahan baku (serat) sampai menjadi bahan jadi (kain), dengan demikian
kerusakan serat mungkin terjadi pada setiap tingkat pengolahan, sedangkan jenis
kerusakannya bergantung pada jenis pengolahannya. Kerusakan ini dapat terjadi pada
serat selulosa (kapas), serat protein (wool), serat buatan (poliamida).
Analisa kerusakan serat ini yakni bertujuan untuk mengetahui jenis kerusakan
yang terjadi dan penyebab kerusakan tersebut.
Kerusakan bahan tekstil dapat terjadi pada setiap tingkat proses pengolahan
bahan tekstil, dari bahan baku (serat) sampai menjadi bahan jadi (kain), sehingga
kerusakan serat mungkin terjadi pada setiap tingkat pengolahan, sedangkan jenis
kerusakannya tergantung pada jenis pengolahannya.
Jenis kerusakan pada bahan tekstil dibagi dua golongan, yaitu :
1. Kerusakan mekanika.
a. serangan serangga.
b. Gesekan..
c. Tusukan.
d. Putus karena tarikan dan potongan
2. Kerusakan kimia
a. Serangan jasad renik.
b. Pengolahan kimia.
c. Cahaya.
d. Panas.
Zat-zat penyempurnaan pada bahan tekstil akan mempengaruhi hasil analisa.
Oleh karena itu sebelum analisa dilakukan, zat-zat tersebut harus dihilangkan dahulu
dengan diekstraksi. Sedapat mungkin diketahui jenis serat dan jenis proses yang
dialami, sehingga lebih memudahkan dalam menentukan penyebab kerusakan
tersebut.

Kerusakan mekanika.
a. serangan serangga.
Serangan serangga dapat ditentukan dengan adanya bekas gigitan dan jaring
sarang serangga pada bagian serat yang rusak.
b. Gesekan.
Gesekan benang dapat terjadi selama proses pengerjaan benang sampai
menjadi kain. Pengamatan dibawah mikroskop menunjukkan benang yang
tergesek permukaannya lebih berbulu, serat tampak terpotong-potong,
tersikat atau terkoyak-koyak.
c. Tusukan.
Kerusakan dapat dilihat dengan adanya tusukan atau lubang kecil pada kain.
Dibawah mikroskop terlihat adanya serat yang terpotong-potong atau hancur.
d. Putus karena tarikan dan potongan
Kerusakan ini dapat dibedakan dengan melihat ujung serat dibawah
mikroskop. Kerusakan karena tarikan ujung serat biasanya tercabik-cabik dan
terdiri dari campuran seratputus dan tidak putus. Sedangkan serat terpotong
biasanya ujungnya rata.

Kerusakan kimia
a. Serangan jasad renik.
Kerusakan disebabkan karena jasad renik tersebut mengeluarkan enzim yang
menyebabkan kerusakan kimia. Degradasi selulosa oleh enzim sama dengan
degradasi oleh asam, hanya enzim terregenerasi secara tetap. Adanya zimasa
dapat mengubah selulosa menjadi glukosa. Selulosa yang terregenerasi (misal
rayon viskosa atau rayon kupro) lebih mudah terkena jasad renik daripada
selulosa alam (makin rendah polimer makin mudah diserang).
b. Pengolahan kimia.
Serat selulosa dapat rusak karena asam maupun zat oksidator. Asam
menyebabkan terjadinya hidroselulosa yang mempunyai gugus pereduksi.
Proses oksidasi baik dalam suasana asam maupun basa menimbulkan
oksiselulosa yang mempunyai gugus pereduksi maupun karboksilat.
c. Cahaya.
Kerusakan disebabkan oleh terjadinya pemutusan ikatan primer pada
selulosa.
d. Panas.

Kerusakan karena panas dapat dilihat dengan terjadinya perubahan pada


dinding primer selulosa.
Untuk dapat menganalisa berbagai kerusakan tersebut telah disusun beberapa
cara pengujian yang masing-masing cara mempunyai derajat ketelitian hasil
pengujian yang berbeda. Contoh uji harus bebas dari zat lain seperti zat
penyempurnaan, kanji, lemak, lilin, dsb, karena zat tersebut kadang-kadang
mempengaruhi hasil pengujian atau memberi hasil sama dengan oksiselulosa dan
hidroselulosa. Dalam beberapa hal, pencelupan juga berpengaruh terhadap pengujian
ini, karena pengujian kebanyakan dilakukan dengan cara penodaan, sedangkan zat
warna yang ada pada selulosa, pada umumnya tidak dapat dihilangkan tanpa merusak
selulosa.
Kerusakan serat kapas yang disebabkan oleh zat kimia dapat dibedakan dari
kerusakan mekanika, dengan cara pewarnaan dengan zat warna Congo Red (C.I.
Direct Red) dan penggelembungan oleh natrium hidroksida. Pengujian untuk gugus
pereduksi antara lain dengan menggunakan larutan fehling, perak nitrat amonikal dan
uji horizon. Untuk pengujian gugus karbonil antara lain digunakan uji trunbull dan
pencelupan tolak (resist dyeing). Uji trunbull memberikan hasil yang terbaik untuk
perbedaan

kadar

karboksil.

Untuk

membedakan

antara

hidroselulosa, uji Muller memberikan hasil yang memuaskan.

oksiselulosa

dan

BAB III PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan
A. Pengujian penggelembungan dengan NaOH
Alat : - Mikroskop
- Kaca objek dan kaca penutup
- Kertas hisap
Pereaksi : -Larutan NaOH 18%
B. Pengujian pewarnaan dengan congo red
Alat : - Mikroskop
- Kaca objek dan kaca penutup
- Kertas hisap
Pereaksi : - Larutan zat warna Congo Red 1%

C. Pengujian pewarnaan dengan cara uji harrizon


Alat :

- Tabung reaksi
- Pembakar bunsen

Pereaksi : - Pelarut A : (AgNO3 80 g/l)


Pelarut B : ( Na tiosulfat 200g/l dan NaOH 200 g/l)

D. Pengujian pewarnaan dengan perak nitrat amonikal


Alat : - Tabung reaksi
- Pembakar bunsen
Pereaksi : AgNO3 Amonikal
NH4OH 10%

E. Pengujian pewarnaan dengan pereaksi fehling


Alat : - Tabung reaksi
- Pembakar bunsen
Pereaksi : - Fehling A : (60 g/l CuSO4)
- Fehling B : (346 g kalium natrium tartrat dan 100 g NaOH /L air)

F. Pengujian pewarnaan dengan cara pencelupan tolak


Alat : - Tabung reaksi

- Pembakar bunsen
Pereaksi : Larutan Chlorazol Sky Blue FF 5 g/l (C.I Direct Blue 1)
G. Pengujian pewarnaan dengan cara biru trunbull
Alat : - Tabung reaksi
- Pembakar bunsen
Pereaksi : Ferro sulfat 10 g/l
Kalium ferri sianida 10 g/l
H. Pengujian pewarnaan dengan Na-kromat
Alat : - Tabung reaksi
- Pembakar bunsen
Pereaksi : - Natrium khromat 10 g/l
- Pb asetat 10 g/l

I.

Pengujian pewarnaan dengan metilen biru


Alat

: Tabung reaksi

Pereaksi : Larutan Metilen biru 10 g/l yang diasamkan dengan H 2SO4 2N


(10ml/l)

3.2 Cara Kerja


A. Pengujian penggelembungan dengan NaOH
-

Potong kapas pendek-pendek kira-kira 0,5 mm.

Letakan diatas objek; tetesi dengan NaOH sebagai medium, tutup dengan
kaca penutup.

Biarkan beberapa menit.

Amati dibawah mikroskop.

Gambarkan pada jurnal.

B. Pengujian pewarnaan dengan CongoRed


-

Rendam contoh uji dengan NaOH 2% selama 5 menit.

Cuci sampai bebas NaOH (uji dengan lakmus).

Keringkan dengan kertas penghisap.

Rendam dalam larutan Congo Red selama 5 menit.

Cuci bersih dengan air.

Rendam didalam NaOH 18% selama 3-5 menit.

Amati dibawah mikroskop.

Gambarkan pada jurnal.

C. Pengujian pewarnaan dengan cara uji harrizon


-

Campurkan 1 ml larutan A dalam 20 ml air dengan 2 ml larutan B dalam 20


ml

Didihkan contoh uji didalam campuran satu mi larutan A ditambah 20 ml air


dengan dua ml larutan B dalam 20 ml air selama lima menit.

Cuci didalam larutan B (1 ml dalam 10ml).

Cuci dengan air panas suhu 70oC.

Adanya endapan abu-abu hitam menunjukkan adanya gugus aldehida


(kerusakan karena zat kimia).

D. Pengujian pewarnaan dengan perak nitrat amonikal


-

Contoh uji dikerjakan dalam larutan AgNO 3 amonikal pada suhu 80oC selama
3-5 menit.

Cuci dengan air dingin.

Cuci dengan larutan amoniak 10%.

Serat rusak akan berwarna kuning atau coklat, serat yang baik warna akan
hilang setelah pencucian.

E. Pengujian pewarnaan dengan pereaksi fehling


-

Campurkan 5 ml fehling A dan 5 ml fehling B encerkan dengan 10 ml air


suling.

Bagi menurut kebutuhan dan masukkan contoh uji ke dalamnya didihkan


selama 5 menit.

Cuci dengan air panas 70oC selama 10 menit.

Adanya endapan kupro oksida yang berwarna merah muda-merah,


menunjukkan adanya gugus pereduksi.

F. Pengujian pewarnaan dengan cara pencelupan tolak


-

Contoh uji direndam dalam larutan Chlorazol Sky Blue FF pada suhu
mendidih selama 5 menit.

Cuci dengan air panas pada suhu 70oC.

Amati warna yang terjadi.

Adanya gugus karbonil ditunjukkan dengan adanya titik warna muda


didaerah yang rusak.

G. Pengujian pewarnaan dengan cara biru trunbull


-

Contoh uji direndam dalam larutan fero sulfat selama 5 menit pada suhu
kamar.

Cuci dengan air pada suhu 70oC.

Pindahkan contoh uji dalam larutan kalium ferri sianida kemudian rendam
dalam larutan tersebut selama 5 menit pada suhu kamar.

Cuci dengan air pada suhu 70oC.

Keringkan.

Amati warna yang terjadi ; warna biru tua menunjukkan adanya gugus
karbonil pada bahan.

H. Pengujian pewarnaan dengan Na-kromat


-

Contoh uji direndam dalam larutan Pb asetat selama 5 menit pada suhu
kamar.

Bilas dengan air dingin.

Pindahkan contoh uji dalam larutan Na khromat kemudian rendam dalam


larutan tersebut selama 5 menit pada suhu kamar.

Cuci dengan air dingin dan keringkan.

Amati warna yang terjadi ; adanya pereduksi menyebabkan Pb asetat terserap


sedikit sehingga warnanya cream, warna kuning tua menunjukkan adanya
gugus karboksilat.

I.

Pengujian pewarnaan dengan metilen biru


-

Contoh uji direndam dalam larutan pereaksi metilen biru selama 5-10 menit
pada suhu kamar.

Cuci dengan air mengalir.

Amati warna yang terjadi ; warna biru tua menunjukkan adanya gugus
karboksil.

BAB IV PENUTUP
4.1 DISKUSI

Pada pengujian pewarnaan dengan harrizon, serat kapas yang mengandung gugus aldehida
ditunjukkan dengan adanya endapan abu-abu atau hitam.,tetapi kebanyakan endapan tersebut
sulit untuk diamati. Besar kecilnya endapan abu yang ada pada serat tersebut menentukan
seberapa besar kerusakan kimia yang di alami serat.Serat-serat kapas yang mengandung gugus
aldehida adalah serat serat yang mengalami kerusakan : rusak oleh kaporit, rusak oleh

pukulan , rusak oleh alkali, rusak oleh oksidator H 2O2 , dan rusak oleh jamur .
Pada pengujian dengan Perak Nitrat Amoniakal semua serat rata-rata rusak hebat, hal ini
dapat ditunjukan hampir semua kapas yang di uji berwarna coklat. Tingkat kerusakan yang
paling dalam disini di tunjukan pada kapas rusak alkali dan kapas rusak panas dengan
ditunjukan warna yang paling pekat dan tingkat kerusakan terendah ditunjukan pada kapas
baik, karena tingkatan warnanya masih kuning dibanding kapas rusak lain. Seperti yang kita

ketahui bahwa warna pun mempengaruhi tingkat kerusakan pada serat.


Pada pengujian fehling, gugus pereduksi ditunjukkan oleh adanya endapan merah muda atau
merah pada serat. Semakin banyak warna merah muda atau merah yang terbentuk semakin
banyak gugus pereduksi yang terdapat pada serat, yang berarti serat selulosa tersebut semakin
rusak oleh zat kimia. Pada pengujian ini yang mengandung gugus pereduksi adalah serat-serat

kapas yang rusak oleh reduktor KMnO4 ,dan yang rusak oleh panas.
Pengujian pewarnaan dengan cara pencelupan tolak gugus karboksil dilakukan untuk
menunjukkan adanya gugus karboksilat pada serat selulosa yang rusak karena kimia yaitu
ditunjukkan dengan adanya titik warna muda pada daerah yang rusak. Makin muda warnanya
maka serat tersebut makin besar kerusakannya.Selain itu pada saat pengujian hendaknya
perendaman contoh uji pada larutan Chlorazol Sky blue FF mendidih tidak lebih dari 5 menit
karena jika terlalu lama akan merusak warna yang seharusnya dihasilkan. Dan serat serat yang
mengandung gugus karbokslat terdapat pada kapas dengan jenis kerusakan yaitu rusak karena

jamur ,rusak karena panas ,rusak karena hipoklorit dan rusak karena kaporit.
Pengujian pewarnaan dengan cara biru trunbuli dilakukan untuk menunjukkan adanya gugus
karboksilat pada serat serat yang di uji,yaitu ditunjukkan dengan adanya perubahan menjadi
warna biru tua pada bahan.Pada pengujian ini yang menunjukkan adanya gugus karboksilat
terdapat pada kapas dengan jenis kerusakan yairu rusak karena

alkali ,rusak karena

hipoklorit,rusak karena kaporit,rusak karena H2O2, dan rusak karena asam.


Pengujian pewarnaan dengan Na-Kromat dilakukan untuk menujukkan adanya gugus
karboksilat pada serat serat yang di uji,yaitu ditunjukkan dengan adanya perubahan menjadi
warna kuning tua sedangkan perubahan menjadi warna cream menunjukkan adanya gugus

pereduksi. Pada pengujian ini yang menunjukkan adanya gugus karboksilat terdapat pada
kapas dengan jenis kerusakan yairu rusak karena panas,rusak karena pukulan ,rusak karena
hipoklorit ,rusak karena kaporit dan rusak karena H 2O2 .Sedangkan yang menunjukkan adanya
gugus pereduksi terdapat pada kapas dengan jenis kerusakan yairu rusak karena jamur , rusak

karena reduktor KMnO4 ,rusak karena alkali dan rusak karena H2O2.
Pengujian pewarnaan dengan metilen blue dilakukan untuk menunjukkan adanya gugus
karboksilat pada serat serat yang di uji ,yaitu ditunjukkan denagn adanya perubahan menjadi
warna biru tua . Pada pengujian ini yang menunjukkan adanya gugus karboksilat terdapat pada
kapas dengan jenis kerusakan yairu rusak karena reduktor KMnO 4 , rusak karena

hipoklorit,rusak karena kaporit dan rusak karena H 2O2.


Pengujian penggelembungan dengan NaOH dilakukan untuk membedakan kerusakan serat
kapas karena zat kimia dan mekanika.Saat diamati dengan mikroskop adanya kepala jamur
(dumble) pada ujung serat baik atau serat yang mengalami kerusakan mekanik ,sedangkan jika
tidak ada kepala jamur pada ujung serat menunjukkan kerusakan kimia yang hebat .Besar

kcilnya kepala jamur menentukan kerusakan kimia dari serat.


Yang menunjukkan adanya kepala jamur (dumble ) adalah kapas baik,kapas rusak karena
pukulan ,kapas rusak karena hipoklorit dan kapas rusak karena reduktor. Sedangkan yang tidak
memiliki dumble yaitu kapas yang rusak karena asam , rusak karena oksidator ,rusak karena

jamur ,rusak karena kaporit dan rusak karena panas/


Pada pengujian pewarnaan dengan congo red ,serat yang terlihat sobek dan putus serta
terbentuk dumble adalah kapas yang rusak karena pukulan. Sedangkan kapas yang rusak
karena kimia dan tidak terbentuk dumble yaitu kapas yang rusak karena asam ,rusak karena
oksidator ,rusak karena hipoklorit ,rusak karena jamur dan rusak karena alkali.

4.2 KESIMPULAN
Dari hasil praktikum dapat diambil kesimpulan :
Kerusakan selulosa 2
1. Pada uji horizon, tingkat kerusakan serat dari yang paling rusak ke yang baik
adalah kapas:
1. KMNO4
2. Jamur
3. Baik
4. Kaporit
5. Alkali
6. Panas
7. Asam

8. H2O2
9. Pukulan
10. Hipoklorit

2. Pada uji perak nitrat amonikal, tingkat kerusakan serat dari yang paling rusak ke baik adalah
kapas :
1. Panas
2. Hipoklorit
3. Alkali
4. Baik
5. Kaporit
6. Pukulan
7. Jamur
8. H2O2
9. KMNO4
10. Asam
3. Pada uji fehling, tingkat kerusakan serat dari yang paling rusak ke baik adalah kapas :
1. Asam
2. Panas
3. Pukulan
4. Alkali
5. Baik
6. H2O2
7. KMNO4
8. Kaporit
9. Jamur
10. Hipoklorit
Kerusakan selulosa 3
4. Pada uji pencelupan tolak, urutan perubahan warna dari muda ke tua adalah kapas:
1. Asam
2. Jamur
3. Kaporit
4. KMNO4
5. Pukulan
6. Kaporit
7. Hipoklorit
8. Baik

9. Panas
10. H2O2
5. Pada uji biru trunbull, urutan perubahan warna dari tua ke muda adalah kapas:
1. Kaporit
2. Alkali
3. Hipoklorit
4. Jamur
5. H2O2
6. Asam
7. KMNO4
8. Panas
9. Baik
10. Pukulan
6. Pada uji kromat, urutan perubahan warna dari kuning tua ke kuning muda adalah kapas:
1. Pukulan
2. Panas
3. Asam
4. Jamur
5. KMNO4
6. Kaporit
7. alkali
8. Hipoklorit
9. Baik
10. H2O2
7. Pada uji metilen biru, urutan perubahan warna dari biru tua ke muda adalah kapas :
1. KMNO4
2. Alkali
3. Pukulan
4. Kaporit
5. Hipoklorit
6. H2O2
7. Jamur
8. Baik
9. Panas

10. Asam
Kerusakan selusosa 1
8. Pada uji penggelembungan dengan NaOH, serat yang baik / mengalami kerusakan mekanik
adalah serat yang memiliki kepala jdan rusak karena amur atau dumble, sedangkan serat yang
rusak karena kimia seluruh bagian serat menggelembung dan tidak adanya dumble. Berikut
serat yang baik:
-

Kapas baik

- kapas rusak pukulan

Kapas rusak reduktor KMnO4

- kapas rusak hipoklorit

sedangkan kapas yang rusak karena kimia adalah :


-

Kapas rusak kaporit

Kapas rusak H2O2

Kapas rusak oksidator

- Kapas rusak panas


- Kapas rusak jamur

9. Pada uji pewarnaan dengan congo red, pada kapas yang rusak karena mekanika akan terlihat
adanya serat-serat yang sobek atau putus. Sedangkan pada kapas yang rusak karena kimia akan
terlihat adanya retakan memanjang, celah atau adanya bagian-bagian serat berwarna merah.
Pada serat yang rusak karena jamur (jasad renik), timbul bintik-bintik jamur dan permukaan
serat yang aus. Kerusakan karena panas terlihat adanya noda spiral pada serat, tetapi pola ini
juga terdapat pada serat yang rusak karena kimia. Berikut kapas yang menunjukan kerusakan
mekanik:
-

Kapas rusak alkali

- kapas rusak kaporit

Kapas rusak hipoklorit

- kapas rusak KMNO4

Kapas rusak panas

- kapas rusak jamur

Kapas yang menunjukan kerusakan kimia yakni :


-

Kapas rusak Oksidator H2O2

Kapas rusak hipoklorit

Kapas rusak asam

Kapas jamur

Kapas rusak alkali

DAFTAR PUSTAKA

Evaluasi Tekstil Bagian Kimia, Institut Teknologi Tekstil, Bandung, 1975.


Penuntun Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil I, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil,
Bandung, 1993.

Anda mungkin juga menyukai