Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBUATAN KAIN TENUN

PROSES PENGHANIAN TIDAK LANGSUNG


PADA MESIN HANI SEKSIONAL

07 November 2014
Nama
NPM

Disusun Oleh
: Ghita Seva Novianie
: 13050021

Grup : 2B2
Hendra, S.ST., M.Tech
Abdurrohman, S.ST
Amat Bin Atma

DIII TEKNOLOGI PRODUKSI TEKSTIL


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL
2014

1. MAKSUD DAN TUJUAN


1.1.
1.2.

MAKSUD
Mempelajari mekanisme Mesin untuk Penghanian
TUJUAN
Menggulung benang kedalam boom lusi/tenun (boom yang
akan dipasang pada mesin tenun dengan bentuk gulungan

sejajar)
Dapat menggambar skema proses atau jalannya benang

proses penghanian tidak langsung


Dapat menggambar gearing diagram mesin hani seksional

2. TEORI DASAR
Proses penghanian adalah suatu proses mengubah bentuk gulungan
benang-benang tunggal menjadi lembaran-lembaran benang yang terdiri dari
ratusan helai benang yang terdiri dari ratusan helai benang yang selanjutnya
digulung pada beam lusi secara sejajar. Jumlah benang lusi yang ada pada
creel menunujukkan jumlah benang lusi yang ditarik dalam satu kali
penarikan yang selanjutnya jumlah penarikan disesuaikan dengan jumlah
total benang lusi yang dibutuhkan.
Tujuan dari proses penghanian yaitu untuk menggulung benang kedalam
boom lusi/tenun, yaitu boom yang akan dipasang pada mesin tenun, denagn
bentuk gulungan sejajar. Benang yang akan digulung dapat berasal dari
bobin kerucut, bobin cakra atau bobin silinder, yang ditempatkan di creel.
Apabila jumlah benang lusi yang akan ditenun sedikit, misalnya untuk
membuat permadani atau pita, maka benang lusi tidak perlu digulung pada
boom tenun/tidak perlu dihani, tetapi dapat langsung ditarik dari creel dan
terus ditenun, asal jumlah lusinya lebih kecil atau paling banyak sama
dengan kapasitas creel.
Apabila jumlah lusi besar sekali, maka cara langsung ini akan
memberikan kesulitan-kesulitan sebagai berikut :
1

Tegangan lusi tidak akan sama dan sulit untuk diatur, benang yang
berasal creel belakang tegangannya berbeda dengan benang yang

berasal dari creel depan.


Creel harus besar, karena

bobin

yang

diperlukan

banyak,

mememrlukan ruangan/tempat yang besar, yang berarti pemakain


tempat tidak efisien.

Menyulitkan pandangan, sehingga susuah memeriksa benang lusi


yang putus. Karena itu untuk jumlah lusi yang besar diperlukan
proses penghanian benang lusi.

2.1.

PROSES PENGHANIAN
Cara Penghanian
Benang lusi ditinjau dari segi kekuatan utnuk ditenun, ada yang

sudah mememenuhi syarat, misalnya benang double, dan ada juga


yang belum memnuhi syarat, misalanya benang single. Karena itu
benang

single

Berdasarkan

harus

keadaan

diperkuat
tersebut,

dulu/dikanji
maka

cara

sebelum
penghanian

ditenun.
dapat

digolongkan sebagai berikut :


a Penghanian langsung dari bobin yang ditempatkan di creel, tanpa
b

melalui larutan kanji.


Penghanian sementara, yaitu menghani langsung dari bobin yang
ditempatkan di creel, ke intermediate beam/voor boom/ warp beam
atau boom hani, kemudian dari beberapa boom hani digulung

kembali ke boom tenun dengan melalui larutan kanji.


Penghanian sementara, yaitu menghani langsung dari bobin-bobin
yang ditempatkan di creel ke boom hani setelah melewati larutan
kanji. Kemudian dari beberapa boom hani (warp beam) dilakukan
penggulungan/penyatuan ke boom tenun.

Pada proses penghanian dilakukan proses penggulungan benang dengan


: panjang tertentu, lebar tertentu, jumlah lusi tertentu dan tegangan lusi
yang sama. Yang kesemuanya hal tersebut disesuaikan dengan raportt
hanian atau harus sesuai dengan persyaratan dari kain yang akan
ditenun.
Persyaratan pada boom tenun yang siap/baik untuk digunakan:
a
b
c
d
e

Benang-benang yang digulung harus sama panjang.


Letak benang-benang yang digulung harus sejajar.
Benang yang digulung pada boom tenun harus penuh.
Lebar beanng pada boom tenun harus lebih lebar sisir.
Panjang benang harus lebih panjang dari panjang kain yang akan

f
g

ditenun.
Permukaan benang pada boom tenun harus rata.
Cakra boom tidak boleh miring.
2 Pemilihan bobin
Pada proses penghanian, benang yang akan dihani berbentuk bobin.

Bobin tersebut berasal dari pebrik pemintalan. Bobin tersebut ada yang

langsung digunakan pada proses penghanian dan ada yang di-rewinding


lagi sebelum digunakan.
Bobin yang berasal dari pabrik pemintalan dan langsung digunakan
pada proses penghanian mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai
berikut :

Besar bobin kadang-kadang tidak sama. Penggantian bobin seringa


dilakukan dengan waktu habis yang tidak sama, sehingga stoppage

meningkat dan efisiensi turun.


Bobin yang tidak sama besar menyebabkan tegangan benang tidak

sama selama penghanian.


Penggantian bobin yang

sering

dilakukan,

mengakibatkan

memperbanyak sambungan benang dan akan mempengaruhi


kwalitas kain. Sambungan benang yang banyak akan memeperbesar
kemungkinan benang putus lagi, karena sambunagan yang tidak

baik.
Kesalahan yang terjadi dipemintalan akan terbawa ke boom tenun,
sehingga akan mengganggu proses menenun dan akan menurunkan

kwalitas kain.
Cara Penarikan Benang

Ada 2 cara penarikan benang dari bobin yang ditempatkan di creel, yaitu :
a

Penarikan benang tegak lururs poros bobbin

Cara penarikan ini mempunyai kelemahan-kelamahan sebagai berikut :


-

Kecepatan benang tidak dapat tinggi, karena bobin iktu berputar,


sehingga kalau kecepatan tinggi bobin akan bergetar dan akan

mengganggu kerataan tegangan benang.


Tegangan benang selama proses tidak sama. Tegangan yang terjadi
pada waktu diameter besar, berbeda dengan pada waktu diameter

bobin mengecil.
Karena massa bobin, maka diperlukan gaya tarikan yang besar. Jika
gaya tarikan yang diperlukan ini melampaui kekuatan benangnya,

maka benang akan putus.


Jika penarikan benang berhenti, bobin akan terus berputar karena
gaya centrifugal. Keadaaan ini dapat menimbulkan kesulitan pada
proses penghanian.

Volume bobin yang digunakan biasanya kecil, sehingga harus sering

mengganti bobin, yang mengakibatkan stoppage besar dan efisinsi


b

turun.
Penarikan benang dari bobin sejajar dengan poros kelosan
Cara ini lebih baik dari cara pertama, karena bebebrapa kelemahan-

kelemahan pada cara pertama dapat diatasi/dihilangkan.


KLASIFIKASI MESIN HANI
Mesin Hani dapat digolongkan menjadi :
Alat hani tangan ( Hand Warping)
Mesin Hani Seksi (Cylinder warping machine)
Mesin hani kerucut (Cone sectional warping machine)
Mesin hani lebar (High speed warping machine)
1 Alat hani tangan
Alat hani ini digunakan untuk melayani alat tenun bukan mesin

2.2.

1
2
3
4

(ATBM). Benang lusi yang digulung pada umunya pendek. Cara


kerjanya mesin ini sama dengan mesin hani kerucut (cone sectional
2

warping machine). Alat ini digerakkan oleh manusia.


Mesin hani seksi (Cylinder sectional warping machine)
Mesin hani seksi disebut juga mesin hani blok.

Proses

penghaniannya dilakukan dengan membagi benang lusi menjadi


seksi-seksi. Misalkan benang lusi yang harus dihani 6000 helai
dengan lebar 180 cm, maka proses penghaniannya dilakukan
dengan membagi benang-beanng lusi tersebut menjadi 15 seksi a
400 helai denagn lebar 12 cm, yaitu menghani seksi demi seksi
dengan jumlah benang 400 helai dan lebar 12 cm. Seksi-seksi ini
kemudiandisatukan kedalam boom tenun. Kesulitan dari penghanian
dengan sistim ini, ialah panjang benang yang dihani dan tegangan
pada tiap-tiap seksi kemungkinan tidak sama besar.
Perbedaaan penghanian pada mesin hani lebar dibanding
dengan mesin hani seksi ialah:
- Pada mesin hani lebar, lusi dihani dengan lebar yang
sebenarnya, tetapai tidak dengan kerapatan lusi yang
-

sebenarnya.
Pada mesin hani seksi, lusi dihani pada kerapatan yang
sebenarnya, tetapi tidak pada lebar yang sebenarnya.

Bagian-bagian Seksional Warping


-

Creel atau Rak


Pada semua jenis mesin hani baik mesin hani seksi maupun
hani lebar, benang lusi ditempatkan pada creel.

Tensioner

Pada proses penghanian, hal yang paling penting adalah


tegangan benang lusi selama proses. Tegangan lusi yang
terlalu rendah mengakibatkan beam lusi yang dihasilkan
gembos dan sebaliknya
Dresser or Drum

Dresser atau drum adalah silinder hani yang biasa disebut


tambur yang berfungsi untuk menggulung benang lusi yang
ditarik dari bobin-bobin hani yang terpasang pada creel.
3

Mesin hani kerucut (Cone sectional warping machine)


Proses penghanian dilakukan denagn menggulung benang-benang
lusi dalam bentuk band-band (tapes) ditrommel/drum/tambur. Bandband benang lusi tersebut digulung berjajaran satu dengan lainnya,
sehingga selebar boom tenun. banyak benang lusi yanjg digulung
dalam seluruh band-band tersebut, sama dengan jumlah benang lusi
yang benang lusi pada tiap-tiap band berbeda satu dengan lainnya.
Kebaikan dan kekurangan dari mesin hani sectional ini dibandingkan
lusi pada tiap-tiap band berbeda atau dengan lainnya.
Kebaikan dan Kekurangan dari mesin hani sectionalini
dibandingkan :
Kebaikan
Jumlah lusi yang dihani dapat tepat sebanyak yang

diperlukan.
Lebar lusi yang dapat tepat selebarnya yang dikehendaki
Uurtan warna dari benang-benang lusi sesuai dengan

bentuk corak
Dapat melayani penghanian utnuk pembuatan kain yang

bercorak dengan panjang yang terbatas


Silangan benang dapt diletakkan dengan baik.
Kekurangan
Panjang dan tegangan benang-benang pada boom tenun

kadang-kadang/dapat tidak sama.


Kurang dapat digunakan untuk massa produksi.

Mesin hani sectional ini baik sekali digunakan utnuk benang-benang


lusi yang tidak perlu dikanji lagi/benang double, dan dapat
digunakan untuk segala macam benang.
4

Mesin hani lebar (High Speed warping machine)

Mesin hani ini biasanya disebut mesin hani sectional saja. Proses
penghanian dilakukan dengan menggulung benang-benang lusi
dalam bentuk band-band (tapes) dtrommel/drum/tambur. Band-band
benang lusi tersebut digulung berjajaran satu dengan lainnya,
sehingga selebar boom tenun. Banyaknya benang lusi

yang

digulung dalam seluruh band-band tersebut, sama dengan jumlah


benang lusi yang diperlukan.
Banyaknya benang lusi pada tiap-tiap band/tapes dapat sama
dan dapat juga tidak sama, Umpama untuk boom tenun diperlukan
benang lusi 4200 helai, maka kita dapat menghani dengan 7 band
yang terdiri dari 600 helai, tetapi dapat juga banyaknya dan
warnanya benang lusi pada tiap-tiap band berbeda satu dengan
lainnya.
Kebaikan dan kekurangan dari mesin hani sectional ini
dibandingkan dengan mesin hani lebar yaitu sebagai berikut :
Kebaikan :
Jumlah lusi yang dihani dapat tepat sebanyak yang

diperlukan.
Lebar lusi dapat tepat selebar yang dikehendaki
Urutan warna dari benang-benang lusi sesuai dengan bentuk

corak
Dapat melayani penghanian untuk pembuatan kain yang

bercorak dengan panjang yang terbatas


Silangan benang dapat diletakkan dengan baik.

Kekurangan :

Panjang dan tegangan benang-benang pada boom tenun

kadang-kadang/ dapat tidak sama.


Kurang tepat digunakan untuk masa produksi.

Mesin hani sectional ini baik sekali digunakan untuk benangbenang lusi yang tidak perlu dikanji lagi/ benang double, dan
dapat digunakan untuk segala macam benang.
a

Bagian-bagian pada proses penghanian sectional


Bagian-bagian pada proses penghanian dengan mesin hani
-

sectional yaitu:
Creel (rak kelos)
Sisir silang

Mesin hani
Mesin penggulungan

Bagian-bagian Mesin Hani Lebar


Creel atau Rak
Pada semua jenis mesin hani baik mesin hani seksi maupun
hani lebar, benang lusi ditempatkan pada creel.
Alat Penjaga Putus Benang (Stop Motion)
Alat penghenti putus benang pada mesin yang didesain untuk
kecepatan tinggi sangatlah penting, tingkat sensitifitas alat
penghenti sangatlah diperlukan untuk membuat beam lusi yang
baik. Alat ini akan segera menghentikan mesin jika terjadi satu
atau beberapa helai benang putus.
Pengatur Tegangan (Tension)
Pada penghanian, peranan pemberat atau tension sangatlah
penting untuk mengatur kekerasan gulungan pada beam hani
Kipas
Fungsi dari peralatan ini adalah untuk menghilangkan debudebu atau kotoran yang akan menempel pada benang selama
proses penghanian berlangsung.
b

Proses Penghanian
Pada pengahanian band pertama, alat pengukur panjang dipasang
pada angka 0, sedangkan alat penghitung putaran trommel
dipasang pada angka 100.
Apabila jam meteran menunujukkan bahwa panjang lusi yang
dihani telah tercapai, maka mesin dihentikan dan kedudukan dari
alat

penghitung

putaran

trommel

dicatat/dibaca,

misalnya

menunjukkan angka 40. Ini berarti bahwa trommel telah berputar


sebanyak : 100 - 40= 60 putaran.
Pada pengahanian band-band selanjutnya, penghitung putaran
mula-mula disetel pada angka 60. Dan jika sudah sampai pada
angka 0 mesin akan berhenti secara otomatis. Dengan penggunaan
pengukur putaran trommel pada penghanian band kedua dan
selanjutnya, maka tukang hani dapat mengawasi sepenuhnya
keadaaan benang. Karena panjang benang lusi yang dihani telah

tercapi (penunjukkan putaran menunujukkan angka 0) mesin akn


berhenti sendirir secara otomatis.
Sebab-sebab tidak dipergunakan pengukur panjang pada
penghanian selanjutnya, yaitu:
- Jam meter mumgkin tidak menunujukkan panjang yang tepat
pada setiap band lusi, karnea terjasi slip atau mulur karena
-

tegangan pada benang.


Tukang hani haurs mengawasi jam meteran terus menerus,
sehingga dapat mengganggu konsentrasi pengawasan pada

benang.
Perhitungan band lusi dan sisir hani
Banyaknya benang pada band-band lusi tergantung dari kapasitas
creel, banyknya benang pada raport hanian dan tetal lusi.
Kapasitas dari creel umunya 600 bobin, kadang-kadang 400, 800
dan 1000 bobin. Penghanian pada lusi bercorak dialkukan dengan
jumlah benang yang sesuai dengan raport hanian dan dilakukan
berulang-ulang.
Pengahnian pada umunya dialkukan dengan jumlah lusi pada
tipa band berkurang dari 600 helai, karena lebar sisir hani pada
umumnya hanya 30 cm. Banyaknya band-band lusi yang dihani
tergantung dari banyaknya benang pada tiap band lusi dan
banyaknya lusi yang harus dihani. Lebar band tergantung pada
banyaknya benang pada tiap band, lebar penghanian dan jumlah
lusi seluruhnya. Lebar penghanian selalu lebih besar dari lebar

sisisr sebesar kurang lebih 5%.


Perhitungan produksi pada mesin hani sectional
Untuk menghitung produksi pada proses penghanian dengan mesin
hani sectional biasanya digunakan rumus perhitungan sebagai
berikut :

SX L
T = Ds X 60 X e

Keterangan :
T = Lama proses penghanian dalam satuan jam
S = Sebanyak band dalam pengahanian, yang dipengaruhi oleh
kapasitas creel.
L = Panjang benang yang dihani dalam meter
Ds= Kecepatan penggulungan dari trommel dlaam meter/menit,
kecepatan ini dipengaruhi oleh macam serat dan kwalitasnya.
E = Efisiensi dalam persen

Angka efisiensi ini biasanya kecil sekali 20 -30 %, disebabkan


oleh benang pututs, maintenance, penggantian bobin, proses
beaming dan sebagainya.
Proses Penghanian
Proses penghanian pada mesin hani lebar dapat diterangkan

sebagai berikut:
Benang-benang ditarik dari creel yang terletak dibelakang mesin
-

hani dengan jarak kurang lebih 1meter, dilakukan pada:


Sisir Hani/belakang
Rol pengantar
Rol pengeram/penyuap
Dengan mengatur putaran dari rol ini, maka jalannya benang
dapat diatur/rem. Rol ini berfungsi juga unutk mengetur tegangan

benang.
Rol pengukur panjang
Rol ini dilapisis dengan vilt atau kain falnel dan dihubungkan
dengna jam meteran dan terletak diantara rol pengeram dan rol
penjatuh. Pada proses penghanian jam meteran ini disetel pada
angka

yang

sesuai

dengan

panjang

penghanian

yang

dikehendaki umpama 15.000 meter.


Mesin hani akan berhenti secara otomatis pada waktu jama
meteran
-

menunujukkkan

angka

0,

yang

berarti

panjang

penghanian telah mencapi 15.000 meter.


Rol penjatuh, rol ini mengapung pada pada rentangan benang
dan dapt bergerak naik turun sesuai dengna keadaan penyuapan
benang. Pada rol ini kadanag-kadangdiberi pemberat. Fungsi
dari rol ini yaitu untuk menjaga agar benang selalu dalam

keadaaan tegang.
Rol pengantar, warp stop motion, sisisr ekspansi, rol
pengantar dan kemudian digulung pada boom hani. Rol
pengantar harus disetel sedemikian, sehingga tingginya kurang
lebih 3 4 mm diatas balok beralur yaitu tempat untuk dropper.
Kecepatan penghanian pada mesin hani type lama dapat mencapai

140-400 meter permenit, sedangkan pada mesin hani yang baru


kecepatan penghanian kecepatannya selalu tetapa meskipun diamter dari
boom hani bertambah besar. Hal ini disebabkan karnena perputaran dari
boom hani dilakukan dengan sisistim friksi pada permukaan benang yang
digulung pada boom hani.

Sisir Hani
Pada mesin hani lebar type lama atau konvensionla terdapat 2 macam
sisir, yaitu sisir hani biasa/belakang dan sisir ekspansi. Sisir hani biasa
berfungsi untuk mengatur ketetalan/kepadatan penghanian, pengatur
benang agar sejajr/tidak bersilangan dan untuk pengaturan lusi pada
dropper. Bentuk sisir hani seperti bentuk sisir hani pada umumnya.
Sisis ekspansi berfungsi untuk menyetel lebar penghanian, agar
benang-benang dapat tergulung dengan baik pada boom hani. Sisir
ekspansi berbentuk zg-zag dengna bagian atas terbuka, dapat disetel lebih
lebar atau lebih sempit dan juga dapat digeser kekanana atau kekiri
dengan lebar yang sama. Sisir ekspansi ini terletak didepan dropper, yaitu
alat penghenti mesin karena benang putus. Penyetelan sisir ekspansi harus
sedemikian rupa, sehingga lebar penghanian sesuai denagn lebar boom
hani. Jika lebar penghanian lebih besar dari lebar booom hani, maka
benang pada bagian pinggir/sisir akan naik kecakra pada boom hani.
Sedangkan jika lebarnya lebih kecil dari lebar boom hani, maka
benang-benang pada bagian pinggir/sisi akan jatuh ke pinggir/sisi .
Keadaan-keadaan tersebut diatas dapat menyebabkan tegangan benang
yang berbeda dan akan menyebabkan kesulitan pada proses penganjian
atau peertenunan.
Penggunaan sisisr hani dan sisir ekspansi bersama hanya terdapat
pada mesin hani yang menggunakan dropper sebgai alat penghenti mesin
karne benang putus.
Pada mesin hani type yang baru, yaiut alat penghenti mesin karena
benang pututs menggunakan sisitim elektirs, yang dipasang pada bagian
creel, sisir yang terdapt hanyasisir ekspansi saja. Sisr ekspansi ini
berfungsi juga sebgai sisir hani biasa. Hal ini memungkinkan, karena jika
tejadi benang yang ptutus, mesin dengan segera berhenti dan letak benang
yang putus dapatdiketahui pada creel, karena adanya lampu yang menyala
pada tempat tersebut. Sedangkan pada mesin hani yang mengggunakan
dropper, letak benang yang pututs dapat diketahui dari sisir hani.

Penghanian Pembuatan Kain Polos dengan Mesin Hani Lebar


Pembuatan kain polos dengan mesin hani lebar, pada prinsipnya
adalah mengumpulkan benang lusi dengan jumlah tertentu yang berasal
dari beam-beam hani yang telah dibuat sebelumnya.
Creel hani dibagi menjadi dua yaitu creel hani sebelah kiri dan creel
hani sebelah kanan, sehingga benang lusi pada beam hani dapat kita
bagi menjadi dua daerah yaitu daerah kiri mulai dari bagian tengah ke
samping kiri dan daerah kanan mulai dari bagian tengah ke samping
kanan. Benang nomor 1 sampai nomor 300 diperoleh dari creel hani
sebelah kiri, sedangkan benang nomor 301 sampai nomor 600 diperoleh
dari creel hani sebelah kanan.
Benang nomor 1 pada beam hani diperoleh dari creel hani bagian
atas belakang, nomor 2 diperoleh dari creel hani dibawahnya dan
seterusnya sampai benang nomor 300 diperoleh dari creel hani bagian
atas depan creel hani sebelah kiri. Untuk benang nomor 301 ditarik dari
bobin yang dipasang pada creel hani sebelah kanan bagian atas depan
dan benang nomor 302 ditarik dari bobin yang dipasang pada creel
dibawahnya, demikian seterusnya hingga benang nomor 600 pada beam
hani ditarik dari creel hani kanan bagian atas belakang.
Pada beam lusi, benang nomor 1 diperoleh atau ditarik dari beam
hani nomor 1 sedangkan benang lusi nomor 2 diperoleh dari beam hani
nomor 2 dan seterusnya. Jika direncanakan membuat kain dengan total
lusi 6000 helai, maka jumlah yang sedemikian itu diperoleh dari 10 buah
beam hani yang masing-masing berisi 600 helai. Benang lusi nomor 1
sampai dengan nomor 10 pada beam lusi merupakan hasil penarikan
benang dari beam hani yang masing-masing bernomor 1 pada beam
haninya, benang lusi nomor 11 sampai nomor 20 pada beam lusi
diperoleh dari hasil penarikan benang dari 10 beam hani yang masingmasing bernomor urut 2 pada beam haninya, demikian seterusnya
sehingga benang lusi bernomor 5991 sampai nomor 6000 diperoleh dari
hasil penarikan 10 buah beam yang masing-masing bernomor urut 600
pada beam haninya.

3. ALAT DAN BAHAN


1) Alat yang dipakai:
Mesin Hani Seksional
2) Bahan yang digunakan
Benang Ne1 30/2

4. LANGKAH KERJA
Penghanian Polos
1

Mempersiapkan

rencana

hani

polos

(ditentukan

oleh

dosen/asisten)
2

Memasang

cone

pada

creel

sebanyak

yang

telah

ditentukan/sesuai dengan rencana hani.


3

Melewatkan benang-benang yang ada pada creel ke pengantar


benang sesuai dengan urutan nomor cone.

Menyucuk benang secara individu pada sisir silangan dari kanan


ke kiri dan akan didapatkan warna pinggir kain berada pada
bagian paling kiri.

Kemudian pencucukan dilanjutkan pada sisir hani dengan cara


yang sama seperti pencucukan pada sisir silang, hanya pada sisir
hani pencucuckannya berkelompok.

Pembuatan silangan. Benang-benang yang sudah dicucuk pada


sisisr hani, disatukan dalam satu ikatan yang kemudian dikaitkan
pada paku tambur yang sebelumnya sudah dipasang tali pemisah
benang ganjil dengan genap. Tali pemisah tersebut dikaitkan dari
ujung tambur sebelah kiri sampai sebelah kanan.

Menjalanakan mesin (setelah hank meter disesuaikan dengan


kebutuhan) dan hasilnya akan telihat benang dasar berada pada
pada bagian paling kiri dan penambahan ban berikutnya akan
berda pada sebelah kanan ban sebelmunya.

Menggulung benang ban pertama (beserta pinggir kain).

Menggulung sejumlah ban yang telah ditentukan (tanpa pinggir


kain).

10 Memebalik sisisr hani, lalu menggulung ban terakhir (beserta


pinggir kain).

5. PENGUMPULAN DATA DAN PERHITUNGAN


GEARING DIAGRAM MESIN DOWN TWISTER

5.1.

T4

T1

P4

P4

P6
P7

P2

T7

T
T

Keterangan
Keliling Puli :
P1
P2
P3
P4
P5
P7
P8

= 40 cm
= 65 cm
= 24 cm
= 110 cm
= 36 cm
= 39 cm
= 158 cm

Jumlah Gigigi pada roda gigi :


T1 = 18 cm
T2 = 23 cm
T3 = 21 cm
T4 = 22 cm
T5 = 28 cm
T6 = 23 cm
T7 = 81 cm

5.2.

Skema mesin

P3

P1

Gambar 5.1 Skema Mesin Hani Seksional


Keterangan :
(1) Rak hani/creel
(2) Rol pengantar
(3) sisir silang
(4) rol pengantar
(5) sisir hani
(6) rol pengantar
(7) rol pengantar
(8) drum/tambur
(9) rol pengantar
(10) beam tenun.
5.3.
Mekanisme kerja
1) Benang dari creel (1)
2) Dilewatkan pada bagian pengatur tegangan benang (2)
3) Kemudian melewati sisir silang (3) yang berfungsi untuk mensejajarkan
setiap helai benang
4) Sisir hani (5) yang berfungsi untuk menempatkan seluruh benang setiap
seksi sesuai dengan lebar penghanian yang diinginkan

5) Untuk kemudian digulung seksi demi seksi pada beam hani (10).

6. DISKUSI
1. pemasangan benang pada creel harus terpasang dengan sesuai.
Pemasangan benang secara vertikal adalah pada creel dan secara
horizontal pada pengantar benang, sehingga tidak akan terjadi
persilangan diantara benang-benang yang dipasang tersebut dan
akan memperlancar proses penghanian.
2.
Pada saat pencucukan benang ke sisir silang harus
diurutkan secara benar. Kesalahan dalam penempatan pemasangan akan
mengakibatkan benang sulit untuk disilangkan pada saat disilang dan
pencucukan pada sisir hani.
3.
7. KESIMPULAN
4. Proses penghanian pada mesin hani seksi benang lusi dihani pada
kerapatan yang sebenarnya tetapi tidak pada lebar yang sebenarnya.
5. Diperlukan ketelitian pada Proses penghanian terutama pada saat
mencucuk benang pada sisir silang dan sisir hani.
6.
8. DAFTAR PUSTAKA
7.
Elang, dkk, Buku Pedoman Praktikum Persiapan Pertenunan,
STTT, 2005
8.
9.
E-Book Modul Tekstil, http://educloud.fkip.unila.ac.id/
10.
(diakses 9 november 2014)
11.