Anda di halaman 1dari 7

EKSTRASI

MASERASI DAUN KEMUNING


A. Tujuan
1. Mampu menjelaskan proses yang terjadi pada masinig masing ,metode
2.
3.
4.
5.

Ekstrasi
Mampu menjelaskan alasan pemilihan Metode Ekstraksi
Mampu menjelaskan alasan pemilihan pelarut pengekstrasi
Mampu menyiapkan dan memasang alat ekstraksi
Mahasiswa mampu melakukan proses ekstraksi dari simplisia

B. Prinsip
Maserasi (Perendaman) simplisia daun kemuning dengan pelarut Etanol.
C. Teori Dasar
Ekstraksi atau penyarian adalah proses melarutkan/penarikan komponen
yang

berbeda dalam campuran (simplisia) secara selektif dengan pelarut yang

sesuai. Komponen yang terdapat dalam simplisia akan larut berdasarkan koefisien
partisi (koefisin distribusi) komponen tersebut dalam pelarut yang digunakan.
Faktor yang mempengaruhi kecepatan penyarian adalah kecepatan difusi zat
yang larut melalui lapisan-lapisan batas anatara cairan penyarian dengan bahan
yang mengandung zat yang ada dalam bahan.
Simplisia ada yang lunak seperti rimpang, daun, bunga, dan ada yang keras
seperti; biji, kulit kayu, kulit akar. Simplisia ada yang lunak mudah ditembus oleh
cairan penyari karena itu, pada peyarian tidak perlu ditumbuk sampai halus.
Sebaliknya pada simplisia yang keras, perlu dihaluskan terlebih dahulu sebelum
dilakukan penyarian. Penyarian disamping memperhatikan sifak fisik simplisia dan
sifat zat aktifnya, harus juga memperhatikan zat-zat yang sering terdapat dalam
simplsia

seperti protein, karbohidrat, lemak dangula. Proses penyarian dapat

dipisahkan menjadi; pembuatan serbuk, penyarian dan pemekatan.


Ekstraksi dapat dilakukan dengan cara ekstraksi cara panas dan cara
dingin.Ekstraksi cara panas (refluks,soxlet, dll) dilakukan jika komponen (senyawa)
yang akan diekstraksi tahan panas (termostabil). Sedangkan ekstraksi cara dingin
(maserasi,perkolasi) digunakan untuk mengekstrak komponen (senyawa yang tidak
tahan panas (termolabil). Ekstraksi cara dingin juga digunakan untuk simplisia yang
belum diketahui komponennya, sehingga belum diketahui kestabilan komponennya.
Syarat pelarut pengekstraksi melarutkan salute/senyawa yang akan
diekstraksi selektif, mudah diuapkan, tidak toksik, tidak korosif, relatif mahal.
Berdasarkan kepolarannya, pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi
adalah pelarut non polar, semi polar dan polar, contoh pelarut non polar : Benzene,
siklotieksana dsb. Contoh pelarut semipolar: Etil asetat, kloroform,metilen klorida
dsb. Contoh pelarut polar : Etanol, Butanol, Metanol, dsb. Pelarut etanol dan metanol

adalah pelarut Universal yang dapat melarutkan sebagian besar senyawa polar,
sebagian kecil senyawa-senyawa semipolar dan sebagian kecil senyawa semipolar
dan sebagian kecil senyawa non-polar.
Pelarut organik kurang banyak digunakan dalam penyarian, kecuali dalam
penyarian tertentu salah satu contoh eter minyak bumi digunakan untuk menarik
lemak dari serbuk simplisia sebelum dilakukan proses penyarian. Untuk penyarian
ini, Farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai penyari adalah air, etanol,
etanol-air atau eter. Penyarian pada perusahan obat tradisional masih terbatas pada
penggunaan cairan penyari air, etanol atau etanol air.

TUJUAN EKSTRAKSI
Untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Ekstraksi ini
didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat kedalm pelarut dimana
perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk kedalam
pelarut.
Secara umum terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi:
1. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme
2. Buahan diperiksa untuk menemkan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya
Alkaloid, flavonoid atau saponin, meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini
bahkan belum diketahui
3. Untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional
4. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara
apapun

Proses Penyarian Dapat Dipisahkan menjadi


a. Pembuatan serbuk
Pada umumnya penyarian akan lebih baik bila permukaan simplisia bersentuhan
dengan cairan penyari makin luas, tetapi dalam pelaksanaannya kehalusan sampel
yang terlalu halus akan mempersulit penyaringan, karena butiran halus tadi
membentuk suspensi yang sulit dipisahkan dengan hasil penyarian. Dengan
demikian hasil penyarian tadi tidak murni lagi karena adanya campuran campuran.
Dinding sel merupakan saringan, sehingga zat yang tidak larut masih tetap berada
dalam sel. Sehingga zat tidak diinginkan ikat ke dalam hasil penyarian.
b. Pembahasan

Pembahasan serbuk sebelum dilakukan penyarian dimaksudkan agar cairan penyari


se seluruh pori pori dalam simplisia sehingga mempermudah penyari selanjutnya.
c. Penyarian
Pada waktu pembuatan serbuk simplisia, beberapa sel ada yang dindingnya pecah
dan ada sel yang dindingnya masih utuh, sel yang dindingnya telah pecah, proses
pembebasan sari tidak ada yang menghalangi. Proses penyari pada sel yang
dindingnya masih utuh, zat aktif yang terlarut pada cairan penyari untuk keluar dari
sel, harus melewati dinding sel, peristiwa Osmosi dan yang berperan pada proses
penyarian tersebut.
Ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan dengan cara dingin dan cara
panas, jenis jenis ekstraksi tersebut sebagai berikut:
1. Ekstraksi secara dingin
Maserasi
Merupakan cara penyarian cara sederhana yang dilakukan dengan
cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa
hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya.
Metode maserasi digunakan untuk menyari

simplisia

yang

mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari,


tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin. Sampel biasanya direndam
selama 3 5 hari, sambil diaduk sesekali untuk mempercepat proses
pelarut komponen kimia yang terdapat dalam sampel.
Kelebihan cara maserasi
Alat dan cara yang digunakan sederhana
Dapat digunakan untuk zat yang tahan dan tidak tahan pemanasan
Kelemahan cara maserasi
Banyak pelarut yang terpakai
Waktu yang dibutuhkan cukup lama

Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui serbuk
simplisia yang telah dibasahi. Kentungan metode ini adalah tidak memerlukan
langkah tambahan yaitu sampel padat (marc) telah terpisah dari ekstrak.
Kerugiannya adalah kontak antara sampel padat tidak merata atau terbatas
dibandingkan dengan metode refluks, dan pelarut menjadi dingin selama proses
perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien.

2. Ekstraksi cara panas


Refluks

Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasak kedalam
labu alas bulat bersam-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap uap
cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul molekul
cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, akan menyari
kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya
berlangsung

secara

berkesinambungan

sampai

penyarian

sempurna,

penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang
diperoleh dikumpulakan dan dipekatkan.
Sokletasi
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia
ditempatkan dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa,
cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan
dikondenisasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul ciran penyari yang
jatuh kedalam klonsong menyari zat aktif didalam simplisia dan jika cairan penyari
telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun kembali kelabu alas bulat
melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan
disifon tidak berwarna tidak tampak noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20
25 kali, ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.

D. Alat dan Bahan


Alat
Seperangkat alat maserasi
Rotary Evaporator
Bahan
Simplisia daun Kemuning (murraya paniculuta)
Kertas saring
Etanol
E. Prosedur Kerja
200 gram serbuk simplisia
Daun kemuning

Dimaserasi
Dengan etanol hingga simplisia terendam
(dihitung vol. Pelarut)

Direndam dan diaduk lalu didiamkan 3x24 jam


Sesekali diaduk


Cairan penyari diganti tiap 1x 24 jam
Disaring

Dimasukkan cairan penyari lalu dhitung volnya


(setiap penggantian pelarut dihitung volumenya)

Pada saat hari ke-3 maserat dipekatkan dengan Rotary Evaporator

Ekstrak kental daun kemuning

Dihitung Rendemen Ekstrak

Cttn: Rendemen= Ekstrak kental (gr) : Ekstrak simplisia (gr)

F. Data Pengamatan
Bobot serbuk sebelum diekstrak
Jumlah cairan penyari

= 100 gr
= 900 ml

G. Pembahasan
Dalam suatu tanaman yang akan diambil atau akan dipisahkan komponen
kimianya dari tanaman tersebut maka tahap selanjutnya adalah ekstraksi yang
merupakan suaru cara pemisahan (isolasi). Zat aktif dari suatu simplisia dengan
menggunakan semua komponen kimia yang terdapat dalam simplisia dengan
menggunakan pelarut organik tertentu. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan
massa komponen zat padat kedalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada
lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk kedalam pelarut.
Proses terjadi ekstraksi diawali dengan pelarut organik akan menembus
dinding sel dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan
terlarut sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam sel
dan pelarut organik diluar sel. Maka larutan terpekatkan berdifusi keluar sel, dan
proses ini berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi zat aktif
didalam dan diluar sel
Dalam praktikum kali ini digunakan sampel daun kemuning dengan metode
maserasi. Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam penyari selama beberapa
hari pada temperatur kamar dan terlidung dari cahaya.

Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen


kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah
mengembang seperti benzoin, stiraks dan lilin. Oleh karena itu, metode ini dapat
digunakan untuk bahan yang teksturnya lembut seperti daun.
Penyarian dalam praktikum kali ini menggunakan metode maserasi,
dimasukkannya simplisia daun kemuning dengan derajat kehalusan tertentu
sebanyak 100 gr kedalam bejana maserasi, kemudian ditambah 900 ml cairan
penyari (etanol),ditutup dan biarkan selama 3 hari pada temperatur kamar terlindung
dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 3 hari disaring kedalam bejana
penampang, kemudian ampas diperas dan ditambah cairan penyari lagi secukupnya
dan diaduk kemudian disaring lagi sehingga diperoleh sari yang maksimal.
Alasan digunakan etanol sebgai pelarut karena etanol termasuk kedalam
pelarut Universal dan merupakan polar, sehingga sebagai pelarut diharapkan dapat
menarik zat-zat aktif yang juga bersifat polar, maupun non polar. Etanol digunakan
juga sebagai cairan penyari dan dalam etanol 20% keatas tidak beracun, netral, dan
etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan, serta panas yang
diperlukan untuk pemekatan lebih rendah etanol dapat memperbaiki stabilitas bahan
obat terlarut dan tidak mengakibatkan peningkatan membran sel. Keuntungan
lainnya adalah sifatnya yag mampu mengendapkan albumin dan menghambat kerja
enzim. Umumnya yang digunakan sebagai cairan pengekstraksi adalah campuran.
Keuntungan cara ini adalah pengerjaan yang dilakukan sederhana begitu juga
alat-alat yang digunakan, sedangkan kerugian dalam pengerjaannya adalah waktu
yang lama dan penyariannya kurang sempurna artinya tidak semua sai yang
terekstraksi cairan penyari yang dipakai biasanya berupa air, etanol, atau pelarut lain.
Pada penyarian dengan cara maserasi perlu dilakukan pengadukan untuk meretakan
konsentrasi larutan diluar butir serbuk simplisia, sehingga terjadi keseimbangan
antara konsentrasi didalam dan diluar sel.
Modifikasi dari maserasi adalah
a) Digesti yaitu cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah
yaitu pada suhu 40-50 derajat. Cara ini dilakukan untuk simplisia yang
tahan panas terhadap pemanasan.
b) Maserasi dengan mesin pengaduk yang berputar terus menerus. Hal
ini dilakukan untuk mengurangi waktu penyarian sehingga dapat
dipersingkat menjadi 4 jam sampai 24 jam saja.
c) Remasi yaitu dengan cairan penyari dibagi menjadi 2, seluruh serbuk
simplisia dimaserasi dengan penyari pertama lalu dituang dan diperas
kemudian ampasnya disari lagi dengan menggunakan penyari yang
kedua.

d) Maserasi melingkar yaitu penyari selalu mengalir kembali serta


berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat
aktinya.
e) Maserasi melingkar bertingkat, pada maserasi ini penyarian tidak
dapat dilaksanakan secara sempurna karena pemindahan massa
akan terhenti bila kesinambungan telah terjadi sehingga dapat diatasi
dengan maserasi melingkar bertingkat.
Ekstrak cair yang diperoleh kemudian akan dipekatkan dengan Roraty Evaporator
untuk mendapatkan ekstrak kental.