Anda di halaman 1dari 32

KASUS-KASUS

KODE ETIK KEPERAWATAN


Ach. Zainur Romadhony

Kasus Keperawatan Maternitas


Warga Kota Ternate Utara, dibuat heboh dengan kasus
aborsi yang dilakukan seorang mahasiswi di salah satu universitas
ternama di Ternate berinisial IK. IK diketahui merupakan anak
seorang pegawai di Kementerian Agama Kabupaten Pulau Morotai.
IK diketahui hamil bersama kekasihnya J yang juga sebagai
salah satu mahasiswa di universitas berbeda di Ternate. Di
hadapan penyidik, J mengisahkan, awalnya dia mengajak IK untuk
menikah lantaran mengetahui kekasihnya hamil dua bulan. Namun,
IK yang mengaku takut kepada keluarganya memilih
menggugurkan kandungan dengan meminum pil sakit kepala yang
dicampur dengan minuman bersoda.
Karena takut, J lantas menguburkan ari-ari janinnya di
belakang rumah IK di Akehuda, Ternate Utara. Sepulang dari
kampus, J lantas mengambil janin yang masih di rumah IK, lalu
dibawa ke Bula, Ternate Utara, untuk dibuang ke pantai.

PEMBAHASAN KASUS

Kasus aborsi di atas merupakan kasus aborsi illegal. Karena dilakukan atas
dasar malu atau takut terhadap keluarga pelaku, bukan dari saran dokter
karena janin memiliki kelainan atau membahayakan kesehatan si ibu. Selain
itu, proses aborsi yang dilakukan pun tidak sesuai bidang kedokteran
dengan meminum pil sakit kepala bercampur minuman bersoda.
Berdasarkan asas etik keperawatan, kasus aborsi yang telah disebutkan di
atas diperbolehkan sesuai dengan asas etik autonomy (otonomi) yang
dimiliki pelaku aborsi. Pelaku aborsi boleh memilih dan memutuskan untuk
melakukan aborsi tanpa paksaan sebab keputusan itu adalah hak dia.
Tetapi, melanggar asas beneficience (berbuat baik/manfaat). Karena kasus
di atas bukanlah merupakan tindakan yang baik dan tidak memberikan
manfaat apa pun, sekalipun alasannya karena takut atau malu atas janin
yang dikandungnya pada keluarga dan orang lain.
Ketika seorang wanita memilih aborsi sebagai jalan untuk mengatasi
kehamilan yang tidak diinginkan, maka wanita tersebut dan pasangannya
akan mengalami perasaan kehilangan, kesedihan yang mendalam atau rasa
bersalah (Perry&Potter, 2010).

Kasus Keperawatan Medikal


Bedah
Seorang wanita berusia 40 tahun menderita tumor dia
menolak untuk di obati dikarenakan biaya yang kurang
mencukupi, namun dia pernah mendatangi puskesmas
terdekat untuk berobat dan konsultasi untuk
menyelamatkan hidupnya, maka di perlukan suatu operasi
dengan segera. Tetapi dia tetap saja menolak untuk
dioperasi dengan alasan tidak adanya biaya, tidak ingin
orang lain (anak-anaknya) susah akan keberadaannya
seperti itu dan membiarkan tumor itu menjadi besar hingga
ia meninggal. Anak-anak nya pun tidak bisa berbuat apaapa, dan mereka menghargai keputusan ibunya walaupun
dengan berat hati. Begitu pula suaminya dia bekerja hanya
sebagai kuli yang hanya cukup untuk keperluan sehari-hari
saja. Bagaimana perawat menghadapi situasi tersebut?

PEMBAHASAN KASUS
Kerangka pemecahan dilema etik, menurut kozier and Erb (1989)
1. Mengembangkan Data Dasar

a. Orang-orang yang terlibat dalam dilema etik tersebut: klien, suami,


anak, perawat, rohaniawan
b. Tindakan yang diusulkan
Sebagai klien dia mempunyai otonomi untuk membiarkan
penyakitnya menggerogoti tubuhnya walaupun sebenarnya bukan hal
itu yang di inginkannya. Dalam hal ini, perawat mempunyai peran
dalam pemberi asuhan keperawatan, peran advocad (pendidik) serta
sebagai konselor yaitu membela dan melindungi ibu tersebut untuk
hidup dan menyelamatkan jiwanya dari ancaman kematian.
c. Maksud dari tindakan
Dengan memberikan pendidikan, konselor, advokasi di harapkan klien
mau menjalani operasi serta dapat membuat keputusan yang tepat
terhadap masalah yang saat ini dihadapi.

d. Konsekuensi tindakan yang diusulkan


1) Operasi dilaksanakan
Biaya
Biaya yang dibutuhkan klien cukup besar untuk dilaksanakannya operasi
Psikososial
Pasien merasa bersyukur diberi umur yang panjang (bila operasi itu lancar dan
baik) namun klien juga dihadapkan pada kecemasan akan kelanjutan hidupnya
bila ternyata operasi itu gagal serta biaya-biaya yang akan di keluarkan.
Fisik
Klien mempunyai bentuk tubuh yang normal tidak terdapat pembesaran dalam
tubuhnya (perut) dan bila dibiarkan begitu saja cepat atau lambat akan
terjadilah kematian
2) Bila operasi tidak dilaksanakan
Biaya
Tidak mengeluarkan biaya apa-apa
Psikososial
Klien dihadapkan pada suatu ancaman kematian terjadi kecemasan dan rasa
sedih dalam hatinya
Fisik
Timbulnya pembesaran di daerah abdomen

2. Identifikasi Konflik Akibat Situasi Tersebut


a. Untuk memutuskan apakah operasi dilakukan
pada wanita tersebut, perawat dihadapkan pada
konflik tidak menghormati otonomi klien
b. Apabila tindakan operasi tidak di lakukan
perawat dihadapkan pada konflik:
1. tidak melaksanakan sumpah profesi
2. tidak melaksanakan kode etik profesi dan prinsip-prinsip
moral: advokasi,benefesience, justice, avoiding, killing.
3. tidak melaksanakan perannya sebagai pemberi asuhan
keperawatan
4. perasaan bersalah (quilty) akibat tidak melaksanakan
tindakan operasi yang memungkinkan timbulnya
kematian.

3. Tindakan Alternatif Terhadap Tindakan Yang Diusulkan


a. mengusulkan dalam tim yang terlibat dalam masalah klien
untuk dilakukannya operasi, konsekuensi:
1. usul diterima atau ditolak aleh tim dan pihak yang terlibat
dalam penanganan klien
2. mungkin klien secara psikologis akan menjadi lebih siap untuk
menghadapi tantangan akan kehidupan ini
3. resiko pengeluaran biaya yang tak terduga/tidak dapat
diprediksi
b. mengangkat dilema etik ini kepada komisi etik keperawatan
yang lebih tinggi untuk mempertimbangkan apakah operasi ini
dilakukan atau tidak konsekuensi:
1. mungkin memperoleh tanggapan yang memuaskan
2. mungkin memperoleh tanggapan yang kurang memuaskan
3. tidak tertutup kemungkinan untuk tidak ditanggapi sama sekali

c. meminta izin kepada pimpinan lembaga


pelayanan kesehatan (klinik kesehatan) untuk
menyampaikan informasi mengenai kondisi klien
yang sebenarnya. Konsekuensi:
1. koordinator lembaga pelayanan menyetujui
atau menolak
2. klien meperoleh informasi dan dapat
memahami kondisinya, serta dapat mengambil
sikap untuk memutuskan tindakan yang terbaik
untuk dirinya.
3. kondisi psikologis klien lebih baik atau
bertambah buruk karena responnya terhadap
informasi yang diperoleh

4. Menetapkan Siapa Pembuat Keputusan


a. pengambilan keputusan harus melibatkan tim yang terkait dan klien
1. pihak yang terkait dengan wanita tersebut untuk melakukan operasi atau
tidak
2. klien, keputusan yang dibuat dapat memperoleh kepastian apakah dilakukan
operasi atau tidak.
c. kriteria penetapan siapa pembuat keputusan
1. Tim
Kumpulan dari beberapa pihak yang berkepentingan dan yang paling memahami
kondisi fisik dan psikologis klien. Masalah yang dihadapi sangat komplek dan
rumit yang tidak hanya memerlukan pertimbangan ilmiah, tetapi juga
pertimbangan etik sehingga pembuat keputusan akan lebih bijaksana dilakukan
oleh tim.
2. Klien
Klien adalah orang yang paling berkepentingan dalam pengambilan keputusan.
Keputusan yang dibuat oleh klien bisa berubah secara tiba-tiba yang akan
mempengaruhi keputusan tim.
3. Keluarga
Keterlibatan keluarga dalam upaya penyelesaian masalah cukup menentukan
mengingat secara ekonomis klien masih belum mendapatkan biaya, sehingga
keluarga mempunyai peranan yang cukup menentukan masalah.

5. Mengidentifikasi Kewajiban Perawat


a. menghindari klien dari ancaman kematian
b. menghargai otonomi klien dan berusaha menyeimbangkan
dengan tanggung jawab pemberi pelayanan kesehatan
c. menghindarkan klien dari tindakan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya
d. melaksanakan prinsip-prinsip kode etik keperawatan
e. membantu sistem pendukung yang terlibat
6. Membuat Keputusan

Keputusan yang dapat diambil sesuai dengan hak otonomi


klien dan dari pertimbangan tim kesehatan, sebagai seorang
perawat, keputusan yang terbaik adalah dilakukan operasi
berhasil atau tidak itu adalah kehendak yang maha kuasa
sebagai manusia setidaknya kita telah berusaha.

Kasus Keperawatan Jiwa


Nn M berusai 16 tahun dibawa oleh sahabatnya ke poliklinik
rumah sakit jiwa untuk konsultasi mengenai masalahnya. Nn M
mengatakan bahwa dia sudah sering melakukan seks bebas sejak kelas
dua sekolah menengah pertama. Nn M sudah dua kali melakukan aborsi,
yang pertama ketika dia berusia 14 tahun dan yang terakhir kira-kira 6
bulan yang lalu. Nn M menyatakan tidak berani mengungkapkan kejadian
yang ia alami kepada kedua orang tuanya. Ia khawatir nantinya orang
tuanya syok dan jatuh sakit bahkan mengusir ia dari rumah. Nn M
menyatakan sangat menyesal telah melakukan tindakan aborsi, tetapi ia
sangat menyukai seks bebas, dan ia melakukan semuai ini hanya unutk
mancari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ia
mengungkapakan saya berasal dari keluarga yang sederhana akan tetapi
saya menginginkan kekayaan. Nn M meminta kepada perawat untuk
memberikan alat kontrasepsi yang tepat bagi dia dan memohon penjelasan
tentang pencegahan penyakit menular. Bagaimana perawat menghadapi
situasi tersebut?

PEMBAHASAN KASUS
1. Pengkajian
Nn M berusai 16 tahun dibawa oleh sahabatnya untuk konsultasi
mengenai masalahnya. Yang suka melakukan seks bebas, sudah dua
kali melakukan aborsi, menyatakan tidak berani mengungkapkan
kejadian yang ia alami kepada kedua orang tuanya. Nn M meminta
kepada perawat untuk memberikan alat kontrasepsi yang tepat bagi
dia dan memohon penjelasan tentang pencegahan penyakit
menular.
2.
Identifikasi Masalah
Masalah muncul karena pasien memerlukan informasi, perawat ingin
memberikan informasi tetapi kebijakan rumah sakit tidak
memperbolehkan anak dibawah umur untuk mendapatkan informasi
tentang alat kontrasepsi. Dan larangan ini juga brelaku bagi
pasangan yang belum menikah. Dan jika dikaitkan dengan tindakan
termasuk area yang etis dilakukan akan tetapi tidak legal.

Identifikasi masalah etik


Autonomy (Otonomi)
Sebenarnya Nn M berhak mendapatkan seutuhnya informasi yang
sebenarnya dari pihak perawat sehingga perawat juga berkewajiban
memberikannya untuk memenuhi standart pelayanan yang
berkualitas. Akan tetapi disisi lain dari segi undang-undang dan
peraturan disebutkan bahwa informasi yang berkenaan dengan
penggunaan alat kontrasepsi hanya boleh diberikan kepada seseorang
yang sudah memiliki status pernikahan. Selain itu juga ketika perawat
mengatakan atau memberikan informasi yang sebenarnya nantinya
akan disalahgunakan oleh Nn M sehingga nantinya akan mengurangi
kualitas pelayanan keperawatan yang ia berikan.
Beneficience (Berbuat Baik)
Ketika perawat memberikan informasi terkait dengan penggunaan
kontrasepsi maka ia akan meminimalkan tindakan aborsi yang
dilakukan oleh Nn M sehingga selain menyelamatkan Nn M dari
tindakan kriminal juga menghindari tindakan pengakhiran hidup pada
janin yang dikandung, begitu juga dengan informasi penyakit menular
seksualnya. Akan tetapi ini tidak dibenarkan dalam kode etik
keperawatan dan undang-undang yang berlaku.

Veracity (Kejujuran)
Nn M sebenarnya berhak tau tentang jenis kontrasepsi yang tepat
untuk dirinya akan tetapi ketika informasi ini diberikan maka akan
membuat perilaku Nn M menjadi lebih tidak baik secara sosial dan
moral.
Fidelity (Menepati Janji)
Sebagai seorang perawat harus lebih peduli terhadap dampak yang
ditimbulkan dengan seks bebas yang dilakukan oleh Nn M salah
satunya resko PMS yang mungkin akan dideritanya, sehingga
seyogyanya perawat memberikan informasi terkait dengan cara
pencegahannya. Akan tetapi untuk memberikan informasi tersebut
perawat juga tidak mau pasiennya menjadi lebih amoral dan juga
tidak sesuai dengan undang-undang.
Justice (Keadilan)
Sebenarnya seorang perawat tidak boleh membedakan jenis
pelayana yang ia berikan temasuk memberikan informasi terkait
dengan penggunaan kontrasepsi dan cara pencegahan penyakit
menular seksual, akan tatapi dalam hal ini Nn M masih dalam
keadaan belum menikah dan ini bertentangan dengan undangundang yang ada.

Identifikasi pihak yang terlibat:


Perawat
Nn M
Sahabat yang mengantar sebagi sumber
motivasi untuk Nn M

Identifikasi peran perawat:


o Peran perawat dalam menghadapi masalah tersebut adalah sebagai
edukator, advokat, serta konselor, dan pemberi asuhan keperawatan.
Sebagai edukator, perawat berkewajiban memberikan penjelasan
atau pendidikan kesehatan kepada Nn. M tentang perilaku seks bebas
terutama tentang dampak buruk dari seks bebas. Selain itu perawat
perlu memberikan pendidikan spiritual tentang pandangan agama
menanggapi kasus seks bebas. Jika Nn. M tetap pada pendirinya
untuk tetap melakukan seks bebas, perawat sebagai edukator
memberikan pendidikan kesehatan mengenai pencegahan penyakit
menular. Disini perawat juga harus memberikan saran agar Nn. M
rutin melakukan pemeriksaan berkaitan penyakit menular seksual
dan penyakit HIV/ AIDS yang mungkin timbul pada pelaku seks bebas.
o Ketika Nn. M tetap berkeinginan melakukan pemasangan alat
kontrasepsi, perawat berperan melakukan asuhan keperawatan dari
pengkajian hingga evaluasi. Dan sebagai advokat, perawat
berkewajiban untuk melakasanakan, membela, memperjuangkan hak
pasien (otonomi). Dalam hal ini, perawat dapat memberikan
pelayanan kesehatan dan informasi kesehatan yang tepat bagi
pasien.

3.

Beberapa Tindakan Alternatif dan Konsekuensinya

. Tidak

memberikan informasi kepada pasien. Dengan alasan Nn. M masih


dibawah umur 17 tahun dan belum menikah
. Merujuk pasien ke rumah sakit yang lain dan resiko mendapat teguran dari
supervisor rumah sakit
. Memberikan informasi kepada pasien. Perawat menghargai hak otonomi pasien
dan menuruti keinginan Nn. M untuk memasang alat kontrasepsi dan
memberikan informasi tentang penyakit menular seksual namun dengan
persetujuan orangtua. Hal ini bertujuan supaya Nn. M terhindar dari kehamilan
yang tidak diinginkan dan berakhir pada aborsi. Selain itu agar terhindar dari
penyakit menular seksual dengan sebelumnya dilakukan pendekatan
pendekatan oleh perawat. Pendekatan ini berupa pendidikan kesehatan
mengenai pandangan agama yang melarang seks bebas dan dampak bila tetap
melanjutkan perilaku seks bebas. Namun ketika, pendekatan yang dilakukan
perawat tidak berhasil dan Nn. M tetap berkeinginan untuk memasang alat
kontrasepsi dan mendapatkan informasi tentang pencegahan penyakit menular
seksual, maka perawat tersebut bisa melakukan pemasangan alat kontrasepsi
dan memberikan pendidikan kesehatan mengenai pencegahan penyakit menular
seksual dengan seblumnya mengisi informed consent.
. Perawat menolak melakukan pemasangan alat kontrasepsi dan menolak
memberikan informasi tentang pencegahan penyakit menular seksual.

Mempertimbangkan prinsip etik dalam teori etik

Memberikan informasi yang berfokus pada penghargaan


terhadap otonomi pasien dan akan memberikan keuntungan
kepada pasien untuk mengurangi kesempatan pasien hamil
lagi. Pilihan tidak memberikan keuntungan bagi perawat jika
karena dapat mengakibatkan perawat kehilangan pekerjaan.
Dan terkait dengan agama hal ini sanagt bertentangan
sekali denagn ajaran setiap agama di dunia ini
Membatasi otononomi pasien dengan tidak memberikan
informasi yang sebenarnya. Hal ini akan merugikan pasien,
bila tidak menggunkana alat kontrasepsi, kemungkinan
besar pasien akan hamil (dan kondisi ini tidak diinginkan
oleh pasien)
Menghargai otonomi pasien, memberikan yang tebaik bagi
pasien, tidak merugikan bagi pasien dan keputusan ini
sesuai dengan ajaran agama

4.

Menyeleksi Tindakan Alternatif


Pilihan ketiga yang paling tepat karen tidak bertentangan
dengan teori etik dan ajaran agama. Kesuksesan
keputusan yang diambil bergantung pada apakah pasien
menuruti segala peraturan dan kebijakan tentang
penggunaan alat kontrasepsi.

Batasan hukum yang berlaku adalah:


Menurut Depkes 2010 yang tertuang dalam:
1) Pasal Pasal 28 H (1) Setiap orang berhak hidup sejahtera
lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan
2) Pasal 34 (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan
fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum
yang layak

Menurut Undang-Undang Kesehatan RI Nomor 36 tahun 2009


Tentang Kesehatan:
1) Pasal 146
(1) masyarakat berhak mendapatkan informasi dan edukasi
yang benar mengenai kesehatan jiwa
(2) hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan
untuk menghindari pelanggaran hak asasi seseorang yang
dianggap mengalami gangguan kesehatan jiwa
2) Pasal 147
(1) upaya penyembuhan penderita ganguan kesehatan jiwa
merupakan tanggung jawab pemerintah, pemerintah daerah
dan masyarakat
(2) upaya penyembuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang dan
ditempat
yang tetap menghormati hak asasi penderita

5.

Analisa situasi hingga hasil aktual dari putusan

Alternatif yang dilaksanakan kemudian dimonitoring dan dievaluasi sejauh


mana keputusan orangtua pasien dan kondisi Nn. M setelah pemasangan
kontrasepsi dan pemberian informasi.
Jika kedua orangtua Nn. M menolak keinginan pasien, perawat sebaiknya
tidak melakukan pemasangan alat kontrasepsi pada pasien. Mengingat aspek
legalitas pemasangan kontrasepsi harus pada orang dewasa atau lebih dari
usia 17 tahun dan pada pasangan yang sudah menikah. Selain itu karena usia
Nn. M masih 16 tahun bisa dikatakan masih menjadi tanggung jawab
orangtuanya, jadi setiap tindakan pada Nn. M harus mendapat persetujuan
dari kedua orangtuanya. Namun perawat tidak berhenti disini saja, karena
sebagai perawat jiwa, perawat sebaiknya melakukan pendekatan, konseling,
dan terapi pada Nn. M agar dia berhenti untuk tidak berperilaku seks bebas.
Namun jika orangtua Nn. M menyetujui dan pemasangan kontrasepsi sudah
dilakukan, perawat juga tidak berhenti disini saja. Perawat harus melakukan
pendekatan, konseling, dan terapi agar Nn. M berhenti melakukan seks
bebas.
Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan
menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan
berikutnya.

6.

Membuat keputusan meliputi pemberian informasi


kepada Nn M, kemungkinan dengan cara pembicaraan
melalui telepon untuk membuat perjanjian dan
membuat perencanaan diskusi dengan pasien dan
orang tuanya. Interaksi meliputi segala catatan yang
berkenaan dengan kondisi pasien.

7.

Membuat keputusan dan interaksi

Evaluasi hasil

Hasil yang diterima kemungkinan menunjukkan


bahwa perjanjian yang telah disepakati antata Nn M
dengan perawat jiwa tidak bertentangan dengan teori
etik dan ajaran agama.

Kasus Keperawatan
Gerontik/Terminal
Seorang wanita berumur 50 tahun menderita penyakit
kanker payudara terminal dengan metastase yang telah
resisten terhadap tindakan kemoterapi dan radiasi. Wanita
tersebut mengalami nyeri tulang yang hebat dimana sudah
tidak dapat lagi diatasi dengan pemberian dosis morphin
intravena. Hal itu ditunjukkan dengan adanya rintihan ketika
istirahat dan nyeri bertambah hebat saat wanita itu
mengubah posisinya. Walapun klien tampak bisa tidur
namun ia sering meminta diberikan obat analgesik, dan
keluarganya pun meminta untuk dilakukan penambahan
dosis pemberian obat analgesik. Saat dilakukan diskusi
Perawat, disimpulkan bahwa penambahan obat analgesik
dapat mempercepat kematian klien. Apa yang harus
dilakukan perawat dalam menghadapi situasi tersebut?

PEMBAHASAN KASUS

Kasus di atas merupakan salah satu contoh masalah dilema etik


(ethical dilemma).
PEMECAHAN KASUS DILEMA ETIK

1. Mengembangkan data dasar:


a. Orang yang terlibat: Klien, keluarga klien, dokter, dan perawat
b. Tindakan yang diusulkan: tidak menuruti keinginan klien untuk
memberikan penambahan dosis morphin.
c. Maksud dari tindakan tersebut: agar tidak membahayakan diri
klien
d. Konsekuensi tindakan yang diusulkan, bila tidak diberikan
penambahan dosis morphin, klien dan keluarganya menyalahkan
perawat dan apabila keluarga klien kecewa terhadap pelayanan di
bangsal mereka bisa menuntut ke rumah sakit.

2. Mengidentifikasi konflik akibat situasi tersebut


Penderitaan klien dengan kanker payudara yang sudah mengalami
metastase mengeluh nyeri yang tidak berkurang dengan dosis morphin
yang telah ditetapkan. Klien meminta penambahan dosis pemberian
morphin untuk mengurangi keluhan nyerinya. Keluarga mendukung
keinginan klien agar terbebas dari keluhan nyeri. Konflik yang terjadi
adalah :
a. Penambahan dosis pemberian morphin
dapat mempercepat kematian klien.
b. Tidak memenuhi keinginan klien terkait dengan pelanggaran hak klien.
3. Tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang
direncanakan dan konsekuensi tindakan tersebut
a. Tidak menuruti keinginan pasien tentang penambahan dosis obat
pengurang nyeri.
Konsekuensi :
1) Tidak mempercepat kematian klien
2) Keluhan nyeri pada klien akan tetap berlangsung
3) Pelanggaran terhadap hak pasien untuk menentukan nasibnya sendiri
4) Keluarga dan pasien cemas dengan situasi tersebut

b. Tidak menuruti keinginan klien, dan perawat membantu untuk


manajemen nyeri.
Konsekuensi :
1) Tidak mempercepat kematian pasien
2) Klien dibawa pada kondisi untuk beradaptasi pada nyerinya
(meningkatkan ambang nyeri)
3) Keinginan klien untuk menentukan nasibnya sendiri tidak terpenuhi
c. Menuruti keinginan klien untuk menambah dosis morphin namun
tidak sering dan apabila diperlukan. Artinya penambahan diberikan
kadang-kadang pada saat tertentu misalnya pada malam hari agar
klien bisa tidur cukup.
Konsekuensi :
1) Risiko mempercepat kematian klien sedikit dapat dikurangi
2) Klien pada saat tertentu bisa merasakan terbebas dari nyeri
sehingga ia dapat cukup
beristirahat.
3) Hak klien sebagian dapat terpenuhi.
4) Kecemasan pada klien dan keluarganya dapat sedikit dikurangi.

4. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat \:


Pada kasus di atas dokter adalah pihak yang membuat keputusan, karena
dokterlah yang secara legal dapat memberikan ijin penambahan dosis
morphin. Namun hal ini perlu didiskusikan dengan klien dan keluarganya
mengenai efek samping yang dapat ditimbulkan dari penambahan dosis
tersebut. Perawat membantu klien dan keluarga klien dalam membuat
keputusan bagi dirinya. Perawat selalu mendampingi pasien dan terlibat
langsung dalam asuhan keperawatan yang dapat mengobservasi mengenai
respon nyeri, kontrol emosi, dan mekanisme koping klien, mengajarkan
manajemen nyeri, sistem dukungan dari keluarga, dan lain-lain.
5. Mendefinisikan kewajiban perawat
a.Memfasilitasi klien dalam manajemen nyeri
b. Membantu proses adaptasi klien terhadap nyeri/meningkatkan ambang
nyeri
c. Mengoptimalkan sistem dukungan
d. Membantu klien untuk menemukan mekanisme koping yang adaptif
terhadap masalah yang sedang dihadapi
e. Membantu klien untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha
Esa sesuai dengan keyakinannya

6. Membuat keputusan
Dalam kasus di atas terdapat dua tindakan yang
memiliki risiko dan konsekuensi masing-masing
terhadap klien. Perawat dan dokter perlu
mempertimbangkan pendekatan yang paling
menguntungkan atau yang paling tepat untuk
klien. Namun upaya alternatif tindakan lain perlu
dilakukan terlebih dahulu misalnya manajemen
nyeri (relaksasi, pengalihan perhatian, atau
meditasi) dan kemudian dievaluasi efektifitasnya.
Apabila terbukti efektif diteruskan namun apabila
alternatif tindakan tidak efektif maka keputusan
yang sudah ditetapkan antara petugas kesehatan
dan klien/keluarganya akan dilaksanakan.

PRINSIP LEGAL DAN ETIK:


1. Euthanasia (Yunani:kematian yang baik) dapat diklasifikasikan menjadi
aktif atau pasif. Euthanasia aktif merupakan tindakan yang disengaja
untuk
menyebabkan kematian seseorang. Euthanasia pasif merupakan tindakan
mengurangi ketetapan dosis pengobatan, penghilangan pengobatan sama
sekali atau tindakan pendukung kehidupan lainnya yang dapat
mempercepat kematian seseorang. Batas kedua tindakan tersebut kabur
bahkan seringkali merupakan yang tidak relevan.
Euthanasia pasif bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan
penderitaan klien namun membiarkannya dapat berdampak pada kondisi
klien yang lebih berat bahkan memiliki konsekuensi untuk mempercepat
kematian klien. Walaupun sebagian besar nyeri pada kanker dapat
ditatalaksanakan oleh petugas kesehatan profesional yang telah dilatih
dengan manajemen nyeri, namun hal tersebut tidak dapat membantu
sepenuhnya pada penderitaan klien tertentu. Upaya untuk mengurangi
penderitaan nyeri klien mungkin akan mempercepat kematiannya, namun
tujuan utama dari tindakan adalah untuk mengurangi nyeri dan
penderitaan klien.

2. Menurut teori mengenai tindakan yang


mengakibatkan dua efek yang berbeda, diperbolehkan
untuk menaikkan derajat/dosis pengobatan untuk
mengurangi penderitaan nyeri klien sekalipun hal
tersebut memiliki efek sekunder untuk mempercepat
kematiannya.
3. Prinsip kemanfaatan (beneficence) dan tidak
merugikan orang lain (non maleficence) dapat
dipertimbangkan dalam kasus ini. Mengurangi rasa nyeri
klien merupakan tindakan yang bermanfaat, namun
peningkatan dosis yang mempercepat kematian klien dapat
dipandang sebagai tindakan yang berbahaya. Tidak
melakukan tindakan adekuat untuk mengurangi rasa nyeri
yang dapat membahayakan klien, dan tidak mempercepat
kematian klien merupakan tindakan yang tepat (doing
good).

TERIMA KASIH