Anda di halaman 1dari 13

Lampiran 5

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN


Pekerjaan
Lokasi
Kabupaten
Tahun Anggaran

: Normalisasi Saluran Pembuang D.I. Krueng Aceh Gani - Lam


Glumpang , Kec. Ingin Jaya (OTSUS)
: Krueng Aceh Gani - Lam Glumpang Kecamatan Ingin Jaya
: Aceh Besar
: 2015

PENDAHULUAN
Metode Pelaksanaan direncanakan agar dalam pelaksanaan pekerjaan dilapangan dapat
dilaksanakan secara sistematis, terkoordinasi dan dapat dipertanggung jawabkan secara teknis,
sesuai Spesifikasi Teknik yang telah ditetapkan oleh Pengguna Jasa. Metode Pelaksanaan
Pekerjaan yang dimaksudkan mencakup pengadaan dan pemasangan seluruh peralatan dan
material yang akan dilaksanakan bersadarkan lingkup Pengadaan Pekerjaan.
RUANG LINGKUP PEKERJAAN
I.
1
2
3
4
5
6
7

PEKERJAAN PERSIAPAN
Mobilisasi dan Demobilisasi
Sewa Pondok Kerja
Papan Nama Proyek
Uitzet Profil
Pembersihan Lapangan
Kitsdam/Dewatering
Adminitrasi dan Dokumentasi

II.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

PEKERJAAN POKOK
Galian Tanah Biasa (AB)
Timbunan Tanah dari Galian (AB)
Timbunan Tanah Didatangkan (AB)
Pasangan Batu 1 : 4
Plesteran 1 : 3 (t=1,5 cm)
Beton K.175
Pembesian
Bekisting
Drain Hole dia 2"

METODE PELAKSANAAN

I.

PEKERJAAN PERSIAPAN

1.1

Kegiatan-Kegiatan Mobilisasi Meliputi:


Organisasi Kerja;
Jadwal pengadaan bahan : mobilisasi peralatan, termasuk papan pengumuman proyek,
rambu rambu pengamanan / peringatan, peralatan K3, dan mobilisasi personil;
Tata cara pengaturan pelaksanaan pekerjaan termasuk rencana pengalihan lalu lintas
dan perencanaan pelaksanaan keamanan dan keselamatan kesehatan kerja (K3);
Penyusunan rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan;
Pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat mengenai rencana
kerja;
Penyusunan perencanaan mutu proyek tentang sistem manajemen mutu.

1.2

Sewa Pondok Kerja


Kontraktor harus membangun dan melengkapi dengan layak, dan memelihara selama
masaKontrak, bangunan kantor dan sarana tempat tinggal bagi staf dan personil
pemberi tugas serta direksi di lapangan,sesuai kebutuhan yang relevan dan sesuai
spesifikasi teknik.

1.3

Papan Nama Proyek


Penyedia jasa wajib membuat 1 (satu) buah papan nama proyek berukuran 50 x 100 cm
yang isi tulisan dan penempatannya ditentukan bersama-sama dengan
Direksi/Pengawas Lapangan.

1.4

Uitzet Profil
Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor terlebih dahulu harus mengadakan
pengukuran/uitzet dengan pengawasan Direksi/Pengawas Lapangan. Alat yang dipakai
dalam pengukuran ini minimaladalah alat waterpass. Pengikatan dalam pengukuran ini
dilakukan terhadap patok-patok tertentuyang berfungsi sebagai titik tetap yang
lokasinya akan ditunjukkan oleh Direksi/PengawasLapangan. Data ini dapat diperoleh
dengan mengajukan permitaan secara tertulis kepada Direksi. Sebelum memulai
pengukuran, kontraktor diharuskan untuk memeriksa semua titik-titik tetap inidan
membuat titik tetap tambahan lainnya sedemikian sehingga jarak 2 titik tetap tidak lebih
dari 1 kilometer.
Ketelitian pengukuran harus selalu dalam batas-batas kesesamaan sebagai berikut :
Titik-titik untuk tampang melintang, boleh terletak kurang dari 2 cm dari posisi yang
ditentukan, baik dalam arah vertikal maupun horizontal.

Pengukuran titik tinggi harus diselesaikan pada sebuah titik tetap atau dibawa
kembali ke titik perrtama. Kesalahan penutupan harus kurang dari 10 L mm, dimana
L adalah panjang atau jarak sirkuit pengukuran dalam Km.
Patok-patok yang menunjukkan tinggi akhir dari pekerjaan tanah harus dipasang
dengan tidak melewati 0,25 cm dari titik tinggi yang benar.
Garis singgung dan lengkung, perbedaannya dengan yang benar harus kurang dari 2
cm terhadap posisi yang benar. Titik untuk bangunan harus terletak tidak lebih dari
0,25 cm dari kedudukan yang sebenarnya, kecuali pada pemasangan baja dan
peralatannya memerlukan yang lebih tinggi. Hasil pengukuran uitzet ini, berupa data
dan gambar sket hasil pengukuran, harus diserahkan kepada Direksi. Oleh Direksi,
hasil ini akan diperiksa. Dan apabila terdapat kesalahan, baik itu pada pengukuran,
perhitungan, maupun penggambaran, maka kontraktor harus memperbaikinya
sampai betul dan mendapat persetujuan Direksi. Hasil pengukuran uitzet yang benar
akan dipakai untuk menentukan trase saluran, tempat bangunan air atau bangunan
pelengkap lainnya. Oleh karena itu kontraktor tidak diperbolehkan memulai suatu
pekerjaan saluran/bangunan sebelum posisi, ukuran-ukurannya, dan ketinggianketinggiannya disetujui oleh Direksi. Pematokan pada as trase saluran dalam
pengukuran ini, harus dilakukan pada setiap interval 50 m dan pada setiap belokan
dengan menggunakan patok kayu. Pematokan pada lokasi bangunan-bangunan air
harus dilakukan dengan menggunakan patok beton. Pada setiap patok yang
dipasang agar dicantumkan nomor urut dan elevasi hasil pengukuran. Jika pada
waktu pengukuran/uitzet trase saluran dijumpai ketidaksesuaian antara gambar
dengan keadaan lapangan, maka kontraktor harus secepatnya melapor kepada
direksi untuk mendapat penyelesaiannya. Kontraktor wajib mengadakan pengukuran
awal atas biayanya sendiri untuk mempersiapkan gambar pelaksanaan. Pengukuran
memanjang maupun melintang pada trase saluran dan bangunan dilakukan sesuai
gambar/penyesuaian di lapangan. Jarak patok pengukuran maksimum 30 meter
untuk jarak lurus atau kurang dari 30 meter untuk jarak tidak lurus atau daerah
bergelombang.
Pemasangan Profil (bouwplank)
Pada setiap pembuatan saluran dan bangunan, kontraktor diwajibkan memasang
bouwplank/profil dan mencantumkan elevasi serta nama bangunannya. Pemasangan
bouwplank/profil harus berdasarkan peil elevasi ketinggian dari patok pengukuran
dan pemasangannya dapat dilaksanakan apabila pengukuran dinyatakan selesai dan
benar serta mendapat persetujuan dari Direksi. Bouwplank harus dibuat dari papan
kayu kelas III yang lurus dan rata. Pemasangan bouwplank harus didahului dengan
pengukuran yang menggunakan alat ukur. Pemasangannya harus cukup kuat.
Kebenaran dari pemasangan bouwplank akan diperiksa oleh Direksi. Setelah
pemeriksaan ini selesai dan hasilnya benar, barulah pekerjaan saluran atau
bangunan dapat dimulai. Bouwplank dibuat dari papan atau bahan lain yang
disetujui oleh Direksi. Bentuk dan ukuran harus disesuaikan dengan bentuk
bangunan yang akan dibuat.

1.5

Pembersihan lapangan
Yang dimaksud dengan pembersihan lapangan mencakup semua pekerjaan yang
berhubungan dengan kegiatan berikut :
Pembersihan, pencabutan dan pengupasan
Pemotongan, Penggalian Parit
Penggalian tempat pengambilan batu gunung dan bahan bangunan batu kali, pasir
dan tanah Penggalian lain yang diperintahkan Direksi.

1.6

Kitsdam/Dewatering
Kontraktor harus mendesain, membangun dan merawat semua pekerjaan sementara
untuk mengoperasikan air dan pengeringan (dewatering) dan harus menyediakan,
memasang, mengoperasikan dan merawat peralatan pemompaan dan perlengkapan lain
untuk mengalihkan air dari daerah kerja sehingga pekerjaan bisa dilaksanakan dengan
baik. Kontraktor harus memperbaiki atas biaya sendiri semua kerusakan yang timbul
akibat gagalnya pekerjaan sementara untuk mengendalikan air. Semua pekerjaan
sementara tersebut di atas harus mendapat persetujuan Direksi dan harus dibongkar
pada saat yang disetujui Direksi setelah kegunaannya dianggap selesai.

1.7

Adminitrasi dan Dokumentasi


Gambar Shop drawing harus ada di direksi keet. Sebelum memulai pelaksanaan di
lapangan, Penyedia Jasa harus memberikan Shop drawing kepada Direksi Lapangan.
Shop drawing ini merupakan dasar dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan, baik
material, bahan maupun personil inti, struktur organisasi.

II.

PEKERJAAN POKOK

2.1

Galian Tanah Biasa (AB)


Dalam waktu tidak lebih dari 30 (tiga puluh) hari sebelum pekerjaan penggalian dimulai,
kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi rencana kerja terinci meliputi lokasi dan
cakupan daerah kerja, jenis pekerjaan penggalian, metode kerja dan peralatan, urutan
dan tahap pekerjaan serta jadwal kerja untuk mendapat persetujuan. Persetujuan
Direksi tidak membebaskan kontraktor dari tanggung jawab kontraktor menyangkut
keamanan pekerjaan dan kerusakan terhadap pekerjaan atau pihak ketiga yang timbul
akibat pekerjaan kontraktor.
Penggalian tanah meliputi penggalian dan pemindahan semua jenis hasil pelapukan atau
tanah terangkut yang tidak termasuk dalam dua macam penggalian terdahulu, bahan ini
dapat digali dan dipindahkan dengan alat konvensional tanpa ledakan atau penggaruan.
Bahan yang termasuk di dalam kelompok tetapi tidak terbatas antara lain semua jenis
tanah, lempung, lanau, pasir, kerikil, kerakal, dan bongkah lepas atau batuan lepas yang

volumenya kurang dari 1 m3. Penggalian dan pemindahan semua tanah terangkut,
tanah organik, kayu, sisa tumbuhan dan sejenisnya yang tersisip diantara tanah asli.
2.2

Timbunan Tanah Dari Galian (AB)


Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan tanah dan pekerjaan yang terkait yang
merupakan permanen sesuai dalam Spesifikasi Teknis.
Pekerjaan ini meliputi tidak terbatas pada :
Penimbunan kembali bangunan
Stabilisasi timbunan
Pertamanan (landscaping) dan pekerjaan restorasi termasuk penggalian dan/atau
penimbunan, pemasangan tanah penutup (top soilling) dan penanaman rumput.
Pembuatan dan pemeliharaan tempat penimbunan dan tempat pembuangan sisa
galian (soil bank)
Pekerjaan tanah lain seperti ditunjukkan dalam gambar atau diperintahkan Direksi.

2.3

Timbunan Tanah Di Datangkan (AB)


Timbunan tanah bisa terdiri atas bahan aluvium, bahan kolovium, bahan batuan lapuk
residual dari galian, tanah dari tempat pengambilan tanah atau kupasan tanah penutup.
Bahannya harus bergradasi baik, berupa campuran homogen antara lempung lanau,
pasir dan kerikil dengan komposisi yang ditentukan di bawah ini. Komposisi tersebut bisa
diubah sesuai keperluan seperti ditunjukkan dalam gambar atau seperti diperintahkan
Direksi. Bahan untuk pekerjaan tanah umum berasal dari hasil galian dari berbagai
bagian pekerjaan permanen; tempat pengambilan tanah (borrow area); tanah residual;
endapan aluvium dan kolovium; lombong batu di batuan lapuk; bahan dari lombong
batu, atau hasil pengolahan dari bahan tersebut di atas atau kombinasinya. Gradasi
tanah timbunan harus bergradasi baik (well graded) dalam batasbatas berikut :
Ukuran maksimum tidak lebih dari 20 cm, kecuali kalau ditentukan lain;
Bahan harus mengandung bagian yang lolos saringan No. 4 (47,6 mm) tidak kurang
dari 50% sampai 100%;
Bahan harus mengandung butiran berukuran lempung (0,002 mm) tidak lebih dari
50%. Indeks Plastisitas (PI) bahan yang ditentukan dengan ASTM Standards D 423
dan D 424, tidak kurang dari 10 dan tidak lebih dari 30

2.4

Pekerjaan Pasangan Batu 1 : 4


Pasangan batu akan digunakan dalam pembangunan berbagai bangunan
danpendukungnya yang mencakup namum tidak terbatas kepada, bangunan hidraulik,
pelapis saluran dan bangunan pelindung, saluran drainase, dinding penahan (retaining
wall), penahan lereng, pondasi untuk bangunan, pembatas jalan, dan lain sebagainya.
Semua pekerjaan pasangan batu harus dilaksanakan berdasarkan persyaratan yang
sesuai dalam Spesifikasi Teknis.

atau dalam Gambar maupun yang disyartkan oleh Direksi. Bahan dan metode konstruksi
untuk pasangan batu harus memenuhi Standar Peraturan Indonesia yang berlaku untuk
material adalah N.I 13 (Batu Belah) dan PUBI-1982 (Peraturan Umum Bahan Bangunan
di Indonesia). Selain itu spesifikasi juga harus mengacu kepada Standar Perencanaan
Irigasi yang diterbitkan oleh Dirjen Pengairan, Departemen Pemukiman dan
Pengembangan Prasarana Wilayah, Republik Indonesia.
2.4.1 Material Pasangan Batu
Material yang harus digunakan dalam pasangan batu adalah sebagai berikut :
Batu
Batu pasangan harus berasal dari batuan sungai maupun hasil
pemecahan
sebagaimana yang disetujui oleh Direksi, tidak saling melekat satu sama lainnya dan
tidak memiliki cacat lainnya. Batu harus memiliki spesifikasi gravity tidak kurang 2.5.
Batu pasangan harus terdiri dari ukuran yang beragam, dipasang dengan bantuan
pemukulan dengan palu sehingga saling berdekatan dan tidak ada siar besar
diantaranya. Setiap batu harus memiliki berat antara 6 hingga 25 kg. batu yang lebih
kecil dapat digunakan, namun harus memperoleh persetujuan dari Direksi terlebih
dahulu. Ukuran maksimum batu harus dibatasi hingga 2/3 ketebalan pelat atau dinding
yang akan dibangun. Atau tidak boleh lebihbesar dari pada 30 cm. Kecuali diizinkan oleh
Direksi, penggunaan batu bulat, hanya diizinkan dalam jumlah yang terbatas dengan
pencampuran dengan batu bersudut, dan tidak boleh digunakan untuk dinding dengan
ketebalan kurang dari 40 cm. Batu pasangan yang disimpan di lokasi proyek harus
dijaga agar pada saat akan dipasang berada dalam keadaan basah.
2.4.2 Adukan Semen Untuk Perekat
Adukan semen untuk perekatan pasangan batu harus terdiri dari campuran semen
Portland dan aggregate/pasir halus yang sesuai dengan persyaratan bahan. Tiga jenis
adukan yang akan digunkan sebagaimana tercantum dalam Gambar maupun atas
arahan, Direksi, adalah seperti berikut :
1 bagian semen dengan 2 bagian aggregate/pasir halus untukbangunan berkekuatan
tinggi.
1 bagian semen dengan 3 bagian aggregate/pasir halus untukpasangan batu yang
terkena aliran air.
1 bagian semen dengan 4 bagian aggregate/pasir halus untukpasangan batu pondasi
dan bangunan yang tidak terkena aliran aliran air. Adukan harus dicampur dengan air
secukupnya hingga menghasilkan adukan yang konsisten.
2.4.3 Pemasangan dan Penyusunan Batu
Sebelum dipasang, batu harus dibersihkan secara menyeluruh terhadap kotoran tanah,
pasir, dan kotoran lainnya. Selain itu batu juga harus dipasang dalam keadaan basah.
Dala pemasangan, batu harus ditata dengan tangan sedemikian rupa sehingga
permukaan rata dari batu, tegak lurus terhadap arah tegangan utama dan seluruh

adukan semen melekat di seluruh pertemuan permukaan batu. Penataan lebih lanjut
dilakukan dengan pemukulan palu baja. Apablia pemukulan ini menimbulkan kerusakan
pada batu, maka batu tersebut harus diambil, dibersihkan dan dipasang kembali dengan
adukan semen baru. Setiap celah pertemuan batu harus dipenuhi dengan adukan. Harus
diyakinkan pula bahwa seluruh permukaan batu terlapisi oleh adukan semen. Jarak siar
antar batu tidak boleh kurang dari 10 milimeter dan tidak boleh lebih dari 50 milimeter
dan tidak diperbolehkan adanya permukaan batu yang bersentuhan langsung dengan
batu lainya. Ukuran dan distribusi batu harus sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh
penyediaan volume adukan semen yang se-sedikit mungkin. Pemasangan batu harus
dilakukan berselang-seling sehingga setiap titik pertemuan batu memiliki arah vertical
dan horizontal. Harus dihindarkan pula adanya bidang pertemuan batu yang lurus
horizontal dan sambung menyambung.
2.5

Pekerjaan Plesteran 1 : 3 (t=1,5 cm)


Pekerjaan plesteran akan dilaksanakan pada setiap permukaan konstruksi yang baru
selesai dibangun dan bagian-bagian lain yang dianggap perlu dilaksanakan.

2.5.1 Bahan-bahan
Semen yang akan digunakan yang bermutu baik dan pasir yang akan dipakai pasir yang
tidak tercampur.
2.5.2 Adukan Semen
Adukan semen harus terdiri dari campuran semen Portland dan aggregate/pasir halus
yang sesuai dengan persyaratan bahan. Dua jenis adukan yang akan digunakan
sebagaimana tercantum dalam Gambar maupun atas arahan Direksi, adalah seperti
berikut :
1 bagian semen dengan 2 bagian aggregate/pasir halus untuk pasangan yang
terkena aliran air.
1 bagian semen dengan 3 bagian aggregate/pasir halus untuk pasanganyang tidak
terkena aliran aliran air.
Adukan harus dicampur dengan air secukupnya hingga menghasilkan adukan yang
konsisten dengan ketebalan sesuai gambar rencana.
2.5.3 Pelaksanaan
Pekerjaan ini akan dilaksanakan dalam 2 lapisan, lapisan 1 yaitu dilaksanakan plesteran
sesuai spesifikasi di atas dan lapisan 2 akan dilakukan dengan adukan aci yang
mempunyai kekentalan yang memenuhi syarat. Sebelum pekerjaan ini dilaksanakan
terlebih dahulu permukaan yang akan diplester akan dibuat kasar dan bersih atau
ditentukan lain oleh Direksi.

2.5
Pekerjaan Gorong Gorong
2.5.1 Pekerjaan Beton
Yang dimaksud dengan beton adalah campuran antara semen portland atau semen
hidraulik yang setara, agregat halus, agregat kasar, dan air dengan atau tanpa bahan
tambah membentuk massa padat
Pekerjaan yang diatur dalam seksi ini harus mencakup pelaksanaan seluruh struktur
beton bertulang, beton tanpa tulangan, beton prategang, beton pracetak dan beton
untuk struktur baja komposit, sesuai dengan spesifikasi dan gambar rencana atau
sebagaimana yang disetujui oleh Direksi Lapangan.
Pekerjaan ini harus pula mencakup penyiapan tempat kerja untuk pengecoran beton,
pengadaan perawatan beton, lantai kerja dan pemeliharaan fondasi seperti pemompaan
atau tindakan lain untuk mempertahankan agar fondasi tetap kering
Mutu beton yang digunakan pada masing-masing bagian dari pekerjaan dalam kontrak
harusseperti yang ditunjukkan dalam gambar rencana atau sebagaimana diperintahkan
oleh Direksi Lapangan, Mutu beton yang digunakan dalam Pekerjaan adalah Mutu
Sedang, K225 (kg/cm2). Umumnya digunakan untuk beton bertulang seperti pelat lantai
jembatan, gelagar beton bertulang, diafragma, kereb beton pracetak, gorong-gorong
beton bertulang, bangunan bawah jembatan.
2.5.2 Persyaratan Bahan
1. Pembesian dan Tulangan
Semua tulangan beton harus berupa tulangan ulir untuk diameter > 12 mm dengan
tegangan leleh minimum 4000 kg/cm2 dan tulangan polos untuk diameter = 12 mm
dengan tegangan leleh minimum 2400 kg/cm2 kecuali ditetapkan lain pada gambar
kerja dan harus sesuai dengan ASTM A.615-72 atau PBI-1971NI.2. Semua tulangan
anyam yang dibuat dari kawat baja yang dilas harus memenuhi persyaratan yang
tercantum di dalam ASTM A. 185-79. Salinan sertifikat uji harus diserahkan kepada
Konsultan pada pengangutan setiap jumlah tulangan ke tempat kerja. Sertifikat ini
harus menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut secara keseluruhan telah memenuhi
semua standar-standar di atas dan sertifikat itu harus dikeluarkan oleh suatu
laboratorium yang independen yang telah disetujui oleh Konsultan.
2. Semen
Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis semen portland yang
memenuhi SNI 15-2049-2004 kecuali jenis IA, IIA, IIIA dan IV. Apabila
menggunakan bahan tambahan yang dapat menghasilkan gelembung udara, maka
gelembung udara yang dihasilkan tidak boleh lebih dari 5%, dan harus
mendapatkan persetujuan dari Direksi Lapangan.
Dalam satu campuran, hanya satu merk semen portland yang boleh digunakan,
kecuali disetujui oleh Direksi Lapangan. Apabila di dalam satu proyek digunakan
lebih dari satu merk semen, maka Penyedia Jasa harus mengajukan kembali
rancangan campuran beton sesuai dengan merk semen yang digunakan.

3. Air
Air yang digunakan untuk campuran, perawatan, atau pemakaian lainnya harus
bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa,
gula atau organik. Air harus diuji sesuai dengan; dan harus memenuhi ketentuan
dalam SNI 03-6817-2002 tentang Metode pengujian mutu air untuk digunakan
dalam beton. Air yang diketahui dapat diminum dapat digunakan. Apabila timbul
keragu-raguan atas mutu air yang diusulkan dan pengujian air seperti di atas tidak
dapat dilakukan, maka harus diadakan perbandingan pengujian kuat tekan mortar
semen dan pasir dengan memakai air yang diusulkan dan dengan memakai air
murni hasil sulingan. Air yang diusulkan dapat digunakan apabila kuat tekan mortar
dengan air tersebut pada umur 7 (tujuh) dan 28 (dua puluh lapan) hari mempunyai
kuat tekan minimum 90 % dari kuat tekan mortar dengan air suling untuk periode
umur yang sama.
4. Agregat
Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan yang diberikan dalam
Tabel di bawah ini tetapi bahan yang tidak memenuhi ketentuan gradasi tersebut
harus diuji dan harus memenuhi sifat-sifat campuran yang disyaratkan.

Tabel Ketentuan gradasi agregat


Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran agregat terbesar tidak
lebih dari jarak bersih minimum antara baja tulangan atau antara baja tulangan
dengan acuan, atau celah-celah lainnya dimana beton harus dicor.

Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang ditunjukkan oleh pengujian
SNI 03-2816-1992 tentang Metode pengujian kotoran organik dalam pasir untuk
campuran
Batu untuk beton siklop harus keras, awet, bebas dari retak, tidak berongga dan
tidak rusak oleh pengaruh cuaca. Batu harus bersudut runcing, bebas dari kotoran,
minyak dan bahan-bahan lain yang mempengaruhi ikatan dengan beton. Ukuran
batu yang digunakan untuk beton siklop tidak boleh lebih besar dari 250 mm.
5. Pelaksanaan Gorong-gorong Persegi Pelat atau Pracetak
Pelaksanaan Pengecoran
Penyedia jasa harus memberitahukan Direksi Lapangan secara tertulispaling sedikit
24 (dua puluh empat ) jam sebelum memulai pengecoran beton, atau meneruskan
pengecoran benton apabila pengecoran beton telah ditunda lebih dari 6 (enam)
jam. Pemberitahuan harus meliputi lokasi, kondisi pekerjan, mutu beton, tanggal
dan waktu pencampuran beton
Direksi Lapangan aka member tanda terima atas pemberitahuan tersebut dan
mengeluarkan persetujuan tertulis untuk memulai pelaksanaan pekerjaan sesuai
yang direncanakan
Walaupun persetujuan untuk memulai pengecoran telah dikeluarkan, pengecoran
beton tidak boleh dilaksanakan apabila Direksi Lapangan atau untuk menyaksikan
operasi pencampuran dan pengecoran secara keseluruhan
Segera sebelum pengecoran dimulai, acuan harus dibasahi dengan air atau diolesi
pelumas di sisi dalamnya agar didapat kemudahan pembukaan acuan tanpa
menimbulkan kerusakan pada permukaan beton
Pengecoran beton ked ala acuan harus selesai sebelum terjadinya pengikatan awal
beton, kecuali digunakan bahan tambahan untuk memperlambat proses pengerasan
yang disetujui oleh Direksi lapangan
Pengecoran beton harus berkesinambungan tanpa berhenti sampai dengan lokasi
sambungan pelaksanaan yang telah disetujui sebelumnya dengan Direksi Lapangan
Pengecoran beton dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi segregasi
antara agregat kasar ddan agregat halus dari campuran
Pengecoran kedalam acuan struktur yang berbentuk rumit dan penulangan yang
rapat harus dilaksanakan secara lapis demi lapis dengan tebal yang tidak melampui
150 mm. Untuk dinding beton tebal lapis pengecoran dapat sampai 300 mm
menerus sepanjang seluruh keliling struktur
Beton tidak boleh dicor langsung kedalam air, apabila beton dicor di dalam air dan
tidak dapat dilakukan pemompaan dalam waktu 48 (empat puluh delapan) jam
setelah pengecoran, maka beton harus dicor dengan metode tremi atau metode
DropBottom-Bucket dimana pengggunaan bentuk dan jenis yang khusus untuk
tujuan ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Lapangan

Gorong-gorong persegi dan pelat harus dibuat sesuai dengan garis dan dimensi
yang diberikan dalam gambar rencana atau sebagaimana yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan.
Seluruh pekerjaan beton bertulang atau beton pracetak harus memenuhi ketentuan
yang disyaratkan dalam Spesifikasi Teknis.
Seluruh pekerjaan pasangan batu harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan
dalam dalam Spesifikasi Teknis.
2.5.3 Fabrikasi
Semua tulangan beton harus dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan panjang dan
bentuk yang telah ditetapkan pada gambar kerja. Kontraktor harus menyiapkan sendiri
jadwal dan gambar-gambar pembengkokkan tulangan dan menyerahkannya kepada
Konsultan 28 hari sebelum tulangan beton tersebut di fabrikasi untuk memperoleh
persetujuannya. Semua pembengkokkan harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum
pada ACI 318M-89, Pasal 7 atau PBI 1971-NI.2, Pasal 5 ayat 5,4; 8.2 dan setelah
difabrikasi, besi-besi tulangan harus diberi tanda yang jelas atau nomor-nomor yaitu
berupa tanda-tanda tulangan yang sesuai dengan yang tercantum pada jadwal dan
gambar-gambar pembengkokkan.
2.5.4 Penyimpanan, Pemasangan dan Pengikatan
1. Penyimpanan
Tulangan baja harus ditangani dengan hati-hati dan ditumpuk di ataspenyangga hingga
terletak cukup jauh di atas tanah. Tulangan-tulangan itu juga harus dijaga agar tidak
dicemari oleh kotoran-kotoran, lumpur, minyak, cat dan lain-lain, dan harus bebas dari
karat yang lepas-lepas, berkepingkeping atau lunak.
2. Semua tulangan harus dipasang sesuai dengan gambar kerja dan syaratsyarat yang
tercantum di dalam ACI 318M-89 Pasal 7 atau PBI 1971-NI.2 Pasal 5.5 dan 5.6. Sebagai
tambahan pada Pasal 7.3 ACI 318M-89, maka untuk menempatkan tulangan dengan
tepat harus ditempuh cara-cara sebagai berikut :
Dudukan plastic buatan pabrik yang sesuai untuk diameter batang tulangan dan
penutup betonnya, di bawah semua tulangan bawah pelat beton dan pada semua
dinding.
Blok dan pengatur selimut luar dengan ukuran yang sesuai dengan penutup beton
yang ditentukan di bawah semua tulangan balok. Blok-blok beton ini harus dibuat
dari beton yang pada usia 28 hari mempunyai kuat tekan kubus paling kecil 20 MPa
dan mempunyai bentuk sedemikian rupa sehingga dapat dijamin kestabilannya
sewaktu pelaksanaan pengecoran beton.
Dudukan dan pengatur jarak diantara tulangan atas dan bawah pelat beton dan
diantara dua lapisan tulangan pada dinding-dinding. Bendabenda ini harus difabrikasi
dari tulangan polos bulat berdiameter minimum 6 mm dan dibentuk sedemikian rupa
sehingga benda-benda tersebut tidak akan bergeser sewaktu beton dicor.

Dudukan harus dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan penutup beton
tulangan yang dimaksud, untuk menyangga tulangan atas pelat beton. Benda-benda
ini harus difabrikasi seperti pada butir c di atas. Pengaturan jarak antar dudukan
tulangan dengan cara di atas harus didasarkan ukuran dan jarak tulangan tetapi di
dalam keadaan apapun harua mampu menyangga dengan kaku tulangan-tulangan
tersebut dan pengaturan jarak ke segala jurusan tidak boleh lebih dari 1200 mm.
Dengan alasan apapun selama pengecoran berlangsung, pekerja-pekerja tidak boleh
menggeser tulangan dari posisinya. Untuk mencegah terjadinya peristiwa itu,
kontrktor harus memasang papan-papan dan penyanggapenyangga untuk membuat
lantai untuk berpijak pekerja (perancah) yang berdiri bebas dari tulangan-tulangan
beton. Apabila Kontraktor bermaksud menambah jumlah sambungan pada tulangan
maka sambungan-sambungan ini harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum
dalam Pasal 7 dari ACI 318 M-89 atau PBI 1971-NI.2 Pasal 8.12 dan 8.13. kontraktor
harus mendokumentasikan posisi dan detail-detail sambungan tersebut dan
menyerahkannya kepada Konsultan untuk disetujui. Fabrikasi untuk perubahanperubahan di atas tidak boleh dimulai sebelum ada persetujuan tertulis dari
Konsultan.
2.6
Drain Hole dia 2" atau Lubang Drainase dan Cucuran
2.6.1 Umum
Lubang drainase dan lubang cucuran harus dibentuk di bangunan beton dan pasangan
batu atau dibor melalui bangunan beton dan/atau batuan. Lubang drainase dan lubang
cucuran harus tersedia pada dinding beton dan pasangan batu, bangunan penahan,
pelapis saluran seperti dan dimanadi tunjukkan pada Gambar, diminta sesuai dengan
Spesifikasi atau yang diperintahkan oleh Direksi. Lubang drainase juga harus dib or pada
lereng galian batu dan pondasi dimana ditunjukkan pada Gambar atau diperintahkan
oleh Direksi.
2.6.2 Pengerjaan dan Bahan-bahan
Apabila lubang drainase disediakan pada bangunan beton atau pasangan batu maka
lubang tersebut harus dibentuk, selama pengecoran beton atau pengerjaan pasangan
batu, dengan pipa PVC berdiameter 50 mm atau berdiameter lain seperti ditunjukkan
pada Gambar atau diperintahkan oleh Direksi. Kecuali jika ditunjukkan lain pada Gambar
atau diperintahkan oleh Direksi, pada lubang drainase dan lubang cucuran pada beton
dan pasangan batu harus disediakan sebuah kantong penyaring di belakang bagian
bangunan tersebut. Kantong penyaring tersebut harus terbuat dari batu pecah dan
gravel terpilih yang bergradasi baik untuk mencegah hilangnya lantai kerja dan/atau
bahan-bahan pondasi dan tertahan pada tempatnya oleh lapisan penyaring yang berupa
bahan sintesis geotekstil atau yang sejenis yang ditunjukkan pada Gambar atau disetujui
oleh Direksi. Ijuk atau bahan organic sejenis tidak boleh dipakai sebagai bahan
penyaring untuk pekerjaan permanen, kecuali jika disetujui atau diperintahkan lain oleh
Direksi

2.7

Pembersihan Akhir
Pada tahap penyelesaian pekerjaan, tempat kerja harus ditinggalkan dalam keadaan
bersih dan siap digunakan oleh Pemberi Pekerjaan. Kontraktor juga harus
memulihkan pada kondisi semula, yaitu bagian-bagian tempat kerja yang tidak
direncanakan untuk perubahan menurut Kontrak;
Pada waktu pembersihan akhir, semua saluran dan struktur harus diperiksa dan
kerusakan fisik sebelum penyerahan akhir. Daerah tempat kerja harus dibersihkan
dan semua puing yang ada disingkirkan seluruhnya.

Demikianlah penjelasan Rencana Kerja dan syarat-syarat ini dibuat, untuk dapat
dipedomani dalam pelaksanaan pekerjaan di atas.

Aceh Besar, 04 Juni 2015


Penyedia
CV. MIDEUN JAYA

ISNEN
Direktur