Anda di halaman 1dari 7

Jawaban Soal bab 12

Pendekatan Kebutuhan Sosial dalam perencanaan pendidikasn!


Perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan kebutuhan sosial, oleh
para ahli disebut pendekatan yang bersifat tradisional, karena fokus atau tujuan
yang hendak dicapai dalam pendekatan kebutuhan sosial ini lebih menekankan
pada: (1) tercapainya pemenuhan kebutuhan atau tuntutan seluruh individu
terhadap layanan pendidikan dasar; (2) pemberian layanan pembelajaran untuk
membebaskan populasi usia sekolah dari tuna aksara (buta huruf); dan (3)
pemberian layanan pendidikan untuk membebaskan rakyat dari rasa ketakutan dari
penjajahan, dari kebodohan dan dari kemiskinan. Oleh karena itu pendekatan
kebutuhan sosial ini biasanya dilaksanakan pada negara-negara yang baru meraih
kemerdekaan dari penjajahan, dengan kondisi masyarakat pribumi yang
terbelakang pendidikannya dan kondisi sosial ekonominya.
Karakteristik Pendekatan Kebutuhan Sosial dalam Perencanaan Pendidikan!
Apabila pendekatan kebutuhan sosial ini dipakai, maka ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan atau diperhatikan oleh penyusun perencanaan dalam merancang
perencanaan pendidikan, antara lain: (1) melakukan analisis tentang pertumbuhan
penduduknya; (2)
melakukan analisis tentang tingkat partisipasi warga
masyarakatnya dalam pelaksanaan pendidikan, misalnya melakukan analisis
persentase penduduk yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan, yang
dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan layanan pendidikan di setiap
satuan pendidikan; (3) melakukan analisis tentang dinamika atau gerak (mobilitas)
peserta didik dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi, misalnya kenaikan
kelas, kelulusan, dan dropout; (4) melakukan analisis tentang minat atau keinginan
warga masyarakat tentang jenis layanan pendidikan di sekolah; (5) melakukan
analisis tentang tenaga pendidik dan kependidikan yang dibutuhkan, dan dapat
difungsikan secara maksimal dalam proses layanan pendidikan; dan (6) melakukan
analisis tentang keterkaitan antara output satuan pendidikan dengan tuntutan
masyarakat atau kebutuhan sosial di masyarakat (Saud, S. dan Makmun A,S. 2007;
Usman, H. 2008). Apabila pendekatan kebutuhan sosial ini dipakai, maka ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan atau diperhatikan oleh penyusun
perencanaan dalam merancang perencanaan pendidikan, antara lain: (1)
melakukan analisis tentang pertumbuhan penduduknya; (2) melakukan analisis
tentang tingkat partisipasi warga masyarakatnya dalam pelaksanaan pendidikan,
misalnya melakukan analisis persentase penduduk yang berpendidikan dan yang
tidak berpendidikan, yang dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan layanan
pendidikan di setiap satuan pendidikan; (3) melakukan analisis tentang dinamika
atau gerak (mobilitas) peserta didik dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan
tinggi, misalnya kenaikan kelas, kelulusan, dan dropout; (4) melakukan analisis
tentang minat atau keinginan warga masyarakat tentang jenis layanan pendidikan
di sekolah; (5) melakukan analisis tentang tenaga pendidik dan kependidikan yang

dibutuhkan, dan dapat difungsikan secara maksimal dalam proses layanan


pendidikan; dan (6) melakukan analisis tentang keterkaitan antara output satuan
pendidikan dengan tuntutan masyarakat atau kebutuhan sosial di masyarakat
(Saud, S. dan Makmun A,S. 2007; Usman, H. 2008).v
Kelebihan dan kelemahan dari pendekatan kebutuhan sosial dalam perencanaan
pendidikan!
Apabila pendekatan kebutuhan sosial ini dipakai, maka ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan atau diperhatikan oleh penyusun perencanaan dalam merancang
perencanaan pendidikan, antara lain: (1) melakukan analisis tentang pertumbuhan
penduduknya; (2)
melakukan analisis tentang tingkat partisipasi warga
masyarakatnya dalam pelaksanaan pendidikan, misalnya melakukan analisis
persentase penduduk yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan, yang
dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan layanan pendidikan di setiap
satuan pendidikan; (3) melakukan analisis tentang dinamika atau gerak (mobilitas)
peserta didik dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi, misalnya kenaikan
kelas, kelulusan, dan dropout; (4) melakukan analisis tentang minat atau keinginan
warga masyarakat tentang jenis layanan pendidikan di sekolah; (5) melakukan
analisis tentang tenaga pendidik dan kependidikan yang dibutuhkan, dan dapat
difungsikan secara maksimal dalam proses layanan pendidikan; dan (6) melakukan
analisis tentang keterkaitan antara output satuan pendidikan dengan tuntutan
masyarakat atau kebutuhan sosial di masyarakat (Saud, S. dan Makmun A,S. 2007;
Usman, H. 2008).

Jawaban soal bab 13


1. Pendekatan Kebutuhan Ketenagakerjaan dalam perencanaan pendidikan!
Apabila pendekatan kebutuhan sosial ini dipakai, maka ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan atau diperhatikan oleh penyusun perencanaan dalam merancang
perencanaan pendidikan, antara lain: (1) melakukan analisis tentang pertumbuhan
penduduknya; (2)
melakukan analisis tentang tingkat partisipasi warga
masyarakatnya dalam pelaksanaan pendidikan, misalnya melakukan analisis
persentase penduduk yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan, yang
dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan layanan pendidikan di setiap
satuan pendidikan; (3) melakukan analisis tentang dinamika atau gerak (mobilitas)
peserta didik dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi, misalnya kenaikan
kelas, kelulusan, dan dropout; (4) melakukan analisis tentang minat atau keinginan
warga masyarakat tentang jenis layanan pendidikan di sekolah; (5) melakukan
analisis tentang tenaga pendidik dan kependidikan yang dibutuhkan, dan dapat
difungsikan secara maksimal dalam proses layanan pendidikan; dan (6) melakukan
analisis tentang keterkaitan antara output satuan pendidikan dengan tuntutan

masyarakat atau kebutuhan sosial di masyarakat (Saud, S. dan Makmun A,S. 2007;
Usman, H. 2008). Apabila pendekatan kebutuhan sosial ini dipakai, maka ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan atau diperhatikan oleh penyusun
perencanaan dalam merancang perencanaan pendidikan, antara lain: (1)
melakukan analisis tentang pertumbuhan penduduknya; (2) melakukan analisis
tentang tingkat partisipasi warga masyarakatnya dalam pelaksanaan pendidikan,
misalnya melakukan analisis persentase penduduk yang berpendidikan dan yang
tidak berpendidikan, yang dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan layanan
pendidikan di setiap satuan pendidikan; (3) melakukan analisis tentang dinamika
atau gerak (mobilitas) peserta didik dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan
tinggi, misalnya kenaikan kelas, kelulusan, dan dropout; (4) melakukan analisis
tentang minat atau keinginan warga masyarakat tentang jenis layanan pendidikan
di sekolah; (5) melakukan analisis tentang tenaga pendidik dan kependidikan yang
dibutuhkan, dan dapat difungsikan secara maksimal dalam proses layanan
pendidikan; dan (6) melakukan analisis tentang keterkaitan antara output satuan
pendidikan dengan tuntutan masyarakat atau kebutuhan sosial di masyarakat
(Saud, S. dan Makmun A,S. 2007; Usman, H. 2008). Apabila pendekatan kebutuhan
sosial ini dipakai, maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan atau
diperhatikan oleh penyusun perencanaan dalam merancang perencanaan
pendidikan, antara lain: (1) melakukan analisis tentang pertumbuhan penduduknya;
(2) melakukan analisis tentang tingkat partisipasi warga masyarakatnya dalam
pelaksanaan pendidikan, misalnya melakukan analisis persentase penduduk yang
berpendidikan dan yang tidak berpendidikan, yang dapat memberikan kontribusi
dalam peningkatan layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan; (3) melakukan
analisis tentang dinamika atau gerak (mobilitas) peserta didik dari sekolah tingkat
dasar sampai perguruan tinggi, misalnya kenaikan kelas, kelulusan, dan dropout; (4)
melakukan analisis tentang minat atau keinginan warga masyarakat tentang jenis
layanan pendidikan di sekolah; (5) melakukan analisis tentang tenaga pendidik dan
kependidikan yang dibutuhkan, dan dapat difungsikan secara maksimal dalam
proses layanan pendidikan; dan (6) melakukan analisis tentang keterkaitan
antara output satuan pendidikan dengan tuntutan masyarakat atau kebutuhan sosial
di masyarakat (Saud, S. dan Makmun A,S. 2007; Usman, H. 2008).v
2. Karakteristik pendekatan
pendidikan!

kebutuhan ketenagakerjaan dalam perencanaan

Ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari perencanaan pendidikan yang


menggunakan pendekatan ketenagakerjaan, yaitu: Pertama, beberapa kebaikan dari
pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan, antara lain: (1) proses
pembelajaran atau layanan pendidikan di satuan pendidikan mempunyai aspek
korelasional yang tinggi dengan tuntutan dunia kerja yang dibutuhkan masyarakat;
dan (2) pendekatan ini mengharuskan adanya keterjalinan yang erat antara
lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri, hal ini tentu sangat positif
untuk meminimalisir terjadinya kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia

industri-usaha. Ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari perencanaan


pendidikan yang menggunakan pendekatan ketenagakerjaan, yaitu: Pertama,
beberapa kebaikan dari pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan,
antara lain: (1) proses pembelajaran atau layanan pendidikan di satuan pendidikan
mempunyai aspek korelasional yang tinggi dengan tuntutan dunia kerja yang
dibutuhkan masyarakat; dan (2) pendekatan ini mengharuskan adanya keterjalinan
yang erat antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri, hal ini tentu
sangat positif untuk meminimalisir terjadinya kesenjangan antara dunia pendidikan
dengan dunia industri-usaha.
3. Kelebihan dan kelemahan dari pendekatan kebutuhan dan ketenagakerjaan
dalam perencanaan pendidikan!
Ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari perencanaan pendidikan yang
menggunakan pendekatan ketenagakerjaan, yaitu: Pertama, beberapa kebaikan dari
pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan, antara lain: (1) proses
pembelajaran atau layanan pendidikan di satuan pendidikan mempunyai aspek
korelasional yang tinggi dengan tuntutan dunia kerja yang dibutuhkan masyarakat;
dan (2) pendekatan ini mengharuskan adanya keterjalinan yang erat antara
lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri, hal ini tentu sangat positif
untuk meminimalisir terjadinya kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia
industri-usaha. Ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari perencanaan
pendidikan yang menggunakan pendekatan ketenagakerjaan, yaitu: Pertama,
beberapa kebaikan dari pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan,
antara lain: (1) proses pembelajaran atau layanan pendidikan di satuan pendidikan
mempunyai aspek korelasional yang tinggi dengan tuntutan dunia kerja yang
dibutuhkan masyarakat; dan (2) pendekatan ini mengharuskan adanya keterjalinan
yang erat antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri, hal ini tentu
sangat positif untuk meminimalisir terjadinya kesenjangan antara dunia pendidikan
dengan dunia industri-usaha.

BAB 14
Pendekatan efisiensi biaya dalam perencanaan pendidikan
Menurut Guruge ( 1972 ) , pendekatan efisiensi ini mengandung pengertian yaitu
penentuan besarnya investasi dalam dunia pendidikan sesuai dengan hasil,
keuntungan atau efektivitas yang akan diperoleh.
Pendekatan ini bersifat ekonomi dan berpangkal dari konsep Investment in
Human Capital atau investasi pada sumber daya manusia. Setiap investasi harus
mendatangkan keuntungan yang dapat diukur dengan nilai moneter. Pendidikan
memerlukan investasi yang besar dan karena itu keuntungan dari investasi tersebut
harus dapat diperhitungkan bilamana pendidikan itu memang mempunyai nilai

ekonomi. Pendidikan ini menitikberatkan pemanfaatan biaya secermat mungkin


untuk mendapatkan hasil pendidikan yang seoptimal mungkin, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif. Pendidikan ini hanya diadakan jika benar-benar
memberikan keuntungan yang relatif pasti, baik bagi penyelenggara maupun
peserta didik. Sebagai contoh: pembukaan sekolah-sekolah Magister Manajemen,
Magister Bisnis Administrasi, dan kursus-kursus.

Karakteristik pendekatan efisiensi

Efisiensi Internal
Suatu sistem pendidikan dinilai memiliki efisiensi internal jika dapat menghasilkan
output yang diharapkan dengan biaya minimum. Dapat pula dinyatakan bahwa
dengan input yang tertentu dapat memaksimalkan output yang diharapkan.
Efisiensi internal sangat bergantung pada dua factor utama, yaitu factor
institusional dan factor manajerial.
Dalam rangka pelaksanaan efisiensi internal, perlu dilakukan penekanan biaya
pendidikan melalui berbagai jenis kebijakan, antara lain:
Menurunkan biaya operasional
Memberikan biaya prioritas anggaran terhadap komponen-pomponen input yang
langsung berkaitan dengan proses belajar mengajar.
Meningkatkan kapasitas pemakaian ruang kelas, dan fasilitas belajar lainnya
Meningkatkan kualitas PBM
Meningkatkan motivasi kerja guru
Memperbaiki rasio guru-murid.
Efisiensi Eksternal
Istilah efisiensi eksternal sering dihubungkan dengan metode cost benefit analysis,
yaitu rasio antara keuntungan financial sebagai hasil pendidikan (biasanya diukur
dengan penghasilan) dengan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan.
Analisis efisiensi eksternal berguna untuk menentukan kebijakan dalam
pengalokasian biaya pendidikan atau distribusi anggaran kepada seluruh sub-sub
sector pendidikan.
Fattah (2006:43) merumuskan arahan-arahan
pembiayaan pendidikan sebagai berikut :

dalam

meningkatkan

efisiensi

Pemerataan kesempatan memasuki sekolah (equality of acces)


Pemerataan untuk bertahan disekolah (equality of survival)
Pemerataan kesempatan untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar (equality of
output)
Pemerataan kesempatan menikmati
masyarakat (equality of outcome).

manfaat

pendidikan

dalam

kehidupan

Kelebihan dan kekurangan pendekatan efiensi

Kelebihan pendekatan Cost Benefit


Adapun kelebihan pendekatan cost benefit menurut Arifin (2010) antara lain adalah:
a. Perencanaan pendidikan yang disusun akan mempunyai aspek fungsional dan
keuntungan ekonomis, sehingga bentuk-bentuk layanan pendidikan yang dianggap
kurang produktif bisa ditiadakan melalui pendekatan efisiansi investasi.
b. Pendekatan ini selalu memilih alternatif yang menghasilkan keuntungan lebih
banyak daripada biaya yang dikeluarkan.
4.

Kekurangan pendekatan Cost Benefit

Ada beberapa kelemahan pendekatan cost benefit menurut Abin dalam Arifin
(2010), diantaranya adalah:
a.
Akan mengalami kesulitan dalam menentukan secara pasti biaya dan
keuntungan (cost danbenefit) dari layanan pendidikan, terlebih apabila digunakan
mengukur keuntungan untuk periode atau masa yang akan datang.
b. Sangat sulit untuk mengukur secara pasti atau menghitung keuntungan
(benefit) yang dihasilkan oleh seseorang dalam lapangan pekerjaan yang dikaitkan
dengan layanan pendidikan sebelumnya.
c. Faktor internal individu (misalnya motivasi, disiplin, kelas sosial, orientasi hidup
individu dan sejenisnya) dan hanya melihat hubungan antara tingkat pendidikan
dengan penghasilan.
d. Perbedaan pendapat seseorang sebenarnya tidak semata-mata menunjukkan
kemampuan produktifitas individual, tetapi ada faktor lain yang ikut menentukan
yaitu faktor konvensi sosial atau banyak dipengaruhi dari kerja kelompok.

e.
Keuntungan dari pendidikan pada dasarnya tidak hanya diukur berupa
keuntungan finansial (material), tetapi juga dapat dilihat dari keuntungan sosial
budaya.

Anda mungkin juga menyukai