Anda di halaman 1dari 13

POTENSI WISATA PARIWISATA KOTA (URBAN TORISM) SEBAGAI

TOURISM BUSINESS DISTRICT


Nasrullah, nasbinawisata@gmail.com
Abstract
Urban tourism not only identity and meaningful for the individual and the people of the
city, but now it has become an economic resource for cities post industrialiasasi. Tourism
Business District (TBD) has a very important role in the development of cities at this time,
given that this region is an area where the majority of tourist activity is concentrated city,
regarding access to travel services: accommodations, entertainment facilities, restaurants,
and shopping. Makassar city is the capital of South Sulawesi province that has diverse
tourism potential for the development of the components of the city's tourism (urban
tourism) eg natural resources, culture, historical heritage, MICE activities and additional
services in supporting the city's tourism. So the future is able to create a diversified tourism
product when tourists visit the city of Makassar, and able to develop the area of Makassar
as tourism functional area business district.
Keyword: tourism product, urban tourism and tourism business district
Pendahuluan
Pemanfaatan potensi kota telah menjadi instrumen untuk pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi kota. Potensi tersebut menyediakan peluang untuk revitalisasi
wilayah perkotaan dan alternative kegiatan ekonomi bagi masyarakat (environmental and
economic regeneration). Selain itu perkembangan kegiatan di dalam kota yang berbasis
Tourism Business District akan memberikan jalan untuk meningkatkan citra dan
kenyamanan suatu kota. Salah satu bentuk pemanfaatan potensi Tourism Business District
di dalam kawasan perkotaan adalah melalui pengembangan pariwisata kota.
Pengembangan ini dipandang relevan karena pariwisata merupakan alat strategis untuk
mengintegrasikan kepentingan pembangunan dan konservasi. Disamping itu pariwisata
kota merupakan dasar kebijakan pembangunan kota, yang mengkombinasikan anatara
pengembangan produk kota untuk memenuhi keinginan pengunjung dan kesejahteraan kota
(Page, Stephen J. dan Hall, Michael C:2003).
Perkembangan pembangunan infrastruktur serta sarana dan prasarana besar-besaran
beberapa tahun belakangan ini membuat Kota Makassar masuk kedalam kota besar bahkan
menghampiri metropolitan. Dengan pembangunan kota yang serba cepat ini lambat laun
akan membawa Kota Makassar semakin cocok untuk dijadikan sebagai kota bisnis,

mengingat keberagaman program pembangunan infrastruktur serta sarana dan prasarana


untuk kepentingan bisnis terlebih untuk industry pariwisata. Fungsi Kota Makassar sebagai
pusat pemerintahan dan bisnis, sudah sangat potensial untuk menunjang pengembangan
pariwisata kota. Menurut Ashworth dan Tunbridge (1990), kegiatan bisnis adalah salah
satu dari sekian banyak potensi wisata dalam pariwisata kota. Artikel ini dilakukan untuk
mengidentifikasi potensi wisata pariwisata kota (urban tourism) wilayah Kota Makassar
sebagai suatu destinasi yang berbasis Tourism Business District (TBD).
Kajian Pustaka
Kawasan

kota

merupakan suatu kawasan


di

mana

mayoritas

aktivitas wisatawan kota


terkonsentrasi,

terkait

akses

wisata:

layanan

akomodasi,

fasilitas

hiburan, restoran, belanja.


Dengan pemusatan layanan wisatawan dan non-wisatawan dalam satu area yang aksesibel
akan memungkinkan wisatawan untuk tinggal, dan berkembang menjadi area destinasi
wisata.
Menurut Burtenshaw et al (1991) dalam Page (1995) menyatakan bahwa Central
Tourist District (CTD) merupakan pemusatan aktivitas wisatawan kota pada area tertentu
dan didalam TBD konsentrasi visitor oriented attraction dan services terhubung dengan
fungsi pusat bisnis kota (CBD), karena tanpa dihubungkan dengan Acces-Pedestrian Acces,
tidak mungkin Core Attractions dan CBD Functions dapat mendukung pengembangan
Tourism Business District.

Tourism Business District merupakan obyek dan daya tarik wisata merupakan akhir
perjalanan wisata dan harus memenuhi syarat-syarat komponen pembentuknya, artinya
harus memiliki potensi wisata diantaranya Core Attractions, CBD Functions dan Acces
mudah dicapai dan dengan sendirinya mudah ditemukan (Getz:1993 dalam Page,
Stephen:1995). Secara skematik dapat digambarkan seperti Gambar 1.
Menurut Getz dalam Page:1995, tourism business district merupakan perpaduan
antara tiga (3) elemen yaitu:
1. Core Attractions, yang terdiri dari beberapa unsur yaitu: natural, heritage, cultural,
shopping, conventions and events.
2. CBD Functions, yang terdiri dari beberapa unsur yaitu: offices, retail, government and
meetings.
3. Essential Service, yang terdiri dari beberapa unsur yaitu: transport to, access within,
catering, accommodation, and information.
Kendala dalam perencanaan TBD pada dasarnya adalah memetakan visitor oriented
service dengan penggunaan layanan dan fasilitas oleh penghuni dan pekerja setempat.
1. Tourists (intentional users from outside city region)
2. Recreating residents (intentional users from inside the city region)
3. Non-recreating visitors (incidental users from outside the city region)
4. Non-recreating residents (everyday people who live in the city region) (Ashworth G.J.
dan Tunbridge:1990;17).
Dalam hal pengembangan konsep kegiatan wisata yang didukung oleh transportasi
dan infrastruktur kota baik berupa sumber daya budaya, pengembangan kawasan
komersial, dan sistem informasi. Oleh sebab itu perlu pendekatan yang terintegrasi berdasar
pada prinsip-prinsip berikut:
1. Meningkatkan kualitas obyek-obyek wisata yang dapat memberikan distribusi aliran
wisatawan yang lebih baik dan mencegah resiko-resiko overcrowding atau saturation
pada obyek wisata khususnya pada pusat kota yang bersejarah.

2. Aliran pengunjung lebih baik dipecah (disalurkan), dibatasi, dan diorientasikan oleh
supervising route ke arah kota dan access routes ke seluruh atraksi utama
(fleksibilitas).
3. Opening hours seharusnya luas dan fleksibel (mendorong overnight stay).
Keseimbangan yang memadai antara produk-produk dan layanan-layanan yang
berbeda yang ditawarkan oleh obyek wisata harus mewakili harapan dari semua target
group:
1. Pebisnis dan peserta konferensi: layanan dan atraksi yang selalu terbuka sepanjang
tahun, di luar jam kerja kantor, short organized tour;
2. Pengunjung pribadi atau kelompok: batas jumlah kunjungan beberapa atraksi, lama
kunjungan untuk kategori obyek yang berbeda;
3. Keluarga, budaya dan leisure tourist. Apabila keseimbangan sudah terpenuhi, harus
diperhitungkan juga: kondisi cuaca (gabungan atraksi di tempat terbuka dan aktivitas
dalam ruang - kunjungan ke monument, tempat bersejarah ataupun situs budaya),
hiburan untuk wisatawan (keragaman aktivitas sejalan dengan ekspektasinya)
Area Fungsional Wilayah Kota Makassar
Perencanaan TBD yang optimal dapat dilakukan dengan mengidentifikasi area-area di
mana aktivitas wisatawan berlangsung, untuk membentuk suatu pola aktivitas wisatawan
kota dengan mengkaitkan pada atraksi, akomodasi, fasilitas hiburan. Menurut Burtenshaw
et. al. (1991) dalam Page (1995) semua elemen-elemen pariwisata kota yang telah
teridentifikasi kemudian diintegrasikan kedalam area fungsional pariwisata kota guna
memetakan arah pengembangan potensi suatu wilayah. Pemetaan arah pengembangan
potensi pariwisata kota suatu wilayah erat kaitannya antara sumber daya wisata kota dengan
permintaan potensialnya. Hal ini dapat berimbas pada perencanaan dan pengelolaan

komponen produk wisata yang pada akhirnya mampu menampung segmen pasar
pariwisata. Pemetaan wilayah-wilayah pariwisata dapat dilihat dalam Gambar 2.
Pembahasan
Untuk mengetahui potensi pengembangan Kota Makassar sebagai salah satu destinasi
wisata kota yang berbasis Tourism Business District, maka dapat dilakukan identifikasi
potensi-potensi Kota Makassar sesuai dengan bagan The Tourism Business District sebagai
berikut :
a. Core Attractions
Core attractions merupakan atraksi wisata utama yang menarik pengunjung ke suatu
kota (Shaw and Wlliams, 1994). Wilayah Kota Makassar memiliki beberapa potensi wisata
utama, yang berada di wilayah kawasan kota. Potensi tersebut antara lain:
Natural

Pantai Losari, Tanjung Bayang, Pulau


Lae-Lae, Pulau Samalona, Pulau Barang
Lompo, Pulau Lihukan, dan Pulau
Kayangan.
Heritage Benteng Makassar (Fort Rotterdam),
Makam Pangeran Dipenegoro, Benteng
Somba Opu, Mesjid Syech Yusuf, Makam
Kesultanan Gowa, Istana Balla Lompoa,
Taman Purbakala Leang-Leang, Museum
Bangenge.
SocioUpacara Adat Kerajaan Gowa, Accera
Culture Kalompoang, Accera Balla Lompoa,
Festival Pesisir.

Man
Made

Trans Studio Theme Park, Pelabuhan


Paotere, Anjungan Pantai Losari, Museum
Kerang Clara Bundt, Al Markaz Islamic
Centre, Tana Beru, Monumen Rakyat
Perjuangan, water boom, dan Sempang.
Event
Festival Lampion, Festival Barongsai,
Festival Cap Go Meh, dan Carnaval
Budaya Butta Kalompoang. Yang
dilakukan secara rutin dan berkala.
b. CBD Functions
Offices
Bosowa Tower, Kalla Tower, Graha
Pena, Citra Land, International
Hospital, dan Hertasning Land.
Retail

Government

Meetings

Pasar sentral, Pasar butung, Sumba


Opu Glory Market, Mall Ratu Indah
(MARI), Maricayya Mall, MTC
Mall, GTC Mall, Mall
Panakukang(Mall diamond).
Kantor Gubernur, Kantor Dinas
Pariwisata Makassar-Gedung Mulo,
Kantor Dinas Pariwisata Provinsi,
Kantor Imigrasi, Bea dan Cukai,
Pos dan Telekomunikasi.
Celebes Convention Center,
Makassar Convention dan
Exhibition Building.

c. Essential Services
Access within & Bandara Internasional
Transport to
Hasanuddin, Pelabuhan SeokarnoHatta, Terminal Angkutan Kota
dan Daerah.
Catering
Fasilitas Restoran dan rumah
makan diseluruh Kota Makassar
berjumlah sekitar 51 buah.
Accommodation Clarion Hotel & Convention(5),
Hotel Sahid Makassar(5),
Imperial Aryaduta Hotel
Makassar(4), Makassar Golden
Hotel(3), Hotel Pantai
Gapura(3), Celebes Group
Hotel(3), dan 100-an hotel
melati, losmen dan penginapan.
Information
Makassar Information Tourism
Centre Gedung Kesenian dan
Budaya MULO.

Berdasarkan analisis kondisi eksisting terhadap prinsip-prinsip The Tourism Business


District Getz 1993, maka dapat dinyatakan bahwa kondisi Kota Makassar sebagai Tourism
Business District seperti Gambar 3 peta wisata Kota Makassar jika di petakan kedalam
pariwisata kota.
Sentra Bisnis Sepanjang jalan DR. Samratulangi, Sultan Hasanuddin sampai Jend.
Sudirman merupakan kawasan padat bangunan dengan berbagai jenis tipe bangunan mulai
dari kantor, toko, restoran, hotel, agen perjalanan, trading companies, dan rumah sakit di
sepanjang jalan dan backside area. Dahulu merupakan area perkantoran dan
pemungkiman, beralih fungsi menjadi tourism center dan entertainment (khususnya ruasruas jalan Sultan Hasanuddin sampai jalan Penghibur) sejak 10 tahun lalu atau sekitar tahun
1999 pengembangan kawasan pesisir
kota Makassar digalakkan secara besarbesaran seiring dengan melambungnya
predikat pantai losari dengan restoran
terpanjangnya

didunia,

sehingga

menjadi sekarang kawasan ini menjadi


Special Tourism Zone sehingga tak
heran jika berbagai jenis bangunan yang
berbau pariwisata dan entertainment
berjogol

dimana-mana

dan

sangat

mudah dijumpai tiap sudut jalan.


Atmosfer tourism and entertainment
zone sangat terasa hampir semua signage bertuliskan nama dan plang merek dagang
berbagai jenis bisnis didunia entertainment dan nama-nama hotel. Bagian selatan dan utara
masih sarat dengan kekentalan atmosfer perkantoran dan bangunan-bangunan
pemerintahan. Selain itu di sisi utara kota dapat dijumpai rumah-rumah dan bangunanbangunan mewah/real estate, misalnya hertasning land, citra land, bosowa tower, gedung

graha pena sampai kalla tower. Di bagian timur kota menjadi sangat populer pada saat
pembukaan arena pantai tanjung bayang dan baru-baru ini digemparkan dengan adanya
pembangunan, peresmian dan pengoperasian Trans Studio Makassar sebagai The Largest
Indoor Theme Park World 2009.
Akses dapat dicapai dengan berbagai jenis moda transportasi mulai dari pesawat
(mendarat di bandara internasional hasanuddin-Origin ke Destinasi), dengan Kapal Laut
(berlabuh di pelabuhan Soekarno-Hatta-Origin ke Destinasi dan Destinasi Ke ODTW) dan
bisa dengan menggunakan bisa kota, pete-pete, dan kendaraan pribadi (ODTW ke ODTW).
Atraksi state-of-the-art fashion shopping mall, night life entertainment (exotic bars,
discotheques, clubs and karaokes). Amenitas hotel, penginapan, sauna, restoran (korean,
western, chinese food), pub, night club, beauty and massage shop. Pusat Pengembangan
Pemasaran dan Promosi Kota Makassar mempromosikan berbagai kegiatan yang dapat
mengundang wisatawan yang di rangkum dan dikemas dalam suatu paket kegiatan dengan
visi pengembalian spirit budaya dan bisnis butta anging mammiri.
Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Wilayah Kota Makassar. Potensi pengelolaan
pariwisata kota wilayah Kota Makassar dapat dilihat dari volume wisatawan ke wilayah
Kota Makassar, seperti pada Tabel 1. Adapun jumlah kunjungan wisatawan mancanegara
sebanyak 151.763 orang dengan rata-rata pertumbuhan kunjungan sebesar 24,35 persen

dan wisawatan nusantara sebanyak 5.920.520 orang dengan rata-rata pertumbuhan


kunjungan sebesar 38,75 persen. Lama Tinggal Wisawatan. Lama Tinggal Lama tinggal
wisatawan yang mengunjungi wilayah Kota Makassar umumnya didominasi oleh
wisatawan mancanegera dengan kisaran lama tinggal selama 4-5 hari, sedangkan
wisatawan nusantara dengan kisaran lama tinggal 3-5 hari. Dengan rata-rata pengeluaran
wisatawan mancanegara sebesar US$ 185 perhari dan untuk rata-rata pengeluaran
wisawatan nusantara sebesar Rp. 700.000 perhari. Untuk menunjang perjalanan para
wisatawan yang datang berkunjung tersedia sekitar 300 BPW yang masih aktif yang
mampu untuk membantu mempermudah perjalanan para wisatawan, selain itu ditunjang
pula dengan jumlah hotel berbintang dan non bintang sebanyak 196 buah hotel dengan
9.700 buah kamar. Fasilitas lainnya yang dapat mendukung kegiatan MICE dan kegiatan
bisnis lainnya berupa convention center berupa celebes convention center (CCC) dengan
kapasitas 5000 orang dan grand clarion dengan kapasitas 3000 orang. Belanja
Wisatawan. Untuk pola pembelanjaan wisatawan di wilayah Kota Makassar didominasi
komponen pembelajaan untuk transportasi, akomodasi dan cenderamata, sedangkan untuk
wisatawan nusantara komponen pembelajaan untuk transportasi, untuk tour wisata,
makanan dan minuman dan cenderamata. Adapun besarnya belanja wisatawan
mancanegera sebesar US$ 140.380.775 dan besaran belanja wisatawan nusantara sebesar
Rp. 20,72 Trilliun. Motivasi Kunjungan. Permintaan (demand side) terhadap pariwisata,
muncul akibat dari adanya motivasi wisata (Page, 1995). Motivasi wisata adalah alasan
yang mendasari mengapa orang mengunjungi suatu destinasi wisata dalam rangka mengisi
waktu luangnya. Motivasi mengunjungi destinasi wisata kota disebabkan oleh beberapa
faktor pendorong dan penarik kota (Page:1995), antara lain:
a. Faktor Permintaan (demand), berupa: 1. Mengunjungi Teman dan saudara. 2.
Perjalanan Bisnis. 3. Peserta konferensi dan pameran. 4. Pendidikan. 5. Budaya dan sejarah.
6. Perjalanan Keagamaan. 7. Kunjungan ramah tamah. 8. Belanja. 9. Kunjungan sehari/day
visitor.

b. Faktor Penawaran (supply), Jansen-Verbeke dan Lievois (1999) berupa: Keunikan dan
kemenarikan (banyak yang dapat dilihat dan dilakukan, dan tempat yang menarik dan
pengalaman yang unik); Atraksi Budaya (Mengenal berbagai landmark, Arsitektur yang
menarik, Mengetahui sejarah, Museum dan galeri, Kehidupan masyarakat lokal, Perbedaan
budaya dan cara hidup, Adat istiadat dan tradisi lokal); Hiburan dan Pertunjukan
(Kehidupan malam, Belanja, Musik, Teater dan kesenian lainnya, Festival dan peristiwa
tertentu); Makanan dan akomodasi (Hotel, Restoran, Makanan dan minuman yang khas).
Dari identifikasi motivasi utama kunjungan wisatawan ke wilayah Kota Makassar
didasari dengan tujuan untuk melakukan bisnis dan perdagangan. Beberapa motivasi
kunjungan lainnya antara lain: kunjungan keluarga; kunjungan sehari transit sebelum
menuju kawasan lainnya seperti Tana Toraja, Takabonerate dan Wakatobi; perdagangan;
dan pendidikan dan riset.
Kesimpulan
Potensi wisata wilayah Kota Makassar sangat besar untuk pengembangan pariwisata
kota (urban tourism) yang mengarah pada konsep tourism business district, hal ini dapat
dilihat dari aspek Core Attractions, yang terdiri dari beberapa unsur yaitu: natural
(memiliki objek dan daya tarik wisata yang beranekaragam), heritage dan cultural
(pemiliki bangunan dan kawasan prasejarah dan purbaka yang unik serta kebudayaan
masyarakat yang masih hidup dan terpelihara dengan baik yang dilaksanakan secara rutin),
shopping (merupakan surga belanja terutama untuk wilayah timur indonesia), conventions
and events (terdapat sarana dan prasarana penunjang yang baik dan dilengkapi dengan
kapasitas yang memadai); CBD Functions, yang terdiri dari beberapa unsur yaitu: offices
(wilayah perkantoran yang tersebar merata di inti kota), government and meetings (terdapat
fasilitas dengan skala tampungan besar); dan Essential Service, yang terdiri dari beberapa
unsur yaitu: transport to, access within, catering, accommodation, and information
(kebutuhan para wisatawan dapat tercover dengan keberadaan BPW serta hotel serta akses
yang terjangkau dari origin ke destination, selain itu kondisi geografis Kota Makassar

sebagai pintu gerbang Indonesia bagian timur dan bandara internasional juga sebagai
pendukungnya).
Area fungsional wilayah Kota Makassar termasuk ke dalam kota belanja dan bisnis.
Dalam konstelasi dengan kawasan wisata dan elemen-elemen fungsional wilayah kota
lainnya sudah membentuk jejaring atau rangkaian produk atraksi yang memadai, dengan
perencanaan, pengelolaan dan pengembangan yang baik akan mendorong terbentuknya
wilayah Kota Makassar sebagai suatu kawasan percontohan untuk pengembangan daerah
wisata yang berbasis tourism businees district.
Daftar Pustaka
Ashworth G.J. dan Tunbridge, J.E. 1990. The Tourist-Historic City, John Wiley&Sons,
England
Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan. 2015. Pariwisata Dalam Angka 2015, Dinas
Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar
Law, Christopher M. 1996. Tourism in Major Cities, International Thomson Business
Press, London
Page, Stephen. 1995. Urban Tourism, Routledge, London
Page, Stephen J. dan Hall, Michael C. 2003. Managing Urban Tourism, Pearson Education
Limited, Harlow
Richard, Greg dan Wilson, Julie. 2007. Tourism, Creativity, and Development, Routledge,
Oxon

CONTOH TEMPLATE ARTIKEL