Anda di halaman 1dari 19

Topik: Benign Prostate Hyperplasia (BPH) dengan Hipertensi Grade II

Tanggal (kasus): 3 Maret 2015


Persenter: dr. Githa Ayu Astarika
Tangal presentasi: 24 Juni 2015
Penyelia: dr. Ratmawati
Tempat presentasi: RSUD Majenang
Obyektif presentasi:
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi:
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien Tn.S umur 78 tahun datang dengan keluhan sulit BAK yang sudah dirasakan sejak 2
tahun. Apabila ingin BAK harus mengedan, serta setiap kali kencing membutuhkan waktu
lama untuk mengeluarkan urin. BAK terkadang menetes dan tidak lancar, BAK terasa tidak
puas, pada malam hari sering terbangun untuk BAK. Terkadang sering bolak-balik ke WC
untuk BAK, padahal baru saja BAK. Pasien nyeri perut bawah (+). Pasien nyeri saat
kencing(-). Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk di bawah perut sampai selangkangan (-).
Nyeri menghilang setelah selesai kencing (-). Riwayatdemam (-),kencing berwarna merah (-),
kencing nanah (-), kencing batu (-), nyeri pinggang (-) , riwayat trauma (-). Pasien karena
tidak bisa kencing dan perut bawahnya semakin membesar sehingga pasien dibawa ke RSUD
MAJENANG.
Tujuan:
Mengetahui penegakkan diagnosis penatalaksanaan BPH
Bahan bahasan:
Cara membahas:

Tinjauan pustaka
Riset
Kasus
Diskusi
Presentasi dan diskusi E-mail

Data pasien:
Nama: Tn. S
Nama klinik: dr.Githa Ayu Astarika
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:

Audit
Pos

No registrasi: 0-39-61-8
Telp: 082242020777 Terdaftar sejak:

Prostate Hyperplasia (BPH) dengan Hipertensi Grade II


2. Riwayat Pengobatan:
Tidak pernah mengonsumsi obat sebelumnya. Pasien sudah berkali kali di pasang selang
kateter selama 2 tahun merasakan sulit kencing seperti ini.
3. Riwayat kesehatan/Penyakit:
Belum pernah mengalami keluhan serupa.
Pasien nyeri saat kencing(-). Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk di bawah perut sampai
selangkangan (-). Nyeri menghilang setelah selesai kencing (-). Riwayatdemam (-),kencing
berwarna merah (-), kencing nanah (-), kencing batu (-), nyeri pinggang (-) ,pancaran urin

bercabang (-) riwayat trauma (-).


4. Riwayat keluarga:
Tidak ada keluarga yang mengeluhkan hal serupa
5. Riwayat pekerjaan:
6. Lain-lain:
Tanda-tanda Vital
Keadaan umum : tampak kesakitan
Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah : 160/100 mmHg


Nadi

: 110 x/menit, isi dan tegangan cukup, reguler

Suhu

: 37,6 C

Pernapasan

: 24 x/menit, reguler,

Status Generalis
Kepala : Venektasi temporal Mata

: Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, RCL +/+, RCTL +/+, diameter pupil
3mm/3mm.

Hidung : NCH (-/-)


Mulut

: sianosis (-), mukosa kering

Leher

: retraksi (-), JVP 5 + 2 cmH2O

KGB

: Tidak teraba.

Tiroid

: Tidak terdapat pembesaran.

Dada

:
Paru : I:

Pergerakan dinding dada simetris kanan=kiri, retraksi (-), ketinggalan


gerak (-), pectus excavatum (-), pectus carinatum(-), sikatriks (-), barrel
chest (-)

P:

Krepitasi (-), massa (-), Vokal fremitus lapang paru kiri=kanan.

P:

Sonor (+/+)

A: SD vesikuler +/+, Rbk -/-, Rbh-/-, Wh-/Jantung: I :

Ictus cordis terlihat di SIC V 1 jari medial linea midclavicularis sinistra

P:

Ictus cordis teraba di SIC V 1 jari medial linea midclavicularis sinistra

P:

Batas jantung kiri bawah di SIC V 1 jari medial linea midclavicularis

sinistra,
Batas jantung kiri atas di SIC II linea parasternal sinistra,
Batas jantung kanan bawah di SIC IV linea parasternal dextra.
Batas jantung kanan atas di SIC II linea parasternal dextra,
A

:S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-).

Abdomen: I : Abdomen cembung regio suprapubik vesika urinaria penuh,


A : Bising usus +, 15 kali per menit.
P : seluruh regio abdomen timpani, kecuali Suprapubik redup (+) ,
pekak alih (-), pekak sisi (-)
P : Dinding abdomen supel, nyeri tekan ++ regio suprapubik,
Hepar : teraba bawah arcus costae dextra, tepi tajam, tanpa pembesaran
Lien : tidak teraba
Ekstremitas: CRT <2, edema pitting inferior (-), akral hangat, turgor kulit baik, tidak ada
gangguan gerak pada ekstrimitas superior dan inferior, clubbing finger (-/-),
sianosis (-/-)
Px genital :
Penis dbn
Testis dex et sin dbn.
Digital Rectal Examination:
Sekitar anus: tidak tampak skin tag/ hemorrhoid
Mukosa rectum : licin
Tonus sfingter ani: normal
Prostat besar gr.II/III,
Konsistensi kenyal,
Sulkus medianus menghilang,
Pole atas teraba
Nodul (-)
BCR normal
Handscoen : darah (-), tinja (+) sedikit
IPSS : 24
Daftar Pustaka:
1. Mulyono, A. Pengobatan BPH Pada Masa Kini. Dalam : Pembesaran Prostat Jinak.
Yayasan penerbit IDI, Jakarta
2.

Rahardjo, J. Prostat Hipertropi. Dalam : Kumpulan Ilmu Bedah. Binarupa aksara,


Jakarta ; 161-703.

3. Kozar Rosemary A, Moore Frederick A. Schwartzs Principles of Surgery 8 th Edition.


Singapore: The McGraw-Hill Companies, Inc; 2005

4. Sabiston, David. Sabiston : Buku Ajar Bedah. Alih bahasa : Petrus. Timan. EGC
5. Sjafei, M. Diagnosis Pembesaran Prostat Jinak. Dalam : Pembesaran Prostat Jinak.
Yayasan Penerbit IDI, Jakarta ; 6-17
6. Umbas, R. Patofisiologi dan Patogenesis Pembesaran Prostat Jinak. Yayasan penerbit
IDI, Jakarta ; 1-52.
7. Sjamsuhidajat, R. dan W. D. Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. EGC, Jakarta.
Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis BPH
2. Penatalaksanaan BPH

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:

Sakit pada kandung kencing dan pemeriksaan fisik lanjut akan mengkonfirmasi sebab dari
sakit pasien

2. Objektif:
Tanda-tanda Vital
Keadaan umum : tampak kesakitan
Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah : 160/100 mmHg


Nadi

: 110 x/menit, isi dan tegangan cukup, reguler

Suhu

: 37,6 C

Pernapasan

: 24 x/menit, reguler,

Status Generalis
Kepala : Venektasi temporal Mata

: Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, RCL +/+, RCTL +/+, diameter pupil
3mm/3mm.

Hidung : NCH (-/-)


Mulut

: sianosis (-), mukosa kering

Leher

: retraksi (-), JVP 5 + 2 cmH2O

KGB

: Tidak teraba.

Tiroid

: Tidak terdapat pembesaran.

Dada

:
Paru : I:

Pergerakan dinding dada simetris kanan=kiri, retraksi (-), ketinggalan gerak (-),
pectus excavatum (-), pectus carinatum(-), sikatriks (-), barrel chest (-)

P:

Krepitasi (-), massa (-), Vokal fremitus lapang paru kiri=kanan.

P:

Sonor (+/+)

A: SD vesikuler +/+, Rbk -/-, Rbh-/-, Wh-/Jantung: I :

Ictus cordis terlihat di SIC V 1 jari medial linea midclavicularis sinistra

P:

Ictus cordis teraba di SIC V 1 jari medial linea midclavicularis sinistra

P:

Batas jantung kiri bawah di SIC V 1 jari medial linea midclavicularis sinistra,
Batas jantung kiri atas di SIC II linea parasternal sinistra,
Batas jantung kanan bawah di SIC IV linea parasternal dextra.
Batas jantung kanan atas di SIC II linea parasternal dextra,

:S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-).

Abdomen: I : Abdomen cembung regio suprapubik vesika urinaria penuh,


A : Bising usus +, 15 kali per menit.
P : seluruh regio abdomen timpani, kecuali Suprapubik redup (+) ,
pekak alih (-), pekak sisi (-)
P : Dinding abdomen supel, nyeri tekan ++ regio suprapubik,
Hepar : teraba bawah arcus costae dextra, tepi tajam, tanpa pembesaran
Lien : tidak teraba
Ekstremitas: CRT <2, edema pitting inferior (-), akral hangat, turgor kulit baik, tidak ada
gangguan gerak pada ekstrimitas superior dan inferior, clubbing finger (-/-), sianosis
(-/-)
Px genital :
Penis dbn
Testis dex et sin dbn.
Digital Rectal Examination:
Sekitar anus: tidak tampak skin tag/ hemorrhoid
Mukosa rectum : licin
Tonus sfingter ani: normal
Prostat besar gr.II/III,
Konsistensi kenyal,
Sulkus medianus menghilang,

Pole atas teraba


Nodul (-)
BCR normal
Handscoen : darah (-), tinja (+) sedikit
IPSS : 24
3. Assessment(penalaran klinis):
DEFINISI

Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran jinak kelenjar prostat yang disebabkan
oleh hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat, antara lain jaringan kelenjar dan jaringan
fibro-muskular
EPIDEMIOLOGI

1. Pria umur > 80 tahun


2. Dengan bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron estrogen karena

produksi testosteron menurun dan terjai konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan
adiposa di perifer.
ANATOMI
Dalam keadaan normal prostat berukuran kira-kira sebesar kenari. Letaknya mengelilingi
uretra pars prostatika dan di antara leher kandung kemih serta diafragma urogenitalis. Prostat terdiri
dari lobus-lobus anterior, posterior, media, dan lateral. Prostat merupakan kelenjar aksesori terbesar
pada pria; tebalnya 2 cm dan panjangnya 3 cm dengan lebarnya 4 cm, dan berat 20 gram.2

PATOFISIOLOGI

ANAMNESIS

Anamnesis pasien berdasarkan keluhan pada saluran kemih bagian bawah (LUTS)5
Terdiri atas gejala obstruksi dan iritasi :

Obstruksi
Hesistansi

Iritasi
Frekuensi

Pancaran miksi lemah

Nokturi

Intermitensi

Urgensi

Miksi tidak puas

Disuria

Distensi abdomen

Urgensi dan disuria jarang

Terminal dribbling (menetes)

terjadi, jika ada disebabkan oleh

Volume urine menurun

Mengejan saat berkemih

ketidakstabilan detrusor
sehingga terjadi kontraksi
involunter.

Tabel 2. Gejala Obstruksi dan Iritasi Benigna Prostat Hiperplasia


Untuk menentukan derajat beratnya penyakit yang berhubungan dengan penentuan jenis

pengobatan BPH dan untuk menilai keberhasilan pengobatan BPH, dibuatlah suatu skoring
yang valid dan reliable. Terdapat beberapa sistem skoring, di antaranya skor International
Prostate Skoring System (IPSS) yang diambil berdasarkan skor American Urological
Association (AUA). Skor AUA terdiri dari 7 pertanyaan. Pasien diminta untuk menilai sendiri
derajat keluhan obstruksi dan iritatif mereka dengan skala 0-5. Total skor dapat berkisar antara
0-35. Skor 0-7 ringan, 8-19 sedang, dan 20-35 berat.

PEMERIKSAAN FISIK

a.

Pemeriksaan colok dubur / digital rectal examination ( DRE )


Merupakan pemeriksaan yang sangat penting, DRE dapat memberikan gambaran tonus
sfingter ani, mukosa rektum, adanya kelainan lain sepertibenjolan di dalam rektum dan tentu
saja meraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan :

Konsistensi pada pembesaran prostat kenyal

Adakah asimetri

Adakah nodul pada prostat

Apakah batas atas dapat diraba dan apabila batas atas masih dapat diraba biasanya besar
prostat diperkirakan <60 gr.

Pada BPH akan ditemukan prostat yang lebih besar dari normal, permukaan licin dan

konsistensi kenyal. Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria
bagian atas kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pnielonefritis akan
disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba apabila
sudah terjadi retensi total, buli-buli penuh (ditemukan massa supra pubis) yang nyeri dan
pekak pada perkusi. Daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya
hernia. Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang
lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra
anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis, condiloma di daerah meatus.6

http://majalahkesehatan.com/wp-content/uploads/2011/03/colok-dubur.jpg
PEMERIKSAAN PENUNJANG

b.

Pemeriksaan laboratorium :
Sedimen urin
Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi pada saluran kemih.
Mengevaluasi adanya eritrosit, leukosit, bakteri, protein atau glukosa.
Kultur urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensifitas
kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan
Faal ginjal
Mencari kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian atas.
Elektrolit, BUN, dan kreatinin berguna untuk insufisiensi ginjal kronis pada pasien yang
memiliki postvoid residu (PVR) yang tinggi.
Gula darah
Mencari kemungkinan adanya penyekit diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan
persarafan pada buli-buli (buli-buli neurogenik)

Penanda tumor PSA (prostat spesifik antigen)


Jika curiga adanya keganasan prostat3,5,7
c. Pemeriksaan Patologi Anatomi 3
BPH dicirikan oleh berbagai kombinasi dari hiperplasia epitel dan stroma di prostat. Beberapa
kasus menunjukkan proliferasi halus-otot hampir murni, meskipun kebanyakan menunjukkan
pola fibroadenomyomatous hyperplasia
d. Pencitraan pada Benigna Prostat Hiperplasia:

Foto polos
Berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat
dan kadangkala menunjukan bayangan buli-buli yang penuh terisi urine, yang merupakan

tanda suatu retensi urine5


Pemeriksaan ultrasonografi transrektal (TRUS)
Adalah tes USG melalui rectum. Dalam prosedur ini, probe dimasukkan ke dalam rektum
mengarahkan gelombang suara di prostat. Gema pola gelombang suara merupakan gambar
dari kelenjar prostat pada layar tampilan. Untuk menentukan apakah suatu daerah yang
abnormal tampak memang tumor, digunakan probe dan gambar USG untuk memandu
jarum biopsi untuk tumor yang dicurigai. Jarum mengumpulkan beberapa potong jaringan
prostat untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Biopsy terutama dilakukan untuk pasien
yang dicurigai memiliki keganasan prostat.5,7

Sistoskopi
Dalam pemeriksaan ini, disisipkan sebuah tabung kecil melalui pembukaan urethra di
dalam penis. Prosedur ini dilakukan setelah solusi numbs bagian dalam penis sehingga
sensasi semua hilang. Tabung, disebut sebuah cystoscope , berisi lensa dan sistem cahaya
yang membantu dokter melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih. Tes ini
memungkinkan dokter untuk menentukan ukuran kelenjar dan mengidentifikasi lokasi dan
derajat obstruksi.7

Ultrasonografi trans abdominal


Gambaran sonografi benigna hyperplasia prostat menunjukan pembesaran bagian dalam
glandula, yang relatif hipoechoic dibanding zona perifer. Zona transisi hipoekoik cenderung
menekan zona central dan perifer. Batas yang memisahkan hyperplasia dengan zona perifer
adalah surgical capsule. USG transabdominal mampu pula mendeteksi adanya

hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama.9

e. Pemeriksaan lain
Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan cara mengukur:

Residual urin :
Jumlah sisa urin setelah miksi, dengan cara melakukan kateterisasi/USG setelah miksi
Pancaran urin/flow rate :
Dengan menghitung jumlah urine dibagi dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik)
atau dengan alat uroflometri yang menyajikan gambaran grafik pancaran urin. Aliran
yang berkurang sering pada BPH. Pada aliran urin yang lemah, aliran urinnya kurang
dari 15mL/s dan terdapat peningkatan residu urin. Post-void residual mengukur jumlah
air seni yang tertinggal di dalam kandung kemih setelah buang air kecil. PRV kurang
dari 50 mL umum menunjukkan pengosongan kandung kemih yang memadai dan
pengukuran 100 sampai 200 ml atau lebih sering menunjukkan sumbatan. Pasien
diminta untuk buang air kecil segera sebelum tes dan sisa urin ditentukan oleh USG
atau kateterisasi.5

DIAGNOSIS BANDING

BPH
Ca Prostat
Batu Buli

Dx banding

Prostatitis
Neurogenic Bladder
Striktur uretra

BPH

BPH

Laki-laki

Umur (50 % usia

Distensi suprapubik
Prostat membesar

60 tahun, 80 %

usia 80 tahun)
Gejala obstruksi

Cystografi:
penyempitan uretra

pars prostatika
USG
urologi:

pembesaran prostat
Uroflowmetry:
pancaran urin < 10
ml/s (obstruksi)

Ca Prostat
Nyeri lumbosacral menjalar ke tungkai
Anamnesis

Epidemiologi
Biasanya umur >60 thn

Kencing berdarah

Px fisik

RT: permukaan berbenjol, keras, fixed

Peningkatan fosfatase asam


Px penunjang

Batu buli

Riwayat stasis urin (BPH, striktur uretra, divertikel, etc)


Pemasangan foley cateter alam waktu lama
Riwayat batu ginjal/ureter

Gejala iritasi (disuria, kencing berhenti tiba-tiba, hilang dengan perubahan posisi, refered pain)
PF : Hematuria
Px: PIV,USG urologi, RO

Prostatitis

Anamnesis didahului nyeri perineal, demam, disuria,polakisuri,retensio urin akut,


PF; RTJika ada abses (fluktuasi)
Neurogenic Bladder

Anamnesis didahului tidak bisa kencing, adaLesi di Sacral 2-4


Striktur Uretra

Anamnesis : Riwayat kecelakaan atau trauma , tidak bisa kencing, Pancaran urin bercabang,
kemungkinan hematuria

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan BPH dapat dilakukan secara konservatif melalui pemasangan kateter, obatobatan, ataupun secara pembedahan. WHO menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat
gangguan miksi dengan skor IPSS.Terapi non bedah diberikan bila skor < 15, untuk itu dianjurkan
kontrol. Terapi bedah dianjurkan bila skor 25 ke atas atau bila timbul obstruksi. Di dalam praktek
klinik pembagian besar prostat derajat I-IV digunakan untuk menentukan cara penanganan.

Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk:
1.
2.

Mengurangi resistensi otot polos prostat sebagai komponen dinamik.


Mengurangi volume prostat sebagai komponen statik.

Jenis obat yang digunakan adalah :

Antagonis reseptor adrenergik-


Fenoksibenzamin adalah penghambat alfa yang mampu memperbaiki laju pancaran miksi
dan mengurangi keluhan miksi. Namun obat ini menyebabkan komplikasi sistemik yang

tidak diharapkan, di antaranya adalah hipotensi postural dan kelainan kardiovaskuler lain.
Beberapa golongan obat penghambat adrenergik 1 adalah prazosin yang diberikan 2x

sehari, terazosin afluzosin, dan doksazosin yang diberikan sekali sehari.


Inhibitor 5 -redukstase
Finasteride adalah obat inhibitor 5- reduktase pertama yang dipakai untuk mengobati
BPH. Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron (DHT)
dari testosteron, yang dikatalisis oleh enzim 5 - redukstase di dalam sel-sel prostat.

Operasi

Penyelesaian

masalah pasien BPH jangka panjang yang paling baik saat ini adalah

pembedahan, karena pemberian obat-obatan atau terapi non invasif lainnya membutuhkan
jangka waktu yang sangat lama untuk melihat hasil terapi. Pembedahan direkomendasikan
pada pasien-pasien BPH :
1. Tidak menunjukkan perbaikan setelah terapi medikamentosa
2. Mengalami retensi urin
3. Infeksi saluran kemih berulang
4. Hematuria
5. Gagal ginjal
6. Timbulnya batu saluran kemih atau penyulit akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah.
Jenis pembedahan yang dapat dilakukan :
1. Pembedahan terbuka
Operasi dengan melakukan enukleasi kelenjar prostat melalui pendekatan retropubik
infravesika. Prostatektomi terbuka adalah tindakan yang paling tua yang masih banyak
dikerjakan saat ini, paling invasif, dan paling efisien sebagai terapi BPH. Penyakit gejala
klinis sebanyak 85%-100%, dan angka mortalitas sebanyak 2%.10
2. TURP
Saat ini TURP merupakan operasi paling banyak dikerjakan di seluruh dunia. Operasi ini
lebih disenangi karena tidak diperlukan insisi pada kulit perut, masa mondok lebih cepat,
dan memberikan hasil yang tidak banyak berbeda dengan tindakan operasi terbuka.10

4. Plan:
Pengobatan: pengobatan bertujuan untuk:
1

Penanganan BPH

Penanganan Hipertensi grade II

Terapi dan planning :


Bed rest
Pasang DC Kateter
IVFD RL 20 tpm
Inj Ceftriaxon 1 gram
Merupakan antibiotik yang diindikasikan untuk infeksi saluran nafas, GIT, saluran urogenital,
kulit, infeksi nosokomial dan infeksi serius lainnya. Dosis dewasa dan anak > 12 tahun
diberikan dosis 1-2 gram perhari, 1 kali/hari 11
Inj Ketorolac 30 mg
Diindikasikan untuk analgesik rasa nyeri berat dan sedang setelah operasi. Dosis untuk pasien <
65 tahun 30 mg/IV/IM per 4-6 jam, maksimum 90 mg per hari. Pasien > 65 tahun, pasien
dengan berat badan < 50 Kg 30 mg IV/IM per 4-6 jam maksimum 60 mg per hari 11

Amlodipin tab 10 mg
Mengandung amlodipine, yang diindikasikan untuk hipertensi terapi tunggal atau ganda. Dosis
awal 1 kali sehari 5 mg, dapat dinaikkan hingga dosis maksimum 10 mg.11
Irbesartan tab 300 mg
Mengandung irbesartan 300 mg, yang diindikasikan untuk hipertensi essensial. Dapat
menimbulkan efek samping sakit kepala, pusing, lemah, mual/muntah, urinasi abnormal. Dosis
1 tablet 1 kkali sehari, maksimal 300 mg.11

Persiapan pre OP:


Puasa
Pemeriksaan Laboratorium lengkap
Rontgen Thorax dan abdomen
USG prostat

Majenang, 24 Juni 2015


DOKTER INTERNSHIP

dr.Githa Ayu Astarika

DOKTER PENDAMPING

dr.Ratmawati

LAPORAN KASUS
PROSTATE HYPERPLASIA (BPH) DENGAN HIPERTENSI GRADE II

Pendamping:
dr. Ratmawati

Disusun oleh:
dr. Githa Ayu Astarika

RSUD MAJENANG
KABUPATEN CILACAP
2015