Anda di halaman 1dari 24

PROFESIONALISME AUDITOR PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK

DILIHAT DARI PERBEDAAN GENDER, KANTOR AKUNTAN PUBLIK


DAN HIRARKI JABATANNYA
Proposal Skripsi

Diajukan oleh
SALMAN HUSIN
0902132904

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAL EKONOMI
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI i
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
2. Perumusan Masalah..

1
7

3. Tujuan penelitian

4. Manfaat Penelitian.

5. Sistematika Penulisan..
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. 10

A. Tinjauan Pustaka. . 10
1. Teori Sosiologi Profesi.. 10
2. Pemahaman Mengenai Gender..
3. Ukuran dan Tipe Kantor Akuntan Publik
4. Hirarki Jabatan pada Kantor Akuntan Publik

10

11
12

5. Etika dan Profesionalisme

13

6. Profesi dan Profesional.

14

7. Profesi Akuntan Publik. 15


8. Konsep Profesionalisme 15
B. Pengembangan Hipotesis
1. Perbedaan Gender
2. Tipe Kantor Akuntan Publik..
3. Hirarki Jabatan pada Kantor Akuntan Publik

16
16

18

19

C. Kerangka Pemikiran Teoritis.

21

BAB III.
22

METODE PENELITIAN..

1. Jenis dan Sumber Data


2. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

22

3. Prosedur Pengumpulan Data


4. Definisi Operasional Pengukuran Variabel

22

22

23

5. Analisis Data.

1. Uji Kualitas Data..

24

24

1. Uji Reliabilitas..

25

2. Uji Validitas..

25

3. Uji Non Respon Bias.. 25


4. Teknik Analisis
DAFTAR PUSTAKA

26

BAB I
PENDAHULUAN
1. A.

Latar Belakang

Kasus Enron di Amerika yang dinyatakan bangkrut oleh pengadilan Amerika telah
menimbulkan gejolak baru bagi profesi akuntan baik diseluruh dunia termasuk di
Indonesia. Dampak dari kasus ini adaiah runtuhnya big firm akuntan dunia Arthur
Andersen, setelah dinyatakan bersalah oleh pengadilan negara bagian Houston Texas
karena keterlibatannya dalam kasus Enron dengan melakukan mark up keuangan
(Auditor, 2002).
Kebangkrutan ini bukan disebabkan oleh ekonomi dunia yang sedang melemah,
melainkan kesalahan fatal dalam sistem akuntan mereka. Selama tujuh tahun terakhir,
Enron melebih-lebihkan laba bersih dan menutup-tutupi utang mereka. Auditor
independen, Andersen (yang dahulu dikenal sebagai Arthur Andersen), dituding ikut
berperan dalam menyusun pembukuan kreatif Enron. Lebih buruk lagi, kantor hukum
yang menjadi penasihat Enron, Vinson & Eikins, juga dituduh ikut ambil bagian dalam
korupsi skala dunia ini dengan membantu membuka partnership-partnership
kontroversial yang dianggap sebagai biang keladi dari kehancuran Enron.
Nama besar Kantor Akuntan Publik (KAP) Arthur Andersen yang bermarkas di
Chicago. Amerika Serikat hilang, setelah berkiprah sebagai penjual jasa audit selama 83
tahun. Padahal Arthur Andersen termasuk dalam kategori big five, urutan kedua terbesar
di dunia dan nomor satu di Amerika untuk urusan audit yang telah beroperasi di 84
negara dan didukung oleh kurang lebih 85 ribu karyawan termasuk di Indonesia, dengan
total pendapatan pertahun tak kurang dari US $ 10 milliar.

Kasus Enron tersebut diatas pasti berdampak terhadap profesi akuntan publik, jelas akan
mengakibatkan citra negatif terhadap profesi akuntan publik sehingga menjadi sorotan,
diantaranya:
1. Munculnya keraguan publik akan informasi Laporan Keuangan. Rekayasa Laba
Enron menyebabkan Laporan Keuangan (LK) auditan dan Earning Per Share (EPS) tak
dapat digunakan sebagai pegangan publik dan tak lagi dapat digunakan untuk
mendongkrak sentimen pasar saham (Jan Hoesada ,2002)
2. Klien semakin sadar bahwa tidak ada jaminan kalau bigfirm akuntan selalu lebih
baik mutunya (Sofyan S. Harahap, 2002)
1. Regulator cenderung melakukan pengetatan peraturan dalam menata kembali
protest ini demi melindungi kepentingan publik, baik dalam bentuk pencabutan
dan persyaratan izin praktik, memperberat sanksi denda, peningkatan

pengendalian mutu, keahlian dan ketrampilan akuntan. (Sofyan S. Harahap,


2002)
2. Akan terjadi reformasi dalam asosiasi, serikat atau ikatan-ikatan akuntan di
seluruh dunia (Jan Hoesada, 2002) Indonesia, sedangkan penelitian oleh
Sorensen dan Sorensen (1974) Norris dan Niebuhr (1983) tentang orientasi
profesional pada level organisasi di KAP, menyimpulkan bahwa meningkatnya
orientasi birokrasi berarti menurunnya orientasi profesional dari posisi hirarki
rendah ke hirarki posisi lebih tinggi.
Sebagai profesi kepercayaan akuntan harus selalu menyadari fungsinya sebagai
kepercayaan masyarakat yang harus dijaga. Profesi akuntan hanya bisa survive jika
menjaga amanah yang diberikan mayarakat/wser kepadanya, dengan cara
mempertaruhkan profesionalisme mereka (Sudibyo, 2002).
Profesi ini hanya bisa dijaga jika akuntan selalu berpedoman pada kode etik, standar dan
moralitas. Menteri Keuangan Dorojatun Kuncoro Jakti, (2002) juga mengungkapkan
bahwa dalam akuntabilitas manajemen publik harus dibarengi profesionalisme yang
tinggi, dan itu saja tidak menjamin akan membawa manfaat yang lebih besar jika tidak
didukung moral dan etika yang baik.
Profesi akuntan harus memiliki integritas, independen dan bebas dari semua
kepentingan di luar kepentingan menegakkan kebenaran, kemampuan teknis dan
profesionalisme harus selalu dijaga dengan menempatkan aspek moralitas di tempat
yang tertinggi. Akuntan bukan hanya sekedar ahli tetapi harus dapat melaksanakan
pekerjaan profesinya dengan hati-hati atau due professional care dan selalu menjunjung
tinggi kode etik profesi yang ada.
Professionalisme menurut Hall (1968) dijabarkan menjadi lima dimensi, yaitu: I)
Dedikasi, 2) Social Obligation, S) Autonomy, 4) Regulation, 5) Community Affiliation.
Lima dimensi profesional di atas dipakai oleh Kalbers dan Fogarty (1995) untuk
mengukur tingkat profesionalisme internal auditor, dan akan dipakai juga dalam
penelitian ini untuk mengukur tingkat profesionalisme auditor KAP di Indonesia.
Goetz, Joe F et al (1991) meneliti dampak dari ukuran kantor akuntan dan rangking
jabatan terhadap tingkat profesionalisme akuntan. Hubungan antara jumlah karyawan
akuntan dalam KAP, rangking jabatannya dan tingkatan profesionalismenya telah
dievaluasi dalam 19 KAP di Amerika. Hasil penelitiannya mengindikasikan adanya
keyakinan bahwa suatu profesi akan: menyediakan pelayanan pada publik dan
pelayanan tersebut berhubungan dengan ukuran KAP. Rangking jabatan dalam hirarki
perusahaan menunjukkan kekuatan, dimana rangking lebih tinggi berhubungan dengan
level profesionalisme yang lebih tinggi, juga mengidentifikasi tiga ciri profesionalisme
lainnya, yaitu Autonomy, sense of calling dan the composite.
Hirarki jabatan dan perbedaan gender dipakai untuk melihat praktek akuntansi swasta
oleh Hunton et al (1995), hasil penelitiannya menemukan bahwa pegawai wanita
melaporkan adanya diskriminasi dalam semua aspek. Perlakuan terhadap pegawai
wanita tersebut dikarenakan perusahaan menganggap sedikitnya jenis dan jumlah

pekerjaan yang dapat diseiesaikan oleh wanita serta berarti membuang waktu dan uang
untuk melatih pegawai wanita, juga adanya keyakinan bahwa wanita menganggap suatu
pekerjaan itu sementara, sebagaimana hasil penelitian Lehman, 1992 (dalam Reed et al,
1994) karena wanita sebagai pengurus utama keluarga (Parent et at, 1989 dalam Reed et
al, 1994) sehingga pegawai wanita mengalami stress di tempat kerja dan lebih sering
pindah kerja dibandingkan pegawai pria, sesuai dengan penelitian Collins, 1993 (dalam
Hunton et al, 1995). Konflik dan stress kerja seperti diatas mampu menciptakan krisis
profesionalisme bagi wanita. (Cartwright 1978; Chassie dan Bhagat 1980; Cooke dan
Rousseau 1984; serta Hall dan Gordon 1973 dalam Reed et al, 1994)
Penelitian ini memodifikasi konsep penelitian Goetz, Joe F. et al (1991) dan Hunton el
al (1995) di atas, dengan diilhami kasus Enron dan kasus big five akuntan di Indonesia
serta adanya research gap tentang gender, tipe atau ukuran KAP dan hirarki jabatan
sebagaimana diuraikan dibawah ini.
Tingkat profesionalisme auditor KAP berbeda jika dilihat dari perbedaan gender.
Lehman, 1992; Parent et al, 1989 dan Greenhous dan Beutell, 1985 (dalam Reed et al,
1994) menyimpulkan hasil penelitiannya bahwa wanita mempunyai tingkat
profesionalisme yang berbeda dibanding pria, karena ada interen peran yang besar, yaitu
kerja atau keluarga. Cartwright, 1978; Chassie dan Bhagat, 1980; Cooke dan Rousseau,
1984; serta Hall dan Gordon, 1973 (dalam Reed et ai, 1994) juga berpendapat adanya
perbedaan posisi profesional atau krisis profesionalisme bagi wanita yang dikarenakan
overload peran, serta adanya diskriminasi pada wanita dalam semua aspek (hunton et a\
1995)
Bertolak belakang dengan hasil penelitian diatas adalah penelitian oleh Pillsbuiy ef a/,
1989; Kessler Harris, 1982; Mendelsohn, 1919;Palen, 1945 (dalam Trapp et al, 1989)
yang menyimpulkan bahwa antara wanita dan pria mempunyai peluang dan tingkat
profesionalisme yang tidak berbeda, karena profesionalisme tidak berkaitan dengan
gender.
Penelitian tentang gender di Indonesia oleh Abdurrahim (1998) menyimpulkan adanya
perbedaan sikap antara wanita dan pria dalam merespon perubahan yang terjadi di
lingkungan kerjanya. Didukung oleh hasil penelitian Santosa (2001) yang menyatakan
selain terdapat perbedaan sikap terhadap pekerjaan antara auditor wanita dan pria di
Indonesia juga terdapat perbedaan motivasi dan keinginan berpindah yangjuga
diperkuat oleh hasil penelitian Yuyeta (2001). Djaddang (2002) menemukan adanya
perbedaan intensitas moral dan orientasi etis pada wanita dan pria yang terjadi saat
pengambilan keputusan.
Hasil penelitian di Indonesia tersebut mengungkapkan adanya perbedaan perilaku yang
disebabkan perbedaan gender, dan karena perilaku yang berbeda tersebut termasuk
sikap terhadap pekerjaan dan lingkungan kerja, maka ada indikasi juga berpengaruh
terhadap profesionalisme dalam pekerjaan.
Penelitian-penelitian tentang akuntan publik yang dikaitkan dengan ukuran kantor
akuntannya banyak yang mengindikasikan bahwa akuntan big firm lebih profesional
dibanding non big firm. KAP akan mengembangkan keahlian spesifik industri, yang

berarti spesialisasi dan peningkatan keahlian yang akan berdampak pada kualitas audit
(Craswell et al, 1995). Hasil penelitian itu didukung oleh Shockley dan Holt, 1983;
Eichenseher dan Danos, 1983; William, 1988; serta Francis dan Wilson, 1988 (dalam
Mardiyah, 2002), yang menyimpulkan bahwa kualitas dan expertise adalah atribut
servis yang dimiliki oleh big eight akuntan, dan merupakan faktor yang menyebabkan
banyak klien memilih kantor akuntan besar. De Angelo, 1981; Simunic dan Stein, 1987
(dalam Manao dan Nursetyo, 2002) meyimpulkan peningkatan kualitas KAP berarti
peningkatan profesionalisme yang akan meningkatkan reputasi, dan reputasi akuntan
dipegang oleh akuntan big eight, sesuai dengan Auditor (2002)
Kenyataannya saat ini banyak klien yang lebih rasional dan cost minded dalam memilih
auditor ekternal, sehingga peran big five dari tahun ke tahun semakin surut, dipicu oleh
skandal Enron di mana banyak klien terpaksa mengganti auditornya dengan fee yang
lebih wajar, karena sesungguhnya klien semakin sadar bahwa tidak ada jaminan kalau
big firm selalu lebih baik mutunya (Sofyan S. Harahap, 2002), yang juga didukung oleh
penelitian Lekatompesy (1999) bahwa profesionalisme pada KAP besar dan KAP kecil
di Indonesia tidak berdeda.
Penelitian tentang posisi hirarki jabatan oleh Jimbalvo dan Pratt (1988) dalam Pratt dan
Beaulieu (1992) menyimpulkan bahwa perbedaan tugas dan tanggung jawab akuntan
disebabkan karena perbedaan hirarki jabatan, di mana semakin tinggi level hirarkinya
semakin tinggi tingkat profesionalismenya, didukung oleh Aranya dan Ferris (1984)
serta Adler dan Aranya (1984) .Lekatombesy (1999) menemukan perbedaan sikap
profesionalisme pada tingkat hirarki jabatan auditor KAP di Indonesia, sedangkan
penelitian oleh Sorensen dan Sorensen (1974) Norris dan Niebuhr (1983) tentang
orientasi profesional pada level organisasi di KAP, menyimpulkan bahwa meningkatnya
orientasi birokrasi berarti menurunnya orientasi profesional dari posisi hirarki rendah ke
hirarki posisi lebih tinggi.
Penelitian ini merupakan pengembangan penelitian yang dilakukan oleh Darmoko
(2003) Dan Ikhsan (2007) , Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya
terletak pada (1) obyek penelitian, yaitu Kantor Akuntan Publik (KAP) yang ada di
Pekanbaru. (2) waktu penelitian, yaitu pada tahun 2012 dengan waktu yang sekarang
apakah ada perbedaan dari hasil penelitian sebelumnya yaitu menyimpulkan bahwa jika
dilihat dari gender tidak terdapat perbedaan profesionalisme, berarti antara auditor pria
dan wanita memiliki tingkat profesionalisme yang sama. Berdasarkan tipe KAP dan
hirarki jabatan terdapat perbedaan profesionalisme, artinya antara auditor di KAP yang
berafiliasi dengan auditor di KAP nasional memiliki tingkat profesionalisme yang tidak
sama, serta perbedaan posisi hirarki jabatan auditor di KAP juga menyebabkan
perbedaan tingkat profesionalisme.
Hasil penelitian inilah mendorong peneliti untuk mengadakan kajian lebih lanjut dengan
penelitian yang berjudul: Profesionalisme Auditor Pada Kantor Akuntan Publik Dilihat
Dari Perbedaan Gender, Kantor Akuntan Publik Dan Hirarki Jabatannya.
1. B.

Perumusan Masalah

Hasil-hasil penelitian tentang profesionalisme auditor jika dilihat dari perbedaan gender,
tipe KAP dan hirarki jabatan di KAP ternyata masih terdapat research gap, penelitian
ini akan menguji kembali hasil penelitian-penelitian di atas dengan unit analisis auditor
pada KAP di Pekanbaru dengan memakai skala profesionalisme auditor menurut Hall
(1968).
Bertolak dari latar belakang permasalahan di atas, maka permasalahan yang dapat
dirumuskan dalam bentuk pertanyaan pada penelitian ini adalah:
1. Apakah ada perbedaan tingkat profesionalisme auditor pada KAP jika dilihat
dari perbedaan gender ?
2. Apakah ada perbedaan tingkat profesionalisme auditor pada KAP jika dilihat
dari tipe KAP ?
3. Apakah ada perbedaan tingkat profesionalisme auditor pada KAP jika dilihat
dari hirarki jabatan di KAP ?
4. C.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan bertujuan:


Untuk memperoleh pemahaman tentang dimensi profesionalisme yang merupakan
formulasi dari profesionalisme yang dimiliki oleh auditor pada KAP, serta untuk
memperoleh bukti empiris tentang adanya perbedaan tingkat profesionalisme auditor
pada KAP jika dilihat dari perbedaan gender, tipe KAP dan hirarki jabatannya.
1. D.

Manfaat Penelitian

Manfaat-manfaat dari hasil penelitian ini nantinya adalah:


1. Memberikan masukan pada Kantor Akuntan Publik (KAP) dalam hal
pengembangan profesionalisme auditor-auditornya.
2.

oleh organisasi profesi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam pengembangan


citra profesionalisme akuntan melalui pembenahan kode etik akuntan agar sesuai
dengan tuntutan keadaan.

3. Memberikan manfaat dan kontribusi terhadap akademisi dalam mengembangan


teori akuntansi keperilakuan dan auditing dalam materi perkuliahan, sehingga
mampu menciptakan auditor-auditor yang profesional.
4. Hasil penelitian ini diharapkan akan menambah referensi penelitian dalam
bidang profesionalisme auditor di Indonesia.
5. E.

Sistematika Penulisan

Dalam sistematika penulisann ini penulis membagi dalam tiga bab, dimana masingmasing bab terdiri dari subnya, yang merupakan suatu kebulatan yang utuh dengan
susunan sebagai berikut:

BAB I

: PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis mengemukakan latar belakang masalah, perumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

Pada bagian tinjauan pustaka penulis menguraikan antara lain: teori sosiologi klasik
profesi, pemahaman mengenai gender, ukuran dan tipe kap, hirarki jabatan pada kap,
etika dan profesionalisme , profesi dan profesional, profesi akuntan publik, konsep
profesionalisme, upaya menciptakan akuntan yang profesional serta penelitianpenelitian terdahulu, menguraikan hipotesis dan kerangka pemikiran teoritis.
BAB III

: METODE PENELITIAN

Dalam bab ini akan dibahas yaitu lokasi dan waktu penelitian jenis dan sumber data,
populasi dan teknik pengambilan sampel, prosedur pengumpulan data definisi
operasional pengukuran variable,analisis data uji kualitas data, uji non respon bias,
teknik analisis data.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
1. A. Tinjauan Pustaka
1. a.

Teori Sosiologi Profesi

Penelitian tentang profesi akuntan biasanya dikaitkan dengan teori sosiologi (Kalbers
dan Fogarty 1995) atau teori sosiologi klasik (Aranya dan Amernic 1981) sebagai teori
dasarnya. Teori sosiologi Mark Weber dan Karl Mark dalam Kalbers dan Fogarty (1995)
dan teori sosiologi klasik profesi (Parsons 1954, Goode 1957, Huges 1963 dalam
Aranya dan Amernic 1981), menyatakan bahwa masyarakat mengakui power dan
prestise profesi karena para profesional memiliki ilmu pengetahuan {body of
knowledge) yang terkait dengan kebutuhan dan nilai-nilai sentral dari sistem sosial.
Sebagai imbalannya, masyarakat mengharapkan para profesional untuk komitmen
melayani masyarakat di atas dan melebihi insentif-insentif material (Vollmer dan Mills
1966, Moore 1970, Larson 1977 dalam Aranya dan Amermic.
1. b.

Pemahaman Mengenai Gender

Istilah penting yang dikaitkan dengan gender adalah streotype peran gender, yaitu
keyakinan mengenai karakteristik yang dianggap benar tentang laki-Iaki dan perempuan
(Ecles dan Hoffman 1984 dalam Widhiyanti 2001), umumnya jenis kela-min pria
berhubungan dengan gender maskulin sementara wanita berhubungan dengan gender
feminim (Sisilastuti 1993 dalam Santoso 2001).
Menurut Palmer et al. (1997) dalam Santoso (2001) sex role stereotype dihu-bungkan
dengan pandangan bahwa pria lebih berorientasi pada pekerjaan, obyektif,

independen, agresif dan pada umumya mempunyai kemampuan lebih dibanding wanita
dalam pertanggungjawaban manajerial, sedang wanita dilain pihak dipandang pasif,
lemah lembut, orientasi pada pertimbangan lebih sensitif dan lebih rendah serta pasif
dibidang pertanggungjawaban dibanding pria. Pandangan bahwa manajer yang sukses
adalah manajer yang memiliki sikap, perilaku dan temperamen yang dimiliki pria
dibandi ng wanita tersebut Management Stereotype.
Pada bidang ilmu-ilmu sosial istilah gender diperkenalkan untuk mengacu pada
perbedaan-perbedaan antara laki-Iaki dan perempuan tanpa konotasi-konotasi yang
sepenuhnya bersifat biologis (Mandy McDonald et al. 1997 dalam Primawati 2001).
Penelitian Muapin (1990) dalam Widhiyanti (2001) menyatakan bahwa perilaku
masculline streotype merupakan kunci keberhasilan dalam KAP yang mendukung
penelitian Lehman (1990) dalam Reed et al. (1994) bahwa karakteristik maskulinitas
bukan feminimitas perlu dalam profesi sebagai akuntan.

1. c.

Ukuran dan Tipe Kantor Akuntan Publik

Banyak penelitian tentang akuntan publik dengan menjadikan ukuran KAP sebagai
obyek penelitiannya, misalnya dihubungkan dengan pangsa pasar (Simunic; 1980,
dalam Mardiyah, 2002), perubahan auditor (Mardiyah, 2002), permintaan dan
penawaran jasa auditing dalam IPO (Bedard et al, 2000), dan kualitas auditor (Manao
dan Nursetyo, 2002)
Ukuran KAP bisa dilihat dari beberapa hal yang berkaitan dengan KAP tersebut,
misalnya number of client dan sales revenue dari KAP tersebut (Beatty, 1989). Namun
banyak pula peneliti yang menggunakan dikotomi brand name KAP yang sudah dikena!
luas sebagai pembedaan ukuran KAP, sedangkan istilah ukuran KAP sering diganti
dengan klasifikasi KAP atau istilah tipe KAP.
Guy, Aldeman (2002); Simamora (2002) dan Jusuf (2001) mengklasifikasikan KAP
berdasarkan wilayah kerjanya menjadi: KAP Internasional, KAP Nasional, KAP
Regional dan KAP Lokal.
Bedard et al, (2000) menggunakan tiga level kategori untuk tipe KAP dalam
penelitiannya untuk melihat permintaan dan penawaran jasa auditing dalam IPO di
pasar Quebec. Tiga tipe tersebut yaitu: big six, national dan local audit firms.
Mayangsari (2000) menyatakan bahwa penelitian tentang KAP di Indonesia sering
menggunakan istilah afiliasi dan non afiliasi dengan kantor akuntan asing dan dikatakan
pula bahwa investor mempersepsikan auditor yang berafiliasi dengan kantor akuntan
asing memiliki kualitas yang lebih tinggi karena auditor tersebut memiliki karakteristik
yang bisa dikaitkan dengan kualitas, didukung oleh penelitian Goetz, Joe F. et
al(1991)bahwa kualitas auditor meningkat sejalan dengan besamya KAP tersebut.
Pengklasifikasian KAP juga dilakukan oleh 1A1 dalam Buku Direktori Ikatan Akuntan
Indonesia 2001-2002, yang membedakan KAP yang beroperasi di wilayah Indonesia
menjadi dua, 1) bekerjasama dengan kantor akuntan asing, dan 2) tidak bekerjasama
dengan kantor akuntan asing. Pembedaan KAP menurut IAI (2001) diatas digunakan
dalam penelitian ini dengan menggunakan istilah tipe KAP, sebagaimana istilah yang
digunakan dalam penelitian Bedard et al (2000), Beasley dan Petroni (1997) dan
Clarkson dan simunic, 1994 (dalam Bedard et al, 2002).
1. d.

Hirarki Jabatan pada Kantor Akuntan Publik

Hirarki jabatan dalam KAP menurut Jiambalvo et al. (1983) adalah hirarki jabatan pada
KAP yang mengacu pada kondisi di luar negeri yaitu: partner, manajer, senior dan staff,
yang juga ditegaskan oleh Harding dan Troman (1999). Beberapa staf yang diketahui
oleh seorang supervisor melakukan pekerjaan secara tim, hasil kerja tim ditinjau oleh
manager dan manager bertanggungjawab terhadap seorang partner. Hampir sama
dengan hirarki di atas Guy et al. (2002) menyatakan bahwa struktur organisasi dikantor

akuntan adalah partner, manager, akuntan, senior dan staf akuntan. Staf akuntan
biasanya terdiri dari akuntan pemula yang juga disebut sebagai akuntan junior.
Menurut Jusuf (2001) hirarki jabatan dalam organisasi akuntan publik yaitu: partner,
manager, supervisor, senior in charge auditor dan asisten. Tingkatan hirarki jabatan
yang banyak dijumpai dalam KAP di Indonesia, mengacu pada Simamora (2002) yaitu
pertner, manager, senior auditor dan junior auditor. Partner disebut juga sebagai rekan
yang bertanggungjawab penuh terhadap semua operasional dalam kantor-kantor
tersebut.
1. e.

Etika dan Profesionalisme

Menurut Cohen dan Turner (1990) etika adalah bagian dari filosofi mengenai praktek
berperilaku yang pelaksanaannya bisa dikontrol. Karaus Webster mendefinisikan etika
sebagai prinsip-prinsip ketentuan berperilaku bagi individu atau profesi, perilaku mana
yang baik atau buruk atau benar dan salah dengan kewajiban moral atau mengandung
nilai moral. Secara umum bagi kehidupan profesi, kode etik profesi adalah serangkaian
norma tertulis yang mengatur perilaku anggota profesi dan menetapkan prinsip-prinsip
yang mendasar yang harus dipatuhi agar pelaksanaan kinerja profesio-nalnya dapat
mencapai tujuan penugasannya (Beauchamp dan Bowie 2002). Bagi profesi akuntan,
kode etik diperlukan sebagai panduan dan aturan terhadap seluruh anggota baik yang
berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di dunia usaha, di instansi pemerintah,
maupun di dunia pendidikan dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya.

1. f.

Profesi dan Profesional

Menurut Lee (1995) istilah professional digunakan untuk menunjukkan pengorganisasian pekerjaan dalam bentuk institusi, dimana praktisi memiliki komitmen
secara jelas untuk melayani kepentingan publik dan menawarkan pada klien pelayanan
yang berhubungan dengan intelektualitas dan ilmu pengetahuan. Dalam upaya untuk
memberikan jasa kepada konsumen dan agar dapat memuaskannya, profesi atau profesional harus memenuhi ciri-ciri atribut-atribut tertentu. Karakteristik dari profesi
menurut Sullivan et al. (1985) lewat Douglas dan Singhapakdi (1994) adalah:
1. A body of special knowledge
2. 2.

A means of restricting entry to those possessing the knowledge


1. Recognition by professionals of a social obligation beyond the service
performed for a particular client.
2. Standards of conduct
3. A means of enforcing those standards of conduct.

Dalam penelitiannya, Armstrong dan Vincent (1988) mengemukakan bahwa profesi


harus didasari oleh professional dan keahlian, professional memerlukan extensive
training dm training tersebut dalam akademik atau teoritical, misal job training dan
pengalaman. Sedangkan keahlian atau special knowledge dibutuhkan pengakuan dalam
bentuk sertifikasi. Seorang yang profesional di dalam melakukan suatu profesi biasanya akan memiliki motivasi yang tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, Soekmadidjaja
(1989) berpendapat bahwa karakter yang dimiliki oleh para profesional adalah dorongan sangat tinggi untuk berprestasi, mempunyai keyakinan dan keberanian untuk
menampilkan prestasi terbaiknya, serta memiliki jiwa kreatif dan inovatif.

1. g.

Profesi Akuntan Publik

Menurut SK Menteri Keuangan Nomor 43/KMK.017/1997 tanggal 27 Januari 1997,


akuntan publik adalah akuntan yang memiliki izin dari Menteri Keuangan. Akuntan
Publik menjalankan pekerjaan bebas dalam bidang jasa konsultasi, perpajakan dan jasajasa lain yang berhubungan dengan akuntansi. Sebagai profesi yang bersifat public
service, maka profesi tersebut harus diakui oleh pihak tertentu. Anderson (1984) dalam
Gani (1997) mengatakan bahwa pengakuan sebagai profesi apabila telah meme-nuhi
kriteria yang disyaratkan oleh The Uniform Rules of Professional Conduct, yaitu:
1. Menguasai pengetahuan intelektual melalui pelatihan dan pendidikan yang
cukup
2. Praktek umum yang memberikan pelayanan kepada masyarakat
3. Pelayanan bersifat jasa pribadi
4. Bertindak objektif dalam memahami permasalahan
5. Mensubordinasikan kepentingan pribadi
1. Terdapat perhimpunan atau ikatan independen yang menetapkan standar
persya-ratan (standar of qualification) yang berlaku bagi kompetensi
sikap anggotanya serta membina dan menyumbangkan keahlian dan
standar pelayanan
2. Terdapat kode etik yang melindungi kepentingan umum
1. Terdapat forum pertukaran pendapat, pengetahuan dan
pengalaman atas sesama rekan sejawat untuk meningkatkan
fungsi mereka
1. h.

Konsep Profesionalisme

Profesi dan Profesionalisme dibuat dibedakan secara konseptual (Kalbar dan Fogaity
1995). Profesi merupakan jenis pekerjaan yang memenuhi beberapa kriteria, sedangkan

profesionalisme merupakan suatu atribut individual yang penting, tanpa melihat apakah
suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak. Selama beberapa dekade yang lalu
banyak sekali penelitian empiris yang dilakukan terhadap profesionalisme dalam
organisasi. Beberapa penelitian empiris yang dilakukan terhadap profesionalisme
membuktikan profesionalisme merupakan konstruk yang bersifat multidimensional
(Snizek 1972, Bartol ] 979 dalam Norris dan Niebuhr 1983).
Konsep profesionalisme modern dikemukakan oleh Hall (1968) yang mengem-bangkan
skala sikap untuk mengatur tingkat profesional diantara praktisioner pada beberapa
pekerjaan antara lain dokter, jururawat, akuntan, guru, pengacara, pekerja, sosial,
pialang atau broker, pustakawan, masinis, manajemen personel perusahaan periklanan.
Di samping konsep profesionalisme yang dikemukakan oleh Hall (1968), Kerr et ah
(1977) dalam Norris dan Neihbur (1983) juga merumuskan elemen-elemen
profesionalisme yang terdiri atas lima elemen yaitu (1) otonomi, (2) standar kolegikal,
(3) etika, (4) komitmen profesional dan (5) identifikasi profesional. Jika dibandingkan
antara elemen-elemen profesionalisme Kerr et al. (1977) dengan yang dikemukakan
oleh Hall (1968), maka elemen-elemen profesionalisme Hall (1968) lebih lengkap
karena berkaitan dengan dua aspek penting yaitu aspek struktural dan sikap. Aspek
struktural yang karakteristiknya merupakan bagi an dari pembentukan sekolah
penelitian, pembentukan asosiasi profesional dan pembentukan kode etik. Sedangkan
aspek sikap atau perilaku berkaitan dengan pembentukan jiwa profesionalisme.
1. B.

Pengembangan Hipotesis

1. Perbedaan Gender
Pillsbury et al (1989) dan Trapp et al (1989) menyatakan bahwa tingkat komitmen karir
dan profesionalisme tidak terkait dengan gender. Wanita dan pria memiliki peluang
sama sebagai akuntan dengan tanggung jawab dan prestasi yang sama, oleh karena itu
banyak wanita berupaya untuk mendobrak hambatan profesionai yang melingkupi
bidang akuntansi dengan memasuki tenaga kerja bayaran tersebut (Kessler Haris, 1982,
dalam Reed, et al, 1994), beberapa diantaranya telah dalam praktek akuntan dan
beberapa lainnya telah mengambil studi akuntansi secara serius (Mendelsohn, 1919 dan
Palen, 1945, dalam Reed, et al, 1994) keunggulan wanita dengan kesabaran, ketekunan
dan akurasi dalam akuntansi akan tepat bagi karir akuntan (Journal of Accountancy ,
1942, dalam Reed et al, 1994), walaupun perlakuan diskriminasi sering diterima oleh
wanita (James Hunton etal, 1995)
Menurut Lehman, 1990 (dalam Reed et al, 1994) karakteristik yang berkaitan dengan
maskulinitas bukan feminimitas perlu untuk mencapai keberhasilan dalam profesi
sebagai akuntan. Lebih lanjut Parent et al (1989) menyatakan karena wanita sebagai
pengurus utama keluarga, merasa lebih sulit dibanding pria untuk menyeimbangkan
tanggung jawab profesionalnya dan keluarga mereka. Greenhaus dan Beutell, 1985
(dalam Reed et al, 1994) menyatakan bahwa konflik interen peran muncul dari tekanan
yang berawal dari domain kerja atau keluarga yang dapat menyebabkan stress yang
berat. Konflik inter peran tersebut menciptakan krisis profesionalisme (Cartwright
1978; Chassie dan Bhagat 1980; Cooke dan Rousseau 1984; serta Hall dan Gordon

1973 dalam Reed et al, 1994), serta mempengaruhi waktu dan keterlibatan profesinya
(Greenhaus dan Beutell 1985 dalam Reed et aly 1994) Oleh karena itu banyak penolakan
yang dihadapi wanita yang berupaya untuk memasuki profesi akuntan publik (Lehman
1992). Dari telaah penelitian diatas dapat dibangun hipotesa.
HI: Auditor pada KAP dengan gender wanita
yang berbeda dibanding pria,

memiliki tingkat profesionalisme

2. Tipe Kantor Akuntan Publik


Hasil penelitian Caplow, 1957 dan Grusky, 1961 (dalam Hall et al, 1980) mencatat
bahwa ukuran organisasi menciptakan perbedaan karakteristik struktural dalam
organisasi, diantaranya organisasi besar lebih komplek dan lebih formal dibanding
organisasi kecil. Penelitian ini didukung oleh penelitian Weeler et al, 1987 (dalam Pratt
dan Beaulieu, 1992) yang menyatakan hakikatnya lingkungan kerja, struktur organisasi,
serta kompensasi evaluasi kerja dan prosedur promosi di kantor akuntan besar berbeda
dengan di kantor akuntan kecil, perbedaan ini akan mencakup bidang yang luas
termasuk lingkungan kerja, klien, gaji auditor, sistem pelatihan, hirarki organisasi,
prestasi dan komitmen profesional dan komptetensinya, juga lebih terstruktur untuk
pendekatan auditingnya (Kinney, 1986 dalam Pratt dan Beaulieu, 1992), yang semuanya
mempengaruhi tingkat profesianalisme.
Dalam penelitian tentang Akuntan publik, banyak peneliti memakai dikotomi bigfirmnon big firm untuk memudahkan penggunaan proksi besar kecilnya ukuran KAP
(Carpenter dan Strawser, 1971; Shockley dan Holt, 1983; Francis dan Wilson, 1988;
Wong, 1993 dalam Mardiyah, 2002).
Hasil penelitian Eichenseher dan Shieds, 1983 (dalam Mardiyah, 2002) menemukan
bahwa persepsi expensive (mahalnya) KAP menentukan kesuksesan klien, di mana
expensive dan expertise KAP merupakan atribut dalamservis big eight atau big firm
(Shockley dan Holt, 1983 dalam Mardiyah, 2002). Faktor expertise KAP mendorong
klien untuk memilih big firm (Eichenseher dan Danos,1983 dan William, 1988 dalam
Mardiyah, 2002)
Goetz, Joe F. et al (1991) dan John, 1991 (dalam Mayangsari, 2002) menunjukan bahwa
kualitas auditor meningkat sejalan dengan besaraya kantor akuntan tersebut. Penelitian.
Craswell, et al, 1995 (dalam Mayangsari, 2002) menyimpulkan bahwa reputasi KAP
terbentuk sejalan dengan pengembangan keahlian spesifik industri, pengembangan
spesialisasi itu sendiri costly, akibatnya dapat meningkatkan^ee audit. Selanjutnya
dengan memiliki keahlian tertentu berarti kualitas audit yang diberikan pada klien akan
meningkat.
Menurut Francis dan Wilson, 1988 (dalam Mardiyah, 2002) kualitas audit mendukung
brand name auditor big firm, sesuai dengan hasil penelitian Teoh dan Wong, 1993
(dalam Mayangsari, 2002) yang menunjukkan adanya hubungan positif antara kualitas
audit dengan brand name auditor big firm. Selanjutnya dapat dibangun hipotesa

H2: Auditor pada KAP yang bekerjasama dengan kantor akuntan asing memiliki
tingkat profesionalisme yang berbeda dibanding dengan auditor pada KAP yang
tidak bekerjasama dengan kantor akuntan asing.
1. c.

Hirarki Jabatan Kantor Akuntan Publik

Menurut Jiambalvo, 1979 dan Jiambalvo ef al, 1983 (dalam Pratt dan Beaulieu, 1992)
menyatakan dalam KAP yang memiliki tingkatan hirarki dalam organisasi, berarti
memiliki batasan wewenang yang jelas. Pekerjaan dilakukan secara tim yang terdiri
beberapa staff yang diketuai seorang supervisor, hasil kerja tim ditinjau oleh manajer
dan manajer bertanggungjawab terhadap seorang partner. Penelitian tersebut
mengindikasikan dengan semakin tinggi level hirarkinya, maka semakin tinggi tingkat
profesionalismenya, didukung hasil penelitian Goetz, Joe F. etal (1991).
Penelitian Aranya dan Ferris (1984) menyimpulkan hasil bahwa manajer lebih
berkomitmen terhadap tempat kerjanya dan profesinya sebagai akuntan dibanding para
staff. Sesuai hasil penelitian di atas, Adler dan Aranya (1984) menemukan bahwa
semakin tingginya jabatan akuntan publik dalam tingkatan hirarki organisasi, mereka
akan memiliki tingkat aktualisasi diri yang lebih kuat, serta komitment profesional yang
lebih tinggi. Penelitian Hood dan Koberg, 1991 (dalam Maghfiroh, 2001)
menyimpulkan bahwa partisipasi yang ada pada level lebih tinggi, lebih mengutamakan
aktualisasi diri, kepuasan intrinsik dan ektrinsik yang lebih tinggi dengan komitmen
organisasi dan profesi yang lebih tinggi pula.
Penelitian dari Jimbalvo dan Pratt, 1988 (dalam Pratt dan Beaulieu, 1992) menemukan
bahwa perbedaan tugas dan tanggungjawab akuntan karena perbedaan tingkatan hirarki
jabatan, dalam KAP tingkatan hirarki yang lebih tinggi lebih kuat profesional
jugmentnya, keahliannya dan kepemimpinannya dibanding dengan hirarki yang lebih
rendah.
Hasil penelitian di Indonesia oleh Lekatombesy (1999) mendukung penelitian diatas,
yang intinya terdapat perbedaan sikap profesionalisme pada tingkat hirarki jabatan di
KAP. Maka dapat disimpulkan suatu hipotesa
H3; Perbedaan posisi hirarki jabatan seorang auditor dalam KAP, berdampak pada
perbedaan tingkat profesionalismenya
1. C. Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini adalah seperti berikut:
Variabel Independen
Variabel Dependen

Gender

Profesionalisme auditor sama pada


KAP
Tipe KAP

Hirarki Jabatan

BAB III
METODE PENELITIAN
1. A. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data subyek. Sumber data adalah
primer {primary data). Data primer diperoleh dengan menggunakan daftar pertanyaan
yang telah terstruktur dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi dari auditor di
KAP. Sumber data penelitian ini adalah skor total yang diperoleh dari pengisian
kuisioner yang telah diberikan kepada para responden.
1. B.

Populasi dan Teknik Pengambilan sampel

Populasi dari penelitian ini adalah auditor yang bekerja pada KAP di Pekanbaru, sampel
yang dipakai yaitu auditor KAP yang ada di Pekanbaru. Unit analisis penelitian ini,
adalah auditor pada KAP yang berkedudukan sebagai partner, manajer, senior auditor
dan junior auditor. Metode pemilihan sampel yang digunakan adalah metode pemilihan
sampel berdasarkan kelompok atau Clustered sampling. Sampel dikelompokkan untuk
memenuhi tujuan penelitian ini, yaitu berdasar gender, KAP dan hirarki jabatan.
1. C. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan mail survey melalui penyebaran kuesioner dan
kontak person. Untuk meningkatkan response rate dalam penelitian ini digunakan
teknik yang diusulkan oleh Cooper dan Emory (1999) yang bertujuan agar penelitian ini
dapat digeneralisasikan yaitu dengan cara mendistribusikan kuisioner ini secara
langsung kepada responden penelitian, selanjutnya melakukan follow up terhadap
kuisioner yang telah diberikan dengan cara konfirmasi via telepon ke responden.

1. D. Definisi Operasional Pengukuran Variabel


Independent variable dalam penelitian ini adalah Gender, Tipe KAP dan Hirarki
Jabatan, sedangkan dependent variable adalah Professionalisme.
Yang dimaksud dengan gender dalam penelitian ini adalah gender yang dibedakan
dalam batasan sex, dengan terminologi jenis kelamin yang mengacu pada status
reproduksi dan individual seseorang (Fakih, 1996 dalam Djaddang, 2002) yaitu sebagai
1) laki-laki dan 2) perempuan.
Istilah tipe KAP untuk mengganti istilah klasifikasi KAP di Indonesia, dengan
membedakan KAP di Indonesia rnenjadi 2 tipe KAP, sesuai Buku Direktori Ikatan
Akuntan Indonesia 2001-2002 yaitu: 1) KAP yang bekerjasama dengan kantor akuntan
asing dan 2) KAP yang tidak bekerjasama dengan kantor akuntan asing.

Hirarki jabatan adalah tingkatan jabatan auditor pada KAP. Hirarki jabatan dalam
penelitian ini sesuai dengan hirarki jabatan pada KAP di Indonesia (Simamora, 2002),
yaitu 1) Partner/ rekanan, 2) Manajer, 3) Senior auditor dan 4) Junior auditor.
Variabel profesionalisme memakai skala yang dikembangkan oleh Hall (1968) yang
menilai profesionalisme auditor dari lima dimensi:
1)

Dedekasi terhadap profesi

2)

Keyakinan terhadap standart profesi

3)

Kewajiban Sosial

4)

Kebutuhan Otonomi

5)

Afiliasi dengan sesama profesi

Pengukuran Profesionalisme dengan cara menjumlahkan skor tiap-tiap dimensi yang


diukur dengan skala interval {skala Linkert), responden diminta untuk melakukan
rangking preferensi terhadap item pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan
bersifat positif dan negatif. Yang merupakan pertanyaan negatif yaitu pada dimensi
keyakinan terhadap standart profesi item nomor 1,2 dan 4, pada dimensi kewajiban
sosial item nomor 2 dan 4, pada dimensi kebutuhan otonomi item nomor 2 dan 4. Setiap
pertanyaan diberikan lima (5) kemungkinan jawaban dengan skala terendah adalah 1 =
Sangat Tidak Setuju dan tertinggi adalah 5 = Sangat Setuju
Tinggi rendahnya profesionalisme seorang akuntan publik akan tercermin berdasarkan
skala professionalisme yang dikembangkan oleh Hall melalui pertanyaanpertanyaan tersebut. Makin tinggi skor profesionalisme secara keselurulian
mencerminkan sikap yang positif dan makin rendah skor mencenninkan sikap negatif.
1. E.

Analisis Data
1. 1.

Uji Kualitas data

Menurut Nur Indriantoro dan Bambang Supomo (1999), kualitas data yang dihasilkan
dari penggunaan instrumen penelitian dapat dievaluasi melalui uji validitas dan uji
reliabelitas. Uji tersebut masing-masing untuk mengetahui akurasi dan konsistensi data
yang dikumpulkan dari penggunaan instrumen Uji kualitas data yang dilakukan dalam
penelitian ini antara lain:
1. a.

Uji Reliabilitas

Adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel
atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang
terhadap pertanyaan adalah konstan atau stabil dari waktu ke waktu.

Pengujian ini dilakukan dengan menghitung koefisien Cronbach alpha dari masingmasing instrumen dalam satu variabel. Instrumen dapat dikatakan handal (Reliabel) bila
memiliki koefisien Cronbach alpha lebih dari 0,060 (Nunally,1978 dalam Ghozali,
2001).
1. b.

Uji Validitas

Digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner
dikatakan valid jika pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner mampu untuk
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Iman Gozali, 2002).
1. 2.

Uji Non Respon Bias

Uji ini dilakukan bila tingkat respon kuesioner kurang dari 50%, uji ini dilakukan
dengan membandingkan jawaban responden yang datang awal sebagai proksi dari
responden yang benar-benar ingin menjawab dengan jawaban responden yang datang
akhir sebagai proksi dari responden yang tidak ingin menjawab, alat uji yang digunakan
adalah t-test (Mayangsari 2002; Mardiyah 2000).
1. F.

Teknik Analisis.

Teknik analisis yang dipakai untuk menguji hipotesis penelitian ini adalah analisa t-test,
untuk menguji hipotesis 1 dan hipotesis 2, karena akan membandingkan rata-rata tingkat
profesionalisme auditor pada KAP dari sisi gender dan tipe KAP. Analysis of Variance
(ANOVA) untuk menguji hipotesis 3, karena akan menguji hubungan variabel
profesionalisme (dependen) dengan variabel hirarki jabatan (independen /non metrik).
Tujuannya untuk melihat ada tidaknya perbedaan tingkat profesionalisme secara nyata
dilihat dari tiap-tiap variabel independen. Secara statistik dinyatakan sebagai berikut:
Hipotesis 1 : 1 2
Dimana:
1: rata-rata tingkat profesionalisme auditor wanita
2: rata-rata tingkat profesionalisme auditor pria
Hipotesis 2 :

1 2

Dimana:
1: rata-rata tingkat profesionalisme auditor pada KAP yang bekerjasama
dengan Kantor akuntan asing.
2: rata-rata tingkat profesionalisme auditor pada KAP yang tidak bekerjasama
dengan Kantor akuntan asing.

Hipotesis 3 : 1 2 3 4
Dimana:
1: rata-rata tingkat profesionalisme auditor dengan jabatan partner
2: rata-rata tingkat profesionalisme auditor dengan jabatan manajer
3: rata-rata tingkat profesionalisme auditor dengan jabatan senior
4: rata-rata tingkat profesionalisme auditor dengan jabatan junior
Dalam pengujian ini dasar pengujiannya yaitu penolakan atau penerimaan yang
dilakukan dengan membandingkan nilai probabilitasnya dengan tingkat signiflkan
(a) yang telah ditentukan yaitu sebesar 0.05

DAFTAR PUSTAKA
Darmoko, 2003, profesionalisme auditor pada kap dilihat dari perbedaan gender tipe
kap dan hirarki jabatannya, Tesis Magister Sains Akuntansi Universitas Diponegoro,
Semarang.

Ikhsan, arfan, profesionalisme auditor pada kantor akuntan publik dilihat dari
perbedaan gender, kantor akuntan publik dan hirarki jabatannya, Jurnal Bisnis Dan
Akuntansi Vol. 9, No. 3, Desember 2007, Hal 199-222. Indonesian Scientific Journal
Database. Database on-line. PDII dan TGD LIPI. Tanggal akses 17 Oktober 2012.

Herawaty, Arleen dan Yulius Susanto, Pengaruh profesionalisme, pengetahuan


mendeteksi Kekeliruan, dan etika profesi terhadap pertimbangan Tingkat materialitas
akuntan publik, Jaai Volume 13 No. 2, Desember 2009, Hal 211220, journal.uny.ac.id
(online), tanggal akses 27 Oktober 2012.
Abdurrahim, 1998, Pengaruh gender terhadap perilaku akuntan pendidik, Tesis
Magister Sains Akuntansi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Rahmi Widhiyanti, 2001, Analisa perbedaan gender terhadap perilaku dan etika
akuntan pemerintah di Jateng, Tesis Magister Sains Akuntansi, Universitas
Diponegoro,Semarang.
Rahmawati,1997, Hubungan antara profesionalisme internal auditor dengan kinerja,
kepuasari kerja, komitmen organisasi dan keinginan berpindah, Tesis Magister Sains
Akuntansi Universitas Gagjah Mada, Yogyakarta.
Etna Nur Afri Yuyeta, 2001, Pengaruh tindakan supervise dan persepsi kewajaran
tingkat upah serta promosi terhadap kepuasan kerja dan keinginan berpindah akuntan
public junior, Tesis Magister Sains Akuntansi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Lekatompessy , 1999, Hubungan Profesionalisme dengan Konsekuensinya: komitmen
organisasi, kepuasan kerja, prestasi kerja dan keinginan berpindah, studi empirik di
lingkungan kantor akuntan publik, Skripsi Jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Beauchamp dan Bowie, 2002, Media Akuntansi, September 2002.
Christiawan ,1994, Profesionalisme Dalam Era Industrialisasi, Usahawan, Maret,
Vol. 3
Dan M. Guy, C. Wayne Alderman, Alan J. Winter, 2002, Auditing, Edisi kelima,
Penerbit Erlangga, Jakarta.
Gani S. Heryanto, 1997, Pengaruh faktor internal dan ekternal terhadap tingkat
kesediaan penggabungan usaha KAP di Indonesia, Tesis Magister Sains Akuntansi
Universitas Gagjah Mada, Yogyakarta.
IF AC, 1998 Guidance on the Formation and Organization of a Professional
Accounting Body (2000), Media Akuntansi, September 2002.
James E. Hunton, Presha E. Neidermeyer and Benson Wier. 1995 Hierarchical and
Gender Differences in Private Accounting Practice, Accounting Horizons Vol 10 No. 2
June 1996

Jamie Pratt dan Phil Beaulieu, 1992, Organizational Culture in Public Accounting:
Size, Technology, Rank and Functional area, Accounting Organization and Society,
Vol. 17, No. 7, pp. 667-684
Jan Hoesada, 2002, Dampak Kasus Mega Skandal Akuntansi Bagi Perkembangan dan
Masa Depan Profesi Akuntansi, Media Akuntansi,Edisi September.
Jeffrey R. Cohen dan Robert M. Turner, 1990, Ethics and Professionalism: The CPA In
Industry, CPA Jurnal
Johnson J.T,1991, Profesi dan Kekuasaan, Pustaka Grafiti Jakarta.
Jusuf, Al Haryono, 2001, Auditing, Cetakan ke I, STIE YKPN, Yogyakarta.
Katty Petrony and Mark Beasley, 1997, Error in Estimation of Accounting Judgment,
Accounting Horizon, April
Kanto Santosa, 2002, Dampak Kebangkrutan Enron terhadap citra profesi Akuntan
Publik, Media Akuntansi, edisi 25 April 2002.
Kalbers dan Fogarty, 1995 Professionalism and Its Consequences: A Study of Internal
Auditors, Journal of Practice & Theory, Vol. 14 No. 1.
Kwik Kian Gie, 2002, Membatasi Gerak Auditor Asing, Auditor, Edisi Juli 2002
Maghfirah, Siti, 2001, Pengaruh kultur organisasi dan pelatihan profesional terhadap
hubungan antara personalitas individu dan kreativitas: studi pada KAP., Proceeding
Simposium Nasional Akuntansi IV, Bandung
Manao. Hekinus dan Nursetyo. Yogi, 2002, An Audit Quality- Comparison Between
Large and Small CPA Firm in Indonesia in the Context of Going Concern Opinion:
Evidence Based on Auditees* Financial Ratio, ProceedingsThe 5th Indonesian
Conference on Accounting, Semarang.
Mardiyah, Aida Ainul 2002, Pengaruh Perubahan Kontrak, Keefektifan Auditor,
Reputasi Klien, Biaya Audit, Faktor Klien dan Faktor Auditor terhadap Auditor
Changes: Sebuah Pendekatan dengan Model Kontijensi RPA Proceeding Simposium
Nasional Akuntansi fee V. Semarang
Mary Beth Armstrong and Janice I. Vincent, 1988, Public Accounting: A profession at
a Crossroads, Accounting Horizons, March.
Mayangsari 2002, Bukti empiris pengaruh spesialisasi industri auditor terhadap earning
response coefficient, Proceeding Simposium Nasional Akuntansi ke V. Semarang
Mendenhall W. and R.J. Beaver, 1992, A Course in Business Statistcc, Thirth Edition,
PWS Ken Publishing Company.

Menteri Keuangan RI, 1997, SK Menkeu Nomor 43/KMK. 017,27 Januari 1997
Michael W. Trapp, Roger H. Hermanson and Deborah H. Turner, 1989, Current
Perceptions of Issues Related to Women Employed in Public Accounting, Accounting
Horizon, March
Norris, Dwight.T and Nieburh, 1983, Profesionalism, Organizational, Comitment and
Job Satisfaction in Accounting Organization, Accounting,
Organizations and Society, Vol 9, No. 1.
Primawati. Lucia Diah, 2001, Sikap Kerja, Motivasi, Persepsi Diskriminan dan
Komitmen Organisasi Akuntan Manajemen, dilihat dari perbedaan gender dan
Jabatan, Tesis Magister Sains Akuntansi Universitas Diponegoro, Semarang.
Richard H. Hall, 1968, Professionalism and Bureaucratization, American Sociological
Review.
______ , Norman J. Johnson, Eugene Haas, 1980, Organizational Size,
Complexity and Formalization , American Sociological Review.
Robins, Stephen P, 1996, Perilaku Organisasi, Edisi Bahasa Indonesia, PT. PrehalHndo
Jakarta.
Samekto, 1999, Perbedaan kinerja laki-laki dan wanita pada KAP di Surabaya, Tesis
Magister Sains Akuntansi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Santosa, 2001, Analisa perbedaan gender terhadap perilaku auditor BPKP, Tesis
Magister Sains Akuntansi, Universitas Diponegoro Semarang.
Sekaran, Uma, 2000, Research Methods For Business, Thirth Edition, John Wiley &
Sons, Inc.
Sofyan S. Harahap, 2002, Akuntan publik di Indonesia dan Kasus Enron, Media
Akuntansi, 25 April 2002
Soekmadidjaja Soekamana, 1989, Cara mengikat pekerja profesional, Swa, Edisi
Desember.
Sumardi 2001 Pengaruh pengalaman terhadap profesionalisme serta pengaruh
profesionalisme terhadap kinerja dan kepuasan kerja. (studi empiris auditor BPKP),
Tesis Magister Sains Akuntansi Universitas Diponegoro, Semarang.