Anda di halaman 1dari 2

DASAR TEORI (Komposisi Urin)

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam
terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan
interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting
bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan
yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih
atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin
dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber
nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan
kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang
penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang
sehat.
Sifat-sifat urin normal:
1.

Volume: 800-2500 ml/hari

2.

Berat jenis: 1.003-1.030

3.

Ph: asam dengan Ph rata-rata 6 (4,7-8)


Zat normal yang terkandung dalam urin, yaitu:

1.

Urea : hasil akhir utama dari katabolisme protein. Sehari diekskresikan 25 gr,
tergantung intake proteinnya. Ekskresi naik pada saat demam, penyakit kencing manis,
aktivitas hormon adrenokortikoid yang berlebihan. Di hepar, urea dibentuk dari siklus
urea (ornitin dari CO2 dan NH3). Pembentukan urea menurun pada penyakit hepar dan
asidosis.

2.

Ammonia : dikeluarkan dari sel tubulus ginjal, pada asidosis pembentukan amonia
akan naik.

3.

Kreatinin : hasil katabolisme kreatin. Koefisien kreatinin adalah jumlah mg kreatinin


yang diekskresikan dalam 24 jam/kg BB. Nilai normal pada laki-laki adalah 20-26 mg/kg
BB. Sedang pada wanita adalah 14-22 mg/kg BB. Ekskresi kreatinin meningkat pada
penyakit otot.

4.

Asam urat : hasil oksidasi purin di dalam tubuh. Kelarutannya dalam air kecil tetapi
larut dalam garam alkali. Ekskresinya meningkat pada leukimia, penyakit hepar dan
gout. Dengan arsenofosfotungstat dan natrium sianida, memberi warna biru. Ini
merupakan dasar penetapan asam urat secara kolometri oleh Folin. Dengan enzim
urikase akan menjadi allantoin.

5.

Allantoin : hasil oksidasi asam urat.

6.

Klorida : dikeluarkan dlm bentuk NaCl, tergantung intakenya. Ekskresi 9-16 g/hari.

7.

Sulfat : hasil metabolisme protein yang mengandung AA dg atom S, contohnya:


sistein, sistin, metionin. Sulfat da 3 bentuk: seulfat anorganik, sulfat ester (konjugasi) dan
sulfat netral.

8.

Fosfat : di urin berikatan dg Na, K, Mg, Ca. Garam Mg dan Ca fosfat mengendap
pada urin alkalis. Ekskresinya dipengaruhi pemasukan protein, kerusakan sel, kerusakan
tulang pada osteomalasia dan hiperparatiroidisme ekskresinya naik dan menurun pada
penyakit infeksi dan hipoparatiroidisme.

9.

Mineral: Kationnya (Na, K, Ca, Mg). Ekskresi K naik pada kerusakan sel, pemasukan
yang berlebih dan alkalosis. Ekskresi ion K dan Na dikontrol korteks adrenal.

10.

Vitamin, hormon dan enzim: pada pankreatitis amilase dan disakaridase meningkat.
Hormon Choriogonadotropin (HCG) terdapat pada urin wanita hamil.
Tes urin untuk melakukan tes kehamilan bisa dilakukan sendiri di rumah. Tes urin untuk

melihat kehamilan ini bisa dilakukan menggunakan alat tes kehamilan yang dijual di pasaran.
Alat ini memiliki tingkat keakuratan sampai 99%. Alat ini bekerja dengan mendeteksi
hormon HSG (human chorionic gonadotropin) yang ada di dalam urin. Hormon kehamilan ini
hanya terbentuk ketika sel telur yang sudah dibuahi menempel di dinding rahim yaitu sekitar
6 hari zigot menempel di dinding rahim. Hormon ini akan terus meningkat dan mencapai
puncaknya saat kehamilan berada di hari ke 60 sampai 90.
Tes urin ini sebaiknya dilakukan setelah Anda mengalami keterlambatan haid di hari
keenam atau seterusnya. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Saat akan melakukan tes, pastikan alat tes kehamilan Anda tidak lewat dari masa kadaluarsa.
Setelah itu, lakukan tes dengan mengikuti pentunjuk yang ada dengan benar.