Anda di halaman 1dari 127

Referat

Pembimbing:
Dr.Dian N, Sp.THT
Prima cendy 2008730030

OTITIS MEDIA AKUT

DEFINISI
Otitis media akut (OMA) adalah
peradangan
sebagian
atau
seluruh mukosa telinga tengah,
tuba eustachius, antrum mastoid
dan sel-sel mastoid.

STADIUM OMA
STADIUM TUBA OKLUSI
gambaran retraksi Membran Timpani
akibat terjadinya tekanan negatif di
dalam telinga tengah, karena adanya
absorpsi udara.
Kadang Membran Timpani
tampak
normal / berwarna keruh pucat.
Efusi mungkin telah terjadi, tetapi
tidak dapat dideteksi.
Stadium ini sukar dibedakan dengan
Oitis Media serosa yang disebabkan
STADIUM
virus atauHIPEREMIS
alergi.
Tampak pembuluh darah yang melebar
di Membran Timpani (hiperemis) atau
serta edem.
Sekret yang telah terbentuk mungkin

STADIUM OMA
STADIUM SUPURASI
Membran Timpani menonjol (bulging) edema hebat
pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel
superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di
kavum timpani.
Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu , serta
rasa nyeri di telinga bertambah hebat.
Bila tekanan nanah di dalam kavum timpani tidak
berkurang, maka terjadi iskemia tekanan pada
kapiler, serta timbul tromboflebitis & nekrosis mukosa
dan submukosa.
Bila tidak dilakukan miringotomi kemungkinan besar
Membran Timpani akan ruptur dan nanah keluar ke
liang telinga luar.

STADIUM PERFORASI
Terjadi ruptur Membran timpani & nanah keluar dari telinga
tengah ke liang telinga luar.
Anak yang tadinya gelisah akan menjadi tenang, suhu
badan dan anak dapat tertidur nyenyak.
STADIUM RESOLUSI
Bila Membran timpani tetap utuh Membran timpani akan
normal kembali.
Bila perforasi sekret akan berkurang dan menjadi kering.
Bila imunitas baik atau virulensi kuman rendah resolusi
dapat terjadi tanpa pengobatan.

TERAPI
STADIUM OKLUSI
Tujuan untuk membuka kembali
tuba Eustachius, tekanan
negatif di telinga hilang.
Obat tetes hidung berupa HCl
efedrin 0,5 % dalam lar. fisiologik
( <12 tahun) atau HCl efedrin 1
% dalam larutan fisiologik (> 12
tahun) dan pada orang dewasa.

STADIUM HIPEREMIS
Antibiotika gol penisilin / ampisilin (7 hari)
Pada anak dosis pemberian: Ampisillin
50-100 mg/kg BB per hari di bagi dalam 4
dosis.
Amoksisilin 40 mg/kg BB/hari di bagi 3
dosis
Eritromisin 40 mg/kg BB/hari
Obat tetes hidung
Analgetika
Bila MT hiperemis difus, sebaiknya lakukan
STADIUM
SUPURASI
miringotomi.
Antibiotika
Miringotomi bila membran timpani masih
utuh.

STADIUM OMA
STADIUM PERFORASI
Sekret banyak keluar dan kadang sekret
keluar secara berdenyut (pulsasi).
Obat cuci telinga H2O2 3 % selama 3-5 hari
Antibiotika yang adekuat.
Biasanya sekret akan hilang dan perforasi
dapat menutup kembali dalam waktu 7-10
hari.
STADIUM RESOLUSI
Membran Timpani berangsur normal, sekret
tidak ada lagi dan perforasi Membran
Timpani menutup.

Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak


sekret mengalir di liang telinga luar melalui
perforasi di Membran timpani antibiotika
dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila setelah 3
minggu sekret masih tetap banyak
mastoiditis.
Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret
dari telinga tengah lebih dari 3 minggu Otitis
Media Supuratif Subakut.

Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar


lebih dari 1 bulan atau 2 bulan OMSK.

OTITIS MEDIA SUPURATIF


KRONIK
Definition
Otitis media supuratif kronik adalah
infeksi kronik di telinga tengah
dengan perforasi membran timpani
dan sekret yang keluar dari telinga
terus menerus atau hilang timbul.
(Sekret bisa encer, kental atau
nanah)

Perforasi subtotal (telinga


kanan)

Cholesteatoma

Ada 2 Tipe otitis media supuratif


kronik
Otitis media supuratif kronik beniga
(tipe mukosa. Tipe ini tidak
berbahaya dan tidak terdapat
kolesteatom
Otitis media supuratif kronik
maligna. Tipe ini berbahaya dan
terdapat kolesteatom.
Cholesteatoma

Gejala otitis media supuratif tipe


benigna :
Proses peradangan pada OMSK tipe aman hanya
terbatas pada mukosa saja,

Gangguan pendengaran

Perforasi sentral (kecil luas/total)

Tidak terdapat koleostoma.

Gejala otitis media supuratif tipe


maligna :
Perforasi marginal atau atipik
Bila kasus yang lebih lanjut
terdapat abses atau fistel
retroaurikuler, polip, jaringan
granulasi pada liang telinga,
terlihat koleostoma pada
telinga tengah.
Sekret yang berbentuk nanah
dan berbau khas.

Terlihat bayangan
kolesteatoma pada foto
rontgen mastoid

Pengobatan
Prinsip terapi OMSK tipe aman:
Konservatif atau denga medikamentosa
Bila sekret terus menerus keluar akan
diberikan pencuci telinga (larutan H2O2 3
% selama 3-5hari
Setelah sekret berkurang maka terapi
dilanjutka dengan pemberian obat tetes
telinga yang mengandung antibiotik dan
Prinsip
pengobatan OMSK tipe
kortikostreroid.
bahaya:
Secara oral di berika antibiotik
ampisilin, eritromisin
Pembedahan
(mastoidektomi)

Sinusitis

Merupakan inflamasi yang terjadi


pada satu atau lebih organ sinus
paranasal

Klasifikasi

Sinusitis di kategorikan menjadi tiga bagian:


1.

Sinusitis akut ( beberapa hari 4minggu)

2.

Sinusitis sub akut ( 4mgg- 3 bln)

3.

Sinusitis kronik ( > 3bln)

Hal 16

Terapi
Diberikan
antibiotik selama
10-14 hari
golongan
penisilin.
Diberikan
dekongestan
hidung dan
Analgetik untuk
anti nyeri.

Rinitis alergi
Definisi

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang


disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi
yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan
alergen yang sama serta dilepaskannya suatu
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan
dengan alergen spesifik.
Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its
Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan
pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore,
rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung
terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.

Klasifikasi rhinitis alergi menurut guideline


ARIA (2001)
Berdasarkan lama terjadinya gejala:
Klasifikasi

Gejala di alami selama

Intermiten

Kurang dari 4 hari seminggu, atau


kurang dari 4 minggu setiap saat
kambuh

persisten

lebih dari 4 hari seminggu, atau lebih


dari 4 minggu setiap
saat kambuh
Berdasarkan Keparahan dan kualitas hidup

Ringan

tidak mengganggu tidur, aktivitas


harian, olahraga, sekolah,
atau pekerjaan
tidak ada gejala yang mengganggu

Sedang sampai berat

tidak mengganggu tidur, aktivitas


harian, olahraga, sekolah,
atau pekerjaan
tidak ada gejala yang mengganggu

DIAGNOSIS RINITIS ALERGI


Anamnesis sangat
penting karena
sering kali serangan
tidak terjadi
dihadapan
pemeriksa. Hampir
50 % diagnosis
dapat ditegakkan
dari anamnesis.

Anamnesis

Mukosa edema,
basah, berwarna
pucat atau livide
disertai adanya
sekret encer yang
banyak.

Pemeriksaan
Rinoskopi
Anterior

Hitung Leukosit Dalam


Darah
Tepi
Dapat normal atau meningkat.

Uji Kulit
Dengan uji kulit, alergen penyebab
dapat dicari secara invivo.

Prick Test
Merupakan
uji
alergi,
dengan
menggunakan uji tusuk. Tempat uji kulit
yang paling baik adalah pada daerah
volar lengan bawah dengan jarak
sedikitnya 2 sentimeter dari lipat siku
dan pergelangan tangan
Lapisan superfisial kulit
ditusuk dan dicungkil ke
atas memakai lanset atau
jarum yang dimodifikasi,
atau dengan menggunakan
jarum khusus untuk uji
tusuk.

Ekstrak alergen yang


digunakan 1.000-10.000
kali lebih pekat daripada
yang digunakan untuk uji
intradermal.

Kontrol Positif

Kontrol Negatif

1% histamin
pada uji tusuk

Pelarut gliserin

Antihistamin dapat mengurangi reaktivitas kulit. Oleh


karena itu, obat yang mengandung antihistamin harus
dihentikan paling sedikit 3 hari sebelum uji kulit

Reaksi terhadap histamin dibaca setelah 10 menit dan terhadap


alergen dibaca setelah 15 menit.
Reaksi dikatakan positif bila terdapat rasa gatal dan eritema yang
dikonfirmasi dengan adanya indurasi yang khas yang dapat
dilihat dan diraba.
Diameter terbesar (D) dan diameter terkecil (d) diukur dan reaksi
dinyatakan ukuran (D+d):2.
Pengukuran dapat dilakukan dengan melingkari indurasi dengan
pena dan ditempel pada suatu kertas kemudian diukur
diameternya.

Kertas dapat disimpan untuk dokumentasi

Patch test.

Dilakukan untuk menunjukkan yang memicu dermatitis kontak


alergi.
Jika terdapat alergi antibodi dalam tubuh, akan timbul gatal,
lebih mirip gigitan nyamuk. Reaksi ini menunjukkan adanya
alergi terhadap zat tersebut
Antigen yang digunakan biasanya yang telah berkontak dengan
individu normal, misalnya tetanus, difteria, streptokokus,
tuberkulin (OT),Candida albicans, trikofiton, dan proteus.

7 jenis antigen (Candida albicans, toksoid tetanus, toksoid


difteri, streptokinase,old tuberculine, trikofiton, dan
proteus) serta kontrol gliserin secara bersamaan sekaligus
dapat diuji

Hasil pemeriksaan
Hasil uji dibaca setelah 24-48 jam. Bila setelah 24 jam
hasil tes tetap negatif maka cukup aman untuk
memberikan dosis antigen yang lebih kuat. Indurasi
yang terjadi harus diraba dengan jari dan ditandai
ujungnya, diukur dalam mm dengan diameter
melintang (a) dan memanjang (b). Untuk setiap reaksi
gunakan formula (a+b):2. Suatu reaksi disebut positif
bilamana (a+b):2=2 mm atau lebih.

PENATALAKSANAAN RINITIS
ALERGI
Menghindari
kontak
dengan
alergen
pennyebabnya (avoidance) dan eliminasi
Simptomatis:
Medikamentosa antihistamin
Operatif konkotomi parsial (pemotongan
sebagian konka inferior), konkoplasti atau
multiple outfractured, inferior turbinoplasty
Imunoterapi & netralisasi Desensitasi dan
hiposensitisasi

Penatalaksanaan

Karsinoma NasoFaring
DEFINISI:
Karsinoma nasofaring
adalah tumor yang
timbul dari sel-sel
epitel yang menutupi
permukaan dan garis
nasofaring. pertama
kali
dijelaskan
sebagai entitas yang
terpisah oleh Regaud

GEJALA KLINIK
Gejala Nasofaring
Gejala Telinga
Pilek lama yang tidak sembuh
Tinitus
Epistaksis
ringan
atau
Gangguan Pendengaran
sumbatan hidung.
Otalgia

Gejala
Gejala metastasis atau gejala di
Mata dan Saraf
leher
Diplopia
Benjolan di leher
Neuralgia trigeminal
Karsinoma
akan
mengenai
saraf otak penjalaran melalui
foramen jugulare. Gangguan
ini sering di sebut JACKSON.
Bila mengenai seluruh saraf
otak
di
sebut
sindrome
unilateral,

Lokasi tersering adalah fossa


rossenmular

STADIUM
Primary tumor (T)

TX tumor primer tidak dapat


dinilai
T0 tidak tampak tumor
T1 tumor terbatas di nasofaring
T2 tumor meluas ke jaringan
lunak

NX pembesaran KGB tidak dapat dinilai


N0 tidak ada pembesaran
N1 metastasis KGB unilateral, dengan
ukuran terbesar 6 cm, diatas fossa
supraklavikula
N2 - metastasis KGB bilateral, dengan
ukuran terbesar 6 cm, diatas fossa
supraklavikula
N3 - metastasis KGB bilateral, dengan
ukuran >6 cm, atau terletak didalam fossa
supraklavikula
N3a ukuran > 6 cm
N3b di dalam fossa supraklavikula

T2a perluasan tumor ke


orofaring/rongga hidung tanpa
perluasan ke parafaring
T2b disertai perluasan ke
parafaring

T3 tumor menginvasi struktur


tulang dan/sinus paranasal
T4 tumor dengan perluasan
intrakranial dan/atau terdapat
keterlibatan saraf kranial,fosaa
infratemporal, hipofaring, orbita
atau ruang mastikator.

Regional lymph nodes


(N)

Distant metastasis (M)


MX metastasis jauh tidak dapat dinilai
M0 tidak ada metastasis jauh
M1 terdapat metastasis jauh

Penatalaksanaan
Stadium I

Radioterapi

Stadium II dan III

Kemoradiasi

Stadium IV N < 6
cm

kemoradiasi

Stadium IV N
< 6 cm

Kemoterapi dosis penuh


dilanjutkan kemoradiasi

Abses leher dalem


Macam-macam ruang leher
dalam:
Ruang yang melibatkan sepanjang
leher terdiri dari:
Ruang retrofaring
Ruang bahaya (danger space)
Ruang prevertebra.
Ruang suprahioid terdiri dari:
Ruang submandibula
Ruang parafaring
Ruang parotis
Ruang mastikor
Ruang peritonsil
Ruang temporalis.
Ruang infrahioid:
Ruang Pretrakeal.

Ruang retrofaring
Ruang Retrofaring
Berisi jaringan ikat jarang
dan fasia prevertebralis
o Batas atas : basis cranii
o Batas bawah : fasia
servikalis
o Batas depan : dinding
belakang
faring
(mukosa faring. Fasia
faringobasilaris,
otootot laring)
o Batas lateral
: fosa
faringomaksila
Pada anak-anak banyak

Ruang
prevertebra

Terletak diantara otot-otot


prevertebra
dan
fasia
pravertebra. Infeksi disini
dapat menerobos ke lateral
atau inferior ke dalam
mediastinum psoterior
Ruang
prevertebra
merupakan ruang silindris
dari
lapisan
yang
mengelilingi
columna
vertebralis dan otot.
Lapisan
prevertebra
melekat
sepanjang
psteerior dari ligamentum
nuchae
dan
bagian
superiornya
berlanjut

Ruang Suprahioid

Ruang
Suprahio
id

Terletak diatas tulang


hioid antara lapisan
selubung dan
pembungkus m.
milohioid.
Infeksi disini dapat
meluas keruang
submental atau
submaksila atau
dapat meluas ke
bawah ke dalam
ruang visera

Ruang Parafaring

Ruang
Suprahio
id

Merupakan rongga segitiga


besar dipenuhi dengan
jaringan lemak longgar,
terletak lateral dari faring
Dikenal sebagai
faringomaksila, perifaring atau
ruang faring lateral terdiri dari
dua bagian, anterior
(prastiloid) dan posterior
(retrostiloid)
Berbentuk kerucut dengan
dasar tulang tengkorak dan
puncaknya pada kornu mayus
os hioid.
Batas dalam : m. Konstriktor
faring superior
Batas luar : ramus ascenden

Ruang Pretrakeal

Berisi kumpulan fasia


yang mengelilingi
trakhea dan gland
tiroid.
Bagian Anterior :
Berisi lapisan
pratrakea yang
melewai leher, hanya
posterior otot
infrahioid dan
menutupi trachea

Abses Peritonsil
(Quinsy)
Gejala
Abses peritonsil merupakan terkumpulnya
material purulen yang terbentuk di luar kapsul
tonsil dekat kutub atas tonsil
Sebagai komplikasi tonsilitis akut atau infeksi
yang bersumber dari kelenjar mukus Weber di
kutub atas tonsil
Gejala
tonsilitis
akutditemukan kuman
Etiologi
= tonsilitis,
dapat
Odinofagia
aerob
& anaerob (nyeri menelan) yg
hebat
Trismus (sulit membuka mulut)
Otalgia (nyeri telinga)
Regurgitasi
Mulut berbau (foetor ex ore)
Hipersaliva
Suara gumam (hot potato
voice)
Pembengkakan & nyeri tekan

Abses Peritonsil
(Quinsy)

Penatalaksanaan
Stadium infiltrasi:
o Antibiotika gol.
Penisilin/klindamisin
o Obat simtomatik
o Kumur- kumur dengan cairan
hangat dan kompres dingin
pada leher.
Bila telah terbentuk abses:
o Pungsiinsisi
o Kemudian pasien dianjurkan
operasi tonsilektomi

Tonsilektomi
Umumnya
tonsilektomi
sesudah infeksi
tenang: 2-3
minggu setelah
drainase abses.

ABSES RETROFARING
Gejala dan tanda

Rasa nyeri dan sukar


menelan
Pada anak kecil rasa nyeri
membuat anak menangis
terus, tidak mau mkan dan
minum
Demam, leher kaku dan
nyeri
Sesak napas
Stridor
Perubahan suara
Terdapat benjolan pada

Abses Retrofaring

Terapi
Antibiotik spektrum luas dosis tinggi
parenteral
Pungsi dan insisi abses melalui laringoskopi
Tindakan
Insisi
langsung

Insisi melalui laringoskopi


langsung dalam posisi
pasien baring trendelnburg.
Pus yang keluar diisap,
agar tidak aspirasi
Dalam anetesia lokal atau
umum

ABSES PARAFARING
Gejala dan Tanda

Trismus
Pembengkakan
sekitar angulus
mandibula
Demam tinggi
Pembengkakan
dinding lateral faring
menonjol ke
medial

Abses Parafaring
Terapi
Antibiotik spektrum luas dosis tinggi
parenteral
Evakuasi abses Insisi
Tindakan Insisi
2 jari dibawah dan sejajar mandibula
Secara tumpul eksplorasi dilanjutkan dari batas anterior m.
Sternokleidomastoideus ke arah atas belakang menyusuri bagian
medial mandibula dan m. Pterigoid interna mencapai ruang parafaring
dengan terabanya prosessus stiloid
Pus dalam selubung karotid insisi dilanjutkan vertikal dari
pertengahan insisi horizontal ke bawah di depan m.
sternokleidomastoideus

Abses Submandibula
Gejala dan Tanda
Demam dan nyeri
leher
Pembengkakan di
bawah mandibula
& / dibawah lidah
Trismus

Abses Submandibula

Terapi
Antibiotik dosis tinggi terhadap kuman aerob dan
anaerob secara parenteral
Evakuasi abses :
abses yg dangkal/terlokalisasi dalam anastesi lokal
Abses yg dalam dan luaseksplorasi dalam narkosis
Pasien dirawat inap 1-2 hari sampai gejala dan tanda
infeksi mereda

Tindakan Insisi
Dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau
setinggi os. Hioid, tergantung letak dan luas abses

Angina Ludovici
(Angina Ludwig)
Gejala dan tanda
Nyeri tenggorok dan
leher
Pembengkakan di daerah
submandibula, yang
tampak hiperemis dan
keras pada perabaan
Dasar mulut
membengkak dapat
mendorong lidah ke atas
belakangjalan napas
tersumbat sesak
napas.

Angina Ludovici
(Angina Ludwig)

Terapi
Antibiotik dosis tinggi spektrum luas secara parenteral
Lakukan eksplorasi yang dilakukan untuk tujuan
dekompresi (mengurangi ketegangan)
Evakuasi pus atau jaringan nekrosis
Insisi di garis tengah secara horizontal setinggi os hioid
(3-4 jari dibawah mandibula)
Lakukan pengobatan terhadap sumber infeksi untuk
mencegah kekambuhan
Insisi Angina Ludovici
Pasien dirawat inap sampai infeksi mereda.

Eksplorasi tujuan : dekompresi dan evakuasi pus


Insisi dilakukan di garis tengah secara horizontal setinggi os. Hioid
(3-4 jari di bawah mandibula)

Pemeriksaan penala
Tes garis pendengaran.
Tujuan test ini adalah untuk mengetahui batas bawah dan batas atas
ambang pendengaran. Telinga kanan dan kiri diperiksa secara
terpisah.
Penderita diinstruksikan untuk mengangkat tangan bila
mendengarkan bunyi.
Interpretasinya:

Normal :
medengar pada semua frekuensi.
Tuli konduksi :
batas bawah naik
Tuli sensori neural :
batas atas turun

Tes Rinne
Prinsip : Membandingkan hantaran tulang dengan
hantaran udara pada satu Telinga Garpu tala digetarkan,
tangkainya diletakkan di prosesus mastoid. Setelah tidak
terdengar, garpu tala dipindahkan dan dipegang kirakira 2,5 cm di depan liang telinga yang di periksa
Masih terdengar : Rinne (+), tidak
terdengar : Rinne (-)

TES WEBER

Prinsip tes Weber : Membandingkan hantaran


tulang telinga kiri dan kanan penderita. Garpu tala
digetarkan di linea mediana, dahi atau di gigi
insisivus atas.
Interpretasi:
- Lateralisasi ke telinga sakit ( tuli konduktif)
- Lateralisasi ke telinga sehat ( tuli
sensorineural)
Tes schwabach
Tujuan : Membanding hantaran lewat tulang antara penderita dan pemeriksa
Normal :

schwabach normal

Tuli konduksi :

schwabach memanjang

Tuli sensori neural :

schwabach memendek

Tes Garpu Tala


Ringkasan
interpretasi

Tuli konduktif

Normal
Naik

TES
Batas atas
Batas bawah

Tuli sensorineural
Menurun
Normal

Negatif

Rinne

Positif
False positif/ negatif

Laterilasi kesisi sakit

Weber

Lateralisasi kesisi sehat

Memanjang

Schwabach

Memendek

TULI MENDADAK

definisi
Tuli yang terjadi secara tiba
tiba atau penurunan
pendengaran sensorineural
30 dB atau lebih paling
sedikit tiga frekuensi
berturut turut pada
pemeriksaan audiometrik
dan berlangsung kurang

Jenis ketulian adalah


sensorineural, yang
dimana penyebab tidak
langsung dapat diketahui
dan biasanya unilateral.

Gejala Klinis
Gejala

Iskemik Koklea

Virus

Timbul

Mendadak/menahun

Mendadak

Sifat

Sementara atau

Disertai vertigo dan

berulang tetapi

tinitus

biasanya menetap. Tuli


biasanya bersifat tidak
berat atau tidak
berlangsung lama.
Letak

Unilateral atau
bilateral, dapat disertai
tinutus dan bilateral

Unilateral

Penatalaksanaan
Tirah baring (total bed rest) selama dua
minggu
Vasodilatansia
Dengan memberikan Complamin injeksi dengan dosis
sebagai berikut

3
3
3
3

x
x
x
x

1200 mg (4 ampul) selama 3 hari


900 mg (3 ampul) selama 3 hari
600 mg (2 ampul) selama 3 hari
300 mg (1 ampul) selama 3 hari

Prednison (kortikosteroid)
Pemberian dengan dosis 4 x 10 mg (2 tablet), dan
tapering of tiap 3 hari (hati hati pada pasien diabetes
mellitus)

Vitamin C 500 mg 1 x 1 tablet/hari


Neurobion (neurotonik) 3 x 1 tablet/1
hari
Diit rendah garam dan resdah
kolesterol
Inhalasi oksigen 4 x 15 menit (2
Liter/menit), obat anti virus sesuai
dengan virus penyebab.
Hipertonik Oksigen Terapi (HB)

EVALUASI HASIL
Sangat Baik, apabila
Baik, apabila rata
perbaikan lebih dari
rata perbaikan 10 30
30 dB pada frekuensi.
dB pada 5 frekuensi.
Sembuh, apabila
Tidak ada
perbaikan ambang
perbaikan, apabila
pendengaran kurang
terdapat perbaikan
dari 30 dB pada
kurang dari 10 dB
frekuensi 250 Hz, 500
pada 5 frekuensi.
Hz, 1000 Hz, 2000 Hz,
dan di bawah 25 dB
pada frekuensi 4000
Hz.
Fungsi pendengaran harus
dievaluasi setiap minggu selama
satu bulan

Ototoksisitas
DEFINISI
Gangguan pendengaran akibat obat yang ototoksik
Macam-macam obat ototoksik:
Antibiotik golongan Aminoglikosida Streptomisin, Neomisin, Kanamisin,
Gentamisin, Tobramisin, Amikasin Sisomisin, dan Netilimisin.
Eritromisin
Loop duretics furocemid, bumetamide dan Ethycrynic
Obat antiinflamasi Salisilat (Aspirin)
Obat anti MalariaKina dan Kuinolon
Obat Anti Tumor
Obat tetes telinga antibiotik golongan Aminoglikosida (Neomisin,
Polimiksin B)
Faktor resiko:
Pasien usia lanjut
Gagal ginjal
Yang memiliki pendengaran berkurang sebelumnya
Sejarah keluarga yang ototosisitas
Yang menerima diuretik loop.

Ototoksisitas
Gambaran Klinis:
1. Tinitus:
2. Tuli bersifatBilateral / Unilateral
Tuli Sensorineural.
3. Gangguan keseimbangan
Pengobatan:
Tuli yang di akibatkan oleh obat-obatan tidak dapat di obati.
Apabila ketulian sudah terjadi dapat di coba melakukan
rehabilitasi :
Alat bantu dengar
Psikoterapi
Auditory training
Belajar komunikasi total ( belajar bahas isyarat)
Pada tuli yang bilateral: dapat di pertimbangkan
pemasangan implan koklea.

Telinga
Fisiologi pendengaran
Fisiologi Keseimbangan

Fisiologi Pendengaran
Daun
telinga
menangkap
gelombang
bunyi
Menggetark
an
membran
timpani &
diteruskan
ke telinga
tengah
Tulang
pendengara
n
mengamplifi
kasi
getaran
Diteruskan
ke stapes
yg akan
menggera
kkan
tingkap

Defleksi
stereosili
a sel2
rambut
Gerak relatif
membran
basalis &
membran
tektoria
Getaran
diteruskan
lewat m.
reissner yg
mendorong
endolimf
Perilimf
skala
vestibuli
bergerak

Kanal ion
terbuka
Terjadi
pengelepas
an ion
bermuatan
listrik dari
badan sel
Proses
depolaris
asi sel
rambut
Melepaskan
neurotrans
mitter ke
dalam
sinapsis

Di lobus
temporalis,
informasi
dari saraf
akan
diterjemahk
an menjadi
persepsi
suara.
Timbul
potensial
aksi,
diteruskan
ke nukelus
auditorius
sd korteks
serebri area
39-40 lobus
temporalis

Fisiologi keseimbangan Statis


keseimbangan yang
berhubungan dengan
orientasi letak kepala
(badan) terhadap
gravitasi bumi.

Yang
berperan
pada
keseimba
ngan
statis ini
adalah
sakulus
dan
ultrikulus(
pada
kanalis
semi
sirkularis).

Bila
kepala
miring ke
satu arah,
otolith
yang
berat
akan
tertauk ke
bawah
oleh
gravitasi
bumi

hal ini
akan
menarik
lapisan
gelatin ke
bwah
yang
kemudin
merangsa
ng sel-sel
rambut.

Fisiologi keseimbangan Dinamis


Suatu
upaya
pertahanan
keseimbangan tubuh terhadap
gerakan-gerakan
berbagai
arah, misalnya berputar, jatuh,
percepatan, dsb.

Impuls
keseimban
gan ini
kemudian
dijalarkan
melalui
bagian
vetibularis
dari syaraf
ke VIII
medula
korteks
otak.

Bila kepala bergerak kesegala arah, maka


cairan didalam canalis semi sirkularis akan
bergerak ke arah sebaliknya sehingga akan
menekukan cupula.

Sel-sel rambut terangsang dan timbul


ilmpuls menuju syaraf ke VIII. Karena ketiga
canalis semisircularis ini letaknya saling
tegak lurus maka gerakan kepala kesegala
arah dapat terkontrol oleh alat
keseimbangan.

BPPV
(Benign Paroxysmal Positional Vertigo

definisi
BenignParoxysmal Positional Vertigo
(BPPV) adalah gangguan keseimbangan
periferdengan gejala vertigo yang datang
tiba-tiba pada perubahan posisi kepala.

patofisiologi
Epley (1980

Teori
Cupulolithiasis
Horald
Schuknecht (1962)

Teori
Canalolithiasis

Teori cupulolithiasis
Partikel
basofilik
(kalsium
karbonat)
Terlepas
dari makula
utrikulus
Menempel
pada
permukaan
kupula

Partikel
mencegah
tiang pada
posisi
netral
Analog
dengan
benda
berat di
letakkan di
puncak
Kanalis
semisirkula
ris
posterior
sensitif

Kanalis
semisirkula
ris
posterior
berubah
posisi
Kupula
bergerak
Timbul
keluhan
nistagmus
dan vertigo

Teori canalolithiasis
Partikel
otolit
bergerak
bebas di
kanalis
semisirkula
Kepala
ris
tegak
(endapan
di posisi
paling
bawah)
Ketika di
rebahkan
partikel
berotasi
(90o)

Nistagmus
dan pusing

Pembalikan
rotasi
kepala

Kupula
membelok
(deflected)

Pembalikan
pembeloka
n Kupula

Cairan
endolimfe
menjauhi
ampula

Jatuhnya
partikel
memicu
organ saraf
(pusing)

Penatalaksanaan

BPPV dengan mudah diobati. Partikel dengan sederhanaperlu


dikeluarkan
dari
kanal
semisirkular
posterior
danmengembalikannya ke mana mereka berasal. Beberapa
manuver yang dapat dilakukan, antara lain :
Canalith Reposisi Prosedur (CRT)/Epley manuver : CRP adalah
pengobatan non-invasif untuk penyebab paling umum dari
vertigo, terutama BPPV, CRP pertama kali digambarkan sebagai
pengobatan untuk BPPV di tahun 1992.

Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk, kepala menoleh ke kiri ( pada gangguan
keseimbangan / vertigo telinga kiri ) (1), kemudian langsung tidur sampai
kepala menggantung di pinggir tempat tidur (2), tunggu jika terasa berputar /
vertigo sampai hilang, kemudian putarkepala ke arah kanan ( sebaliknya )
perlahansampai muka menghadap ke lantai (3), tunggu sampai hilang rasa
vertigo, kemudian duduk dengan kepala tetap pada posisi menoleh ke kanan

semont liberatory

Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk (1), untuk gangguan vertigo telinga kanan, kepala
menoleh ke kiri, kemudian langsung bergerak ke kanan sampai menyentuh
tempat tidur (2) dengan posisi kepala tetap, tunggu sampai vertigo hilang
(30-6- detik), kemudian tanpa merubah posisi kepala berbalik arah ke sisi kiri
(3), tunggu 30-60 detik, baru kembali ke posisi semula. Hal ini dapat
dilakukan dari arah sebaliknya, berulang kali.

Brandt darRoff exercise

Keterangan Gambar :
Hampir sama dengan Semont Liberatory, hanya posisi kepala berbeda,
pertama posisi duduk, arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi
kanan, kemudian balik posisi duduk, arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan
badan ke sisi kiri, masing-masing gerakan ditunggu kira-kira 1 menit, dapat
dilakukan berulang kali,pertama cukup 1-2 kali kiri kanan, besoknya makin
bertambah.

Manuver rolling

Untuk Rolling / Barbeque maneuver, dilakukan dengan cara berguling sampai


360, mula-mula posisi tiduran kepala menghadap ke atas, jika vertigo kiri,
mulai berguling ke kiri ( kepala dan badan ) secara perlahan-lahan, jika
timbul vertigo,berhenti dulu tapi jangan balik lagi, sampai hilang, setelah
hilang berguling diteruskan, sampai akhirnya kembali ke posisi semula.

Nervus fasialis

Nucleus komponen nervus fascialis terletak di


bagian ventrolateral tegmentum pontis
serabut radiks nervus fascialis berjalan memutari
nucleus abdusen(membentuk yang disebut genu
internum nervus fascialis berjalan ke kaudal
pons kemudian keluar dari batang otak
menembus ruang subarachnoid memasuki
meatus acusticus internus bersama dengan
nervus intermedius dan nervus cranialis VII
berjalan ke lateral di kanalis fasialis menuju
ganglion geniculatum setinggi ganglion
kanalis fasialis menurun curam pada bagian
ujung bawah kanalis fasialis, nervus fasialis
keluar
dari
tengkorak
melalui
foramenstilomastoideus
serabut-serabut
syarafnya mempersyarafi semua otot ekspresi
wajah yang berasal dari lengkung brachialis
kedua yaitu m. orbicularis oris dan m orbicularis
okul, m. businator, m. oksipitalis, m. frontalis dan

Nervus facial

Nervus facial
Kelainan: paresis flasid pada otot-otot
ekspresi wajah, mata tidak bisa menutup
penuh; sudut mulut jatuh; dahi tidak bisa
mengerut; kornea kering dan kehilangan
sensasi rasa pada 2/3 anterior lidah
Pemeriksaan : raut wajah, mengangkat alis,
menutup mata rapat, mengembungkan
pipi, memperlihatkan gigi, mencucurkan
bibir, rasa kecap 2/3 depan

Nervus fasialis
Derajat Klasifikasi Parese:
House brackman:
Grade I. Normal
Fungsi fasial normal, simetri pada semua area
Grade II. Disfungsi Ringan
Kelemahan ringan yang hanya dapat terlihat dengan
pemerikaan yang teliti.
Dapat menutup mata sempurna dengan sedikit usaha
Asimetris ringan ketika tersenyum dengan usaha maksimal

Grade III. Disfungsi Sedang


Jelas terlihat kelemahan, tetapi tidak terlihat mencolok.
Bisa tidak mampu mengangkat alis mata
Dengan usaha keras dapat menutup mata sempurna tetapi
gerakan mulut asimetris.

Grade IV. Disfungsi Sedang- Berat


Jelas terlihat kelemahan
Tidak dapat mengangkat alis mata
Tidak dapat menutup mata dengan sempurna meskipun dengan usaha yang
maksimal

Grade V. Disfungsi
Berat
Hanya sedikit gerakan
yang terlihat
Asimetris saat istirahat

Grade VI
Paralisis Total
Tidak ada
gerakan sama
sekali

Derajat klasifikasi parese nervus


facial menurut Yanagihara

POLIP HIDUNG

DEFINISI
Polip nasi adalah massa lunak yang
tumbuh di dalam rongga hidung yang
terjadi

akibat

Kebanyakan

inflamasi

polip

mukosa.

berwarna

putih

bening atau keabu abuan, mengkilat,


lunak

karena

banyak

mengandung

cairan (polip edematosa). Polip yang


sudah lama dapat berubah menjadi
kekuning kuningan atau kemerah
merahan,

suram

dan

lebih

kenyal

(polip fibrosa)
92

Jenis polip
Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan
menjadi , yaitu :

Polip tipe
eusinofilik

penyebabnya adalah
reaksi alergi. Biasanya
tampak lebih
hiperemis, lebih
edema, dan bilateral.

Polip tipe
neutrofilik
penyebabnya
adalah karena
infeksi. Biasanya
tampak lebih
pucat dan
menyerang sisi
hidung yang
terkena infeksi.

Gejala klinis
Gejala utama : rasa sumbatan di hidung
Hiposmia atau anosmia
Bernafas melalui mulut
Suara sengau
Gangguan tidur
Polip menyumbat sinus paranasal
sinusitis dengan keluhan nyeri kepala
dan rinore
Bila penyebabnya adalah alergi, maka
gejala yang utama bersin dan iritasi
di hidung

penatalaksanaan

Tujuan utama pengobatan pada kasus


polip nasi:
menghilangkan keluhan-keluhan
mencegah komplikasi
mencegah rekurensi polip

Konservatif : Polipektomi-kortikosteroid
A. Oral, mis: prednison 50 mg/hari atau
dexametason selama 10 hari, kemudian
tappering of
B. Suntikan intrapolip, mis: triamsinolon
asetonid atau prednison 0,5 cc, tiap 5-7
hari sekali.
C. Nasal spray kortikosteroid

penatalaksanaan

Tindakan bedah : Ekstraksi polip


(polipektomi)
menggunakan senar polip atau cunam
dengan analgesi lokal
ethmiodektomi intranasal atau
ethmoidektomi ekstranasal untuk polip
ethmoid
operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila
Yang terbaik ialah bila tersedia fasilitas
endoskop maka dapat dilakukan tindakan
BSEF (Bedah Sinus Endoskopi Fungsional).

Tonsilitis

Tonsilitis

Akut

Viral,
Bakteri

Membranos
a

Difteri, Septik,
Angina Plaut
Vincent,
Kelainan darah

Kronik

Besar tonsil ditentukan sebagai


berikut :
T0 : Post Tonsilektomi
T1 : Tonsil masih terbatas dalam
Fossa Tonsilaris
T2 : Sudah melewati pillar
posterior belum melewati garis
paramedian
T3 : Sudah melewati garis
paramedian, belum melewati
garis median
T4 : Sudah melewati garis median

TONSILITIS AKUT
TONSILITIS VIRAL
Etiologi

virus
Epstein
Barr,
Haemophilus influenzae,
virus coxschakie

Gejala

Menyerupai
common
cold yang disertai rasa
nyeri tenggorok.

Terapi

Istirahat, minum cukup


Analgetika
Antivirus
(jika
gejala
berat)

TONSILITIS BAKTERIAL

Etiologi

Grup
A
Streptokokus
hemolitikus yang dikenal
sebagai
strept
throat,
pneumokokus, Streptokokus
viridan,
Streptokokus
piogenes

Gejala

nyeri tenggorok dan nyeri


waktu
menelan,
demam
tinggi, rasa lesu, nyeri di
sendi-sendi,
tidak
nafsu
makan, dan (otalgia).

Pemeriksaan
Fisik

Tonsil
membengkak,
hiperemis,
dan
terdapat
detritus
berbentuk
folikel,
lakuna, atau tertutup oleh
pseudomembran.

TONSILITIS
BAKTERIAL

PATOMEKANISME

Infiltrasi
bakteri

Lapisan
epitel
jaringan
tonsil

Reaksi
radang
(leukosit,
PMN)

Detritus

tonsilitis
akut

Tonsilitis folikularis

TONSILITIS BAKTERIAL
Tonsilitis
Folikularis

Tonsilitis
Lakunaris

Bentuk
tonsilitis akut
dengan
detritus yang
jelas

Bila bercakbercak
detritus ini
menjadi satu
dan
membentuk
alur-alur.

TONSILITIS DIFTERI
Etiologi
Corynebacterium diphteriae,

Epidemiologi
Pada anak berusia < 10 tahun dan
frekuensi tertinggi usia 2-5 tahun .
Titer anti toksin 0,03 per cc darah
dapat dianggap cukup memberikan
dasar imunitas.

TONSILITIS DIFTERI

GEJALA

Umum

subfebris, nyeri kepala, tidak


nafsu makan, badan lemah,
nadi lambat, serta keluhan
nyeri menelan.

Lokal

Tonsil membengkak ditutupi


bercak putih kotor yang makin
lama
makin
meluas
dan
bersatu
membentuk
(pseudomembran).

Akibat
Eksotoksin

Kerusakan jaringan tubuh pada


jantung, saraf kranial dan
ginjal.

TONSILITIS DIFTERI
Diagn
osis

Berdasarkan
gambaran klinik dan
pemeriksaan preparat
langsung kuman.

Terapi

Pasien harus diisolasi


Anti Difteri Serum (ADS)
dosis 20.000-100.000 Unit.
Penisilin atau Eritromisin
25-50 mg/kgBB (dibagi 3
dosis, 14 hari)
Kortikosteroid
1,2
mg/kgBB/ hari.

GEJALA

TONSILITIS KRONIS
Faktor Predisposisi
Rangsangan yang menahun dari rokok,
beberapa jenis makanan, higiene mulut
yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan
fisik dan pengobatan tonsilitis akut yang
tidak adekuat.

Gejala dan tanda


Pada
pemeriksaan
tampak
tonsil
membesar dengan permukaan yang tidak
rata, kriptus melebar, dan beberapa kripti
terisi oleh detritus.
Rasa ada yang mengganjal di tenggorok,
tenggorok dirasakan kering dan napas

TONSILITIS KRONIS
Proses radang berulang
Epitel dan jaringan limfoid
terkikis
Pada proses penyembuhan
jaringan limfoid diganti jaringan
parut
Kripti melebar dan menembus
kapsul tonsil
Perlekatan dengan jaringan
disekitar fosa tonsilaris.

TONSILITIS KRONIS

Fraktur maksilofasialis
Definisi Fraktur
Maksilofasial
hilang
atau
putusnya
kontinuitas
jaringan
keras
tubuh.
Fraktur
maksilofasial
adalah fraktur yang terjadi pada
tulang-tulang wajah yaitu tulang
frontal,
temporal,
orbitozigomatikus,
nasal,
maksila dan mandibula.

Jenis-jenis:
Fraktur Maksila
Klasifikasi fraktur maksilofasial yang keempat
adalah fraktur maksila, yang mana fraktur ini
terbagi atas tiga jenis fraktur, yakni ;
fraktur Le Fort I,Pada Fraktur Le Fort I, garis
frakturnya dalam jenis fraktur transverses rahang
atas melalui lubang piriform di atas alveolar ridge,
di atas lantai sinus maksilaris, dan meluas ke
posterior yang melibatkan pterygoid plate. Fraktur
ini memungkinkan maksila dan palatum durum
bergerak secara terpisah dari bagian atas wajah
sebagai sebuah blok yang terpisah tunggal.
Fraktur Le Fort I ini sering disebut sebagai fraktur
transmaksilari
Le Fort II, Fraktur Le Fort II lebih jarang terjadi,
dan mungkin secara klinis mirip dengan fraktur

Fraktur Le Fort III


Fraktur craniofacial disjunction, merupakan cedera yang parah.
Bagian tengah wajah benar-benar terpisah dari tempat
perlekatannya yakni basis kranii.
Fraktur ini biasanya disertai dengan cedera kranioserebral,
yang mana bagian yang terkena trauma dan besarnya tekanan
dari trauma yang bisa mengakibatkan pemisahan tersebut,
cukup kuat untuk mengakibatkan trauma intrakranial.

Gambar 6. Fraktur Le Fort I , Le Fort II, Le Fort III


( www.emedicine.com ) ( 20 September 2010 ).

Penatalaksanaan
Fraktur Maksila

Pada fraktur Le Fort I dirawat dengan menggunakan arch


bar, fiksasi maksilomandibular, dan suspensi
kraniomandibular yang didapatkan dari pengawatan
sirkumzigomatik.
Sedangkan perawatan pada fraktur Le Fort II serupa
dengan fraktur Le Fort I. Hanya perbedaannya adalah
perlu dilakukan perawatan fraktur nasal dan dasar orbita
juga. Fraktur nasal biasanya direduksi dengan
menggunakan molding digital dan splinting.
Selanjutnya, pada fraktur Le Fort III dirawat dengan
menggunakan arch bar, fiksasi maksilomandibular,

Karsinoma laring

Definisi:

Karsinoma laring adalah tumor ganas


(kanker) yang terdapat pada laring
(batang tenggorokan) dan paling sering
mengenai pita suara.

Klasifikasi dan stadium tumor berdasarkan UICC :

1. Tumor primer (T)


Supra glottis :
T is: tumor insitu
T 0 : tidak jelas adanya tumor primer l
T 1 : tumor terbatas di supra glotis dengan pergerakan normal
T 1a : tumor terbatas pada permukaan laring epiglotis, plika
ariepiglotika, ventrikel atau pita suara palsu satu sisi.
T 1b : tumor telah mengenai epiglotis dan meluas ke rongga ventrikel
atau pita suara palsu
T 2 : tumor telah meluas ke glotis tanpa fiksasi
T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dan / atau adanya
infiltrasi ke dalam.
T 4 : tumor dengan penyebaran langsung sampai ke luar laring.
Glotis :
T is : tumor insitu
T 0 : tak jelas adanya tumor primer
T 1 : tumor terbatas pada pita suara (termasuk komisura anterior dan
posterior) dengan pergerakan normal
T 1a : tumor terbatas pada satu pita suara asli
T 1b : tumor mengenai kedua pita suara
T 2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan daerah supra glotis

Sub glotis :
T is : tumor insitu
T 0 : tak jelas adanya tumor primer
T 1 : tumor terbatas pada subglotis
T 1a : tumor terbatas pada satu sisi
T 1b : tumor telah mengenai kedua sisi
T 2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan pada
satu atau kedua pita suara asli dengan pergerakan
normal atau terganggu
T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi satu atau
kedua pita suara
T 4 : tumor dengan kerusakan tulang rawan dan/atau
meluas keluar laring.

2. Pembesaran kelenjar getah


bening leher (N)
N x : kelenjar tidak dapat dinilai
N 0 : secara klinis tidak ada kelenjar.
N 1 :klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter
3 cm
N 2 :klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter
>3 <6 cm atau klinis terdapat kelenjar homolateral
multipel dengan diameter 6 cm
N 2a :klinis terdapat satu kelenjar homolateral dengan
diameter > 3 cm - 6 cm.
N 2b :klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan
diameter 6 cm
N 3 :kelenjar homolateral yang masif, kelenjar bilateral
atau kontra lateral
N 3 a :klinis terdapat kelenjar homolateral dengan
diameter > 6 cm
N 3 b :klinis terdapat kelenjar bilateral
N 3 c : klinis hanya terdapat kelenjar kontra lateral

3 Metastase jauh (M)


- M 0 : tidak ada metastase jauh
- M 1 : terdapat metastase jauh
4. Stadium :
Stadium I : T1 N0 M0
Stadium II : T2 N0 M0
Stadium III : T3 N0 M0
T1, T2, T3, N1, M0
Stadium IV : T4, N0, M0
Setiap T, N2, M0, setiap T, setiap N , M1

GEJALA DAN TANDA

Suara serak
Sesak nafas dan stridor
Rasa nyeri di tenggorok
Disfagia
Batuk dan haemoptisis
Pembengkakan pada leher

Penatalaksanaan
Secara umum ada
3 jenis
penanggulangan
karsinoma laring
yaitu
Pembedahan,
radiasi dan
sitostatika, ataupun
kombinasi dari
keduanya.

Pembedahan
Laringektomi total ataupun parsial
tergantunglokasi dan penjalara tumor
Diseksi Leher radikal
Kemoterapi
Pemakaian sitokin belum memuaskan dan
harganya juga mahal
Rehabilitasi
Rehabilitasi suara
Agar pasien dapat bersuara sehingga
berkomunikasi verbal

Laringektomi

Sumbatan jalan napas atas


Kriteria Jackson
Jackson 1 di tandai dengan sesak, stidor,
inspirasi ringan, retraksi suprasternal, tanpa
sianosis. (sumbatan sebagian)
Jackson II adalah gejala sesuai dengan Jackson I
tetapi lebih berat yaitu retraksi supra dan
infraklavikula, sianosis ringan dan pasien tampak
mulai gelisah. (sumbatan seperti pentil)
Jackson III adalah Jackson II I tetapi lebih berat
yaitu retraksi intercostal, Epigastrium, dan
sianosis yang lebih jelas.
Jackson IV ditandai dngan gejala Jackson III
disertai wajah yang tampak tegang dan
terkadang gagal napas. (sumbatan total).

Gambaran Klinis
Suara Serak

Sesak Napas

Stridor
Cekungan yang terdaat pada waktuInspirasi
suprasternal, epigastrium, supraclavikula dan
intercostal
Gelisah karena pasien haus udara
Warna muka pucat dan akan menjadi sianosis
karen hipoksia.

Penanggulangan
1. Tindakan konservatif:

Pemberian anti inflamasi


Anti alergi
Antibiotik
Pemberian oksigen intermitten sumbatan laring 1.

2. Tindakan operatif atau resusitasi


Memasukkan pipa endotrakea melalui mulut (intubasi
orotrakea)stadium 2 dan 3
Melalui hidung (instubasi nasotrakea)
Melakukan trakeostomi stadium 2 dan stadium 3
Krikotirotomi stadium 4

Penatalaksanaan
Dilakukan Trakeostomi
Mengatasi obstruksi saluran napas
atas
Mengurangi tahanan aliran udara
pernapasan
Untuk proteksi terhadap aspirasi
Jenis Tindakan Trakeostomi
Surgical trakeostomi (sementara dan
permanen)
Percutaneus trakeostomi
(sementara)

KRIKOTIROTOMI

Trakeostomi

Percutaneus trakeostomi