Anda di halaman 1dari 7

KOLIK RENAL DAN URETER

1. Kolik Renal
PENDAHULUAN
Kolik

renal

adalah

nyeri

yang

disebabkan

oleh

obstruksi

akut

di

ginjal, pelvis renal atau ureter oleh batu. Nyeri ini timbul akibat peregangan, hiper
peritalsis,

dan spasme

otot

polos pada

sistem

pelviokalises ginjal dan

ureter sebagai usaha untuk mengatasi obstruksi. Istilah kolik sebetulnya mengacu
kepadasifat nyeri yang hilang timbul (intermittent ) dan bergelombang seperti
padaolik bilier dan kolik intestinal namun pada kolik renal nyeri biasanya konstan
. Nyeri dirasakan di flank area yaitu daerah sudut kostovertebra kemudian dapat
menjalar ke dinding depan abdomen, ke regio inguinal, hingga ke daerah
kemaluan. Nyer imuncul tiba-tiba dan bisa sangat berat. Kolik renal sering disertai
mualdan muntah, hematuria, dan demam, bila disertai infeksi.
ETIOLOGI
Faktor yang menyebabkan terjadinya kolik renal adalah batu ginjalnephrolitiasis).
Batu

ginjal

umumnya

tanpa

gejala

kecuali

batu

tersebut

sudah berada di kaliks, pelvis renal, atau ureter. Pembentukan batu ginjal diduga
berhubungan dengan gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran
kemih, dan keadaan lain yang idiopatik. Secara epidemiologis terdapat beberapa
faktor yang mempermudah terjadinya batu ginjal pada seseorang yaitu faktor
intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik, yaitu faktor yang berasal dari
tubuh manusia itu sendiri, terdiri dari faktor genetik, keturunan, usia, ras dan jenis
kelamin. Faktor ekstrinsik, yaitu faktor yang berasal dari lingkungan sekitar,
antara lain adalah faktor geografi, iklim, asupan air, diet dan pekerjaan. Ditinjau
dari teori Blum, faktor risiko yang mempengaruhi terbentuknya batu ginjal
dibedakan menjadi empat faktor yaitu faktor biologi, faktor lingkungan, faktor
perilaku, dan faktor pelayanan kesehatan.

MANIFESTASI KLINIS
Pasien dengan kolik renal akut menunjukkan serangan nyeri hebat yang tiba-tiba
bermula dari panggul kemudian menyebar sampai ke bagian atas dan bawah
tubuh; paling tidak 50% pasien juga mengalami nausea dan vomiting.
PENGOBATAN
Kolik renalis bisa dikurangi dengan obat pereda nyeri golongan narkotik. Batu di
dalam pelvis renalis atau bagian ureter paling atas yang berukuran 1 sentimeter
atau kurang seringkali bisa dipecahkan oleh gelombang ultrasonik (extracorporeal
shock wave lithotripsy, ESWL). Pecahan batu selanjutnya akan dibuang dalam air
kemih. Kadang sebuah batu diangkat melalui suatu sayatan kecil di kulit
(percutaneous nephrolithotomy, nefrolitotomi perkutaneus), yang diikuti dengan
terapi ultrasonik. Batu kecil di dalam ureter bagian bawah bisa diangkat dengan
endoskopi yang dimasukkan melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih
A. Medikamentosa
Ditujukan untuk batu yang ukurannya < 5 mm, karena batu diharapkan dapat
keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan mengurangi nyeri, memperlancar
aliran urine dengan pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat
mendorong batu keluar.
1. untuk batu kalsium :
a. diuretikatiazid
b. diet rendah kalsium
c. diet rendah purin
d. diet rendah oksalat
e. diet rendah lemak dan kolestiramin
2. untuk batu infeksi : antibiotika
3. untuk batu urat :
a. urin alkali (Na bikarbonat,
b. alopurinol, diamok

c. diet rendah purin.


B. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsi)
Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy
pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau
batu buli-buli tanpa melalui tindakan invasif atau pembiusan. Batu dipecah
menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran
kemih.
Indikasi ESWL :
1. Batu saluran kemih dengan diameter 5-30 mm
2. Fungsi ginjal masih baik
3. Batu terletak di ginjal dan ureter
Kontraindikasi :
1. Pasien dengan hipertensi yang tidak dikontrol
2. Pasien dengan gangguan pembekuan darah
3. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal berat
4. Wanita hamil dan anak-anak.
Keuntungan ESWL :
1. Dapat menghindari operasi terbuka,
2. Lebih aman,
3. Lebih akurat dan efektif, dan
4. Biaya lebih murah, terutama untuk prosedur ESWL yang sederhana sehingga
tidak memerlukan perlakuan berkali-kali.
Treatment ESWL, pasien dibaringkan di atas tempat tidur khusus dimana
generator shock wave telah terpasang di bagian bawahnya. Sebelum proses
penembakan dimulai, dilakukan pendeteksian lokasi batu ginjal menggunakan
imaging probe (dengan ultrasound atau fluoroscopy), agar shock wave yang
ditembakan tepat mengenai sasaran.

Pada lithotripter keluaran terbaru, umumnya telah dipasang anti-miss-shot device


yang memonitor lokasi batu ginjal secara kontinyu dan tepat waktu, sehingga alat
ini memiliki tingkat keakurasian tembakan sangat tinggi dan pada saat bersamaan
dapat meminimalkan terjadinya luka pada ginjal akibat salah tembak. Dalam
terapi ini, ribuan gelombang kejut ditembakkan ke arah batu ginjal sampai hancur
dengan ukuran serpihannya cukup kecil sehingga dapat dikeluarkan secara
alamiah dengan urinasi.

C. Endourologi
1. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) : mengeluarkan batu yang berada di
saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kaliks melalui
insisi kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu.
2. Litotripsi : memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat
pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli. Pecahan batu dikeluarkan dengan
evakuator Ellik.
3. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi : memasukkan alat ureteroskopi per
uretram guna melihat keadaan ureter atau sistem pielokaliks ginjal. Dengan
memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter maupun sistem

pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan ureteroskopi atau uretero-renoskopi


ini.
4. Ekstraksi Dormia : mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya dengan
keranjang Dormia.
D.

Bedah Laparoskopi

Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini sedang
berkembang. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.
E. Bedah terbuka
1. Pielolitotomi atau nefrolitotomi : mengambil batu di saluran ginjal
2. Ureterolitotomi : mengambil batu di ureter.
3. Vesikolitotomi : mengambil batu di vesica urinaria
4. Uretrolitotomi : mengambil batu di uretra.

3. BATU URETER (URETEROLITHIASIS)


Batu ureter pada umumnya adalah batu yang terbentuk di dalam sistim kalik
ginjal, yang turun ke ureter. Terdapat tiga penyempitan sepanjang ureter yang
biasanya menjadi tempat berhentinya batu yang turun dari kalik yaitu
ureteropelvic junction (UPJ), persilangan ureter dengan vasa iliaka, dan muara
ureter di dinding buli.
Komposisi batu ureter sama dengan komposisi batu saluran kencing pada
umumnya yaitu sebagian besar terdiri dari garam kalsium, seperti kalsium oksalat
monohidrat dan kalsium oksalat dihidrat. Sedang sebagian kecil terdiri dari batu
asam urat, batu struvit dan batu sistin.
Beberapa faktor yang mempengaruhi penanganan batu ureter antara lain letak
batu, ukuran batu, adanya komplikasi (obstruksi, infeksi, gangguan fungsi ginjal)
dan komposisi batu. Hal ini yang akan menentukan macam penanganan yang kita

putuskan. Misalnya cukup di lakukan observasi, menunggu batu keluar spontan,


atau melakukan intervensi aktif.
Batu ureter dengan ukuran < 4 mm, biasanya cukup kecil untuk bisa keluar
spontan. Karena itu ukuran batu juga menentukan alternatif terapi yang akan kita
pilih. Komposisi batu menentukan pilihan terapi karena batu dengan komposisi
tertentu mempunyai derajat kekerasaan tertentu pula, misalnya batu kalsium
oksolat monohidrat dan sistin adalah batu yang keras, sedang batu kalsium
oksolat dihidrat biasanya kurang keras dan mudah pecah.
Adanya komplikasi obstruksi dan atau infeksi juga menjadi pertimbangan dalam
penentuan alternatif terapi batu ureter. Tidak saja mengenai waktu kapan kita
melakukan tindakan aktif, tapi juga menjadi pertimbangan dalam memilih jenis
tindakan yang akan kita lakukan.
3.1. Gejala
1. Nyeri mendadak di perut kanan dan kiri tergantung letak batu. Nyeri dapat
bersifat kolik hebat sehingga penderita berteriak atau berguling. Kadang-kadang
nyeri perut terus-menerus karena peregangan kapsul ginjal. Biasanya nyeri
dimulai di daerah pinggang kemudian menjalar ke arah testis, disertai mual dan
muntah, berkeringat dingin, pucat dan dapat terjdai renjatan.
2. Hematuria
3. Nyeri ketok costovertebral.2
3.2. Pedoman Pilihan Terapi
Pedoman pilihan terapi ini dibagi dalam beberapa kategori. Pencantuman angka
berdasarkan konsensus yang dicapau oleh tim penyusun guidelines ini dan
diformulasikan dalam berbagai tingkatan sesuai urutan rekomendasi. Berikut ini
untuk tiga pedoman pertama digunakan pada batu ureter proksimal dan distal,
sedang pedoman selanjutnya dibedakan antara batu ureter proksimal dan distal :
1. Pedoman untuk batu ureter dengan kemungkinan kecil keluar spontan :
Batu ureter yang kemungkinan kecil bisa keluar spontan harus diberitahu kepada

pasiennya tentang perlunya tindakan aktif dengan berbagai modalitas terapi yang
sesuai, termasuk juga keuntungan dan risiko dari masing-masing modalitas terapi.
2. Pedoman untuk batu ureter dengan kemungkinan besar keluar spontan :
Batu ureter yang baru terdiagnosis dan kemungkinan besar keluar spontan, yang
keluhan/gejalanya dapat diatasi, direkomendasikan untuk dilakukan terapi
konservatif dengan observasi secara periodik sebagai penanganan awal.
3. Penanganan batu ureter dengan SWL.
Stenting rutin untuk meningkatkan efisiensi pemecahan tidak direkomendasi
sebagai bagian dari SWL.
4. Untuk batu 1 cm di ureter proksimal
Pilihan terapi :
1. SWL
2. URS + litotripsi
3. Ureterolitotomi
5. Untuk batu 1 cm di ureter proksimal
Pilihan terapi :
1. Ureterolitotomi
2. SWL, PNL dan URS + litotripsi
6. Untuk batu 1 cm di ureter distal
Pilihan terapi :
1. SWL atau URS + litotripsi
2. Ureterolitotomi
7. Untuk batu 1 cm di ureter distal
Pilihan terapi :
1. URS + litotripsi
2. Ureterolitotomi
3. SWL