Anda di halaman 1dari 25

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pesatnya
peningkatan

menyebabkan

kebutuhan

jumlah

terhadap

penduduk

energi

juga

indonesia
meningkat,

sedangkan jumlah ketersediaan energi fosil semakin menipis.


Sehingga

dibutuhkan

diperbaharui

untuk

suatu
dapat

sumber

energi

menatangani

yang

dan

dapat

mengurangi

besarnya kebutuhan terhadap energi fosil.


Disisi lain, selain peningkatan penduduk berimbas pada
peningkatan terhadap kebutuhan energi, peningkatan penduduk
juga berimbas pada peningkatan jumlah sampah biomassa. Pada
sat

ini

industri

agriculture

indonesia

tumbuh

dan

terus

berkembang pesat untuk menjadi salah satu industri agricultural


terkuat di dunia. Namun sayangnya limbah cair sisa industri ini
masih kurang dimanfaatkan (Ichsan dkk, 2013). Limbah-limbah
cair industri yang dibuang secara langsung kelingkungan tanpa
melalui

proses

pengolahan

limbah

terlebih

dahulu

dapat

menyebabkan pencemaran pada lingkungan.


Pada dasarnya limbah-limbah industri agriculture tersebut
sesungguhnya masih dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi
sesuatu yang bermanfaat, salah satunya dengan mengolahnya
menjadi

biogas.

Limbah

industri

agriculture

yang

banyak

dijumpai salah satunya adalah limbah udang. Limbah udang


adalah limbah yang kaya akan protein yang sangat penting
dalam proses pembusukan (Vasilaki dan Garcia, 2013) yang
selanjutnya gas hasil pembusukan ini dimanfaatkan sebagai
biogas. Bajgain dalam Oparaku (2013) menyatakan penggunaan
biogas sebagai suatu sumber energi telah terbukti bisa menjadi
strategi penting dalam menangani masalah kebutuhan energi di
area pedesaan di negara berkembang.

Biogas adalah suatu campuran beberapa gas (terutama


metan dan karbon dioksida) diperoleh dari proses pembusukan
(fermentasi) metan (Oleszek dkk, 2013 dalam Oleszek, 2014).
Penggunaan biogas akan membantu mengurangi efek gas rumah
kaca dan dan mengurangi pemanasan global, mengurangi
ketergantungan terhadap bahan bakar fosil; penurunan jumlah
sampah menjadi salah satu keuntungan utama dari produksi
biogas yang mampu mengubah material limbah menjadi sumber
yang memiliki nilai dengan menggunakan pembusukan bahan
baku

secara

anaerobik

(Peter,2009;Smith

dkk,2000

dalam

Oparaku,2013).
Pada penelitian terdahulu yang berjudul Biogas Production
from Organic waste in Sisimiut: Methane Potential and Codigastion of Shrimp Waste, Brown Algae and Sludge oleh Vasilaki
dan Gracia (2013) menyatakan bahwa rata-rata gas metan
potensial dengan bahan baku campuran limbah udang dan alga
coklat adalah sebesar 320,4 ml CH4/g VS sebagaimana tampak
pada grafik berikut

dengan potensi yang cukup besar maka biogas hasil campuran


limbah udang dan alga coklat layak untuk digunakan. Namun
belum dilakukan pengujian terhadap biogas tersebut. Sehingga
perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui karakteristik dari
biogas tersebut.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran


mengenai karakteristik dari biogas tersebut, yaitu mengenai
komposisi biogas, nilai kalor dan kalor pembakaran biogas.
Sehingga dapat diperoleh suatu komposisi gas yang baik dan
layak guna.
1.2
Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini akan dilakukan analisa karakteristik
thermal biogas limbah udang dan alga coklat. Adapun rumusan
masalah yang diangkat adalah:
1. Bagaimana komposisi biogas limbah udang dan molase?
2. Bagaimana nilai kalor biogas limbah udang dan molase?
3. Bagaimana kondisi kalor pembakaran biogas limbah udang
dan molase?
1.3
Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah:
1. Mengetahui komposisi biogas limbah udang
dan molase.
2. Mengetahui nilai kalor biogas limbah udang
dan molase.
3. Mengetahui kondisi kalor pembakaran biogas
limbah udang dan molase.
1.3.2 Manfaat
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Mendapatkan sumber energi alternatif yang
murah dan tepat guna.
2. Mengurangi kebutuhan masyarakat terhadap
energi.
3. Mengurangi
1.4

pencemaran

sampah

pada

lingkungan.
Batasan Masalah

Beberapa batasan yang diterapkan untuk memudahkan analisa penelitian


ini antara lain:
1.
2.
3.
4.

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

membahas
membahas
membahas
membahas

emisi gas sisa pembakaran.


distribusi temperatur api.
cepat rambat api.
stabilitas api.

5. Tidak membahas karakteristik warna api.


6. Tidak membahas sistim kerja alat uji.
7. Tidak membahas reaksi kimia pada biodigester.

BAB 2.TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Biogas
Biogas adalah campuran beberapa gas yang tergolong gas

bahan bakar yang merupakan hasil fermentasi dari bahan-bahan


organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang mendominasi
adalah gas metan (CH4 50% - 70%), karbon dioksida (CO 2 30% 40%), Hidrogen sulfida (H2S 0% - 3%), Air (H2O 0,3%), Oksigen
(O2 0,1% - 0,5%), Hidrogen (H 1% - 5%) dan gas-gas lain dalam
jumlah yang kecil. Biogas memiliki nilai kalor yang cukup tinggi,
yaitu kisaran 4800-6700 Kkal/m3, untuk gas metan murni (100%)
mempunyai nilai kalor 8900 Kkal/m 3 (Efriza, 2009 dalam Padang,
2011).
Biogas dapat dihasilkan dari bebagai macam bahan-bahan
biomassa yang terdapat dilingkungan sekitar mulai dari berbagai
limbah

pertanian

maupun

peternakan dan agrikultur.

berbagai

limbah

peternakan

Adapu kualitas dan kuatitas dari

biogas sendiri tergantung pada bahan baku yang digunakan pada


saat proses. Bahan baku yang paling umum digunakan adalah
pupuk, limbah organik, dan tanaman dan biji-bijian seperti

jagung, gandum dan rerumputan (Budzianowski, 2012 dalam


Oleszek, 2014).
2.1.1 Tahapan Pembuatan Biogas
Tahapan proses pembusukan biogas dibagi menjadi
empat langkah (seperti tampak pada tabel). Setiap proses
tersebut diikuti oleh sekelompok bakteri yang berbeda-beda.
Bakteri metagonik adalah bakteri penggerak utama dalam
proses produksi metan. Ada beberapa jenis dari bakteri
methagonic dan setiap bakteri bisa tumbuh pada kondisi
lingkungan yang tertentu. Sehingga jika bakteri-bakteri
tersebut tidak mendapatkan kondisi yang optimal, maka
pertumbuhannya mungkin saja berada dibawah rata-rata
atau bahkan kemungkinan mati, tergantung pada spesies
dan kondisi (Abdullah,2011 dalam Ichsan,2014).

Tabel

2.1.

Langkah

proses

pembusukan

produksi

biogas

Output
Monosakarida,

asam

(Abdullah,2011 dalam Ichsan,2014)


Proses
Hydrolisis

Bakteri
Anaerob

Peningkatan

hydrolysis
kadar Pembentuk

amino, asam lemak


Asam organik, CO2

asam
Pembentukan

asam
asam Asam asetat

Asam asetat, CO2, H2O

asetat
Pembentukan

Methanogenic

Methan

methan
Kemudian menurut Amaru (2004) dalam Padang (2011)
bahwa Laju proses fermentasi anaerob sangat ditentukan

oleh faktor-faktor yang mempengaruhi mikro organisme.


Menurut beliau faktor-faktor tersebut diantaranya adalah:
1. Temperatur
Bakteri metana pada umumnya adalah bakteri
mesofil, yaitu bakteri yang hidupnya dapat subur hanya
pada temperatur disekitar suhu kamar. Oleh karena itu
pembentukan
temperatur

biogas

harus

kehidupan

bakteri

disesuaikan
methana.

dengan

Temperatur

pembentukan dari 20oC-40oC dengan temperatu optimum


27oC-30oC. Namun penelitian lain mnyatakan bahwa
Temperatur optimum untuk pertumbuhan bakteri dan
produksi biogas yang maksimum adalah antara 37oC dan
40oC, suatu rentangan yang menyertakan sebagian besar
spesies bakteri methanobacteria (gambar 2.1)

Gambar 2.1 Rentangan temperatur optimal untuk


pertumbuhan methanobacteria (Gerardi,2003 dalam
Bavutti,2014)
2. Derajat keasaman (pH)

Pada

dekomposisi

anaerob

faktor

pH

sangat

berperan karena pada pH yang tidak sesuai, mikroba tidak


dapat tumbuh dengan maksimal atau bahkan dapat
menyebabkan kematian yang dapat menghambat proses
produksi gas metan. Nilai pH yang dibutuhkan dalam
biodigester adalah antara 6,2-8.
3. Kandungan air
Bentuk bubur hanya dapat diperoleh apabila bahan
yang dihancurkan mempunyai kandungan air yang tinggi.
Apabila

bahan

baku

yang

digunakan

mempunyai

kandungan air yang sedikit, maka bisa ditambahkan air.


4. Bahan baku isian
Bakteri anaerob membutuhkan nutrisi sebagai
sumber energi. Level nutrisi harus lebih dari konsentrasi
optimal yang dibutuhkan oleh bakteri methanogenic.
Karena

jikan

terjadi

kekurangan

nutrisi

akan

bisa

menghambat pertumbuhan bakteri. Penambahan nutrisi


dengan bahan yang sederhana seperti glukosa, buangan
industri, dan sisa tanaman diberikan dengan tujuan untuk
menambah

pertumbuhan

didalam

digester.

Unsur

nitrogen adalah unsur yang paling penting disamping


adanya

selulosa

sebagai

sumber

karbon.

Bakteri

penghasil metana menggunakan karbon 30 kali lebih


cepat daripada nitrogen. Pada bahan yang memiliki
jumlah karbon 15 kali dari jumlah nitrogen akan memiliki
C/N

ratio

15:1,

C/N

ratio

dengan

nilai

30

akan

menghasilkan pencernaan pada tingkata yang optimal,


bila kodisi lain juga mendukung. Berikut ini adalah tabel
yang menunjukkan C/N ratio dari beberapa jenis bahan
organik (Haryati,2006 dalam Padang,2011)
5. Waktu penyimpanan

Waktu penyimpanan adalah waktu yang diperlukan


untuk menghasilkan penguraian yang sempurna dari
material

organik.

berdasarkan

Waktu

variasi

penyimpanan

parameter

proses.

ini

bevariasi

lama

waktu

penyimpanan untuk limbah pada mesophilic digester 3042 oC berkisar antara 15-30 hari dan 12-14 hari untuk
thermophilic digester 43-55 oC (Monnet, 2003).
Tabel 2.2 Rasio Karbon dan Nitrogen dari beberapa bahan
(Haryati,2006 dalam Padang,2011)
Bahan

Kandungan

Kotoran bebek
Kotoran manusia
Kotoran ayam
Kotoran kambing
Kotoran babi
Kotoran domba
Kotoran sapi/kebau
Enceng gondok
Kotoran gajah
Batang jagung
Jerami padi
Bahan

C/N
8
8
10
12
18
19
24
25
43
60
70
Kandungan

Jerami gandum
Serbuk gergaji
Ampas tebu

C/N
90
Diatas 200
220

2.1.2 Keuntungan Biogas


Menurut Lukehurst dkk (2010) dalam Alberola (2014)
menyatakan bahwa Biogas adalah sumber energi yang
dapat

di

perbaharui,

yang

menawarkan

beberapa

keuntungan:

Sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui


Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil

2.2

Mengurangi penggunaan pupuk minirel


Mengurangi emisi gas rumah kaca dari pembusukan

material secara terbuka


Meningkatkan efisiensi pengolahan sampah dengan

mengolah sampah menjadi energi dan pupuk kompos


Mengurangi volume sampah.

Limbah Udang
Udang adalah binatang yang

hidup

di

perairan,

khususnya sungai, laut, atau danau. Udang dapat ditemukan di


hampir semua "genangan" air yang berukuran besar baik air
tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi,
dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah
permukaan (Anonima, 2015)
Pada saat ini ekspolasi komoditi hasil perikanan dari
indonesia yang terbesar sampai saat ini adalah udang. Realisasi
ekspor udang pada tahun 2007 mencapai 160.797 ton dengan
nilai 11,5 trilyun. Nilai ekspor udang adalah 50% dari nilai ekspor
komoditi perikanan indonesia pada tahun 2007 yaitu sebesar 23
trilyun. Ekspor udang tahun 2003 sampai 2009 terus meningkat
sebagaiman ditunjukkan pada tabel 2.3. Udang yang diekspor
adalah udang dalam bentuk beku tanpa kulit dan kepala. Jenis
udang yang diekspor adalah udang vannanei dan windu, untuk
tiga tahun terakhir hampir 75% adalah udang vannamei (Pusat
Data

Statistik

dan

Informasi,

Departemen

Kelautan

Perikanan, 2008 dalam Anonimb, 2015)


Tabel 2.2 Produksi dan ekspor udang Indonesia 2003-2009*
Tahun
2003
2004
2005
2006

Produkksi (ton)
191.723
226.553
295.000
281.901

Ekspor (ton)
92.027
124.604
153.906
159.329

dan

2007
2008
2009*

318.565
480.000
540.000

160.797
285.000
320.000

Sumbe: Pusat Data Statistik dan Informasi, Departemen Kelautan dan


Perikanan; *) Prakiraan.

Dari besar jumlah udang yang diproduksi, maka akan


menghasilkan limbah yang sangat besar apalagi udang diekspor
dalam keadaan tanpa kulit dan kepala. Sedangkan sebagian
besar dari berat udang adalah pada udang dan kepalanya.
Jumlah limbah udang yang begitu besar akan menimbulkan
masalah

pencemaran

lingkungan

jika

tidak

dimanfaatkan.

Pemanfaatan limbah udang yang telah dilakukan selama ini


hanya dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai pakan atau pupuk
dengan

nilai

rendah.

Mengolanya

menjadi

biogas

akan

meningkatkan nilai guna yang cukup tinggi.


Secara umum, cangkang kulit udang mengandung protein
34,9 %, mineral CaCO3 27,6 %, chitin 18,1 %, dan komponen lain
seperti zat terlarut, lemak dan protein tercerna sebesar 19,4 %
(Suhardi, 1992 dalam Anonimc, 2015). Dengan jumlah protein
dan mineral yang cukup tinggi pada limbah udang, maka limbah
udang sangat potternsial untuk dijadikan biogas.

2.3

Tetes Tebu (Molase)


Molase

adalah

hasil

sampingan

yang

berasal

dari

pembuatan gula tebu (Saccarum officinarum L). Tetes tebu


berupa cairan kental dan diperoleh dari tahap pemisahan kristal
gula. Molase (tetes) tidak dapat dibentuk menjadi sukrosa namun
masih mengandung gula dengan kadar yang tinggi yaitu antara

50% - 60%, asam amino dan mineral (Anonim, 2011 dalam


Juwita, 2012).

Gambar 2.2 Tetes tebu (Molase)


Pada proses fermentasi biogas dengan anaerob digester,
nutrisi dalam bentuk gula yang terkandung dalam molase yang
konsentrasinya masih tinggi, sangat dibutuhkan untuk menjaga
kondisi ketersediaan nutrisi dalam biodigester. Konsentrasi nutrisi
dalam biodigester sangat menentukan kualitas dan kuantitas dari
biogas yang akan dihasilkan.
Penggunaan gula oleh bakteri dalam proses anaerob
disebut fermentasi. Prinsip fermentasi adalah proses pemecahan
senyawa organik menjadi senyawa sederhana yang melibatkan
mikroorganisme. Nitrogen (N2) akan menyatu dengan mikroba
selama

proses

fermentasi,

untuk

hidup

semua

organisme

membutuhkan sumber energi yang diperoleh dari metabolisme


bahan pangan, diantara bahan baku energi yang paling banyak
digunakan oleh mikroorganisme adalah glukosa. Berdasarkan
kenyataan bahan yang mengandung gula adalah unsurhara yang
sangat diperlukan untuk meningkatkan proses fermentasi selain
itu gula juga banyak mengandung karbon dan nitrogen (padang,
2011).

2.4

Anaerob Biodigester
Digester (anaerob digester) merupakan komponen utama

dalam produksi biogas. Digester merupakan tempat dimana


bahan organik diuraikan oleh bakteri secara anaerob (tanpa
udara) menjadi gas CH4 dan CO2. Digester harus dirancang
sedemikian rupa sehingga proses fermentasi anaerob dapat
berjalan dengan baik. Pada umumnya produksi biogas terbentul
pada 4-5 hari setelah digester diisi. Produksi biogas menjadi
banyak pada 20-35 hari (Sulistyo, 2010 dalam Waskito, 2011).
Proses fermentasi ini disebut pembusukan secara anaerob atau
anaerob digestion.

Gambar 2.3 Anaerob digerter


Anaerob

digestion

adalah

proses

pembusukan

dan

penguraiaan secara alami, yakni material organik diuraikan


menjadi komponen kimia yang lebih sederhana pada kondisi
anaerob.

Microorganisme

anaerob

mencerna

bahan-bahan

organik tanpa adanya oksigen untuk memproduksi methan dan

carbon dioksida sebagai produk akhir pada kondisi ideal. Namun


umumnya biogas yang dihasilkan pada anaerob digestion selalu
mengandung sejumlah kecil hydrogen sufida (H2S) dan amoniak
(NH3).

(Monnet,

2003).

Bakteri

anaerob

bertugas

untuk

menguraikan bahan-bahan organik dan memproduksi gas yang


tersusun oleh CH4 (55% - 70%), CO2 (27% - 44%), dan gas-gas
lain dalam jumlah kecil seperti H 2, N2, H2S, atau NH4+ (Kroff, 2013
dalam Alberola, 2014).
2.4.1 Tipe Anaerob Digester
Pada

saat

ini

telah

ditemukan

beberapa

jenis

biodigester yang dapat digunakan dalam produksi diogas.


Sedangkan untuk pemilihannya tergantung pada temperatur
pembusukannya dan material yang digunakan (Monnet,
2003). Sedangkan menurut Amaru (2004) dalam Padang
(2011) Terdapat dua tipe digester yang telah dikembangkan
yaitu tipe bacth dan tipe kontinyu. Masing-masing tipe
dgester tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan.
1. Digester biogas tipe batch
Prinsip kerja digester biogas tipe bacth adalah
dengan menempatkan material organik dalam tangki
tertutup dan diproses secara anaerob selama 1-2
bulan

tergantung

dari

jumlah

material

yang

dimasukkan. Isi dari digester biasanya dihangatkan


dan dipertahankan suhunya. Selain itu kadangkala di
aduk untu melepaskan gelembung-gelembung gas
dari slugde.

Gambar 2.4 Digester tipe batch


Tipe digester ini tidak membutuhkan banyak
perhatian selama proses. Efisiensi maksimal dari
proses hanya dapat diharapkan bila digester diisi
dengan hati-hati, ruang yang terbuang dan udara yang
terjebak dalam sludge harus dihindari karena dapat
menghambat pembentukan gas metan. Rasio C/N
harus dikontrol dengan baik pada awal proses, karena
sulit diperbaiki bila digester telah mulai berproses.
Digester
mengetahui

tipe

batch

kemampuan

digunakan

material

yang

untuk

diperoses

sebelum unit yang lebih besar dibangun. Tipe batch


memiliki keuntungan lain yaitu dapat digunakan bila
material yang tersedia pada waktu-waktu tertentu
saja; bila proses terjadi kesalahan misalnya karena
material beracun, proses dapat dihentikan dan dimulai
dengan material yang baru (Padang, 2011).
2. Digester biogas tipe aliran kontinyu
Pada

tipe

aliran

kontinyu

bahan

isian

dimasukkan ke digester secara teratur pada satu


ujung dan setelah melalui jarak tertentu, keluar di
ujung yang lain. Tipe ini mengatasi masalah pada

proses pemasukan dan pengosongan pada tipe batch.


Terdapat dua jenis dari tipe aliran kontinyu:
1. Vertikal, dikembangkan oleh Gobar Gas Institute,
India
2. Horisontal, dikembangkan oleh Fry di Afrika Selatan
dan California, dan juga oleh Biogas Plant Ltd.

Gambar 2.5 Digester aliran kontinyu


Selain itu, terdapat juga beberapa jenis digester
biogas yang biasa digunakan. Digester ini dibuat dengan
bahan dasar batu bata dan semen, digester tersebut yaitu
digester jenis Fixed dome dan Floating Drum. Jenis Fixed
Dome terdiri dari bagian pencerna yang berbentuk kubah
tertutup yang tidak dapat dipindah-pindah, penahan gas
kaku, bagian silinder pencerna terbuat dari beton, walaupun
demikian efektifitas penggunaan gasnya rendah karena
fluktuasi tekanan yang tidak dapat konstan. Unit pencerna
jenis Fixed Dome dibenamkan di dalam tanah, hanya bagian
penahan gas yang menonjol di permukaan tanah. Hal ini
dimaksudkan untuk menjaga kestabilan temperatur.

Gambar 2.6 Digester tipe fix dom


Keuntungan unit pencerna ini adalah umur pakai
panjang (20 tahun), rancangan stabil, dapat menciptakan
lapangan kerja lokal. Sedangkan kesulitan yang dihadapi
adalah digester ini tidak kedap air karena terbuat dari beton,
tekanan gas tidak konstan, dan hanya dapat dibuat dengan
baik apabila dikerjakan oleh tenaga ahli. Untuk digester jenis
Floating Drum, terdiri dari ruang pencerna berbentuk silinder
atau

kubah

yang

dapat

bergerak

dan

penahan

gas

mengapung.

Gambar 2.7 Digester floating drum


Pergerakan penahan gas dipengaruhi oleh proses
fermentasi dan pembentukan gas. Bagian drum sebagai

tempat

tersimpannya

gas

yang

terbentuk

mempunyai

rangka pengarah agar pergerakan drum stabil. Keuntungan


digester floating drum adalah mudah dioperasikan, produksi
gasnya dapat dimonitor dan tekanan konstan. Kerugiannya
adalah umur pakai pendek (<5 tahun), karena drum terbuat
dari logam sehingga akan mudah berkarat (Padang, 2011).

BAB III METODELOGI PENELITIAN


3.1

Metodelogi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode eksperimental, yaitu suatu metode yang digunakan


untuk menganalisis karakteristik termal biogas limbah udang.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian

dilakukan

di

Laboratorium

Konversi

Energi

Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Jember yang


meliputi pre-treatmen material biogas, produksi biogas limbah
udang, dan kalor pembakaran. Dan di Laboratorium Motor Bakar
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
pengujiannya

meliputi

uji

nilai

kalor.

Waktu

penelitian

berlangsung selama 6 bulan yaitu dimulai dari bulan Februari


2016 sampai dengan bulan Agustus 2014
3.3 Alat dan Bahan Penelitian
Pada penelitian ini terdapat beberapa alat dan bahan meliputi:
3.3.1 Alat
Alat alat yang digunakan dalam pengujian ini adalah:
1.

Bom kalorimeter, dengan spesifikasi sebagai berikut:

Gambar 3.1 Bom Kalorimeter

Merk mesin
Model
Tegangan
Frekuensi
Negara Pembuat
Tahun Perakitan

: PAAR
: PAAR 1241 EF
: 220 V
: 50 Hertz
: USA
: 1987

2. Sistem Anaerob biodigester

Gambar 3.2 Anaerob Biodigester


3. Peralatan Bantu
a. Kompor biogas
b. Panci
c. Stop watch
d. Lem
3.3.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1. Limbah udang dari PT.
2. Limbah tetes tebu (molase) dari PG. Jatiroto
3. Air Tawar.
3.4 Variabel Penelitian
3.4.1 Variabel Bebas
Variabel bebas dari penelitian ini adalah perbandingan
konsentrasi limbah udang, Molase dan air yang digunakan
yaitu 1. Rendah (20:50:30), 2. Sedang (40:40:20), 3. Tinggi
(50:20:30).
3.4.2 Variabel Terikat
Variabel Terikat dari penelitian ini adalah:
HHV = Highest Heating Value (kal/g)
T0 = Suhu material biogas sebelum di proses (C)
T1 = Suhu Anaerob biodigester saat berproses (C)

Fulse = Panjang kawat yang terbakar =1cm= 1


(kal/ gram)
Tmax= Temperatur maksimum pembakaran (C)
M= laju pembakaran (g/s)
t= waktu uji laju pembakaran (s)
3.5 Prosedur Penelitian
Pengumpula
n Bahan
Treatment
Bahan
Proses Mixing
Limbah

Fermentasi
Biogas
Post Treatment
Biogas
Analisa Hasil

Pembuatan Laporan

Adapun prosedur penelitian Selesai


yang akan dilakukan adalah
sebaimana tampak pada gambar diatas:
1. Pengumpulan bahan
Bahan unuk produksi biogas berupa limbah udang di
peroleh dari PT. ICS Banyuwangi dan Molase di peroleh dari

PG. Jatiroto, sedangkangkan air bisa diperoleh disekitar


kampus.
2. Pretreatment Bahan
Pretreatment dilakukan untuk memperoleh bahan dasar
biogas yang baik. Pada tahapan ini dilakukan pembersihan
dan pengeringan bahan untuk mengurangi kandungan air
pada bahan.
3. Proses Mixing
Proses
mixing

atau

pencampuran

bahan

yaitu

pencampuran bahan berupa limbah udang, molase dan air


dengan perbandingan konsentrasi limbah udang, Molase
dan air secara berturut-turut yaitu 1. Rendah (20:50:30), 2.
Sedang (40:40:20), 3. Tinggi (50:20:30).
4. Fermentasi
Proses fermentasi adalah proses perunguraian bahan
organik yang terjadi didalam digester. Tahap ini akan
menghasilkan biogas dan produk sampingan berupa pupuk
cair dan lumpur
5. Post Teratment Biogas
Biogas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan
organik kemudian di beri perlakuan berupa pemurnian dari
material pengotor berupa CO, CO2, NH3, H2S atau gas
lainnya dengan menggunakan material pengikat kemudian
biogas yang sudah di treatment di tampung di suatu
penampungan biogas.
6. Analisa Hasil Biogas
Biogas yang dihasilkan dari suma proses diatas kemudian
di uji untuk mengetahui kuatias dan karakteristiknya.
Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian komposisi
biogas, nilai kalor dan kalor pembakaran biogas.
7. Pembuatan laporan
Pembuatan laporan dilakukan untuk merekam seluruh
proses dan hasil yang didapat dari pengujian yang
dilakukan.

BAB 4. JADWAL KEGIATAN


4.1 Jadwal kegiatan

Rangkaian kegiatan ini akan dilakukan selama enam bulan,


yaitu mulai bulan Februari 2016 sampai bulan Juli 2016. Adapun
rangkaian kegiatan penelitian ini seperti tampak pada tabel
berikut:
Tabel 4.1 Pemetaan Kegiatan Penelitian

Tahapan

Jenis
Kegiatan
Konsultasi

Persiapa
n

Pelaksa
naan
Laporan

Dosen
Persiapan
Alat dan
Bahan
Pembuatan
Biogas
Pengujian
Evaluasi
Laporan
akhir

Bulan 1
Minggu

Bulan 2
Minggu

Bulan 3
Minggu

Bulan 4
Minggu

Bulan 5
Minggu

Bulan 6
Minggu

kekekekekeke1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2015. Limbah Udang. http://id.wikipedia.org/wiki/Udang
diunduh pada 31 Mei 2015
Anonimb. 2015. Demineralisasi dan Deproteinasi Limbah Kulit
Udang.
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/128883-T
%2026657-Demineralisasi%20dan%20deproteinasiLiteratur.pdf diunduh pada 31 Mei 2015
Anonimc. 2015. https://mudhzz.wordpress.com/chitosan/ diunduh
pada 31 Mei 2015
Alberola, L.G. 2014. Sustainable Handling of Waste from Shrimp
Processing in Sisimiut, Greenland: Coupled Life Cycling
asessment and Economic Asessment of a Biogas Plant.
[Thesis]. Technical university of Denmark.
Bavutti, M dkk. 2014. Thermal Stabilization of Digester of Biogas
Plants by Means of Optimization of The Surface Radiative
Properties of The Gasometer Domes. Energy Procedia 45, hal
1344-1353.
Herawati, D.A., Andang A.W. 2010. Pengaruh Pretreatment Jerami
pada Produksi Biogas dari Jerami dan Sampah Sayur Sawi
Hijau Secara Batch. Jurnal Rekayasa Proses. Vol.4, No.1.
Ichsan., Hady H., Roy H. 2014. Integrated Biogas-Microalgae from
Waste Waters as the Potential Biofinery Sources in
Indonesia. Energy Procedia [journal] 47, hal. 143-148.
Juwita, Ratna. 2012. Studi Produksi Alkohol dari Tetes Tebu
(Saccharum officinarum L) Selama Proses Fermentasi.
[Skripsi]. Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.
Monnet, F. 2003. An Introductionto Anaerobic Digention of
Organic Waste. Scotland. [Final Report].
Oleszek,M dkk. 2014. Comparison of Biogas Production from Wild
and Cultivated Varietes of Reed Canary Grass. Bioresource
Technology [journal] 156, hal. 303-306.

Oparaku, N. F. dan Oformata, A. C. 2013. Bioderadation of


Agricultural Waste and Pig Dung in Anaerobic Digester.
International Journal of Physical Sciences. Vol. 1 (4), hal.
062-068.
Padang,Y,A., Nurchayati., Suhandi. 2011. Meningkatkan Kualitas
Biogas Dengan Penambahan Gula. Jurnal Teknik Rekayasa.
Vol.12, no. 1.
Vasilaki, G. dan Laura G. 2013. Biogas Production from Organic
Waste in Sisimiut: Methane Potentials and Co-Digestion of
Shrimp Waste, Brown Algae and Sludge. [Report]. Denmark
Teknology University.
Waskito, Didit. 2011. Analisis Pembangkit Listrik Tenaga Biogas
dengan Pemanfaatan Kotoran Sapi di Kawasan Usaha
Peternakan Sapi. [Tesis]. FT UI.

Beri Nilai