Anda di halaman 1dari 11

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah sistem pengendalian

intern (SPI) yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah


pusat dan pemerintah daerah.
Sejarah
Cikal bakal SPIP dimulai dengan adanya Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1983
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan dan Instruksi Presiden No. 1 Tahun
1989 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan Melekat, Keputusan Menteri
PAN No. 30 Tahun 1994 tentang petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Melekat yang
diperbaharui dengan Keputusan Menteri PAN No. KEP/46/M.PAN/2004. Unsurunsur Waskat adalah Pengorganisasian, Personil, Kebijakan, Perencanaan,
Prosedur, Pencatatan, Pelaporan, Reviu Intern.
Selanjutnya pada tanggal 28 Agustus 2008 keluarlah Peraturan Pemerintah No.
60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)yang
merupakan adaptasi dari COSO. Unsur-unsur SPIP adalah Lingkungan
Pengendalian, Penilaian Risiko, Kegiatan Pengendalian, Informasi dan
Komunikasi, serta Pemantauan Pengendalian Intern.
PP No. 60 Tahun 2008 merupakan penjabaran lebih lanjut dari Pasal 55 ayat (4)
dan Pasal (58) ayat (1) dan (2) UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara.

SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH


( SPIP)
Oleh : Dra. Lamsari Sitompul, MM
I. LATAR BELAKANG.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara telah membawa
implikasi perlunya system pengelolaan keuangan negara yang lebih akuntabel dan transparan.
Semua dapat dicapai jika seluruh penyelenggara Negara dari tingkat pimpinan sampai
ditingkat pelaksana mampu melaksanakannya mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, sampai dengan pertanggungjawaban, dilaksanakan secara tertib, terkendali,
efisien dan efektif.
Pasal 58 ayat (1) dan ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara,
memerintahkan pengaturan lebih lanjut ketentuan mengenai sistem pengendalian intern
pemerintah secara menyeluruh dengan Peraturan Pemerintah, yakni Presiden selaku Kepala
Pemerintahan mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan
pemerintahan secara menyeluruh.
Sistem Pengendalian Intern dalam Peraturan Pemerintah ini dilandasi pada pemikiran bahwa
Sistem Pengendalian Intern melekat sepanjang kegiatan, dipengaruhi oleh sumber daya
manusia, serta hanya memberikan keyakinan yang memadai, bukan keyakinan mutlak. Untuk
itu dibutuhkan suatu sistem yang dapat memberi keyakinan memadai bahwa penyelenggaraan
kegiatan pada suatu Instansi Pemerintah dapat mencapai tujuannya secara efisien dan efektif,
melaporkan pengelolaan keuangan negara secara andal, mengamankan aset negara, dan
mendorong ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

Dengan latar belakang pemikiran tersebut, dikembangkan Sistem Pengendalian Intern


Pemerintah (SPIP) yang berfungsi sebagai pedoman dalam penyelenggaraan dan tolok ukur
efektivitas penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern, maka pada tanggal 28 Agustus 2008
dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60/2008 tentang Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah (SPIP) untuk menjawab tantangan birokrasi pemerintahan di Indonesia
dalam mengelola keuangan Negara.
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) tersebut Unsur-unsurnya mengacu pada unsur
Sistem Pengendalian Intern yang telah dipraktikkan di lingkungan pemerintahan di berbagai
negara, yang meliputi :
a. Lingkungan pengendalian Pimpinan Instansi Pemerintah dan seluruh pegawai harus
menciptakan dan memelihara lingkungan dalam keseluruhan organisasi yang menimbulkan
perilaku positif dan mendukung terhadap pengendalian intern dan manajemen yang sehat.
b. Penilaian risiko Pengendalian intern harus memberikan penilaian atas risiko yang dihadapi
unit organisasi baik dari luar maupun dari dalam.
c. Kegiatan pengendalian Kegiatan pengendalian membantu memastikan bahwa
arahan pimpinan Instansi Pemerintah dilaksanakan. Kegiatan pengendalian harus efisien dan
efektif dalam pencapaian tujuan organisasi.
d. Informasi dan komunikasi Informasi harus dicatat dan dilaporkan kepada pimpinan
Instansi Pemerintah dan pihak lain yang ditentukan. Informasi disajikan dalam suatu bentuk
dan sarana tertentu serta tepat waktu sehingga memungkinkan pimpinan Instansi Pemerintah
melaksanakan pengendalian dan tanggung jawabnya.
e. Pemantauan Pemantauan harus dapat menilai kualitas kinerja dari waktu ke waktu dan
memastikan bahwa rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya dapat segera ditindaklanjuti.
Untuk memperkuat dan menunjang efektivitas penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern
dilakukan pengawasan intern dan pembinaan penyelenggaraan SPIP. Pengawasan intern
merupakan salah satu bagian dari kegiatan pengendalian intern yang berfungsi melakukan
penilaian independen atas pelaksanaan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah.
Untuk pelaksanaan tindak lanjut dari PP No. 60 tahun 2008 tentang SPIP tersebut, Menteri
Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 120/2536/SJ tanggal 25 Juni 2010,
yang paling tidak berisi lima ietm pokok, yaitu meliputi :
1. Meningkatkan efektivitas SPIP di lingkungan pemerintah daerah,
2. Mempercepat penyusunan Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota yang mengatur
penyelenggaraan SPIP,
3. Membentuk Satgas SPIP dalam rangka menjaga keberlangsungan penyelenggaraan
SPIP,
4. Pimpinan dan seluruh pegawai, agar mengikuti sosialisasi dan diklat SPIP, dan
5. Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan agar bekerja sama dan
bersinergi dengan BPKP.

II. ESENSI DAN SPIRIT SPIP


Esensi dan Spirit yang mendasari PP yang diadopsi dari pengertian pengendalian intern
menurut Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO) yang
merincikan pengendalian intern ke dalam 5 unsur yakni : lingkungan pengendalian, penilaian
risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan/monitoring, yang
kemudian dituangkan dalam Bab II PP No. 60 Tahun 2008 tersebut.
Satu hal yang menarik dalam konsep pengendalian intern menurut COSO ini adalah
munculnya Aspek soft control yaitu aspek si pelaku sistem yang tercermin dalam komponen
lingkungan pengendalian, antara lain integritas dan nilai etika, filosofis manajemen dan gaya
operasi. Ini terlihat pada Pasal 5 PP-SPIP, ditegaskan bahwa Penegakan integritas dan nilai
etika sekurang-kurangnya dilakukan dengan : menyusun dan menerapkan aturan perilaku;
memberikan keteladanan pelaksanaan aturan perilaku pada setiap tingkat pimpinan Instansi
Pemerintah; menegakkan tindakan disiplin yang tepat atas penyimpangan ; dst. Penerapan
integritas dan nilai etika perlu diterapkan suatu aturan perilaku yang berisi praktik yang dapat
diterima dan praktik yang tidak dapat diterima termasuk benturan kepentingan.
Sebagai contoh, batasan ucapan terimakasih yang boleh diterima dari pihak yang menerima
jasa pelayan birokrasi pemerintah memang cukup sulit untuk ditentukan dan dibuktikan
dalam praktiknya. Hal ini mendorong unsur soft control ini juga perlu dibarengi dengan
mekanisme pengawasan dan penerapan sanksi apabila terjadi pelanggaran etika.
Selain itu, diuraikan juga dalam pasal 7, mengenai aspek kepemimpinan yang kondusif antara
lain komitmen pimpinan instansi pemerintah dalam mempertimbangkan risiko dalam
pengambilan keputusan, menerapkan manajemen berbasis kinerja serta respon positif
terhadap pelaporan terkait keuangan, penganggaran, program dan kegiatan.
Untuk aspek hard controlnya, adalah berbagai kebijakan dan pedoman sebagai alat
pengendali dalam manajemen pemerintahan. Salah satunya adalah kegiatan pengendalian
yang terdiri dari beberapa item antara lain review atas kinerja instansi pemerintah,
pengendalian atas pengelolaan sistem informasi, pengendalian fisik atas aset, penetapan dan
review atas indikator dan ukuran kinerja serta pemisahan fungsi.
PP nomor 60 tahun 2008 ini juga merupakan langkah konkrit untuk membentuk internal
control system artinya pengawasan by system. Siapapun pemegang amanah birokrasi
pemerintahan, maka dengan sendirinya sistem yang akan melakukan pengawasan guna
mencapai visi, misi dan tujuan organisasi dalam arti sempit dan mencapai visi, misi dan
tujuan bernegara dalam arti seluas-luasnya sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD
1945, antara lain untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan seterusnya.
Ketika internal control system yang dijabarkan dalam SPIP bekerja secara otomatis
melakukan fungsi pengawasan, maka setiap insan birokrasi pemerintah suka tidak suka akan

bekerja under control /dibawah pengawasan system yang berlaku. Selanjutnya, apabila
kondisi ini dipertahankan maka terciptalah internal control culture, artinya sistem
pengendalian intern menjadi bagian dari budaya organisasi pemerintahan di Indonesia.
SPIP penting untuk dipahami tidak saja oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP)
namun juga ke seluruh komponen pelaku manajemen pemerintahan, seluruh jajaran PNS
tanpa terkecuali untuk melindungi agar tidak terjerumus ke dalam salah urus manajemen atau
mal adiminsitrasi bahkan terpeleset ke ranah Tindak Pidana Korupsi.
Melalui komitmen dan upaya nyata menerapkan SPIP secara konsisten dan
berkesinambungan, kiranya SPIP menjadi suatu kebutuhan dan bahkan suatu budaya.
Efektivitas SPIP sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya SPIP menjelma menjadi internal
control culture organisasi pemerintahan di Indonesia guna menciptakan good governance dan
clean government.
III. PERKEMBANGAN SPIP
1. Instruksi Presiden No. 15 Tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan ;
2. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1989 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan Melekat ;
3. Keputusan Menteri PAN No. 30 Tahun 1994 tentang petunjuk Pelaksanaan Pengawasan
Melekat yang diperbaharui dengan Keputusan Menteri PAN No. KEP/46/M.PAN/2004:
Unsur-unsur Waskat adalah : Pengorganisasian ; Personil ; Kebijakan ; Perencanaan ;
Prosedur ; Pencatatan ; Pelaporan ; dan Reviu intern.
4. Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
(SPIP)
IV. DASAR HUKUM SPIP
Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara :
Pasal 55 ayat (4) : Menteri/Pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang
memberikan pernyataan bahwa pengelolaan APBN telah diselenggarakan berdasarkan Sistem
Pengendalian Intern yang memadai dan akuntansi keuangan telah diselenggarakan sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP).
Pasal 58 ayat (1) dan (2) : Dalam rangka meningkatkan kinerja, transparansi dan
akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, Presiden selaku Kepala Pemerintah mengatur dan
menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern di lingkungan pemerintah secara menyeluruh.
SPI ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
V. PENGERTIAN SPI DAN SPIP
1. Sistem Pengendalian Intern (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan
kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk
memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang
efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan
terhadap peraturan perundang-undangan (PP 60/2008, Bab I Ps. 1 butir 1)
2. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, (SPIP), adalah Sistem Pengendalian Intern

yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah


daerah. (PP 60/2008, Bab I Ps. 1 butir 2)
3. Pengawasan Intern adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan
kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam
rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai
dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan
pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (Bab I Ps.1 angka 3).
VI. UNSUR UNSUR SPIP
A. Unsur Lingkungan Pengendalian.
Adalah kondisi dalam instansi pemerintah yang mempengaruhi efektifitas pengendalian
intern.
Pimpinan Instansi Pemerintah wajib menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian
yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan Sistem Pengendalian Intern
dalam lingkungan kerjanya, melalui :
1. penegakan integritas dan nilai etika;
2. komitmen terhadap kompetensi;
3. kepemimpinan yang kondusif;
4. pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan;
5. pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat;
6. penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia;
7. perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif; dan
8. hubungan kerja yang baik dengan Instansi Pemerintah terkait.
B. Unsur Penilaian Resiko.
Adalah kegiatan penilaian atas kemungkinan kejadian yang mengancam pencapaian tujuan
dan sasaran instansi pemerintah. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib melakukan penilaian
risiko,
Penilaian risiko terdiri atas:
1. Identifikasi Risiko; dan
2. Analisis Risiko.
Dalam rangka penilaian risiko pimpinan Instansi Pemerintah menetapkan:
1. Tujuan Instansi Pemerintah; dan
2. Tujuan pada tingkatan kegiatan.
Tujuan Instansi Pemerintah; memuat pernyataan dan arahan yang spesifik, terukur, dapat
dicapai, realistis, dan terikat waktu, dan wajib dikomunikasikan kepada seluruh pegawai.
Untuk mencapai tujuan Instansi Pemerintah pimpinan Instansi Pemerintah menetapkan:
1. strategi operasional yang konsisten; dan
2. strategi manajemen terintegrasi dan rencana penilaian risiko.
Tujuan pada tingkatan kegiatan, sekurang-kurangnya dilakukan dengan memperhatikan

ketentuan sebagai berikut:


1. berdasarkan pada tujuan dan rencana strategis Instansi Pemerintah;
2. saling melengkapi, saling menunjang, dan tidak bertentangan satu dengan lainnya;
3. relevan dengan seluruh kegiatan utama Instansi Pemerintah;
4. mengandung unsur kriteria pengukuran;
5. didukung sumber daya Instansi Pemerintah yang cukup; dan
6. melibatkan seluruh tingkat pejabat dalam proses penetapannya.
C. Unsur Kegiatan Pengendalian.
Adalah tindakan yang diperlukan untuk mengatasi resiko serta penetapan dan pelaksanaan
kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa tindakan mengatasi resiko telah
dilaksanakan secara efektif.
Pimpinan Instansi Pemerintah wajib menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan
ukuran, kompleksitas, dan sifat dari tugas dan fungsi Instansi Pemerintah yang bersangkutan.
Karakteristik kegiatan Pengandalian
1. kegiatan pengendalian diutamakan pada kegiatan pokok Instansi Pemerintah;
2. kegiatan pengendalian harus dikaitkan dengan proses penilaian risiko;
3. kegiatan pengendalian yang dipilih disesuaikan dengan sifat khusus Instansi Pemerintah;
4. kebijakan dan prosedur harus ditetapkan secara tertulis;
5. prosedur yang telah ditetapkan harus dilaksanakan sesuai yang ditetapkan secara tertulis;
dan
6. kegiatan pengendalian dievaluasi secara teratur untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut
masih sesuai dan berfungsi seperti yang diharapkan.
Kegiatan Pengendalian terdiri dari :
1. reviu atas kinerja Instansi Pemerintah yang bersangkutan;
2. pembinaan sumber daya manusia;
3. pengendalian atas pengelolaan sistem informasi;
4. pengendalian fisik atas aset;
5. penetapan dan reviu atas indikator dan ukuran kinerja;
6. pemisahan fungsi;
7. otorisasi atas transaksi dan kejadian yang penting;
8. pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas transaksi dan kejadian;
9. pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya;
10. akuntabilitas terhadap sumber daya dan pencatatannya; dan
11. dokumentasi yang baik atas Sistem Pengendalian Intern serta transaksi dan kejadian
penting.
D. Unsur Informasi Dan Komunikasi.
Informasi adalah data yang telah diolah yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan
dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau informasi dengan menggunakan simbol
atau lambang tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapatkan
umpan balik
Pimpinan Instansi Pemerintah wajib mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan
informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat, secara efektif.
Untuk menyelenggarakan komunikasi yang efektif tersebut, pimpinan Instansi Pemerintah
harus sekurang-kurangnya :
1. Menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan sarana komunikasi; dan
2. Mengelola, mengembangkan, dan memperbarui sistem informasi secara terus menerus
( Memanage Sistem Informasi ).
E. Unsur Pemantauan Pengendalian Intern.
Adalah proses penilaian atas mutu kinerja Sistem Pengendalian Intern dan proses yang
memberikan keyakinan bahwa temuan audit dan evaluasi lainnya segera ditindaklanjuti.
Pimpinan Instansi Pemerintah wajib melakukan pemantauan Sistem Pengendalian Intern,
melalui :
1. Pemantauan Berkelanjutan,
2. Evaluasi Terpisah, dan
3. Tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya.
VII. PENGUATAN EFEKTIVITAS PENYELENGGARAAN SPIP
Menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota bertanggung jawab atas efektivitas
penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern di lingkungan masing-masing.
Untuk memperkuat dan menunjang efektivitas Sistem Pengendalian Intern dilakukan:
1. Pengawasan intern atas penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah termasuk
akuntabilitas keuangan negara; dan
2. Pembinaan penyelenggaraan SPIP.
Pengawasan intern atas penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah, melalui :
1. Audit;
2. Reviu;
3. Evaluasi;
4. Pemantauan; dan
5. Kegiatan pengawasan lainnya.
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) tersebut, terdiri atas:
1. BPKP;
2. Inspektorat Jenderal;
3. Inspektorat Provinsi;
4. Inspektorat Kabupaten/Kota ;

Pembinaan Penyelenggaraan SPIP. dilakukan oleh BPKP, meliputi:


1. Penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP;
2. Sosialisasi SPIP;
3. Pendidikan dan pelatihan SPIP;
4. Pembimbingan dan konsultansi SPIP; dan
DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. UU No 1 tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara
2. PP No 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pemerintahan Intern Pemerintah
3. SE Kementerian Dalam Negeri No. 120/2536/SJ/ tanggal 25 juni 2010
****** ( Malang, 15 Desember 2010 ) ******

Pengertian Sistem Pengendalian Intern menurut PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP
adalah:

"Proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh
pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya
tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan,
pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan."
Keempat tujuan tersebut di atas tidak perlu dicapai secara khusus atau terpisah-pisah. Dengan
kata lain, instansi pemerintah tidak harus merancang secara khusus pengendalian untuk
mencapai satu tujuan. Suatu kebijakan atau prosedur dapat saja dikembangkan untuk dapat
mencapai lebih dari satu tujuan pengendalian.

Sesuai dengan PP Nomor 60 Tahun 2008, SPIP terdiri dari lima unsur, yaitu:
1. Lingkungan pengendalian
2. Penilaian risiko
3. Kegiatan pengendalian
4. Informasi dan komunikasi
5. Pemantauan pengendalian intern

Keterkaitan kelima unsur sistem pengendalian intern dapat


dilihat pada Gambar di bawah ini. Gambar tersebut menjelaskan bahwa kelima unsur
pengendalian intern merupakan unsur yang terjalin erat satu dengan yang lainnya. Proses
pengendalian menyatu pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh
pimpinan dan seluruh pegawai. Oleh karena itu, yang menjadi fondasi dari pengendalian
adalah orang-orang (SDM) di dalam organisasi yang membentuk lingkungan pengendalian
yang baik dalam mencapai sasaran dan tujuan yang ingin dicapai instansi pemerintah.
Penyelenggaraan unsur lingkungan pengendalian (delapan sub unsur) yang baik akan
meningkatkan suasana lingkungan yang nyaman yang akan menimbulkan kepedulian dan

keikutsertaan seluruh pegawai. Untuk mewujudkan lingkungan pengendalian yang demikian


diperlukan komitmen bersama dalam melaksanakannya. Komitmen ini juga merupakan hal
yang amat penting bagi terselenggaranya unsur-unsur SPIP lainnya.
Dalam PP Nomor 60 Tahun 2008 yang menjadi sub unsur pertama dari lingkungan
pengendalian adalah pembangunan integritas dan nilai etika (sub unsur 1.1) organisasi
dengan maksud agar seluruh pegawai mengetahui aturan untuk berintegritas yang baik dan
melaksanakan kegiatannya dengan sepenuh hati dengan berlandaskan pada nilai etika yang
berlaku untuk seluruh pegawai tanpa terkecuali. Integritas dan nilai etika tersebut perlu
dibudayakan, sehingga akan menjadi suatu kebutuhan bukan keterpaksaan. Oleh karena itu,
budaya kerja yang baik pada instansi pemerintah perlu dilaksanakan secara terus menerus
tanpa henti.
Selanjutnya, dibuat pernyataan bersama untuk melaksanakan integritas dan nilai etika
tersebut dengan menuangkannya pada suatu pernyataan komitmen untuk melaksanakan
integritas. Pernyataan ini berupa pakta (pernyataan tertulis) tentang integritas yang berisikan
komitmen untuk melaksanakannya. Selain itu, kompetensi (sub unsur 1.2) yang merupakan
kewajiban pegawai di bidangnya masing-masing.
Komitmen yang dilaksanakan secara periodik tersebut perlu dipantau dan dalam
pelaksanaannya perlu diimbangi dengan adanya kepemimpinan yang kondusif (sub unsur
1.3) sebagai pemberi teladan untuk dituruti seluruh pegawai. Agar dapat mendorong
terwujudnya hal tersebut, maka diperlukan aturan kepemimpinan yang baik. Aturan tersebut
perlu disosialisasikan kepada seluruh pegawai untuk diketahui bersama.
Demikian juga, struktur organisasi perlu dirancang sesuai dengan kebutuhan (sub unsur
1.4) dengan pemberian tugas dan tanggung jawab kepada pegawai dengan tepat (sub
unsur 1.5). Terhadap struktur yang telah ditetapkan, perlu dilakukan analisis secara berkala
tentang bentuk struktur yang tepat. Diperlukan pembinaan sumber daya manusia (sub
unsur 1.6) yang tepat sehingga tujuan organisasi tercapai. Disamping itu, keberadaan aparat
pengawasan intern pemerintah (APIP) (sub unsur 1.7) perlu ditetapkan dan diberdayakan
secara tepat agar dapat berperan secara efektif. Hal lainnya yang perlu dibangun dalam
penyelenggaraan lingkungan pengendalian yang baik adalah menciptakan hubungan kerja
sama yang baik (sub unsur 1.8) diantara instansi pemerintah yang terkait.
Untuk membangun kondisi yang nyaman sebagaimana disebutkan di atas, maka lingkungan
pengendalian yang baik harus memiliki kepemimpinan yang kondusif. Kepemimpinan yang
kondusif diartikan sebagai situasi dimana pemimpin selalu mengambil keputusan dengan
mendasarkan pada data hasil penilaian risiko. Berdasarkan kepemimpinan yang kondusif
inilah, maka muncul kewajiban bagi pimpinan untuk menyelenggarakan penilaian risiko di
instansinya.
Penilaian risiko dengan dua sub unsurnya, dimulai dengan melihat kesesuaian antara tujuan
kegiatan yang dilaksanakan instansi pemerintah dengan tujuan sasarannya, serta kesesuaian
dengan tujuan strategik yang ditetapkan pemerintah. Setelah penetapan tujuan, instansi
pemerintah melakukan identifikasi risiko (sub unsur 2.1) atas risiko intern dan ekstern yang
dapat mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan tersebut, kemudian menganalisis risiko
(sub unsur 2.2) yang memiliki probability kejadian dan dampak yang sangat tinggi sampai
dengan risiko yang sangat rendah.

Berdasarkan hasil penilaian risiko dilakukan respon atas risiko dan membangun kegiatan
pengendalian yang tepat (sub unsur 3.1 sampai dengan 3.11). Dengan kata lain, kegiatan
pengendalian dibangun dengan maksud untuk merespon risiko yang dimiliki instansi
pemerintah dan memastikan bahwa respon tersebut efektif. Seluruh penyelenggaraan unsur
SPIP tersebut haruslah dilaporkan dan dikomunikasikan (sub unsure 4.1 dan 4.2) serta
dilakukan pemantauan (sub unsur 5.1 dan 5.2) secara terus-menerus guna perbaikan yang
berkesinambungan.
Gambar di atas juga memberikan pemahaman, bahwa kelima unsur SPIP tersebut dapat
berlaku baik pada tingkat instansi secara keseluruhan maupun pada fungsi/aktivitas tertentu
saja.

Anda mungkin juga menyukai