Anda di halaman 1dari 6

99% Nikah Muda karena “kecelakaan”. Bagaimana solusinya??

*Yulita Lobo

99% Nikah Muda karena “kecelakaan”. Bagaimana solusinya?? *Yulita Lobo N ikah muda bukanlah hal yang tabu

N

ikah muda bukanlah hal yang tabu lagi bagi masyarakat Kota Kupang. Banyak pasangan suami istri sekarang yang menikah di usia remaja. Banyak juga yang memengaruhi

perkawinan usia muda contohnya faktor ekonomi keluarga, kehendak orang tua, kemauan anak, pendidikan, adat dan budaya dan faktor lainnya, namun alasan terkuat bagi masyarakat Kota Kupang untuk menikah usia muda adalah karena hamil atau istilah sopannya yaitu “kecelakaan”. Keluarga dengan anak “kecelakaan” cenderung untuk mengambil way out cepat-cepat menikahkan anak mereka sebelum melahirkan, karena ditakutkan anak yang dilahirkan tidak mempunyai nama ayah yang jelas di akta kelahirannya. Bukan hanya itu, keluarga juga menghindari komentar-komentar negatif dari masyarakat bila anak yang nanti dilahirkan tidak mempunyai ayah yang sah. Dan masih banyak alasan internal yang meyakinkan keluarga untuk menikahkan anak mereka di usia muda. Permasalahannya disini mereka tidak mengetahui apa dampak yang ditimbulkan bagi keberlangsungan kehidupan keluarga baru ini.

Sebelum kita melihat lebih lanjut, perlu kita pahami dulu apa itu pernikahan menurut Undang-Undang yang berlaku di Indonesia. Menurut Undang-Undang Pokok Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 1 dijelaskan perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu perkawinan merupakan suatu yang alami yang sudah menjadi kodrat alam, bahwa dua jenis kelamin yang berbeda akan mempunyai daya tarik antara satu dengan yang lainnya untuk hidup bersama. Pernikahan dini atau nikah muda sendiri adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan ataupun salah satu pasangannya masih dikategorikan remaja yang berusia dibawah 19 tahun (WHO, 2006). Perkawinan usia muda merupakan perkawinan

remaja dilihat dari segi umur masih belum cukup atau belum matang dimana di dalam Undang-Undang Pokok Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 7 yang menetapkan batas maksimun pernikahan di usia muda adalah perempuan umur 16 tahun dan laki-laki berusia 19 tahun itu baru sudah boleh menikah.

Bedasarkan atas pengertian ini, maka bisa dikatakan bahwa pasangan suami istri usia muda baik secara fisik maupun psikologisnya masih belum matang. Untuk itu banyak hal yang dapat memicu konflik diantara pasangan suami istri ini. Dampak yang ditimbulkan bagi pernikahan usia muda diantaranya :

  • 1. Dampak biologis Remaja

secara

biologis

alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju

kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa remaja tersebut.

  • 2. Dampak psikologis Secara psikis remaja juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks, sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Remaja ini akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak remaja untuk memperoleh pendidika, hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak.

  • 3. Dampak sosial Remaja ini akan menutup diri dari lingkungan sosialnya, dan lingkungan sosial juga cenderung untuk berpikiran negatif terhadap remaja dengan pernikahan di usia muda ini. Apalagi jika remaja ini banyak konflik dalam kehidupan rumah tangganya. Bukanlah hal yang tidak mungkin bahwa mereka juga akan dikucilkan dari masyarakat.

  • 4. Dampak bagi suami Tidak bisa dipungkiri bahwa pada pasangan suami istri yang telah melangsungkan perkawinan di usia muda tidak bisa memenuhi atau tidak mengetahui hak dan kewajibannya sebagai suami istri. Hal tersebut timbul dikarenakan belum matangnya fisik maupun mental mereka yang cenderung keduanya memiliki sifat keegoisan yang tinggi. Suami usia muda juga mengalami krisis ekonomi karena belum ada persiapan ekonomi yang matang bagi suami di usia muda.

5.

Dampak bagi istri Istri cenderung akan merasa tertekan dengan kondisinya khusunya dalam memikirkan

kebutuhan anak dan keluarga yang belum dapat terpenuhi secara efektif.

  • 6. Dampak bagi anak Kesehatan bayi dan anak yang buruk memiliki kaitan yang cukup kuat dengan usia ibu yang terlalu muda, berkesinambungan dengan ketidakmampuan wanita muda secara fisik dan lemahnya pelayanan kesehatan reproduktif dan sosial terhadap mereka. Anak-anak yang lahir dari ibu yang berusia di bawah 20 tahun memiliki risiko kematian yang cukup tinggi.

  • 7. Dampak terhadap masing-masing keluarga Selain berdampak pada pasagan suami-istri dan anak-anaknya perkawinan di usia muda juga akan membawa dampak terhadap masing-masing keluarganya. Apabila perkawinan di antara anak-anak mereka lancar, sudah barang tentu akan menguntungkan orang tuanya masing-masing. Namun apabila sebaliknya keadaan rumah tangga mereka tidak bahagia dan akhirnya akan terjadi perceraian. Hal ini akan mengkibatkan bertambahnya biaya hidup mereka dan yang paling parah lagi akan memutuskan tali kekeluargaan diantara kedua belah pihak.

Dari banyaknya dampak yang diakibatkan oleh pernikahan usia muda ini, tentu banyak juga solusi yang dapat diberikan. Baik melalui kedua belah pihak keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama dan semua pihak yang mempunyai perhatian terhadap keluarga remaja ini.

Namun solusi terbaru yang ditawarkan oleh BKKBN adalah dengan usaha

Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) adalah upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. PUP bukan sekedar menunda

sampai usia tertentu saja tetapi mengusahakan agar kehamilan pertamapun terjadi pada usia yang cukup dewasa. Bahkan harus diusahakan apabila seseorang gagal mendewasakan usia perkawinannya, maka penundaan kelahiran anak pertama harus dilakukan. Dalam istilah KIE disebut sebagai anjuran untuk mengubah bulan madu menjadi tahun madu. Pendewasaan usia perkawinan merupakan bagian dari program Keluarga Berencana Nasional. Program PUP memberikan dampak pada peningkatan umur kawin pertama yang pada gilirannya akan menurunkan Total Fertility Rate (TFR) (Mardiya, 2010).

Pendewasaan usia perkawinan diperlukan krena dilatarbelakangi beberapa faktor sebagai berikut:

1.

Semakin banyaknya kasus perkawinan usia muda.

  • 2. Banyaknya kasus kehamilan tidak diinginkan.

  • 3. Banyaknya kasus pernikahan usia dini dan kehamilan tidak diinginkan menyebabkan pertambahan penduduk makin cepat (setiap tahun bertambah sekitar 3,2 juta jiwa).

  • 4. Menikah dalam usia muda menyebabkan keluarga sering tidak harmonis,sering cekcok, terjadi perselingkuhan, terjadi KDRT, rentan terhadap perceraian (BkkbN, 2011).

Tujuan program pendewasaan usia perkawinan adalah memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar didalam merencanakan keluarga, mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.

Tujuan PUP seperti ini berimplikasi pada perlunya peningkatan usia kawin yang lebih dewasa. Program Pendewasaan Usia kawin dan Perencanaan Keluarga merupakan kerangka dari program pendewasaan usia perkawinan. Kerangka ini terdiri dari tiga masa reproduksi, yaitu:

  • 1. Masa Menunda Perkawinan dan Kehamilan Kelahiran anak yang baik, adalah apabila dilahirkan oleh seorang ibu yang telah berusia 20 tahun. Kelahiran anak, oleh seorang ibu dibawah usia 20 tahun akan dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan anak yang bersangkutan. Oleh sebab itu sangat dianjurkan apabila seorang perempuan belum berusia 20 tahun untuk menunda perkawinannya. Apabila sudah terlanjur menjadi pasangan suami istri yang masih dibawah usia 20 tahun, maka dianjurkan untuk menunda kehamilan, dengan menggunakan alat kontrasepsi.

  • 2. Masa Menjarangkan kehamilan Masa menjarangkan kehamilan terjadi pada periode PUS berada pada umur 20-35 tahun. Secara empirik diketahui bahwa PUS sebaiknya melahirkan pada periode umur 20-35 tahun, sehingga risiko-risiko medik yang diuraikan di atas tidak terjadi. Dalam periode 15 tahun (usia 20-35 tahun) dianjurkan untuk memiliki 2 anak. Sehingga jarak ideal antara dua kelahiran bagi PUS kelompok ini adalah sekitar 7-8 tahun. Patokannya adalah jangan terjadi dua balita dalam periode 5 tahun. Untuk menjarangkan kehamilan dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. Pemakaian alat kontrasepsi pada tahap ini dilaksanakan untuk menjarangkan kelahiran agar ibu dapat menyusui anaknya dengan cukup banyak dan lama. Semua kontrasepsi, yang dikenal sampai sekarang dalam program Keluarga Berencana

Nasional, pada dasarnya cocok untuk menjarangkan kelahiran. Akan tetapi dianjurkan setelah kelahiran anak pertama langsung menggunakan alat kontrasepsi spiral (IUD).

  • 3. Masa Mencegah Kehamilan Masa pencegahan kehamilan berada pada periode PUS berumur 35 tahun keatas. Sebab secara empirik diketahui melahirkan anak diatas usia 35 tahun banyak mengalami risiko medik. Pencegahan kehamilan adalah proses yang dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi. Kontrasepsi yang akan dipakai diharapkan berlangsung sampai umur reproduksi dari PUS yang bersangkutan yaitu sekitar 20 tahun dimana PUS sudah berumur 50 tahun. Alat kontrasepsi yang dianjurkan bagi PUS usia diatas 35 tahun adalah sebagai berikut:

    • a. Pilihan utama penggunaan kontrasepsi pada masa ini adalah kontrasepsi mantap (MOW, MOP).

    • b. Pilihan ke dua kontrasepsi adalah IUD/AKDR/Spiral

  • c. Pil kurang dianjurkan karena pada usia ibu yang relatif tua mempunyai kemungkinan timbulnya akibat samping. Sedangkan solusi yang bisa diberikan oleh kita sebagai tenaga kesehatan khususnya perawat keluarga adalah dengan memberikan asuhan keperawatan keluarga pada pasangan baru menikah. Asuhan keperawatan keluarga merupakan rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktik keperawatan keluarga. Adapun kriteria keluarga yang harus mendapatkan asuhan keperawatan keluarga adalah keluarga yang dalam tahap perkembangan keluarga, misalnya keluarga dengan pasangan baru (Berganning family) / keluarga pemula. Berganning family atau yang biasa kita sebut keluarga dengan pasangan baru merupakan tahap pembentukan keluarga melalui ikatan pernikahan. Pada keluarga tahap ini perlu diberikan asuhan keperawatan keluarga karena pada tahap ini rentan terhadap masalah kesehatan.

Pasangan baru menikah adalah tahap awal pembentukan keluarga, jadi dibutuhkan adaptasi yang baik. Butuh penyesuaian peran dan fungsi sehari-hari, belajar hidup bersama, beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya. Mereka merupakan anggota dari 3 keluarga yaitu keluarga suami, istri dan membentuk keluarga sendiri. Masing-masing mengahadapi perpisahan dengan keluarga orang tuanya. Mereka mulai membina hubungan baru dengan keluarga dan kelompok sosial pasangan. Pada tahap keluarga dengan pasangan baru mempunyai tugas perkembangan keluarga yang harus dipenuhi. Tugas perkembangan tersebut adalah membina hubungan intim yang saling memuaskan, menetapkan tujuan bersama, membina hubungan dengan orang lain dengan menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis dan keluarga berencana. Selain mempunyai tugas, keluarga

juga mempunyai fungsi supaya keluarga menjadi sejahtera. Fungsi keluarga yang harus dipenuhi meliputi fungsi afektif, sosialisasi, perawatan kesehatan, ekonomi, biologis, psikologis dan fungsi pendidikan. Maka dari hal tersebut peran perawat sangat berarti untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga melalui asuhan keperawatan keluarga pasangan baru menikah.

Sebagai tenaga kesehatan kita harus dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan pada keluarga baru menikah dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan untuk membantu mereka mengenali tugas dan perkembangan pada keluarga tahap tersebut. Pada tumbuh kembang pasangan baru menikah pengkajian asuhan keperawatan keluarga dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keluarga memenuhi tugas perkembangannya. Asuhan keperawatan juga membantu memandirikan pasangan baru menikah dalam pengambilan keputusan terkait masalah kesehatan yang mereka alami.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi pasangan suami istri usia remaja dan bagi perawat agar dapat menerapkan asuhan keperawatan keluarga dengan baik.