Anda di halaman 1dari 9

83

Aplikasi SPC (Statistical Process Control) dan Quality Improvement


Tool Di Bagian Giling Dan Batil Rokok SKT PT. Djarum Kudus
1,2

Ida Nursanti*1, Eny Rokhayati2

Jurusan Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta


Jalan A. Yani Tromol Pos I Pabelan Surakarta
1
e-mail: * Ida.Nursanti@ums.ac.id

Abstrak
Sigaret Kretek Tangan (SKT) merupakan salah satu jenis produk dari PT. Djarum
Kudus yang diproduksi di SKT Garung dan dibuat dengan menggunakan tenaga
manusia, mulai dari pembentukan batangan rokok hingga pengepakan. Agar hasil
produksi dibagian pembuatan rokok tersebut sesuai dengan spesifikasi yang
diinginkan, maka diperlukan suatu metode pengendalian kualitas, baik pada saat
proses berlangsung maupun sebelum dan sesudah proses produksi. Sesuai dengan
ideologi inti dan visinya dalam rangka meningkatkan kepuasan konsumen, PT.
Djarum melakukan proses perbaikan secara terus menerus, termasuk perbaikan
pada kualitas produknya. Untuk mendukung proses perbaikan kualitas tersebut,
maka pada penelitian ini dibuat rancangan aplikasi metode pengendalian kualitas
SPC (Statistical Process Control) di bagian Giling dan Batil Rokok SKT Garung,
sehingga dapat dilakukan proses pengendalian kualitas produk pada saat proses
berlangsung dan penggunaan Quality Improvement Tool untuk melakukan
perbaikan proses. Hasil aplikasi SPC dari contoh sampel yang diambil, grafik peta
kendali p untuk kecacatan produk rokok SKT menunjukkan bahwa proses berada
dalam kondisi in control akan tetapi memiliki nilai Cpk (capability index) sebesar
0.21. Dari indeks tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan proses produksi
SKT belum capable dan perlu dilakukan proses perbaikan.
Kata kunci Control Chart, Quality Improvement Tool, SPC
1. PENDAHULUAN
PT. Djarum adalah salah satu dari tiga perusahaan rokok terbesar di
Indonesia yang bermarkas di Kudus, Jawa Tengah dan merupakan penyumbang
cukai yang besar bagi APBN Indonesia. Pada tahun 2007, PT Djarum menghasilkan
40,4 milyar batang rokok yang setara dengan 7,9 trilyun cukai rokok.
Produk yang dikeluarkan oleh PT. Djarum dibedakan dalam berbagai macam
atau kelompok, baik produk yang dihasilkan dengan mesin atau tangan, hingga
jenis yang di ekspor atau untuk kalangan domestik. Salah satunya yaitu Sigaret
Kretek Tangan (SKT), yaitu rokok tidak berfilter yang dibuat dengan menggunakan
tenaga manusia mulai dari pembentukan batangan rokok hingga pengepakan.
Urutan proses produksi rokok SKT ditunjukkan pada Gambar 1.
Sesuai dengan ideologi inti dan visinya dalam rangka meningkatkan
kepuasan konsumen, PT. Djarum terus melakukan perbaikan, termasuk perbaikan
pada kualitas produknya. Di tahun 2000, PT. Djarum memulai perjalanan meraih
Received June 1st,2012; Revised June 25th, 2012; Accepted July 10th, 2012

84

ISSN: 1978-1520

standar manajemen Mutu ISO 9001 agar produknya lebih terjamin kualitasnya
sehingga kepuasan konsumen juga lebih terjamin.

Gambar 1. Urutan Proses Produksi Rokok SKT


Untuk melakukan proses perbaikan kualitas secara terus menerus
(continuous improvement) dan hasil produksi dibagian pembuatan rokok SKT sesuai
dengan spesifikasi yang diinginkan, maka diperlukan suatu metode pengendalian
kualitas, baik pada saat proses berlangsung maupun sebelum dan sesudah proses
produksi. Sehingga pada penelitian ini dibuat rencana aplikasi metode SPC
(Statistical Process Control) di bagian giling dan batil SKT Garung yang kemudian
diaplikasikan dengan mengambil beberapa sampel. Aplikasi metode SPC bertujuan
untuk mengetahui apakah proses yang sedang berlangsung dalam kondisi in control
atau out of control, yang selanjutnya digunakan sebagai dasar perbaikan kualitas
dengan menggunakan Quality Improvement Tool.

IJCCS Vol. x, No. x, July 201x : first_page end_page

ISSN: 1978-1520

IJCCS

85

2. METODE PENELITIAN
2.1. Penelitian Pendahuluan
Penelitian ini dilakukan di bagian giling dan batil rokok SKT di SKT Garung
PT. Djarum Kudus. Pada bagian tersebut, yang bertugas untuk mengawasi jalannya
produksi adalah mandor. Beberapa kriteria kualitas rokok SKT sudah ditentukan,
akan tetapi belum ada metode pengendalian kualitas yang diaplikasikan untuk
melakukan perbaikan dan mengurangi jumlah produk cacat.
Untuk kriteria kualitas rokok di SKT Garung adalah sebagai berikut:
1.

Diameter kecil 8 mm besar 9,5 mm (yang dinyalakan)

2.

Ujung pangkal rapi tidak cowong

3.

Isi tembakau di rokok rata, tidak putus (medhot)

4.

Kertas rokok yang dilem harus bersih dan lengket rata (talipan)

5.

Cap/Merk/Brand dikertas harus menyatu

6.

Berat 100 batang SKT = 204 gram

2.2. Perencanaan proses pengendalian kualitas menggunakan metode SPC


(Statistical Process Control)
SPC adalah pengendalian mutu produk selama masih ada dalam proses.
Dalam mengadakan pengendalian mutu tersebut dapat digambarkan batas atas
(upper control limit) dan batas bawah (lower control limit) beserta garis tengahnya
(center line) atau yang dikenal dengan control chart atau peta kendali (Ariani, 1999).
Perencanaan aplikasi metode ini dimulai dengan penentuan jenis data yang
akan dicari terkait dengan jenis peta kendali yang akan digunakan, serta penentuan
metode sampling atau penarikan sampel yang akan dilakukan. Berdasarkan jenis
karakteristik kualitas produk yang hendak dikendalikan, peta kendali dibedakan
menjadi dua jenis (Foster, 2007) yaitu peta kendali atribut dan peta kendali variabel.
Pada penelitian ini, hanya aplikasi peta kendali atribut yang akan dibahas
dimana peta kendali atribut merupakan penentuan apakah sebuah produk cacat
atau tidak atau berapakah banyaknya cacat yang terdapat di dalam sampel. Salah
satu peta kendali jenis ini adalah peta kendali p (Montgomery, 2013).
Peta kendali p berdasar pada distribusi binomial. P dalam P-chart berarti
proportion, yaitu proporsi unit-unit yang tidak sesuai (nonconforming units) dalam
sebuah sampel. Jika diasumsikan bahwa D adalah sebuah variabel random

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

86

ISSN: 1978-1520

binomial dengan parameter p tak diketahui, proporsi cacat dari masing-masing


sampel yang di-plot-kan dalam peta kendali adalah (Montgomery, 2013):
Garis tengah (center line)

D
CL p

g
i 1

xi

ng

(1)

Batas pengendali atas (upper control limit) UCL

UCL p 3

p(1 p)
n

(2)

dan batas pengendali bawah (lower control line) LCL

LCL p 3

p(1 p)
n

(3)
Teknik statistik lain yang dapat membantu menghilangkan atau mengurangi
variabilitas pada produk yang diproduksi yaitu analisis kemampuan proses. Salah
satu kegunaannya adalah memperkirakan seberapa baik proses yang diamati
mampu memenuhi syarat toleransi yang diinginkan.
Untuk aplikasi kedua metode SPC ini, sejumlah data dari sampel yang
diambil berdasarkan rencana aplikasi yang dibuat

digambarkan dan dianalisa

dengan bantuan software MINITAB.


2.3. Analisa perbaikan kualitas
Quality Improvement Tool yang digunakan untuk memberikan usulan
perbaikan pada penelitian ini yaitu diagram fishbone atau tulang ikan. Diagram ini
dipakai untuk menganalisis ciri khas sebuah proses atau situasi dan faktor yang
menyebabkannya. Untuk menganalisis faktor-faktor penyebab, pada umumnya
dikelompokan dalam lima faktor utama, yaitu manusia, material, metode, mesin dan
lingkungan (Brassard dan Ritter, 2010).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Proses produksi rokok SKT di bagian giling dan batil SKT Garung dibagi
dalam beberapa line. Setiap line terdiri dari 2 pekerja/operator (Giling dan Batil).
Dalam waktu 2 jam, rata-rata setiap line dapat menyelesaikan 1000 batang rokok
yang dibagi menjadi 20 longsong, tiap 1 longsongnya terdiri dari 50 batang rokok,
seperti yang ditunjukkan Gambar 2.
Untuk menganalisa proporsi produk cacat, maka proses pengambilan data
yang berjenis atribut dilakukan dengan cara mengamati setiap batang rokok dari
setiap 1 longsong rokok (berisi 50 batang rokok), kemudian berdasarkan kriteria

IJCCS Vol. x, No. x, July 201x : first_page end_page

87

ISSN: 1978-1520

IJCCS

kualitas yang sudah ada, setiap batang rokok tersebut ditentukan apakah cacat atau
tidak dan dihitung jumlah produk yang cacat dari masing-masing longsong. Hal ini
berarti bahwa, ukuran sampel adalah 50 batang rokok atau 1 longsong rokok.
Sedangkan jumlah sampel yang diambil dapat disesuaikan asalkan produk tersebut
homogen.

Gambar 2. Sistem produksi di bagian giling dan batil SKT Garung


Dengan menggunakan perencanaan aplikasi pengambilan data tersebut,
berikut data proporsi produk rokok SKT cacat yang terdiri dari 20 sampel yang
diambil di line 3.
Tabel 1. Data Proporsi Produk Cacat Rokok SKT
Ukuran
Jumlah
Sampel
Proporsi
Sampel
Cacat
1

50

0.080

50

0.080

50

0.120

50

0.100

50

0.140

50

0.060

50

0.040

50

0.040

50

0.120

10

50

0.020

11

50

0.080

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

88

ISSN: 1978-1520
12

50

0.060

13

50

0.040

14

50

0.080

15

50

0.120

16

50

0.100

17

50

0.080

18

50

0.120

19

50

0.040

20

50

0.040

Jumlah

1000

78

1.560

Untuk menggambarkan data tersebut dalam peta kendali p, berikut hasil


perhitungan nilai garis tengah (center line), batas atas (upper control limit) dan batas
bawah (lower control limit) menggunakan rumus (1), (2) dan (3). Peta kendali p
dengan software Minitab ditunjukkan pada Gambar 3.

CL p p

g
i 1

xi

ng

78
78

0.078
( 20)(50) 1000

UCL p 0.078 3

0.078(1 0.078)
0.192
50

LCL p 0.078 3

0.078(1 0.078)
0.036 0
50

IJCCS Vol. x, No. x, July 201x : first_page end_page

89

ISSN: 1978-1520

IJCCS

P Chart of Jumlah Cacat


0.20

UCL=0.1918

0.154

Proportion

0.15

0.116
0.10
_
P=0.078
0.05
0.04

0.002
LCL=0

0.00
1

11
Sample

13

15

17

19

Gambar 3. Peta Kendali P


Dari hasil interpretasi peta kendali di atas, dapat diketahui bahwa pada saat
diambil sampel, proses produksi rokok SKT dalam kondisi in control. Dengan
asumsi data tersebut berdistribusi normal, maka analisa kemampuan proses dapat
dilakukan. Dari hasil pengolahan data pada Tabel 1 dengan menggunakan software
MINITAB (Gambar 4) nilai capability ratio dari proses produksi rokok SKT adalah
0,21. Karena nilai tersebut menunjukkan bahwa kemampuan proses produksi rokok
SKT belum capable, sehingga proses perbaikan perlu dilakukan.
Process Capability of Jumlah Cacat
LSL

USL

P rocess D ata
LSL
0
Target
*
US L
5
Sample M ean
3.9
SampleN
20
StD ev (Within) 1.76725
StD ev (O v erall) 1.76725

W ithin
Overall
P otential (Within) C apability
Cp
0.47
C PL
0.74
C PU
0.21
C pk
0.21
C C pk 0.47
O v erall C apability
Pp
PPL
PPU
P pk
C pm

0
O bserv ed P erformance
P P M <LS L
0.00
P P M >U SL 250000.00
P P M Total
250000.00

Exp. Within P erformance


P P M <LSL
13663.53
P P M >US L 266828.04
P P M Total
280491.57

0.47
0.74
0.21
0.21
*

E xp. O v erall P erformance


P P M <LSL
13663.53
P P M >U SL 266828.04
P P M Total
280491.57

Gambar 4. Grafik Kemampuan Proses Produksi SKT


Analisa penyebab kecacatan rokok SKT dengan menggunakan diagram
tulang ikan ditunjukkan pada Gambar 5, sedangkan Tabel 2 menunjukkan usulan
perbaikannya.

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

90

ISSN: 1978-1520

Manusia
target produksi rokok yang
besar harus dikerjakan
selama 7 jam kerja

Metode

Gerakan jari saat menggulung


Operator melakukan
tidak benar
pekerjaan yang berulang
Gulungan rokok
dan terus menerus
tidak merekat

Kurang teliti
Kejenuhan

Bahan lem terlalu


kental
Pemberian Lem pada kertas
terlalu tebal

Pemasangan alat yang


tidak sesuai

Apa Penyebab
Kecacatan Produk?
Tidak mengganti kertas
pada alat giling

Kertas berbahan
tipis

Kurangnya
Perawatan

Kertas mudah sobek

Bahan

Alat

Gambar 5. Diagram fishbone penyebab kecacatan SKT


Tabel 2. Usulan perbaikan untuk mengurangi jumlah produk cacat
Penyebab
Proses
Tahapan
Permasalahan
masalah
Perbaikan
Pemberian lem
pada kertas
Pemberian lem
Bahan lem terlalu
harus diratakan
pada kertas
kental
supaya lem tidak
terlalu tebal
Menggiling
menggumpal di
Giling &
paper yang
kertas
Batil
berisi
Saat
tembakau
Gerakan jari
menggulung
operator saat
Dilakukan
rokok tidak
menggulung rokok
pelatihan/training
melekat sesuai
tidak benar
kriteria kualitas
Aplikasi metode
Belum adanya
pengendalian
metode
kualitas baik
pengendalian
pada saat
Pengecekan
kualitas yang
proses produksi
Pengawas
Adanya rokok
saat proses
digunakan.
berlangsung
an
yang cacat
produksi
Pengawasan
maupun
produk cacat hanya sebelum dan
dilakukan oleh
sesudahnya
mandor
untuk melakukan
perbaikan

IJCCS Vol. x, No. x, July 201x : first_page end_page

ISSN: 1978-1520

IJCCS

91

4. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian awal serta analisa dan pembahasan yang telah
dilakukan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1.

Metode SPC dapat diaplikasikan pada sistem produksi rokok SKT, terutama
untuk mengetahui proporsi produk yang cacat sehingga perbaikan dapat
langsung dilakukan pada saat proses sedang berjalan.

2.

Hasil aplikasi SPC dari contoh sampel yang diambil, grafik peta kendali p untuk
kecacatan produk rokok SKT menunjukkan bahwa proses berada dalam kondisi
in control akan tetapi memiliki nilai Cpk (capability index) sebesar 0.21. Dari
indeks tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan proses produksi SKT
belum capable dan perlu dilakukan proses perbaikan.

3.

Karena proses pembuatan rokok SKT secara manual, sehingga faktor utama
yang menyebabkan kecacatan produk adalah manusia atau operator.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Ariani, D.W. 1999, Manajemen Kualitas, Penerbit Erlangga, Jakarta.


[2] Brassard, M. dan Ritter D. 2010, The Memory Jogger 2 Second Edition: Tools for
Continuous Improvement and Effective Planning, GOAL/QPC, United States of
America.
[3] Montgomery, Douglas C. 2013, Statistical Quality Control; A Modern Introduction.
7th Ed. John Wiley & Sons Singapore Pte Ltd.
[4] Thomas, Foster. 2007, Managing Quality Integrating the Supply Chain,
Prentice Hall.

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)