Anda di halaman 1dari 2

Dalam pelaksanaan Akuntansi Pemerintah, untuk menciptakan kondisi ideal dalam

menghasilkan laporan keuangan dibutuhkan adanya Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) dan
Sistem Akuntansi Pemerintah (Pusat dan Daerah), lalu juga Proses Akuntansi yang baik,
sehingga terciptalah Laporan Keuangan yang baik, untuk dapat digunakan oleh pemerintah,
pemeriksa, DPR, dan masyarakat (yang mempunyai kemampuan membaca laporan
keuangan).
Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam
menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Standar Akuntansi Pemerintah
(SAP) yang diatur dalam PP 24 Tahun 2005 ini selanjutnya akan dijadikan sebagai acuan
dalam penyusunan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat ataupun Daerah, dan keluaran dari
sistem akuntansi itu pun nantinya harus sesuai dengan standar akuntansi. Singkatnya, SAP
mengatur mengenai keluaran yang diharapkan, sedangkan Sistem Akuntansi Pemerintah
merupakan gabungan dari langkah-langkah untuk menghasilkan keluaran yang sesuai dengan
SAP. Jadi antara SAP dan Sistem Akuntansi Pemerintah merupakan satu kesatuan yang padu
dan utuh.
Dalam hal Sistem Akuntansi, Sistem Akuntansi Pemerintah dibagi menjadi dua, yaitu Sistem
Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) dan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD).
SAPP adalah serangkaian prosedur manual ataupun terkomputerisasi mulai dari pengumpulan
data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi
keuangan Pemerintah Pusat. SAPD pun mempunyai pengertian yang sama dengan SAPP,
namun apabila di SAPP mengurus operasi keuangan Pemerintah Pusat, maka SAPD
mengurus operasi Pemerintah Daerah. Lebih lanjut lagi, akan dibahas secara lebih jauh
mengenai perbedaan antara SAPP dan SAPD dilihat dari segi peraturan yang mengaturnya,
konstruksi sistem akuntansinya, dan entitas akuntansinya.

Dari segi peraturan yang mengaturnya, pada dasarnya peraturan yang mengatur mengenai
SAPP dan SAPD, mengacu pada PP 24 Tahun 2005 mengenai Standar Akuntansi
Pemerintahan, karena dari standar itu lahirlah sistem. Untuk SAPP sendiri, secara detail
dijelaskan didalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK), yaitu PMK 59 Tahun 2005 yang
kemudian direvisi menjadi PMK 171 Tahun 2007. Sedangkan mengenai SAPD, tertuang di
dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri), yaitu Permendagri 13 Tahun 2006.
Dalam peraturan yang mengatur mengenai SAPP dan SAPD ini sebenarnya terdapat suatu
pertanyaan lucu yang muncul. Mengapa peraturan mengenai SAPD dibuat oleh Mendagri,
bukannya Menkeu yang seharusnya mengatur masalah sistem akuntansi? Jawabannya adalah
semua itu karena Undang-Undang yang mengaturnya. Dalam UU 17 Tahun 2003 mengenai
pengelolaan Keuangan Negara, dikatakan bahwa pengelolaan Keuangan Negara juga
mengatur mengenai penerimaan dan pengeluaran daerah, dengan kata lain seharusnya SAPP
dan SAPD keduanya mengacu pada UU 17 Tahun 2003 tersebut, sehingga penjelasan detail
mengenai SAPP dan SAPD dituangkan dalam PMK. Namun, kenyataannya hanya SAPP lah
yang tertuang ke dalam PMK, dan justru SAPD tertuang dalam Permendagri. Hal ini

dikarenakan oleh munculnya UU 32 Tahun 2004 mengenai pemerintah daerah, sehingga


kuasa mengenai SAPD jatuh ke tangan Permendagri. Itulah mengapa SAPD yang merupakan
sistem akuntansi diatur dalam Permendagri.
Dari segi konstruksi sistem akuntansi, pada SAPP terdapat Sistem Akuntansi Bendahara
Umum Negara (SA-BUN) dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI). Sedangkan pada SAPD
terdapat Sistem Akuntansi Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (SA-PPKD) yang dapat
dianggap seperti SA-BUN dalam pemerintah pusat, dan Sistem Akuntansi Satuan Kerja
Pemerintah Daerah (SA-SKPD) yang setara dengan SAI dalam pemerintah pusat.
Dari segi entitas akuntansi, dalam Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat, Presiden berperan
sebagai pemegang kekuasaan Pengelolaan Keuangan Negara (PKN), lalu Bendahara Umum
Negara (BUN) dipegang oleh Menteri Keuangan, dan Menteri K/L lainnya bertindak sebagai
pengguna anggaran. Sedangkan dalam Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah, pemegang
kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah (PKD) adalah kepala daerah, lalu Pejabat
Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) bertindak sebagai Bendahara Umum Daerah (BUD),
dan pengguna anggarannya adalah Satuan Kerja Pemerintahan Daerah (SKPD).
Demikianlah beberapa hal yang dapat diperbandingkan antara Sistem Akuntansi Pemerintah
Pusat (SAPP) dan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD). Bila ditelaah lebih lanjut
mengenai PMK 171 Tahun 2007 tentang SAPP dan Permendagri 13 Tahun 2006 tentang
SAPD, mungkin saja masih dapat lagi ditemukan perbedaan-perbedaan antara SAPP dan
SAPD yang lainnya selain dari segi peraturan yang mengaturnya, konstruksi sistem
akuntansinya, ataupun dari segi entitas akuntansinya. Namun hanya sampai disinilah
keterbatasan penulis untuk menguraikan perbedaan-perbedaan SAPP dan SAPD tersebut.
Terima Kasih.
Dasar Hukum
SAPP
PP 24 tahun 2005 tentang SAP
SAPD
PP 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Permendagri 13 tahun 2006
Permendagri 59 tahun 2007
Permendagri 21 tahun 2011
SE 900 BAKD
Perbedaan lainnya akan diperbaharui...